- Beranda
- The Lounge
Persepsi Ane tentang Riba Bank
...
TS
19ilham22
Persepsi Ane tentang Riba Bank
Persepsi Ane tentang Riba Bank


kita semua pasti tentang bank bukan ? bank biasanya memiliki bunga saat kita menyimpan maupun saat kita meminjam uang, pada pandangan islam bunga bank itu termasuk kedalam riba. maka dari itu Ts mau mencoba untuk mengupas tentang ribanya bunga bank menurut pandangan Ts. Cekibrot !!
Quote:
Quote:

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.”
(HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Dari hadits diatas diterangkan bahwa riba termasuk salah satu dosa besar bagi umat muslim. oke disini mari kita berfikir agak sedikit terbuka. pada zaman Rosulullah saw dahulu sistem riba sudah ada di beberapa kegiatan perdagangan ataupun hal-hal lainnya, maka dari itu Islam datang untuk menghapuskan kegiatan Riba tersebut. kalau diperhatikan sekilas bunga bank bisa masuk pada kategori Riba, namun apabila dilihat dari beberapa sudut pandang maka ada kemungkinan bahwa bunga bank itu bukan riba.
saya ambil contoh pada zaman nabi transaksi berupa emas, dan sistem riba membuat jumlah emas akan meningkat beberapa persen. Pada sistem bunga bank pun memiliki metode yang hampir sama, tapi ada satu hal yang sangat membedakan keduanya. yaitu emas dan uang, walau sama sama sebagai alat transaksi nilai kedua benda tersebut sangatlah beda. emas memiliki nilai yang stabil, jadi seumpama pada zaman nabi dahulu harga kambing sebesar 8 gr emas maka pada masa kini pun harganya akan sama. tetapi dalam kasus uang akan memiliki cerita yang berbeda.
Quote:

grafik diatas menunjukan trend kenaikan harga emas terhadap rupiah selama 10 tahun terakhir. terjadi kenaikan harga emas sebesar 350 rb an setelah berjalan selama 10 tahun, maka terjadi kenaikan nilai rata-rata emas sebesar 4,35% pertahun. disini saya ingin mencoba mengimpletasikan fenomena ini terhadap uang. berbeda dengan emas yang selalu naik, nilai uang malah kebalikannya, bisa dibilang saat nilai emas naik kira-kira sebesar 4,35% pertahun maka nilai uang akan turun kira-kira sebesar 4,35%. mungkin agan mau bertanya kenapa saya memunculkan angka angka tersebut. jawabnya ialah ke arah riba, jadi mari kita hubungkan trend kenaikan nilai ini dengan suku bunga bank di sekitar kita.
Spoiler for suku bunga deposito:

sumber : www.aturduit.com
mari kita mulai dengan besaran suku bunga deposito terhadap Rupiah beberapa bank di indonesia, dari data diatas terlihat pada beberapa bank memiliki nilai bunga yang berbeda-beda. kita ambil contoh pada bank BNI, bank tersebut memiliki suku bunga 6% per tahunjadi terjadi kenaikan setiap rupiah sebesar 6% per tahun. mari kita hitung berapa kah riba yang akan kita dapat berdasarkan dengan kenaikan nilai emas,
Riba yang kita dapat = bunga bank - kenaikan nilai emas
= 6% - 4,35%
= 1,75%
= 6% - 4,35%
= 1,75%
Dari perhitungan tersebut, maka kita tahu bahwa kita masih mendapatkan uang Riba dari uang yang kita simpan selama satu tahun sebesar 1,75% untuk bank BNI. untuk bank bank lainnya tinggal menyesuaikan perhitungan dengan cara tersebut.
Spoiler for Bunga kredit Bri:

sumber : Bri.co.id
Untuk Bunga kredit Bank BRI dibedakan menjadi beberapa macam jenis, kalau diambil rata-rata maka besar Riba bisa dihitung secara kasar yang kita akan bayar sekitar 5-8% setiap tahunnya.
Dari penjabaran Ts tersebut maka bisa ditarik kesimpulan bahwa masih tetap ada riba pada bunga bank baik pada bunga deposito atau pun kredit. mungkin kita masih bisa menghindari riba untuk bunga pinjaman dengan cara mendonasikan uang sebesar 1,75% dari uang yang kita tabung setiap tahunnya untuk Bank BNI dengan bunga deposit 6% dan kenikan harga emas sebesar 4,35% .
Disini TS tak bermasud untuk mencari celah atau Membenerakan tentang Riba, TS juga bukanlah agen bank-bank tertentu. Disini Ts murni ingin berbagi pemikiran TS kepada kaskuser kaskuser sekalian. namun apabila ada salah kata ataupun yang lainnya mari kita koreksi bersama. Because It's Just my 2 Cents.

