- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
105.8K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#457
Padat
Dia hanya terduduk lemas dan tertunduk dengan tangan terikat kabel ties dibelakang. ibunya berkali-kali di berikan gamparan keras oleh seorang bertubuh tegap yang sepertinya tidak pernah punya sosok seorang ibu. diruang tamu rumahnya yang sudah berantakan di obrak-abrik oleh 3 orang yang tiba-tiba masuk menyergap ke dalam dengan membawa masing-masing sebuah senjata api.
Berkali-kali ketiga orang itu berteriak-teriak menanyakan sesuatu tentang flashdisk atau data penyimpanan yang mereka curiga diberikan kepada annsia atau ibunya oleh seseorang yang mereka pegang fotonya.
"Liat Wajah ini baik-baik!! apa kalian ga pernah bertemu pria ini sebelumnya" ucap salah seorang pria gondrong brewok tebal namun berkepala plontos dengan nada keras sambil memegang sebuah foto berukuran HVS yang digambarnya ada seorang pria yang sudah babak belur penuh darah berlumuran diwajahnya.
Annisa tentu tidak akan melupakan wajah pria yang ada di foto itu. walau wajahnya bersimbah darah, dia masih ingat dengan jelas wajah orang yang waktu malam tahun baru itu menghampirinya dan memberikannya sebuah flashdsik berwarna merah yang kini ada di dalam kamarnya tepat di saku jaketnya.
Wajah annisa yang sudah bengap di gampar oleh tiga orang tadi pun tak membuatnya bergeming untuk mengungkap bahwa dia mengenal pria difoto itu dan memegang barang apa yang sedang dicari mereka. sebenarnya ada rasa ingin berontak dan memberitahu ketika melihat ibunya kembali digambar perkali-kali hingga wajahnya membengkak. namun, tekat yang kuat untuk membalas dendam kematian ayahnya membuatnya tetap teguh pada pendirian untuk tidak memberitahukannya.
"kalian ini perempuan, coba lah tolong kasihani kami untuk tidak berbuat kasar pada kalian" ucap seseorang berambut cepak yang dari tadi berdiri di paling belakang dan tidak ikut memukuli annisa dan ibunya.
dua orang yang lain terus mengacak-acak seiisi rumah annisa sambil menendangi kursi dan membuka semua laci yang ada di kamar dan diruang tamu rumah itu. sampai pada satu posisi ada di kamar ibunya, salah seorangnya kemudian keluar membawa sebuah foto keluarga dimana disitu terdapat foto keluarga annisa, ayah, ibu dan seorang laki-laki yang sepertinya lebih tua dari annisa.
"wah..wah..wah... pantes kalian bernyali besar ya" ucap pria tadi sambil memandangi foto keluarga itu,"dan rupanya keberanian santoso menular ke anak perempuannya"
mata annisa langsung menatap tajam ke arah pria itu. matanya penuh dendam menatap dengan tatapan membunuh. tangannya mengepal kencang di belakang sambil berusaha membuka ikatan tangannya yang makin mengencang. kerudungnya yang sudah kusut tak bisa menutupi sorot mata penuh dendam dibalik teduhnya warna gamis panjang coklat.
"kenapa lo liatin gue kaya gitu...pe..rem..pu..an..!" ucap pria yang dipandang annisa sambil menghampirinya seraya mengepalkan tangan dan langsung mengayunkannya tepat ke arah wajah annisa.
"BUAGGHH!!!"
hantaman ayunan keras kepalan itu di halau oleh pria berambut cepak yang dari tadi berdiri dibelakang. dengan cekat dia menahan ayunan pukulan tadi dengan pukulan tangan juga sehingga kepalan mereka saling beradu dan kepalan yang lain terlontar menjauh dari wajah annisa.
"kenapa sih lo?"
