- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
106K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#464
Awal yang indah
Tangisnya masih sesenggukan saat ia mengangkat telepon saya. dua mobil polisi nampak parkir didepan rumahnya. secangkir air putih hangat terisi setengah dengan bercak bibir di ujung gelas berdiri didepan meja. aku masih mendengar nada ketakutannya, gemetarnya, dan traumatik mendalam.
"aku ga bisa ngobrol banyak jun, maafin aku" ucapnya pelan.
Untuk saat itu, "tunangannya" annisa, david, datang tepat waktu dan langsung mendobrak pintu saat tidak ada jawaban ketika dia mengetuk berkali-kali. rupanya para penjahat itu pun tidak mau ambil resiko untuk dilihat oleh orang lain yang dalam posisi bebas. mereka langsung ambil langkah seribu meninggalkan rumah ketika david berteriak kepada tetangga sekitar untuk meminta tolong yang seketika membuat warga sekitar berdatangan.
Menangislah annisa tepat di pundak david, orang yang ada saat dia membutuhkannya. bukan saya, entah jika tidak ada david, mungkinsaya sudah tidak bisa berjumpa lagi dengannya. ada bagian pada diri david yang selalu bisa menyesuaikan jadwal dengan kebutuhan annisa, dia semacam punya sensor yang memberitahukan saat-saat tepat annisa membutuhkannya.
ketika saya mendengar cerita semuanya secara lengkap keesokan harinya, ada sedikit rasa kecemburuan, namun lagi-lagi saya harus mengedepankan akal sehat dengan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada david dengan meneleponnya langsung.
****
Tak beberapa lama, akhirnya sebuah kasus terungkap. kasus suap pembangunan wisma atlet dengan operasi tangkap tangan di ruang sesmenpora membuka sedikit tabir tentang titik terang siapa kelompok yang menghabisi ayah annisa. operasi tangkap tangan yang menghebohkan indonesia terjadi di ruang sesmenpora yang melibatkan sesmenpora sendiri, wafid muharam, muhammad el iddris dan mindo rosalina manulang.
berdasarkan data yang ada di dalam flashdisk, bukan kali pertamanya sesmenpora menerima suap, ini sudah kesekian kalinya untuk memuluskan proyek wisma atlet, tidak tanggung-tanggung dalam OTT tersebut KPK mendapatkan 3 lembar cek tunai senilai 3,2 milliar yang bisa segera dicairkan. cek tersebut adalah uang balas jasa yang diberikan muhammad El Iddris kepada sesmenpora.
pengangkapan ini mengguncang seluruh indonesia karena ternyata lagi-lagi, berdasarkan data flashdisk, mentri pemuda dan olahraga saat itu, ikut menikmati dana yang diserahkan langsung oleh bendahara partai mercy itu kepada adiknya yang langsung dijadikan tersangka juga.
Benar-benar gonjang-ganjing yang sangat hebat, apalagi ketika bendahara partai mercy itu ternyata melarikan diri keluar negeri! wah, sudah seperti di film-film.
saya hanya menikmatinya dari layar kaca ketika kejadian itu berlangsung, tersenyum puas karena semua terbayar walaupun nyawa tidak bisa dikembalikan namun setidaknya pengorbanan ayah annisa tidak sia-sia.
entah apa yang dirasakan annisa kala itu, semenjak terakhir kali meneleponnya dan dia bercerita semua tentang penyekapan dirumahnya, saya sudah tidak pernah bisa menghubunginya. beberapa kali saya menelpon tidak pernah dijawab dan hanya dibalas dengan pesan, "nanti saya telepon balik"
Perlahan saya rasakan annisa makin menjauh, jauh, sangat jauh, dan perlahan juga namanya yang telah terpatri di sanubari perlahan terkikis oleh angin kesendirian yang memuncak. serpihan-serpihannya hilang dibawa hari yang berlalu hingga hampir tidak pernah terlintas lagi dipikiran saya tentang senyum manisnya, wajah sendunya dan juga tarian kerinduannya.
