- Beranda
- Stories from the Heart
I Think Love is BULLSHIT!!
...
TS
69a
I Think Love is BULLSHIT!!
Assalamu'alaikum wr.wb.
Ini cerita bukan dongen. Kalo dongeng ngomongin soal hewan, sementara cerita ngomongin soal manusia..
Nama six, orang rumah, tinggal di rumah, makanan favorit nasi, ini id klon, id prime ada, ngaskus udah lama, alasan nulis ngelatih ngetik di atas keyboard, lahir 99, sekarang lagi nguli, pacar gak punya, yg terakhir di tinggal kimpoi, selebihnya kena prenjon.
Dah segitu aja.
PS 1 : Semua materi cerita bersifat dewasa, tolong jangan ditiru tindakan si karakter - karakter yang ada di cerita ini
PS 2 : Misalkan ada istilah yang kurang di mengerti bisa searching di google
PS 3 : ini HOAX, jadi jangan pernah ini anggep beneran. Materi cerita terinspirasi dari apa yang gua lihat selama ini
Ini cerita bukan dongen. Kalo dongeng ngomongin soal hewan, sementara cerita ngomongin soal manusia..
Nama six, orang rumah, tinggal di rumah, makanan favorit nasi, ini id klon, id prime ada, ngaskus udah lama, alasan nulis ngelatih ngetik di atas keyboard, lahir 99, sekarang lagi nguli, pacar gak punya, yg terakhir di tinggal kimpoi, selebihnya kena prenjon.
Dah segitu aja.
PS 1 : Semua materi cerita bersifat dewasa, tolong jangan ditiru tindakan si karakter - karakter yang ada di cerita ini
PS 2 : Misalkan ada istilah yang kurang di mengerti bisa searching di google
PS 3 : ini HOAX, jadi jangan pernah ini anggep beneran. Materi cerita terinspirasi dari apa yang gua lihat selama ini
Diubah oleh 69a 10-01-2019 21:33
3
13.4K
77
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
69a
#22
Tiga Belas : Friend with ?
Bebi dan Safira duduk bersama sangat akrab dan menuangkan sebotol vodka bersama - sama. Tertawa larut dalam kebahagian karena mabuk.
Bentar dulu. Ceritanya bukan gitu. Itu cuman ekspetasi gua doang. Kenyataannya?
Yaa suara itu adalah suara Bebi. Tidak lain dan tidak bukan. Suaranya gak asing banget bagi gua, cempreng - cempreng gimana gitu. Bebi kini sudah berada di samping meja gua dan Safira. Pakaiannya yang wow meski di puncak. Luar biasa kuatnya nih orang.
"Widih, Yoga punya cewek" kata Bebi sambil nyengir - nyengir. Bukan itu yang jadi masalahnya. Bau mulut Bebi begitu menyengkat. Bau sebuah minuman beralkohol tercium jelas. Gua yakin Bebi pasti lagi mabok. Safira menatap Bebi dengan tatapan jijik dan tidak suka. Yaa wajar, Safira dan Bebi berada di sisi yang berbeda. "Temen lu, Yog?" tanya Safira mengintrogasi. "Salam kenal, gua temennya Yoga" kata Bebi mengulurkan tangannya ke arah Safira. Safira membalas uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya. Walau jelas keliatan rasa tidak suka nya itu.
Bebi mengangkat tangan yang satu lagi dan sebuah botol minuman diangkatnya, lalu langsung di minum oleh Bebi tanpa rasa sungkan sedikit pun. "Yog, mau?" tawar Bebi ke gua. Safira menatap gua tajam. "Sorry, Beb. Lagi enggak minum gua" kata gua. "Ohhh, di depan cewek alim ini lu juga jadi alim, gitu?" tanya Bebi sambil duduk di depan kami berdua. Jelas Bebi ingin merusak suasana gua dan Safira. Bebi keliatan tidak suka dengan Safira.
"Jadi lu temenan sama orang model kaya gin?" tanya Safira. "Itu temen kelas gua, Kak" balas gua. "Temen kelas? Bukannya kita lebih dari temen kelas ya, Yog?" balas Bebi. Nada centil dan seperti mempermainkan keadaan begitu kental terdengar di telinga gua. Nih Bebi dateng niatnya emang ngerusuh. "Beb, jangan ngomong sembarang!" kata gua sedikit membentak. "Oh, sorry. Ada pacar lu ya, Yog. Gua gak nyadar. Ribet gak sih Yog pacaran sama cewek sok alim kaya dia, pasti lu suruh ngaji, solat lima waktu gitu ya?" kata Bebi. Nadanya nada meledek. "Maaf, mba. Maksud mba apa ya?" kata Safira dengan tegas. "Gua gak maksud apa - apa. Tipe cewek kaya lu itu tipe cewek munafik!" kata Bebi dengan keras.