"udah cukup lah, mereka perempuan, tugas kita disini cuma cari flashdisk itu"
"tapi menurut bunda putri, kita bebas melakukan apapun yang penting dapet flashdisknya"
"yaudah kalian lanjut cari flashdisknya biar saya yang hadapi perempuan ini"
"kok jadi lo yang sok ngatur, lo bukan bos gue"
mereka saling menatap tajam, sepertinya akan terjadi perkelahian. namun, salah seorang yang lain melerai dan mengajak yang tersulut emosi tadi untuk ke ruang atas ke kamar annisa mencari flashdisk dan memisahkan mereka.
tinggal seorang dibawah, dia mengambil kursi dan langsung duduk di depan annisa "dek, saya minta tolong, beritahu dimana flashdisk itu, saya juga punya ibu, punya kakak perempuan, jadi mohon bantuan dan kerjasamanya"
Tetiba annisa meludah kearah pria itu dua kali, ludahnya tepat mengenai pipinya yang mempuat pria cepak tadi kaget. dia langsung menyeka ludah annisa di wajahnya dengan sapu tangan yang dia ambil dari saku jaket hitamnya. "hufftt..." dia menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala,"yasudah kalau kalian keras kepala, cepat atau lambat flashdisk itu pasti ketemu, dan kalian ga akan bisa berbuat apa-apa"
*****
"masih belum diangkat kak?" tanya dhanin penasaran.
"belum nin, kakak juga bingung nih, kakak harus gmn ya"
"yaudah sabar aja kak, kita nanti ke jogja langsung kerumah om busro" ujar dhanin menenangkan
gak bisa, gak bisa seperti ini. entah sepertinya perasaan ini betul-betul tidak enak. perasaan sangat mengganjal dan cemas. ada apa ini sebenarnya. kok rasanya tidak enak sekali. pasti terjadi sesuatu dengan annisa.
Perasaan itu saya bawa hingga kereta tiba di kota pelajar yang diiringi dengan mentari sore berwarna jingga. cahaya jingga masuk kedalam peron stasiun tugu dimana banyak orang yang sedang menunggu kereta yang masuk berbarengan dari arah berlawanan.
saya menuruni kereta dengan perasaan ragu dan cemas karena masih belum ada tanda-tanda atau kabar apapun dari annisa. gurat cemas diwajah ssaya sepertinya membuat dhanin tidak nyaman sehingga ia terus menanyai saya dan mencoba menenangkan saya.
"kak, langsung aja ya, kita ke tempat pak busro"
"oke nin"
"naik taksi aja ya, itu ada taksi, biar cepet" tunjul dhanin ke arah taksi berlogo burung biru yang sepertinya sudah cukup lama tidak bergerak karena kap atas mobil yang terasa panas saat disentuh.
Taksipun melaju cepan menuju kawasan tegal sari melewati beberapa jalan dua ruas mobil kecil hingga tiba dirumah bernomor VI/113, rumah yang lumayan bagus walau nampak sangat sederhana dan itu tercermin ketika si empunya rumah menyambut kami dengan ramah dan memeluk dhanin yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
seterlah mempersilahkan kami duduk di kursi antik kayu beralaskan busa empuk, mulailah pak busro ini menanyakan kabar ayahnya dhanin dan kegiatan kuliah dhanin sebagai pengantar menunggu teh hangat yang gemerincing adukan sendok berpaut dengan cangkir kaca terdengar dari ruang dibelakang rumah.
Aroma teh hangat melati yang dibawa oleh istri pak busro sedikit membuat saya rileks dan meluruhkan syaraf-syaraf tegang yang sedari tadi berfikir tentang keadaan annisa. setelah dipersilahkan untuk minum, saya pun langsung menyeruput teh tersebut yang rasa manisnya pas dan benar-benar membasahi tenggorokan yang sedari tadi kering karena tegang.
"ngomong-ngomong sore-sore ada tujuan apa kesini, dari jakarta kok langsung mampir seperti terburu-buru" tanya pak busro memulai pertanyaan inti.
"jadi gini om, eh kak juna aja cerita deh" ucap dhanin.