****
"wah makin jago ya main pianonya" ucap saya dengan nada menyindir yang langsung masuk pintu kamar dhanin karena penasaran mendengar lantunan piano yang "salah-salah"terus dan mengganggu telinga.
"kakak, apaan sih masuk tiba-tiba" ucap dhanin yang rada kesal melihat kehadiran saya.
"abis, suara pianonya bagus sih, pengen liat siapa sih yang main" ucap saya tetap dengan nada menyindir
"afwan pak juna kalau saya mengganggu, saya rasa permainan saya masih salah-salah dari tadi" ucap valeri sembari menunduk.
"kakak, sana keluar!! ganggu nih!!" ucap dhanin sambil mendorong saya keluar dan langsung menutup pintu "BRAKK!!"
****
saya sering meledeknya, mengiriminya sms tentang sakitnya suara saya mendengarnya memainkan piano. awalnya dia hanya sedikit merespon, namun lama-kelamaan responnya menjadi meriah dengan berbagai emotikon.
Saya pun menanggapinya dengan candaan walau kadang memuji semangatnya untuk berlatih musik. sering saya menyindirnya bahwa musik itu haram berdasarkan paham yang mayoritas di anut oleh jamaah shalahudin. sebenarnya bukan mayoritas lagi, mungkin semuanya dan saya adalah sebuah pengecualian dalam kelompok surga itu.
kadang, saya memberanikan diri untuk meneleponnya sekedar menanyakan apakah pelajaran piano yang diajarkan dhanin ada yang tidak di mengerti. entah mengapa, mungkin karena dia berhijab dan ya hampir mirip dengan annisa, ada sebuah ketertarikan dalam diri saya untuk mendekatinya, bukan untuk mencari pelarian atas cueknya annisa ya. sama sekali bukan. sedikit mungkin
"halah, kutu kupret kamu jun" celetuk anya351 sambil ngupil didepan layar handphonenya
Hari itu masih siang, kebetulan saya tidak ada kuliah dan dhanin kuliah dari pagi. sedang saya memainkan gitar mengutarakan kerinduan kepada kota jakarta dalam sebuah bait lagu ketika tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
saya pun membuka pintu, ternyata bukan pintu kamar saya yang diketuk, melainkan pintu kamar dhanin oleh valeri yang menjinjing tas yang saya tebak itu keyboard didalamnya.
"eh ri"sapa saya
"eh pak juna," jawabnya
"kamu ngapain?"tanya saya
"mau belajar piano? ngapain lagi?"jawabnya tanpa memandang saya
"dhanin belum pulang sepertinya ada kuliah tambahan" terang saya kepadanya.
"oh yaudah kalau begitu, aku pamit dulu" tukasnya
tetiba suara telepon milik valerie berbunyi dan dia pun mengangkatnya. ternyata itu dari dhanin yang mengabarkan bahwa ia masih ada kelas dan akan terlambat sekitar tiga puluh menit dan meminta valerie menunggu dikamarnya dengan menyuruh saya membukakan pintu kamarnya dengan konci cadangan yang ada di saya.
"kamu mau nunggu, yaudah silahkan menunggu" ucap saya.
"maaf permisi" valerie pun masuk ke kamar dhanin setelah saya membukakan pintu.
tak lama berselang, suara piano mulai melantun melintasi celah-celah dinding dan sampai di membran telinga saya yang langsung direspon oleh otak dengan respon yang tidak enak, hmmm.. salah mulu mainnya, hampir tiap minggu belajar kok ga bisa-bisa sih. sepertinya dia butuh guru yang tepat. ME!
inisiatif tingkat tinggi saya langsung membuka kamar dhanin "STOP!!"
"astagfirullah" ucapnya tersentak kaget, "pak juna, ngagetin, apa-apaan sih!!"
"kamu bisa main ga sih sebenernya?" bentak saya karena memang sangat mengganggu sekali permainannya di telinga saya.
"keluar pak juna!"bentaknya
saya langsung menghampirinya ke dalam dan menyuruhnya bangun dari kursi,"biar saya tunjukan dasar bermain piano, perhatikan jari saya"
saya langsung menghentakan jari saya dan menarikannya di atas papan hitam putih dengan cepat. saat itu saya memainkan karya johan sebastian basch dengan cepat dan mulai memelankannya di akhir. pamer?? ya!! saya pusing denger suaranya salah mulu, ga bisa main!! mengacaukan steman musik di pikiran saya!!
"aku kan belajar pak juna, jangan pamer gitu, namanya orang belajar" balasnya ketus
"coba kamu duduk" ucap saya sambil beranjak dari kursi dan menyuruhnya duduk,"coba kamu mainkan do-re-mi-fa-sol-la-si-do dengan do sama dengan C, aku ingin lihat jari kamu,"
dengan wajah kesal di tekuk, dia duduk di kursi sembari memainkan 7 nada dasar bolak-balik pada tangga nada do sama dengan C. namun, sepertinya saya melihat kesalahan pada letak pembagian jarinya. "coba bangun!" perintah saya.
"ini perhatikan jari saya" dengan memainkan 7 nada dasar " ini aja dulu, berlatih fingering, ga usah ingin memainkan lagu dulu, terus mainkan ini sambil menghapal not balok"
"kakak..!! apaan sih!!" ucap dhanin tiba-tiba dibelakang saya yang sepertinya baru saja tiba, "maaf kak valeri, aku terlambat, kak juna keluar deh!!" ucap dhanin dan langsung mendorong saya keluar pintu dan menutup pintu "BRAKK!!""
sepertinya deja vu
****
Dingin.. brrrr..... hamparan kebun teh yang dari 3 jam yang lalu saya lihat. awalnya betul-betul mempesona, namun lama-lama membosankan juga. dengan kendaraan elf yang diisi 13 orang, saya berangkat ke sebuah desa yang ternyata dekat dari jakarta, cianjur!!.
oh, sebagai seorang yang tinggal dijakarta, ketika indra mengatakan bahwa kami akan KKN yang berlokasi di cianjur, rasanya tidak akan begitu jauh dari kawasan puncak bogor. kami berangkat bersama-sama dari jogja menggunakan kereta dan tiba pagi-pagi buta di jakarta yang langsung menyambung dengan elf yang memang sudah disiapkan indra.
setelah tiba di pusat kota cianjur untuk sarapan terlebih dahulu di sebuah warung bubur ayam, kami melanjutkan perjalanan kearah selatan tepatnya ke arah sukanegara. jalannya sangat jueelekk. hampir berkali-kali bubur yang kami makan pada saat sarapan kembali keluar terdorong oleh goncangan-goncangan jalan yang kasar dengan batu-batu terjal.
ternyata cianjur begitu luas, dan di mobil indra baru menginformasikan bahwa tempat yang kita tuju bukan sekedar di cianjurnya, namun cianjur selatan tepatnya. sekitar 4 jam perjalanan melewati jalan yang sudah digambarkan barusan.
entah mengapa, setelah melewati kawasan sukanegara, jalanannya menjadi sangat halus. rasanya tiga jam melewati bebatuan terjal di bayar oleh jalan mulus dan pemandangan yang sangat menyejukan mata. kanan-kiri lembah subur nan hijau dan basah yang memang dalam kondisi setelah hujan dengan sedikit kabut menyelimuti mata.
mobil melaju diiringi arus sungai mengalir deras yang membawa lumpur coklat dari hulu. beberapa orang terlihat berpapasan dengan motor yang mengangkut kayu-kayu hasil pemotongan pohon yang sepertinya akan digunakan untuk mengeringkan daun-daun teh. karena, beberapa kali kami lewat di tempat penampungan teh, semerbak harum daun teh menelisik rongga hidung yang membuat kami nyaman.
