- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#968
Quote:
PART 71
“ Terima kasih Adam, berkat kamu yang pintar menjaga rahasia, rencana saya berhasil. Bahkan hasilnya justru lebih baik dari perkiraan saya.” Ujar Ningrum pelan dengan senyum licik. Sangat pelan bahkan hanya Adam sendiri yang bisa mendengarnya.
Adam tak menjawab sepatah katapun ia hanya memandangi wanita itu dengan tatapan marah. Tapi ia lebih memilih memendam itu semua demi menjaga perasaan tante Fika.
Ingin rasanya ia melayangkan pukulan kecil pada perempuan licik itu, tapi ia sadar itu hanya akan membuatnya terlihat kekanak – kanakan. Memukul wanita? Itu bahkan tak pernah ada dalam kamus hidupnya selama ini.
“ Saya senang, karena tak akan ada lagi nama Tuan Vegar Raditya. Harusnya kamu mendengarkan Medina untuk tidak terlalu mempercayai saya.” Ucap Ningrum lagi dengan bangganya membongkar boroknya sendiri.
“ Lo adalah perempuan paling licik yang pernah gue temui,” ucap Adam dengan penekanan di setiap katanya. Ia tengah mati – matian menahan diri untuk tidak meluapkan amarahnya. Apa yang akan terjadi pada tante Fika, jika tahu keponakannya ternyata musang berbulu domba.
Ningrum terkekeh, “ Ini baru permulaan, kamu akan tahu selicik apa saya sebentar lagi.”
Adam mengkerutkan kening tak mengerti dengan ucapan Ningrum, berpura – pura baik dan kemudian menghancurkan ayahnya, apalagi yang lebih licik dari itu?
“ KAK ADAM!!” teriakan Medina mengalihkan perhatian Adam. Wajah Medina yang bisa di bilang sangat tidak santai membuat Adam sedikit heran. Hal apa yang membuat adiknya itu terlihat begitu marah padanya.
“ Bersiaplah menghadapi kejutan dari saya Adam,” bisik Ningrum lagi dan tentu itu semakin membuat Adam bingung sekaligus penasaran.
Adam dan Ningrum kompak berdiri sambil terus memandangi Medina yang berjalan kian mendekat ke arahnya
“ PUAS KAKAK SEKARANG!!” hardik Medina sambil mendorong kasar tubuh Adam. Mata teduh itu masih basah di genangi air mata. “ Gara – gara kakak, PAPA MENINGGAL.”
“ Medina, kakak akui kakak salah, tapi…”
“ PERGI!!! AKU NGGAK MAU NGELIAT KAKAK LAGI. Kak Adam yang aku kenal bukan orang sekejam ini.”
“ Dek…”
“ AKU BILANG PERGI!! AKU DAN MAMA NGGAK BUTUH ORANG YANG DIAM – DIAM MENGHANCURKAN KELUARGANYA SENDIRI!!”
Adam kembali menoleh pada Ningrum, ia yakin kemarahan Medina ada kaitannya dengan wanita itu. Tapi yang di lihat justru memamerkan senyum menyebalkan.
“ Medina tenang, kepergian papa kamu itu takdir. Kamu tidak bisa menyalahkan siapapun,” Kehadiran tante Fika dengan nasehat baiknya, justru semakin membuat Medina berang.
“ Tante tahu apa? Jantung papa nggak akan kumat kalau bukan karena ulah dia!” Emosi Medina semakin menjadi, telunjuknya juga mengarah persis pada Adam yang sama sekali tak berhasrat membela diri.
Dia memang tidak melakukan apapun, tapi membiarkan rencana busuk Ningrum tetap berjalan hingga membahayakan nyawa ayahnya, adalah kesalahan terbesar dan terbodoh yang ia lakukan.
“ Medina tenang sayang,” bisik Mama sambil merangkul Medina, berusaha meredaka emosi Medina yang memang sudah meledak – ledak.
“ PERGI!!”
“ Medina, izinin kakak nemenin papa seenggaknya sampe papa di makamkan.”
“ AKU BILANG PERGI KAK!! PERGI!!” hardik Medina lagi dalam isak tangisnya, dan kemudian memeluk ibunya erat.
Adam ingin membantu menenangkan, tangannya terulur ingin mengusap pundak Medina, tapi tatapan tak suka sang ibu membuatnya urung.
“ Pergi Adam, kami semua tidak butuh kamu di sini. Lagipula bukannya kamu tidak pernah punya keinginan untuk pulang? Pergi dan jangan pernah kembali lagi “ Ternyata bukan hanya Medina yang telah termakan oleh ucapan Ningrum, tapi jga ibunya. Adam tidak tahu cerita murahan macam apa yang di beberkan Ningrum pada ibu dan adiknya.
Adam menghela nafas panjang dan menatap sendu dua wanita yang seharusnya ia jaga bukan malah di kecewakan seperti ini.
“ PERGI!!” tegas Mama lagi dan membuang pandangannya ke sembarang arah, enggan menatap Adam yang kian di hantui perasaan bersalah dan penyesalan sekaligus.
Tante Fika yang berdiri persis di sebelah Adam, memilih diam dan memandangi Adam dengan tatapan prihatin. Sementara Ningrum masih bertahan dengan akting pura – pura simpatinya, dan itu terlihat mmenyebalkan di mata Adam.