****
Di waktu yang sudah di tentukan, ternyata memang benar, dia menunggunya, wajah yang sudah tidak asing lagi. yang samar saya jumpai malam itu dalam rasa tidak percaya dan sedikit menyangkal. dia pernah ada di hati ini, dalam jiwa ini, jadi separuh nafas yang terbang saat dia pergi meninggalkan saya yang penuh dosa.
Jilbabnya masih sama, wajahnya masih sama, putih dan mungil namun terpancarkan kepintaran dan keanggunan. dia menunggu disamping gerbang masjid bercat putih. melihat saya datang, ia beranjak menuju pelataran masjid yang ditumbuhi rerumputan. disebelah kanan masjid ada sebuah gazebo kecil terlihat seorang anak perempuan berparas rupawan mengenakan jilbab sedang berlari-larian.
anak itu menyampari dia yang sudah menunggu saya sepertinya sejak tadi di cuaca yang mulai mendingin dengan jaket tebalnya. senyumnya kali ini terlihat, tidak seperti saat malam itu dia memberikan secarik kertas yang mengatakan bahwa ia menunggu saya disini, dimasjid ini dan mengatakan saya mempunyai anak perempuan.
saya menghampirinya, mengambil jarak sedikit dan mengucapkan salam
"Salamualaikum"
"alaikumsalam juna"
"aku datang untuk menepati janji" awab saya tanpa menatapnya.
"maaf, dulu aku pergi"
"gapapa, aku yang salah, aku yang mengajak kamu ke dalam dosa yang menghancurkan masa depan kamu yang semestinya cerah" ucap saya dengan rasa sesal.
"engga kok jun, malah kamu membuat aku menjadi wanita yang kuat" jawabnya tegas namun saya merasakan getir pada setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya
"aku sama sekali tidak ada niatan meninggalkanmu, aku mencari mu, tapi kamu menghilang begitu saja" jawab saya yang seakan membenarkan tindakan saya.
"umiiii...." anak kecil tadi berlari ke arahnya sambil berteriak memanggil ibunya yang disambut gendongan ibunya seraya berkata "ini anak kamu, walaupun tidak ada nasab dan kamu tidak berhak menjadi wali-nya, tapi kamu harus tau, didalamnya mengalir darah mu"
air mata saya menetes deras, wajahnya sangat mirip dengan saya, cara jalannya yang agak bungkuk, cara larinya mirip seperti ayahnya yang tidak pernah berolahraga. "bolehkah aku menggendongnya?" tanya saya.
Dia pun memberikan anaknya ke saya, anaknya pun menerima walau agak sedikit takut karena ini pertama kalinya saya bertemu dengannya setelah sekian lama tidak mengetahui keberadaannya bahkan tidak menyangka akan kehadirannya di dunia ini. wajah anak yang mirip dengan saya ini terlihat akan segera menangis karena matanya berkaca-kaca penuh ketakutan melihat saya yang baru pertama kali dijumpainya.
"saya bukanlah seorang ayah yang baik, maafin saya valerie"
"aku juga bukan perempuan baik-baik jun,"
"kamu selama ini kemana saja? kenapa kamu hilang begitu saja dulu"
"aku hamil, aku malu, aku..., aku..."air matanya menangis deras. mulai sesenggukan dengan kata-kaata yang mulai terputus.
"aku kan bersedia bertanggung jawab, aku ga lari dari tanggung jawab dulu ri"
"aku ga bisa jun, menikahi dan menjadi seorang istri dari ayah yang tidak bisa menjadi walinya saat nanti ia dewasa"
saya tertunduk dan terdiam lemas, memang sayalah yang menodainya dan merusak masa depannya. namun sepertinya hanya secara moril, secara materil sepertinya valerie sudah menjadi wanita yang mapan secara finansial.