Spoiler for sumber:
isi : Pemikiran Ts
gambar : google.com
gambar : google.com
Spoiler for another my2Cents Thread::
trifatoyah memberi reputasi
15
34.2K
Kutip
344
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
19ilham22
#1
Thread Menarik TS :
Mengenal Hierarki HYENA, Si Suami-Suami takut ISTRI ! HT
Strategi Berburu ORCA ! Wolf of the Sea HT
Alasan Para IBU ini Memakan anak-anaknya ! HT
Strategi Berburu ORCA ! Wolf of the Sea HT
Alasan Para IBU ini Memakan anak-anaknya ! HT
Komeng informatif dr kaskuser

Quote:
Quote:
Original Posted By Felipe_Melo►ulama konservatif cuma belajar agama, gak belajar ilmu ekonomi
mereka gak kenal apa itu inflasi
pokoknya kalo minjem uang rupiah, nominalnya berbeda dan jauh lebh banyak ketika dikembalikan
itu sama saja dengan riba, itu ulama konservatif
andai mereka juga belajar ilmu ekonomi, nilai riil uang akan merosot tiap tahun karna inflasi
padahal dalam prinsip tolong-menolong atau prinsip berniaga, tidak boleh ada salah satu pihak yg terzalimi, itu jelas tertera dalam Ayat Al-Qur'an
logika aja, misalnya saya minjemin uan tahun 2010 sebesar 4 juta rupiah, si pengutang balikin duit pinjaman tersebut di tahun 2018, sebsar 4 juta juga, apakah transaksi tersebut adil ???
yang bilang adil, berarti orang tersebut bodoh
jelas dong saya terzalimi
uang 4 juta thn 2010 tidak sama dengan uang 4 juta tahun 2018
tahun 2010 harga beras kualitas medium itu Rp.6.000/kg. uang 4 juta kalo dibeliin beras bisa dapet 667 Kg
tahun 2018 harga beras kualitas medium Rp 9.350/kg , uang 4 juta cuma dapet 428 kg.
kesimpulannya, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya, jangan batasin ilmu dari satu disiplin ilmu saja
belajar agama ilmu akhirat tapi harus belajar ilmu dunia

mereka gak kenal apa itu inflasi
pokoknya kalo minjem uang rupiah, nominalnya berbeda dan jauh lebh banyak ketika dikembalikan
itu sama saja dengan riba, itu ulama konservatif
andai mereka juga belajar ilmu ekonomi, nilai riil uang akan merosot tiap tahun karna inflasi
padahal dalam prinsip tolong-menolong atau prinsip berniaga, tidak boleh ada salah satu pihak yg terzalimi, itu jelas tertera dalam Ayat Al-Qur'an
logika aja, misalnya saya minjemin uan tahun 2010 sebesar 4 juta rupiah, si pengutang balikin duit pinjaman tersebut di tahun 2018, sebsar 4 juta juga, apakah transaksi tersebut adil ???
yang bilang adil, berarti orang tersebut bodoh
jelas dong saya terzalimi
uang 4 juta thn 2010 tidak sama dengan uang 4 juta tahun 2018
tahun 2010 harga beras kualitas medium itu Rp.6.000/kg. uang 4 juta kalo dibeliin beras bisa dapet 667 Kg
tahun 2018 harga beras kualitas medium Rp 9.350/kg , uang 4 juta cuma dapet 428 kg.
kesimpulannya, tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya, jangan batasin ilmu dari satu disiplin ilmu saja
belajar agama ilmu akhirat tapi harus belajar ilmu dunia