“ Medina sama Tante, ayo. Kita harus segera urus kepulangan jenazah om Vegar. Lagipula Banyak hal yang harus di persiapkan untuk pemakamannya kan?” Tanpa peduli dengan keberadaan tante Fika dan Adam, Ningrum menggiring Medina dan ibunya menjauh.
“ Ma…aku belum ketinggalan pesawatkan?” tanya Adam pada tante Fika dengan suara bergetar, ia tengah menahan tangisnya sekarang.
Tante Fika menoleh dengan alis bertaut heran,” Kamu yakin tetap mau berangkat ke Jerman sekarang?”
Adam mengangguk yakin,” Apapun yang terjadi, aku akan tetap penuhi keinginan papa.”
Tante Fika, fokus memandangi Adam yang masih belum mengalihkan perhatiannya dari Medina dan ibunya yang berjalan kian menjauh. “ Tante tahu kamu nggak salah.” Gumam tante fika pelan hingga nyaris tak terdengar.
“ Mas Adam?” Kehadiran seorang pria paruh baya yang sudah sangat Adam kenal membuat Adam dan tante Fika kompak menoleh ke sumber suara.
“ Pak Wahyu.”
“ Gimana keadaan tuan Vegar?” tanya Pak Wahyu khawatir bagaimanapun ia dulu cukup akrab dengan majikannya itu. “ Maaf saya tadi terjebak macet karena ada yang kecelakaan.”
Adam menunduk sesaat,” Papa udah nggak ada, Pak.”
“ Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” Pak Wahyu spontan memeluk Adam. Berniat menularkan semangat pada Adam yang pelan – pelan mulai menghilang di telan kesedihannya.
Pak Wahyu juga merasakan kesedihan yang sama, tapi tentu ia tidak seterpuruk Adam. “ Mas Adam, yang sabar ya.”Pak Wahyu melepas dekapannya.
Adam mengangguk pelan,” Pak saya boleh minta tolong sesuatu?”
“ Minta tolong apa Mas?”
Adam menatap lurus memandangi pak Wahyu, dan belum memberikan jawaban. Bukan hanya pak Wahyu yang bingung dengan sikapnya, tapi juga tante Fika. Tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran lelaki itu. Apapun itu semoga itu adalah hal baik bukan sebaliknya.
***
Tatapan Medina lurus memandangi jalanan yang basah akibat hujan yang masih terus mengguyur tanpa jeda. Ia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah untuk mempersiapkan pemakaman sang ayah.
Sejak meninggalkan rumah sakit Medina betah membisu, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya, kecuali air matanya saja yang tak berhenti mengalir menemani hujan hari ini.
Campur aduk, itulah perasaan yang ia alami saat ini. Kepergian ayahnya tentu membuatnya begitu sedih, kehadiran kakaknya yang seharusnya membuat ia senang, malah berujung kecewa. Medina tak ingin membohongi dirinya sendiri, ia marah pada Adam. Benar – benar marah. Tapi…mengusir kakaknya tadi, itu bukanlah hal yang ingin ia lakukan. Emosi terlanjur menguasainya hingga harus mengatakan hal itu. Apa Medina menyesal? Iya.
“ Medina, telepon kamu dari tadi bunyi. Gak di angkat aja, siapa tahu penting,” tegur Mama yang memang tadi hanya membiarkan Medina dalam diamnya. Tapi mendengar ponsel Medina terus berdering tanpa henti, ia juga tidak mungkin mengabaikannya.
“ Aku lagi malas jawab telepon dari siapapun,” jawab Medina singkat dan masih fokus memandangi hujan yang membias di jendela. Setidaknya itu bisa membantu menenangkan emosinya saat ini.
Mama kembali diam ia tak ingin memaksa anaknya, apalagi kondisi hati Medina sedang tidak baik sekarang. Mama mengusap pundak Medina berkali – kali, berusaha menenangkan.
Ia juga merasakan kehilangan yang sama dengan anaknya. Tapi sepertinya anaknya itu jauh lebih terpuruk darinya. Mungkin karena kenyataan buruk tentang Adam yang membuat Medina semakin down.
Ningrum yang duduk di kursi depan, tersenyum puas melihat kesedihan keduanya. Ia merasa telah mendapatkan keberhasilan yaang gemilang dari balas dendamnya.
Sementara itu di saat yang sama, Nina semakin di buat frustrasi karena Medina tak kunjung menjawab teleponnya. Jika tak ingat teman sendiri, mungkin sudah dari tadi ia melempar umpatan kasarnya demi meluapkan emosi dan cemas yang kompak menguasai dirinya sekarang.
“ Ya ampun Medina…lo kemana sih? Nando tu butuh lo sekarang.”
Nina kembali mencoba menghubungi Medina, tapi lagi – lagi telepon itu tak kunjung mendapat jawaban.
“ Argghhhh….!!” Nina melempar kasar ponselnya dan kemudian terduduk lemas di pinggir kasur.
Nina tertunduk dalam, selang beberapa detik terdengar isakan darinya. Isakan itu lalu berubah menjadi tangisan yang makin terdengar jelas.
Maafin gue, Ndo. Maafin gue.
●●●
0
Kutip
Balas