Safira menarik nafas panjang. Keliatannya mencoba untuk bersabar. "Mba, saya minta tolong banget. Jangan ganggu saya sama Yoga. Yoga pacar saya. Jadi mba mulai sekarang gak boleh ganggu atau deketin Yoga lagi. Semoga mba masih punya harga diri" kata Safira tersenyum sinis. Yang gua denger gak salah? Pacar?
"Anj*ng lu cewek munafik" kata Bebi sambil memukul meja. "Oke - oke. Santay - santay" kata gua mencoba menenangkan suasana. "Beb lu gak usah mancing - mancing emosi, gua mohon banget. Lu juga gak usah ganggu gua berdua sama Safira, ok?" kata gua. Bebi acuh tak menjawab kata - kata gua.
Bebi berdiri. "Sekarang gini, lu pilih gua atau dia?" kata Bebi kata Bebi sambil meninggalkan kami berdua. Dan sekarang hanya ada gua dan Safira. Safira masih keliatan kesal perihal kedatangan Bebi yang gak disangka - sangka. "Maafin temen gua ya, maklum dia lagi mabok" kata gua. "Kagak akan gua maafin. Sekarang gini Yog. Please jauhin tuh cewek, dia bawa pengaruh buruk ke elu. Gua gak mau lu jatoh ke jalan yang salah" kata Safira. Matanya berbinar - binar penuh harap ke gua. ini pilihan yang berat. Yang dikatakan Safira memang benar adanya. Bebi itu bawa pengaruh buruk ke gua. Gua yang udah buruk, jika ditambah lagi dengan keburukan makin buruk dah hidup gua.
"Gua pikir - pikir lagi deh, Kak" kata gua pelan. Apa yang dikatakan Safira memang tidak salah, tapi kehidupan gua itu sejalan lurus dengan Bebi. Gua suka Bebi. Dia tipe cewek yang blakblakan dan gak ada kata jaim. Rasa suka gua sama Bebi sebatas rasa dimana gua kagum ada cewek yang orangnya to the point gak pernah jaim - jaim gimana. Dia selalu apa adanya, walau apadanya dia ke arah yang tidak benar. Tidak ada yang ditutupi dari dirinya.
Sementara Safira adalah cewek idaman bagi semua cowok. Gua tarik kesimpulan Safira itu cantik, sholehah dan dia itu perfect banget kalo jadi istri. Dia selalu menuntut dan mensupport ke arah yang lebih baik. Kalo ada di samping dia bersama nyaman dan tentram.
"Gak usah di pikir - pikir. Gini aja, gua ngulang kata - kata cewek jalang barusan. Lu pilih gua atau dia. Gitu aja sekarang. Satu hal yang harus lu tau, perasaan gua saat ini bukan sekedar perasaan biasa. Dan gua yakin tuh cewek juga punya perasaan yang sama kaya gua ke elu" kata Safira blakblakan. Safira tidak terlihat seperti biasanya. Memang Safira biasanya paling rempong, tapi kerempongan dia itu menuju hal - hal yang berbau jokes dan bukan sesuatu yang serius.
"Lu serius?" kata gua. "Lu aja gak peka, bego dasar" kata Safira. "Jadi lu serius suka sama gua?" tanya gua penasaran. "Kalo iya?" tanya Safira. Gua baru tersadar ternyata Safira suka sama gua. Tapi. Apakah itu bener - bener rasa suka, atau alasan dia saja untuk bisa jauhin gua sama Bebi.
"Lu mau jadi pacar gua gak, Kak?" kata gua dengan pelan dan halus. Gua penuh harap dan ekpetasi yang luar biasa. Kalo gua bisa jadi pacarnya Safira, mungkin sesuatu yang luar biasa bisa merubah hidup gua. "Maaf, gua belum mau pacaran dulu. Tapi gua pengen lu sama gua buat satu komitmen yang ngiket kita berdua. Rasa cinta itu bukan soal pacaran doang kan?" kata Safira sambil tersenyum manis ke arah gua. Senyumnnya begitu indah dan meneduhkan hati. Ya Allah, terima kasih telah menurunkan bidadari seperti ini depan gua.
