- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
162.1K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#106
Chapter 21
Spoiler for Entitas:
Dahulu kala hiduplah raja di raja, raja manusia yang paling kaya di dunia yang telah diberikan mukjizat yang tak terkira oleh sang pencipta, di bawah naungannya ribuan jin dan hewan tunduk pada kehendaknya, bahkan angin mengikuti perintahnya.
Hingga...
Pada suatu hari, salah satu jin kepercayaannya mencoba membelot pada sang raja, merasa paling sempurna diantara para jin ia mencuri cincin milik sang raja dan kemudian menjelma menjadi sang raja dan berkuasa semaunya.
Akan tetapi takdir berkata lain ibarat pepatah sepintar-pintarnya tupai melompat pasti jatuh juga, kekuatan cincin tersebut terlalu besar bagi sang jin dan pada akhirnya tipu muslihat sang jin terbongkar kemudian sang raja di raja kembali pada singgasananya, dikala itu sang raja sangatlah murka dan pada akhirnya memberikan hukuman pada sang jin penghianat tersebut, hukuman yang teramat rendah bagi kaum jin.
Yaitu...
Naura berdiri di ambang pintu tersebut, terpana dengan sesosok pemuda berkalung ular naga hitam di lehernya, Naura sedikit bergidik melihat binatang yang melingkari leher Senja, naga layaknya ular dengan sisik hitam dengan dua tanduk mencuat dari tulang kepalanya yang tengah tertidur kala itu.
"Ayo masuk," ajak Senja ke Naura yang tengah terdiam melihat mahluk di depannya.
"I-itu apa?" tanya Naura sembari menunjuk ke arah depan, sesosok mahluk raksasa tengah terikat di tengah ruangan.
"Sang entitas," jelas Senja.
"Entitas!?"
"Ra, kamu tau kisah nabi sulaiman?" tanya Senja.
"Iya tau, kisah nabi Sulaiman yang memindahkan singgasana ratu Bilqis dalam sekejap mata, iya kan?" tanya Naura ragu.
"Iya benar, kamu tengah menatap sosok yang menjadi saksi hidup kejadian tersebut setidaknya sampai ia melakukan hal bodoh," jawab Kusni.
"Yang terikat di depan mu sekarang adalah Ifrit," tambah Senja.
"If-ifrit di-dia Ifrit!"
"Tidak usah takut dia sudah aku segel dengan seluruh kekuatan yang aku miliki," jelas Senja.
"Ta-tapi bagaimana bisa? Itu kan ribuan tahun yang lalu! Bagaimana dia masih bisa hidup?"
"Dia keturunan iblis Ra, sudah barang tentu umurnya panjang, nenek dari Senja memanggil dia dengan ritual terlarang agar memuluskan rencana jahatnya." seru Kusni sembari mengecek segel yang mengikat Ifrit.
"Sepertinya dia tertidur? Apa yang terjadi jika segel ini lepas?" tanya Naura penasaran.
Tiba-tiba suara berat yang amat menakutkan terdengar dari arah depan Naura, "Aku akan membunuh semua orang yang berada di sini dalam sekejap mata!! MUAAhahaha!!"
Naura tercekat, ia segera berlindung di belakang punggung bidang Senja, saat tiba-tiba sang Ifrit tengah berbicara pada Naura.
"Tidak perlu cemas Ra, dia tidak berdaya di sini," seru Senja menenangkan Naura.
"Muahahahaha!!! Gadis yang manis, pintar juga kau mencari tumbal untuk ku Senja, lepaskan segel ini dan biarkan aku mencicipi tubuh sucinya, MUAhahahaha!!"
"Cih, teruslah bermimpi, dasar jin laknat!" seru Senja terbakar api amarah.
"Sudah Senja jangan dengarkan dia, kekuatanmu terlalu berharga untuk meladeni dirinya."
"Hohohoho … ku kira siapa ternyata kau Kusni … dasar tua bangka sudah lama engkau tidak berkunjung menemuiku, umurmu panjang juga ternyata, biarkan aku membunuhmu agar engkau dapat menemui anakmu di alam sana, MUAHahahahahaha!!"
-BUGH-
Sebuah pukulan telak mendarat di perut sang Ifrit, "ARGH! Sial kau Senja!!" geram Ifrit.
"Dengan kondisi seperti ini engkau masih bisa sombong. Cih, sifat dari ayahmu menurun pada dirimu."
"Jangan engkau samakan aku dengan tua bangka keparat itu!! Yang membiarkan anaknya Hhhmmmph!!"