Quote:
Original Posted By fatal1ty2003►Di ekonomi syariah pun juga tidak akan sama kok gan. Yg membedakan itu spt yg dibilang agan diatas tadi, tergantung dari akadnya. Misal pinjam uang di bank utk usaha, kalo konvensional pakai sistem bunga agan pinjam 4jt balikinnya harus 4jt+bunganya tadi mau agan usahanya untung ato rugi. Sedangkan kalo pake sistem syariah (lupa akadnya apa), pengembalian 4jt td plus bagi hasil, mempertimbangkan untung ruginya usaha agan. Sesuai yg agan bilang agar tidak ada yg terzalimi.
Ama satu lagi contoh kpr, kalo bank konvensional yg jadi subjek adl uang sehingga dengan sistem bunga agan ga akan tau yg akan dikembalikan ke bank itu setelah masa kredit berapa tergantung dr suku bunganya selama masa kredit. Kalo syariah yg jadi subjek adl rumahnya (akadnya lupa jg hehe), pihak bank akan membeli rumah itu dr developer dan menjual lagi ke agan (bank ambil profit disini). Jadi agan di awal udah tau pasti berapa yg dikembalikan karena akadnya adl jual beli.
Yg membedakan antara sistem konvensional dengan syariah adalah unsur keadilan dan kepastian.
Ama satu lagi contoh kpr, kalo bank konvensional yg jadi subjek adl uang sehingga dengan sistem bunga agan ga akan tau yg akan dikembalikan ke bank itu setelah masa kredit berapa tergantung dr suku bunganya selama masa kredit. Kalo syariah yg jadi subjek adl rumahnya (akadnya lupa jg hehe), pihak bank akan membeli rumah itu dr developer dan menjual lagi ke agan (bank ambil profit disini). Jadi agan di awal udah tau pasti berapa yg dikembalikan karena akadnya adl jual beli.
Yg membedakan antara sistem konvensional dengan syariah adalah unsur keadilan dan kepastian.
Quote:
Original Posted By Felipe_Melo►ya memang solusinya pake ekonomi syariah gan, cuma ada loh gan, ulama yg sangat amat konservatif, yg bahkan tetap mengharamkan bank syariah, yg suka ceramah di youtube,ada juga yg bilang, 1 rupiah yg anda terima dari riba, sama seperti menzinahi ibu kandung sendiri, sadiiis bgt ya gan, ente setuju gak sama ulama tersebut ?
Quote:
Original Posted By navian►setau ane sih riba terjadi kalau ada penambahan nilai dr transaksi itu sendiri, baik sebagai peminjam ataupun penyetor., cmn yg ane msh bingung yg membayar bunga riba apakah sama dosanya dengan yg memakan riba., krn untuk menghindar dr aktivitas yg berkaitan riba itu di indonesia ini msh sangat sulit., mau kpr rumah, riba, mau nyicil motor riba, pake fasilitas kartu kredit kalau byr minimum, riba jg.,
dan 1 hal lg yg msh abu2 menurut ane, kalau kerja di dealer/showroom, kita sbnernya jual putus ke konsumen, namun karena ada keterlibatan dari pihak leasing, akhirnya leasing memberikan "subsidi" agar showroom tsb bisa memberikan discount yg cukup besar., nah uang dr leasing kan jelas riba, gimana jdnya kalau masuk ke perputaran uang di showroom tsb yg notabene tidak mempraktekkan riba???
kalau ada yg bs ksh penjelasan boleh di comment
dan 1 hal lg yg msh abu2 menurut ane, kalau kerja di dealer/showroom, kita sbnernya jual putus ke konsumen, namun karena ada keterlibatan dari pihak leasing, akhirnya leasing memberikan "subsidi" agar showroom tsb bisa memberikan discount yg cukup besar., nah uang dr leasing kan jelas riba, gimana jdnya kalau masuk ke perputaran uang di showroom tsb yg notabene tidak mempraktekkan riba???
kalau ada yg bs ksh penjelasan boleh di comment
Quote:
Original Posted By ikhsanikhlas►Riba di bank itu terjadi karena praktik nya gan. Pada dasarnya praktik jual beli uang di syariat islam itu dilarang, seperti meminjamkan uang kepada seseorang dengan harapan atau tujuan agar bisa mendapatkan keuntungan dari pinjaman itu tanpa memperhatikan tujuan penggunaan uang oleh si peminjam.
Makanya di bank syariah itu terdapat nama nama jenis perjanjian/akad peminjaman sesuai dengan tujuan si peminjam tersebut. Salah satunya ada akad murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah dll. Nah disini perbedaan bank konvensional dan bank syariah.
Dah ah gan klo dijabarkan panjang banget hehe

Makanya di bank syariah itu terdapat nama nama jenis perjanjian/akad peminjaman sesuai dengan tujuan si peminjam tersebut. Salah satunya ada akad murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah dll. Nah disini perbedaan bank konvensional dan bank syariah.
Dah ah gan klo dijabarkan panjang banget hehe

Quote:
Original Posted By gajiturun2000►Riba ?? as simpel sebelum bicarain ttg agama lah,, mau kata itu uang/logam mulia atau apalah pasti nilai akan berubah berjalannya waktu.. coba ane pinjem uang agan 10juta minggu ini, apa iya 20 tahun lagi nilai uang itu tetap 10 juta yang ane kembaliin,, kalau iya berarti ente adalah orang paling agamis sekali.. nah kalau gak mau riba yah harus dipelajari lebih jelas dulu jenis dan sifat2 riba itu, jgn semua di generalis riba,,
Quote:
Original Posted By habhab1►Pinjam uang 1 jt, 2 thn kemudian dikembalikan tetap 1 jt. Kalau ada penambahan maka itu riba. Kecuali sipeminjam menghadiahkan dan di awal akad tidak ada syarat untuk melebihkan.
Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Ada enam komoditi ribawi yang disebutkan dalam hadits adalah:
Emas
Perak
Gandum halus
Gandum kasar
Kurma
Garam
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).
Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al-Baqarah: 276)
Ada enam komoditi ribawi yang disebutkan dalam hadits adalah:
Emas
Perak
Gandum halus
Gandum kasar
Kurma
Garam
Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).
Quote:
Original Posted By Richie_Vassili►Tujuan memberikan pinjaman dalam Islam jelas saling membantu, bukan cari keuntungan. Karena RIBA inilah yang membuat kacau harga pasar. Sebagai contoh sebuah perusahaan pinjam duit 10 jt ke bank, lalu di kasih bunga 10%, berarti produk yg dijual harus sudah dimasukin nilai bunga tsb, padahal kalo tdk ada bunganya maka harga product tidak akan mahal..
Kalo niatnya dr awal emang mau cari keuntungan lewat pinjaman berarti itu udah salah dan menyalahi sabda nabi.
Rasulullah ﷺ sabda : Barangsiapa yg memberikan pinjaman utang berarti dia seperti telah bersedekah setiap harinya sampai jatuh tempo, barangsiapa yg blm bs bayar setelah jatuh tempo dia telah bersedekah seperti 2x lipat setiap harinya (HR. Ahmad)
Bahkan orang yg mengikhlaskan utangnya bahkan mendapat naungan Allah (HR.Muslim)
Untuk kasus jual beli kredit alangkah baiknya dihitung nilai inflasi selama jangka kredit dan dijadikan akad jual beli bukan akad HUTANG, misalnya harga Motor sekarang 10 jt terus mau di kredit, maka Akadnya saya jual motor ini dengan anda 15 jt dibayar cicil tanpa denda tanpa tambahan..untuk lebih jelas tonton Ust Erwandi Tarmidzi yang ahli muamalah di Indonesia.
Dan yang terakhir, RIBA itu seperti berzina dengan ibu kandung, kalo ini msh ga buat bulu kuduk merinding maka ancaman selanjutnya Allah dan Rasul-Nya mengumumkan perang melawan kita.,yakin situ menang lawan Allah dan Rasul-Nya...