"apa tujuanmu kesini"
"aku hanya ingin mencari kamu dan mengatakan ini, setelah aku kumpulkan keberanian, aku sama sekali ga meminta apapun dari kamu untuk anak ini, aku hanya ingin kamu tau, kamu punya darah didalam anak ini" ucapnya sesenggukan.
"siapa namanya?","siapa nama kamu ya humairah" tanya saya kepada anak itu.
"ica om,"jawabnya dengan nada menggemaskan
"Lafatunnisa Darwis Susanto" jawab valerie,"aku menambahkan namamu dalam namanya sebagai keterangan nasab.
saya benar-benar terkejut mendengar namanya, dia menunggunakan dua pertiga nama saya untuk anaknya anak saya juga.
"makasih ya ri, udah memberitahukan ini, bahwa aku mempunyai darah yang mengalir di anak perempuan ini","panggil aku ayah ica,"
"om ayah" jawabnya dengan anda makin menggemaskan,"umi, om ayah ya?"
tetiba suara handphone berdering keras dan menggetarkan saku celana saya. saya langsung mengangkatnya karena itu adalah istri saya.
"iya dindaku sayang?"
"alaikum salam kakanda, kamu lagi dimana?"
"dimasjid, ada apa adinda?"
"ternyata aku memang hami, junior akan punya adik," jawabnya dengan nada kegirangan.
****
"flashdisknya ketemu,ada didalam saku jaket dibalik pintu,!!!" ucap pria jenggot yang hampir berkelahi tadi menuruni tangga.
"yaudah ayo kita pergi..."sahut pria cepak yang sedari tadi menunggu dan duduk didepan annisa yang meludahinya. "segera kita bersihkan bukti, tanpa saksi mata tentunya..." ucapnya menyeringai, wajah yang tadi terlihat sedikit membela dan menyayangi perempuan ternyata mendadak berubah menjadi dingin dan penuh tatapan tajam.
sambil mengeluarkan sebuah pistol hitam, dia menodongkannya ke arah kepala ibunya annisa.... wajahnya seperti sudah bersiap melepaskan timah yang ada didalam genggamannya
Dia hanya terduduk lemas dan tertunduk dengan tangan terikat kabel ties dibelakang. ibunya berkali-kali di berikan gamparan keras oleh seorang bertubuh tegap yang sepertinya tidak pernah punya sosok seorang ibu. diruang tamu rumahnya yang sudah berantakan di obrak-abrik oleh 3 orang yang tiba-tiba masuk menyergap ke dalam dengan membawa masing-masing sebuah senjata api.
Berkali-kali ketiga orang itu berteriak-teriak menanyakan sesuatu tentang flashdisk atau data penyimpanan yang mereka curiga diberikan kepada annsia atau ibunya oleh seseorang yang mereka pegang fotonya.
"Liat Wajah ini baik-baik!! apa kalian ga pernah bertemu pria ini sebelumnya" ucap salah seorang pria gondrong brewok tebal namun berkepala plontos dengan nada keras sambil memegang sebuah foto berukuran HVS yang digambarnya ada seorang pria yang sudah babak belur penuh darah berlumuran diwajahnya.
Annisa tentu tidak akan melupakan wajah pria yang ada di foto itu. walau wajahnya bersimbah darah, dia masih ingat dengan jelas wajah orang yang waktu malam tahun baru itu menghampirinya dan memberikannya sebuah flashdsik berwarna merah yang kini ada di dalam kamarnya tepat di saku jaketnya.
Wajah annisa yang sudah bengap di gampar oleh tiga orang tadi pun tak membuatnya bergeming untuk mengungkap bahwa dia mengenal pria difoto itu dan memegang barang apa yang sedang dicari mereka. sebenarnya ada rasa ingin berontak dan memberitahu ketika melihat ibunya kembali digambar perkali-kali hingga wajahnya membengkak. namun, tekat yang kuat untuk membalas dendam kematian ayahnya membuatnya tetap teguh pada pendirian untuk tidak memberitahukannya.