Mobil terhenti di sebuah bangunan bertuliskan "balai desa". kami pun bergegas turun dari elf yang membuat pantat kami tidak berasa lagi karena terlalu lama dunduk dan bergoncang ria.
sembari merapihkan barang bawaan, sebagian orang meluruskan badan dengan berbaring dilantai yang sangat dingin sambil meregangkan badan, termasuk saya, namun tetiba saya mendengar lengkingan suara burung yang dianggap sebagai pertanda orang meninggal. lengkingan itu semakin tinggi dan pilu membuat suasana siang yang teduh menjadi mencekam dan tambah dingin. dan ah.. lag-lago tetiba jantung saya berdegup keras. ah kenapa harus datang disaat seperti ini serangan panik ini, hanya gara-gara mendengar suara burung.
saya pun langsung gelagapan membuka tas dan mengeluarkan semua barang untuk mencari obat yang biasa saya minum, semua pakaian saya keluarkan secara cepat dan berserakan di lantai. "duh dimana sih nih obat" sampai saya merogoh kedalam sela-sela tas.
"mas, cari ini ya?" tepuk seorang perempuan dari belakang
""iya benar, terimakasih dik" jawab saya yang langsung mengambil obat yang ternyata ikut terlempar kebelakang karena berada di antara lipatan pakaian yang saya bawa. saya langsung menenggak obat itu dan mencoba menarik nafas dalam-dalam
"mas gapapa?" tanyanya pelan sambil memperhatikan wajah saya.
"gapapa dik terimakasih,"begitu perasaan saya tenang dan mulai fokus, nampaklah seorang gadis cantik nan mungil yang tadi sepertinya tidak ada di dalam bus elf rombongan KKN. saya sedikit terpana melihatnya dengan senyuman kecil melintasi bibirnya.
"Alhamdulillah kalau gapapa, ayuk masuk, yang lain sudah masuk kak, kak indra nunggu didalam"
"kamu adiknya indra ya?"tanya saya yang langsung menebak karena sekilas mereka memang mirip
"iya, aku myrna"

Tangisnya masih sesenggukan saat ia mengangkat telepon saya. dua mobil polisi nampak parkir didepan rumahnya. secangkir air putih hangat terisi setengah dengan bercak bibir di ujung gelas berdiri didepan meja. aku masih mendengar nada ketakutannya, gemetarnya, dan traumatik mendalam.
"aku ga bisa ngobrol banyak jun, maafin aku" ucapnya pelan.
Untuk saat itu, "tunangannya" annisa, david, datang tepat waktu dan langsung mendobrak pintu saat tidak ada jawaban ketika dia mengetuk berkali-kali. rupanya para penjahat itu pun tidak mau ambil resiko untuk dilihat oleh orang lain yang dalam posisi bebas. mereka langsung ambil langkah seribu meninggalkan rumah ketika david berteriak kepada tetangga sekitar untuk meminta tolong yang seketika membuat warga sekitar berdatangan.
Menangislah annisa tepat di pundak david, orang yang ada saat dia membutuhkannya. bukan saya, entah jika tidak ada david, mungkinsaya sudah tidak bisa berjumpa lagi dengannya. ada bagian pada diri david yang selalu bisa menyesuaikan jadwal dengan kebutuhan annisa, dia semacam punya sensor yang memberitahukan saat-saat tepat annisa membutuhkannya.
ketika saya mendengar cerita semuanya secara lengkap keesokan harinya, ada sedikit rasa kecemburuan, namun lagi-lagi saya harus mengedepankan akal sehat dengan sekali lagi mengucapkan terimakasih kepada david dengan meneleponnya langsung.