Kalo niatnya dr awal emang mau cari keuntungan lewat pinjaman berarti itu udah salah dan menyalahi sabda nabi.
Rasulullah ﷺ sabda : Barangsiapa yg memberikan pinjaman utang berarti dia seperti telah bersedekah setiap harinya sampai jatuh tempo, barangsiapa yg blm bs bayar setelah jatuh tempo dia telah bersedekah seperti 2x lipat setiap harinya (HR. Ahmad)
Bahkan orang yg mengikhlaskan utangnya bahkan mendapat naungan Allah (HR.Muslim)
Untuk kasus jual beli kredit alangkah baiknya dihitung nilai inflasi selama jangka kredit dan dijadikan akad jual beli bukan akad HUTANG, misalnya harga Motor sekarang 10 jt terus mau di kredit, maka Akadnya saya jual motor ini dengan anda 15 jt dibayar cicil tanpa denda tanpa tambahan..untuk lebih jelas tonton Ust Erwandi Tarmidzi yang ahli muamalah di Indonesia.
Dan yang terakhir, RIBA itu seperti berzina dengan ibu kandung, kalo ini msh ga buat bulu kuduk merinding maka ancaman selanjutnya Allah dan Rasul-Nya mengumumkan perang melawan kita.,yakin situ menang lawan Allah dan Rasul-Nya...