Rasanya memang absurd sih scene menyatakan perasaan antara gua dan Safira. Semua itu terjadi karena Bebi. Bebi ngacau, dan inilaha akibat yang terjadi. Mungkin gua harus berterima kasih sama dia. Satu pertanyaan terakhir pada diri gua sendiri, apakah gua punya perasaan yang sama dengan Safira? Yang gua rasakan adalah sebatas rasa kagum. Kagum karena ada cewek nyaris sempurna seperti Safira.
Hari sudah makin larut, tepatnya jam satu malam. Biasanya Safira jam 12 pas itu harus ada dirumah, karena nyokapnya lagi gak ada dirumah Safira bisa pulang larut malem kaya gini. Sebagai cowok yang bertanggung jawab, gua anterin lah Safira menuju rumahnya. Gua dari puncak sampe ciawi ngebut parah. Jalan agak kosong gitu, berasa pembalap moto gp dengan motor matic wkwk.
Setengah jam kemudian gua sudah berada di depan rumahnya Safira. Muka harap cemas dan penuh rasa kecewa karena harus berpisah jelas terlihat dari raut wajah Safira. Mungkin Safira bener - bener jatuh hati sama gua. Safira menatap gua dan gua menatap Safira. Kepala gua mendekat dan gua cium keningnya Safira. Gua gak berani untuk cium bibir. Karena Safira itu tipe cewek baik - baik bukan cewek bragajul model Bebi ataupun Rani.
"Makasih ya, Yog. Love you" kata Safira sambil lari - lari kecil dengan muka sedikit memerah masuk ke dalam rumah. Senyum gua mulai terbentuk senyum bahagia bisa membuat cewek bahagia. Masalah yang ini udah kelar, tinggal masalah satu lagi masalah gua dan Bebi.
Gua : Beb, lu dimana? Masih di puncak?
Bebi : Kagak, gua lagi ngedugem, sinilah
Gua : Bentar gua otw, ada yang mau gua omongin ke elu
Bebi : Oke, si cewek munafik bawa pulang dulu
Gua : Safira udah gua anter pulang
Bebi : oh ok
Begitulah isi percakapan gua dan Bebi di WhatsApp. Gua langsung otw menuju Bebi berada. Sampai sana, ramai. Itulah suasana yang ada banyak cewek - cewek model Bebi dan banyak juga fuck boy fuck boy sok hits gaya kampungan yang membuat gua sedikit jijik, ada juga orang tua gak tau umur yang ngerasa dirinya muda terus dia cuman mau cari bibit muda doang baut muasin nafsu birahi nya gara - gara isitrinya udah ogah maen gara - gara otong suaminya udah mulai layu, wkkw, ngomong apa sih gua wkwk.
Gua yang udah janjian sama Bebi langsung masuk, disana Bebi langsung menyambut gua. Keadaan Bebi agak mabuk - mabuk namun masih bisa dikontrol. Gua pun diajak bergabung dengan teman - temannya Bebi dan disitu ada NIna yang sedang peluk - pelukan sambil cium - ciuman gitu sama seorang cowok. Jelas gua sedikit iri sama tuh cowok wkwk. Gua duduk bersebalahan dengan Bebi, Bebi langsung menggaet tangan gua dan bermanja - manjaan. Gua mah keenakan yaudah gua biarin aja kwkw.
"Lu mau ngomong apa, Yog?" kata Bebi. "Bisa gak kita ngomongnya berdua aja?" kata gua. "Ok, yuk" kata Bebi. Tangan Bebi menarik gua ke luar. Diluar udaranya begitu segar karena gua baru keluar dari tempat yang begitu pengap. "Jadi lu mau ngomong apa?" kata Bebi. Nadanya serius. "Gini, Beb. Lu ada perasaan gak sama gua?" kata gua terus terang. "Iya, terus kita jadian gitu?" kata Bebi. "Engga gitu juga, hehe" kata gua. "Terus?" kata Bebi. "Bentar gua tebak, lu udah jadian sama si cewek munafik itu?" kata Bebi. Nada suaranya sekarang agak meninggi dan kesal. "Engga, Beb. Bisa gak lu akur sama Safira, dia baik kok orangnya" kata gua. "Kagak! Gua benci cewek sok alim, asal lu tau Safira itu cewek yang gak seperti lu pikirin" kata Bebi ngotot. "Gua gak percaya omongan lu" kata gua. "Terserah! Gua udah ngasih tau lu ya" kata Bebi. "Terus sekarang apa?" lanjut Bebi. "Gua pengen kita menjauh, gua menghargai kata - kata Safira. Bukan maksudnya apa, Beb. Tapi ya gimana? Gua pengen berubah juga soalnya" kata gua. "Oh ok, gak masalah" kata Bebi dengan entengnya. "Dah sekarang gua boleh masuk kan?" kata Bebi. "Iya, sorry ya, Beb" kata gua.