****
Tak beberapa lama, akhirnya sebuah kasus terungkap. kasus suap pembangunan wisma atlet dengan operasi tangkap tangan di ruang sesmenpora membuka sedikit tabir tentang titik terang siapa kelompok yang menghabisi ayah annisa. operasi tangkap tangan yang menghebohkan indonesia terjadi di ruang sesmenpora yang melibatkan sesmenpora sendiri, wafid muharam, muhammad el iddris dan mindo rosalina manulang.
berdasarkan data yang ada di dalam flashdisk, bukan kali pertamanya sesmenpora menerima suap, ini sudah kesekian kalinya untuk memuluskan proyek wisma atlet, tidak tanggung-tanggung dalam OTT tersebut KPK mendapatkan 3 lembar cek tunai senilai 3,2 milliar yang bisa segera dicairkan. cek tersebut adalah uang balas jasa yang diberikan muhammad El Iddris kepada sesmenpora.
pengangkapan ini mengguncang seluruh indonesia karena ternyata lagi-lagi, berdasarkan data flashdisk, mentri pemuda dan olahraga saat itu, ikut menikmati dana yang diserahkan langsung oleh bendahara partai mercy itu kepada adiknya yang langsung dijadikan tersangka juga.
Benar-benar gonjang-ganjing yang sangat hebat, apalagi ketika bendahara partai mercy itu ternyata melarikan diri keluar negeri! wah, sudah seperti di film-film.
saya hanya menikmatinya dari layar kaca ketika kejadian itu berlangsung, tersenyum puas karena semua terbayar walaupun nyawa tidak bisa dikembalikan namun setidaknya pengorbanan ayah annisa tidak sia-sia.
entah apa yang dirasakan annisa kala itu, semenjak terakhir kali meneleponnya dan dia bercerita semua tentang penyekapan dirumahnya, saya sudah tidak pernah bisa menghubunginya. beberapa kali saya menelpon tidak pernah dijawab dan hanya dibalas dengan pesan, "nanti saya telepon balik"
Perlahan saya rasakan annisa makin menjauh, jauh, sangat jauh, dan perlahan juga namanya yang telah terpatri di sanubari perlahan terkikis oleh angin kesendirian yang memuncak. serpihan-serpihannya hilang dibawa hari yang berlalu hingga hampir tidak pernah terlintas lagi dipikiran saya tentang senyum manisnya, wajah sendunya dan juga tarian kerinduannya.
****
"wah makin jago ya main pianonya" ucap saya dengan nada menyindir yang langsung masuk pintu kamar dhanin karena penasaran mendengar lantunan piano yang "salah-salah"terus dan mengganggu telinga.
"kakak, apaan sih masuk tiba-tiba" ucap dhanin yang rada kesal melihat kehadiran saya.
"abis, suara pianonya bagus sih, pengen liat siapa sih yang main" ucap saya tetap dengan nada menyindir
"afwan pak juna kalau saya mengganggu, saya rasa permainan saya masih salah-salah dari tadi" ucap valeri sembari menunduk.
"kakak, sana keluar!! ganggu nih!!" ucap dhanin sambil mendorong saya keluar dan langsung menutup pintu "BRAKK!!"
****
saya sering meledeknya, mengiriminya sms tentang sakitnya suara saya mendengarnya memainkan piano. awalnya dia hanya sedikit merespon, namun lama-kelamaan responnya menjadi meriah dengan berbagai emotikon.
Saya pun menanggapinya dengan candaan walau kadang memuji semangatnya untuk berlatih musik. sering saya menyindirnya bahwa musik itu haram berdasarkan paham yang mayoritas di anut oleh jamaah shalahudin. sebenarnya bukan mayoritas lagi, mungkin semuanya dan saya adalah sebuah pengecualian dalam kelompok surga itu.
kadang, saya memberanikan diri untuk meneleponnya sekedar menanyakan apakah pelajaran piano yang diajarkan dhanin ada yang tidak di mengerti. entah mengapa, mungkin karena dia berhijab dan ya hampir mirip dengan annisa, ada sebuah ketertarikan dalam diri saya untuk mendekatinya, bukan untuk mencari pelarian atas cueknya annisa ya. sama sekali bukan. sedikit mungkin
"halah, kutu kupret kamu jun" celetuk anya351 sambil ngupil didepan layar handphonenya
Hari itu masih siang, kebetulan saya tidak ada kuliah dan dhanin kuliah dari pagi. sedang saya memainkan gitar mengutarakan kerinduan kepada kota jakarta dalam sebuah bait lagu ketika tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.
saya pun membuka pintu, ternyata bukan pintu kamar saya yang diketuk, melainkan pintu kamar dhanin oleh valeri yang menjinjing tas yang saya tebak itu keyboard didalamnya.