Quote:
Original Posted By Felipe_Melo►pendapat agan sesuai sama pendapat Ustadz Abdul Somad, dan ane pilih yg itu, saat pengembalian, dibayar kan sesuai harga emas, itu baru adil !!!
contoh kasus : misal agan pinjem uang 1 juta, misal setara 2 gram emas
saat balikin uangnya, dikonversikan harga emas saat itu juga,misal harga emas 5 tahun yg akan datang 700 ribu/gram , harusnya si peminjem balikinnya Rp. 700 ribu x 2 = 1,4 juta
nah kalo dengerin ulama2 konservatif, 400 ribu itu termasuk riba, si peminjam itu sama seperti telah menzinahi ibu kandungnya sendiri, sama seperti berzinah 56 kali
ini nih yg gw gak habis pikir, enteng bener dosa Zinah kalo gitu ya
yaudah lah, masing2 aja mau pilih yang mana
contoh kasus : misal agan pinjem uang 1 juta, misal setara 2 gram emas
saat balikin uangnya, dikonversikan harga emas saat itu juga,misal harga emas 5 tahun yg akan datang 700 ribu/gram , harusnya si peminjem balikinnya Rp. 700 ribu x 2 = 1,4 juta
nah kalo dengerin ulama2 konservatif, 400 ribu itu termasuk riba, si peminjam itu sama seperti telah menzinahi ibu kandungnya sendiri, sama seperti berzinah 56 kali
ini nih yg gw gak habis pikir, enteng bener dosa Zinah kalo gitu ya
yaudah lah, masing2 aja mau pilih yang mana
Quote:
Original Posted By Richie_Vassili►Ya elah sok ahli ekonomi loe gan..Allah yang ciptakan bumi dan langit ini bilang HARAM loe bilang sok munafiq orang yg anti RIBA...makanya belajar agama juga jangan cuma ekonomi biar tau loe solusinya biar tidak berkembang RIBA...banyak kok solusinya loe aja yg sok jago di hadapan Rabbul ‘alamin padahal belum belajar agama...da banyak sekarang pinjaman tanpa bunga dan tanpa denda makanya bergaul ma yg ngerti agama jangan ma kapitalis terus yg mikirnya hanya keuntungan dunia...
Ane juga nabung tp ga ada bunga bank kok bisa buktinya, bank itu ngikut kita bukan kita ngikut bank...
Dan terakhir pleaseeeee jangan bodoh jadikan kalo arab ada exchange berarti benar, yang BENAR itu Al-Quran, Hadits dan Pemahaman Sahabat...kalo loe jadikan arab patokan dulu juga ada abu jahal biang kerok RIBA, jd jangan lugu amat agamanya...banyakin baca sebelum kena firman Allah :
Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Almaidah :44)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)
Penambahan 400 itu pernah dibahas dulu sama Ust Erwandi dan itu dibolehkan syaratnya kalo ada inflasi 30% dr modal selama sekian waktu kalo tidak salah..semoga Allah maafkan kalo ane salah..btw ane kasih rujukan Ust Erwandi karena dia pakar Muamalah yang dipercaya juga menulis di rubrik koran riyadh, sedangkan Ust Abdul somad ane ga ambil ilmu muamalah dr nya karena dia bukan ahli muamalah.,sebagaimana dokter kita harus datangin ahlinya..tidak mungkin sakit gigi datangin dokter jantung kan gan..
Dan sekai lagi, mindset pinjamannya jangan dijadikan aji mumpung cari keuntungan, Allah suruh pinjamin karena itu dibalas pahala oleh Allah dan membantu muslimin lainnya, lagian orang yang hutang pasti dia yg lagi membutuhkan kok. Orang yg ngerti agama dia pasti ga gampang hutang kecuali utk hajatnya (pangan,sandang), karena seandainya dia mati syahid maka akan tertahan masuk surga sampai utangnya dibayar...jangan seperti Yahudi yg hanya mikir keuntungan duniawi.
Saking bahayanya Riba sampai nabi menutup semua celah Riba dengan menganggap memberi tumpangan atau bingkisan kepada si pemberi hutang maka itu adalah Riba...
Ane juga nabung tp ga ada bunga bank kok bisa buktinya, bank itu ngikut kita bukan kita ngikut bank...
Dan terakhir pleaseeeee jangan bodoh jadikan kalo arab ada exchange berarti benar, yang BENAR itu Al-Quran, Hadits dan Pemahaman Sahabat...kalo loe jadikan arab patokan dulu juga ada abu jahal biang kerok RIBA, jd jangan lugu amat agamanya...banyakin baca sebelum kena firman Allah :
Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS Almaidah :44)
Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An-Nahl (16): 116)
Penambahan 400 itu pernah dibahas dulu sama Ust Erwandi dan itu dibolehkan syaratnya kalo ada inflasi 30% dr modal selama sekian waktu kalo tidak salah..semoga Allah maafkan kalo ane salah..btw ane kasih rujukan Ust Erwandi karena dia pakar Muamalah yang dipercaya juga menulis di rubrik koran riyadh, sedangkan Ust Abdul somad ane ga ambil ilmu muamalah dr nya karena dia bukan ahli muamalah.,sebagaimana dokter kita harus datangin ahlinya..tidak mungkin sakit gigi datangin dokter jantung kan gan..
Dan sekai lagi, mindset pinjamannya jangan dijadikan aji mumpung cari keuntungan, Allah suruh pinjamin karena itu dibalas pahala oleh Allah dan membantu muslimin lainnya, lagian orang yang hutang pasti dia yg lagi membutuhkan kok. Orang yg ngerti agama dia pasti ga gampang hutang kecuali utk hajatnya (pangan,sandang), karena seandainya dia mati syahid maka akan tertahan masuk surga sampai utangnya dibayar...jangan seperti Yahudi yg hanya mikir keuntungan duniawi.
Saking bahayanya Riba sampai nabi menutup semua celah Riba dengan menganggap memberi tumpangan atau bingkisan kepada si pemberi hutang maka itu adalah Riba...
Quote:
Original Posted By temonoid►Nih ya TS, gw jabarin, di taro di page one juga ga apa2, biar semua pada tau. 
1. Indonesia bukan negara 100% Syariah 100% Khilafah. Indonesia masih menganut sistem Kapitalis. Artinya apa? Indonesia masih menggunakan sistem BOND dengan interest ratenya yang dimana itu adalah RIBA. Sampe sini udah ngerti belum? Jadi bahkan sistem di negeri kita sendiri saja sudah RIBA, terus ngarep rakyatnya bebas dari RIBA? Tidak semudah itu ferguso.
2. Padahal udah dibilang kalo RIBA itu haram, eh masih aja ada yang bilang itu MAKAR. Kenyataannya kita semua saat ini hidup di dalam RIBA. Coba aja ente tengok itu Pajak, ente tengok itu Bunga. Itu udah jelas sistem yang jauh sekali dari nilai agama. Bahkan Zakat pun tidak bisa menjadi pengurang pajak, malah jadi pengurang biaya saja. Ada apa dengan Indonesia ini? Padahal Sila Pertama saja Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kita tau sama tau agama mana yg sila pertama, tapi itu saja bahkan tidak bisa menjadikan kita menjadi negara yang agamis. At least jangan RIBA lah. Udah jelas kan bahaya RIBA??
3. Sekarang jadi harus gimana? Semua lini kehidupan kita sudah tidak terlepas dari RIBA. Nah ini kalo menurut pendapat ane dan senior ane, udah jalani aja kehidupan ini. Kita coba semampu kita kurangi RIBA. Misalnya dengan mengikuti investasi di deposito syariah, atau SBSN, dan memakai rekening bank syariah. Dengan maksud agar bank syariah tersebut kuat dan bisa menjadi fondasi ekonomi syariah ke depannya. Ketika waktnya tiba nanti, ekonomi KEUMATAN bisa menjadi batu loncatan agar kita tidak RIBA lagi.
Hidup juga jangan hedonis, kalo belum mampu beli rumah, ya jangan beli rumah pake KPR. ngontrak dulu aja gpp sampe duitnya cukup. Ane liat tadi banyak yg bilang, kalo ga ngutang ke bank, mau dapet duit dari mana? Emang ada yang mo minjemin duit selain bank? Ya kerja tong, kumpulin tuh duit dari kerja dulu kalo ga punya modal. Sekali udah dapet modal, baru ente usaha. Bukannya belum apa2 ente malah minjem ke bank dengan jaminan. Heran ane sama orang2 yang mikir gini, ga ada duit tapi malah berani2nya minjem ke bank. Ga sabaran banget.
Sekian

1. Indonesia bukan negara 100% Syariah 100% Khilafah. Indonesia masih menganut sistem Kapitalis. Artinya apa? Indonesia masih menggunakan sistem BOND dengan interest ratenya yang dimana itu adalah RIBA. Sampe sini udah ngerti belum? Jadi bahkan sistem di negeri kita sendiri saja sudah RIBA, terus ngarep rakyatnya bebas dari RIBA? Tidak semudah itu ferguso.