Masalah gua sama Bebi sudah selesai. Tapi masih ada perasaan yang janggal dan gua pun gak mengerti itu apa. Ada rasa gak enak yang gua rasakan sama Bebi. Bebi itu baik, baik banget malah. Walau kelakuannya bragajul tapi dia bener - bener cewek yang berhati baik.
Safira : Yog, temenin gua. Gua dirumah. Gua takut sendiri
Sebuah chat dari Safira.
Bentar dulu. Ceritanya bukan gitu. Itu cuman ekspetasi gua doang. Kenyataannya?
Yaa suara itu adalah suara Bebi. Tidak lain dan tidak bukan. Suaranya gak asing banget bagi gua, cempreng - cempreng gimana gitu. Bebi kini sudah berada di samping meja gua dan Safira. Pakaiannya yang wow meski di puncak. Luar biasa kuatnya nih orang.
"Widih, Yoga punya cewek" kata Bebi sambil nyengir - nyengir. Bukan itu yang jadi masalahnya. Bau mulut Bebi begitu menyengkat. Bau sebuah minuman beralkohol tercium jelas. Gua yakin Bebi pasti lagi mabok. Safira menatap Bebi dengan tatapan jijik dan tidak suka. Yaa wajar, Safira dan Bebi berada di sisi yang berbeda. "Temen lu, Yog?" tanya Safira mengintrogasi. "Salam kenal, gua temennya Yoga" kata Bebi mengulurkan tangannya ke arah Safira. Safira membalas uluran tangannya dan memperkenalkan dirinya. Walau jelas keliatan rasa tidak suka nya itu.
Bebi mengangkat tangan yang satu lagi dan sebuah botol minuman diangkatnya, lalu langsung di minum oleh Bebi tanpa rasa sungkan sedikit pun. "Yog, mau?" tawar Bebi ke gua. Safira menatap gua tajam. "Sorry, Beb. Lagi enggak minum gua" kata gua. "Ohhh, di depan cewek alim ini lu juga jadi alim, gitu?" tanya Bebi sambil duduk di depan kami berdua. Jelas Bebi ingin merusak suasana gua dan Safira. Bebi keliatan tidak suka dengan Safira.
"Jadi lu temenan sama orang model kaya gin?" tanya Safira. "Itu temen kelas gua, Kak" balas gua. "Temen kelas? Bukannya kita lebih dari temen kelas ya, Yog?" balas Bebi. Nada centil dan seperti mempermainkan keadaan begitu kental terdengar di telinga gua. Nih Bebi dateng niatnya emang ngerusuh. "Beb, jangan ngomong sembarang!" kata gua sedikit membentak. "Oh, sorry. Ada pacar lu ya, Yog. Gua gak nyadar. Ribet gak sih Yog pacaran sama cewek sok alim kaya dia, pasti lu suruh ngaji, solat lima waktu gitu ya?" kata Bebi. Nadanya nada meledek. "Maaf, mba. Maksud mba apa ya?" kata Safira dengan tegas. "Gua gak maksud apa - apa. Tipe cewek kaya lu itu tipe cewek munafik!" kata Bebi dengan keras.
Safira menarik nafas panjang. Keliatannya mencoba untuk bersabar. "Mba, saya minta tolong banget. Jangan ganggu saya sama Yoga. Yoga pacar saya. Jadi mba mulai sekarang gak boleh ganggu atau deketin Yoga lagi. Semoga mba masih punya harga diri" kata Safira tersenyum sinis. Yang gua denger gak salah? Pacar?
"Anj*ng lu cewek munafik" kata Bebi sambil memukul meja. "Oke - oke. Santay - santay" kata gua mencoba menenangkan suasana. "Beb lu gak usah mancing - mancing emosi, gua mohon banget. Lu juga gak usah ganggu gua berdua sama Safira, ok?" kata gua. Bebi acuh tak menjawab kata - kata gua.