Mulut Ifrit terbungkam oleh jeratan energi hitam yang menahan sang Ifrit sedangkan Senja terdiam menatap rona wajah Kusni yang berubah menjadi sendu kala itu karena teringat almarhum anaknya.
"Pak ..."
"Sudah, tidak apa-apa, babeh keluar duluan dari tubuhmu," serunya pelan dan dalam sekejap tubuh Kusni membias seperti ribuan kunang-kunang keluar dari ruang jiwa Senja.
"Pak Kusni kenapa mas?"
"Dia teringat lagi dengan almarhum anak semata wayangnya."
"Anak pak Kusni sudah meninggal?!!"
Senja mengangguk lemah kearah Naura seraya berkata, "kamu pasti bertanya-tanya ini apa kan?" tanya Senja sembari menunjuk naga yang mengalung di lehernya.
Naura mengangguk seraya sedikit bergidik menatap binatang yang mengalung di leher Senja.
"Namanya Zil, dia qorin punya aku," terang Senja.
"Qorin? Qorin itu apa mas?" tanya Naura penasaran.
"Qorin itu adalah bagian jiwa di dalam tubuh manusia, bisa di bilang dia adalah kembaran jiwa di dalam tubuh ini" jelas Senja kembali.
"Enngh, aku masih belum faham, jadi maksud mas selama ini di dalam tubuh kita sudah ada kembarannya?" tanya Naura kembali semakin kebingungan.
"Hhe, akan mas jelaskan dengan lebih singkat agar kamu mengerti."
Naura menggangguk sembari tersenyum manis mendengar perkataan Senja.
"Mas mau tanya sama kamu, manusia terdiri dari apa?"
"Emmh, daging, darah, tulang …"
"Maksud aku dibuat sama tuhan dari apa?"
"Oh, segumpal tanah."
"Lalu?"
"Ditiupkan ruh."
"Dan yang membuatnya sempurna apa?"
"Diberi akal … tunggu sebentar!! Apa maksud kamu qorin itu akal kita?"
"Allahu alam Ra, itu rahasia Allah, yang mas tau saat kita mati tubuh kita kembali menjadi tanah, ruh kita menuju akhirat dan akal kita tinggal di bumi," seru Senja.
"Engh …"
"Jawaban yang paling logis adalah qorin menetap di dunia ini sampai waktu yang mas juga tidak tahu, itu juga masih perkiraan mas saja, selebihnya rahasia Allah," terang Senja.
"Hmhmhmhmhm," kekeh tertahan Ifrit yang mendengarkan kata-kata Senja.
"Jangan hiraukan dia, Oh iya, sudah saatnya kamu keluar dari tubuhku Ra."
"Eh iya sampai lupa, bagaimana cara aku keluar dari sini?"
"Pusatkan saja fikiran dan energi kamu, nanti aku akan membimbing keluar dari sini."
Naura mulai memejamkan kedua kelopak matanya dan perlahan sebuah telapak tangan mengusap pucuk kepalanya, rasa hangat menjalar dari atas kepala Naura dan tiba-tiba.
"Hei," panggil Senja.
"Huh?!"
"Buka mata kamu."
Naura membuka matanya perlahan, ia sudah berada kembali di ruang tamu rumah pak Kusni, disana tengah duduk Senja dan pak Kusni dan juga istrinya menyambut Naura yang sudah sadar.
"Yuk pulang," ajak Senja.
Akhirnya Naura dan Senja pamit ke pak Kusni dan ibu Juleha.
"Hati-hati di jalan ya nak, kalau ada apa-apa jangan sungkan telepon babeh dan jangan keluyuran terlalu malam," seru babeh Kusni.
"Iya beh, assalamualaikum." balas Senja dan Naura bersamaan.
"Waalaikumsalam."
Naura dan Senja perlahan meninggalkan rumah Kusni, di perjalanan Naura yang berjalan di belakang Senja menatap punggung lelaki itu.
"Tidak aku sangka beban yang kamu tanggung sebesar ini Senja …" seru Naura dalam hati.
"Seberapapun besar bebanku kalau ada kamu disisiku aku sanggup kok Ra," balas Senja lewat telepati langsung menuju ke dalam fikiran Naura.
Wajah Naura merah padam, ia lupa menutup tirai fikiran yang selalu menutup isi hatinya dari pembaca fikiran seperti Senja.
"Habis ini mau ikut mas?" tanya Senja memecah kecanggungan diantara mereka.
"Kemana?" tanya Naura.
"Kencan pertama kita."
Bersambung.
simounlebon dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas