- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#948
Quote:
PART 69
Medina dan sang ibu melangkah pelan memasuki ruang ICCU yang di huni oleh sang ayah. Entah perasaan Medina saja atau memang suhu di ruangan ini sangat dingin.
Monitor pendeteksi detak jantung, berbunyi teratur mendominasi ruangan beraroma obat – obatan ini.
Nafas Medina kian tercekat mendapati ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit lengkap dengan infus dan peralatan lain yang entah apa namanya menempel di tubuhnya.
Ayahnya yang selama ini terlihat sangat sehat, dalam sekejap menjadi terlihat tak berdaya dengan sakitnya.
Mama mengelus pundak Medina, memberi kode untuk berjalan lebih dekat pada ayahnya. Medina menurut sambil menyeka air matanya yang telah lebih dulu menetes tanpa bisa ia kendalikan.
Ia melangkah lebih dekat ke arah sang ayah dan kemudian menggenggam tangan kokoh itu dengan tatapan pilu. Ia sedih melihat ayahnya seperti ini, tapi ia lebih sedih lagi jika benar kakaknya yang menyebabkan semua ini.
Adam tak mungkin melakukan hal bodoh yang bisa membahayakan nyawa ayahnya. Tapi…cerita mbak Ningrum juga tak bisa ia abaikan begitu saja.
----------
“ Sejujurnya saya tidak ingin meengatakan ini, tapi ini semua terjadi emang karena Adam. Saya juga tidak mengerti bagaimana dia mengenal pimpinan perusahaan yang mengambil alih semua aset perusahaan papa kamu itu.”
“ NGGAK!! Kak Adam nggak mungkin ngelakuin itu. Gue kenal dia dari kecil. Dan dia nggak akan sejahat itu.” Medina masih tak mempercayai ucapan Ningrum .
“ Medina…buka mata kamu. Kamu pikir saya tidak terkejut dengan ini semua? Saya juga sama tidak menyangkanya. Yang saya tahu Adam itu orang baik. Tapi kebaikan itu bisa saja berubah karena kebencian yang mengakar kuat di hati kakak kamu.”
“ Nggak. Lo pasti bohong.”
Ningrum merogoh tasnya, mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di sana,“ Ini…ini kamu lihat. Dia adalah presdir dari perusahaan itu, dan kamu lihat Adam terlihat begitu akrab dengannya.Untuk ukuran orang yang baru mengenal, ini aneh.”
Ningrum asyik meenyodorkan handphonenya pada Medina, tapi gadis itu memilih membuang muka, melihat ke luar jendela mobil. Hujan dan jalan yang penuh sesak menjadi fokusnya kali ini.
Ia menolak permintaan Ningrum. Ia masih yakin kakaknya tidak akan selicik itu. Ia berharap agar mereka bisa secepatnya tiba di rumah sakit supaya Ningrum menghentikan ocehan konyolnya.
Teguran sang ibu mengalihkan perhatian Medina, ibunya memberi anggukan kecil sambil menggenggam erat tangannya, seakan memberi kode padanya untuk menuruti keinginan Ningrum.
Medina memilih menurut, ia tak ingin berdebat dengan ibunya. Kondisi sang ayah sudah membuat wanita itu terpuruk, ia tak ingin kepala batunya kian memperburuk keadaan. Medina hanya melihat sekilas foto seorang pria botak yang sedang berada di lobby kantor besar, dari foto itu terlihat Adam menyerahkan beberapa map. Medina tak peduli apa isi map itu tapi kenapa Adam terlihat begitu patuh pada pria itu.
Tidak mungkinkan apa yang di katakan Ningrum itu benar. Iya tentu tidak…kakaknya bukan orang seperti itu.
Kedua bola mata Medina kembali memanas. Ia dengan cepat mengembalikan ponsel Ningrum dan kembali fokus menatap keluar jendela.
“ Foto itu tidak membuktikan apapun.” Ucap Medina dengan nada tegas.
“ Medina…,” mama kembali menggenggam erat jemari Medina, tapi Medina masih enggan menoleh – “ Mama tahu sulit buat kamu untuk percaya. Mama juga begitu sayang. Tapi…kita juga tidak bisa menutup mata setelah melihat apa yang terjadi pada papa kamu sekarang.”
“ Mama percaya dengan perkataan perempuan itu?” tanya Medina masih enggan mengalihkan pandangannya. Ia asyik memandangi setiap tetes hujan yang jatuh dan menjejaki setiap inci jendela kaca mobil. Tidak sopan memang, tapi ia tak ingin ibunya tahu jika ia sedang menangis sekarang.
“ Kamu boleh tidak percaya dengan apa yang saya katakan, tapi kamu juga harus ingat kakak kamu punya alasan kuat untuk melakukan itu.”
Ningrum kembali membuka suara.
Medina menggigit bibir bagian dalamnya, menahan tangisnya agar tidak semakin menjadi tangan kanannya terkepal erat. Bingung sekaligus marah, siapa yang harus ia percaya.