"eh ri"sapa saya
"eh pak juna," jawabnya
"kamu ngapain?"tanya saya
"mau belajar piano? ngapain lagi?"jawabnya tanpa memandang saya
"dhanin belum pulang sepertinya ada kuliah tambahan" terang saya kepadanya.
"oh yaudah kalau begitu, aku pamit dulu" tukasnya
tetiba suara telepon milik valerie berbunyi dan dia pun mengangkatnya. ternyata itu dari dhanin yang mengabarkan bahwa ia masih ada kelas dan akan terlambat sekitar tiga puluh menit dan meminta valerie menunggu dikamarnya dengan menyuruh saya membukakan pintu kamarnya dengan konci cadangan yang ada di saya.
"kamu mau nunggu, yaudah silahkan menunggu" ucap saya.
"maaf permisi" valerie pun masuk ke kamar dhanin setelah saya membukakan pintu.
tak lama berselang, suara piano mulai melantun melintasi celah-celah dinding dan sampai di membran telinga saya yang langsung direspon oleh otak dengan respon yang tidak enak, hmmm.. salah mulu mainnya, hampir tiap minggu belajar kok ga bisa-bisa sih. sepertinya dia butuh guru yang tepat. ME!
inisiatif tingkat tinggi saya langsung membuka kamar dhanin "STOP!!"
"astagfirullah" ucapnya tersentak kaget, "pak juna, ngagetin, apa-apaan sih!!"
"kamu bisa main ga sih sebenernya?" bentak saya karena memang sangat mengganggu sekali permainannya di telinga saya.
"keluar pak juna!"bentaknya
saya langsung menghampirinya ke dalam dan menyuruhnya bangun dari kursi,"biar saya tunjukan dasar bermain piano, perhatikan jari saya"
saya langsung menghentakan jari saya dan menarikannya di atas papan hitam putih dengan cepat. saat itu saya memainkan karya johan sebastian basch dengan cepat dan mulai memelankannya di akhir. pamer?? ya!! saya pusing denger suaranya salah mulu, ga bisa main!! mengacaukan steman musik di pikiran saya!!
"aku kan belajar pak juna, jangan pamer gitu, namanya orang belajar" balasnya ketus
"coba kamu duduk" ucap saya sambil beranjak dari kursi dan menyuruhnya duduk,"coba kamu mainkan do-re-mi-fa-sol-la-si-do dengan do sama dengan C, aku ingin lihat jari kamu,"
dengan wajah kesal di tekuk, dia duduk di kursi sembari memainkan 7 nada dasar bolak-balik pada tangga nada do sama dengan C. namun, sepertinya saya melihat kesalahan pada letak pembagian jarinya. "coba bangun!" perintah saya.
"ini perhatikan jari saya" dengan memainkan 7 nada dasar " ini aja dulu, berlatih fingering, ga usah ingin memainkan lagu dulu, terus mainkan ini sambil menghapal not balok"
"kakak..!! apaan sih!!" ucap dhanin tiba-tiba dibelakang saya yang sepertinya baru saja tiba, "maaf kak valeri, aku terlambat, kak juna keluar deh!!" ucap dhanin dan langsung mendorong saya keluar pintu dan menutup pintu "BRAKK!!""
sepertinya deja vu
****
Dingin.. brrrr..... hamparan kebun teh yang dari 3 jam yang lalu saya lihat. awalnya betul-betul mempesona, namun lama-lama membosankan juga. dengan kendaraan elf yang diisi 13 orang, saya berangkat ke sebuah desa yang ternyata dekat dari jakarta, cianjur!!.