2. Padahal udah dibilang kalo RIBA itu haram, eh masih aja ada yang bilang itu MAKAR. Kenyataannya kita semua saat ini hidup di dalam RIBA. Coba aja ente tengok itu Pajak, ente tengok itu Bunga. Itu udah jelas sistem yang jauh sekali dari nilai agama. Bahkan Zakat pun tidak bisa menjadi pengurang pajak, malah jadi pengurang biaya saja. Ada apa dengan Indonesia ini? Padahal Sila Pertama saja Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kita tau sama tau agama mana yg sila pertama, tapi itu saja bahkan tidak bisa menjadikan kita menjadi negara yang agamis. At least jangan RIBA lah. Udah jelas kan bahaya RIBA??
3. Sekarang jadi harus gimana? Semua lini kehidupan kita sudah tidak terlepas dari RIBA. Nah ini kalo menurut pendapat ane dan senior ane, udah jalani aja kehidupan ini. Kita coba semampu kita kurangi RIBA. Misalnya dengan mengikuti investasi di deposito syariah, atau SBSN, dan memakai rekening bank syariah. Dengan maksud agar bank syariah tersebut kuat dan bisa menjadi fondasi ekonomi syariah ke depannya. Ketika waktnya tiba nanti, ekonomi KEUMATAN bisa menjadi batu loncatan agar kita tidak RIBA lagi.
Hidup juga jangan hedonis, kalo belum mampu beli rumah, ya jangan beli rumah pake KPR. ngontrak dulu aja gpp sampe duitnya cukup. Ane liat tadi banyak yg bilang, kalo ga ngutang ke bank, mau dapet duit dari mana? Emang ada yang mo minjemin duit selain bank? Ya kerja tong, kumpulin tuh duit dari kerja dulu kalo ga punya modal. Sekali udah dapet modal, baru ente usaha. Bukannya belum apa2 ente malah minjem ke bank dengan jaminan. Heran ane sama orang2 yang mikir gini, ga ada duit tapi malah berani2nya minjem ke bank. Ga sabaran banget.