"kalian ini perempuan, coba lah tolong kasihani kami untuk tidak berbuat kasar pada kalian" ucap seseorang berambut cepak yang dari tadi berdiri di paling belakang dan tidak ikut memukuli annisa dan ibunya.
dua orang yang lain terus mengacak-acak seiisi rumah annisa sambil menendangi kursi dan membuka semua laci yang ada di kamar dan diruang tamu rumah itu. sampai pada satu posisi ada di kamar ibunya, salah seorangnya kemudian keluar membawa sebuah foto keluarga dimana disitu terdapat foto keluarga annisa, ayah, ibu dan seorang laki-laki yang sepertinya lebih tua dari annisa.
"wah..wah..wah... pantes kalian bernyali besar ya" ucap pria tadi sambil memandangi foto keluarga itu,"dan rupanya keberanian santoso menular ke anak perempuannya"
mata annisa langsung menatap tajam ke arah pria itu. matanya penuh dendam menatap dengan tatapan membunuh. tangannya mengepal kencang di belakang sambil berusaha membuka ikatan tangannya yang makin mengencang. kerudungnya yang sudah kusut tak bisa menutupi sorot mata penuh dendam dibalik teduhnya warna gamis panjang coklat.
"kenapa lo liatin gue kaya gitu...pe..rem..pu..an..!" ucap pria yang dipandang annisa sambil menghampirinya seraya mengepalkan tangan dan langsung mengayunkannya tepat ke arah wajah annisa.
"BUAGGHH!!!"
hantaman ayunan keras kepalan itu di halau oleh pria berambut cepak yang dari tadi berdiri dibelakang. dengan cekat dia menahan ayunan pukulan tadi dengan pukulan tangan juga sehingga kepalan mereka saling beradu dan kepalan yang lain terlontar menjauh dari wajah annisa.
"kenapa sih lo?"
"udah cukup lah, mereka perempuan, tugas kita disini cuma cari flashdisk itu"
"tapi menurut bunda putri, kita bebas melakukan apapun yang penting dapet flashdisknya"
"yaudah kalian lanjut cari flashdisknya biar saya yang hadapi perempuan ini"
"kok jadi lo yang sok ngatur, lo bukan bos gue"
mereka saling menatap tajam, sepertinya akan terjadi perkelahian. namun, salah seorang yang lain melerai dan mengajak yang tersulut emosi tadi untuk ke ruang atas ke kamar annisa mencari flashdisk dan memisahkan mereka.
tinggal seorang dibawah, dia mengambil kursi dan langsung duduk di depan annisa "dek, saya minta tolong, beritahu dimana flashdisk itu, saya juga punya ibu, punya kakak perempuan, jadi mohon bantuan dan kerjasamanya"
Tetiba annisa meludah kearah pria itu dua kali, ludahnya tepat mengenai pipinya yang mempuat pria cepak tadi kaget. dia langsung menyeka ludah annisa di wajahnya dengan sapu tangan yang dia ambil dari saku jaket hitamnya. "hufftt..." dia menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala,"yasudah kalau kalian keras kepala, cepat atau lambat flashdisk itu pasti ketemu, dan kalian ga akan bisa berbuat apa-apa"
*****
"masih belum diangkat kak?" tanya dhanin penasaran.
"belum nin, kakak juga bingung nih, kakak harus gmn ya"
"yaudah sabar aja kak, kita nanti ke jogja langsung kerumah om busro" ujar dhanin menenangkan
gak bisa, gak bisa seperti ini. entah sepertinya perasaan ini betul-betul tidak enak. perasaan sangat mengganjal dan cemas. ada apa ini sebenarnya. kok rasanya tidak enak sekali. pasti terjadi sesuatu dengan annisa.
Perasaan itu saya bawa hingga kereta tiba di kota pelajar yang diiringi dengan mentari sore berwarna jingga. cahaya jingga masuk kedalam peron stasiun tugu dimana banyak orang yang sedang menunggu kereta yang masuk berbarengan dari arah berlawanan.
saya menuruni kereta dengan perasaan ragu dan cemas karena masih belum ada tanda-tanda atau kabar apapun dari annisa. gurat cemas diwajah ssaya sepertinya membuat dhanin tidak nyaman sehingga ia terus menanyai saya dan mencoba menenangkan saya.