Kak Adam…kenapa? Kenapa harus seperti ini?
***
Hujan deras di luar sedikit menahan perjalanan Adam menuju bandara. Supir taxi yang ia tumpangi tak mau mengambil resiko melaju di atas rata – rata dengan kondisi jalanan yang licin. Di tambah lagi hujan deras juga menghalangi jarak pandang para pengemudi. Jika tetap memaksa mengebut, sama saja mengantar nyawa itu namanya.
Adam hanya bisa pasrah, lagipula melihat cuaca yang seperti ini penerbangan pasti akan delay hingga dua atau tiga jam.
“ Waduh…bakal telat ini kita nyampenya mas. Saya nggak berani ngebut ini,” suara supir taxi berkumis lebat itu memecah konsentrasi Adam yang sedang asyik membaca buku.
“ Nggak apa – apa, pak. Nyetirnya santai saja. Lagian kayaknya pesawat saya bakalan delay juga.” Jawaban Adam meembuat supir taxi memamerkan senyum lega. Ia beruntung hari ini tidak bertemu dengan penumpang cerewet.
Tatapan Adam kembali beralih pada tante Fika yang duduk persis di sebelahnya. Dahi Adam mengernyit, ibu tirinya terlihat begitu gelisah. Bahkan jika Adam tidak salah ingat wanita itu terlihat tidak tenang sejak dari berangkat tadi.
“ Ma…mama kenapa?” tanya Adam sembari menutup buku yang ia baca.
“ Adam…kamu yakin tidak ingin menemui Medina dan orang tua kamu lebih dulu? Kamu di sana bukan satu atau dua tahun, nak.” Wajah cemas tante Fika terlihat begitu jelas saat ini.
“ Kasihan adik kamu, lagian Echa juga bilangkan kalau dia butuh kamu. Dan papa kamu, walau dia tidak mengatakan apapun, tante yakin dia mau kamu pulang dan berkumpul dengan mereka.”
Adam menghela nafas panjang, ternyata masih saja itu yang di cemaskan ibu tirinya ini.” Aku pasti pulang, Ma. Tapi nggak sekarang, aku akan kejar mimpi aku, demi mereka.”
“ … “
“ Untuk sementara ini, mereka nggak perlu tahu aku ada dimana. Aku mohon mama jangan bahas ini lagi. Jawaban aku tetap sama.”
“ Tapi, Dam…,”
“ Ma…please…”
Tante Fika menghela nafas panjang, sembari menyenderkan punggungnya di badan kursi mobil, tatapannya lurus memandangi keluar jendela, “ Mama Cuma nggak mau kamu pergi dengan tetap membawa kebencian itu Adam.”
Kali ini Adam memilih diam, jika boleh jujur kebencian itu memang belum sepenuhnya hilang. Tapi pergi tanpa pamit seperti ini terlebih karena ia marah dengan dirinya sendiri. Dan itu betul – betul menyiksa. Ia butuh waktu lebih banyak untuk memaafkan dirinya. Ia butuh waktu lebih banyak untuk memperbaiki kesalahannya yang ia yakini telah membuat orang tuanya kecewa.
Lamunan Adam buyar lantaran tiba – tiba ponselnya Cumiik nyaring dari balik saku hoodie yang ia kenakan. Adam merogoh saku, melihat siapa yang menelepon. Pak Wahyu.
“ Hallo pak…Assalammualaikum!!”
“ … “
“ Iya…ini aku lagi dijalan mau ke airport. Ada apa pak?”
“ …”
Adam diam tangannya terlihat sedikit bergetar, matanya melotot kaget. Tak percaya dengan berita yang baru saja ia dapat dari pak Wahyu. Tante Fika yang tadinya tak peduli, seketika cemas melihat perubahan ekspresi yang di tunjukkan Adam.
“ Ada apa, Adam?” tanya Tante Fika yang justru terabaikan karena Adam justru lebih sibuk dengan supir taxi.
“ Pak putar balik, kita ke rumah sakit Medika Harapan sekarang!!” pinta Adam buru – buru. Setelahnya ia menghempaskan tubuhnya ke badan kursi sembari terus memijat area pelipisnya. Ia terlihat begitu cemas. Sangat cemas.
“ Adam…ada apa?” tanya Tante Fika lagi dengan wajah yang semakin menunjukkan kekhawatirannya.
“ Papa Ma, papa kena serangan jantung. Dan kondisinya sedang kritis sekarang. “ Suara Adam terdengar bergetar, ia sedang berusaha menahan tangisnya.
Tante Fika juga sama cemasnya, tapi ia memilih tidak memperlihatkan itu. Karena Adam juga butuh di tenangkan. Dan itu tidak akan bisa ia lakukan jika ia turut menunjukkan kecemasannya.
Tante Fika membiarkan Adam larut dalam tangisannya sendiri, ia hanya mengusap pundak Adam, berharap itu bisa sedikit memberi ketenangan pada Adam.
“ Ini semua salah aku, Ma. Salah aku.”
●●●
1
Kutip
Balas