Bebi berdiri. "Sekarang gini, lu pilih gua atau dia?" kata Bebi kata Bebi sambil meninggalkan kami berdua. Dan sekarang hanya ada gua dan Safira. Safira masih keliatan kesal perihal kedatangan Bebi yang gak disangka - sangka. "Maafin temen gua ya, maklum dia lagi mabok" kata gua. "Kagak akan gua maafin. Sekarang gini Yog. Please jauhin tuh cewek, dia bawa pengaruh buruk ke elu. Gua gak mau lu jatoh ke jalan yang salah" kata Safira. Matanya berbinar - binar penuh harap ke gua. ini pilihan yang berat. Yang dikatakan Safira memang benar adanya. Bebi itu bawa pengaruh buruk ke gua. Gua yang udah buruk, jika ditambah lagi dengan keburukan makin buruk dah hidup gua.
"Gua pikir - pikir lagi deh, Kak" kata gua pelan. Apa yang dikatakan Safira memang tidak salah, tapi kehidupan gua itu sejalan lurus dengan Bebi. Gua suka Bebi. Dia tipe cewek yang blakblakan dan gak ada kata jaim. Rasa suka gua sama Bebi sebatas rasa dimana gua kagum ada cewek yang orangnya to the point gak pernah jaim - jaim gimana. Dia selalu apa adanya, walau apadanya dia ke arah yang tidak benar. Tidak ada yang ditutupi dari dirinya.
Sementara Safira adalah cewek idaman bagi semua cowok. Gua tarik kesimpulan Safira itu cantik, sholehah dan dia itu perfect banget kalo jadi istri. Dia selalu menuntut dan mensupport ke arah yang lebih baik. Kalo ada di samping dia bersama nyaman dan tentram.
"Gak usah di pikir - pikir. Gini aja, gua ngulang kata - kata cewek jalang barusan. Lu pilih gua atau dia. Gitu aja sekarang. Satu hal yang harus lu tau, perasaan gua saat ini bukan sekedar perasaan biasa. Dan gua yakin tuh cewek juga punya perasaan yang sama kaya gua ke elu" kata Safira blakblakan. Safira tidak terlihat seperti biasanya. Memang Safira biasanya paling rempong, tapi kerempongan dia itu menuju hal - hal yang berbau jokes dan bukan sesuatu yang serius.
"Lu serius?" kata gua. "Lu aja gak peka, bego dasar" kata Safira. "Jadi lu serius suka sama gua?" tanya gua penasaran. "Kalo iya?" tanya Safira. Gua baru tersadar ternyata Safira suka sama gua. Tapi. Apakah itu bener - bener rasa suka, atau alasan dia saja untuk bisa jauhin gua sama Bebi.
"Lu mau jadi pacar gua gak, Kak?" kata gua dengan pelan dan halus. Gua penuh harap dan ekpetasi yang luar biasa. Kalo gua bisa jadi pacarnya Safira, mungkin sesuatu yang luar biasa bisa merubah hidup gua. "Maaf, gua belum mau pacaran dulu. Tapi gua pengen lu sama gua buat satu komitmen yang ngiket kita berdua. Rasa cinta itu bukan soal pacaran doang kan?" kata Safira sambil tersenyum manis ke arah gua. Senyumnnya begitu indah dan meneduhkan hati. Ya Allah, terima kasih telah menurunkan bidadari seperti ini depan gua.
Rasanya memang absurd sih scene menyatakan perasaan antara gua dan Safira. Semua itu terjadi karena Bebi. Bebi ngacau, dan inilaha akibat yang terjadi. Mungkin gua harus berterima kasih sama dia. Satu pertanyaan terakhir pada diri gua sendiri, apakah gua punya perasaan yang sama dengan Safira? Yang gua rasakan adalah sebatas rasa kagum. Kagum karena ada cewek nyaris sempurna seperti Safira.
Hari sudah makin larut, tepatnya jam satu malam. Biasanya Safira jam 12 pas itu harus ada dirumah, karena nyokapnya lagi gak ada dirumah Safira bisa pulang larut malem kaya gini. Sebagai cowok yang bertanggung jawab, gua anterin lah Safira menuju rumahnya. Gua dari puncak sampe ciawi ngebut parah. Jalan agak kosong gitu, berasa pembalap moto gp dengan motor matic wkwk.