Sekian
Quote:
Original Posted By orderic►Menurut saya ayat tersebut maksudnya paling utama adalah jgn mengambil untung yg tidak 'wajar'
Perhitungan yg ada di ayat tsb sesuai konteks dgn emas dan situasi flat, satu lagi umumnya antar personal bukan dgn kelembaga keuangan,
sesuai jaman, peminjam/pengelola uang adalah lembaga dan system moneter yg dipakai adalah menggunakan mata uang..lembaga2 ini menghitung faktor resiko, jasa, dll dan memperhitungkannya ke dalam bunga dan biaya jasa bank/lembaga keuangan, bunga yg wajar berapa? Tidak lebih dari suku bunga acuan plus nilai jasanya
Ada 2 kritik saya ke bank yg saya anggap tidak wajar
1. Menetapkan bunga tinggi dan flat, disaat suku bunga acuan turun pun gak disesuaikan
2. Mengambil bunga di muka! Sehingga pelunasan di awal pokok pinjaman peminjam masih tinggi sekali..
KPR pake bank syariah saja, tapi tetap ada flaw nya, syariah tapi juga masih set tinggi sekali jadi sama aja dgn konvensional..kenapa saya sangat skeptis dgn bank syariah
Dan dalam hal ini yg 'riba' bukan peminjam ya si bank pelakunya dalam hal ini, makanya kaya2 kan bank kalau pandai ngaturnya, ambil 'riba'nya di awal, puter lagi dapat riba lagi, puter lagi,,benar ada resiko peminjam gak bisa bayar, lah kan ada asuransi juga tho..yg saya kritik adalah mereka mengambilnya di awal
Saya buat tanda kutip di kata riba, karna konsep saya soal riba adalah beda yaitu tidak wajar/tidak adil
Kalau bunga tabungan bank masih wajar biasa dipatok 5-6%, itu ngitung inflasi dll, tabung tahun ini 5 thn lagi bisa2 nilai uang tersebut berkurang jauh, juga kan ada pajak, biaya2 bank, dll yg pada akhirnya tidak akan menambah jumlah uang anda secara significant
Dari pandangan agama saya, di amanatkan secara umum, utk tidak mengambil lebih dari yg seharusnya kita dapatkan dari utang org lain artinya system bunga 'wajar' adalah diperbolehkan
Pemerintah wajib melindungi warganya dari perilaku bank dan lembaga keuangan
Mari diskusi solusinya
Perhitungan yg ada di ayat tsb sesuai konteks dgn emas dan situasi flat, satu lagi umumnya antar personal bukan dgn kelembaga keuangan,
sesuai jaman, peminjam/pengelola uang adalah lembaga dan system moneter yg dipakai adalah menggunakan mata uang..lembaga2 ini menghitung faktor resiko, jasa, dll dan memperhitungkannya ke dalam bunga dan biaya jasa bank/lembaga keuangan, bunga yg wajar berapa? Tidak lebih dari suku bunga acuan plus nilai jasanya
Ada 2 kritik saya ke bank yg saya anggap tidak wajar
1. Menetapkan bunga tinggi dan flat, disaat suku bunga acuan turun pun gak disesuaikan
2. Mengambil bunga di muka! Sehingga pelunasan di awal pokok pinjaman peminjam masih tinggi sekali..
KPR pake bank syariah saja, tapi tetap ada flaw nya, syariah tapi juga masih set tinggi sekali jadi sama aja dgn konvensional..kenapa saya sangat skeptis dgn bank syariah
Dan dalam hal ini yg 'riba' bukan peminjam ya si bank pelakunya dalam hal ini, makanya kaya2 kan bank kalau pandai ngaturnya, ambil 'riba'nya di awal, puter lagi dapat riba lagi, puter lagi,,benar ada resiko peminjam gak bisa bayar, lah kan ada asuransi juga tho..yg saya kritik adalah mereka mengambilnya di awal
Saya buat tanda kutip di kata riba, karna konsep saya soal riba adalah beda yaitu tidak wajar/tidak adil
Kalau bunga tabungan bank masih wajar biasa dipatok 5-6%, itu ngitung inflasi dll, tabung tahun ini 5 thn lagi bisa2 nilai uang tersebut berkurang jauh, juga kan ada pajak, biaya2 bank, dll yg pada akhirnya tidak akan menambah jumlah uang anda secara significant
Dari pandangan agama saya, di amanatkan secara umum, utk tidak mengambil lebih dari yg seharusnya kita dapatkan dari utang org lain artinya system bunga 'wajar' adalah diperbolehkan
Pemerintah wajib melindungi warganya dari perilaku bank dan lembaga keuangan
Mari diskusi solusinya
Quote:
Original Posted By fachrulrezya►Riba Bisa Terjadi dimana Salah Satu pihak Merasa di sangat rugikan Dan Yang satunya Sangat Di untungkan.
Layaknya seorang sales kendaraan Yang berharap pembeli membeli secara Kredit.
Kredit = Riba, ya betul jika Salah Satu pihak masuk ke sangat Di rugikan Dan satunya Sangat Di untungkan.
Contoh Beli motor Cash 10jt namun jika secara Kredit 17bln Di hitung tololan 14jt. Pembeli tau akan hal tsb jika total harga Kredit lebih Mahal Dari Cash.
Namun jika Pembeli Tidak Keberatan Dan Merasa sanggup, itu bukan Riba.
Tapi alangkah baiknya lebih membeli secara Cash sesuai Kemampuan.
Bagaimana Dengan pinjaman Bank? Anggap saja Bunga tsb seperti halnya anda memberi tambahan Rokok (terimakasih atas jasa) kepada teman Karna sudah Di pinjami Uang. Yang penting anda Tidak Keberatan.
Ada 3 Cara menghindari Riba
1. Bergaya sesuai Kesanggupan (isi dompet)
2. Bersyukur Dengan apa Yang ada.
3. Banyaklah Sedekah/Beramal Karna akan Menambah rezeki.
Ane Dulu Punya Tetangga Yang kerja Di Dealer Motor. Suatu waktu dia Dapet Ceramah Dari Orang Masalah Riba ini Dan tentang Pekerjaan dia Yang Makan uang Riba. Dan asal kalian tau.. sehabis itu dia Berhenti Dari Pekerjaan. Motor Yang tadinya Kredit Di Jual. Lalu Anaknya putus sekolah, Dan keluarganya nyaris berantakan Karna sang Kepala Keluarga Masih memikirkan tentang Riba.
Layaknya seorang sales kendaraan Yang berharap pembeli membeli secara Kredit.