"kak, langsung aja ya, kita ke tempat pak busro"
"oke nin"
"naik taksi aja ya, itu ada taksi, biar cepet" tunjul dhanin ke arah taksi berlogo burung biru yang sepertinya sudah cukup lama tidak bergerak karena kap atas mobil yang terasa panas saat disentuh.
Taksipun melaju cepan menuju kawasan tegal sari melewati beberapa jalan dua ruas mobil kecil hingga tiba dirumah bernomor VI/113, rumah yang lumayan bagus walau nampak sangat sederhana dan itu tercermin ketika si empunya rumah menyambut kami dengan ramah dan memeluk dhanin yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
seterlah mempersilahkan kami duduk di kursi antik kayu beralaskan busa empuk, mulailah pak busro ini menanyakan kabar ayahnya dhanin dan kegiatan kuliah dhanin sebagai pengantar menunggu teh hangat yang gemerincing adukan sendok berpaut dengan cangkir kaca terdengar dari ruang dibelakang rumah.
Aroma teh hangat melati yang dibawa oleh istri pak busro sedikit membuat saya rileks dan meluruhkan syaraf-syaraf tegang yang sedari tadi berfikir tentang keadaan annisa. setelah dipersilahkan untuk minum, saya pun langsung menyeruput teh tersebut yang rasa manisnya pas dan benar-benar membasahi tenggorokan yang sedari tadi kering karena tegang.
"ngomong-ngomong sore-sore ada tujuan apa kesini, dari jakarta kok langsung mampir seperti terburu-buru" tanya pak busro memulai pertanyaan inti.
"jadi gini om, eh kak juna aja cerita deh" ucap dhanin.
****
Di waktu yang sudah di tentukan, ternyata memang benar, dia menunggunya, wajah yang sudah tidak asing lagi. yang samar saya jumpai malam itu dalam rasa tidak percaya dan sedikit menyangkal. dia pernah ada di hati ini, dalam jiwa ini, jadi separuh nafas yang terbang saat dia pergi meninggalkan saya yang penuh dosa.
Jilbabnya masih sama, wajahnya masih sama, putih dan mungil namun terpancarkan kepintaran dan keanggunan. dia menunggu disamping gerbang masjid bercat putih. melihat saya datang, ia beranjak menuju pelataran masjid yang ditumbuhi rerumputan. disebelah kanan masjid ada sebuah gazebo kecil terlihat seorang anak perempuan berparas rupawan mengenakan jilbab sedang berlari-larian.
anak itu menyampari dia yang sudah menunggu saya sepertinya sejak tadi di cuaca yang mulai mendingin dengan jaket tebalnya. senyumnya kali ini terlihat, tidak seperti saat malam itu dia memberikan secarik kertas yang mengatakan bahwa ia menunggu saya disini, dimasjid ini dan mengatakan saya mempunyai anak perempuan.
saya menghampirinya, mengambil jarak sedikit dan mengucapkan salam
"Salamualaikum"
"alaikumsalam juna"
"aku datang untuk menepati janji" awab saya tanpa menatapnya.
"maaf, dulu aku pergi"
"gapapa, aku yang salah, aku yang mengajak kamu ke dalam dosa yang menghancurkan masa depan kamu yang semestinya cerah" ucap saya dengan rasa sesal.
"engga kok jun, malah kamu membuat aku menjadi wanita yang kuat" jawabnya tegas namun saya merasakan getir pada setiap kata-kata yang terucap dari bibirnya
"aku sama sekali tidak ada niatan meninggalkanmu, aku mencari mu, tapi kamu menghilang begitu saja" jawab saya yang seakan membenarkan tindakan saya.