Setengah jam kemudian gua sudah berada di depan rumahnya Safira. Muka harap cemas dan penuh rasa kecewa karena harus berpisah jelas terlihat dari raut wajah Safira. Mungkin Safira bener - bener jatuh hati sama gua. Safira menatap gua dan gua menatap Safira. Kepala gua mendekat dan gua cium keningnya Safira. Gua gak berani untuk cium bibir. Karena Safira itu tipe cewek baik - baik bukan cewek bragajul model Bebi ataupun Rani.
"Makasih ya, Yog. Love you" kata Safira sambil lari - lari kecil dengan muka sedikit memerah masuk ke dalam rumah. Senyum gua mulai terbentuk senyum bahagia bisa membuat cewek bahagia. Masalah yang ini udah kelar, tinggal masalah satu lagi masalah gua dan Bebi.
Gua : Beb, lu dimana? Masih di puncak?
Bebi : Kagak, gua lagi ngedugem, sinilah
Gua : Bentar gua otw, ada yang mau gua omongin ke elu
Bebi : Oke, si cewek munafik bawa pulang dulu
Gua : Safira udah gua anter pulang
Bebi : oh ok
Begitulah isi percakapan gua dan Bebi di WhatsApp. Gua langsung otw menuju Bebi berada. Sampai sana, ramai. Itulah suasana yang ada banyak cewek - cewek model Bebi dan banyak juga fuck boy fuck boy sok hits gaya kampungan yang membuat gua sedikit jijik, ada juga orang tua gak tau umur yang ngerasa dirinya muda terus dia cuman mau cari bibit muda doang baut muasin nafsu birahi nya gara - gara isitrinya udah ogah maen gara - gara otong suaminya udah mulai layu, wkkw, ngomong apa sih gua wkwk.
Gua yang udah janjian sama Bebi langsung masuk, disana Bebi langsung menyambut gua. Keadaan Bebi agak mabuk - mabuk namun masih bisa dikontrol. Gua pun diajak bergabung dengan teman - temannya Bebi dan disitu ada NIna yang sedang peluk - pelukan sambil cium - ciuman gitu sama seorang cowok. Jelas gua sedikit iri sama tuh cowok wkwk. Gua duduk bersebalahan dengan Bebi, Bebi langsung menggaet tangan gua dan bermanja - manjaan. Gua mah keenakan yaudah gua biarin aja kwkw.
"Lu mau ngomong apa, Yog?" kata Bebi. "Bisa gak kita ngomongnya berdua aja?" kata gua. "Ok, yuk" kata Bebi. Tangan Bebi menarik gua ke luar. Diluar udaranya begitu segar karena gua baru keluar dari tempat yang begitu pengap. "Jadi lu mau ngomong apa?" kata Bebi. Nadanya serius. "Gini, Beb. Lu ada perasaan gak sama gua?" kata gua terus terang. "Iya, terus kita jadian gitu?" kata Bebi. "Engga gitu juga, hehe" kata gua. "Terus?" kata Bebi. "Bentar gua tebak, lu udah jadian sama si cewek munafik itu?" kata Bebi. Nada suaranya sekarang agak meninggi dan kesal. "Engga, Beb. Bisa gak lu akur sama Safira, dia baik kok orangnya" kata gua. "Kagak! Gua benci cewek sok alim, asal lu tau Safira itu cewek yang gak seperti lu pikirin" kata Bebi ngotot. "Gua gak percaya omongan lu" kata gua. "Terserah! Gua udah ngasih tau lu ya" kata Bebi. "Terus sekarang apa?" lanjut Bebi. "Gua pengen kita menjauh, gua menghargai kata - kata Safira. Bukan maksudnya apa, Beb. Tapi ya gimana? Gua pengen berubah juga soalnya" kata gua. "Oh ok, gak masalah" kata Bebi dengan entengnya. "Dah sekarang gua boleh masuk kan?" kata Bebi. "Iya, sorry ya, Beb" kata gua.
Masalah gua sama Bebi sudah selesai. Tapi masih ada perasaan yang janggal dan gua pun gak mengerti itu apa. Ada rasa gak enak yang gua rasakan sama Bebi. Bebi itu baik, baik banget malah. Walau kelakuannya bragajul tapi dia bener - bener cewek yang berhati baik.
Safira : Yog, temenin gua. Gua dirumah. Gua takut sendiri
Sebuah chat dari Safira.
3