Kredit = Riba, ya betul jika Salah Satu pihak masuk ke sangat Di rugikan Dan satunya Sangat Di untungkan.
Contoh Beli motor Cash 10jt namun jika secara Kredit 17bln Di hitung tololan 14jt. Pembeli tau akan hal tsb jika total harga Kredit lebih Mahal Dari Cash.
Namun jika Pembeli Tidak Keberatan Dan Merasa sanggup, itu bukan Riba.
Tapi alangkah baiknya lebih membeli secara Cash sesuai Kemampuan.
Bagaimana Dengan pinjaman Bank? Anggap saja Bunga tsb seperti halnya anda memberi tambahan Rokok (terimakasih atas jasa) kepada teman Karna sudah Di pinjami Uang. Yang penting anda Tidak Keberatan.
Ada 3 Cara menghindari Riba
1. Bergaya sesuai Kesanggupan (isi dompet)
2. Bersyukur Dengan apa Yang ada.
3. Banyaklah Sedekah/Beramal Karna akan Menambah rezeki.
Ane Dulu Punya Tetangga Yang kerja Di Dealer Motor. Suatu waktu dia Dapet Ceramah Dari Orang Masalah Riba ini Dan tentang Pekerjaan dia Yang Makan uang Riba. Dan asal kalian tau.. sehabis itu dia Berhenti Dari Pekerjaan. Motor Yang tadinya Kredit Di Jual. Lalu Anaknya putus sekolah, Dan keluarganya nyaris berantakan Karna sang Kepala Keluarga Masih memikirkan tentang Riba.
Quote:
Original Posted By tottorotooot►Ane kasih bintang aja, salut buat ts mau mikir sendiri.
Ane kasih tambahan dikit aja, mengenai uang, bank, emas dan hukum syariat.
Namanya uang nilainya berubah,secara umum dan formal perubahan nilai uang mengalami penurunan sebesar nilai inflasi per tahun, kalau secara khusus, tergantung orangnya mau digantungin nilai uang ke apa.
Salah kaprah nilai emas stabil atau cenderung naik. Nilai emas tergantung di pasar bursa, dimana pasar dipengaruhi permintaan dan suplai yg kebanyakan cenderung dari sentimen pasar itu sendiri yg sering bersifat subyektif, dan permainan pasar pun cenderung seperti judi juga. Jadi kalau kedapetan sentimen negatif, investasi emas anda bakalan anjlok, hilang sebagian. Harus diingat emas yg buat investasi tentunya bukan emas perhiasan yg ada nilai tambah jasa, tapi yg batangan bersertifikat standar, dimana nilai retailnya akan berbeda berdasarkan ukuran.
Hukum syariat itu sendiri kebanyakan hasil dari pemikiran dan perenungan yg berdasar dari acuan yg ada, misal hadits. Tentunya bakalan ada beberapa syariat yg berbeda buat hal2 yg sama, tergantung dari golongan dan orang2 yg menganutnya. Yg biasanya dijadikan pajangan di muka adalah, karena ini berdasarkan haditsh shahih, atau fiqiih hasil pemikiran ulama besar A, padahal kalau ditanya, siapa yg berani jamin ulama A pasti bener, dan hadits shahih pasti bener, walaupun bener pasti pas konteksnya.
Hukum syariat ada baiknya diikuti dengan pemikiran hakikat dan pendalaman hakikat, bukan saling bantai antara dalil.
Misal, kenapa riba itu haram. Haram karena lebih besar mudharatnya. Terus klasifikasikan dan kumpulin mudharat dan manfaatnya........setelah mengklasifikasikan nilai bunga, persentase bunga, penggunaan bunga, sumber dan penggunaan dana, kondisi finansial umum dan khusus, perbandingan dengan alternatif lain, tujuan umum dan khusus yg mau dicapai, dll.
Jangan sampe nilai2 sama, diubah sampulnya, ngedadak jadi halal, padahal variabelnya sama aja ( perbandingan mudharat dan manfaat sami mawon)
Lanjut agan ts.
Ane kasih tambahan dikit aja, mengenai uang, bank, emas dan hukum syariat.
Namanya uang nilainya berubah,secara umum dan formal perubahan nilai uang mengalami penurunan sebesar nilai inflasi per tahun, kalau secara khusus, tergantung orangnya mau digantungin nilai uang ke apa.
Salah kaprah nilai emas stabil atau cenderung naik. Nilai emas tergantung di pasar bursa, dimana pasar dipengaruhi permintaan dan suplai yg kebanyakan cenderung dari sentimen pasar itu sendiri yg sering bersifat subyektif, dan permainan pasar pun cenderung seperti judi juga. Jadi kalau kedapetan sentimen negatif, investasi emas anda bakalan anjlok, hilang sebagian. Harus diingat emas yg buat investasi tentunya bukan emas perhiasan yg ada nilai tambah jasa, tapi yg batangan bersertifikat standar, dimana nilai retailnya akan berbeda berdasarkan ukuran.
Hukum syariat itu sendiri kebanyakan hasil dari pemikiran dan perenungan yg berdasar dari acuan yg ada, misal hadits. Tentunya bakalan ada beberapa syariat yg berbeda buat hal2 yg sama, tergantung dari golongan dan orang2 yg menganutnya. Yg biasanya dijadikan pajangan di muka adalah, karena ini berdasarkan haditsh shahih, atau fiqiih hasil pemikiran ulama besar A, padahal kalau ditanya, siapa yg berani jamin ulama A pasti bener, dan hadits shahih pasti bener, walaupun bener pasti pas konteksnya.
Hukum syariat ada baiknya diikuti dengan pemikiran hakikat dan pendalaman hakikat, bukan saling bantai antara dalil.
Misal, kenapa riba itu haram. Haram karena lebih besar mudharatnya. Terus klasifikasikan dan kumpulin mudharat dan manfaatnya........setelah mengklasifikasikan nilai bunga, persentase bunga, penggunaan bunga, sumber dan penggunaan dana, kondisi finansial umum dan khusus, perbandingan dengan alternatif lain, tujuan umum dan khusus yg mau dicapai, dll.
Jangan sampe nilai2 sama, diubah sampulnya, ngedadak jadi halal, padahal variabelnya sama aja ( perbandingan mudharat dan manfaat sami mawon)
Lanjut agan ts.
Diubah oleh 19ilham22 01-01-2019 07:24
3
Kutip
Balas
Tutup