"umiiii...." anak kecil tadi berlari ke arahnya sambil berteriak memanggil ibunya yang disambut gendongan ibunya seraya berkata "ini anak kamu, walaupun tidak ada nasab dan kamu tidak berhak menjadi wali-nya, tapi kamu harus tau, didalamnya mengalir darah mu"
air mata saya menetes deras, wajahnya sangat mirip dengan saya, cara jalannya yang agak bungkuk, cara larinya mirip seperti ayahnya yang tidak pernah berolahraga. "bolehkah aku menggendongnya?" tanya saya.
Dia pun memberikan anaknya ke saya, anaknya pun menerima walau agak sedikit takut karena ini pertama kalinya saya bertemu dengannya setelah sekian lama tidak mengetahui keberadaannya bahkan tidak menyangka akan kehadirannya di dunia ini. wajah anak yang mirip dengan saya ini terlihat akan segera menangis karena matanya berkaca-kaca penuh ketakutan melihat saya yang baru pertama kali dijumpainya.
"saya bukanlah seorang ayah yang baik, maafin saya valerie"
"aku juga bukan perempuan baik-baik jun,"
"kamu selama ini kemana saja? kenapa kamu hilang begitu saja dulu"
"aku hamil, aku malu, aku..., aku..."air matanya menangis deras. mulai sesenggukan dengan kata-kaata yang mulai terputus.
"aku kan bersedia bertanggung jawab, aku ga lari dari tanggung jawab dulu ri"
"aku ga bisa jun, menikahi dan menjadi seorang istri dari ayah yang tidak bisa menjadi walinya saat nanti ia dewasa"
saya tertunduk dan terdiam lemas, memang sayalah yang menodainya dan merusak masa depannya. namun sepertinya hanya secara moril, secara materil sepertinya valerie sudah menjadi wanita yang mapan secara finansial.
"apa tujuanmu kesini"
"aku hanya ingin mencari kamu dan mengatakan ini, setelah aku kumpulkan keberanian, aku sama sekali ga meminta apapun dari kamu untuk anak ini, aku hanya ingin kamu tau, kamu punya darah didalam anak ini" ucapnya sesenggukan.
"siapa namanya?","siapa nama kamu ya humairah" tanya saya kepada anak itu.
"ica om,"jawabnya dengan nada menggemaskan
"Lafatunnisa Darwis Susanto" jawab valerie,"aku menambahkan namamu dalam namanya sebagai keterangan nasab.
saya benar-benar terkejut mendengar namanya, dia menunggunakan dua pertiga nama saya untuk anaknya anak saya juga.
"makasih ya ri, udah memberitahukan ini, bahwa aku mempunyai darah yang mengalir di anak perempuan ini","panggil aku ayah ica,"
"om ayah" jawabnya dengan anda makin menggemaskan,"umi, om ayah ya?"
tetiba suara handphone berdering keras dan menggetarkan saku celana saya. saya langsung mengangkatnya karena itu adalah istri saya.
"iya dindaku sayang?"
"alaikum salam kakanda, kamu lagi dimana?"
"dimasjid, ada apa adinda?"
"ternyata aku memang hami, junior akan punya adik," jawabnya dengan nada kegirangan.
****
"flashdisknya ketemu,ada didalam saku jaket dibalik pintu,!!!" ucap pria jenggot yang hampir berkelahi tadi menuruni tangga.
"yaudah ayo kita pergi..."sahut pria cepak yang sedari tadi menunggu dan duduk didepan annisa yang meludahinya. "segera kita bersihkan bukti, tanpa saksi mata tentunya..." ucapnya menyeringai, wajah yang tadi terlihat sedikit membela dan menyayangi perempuan ternyata mendadak berubah menjadi dingin dan penuh tatapan tajam.
sambil mengeluarkan sebuah pistol hitam, dia menodongkannya ke arah kepala ibunya annisa.... wajahnya seperti sudah bersiap melepaskan timah yang ada didalam genggamannya
4