oh, sebagai seorang yang tinggal dijakarta, ketika indra mengatakan bahwa kami akan KKN yang berlokasi di cianjur, rasanya tidak akan begitu jauh dari kawasan puncak bogor. kami berangkat bersama-sama dari jogja menggunakan kereta dan tiba pagi-pagi buta di jakarta yang langsung menyambung dengan elf yang memang sudah disiapkan indra.
setelah tiba di pusat kota cianjur untuk sarapan terlebih dahulu di sebuah warung bubur ayam, kami melanjutkan perjalanan kearah selatan tepatnya ke arah sukanegara. jalannya sangat jueelekk. hampir berkali-kali bubur yang kami makan pada saat sarapan kembali keluar terdorong oleh goncangan-goncangan jalan yang kasar dengan batu-batu terjal.
ternyata cianjur begitu luas, dan di mobil indra baru menginformasikan bahwa tempat yang kita tuju bukan sekedar di cianjurnya, namun cianjur selatan tepatnya. sekitar 4 jam perjalanan melewati jalan yang sudah digambarkan barusan.
entah mengapa, setelah melewati kawasan sukanegara, jalanannya menjadi sangat halus. rasanya tiga jam melewati bebatuan terjal di bayar oleh jalan mulus dan pemandangan yang sangat menyejukan mata. kanan-kiri lembah subur nan hijau dan basah yang memang dalam kondisi setelah hujan dengan sedikit kabut menyelimuti mata.
mobil melaju diiringi arus sungai mengalir deras yang membawa lumpur coklat dari hulu. beberapa orang terlihat berpapasan dengan motor yang mengangkut kayu-kayu hasil pemotongan pohon yang sepertinya akan digunakan untuk mengeringkan daun-daun teh. karena, beberapa kali kami lewat di tempat penampungan teh, semerbak harum daun teh menelisik rongga hidung yang membuat kami nyaman.
Mobil terhenti di sebuah bangunan bertuliskan "balai desa". kami pun bergegas turun dari elf yang membuat pantat kami tidak berasa lagi karena terlalu lama dunduk dan bergoncang ria.
sembari merapihkan barang bawaan, sebagian orang meluruskan badan dengan berbaring dilantai yang sangat dingin sambil meregangkan badan, termasuk saya, namun tetiba saya mendengar lengkingan suara burung yang dianggap sebagai pertanda orang meninggal. lengkingan itu semakin tinggi dan pilu membuat suasana siang yang teduh menjadi mencekam dan tambah dingin. dan ah.. lag-lago tetiba jantung saya berdegup keras. ah kenapa harus datang disaat seperti ini serangan panik ini, hanya gara-gara mendengar suara burung.
saya pun langsung gelagapan membuka tas dan mengeluarkan semua barang untuk mencari obat yang biasa saya minum, semua pakaian saya keluarkan secara cepat dan berserakan di lantai. "duh dimana sih nih obat" sampai saya merogoh kedalam sela-sela tas.
"mas, cari ini ya?" tepuk seorang perempuan dari belakang
""iya benar, terimakasih dik" jawab saya yang langsung mengambil obat yang ternyata ikut terlempar kebelakang karena berada di antara lipatan pakaian yang saya bawa. saya langsung menenggak obat itu dan mencoba menarik nafas dalam-dalam
"mas gapapa?" tanyanya pelan sambil memperhatikan wajah saya.
"gapapa dik terimakasih,"begitu perasaan saya tenang dan mulai fokus, nampaklah seorang gadis cantik nan mungil yang tadi sepertinya tidak ada di dalam bus elf rombongan KKN. saya sedikit terpana melihatnya dengan senyuman kecil melintasi bibirnya.
"Alhamdulillah kalau gapapa, ayuk masuk, yang lain sudah masuk kak, kak indra nunggu didalam"
"kamu adiknya indra ya?"tanya saya yang langsung menebak karena sekilas mereka memang mirip
"iya, aku myrna"

Diubah oleh natgeas2 29-01-2019 10:42
3
Tutup