- Beranda
- Stories from the Heart
CloudLove (TeenFiction)
...
TS
ayahnyabinbun
CloudLove (TeenFiction)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua beranak dua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis tentang cinta.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus aja ya.
Ini cerita kedua ayahBinBun, sempat dilirik penerbit indie … namun, yah gitulah, hanya berujung PHP, daripada galau enggak jelas mending ayahBinBun gelar disini, enggak usah lama-lama mending langsung aja dibaca.
Spoiler for Index:
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
[URL=]
CHAPTER 6
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 7
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 8
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 9
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 10
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 11
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 12
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 13
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 14
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 15
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 16
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 17
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 18
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 19
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 20
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 21
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 22
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 23
[/URL]
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
Spoiler for prolog:
Hari senin di SMA Sinar jaya para murid mulai bersiap melakukan upacara pagi, di luar gerbang riuh anak murid yang terlambat datang.
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
Diubah oleh ayahnyabinbun 13-05-2019 21:02
iamzero dan 8 lainnya memberi reputasi
9
15.3K
Kutip
131
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#5
Chapter 4
Spoiler for Tas merah muda:
"Menjadi budakmu adalah suatu kesempatan yang langka untuk menjadikanku milikmu."
Pagi ini sedikit mendung dan bulir air hujan gerimis menemani sang awan di langit, Renvil berjalan sambil menenteng payung berwarna biru muda bergambar tokoh Doraemon di atasnya, jarak antara jalan raya dan sekolahnya cukup jauh karena sekolahnya berada di dalam komplek, tidak seperti lelaki lain yang menaiki motor yang di mintakan dengan cara merengek-rengek ke orang tua mereka, Renvil lebih bersyukur memiliki payung yang di belinya dengan uang sendiri ketika ia ada di acara jejepangan bersama Udin di suatu mall, ia mendapat diskon 50% karena penjualnya mengira ia cosplayer Nobita dan Udin cosplayer Suneo.
Jalanan lengang kala itu, didepan Renvil seorang gadis memakai tas merah muda berjalan pelan di terpa bulir air hujan, Renvil mempercepat langkahnya hingga ia sejajar dengan sang gadis tersebut ia kemudian memayunginya tanpa meminta izin kepada sang gadis, sang gadis menatap Renvil lalu berkata, "t-terima kasih," jawabnya dengan pelan.
Renvil hanya mengangguk sambil tersenyum menatap gadis manis itu, mereka berjalan beriringan tanpa ada satu katapun terucap dari bibir mereka masing-masing, sebenarnya Renvil sangat malu melakukan hal ini, akan tetapi setiap ada wanita kesusahan ia jadi teringat ibunya, lagipula bagi Renvil tidak perlu izin untuk membantu sesama manusia.
Sedangkan sang gadis hanya terdiam membisu, ia mengutuk dirinya sendiri karena lupa memasukkan payung lipat tadi pagi ke dalam tas sehingga ia harus di payungi lelaki di sebelahnya.
"Kamu kelas berapa?" tanya renvil memecah keheningan.
"Ke-kelas 1-b," jawab gadis itu singkat.
"Oh, kita seangkatan ternyata," jawab singkat Renvil.
"I-iya," jawab sang gadis.
Suasanapun kembali hening, bunyi rintik gerimis terdengar jelas jatuh di payung Renvil.
"Nama kamu siapa?" tanya Renvil lagi memecah kecanggungan mereka.
"Be-bening, Bening lalundra." jawabnya kembali.
"Oh namanya bagus, pas, sama kayak orangnya, sama-sama bening, hahahaha." jawab Renvil dengan sedikit gombalan receh.
Bening tersipu malu mendengar perkataan Renvil akan tetapi ia tetap diam membuat suasana menjadi semakin canggung.
Tidak terasa mereka berjalan dalam diam, pintu gerbang sekolah sudah terlihat, Bening berlari kecil beranjak meninggalkan Renvil di belakangnya.
"Te-terima kasih ya Renvil," gadis itu pun pergi berlalu meninggalkan Renvil.
"Oh iya, senang berkenalan dengan kamu Bening," jawab Renvil.
"Eh tunggu, kok dia tahu namaku?!" gumam Renvil dalam hati.
Renvil pun memasuki sekolah dan memulai harinya yang panjang di sekolah, rumor Johan yang tidak masuk terdengar di sekolah, ada yang bilang ia kecelakaan, ada yang bilang ia dihajar preman, ada lagi yang bila dia disantet, sungguh hanya Renvil yang tahu kenyataan sebenarnya.
Bel istirahat pertama berbunyi, kelas 2-F sudah mulai di tinggal oleh murid-murid kelasnya menuju kantin, di depan pintu berdiri mematung Renvil menunggu seseorang.
"Heh elu, udah disini aja, yuk ikut gua ke kantin," perintah Agni.
"Siap kak..!" jawab Renvil sambil mengekor kak Agni di belakang.
"Gua males ke kantin sendirian, si Sinta bulet lagi sakit diare, udah gua bilang makan seblak level sepuluh bakal bikin sakit tuh perut, benerkan kata gua, duduk sini Ren, elu mau makan apa? Gua jajanin."
Dengan agak canggung Renvil pun duduk di depan kak Agni, "Air putih aja kak, saya bawa bekal," serunya kala itu.
"Mang Ujo air putih dua botol, sama nasi goreng satu," kata Agni ke mang Ujo.
"Siap non, neng Sintanya mana atuh? Tumben enggak keliatan," tanya mang ujo.
"Sinta sakit mang dia kena diare, kenapa kangen ya? Cie … pelanggan kesayangannya enggak hadir," ejek Agni.
Mang Ujo hanya tersenyum malu walau pun di hati mendoakan Sinta untuk lekas sembuh.
"Elu selalu bawa bekal ya Ren?" tanya Agni.
"Iya kak, saya yang buat sendiri, soalnya bisa lebih hemat, sisa uang jajan bisa Renvil tabung, kakak mau coba?" tanya Renvil.
"Mau dong, AAaaaa..." seru Agni sambil membuka mulutnya.
Tiba-tiba jantung Renvil berdetak teramat kencang, kak Agni yang berada di depannya membuka mulutnya lebar meminta sesuap bekal dari Renvil, dengan gemetaran tangan Renvil menyuapkan sesendok bekal makanannya ke mulut kak Agni.
"Emmh enak Ren, pinter masak lu, ini beneran buatan elu?" tanya Agni takjub dengan rasa masakan Renvil.
Renvil hanya mengangguk, ia masih menata ekspresinya dan detak jantungnya yang barusan seperti menaiki wahana halilintar di dufan, tanpa alat pengaman.
"Ini neng Agni, nasi gorengnya, kalo ada yang lain bilang mamang ya."
"Oke mang, makasih," jawab Agni.
Agni tiba-tiba menukar bekal Renvil dengan nasi goreng miliknya.
"Gua tiba-tiba kagak kepengen nasi goreng, elu makan nasi gorengnya ya Ren."
"S-siap k-kak Agni." jawab Renvil terbata-bata.
"Jangankan bekal kak, hati ini di ambil juga Renvil ridho," gumam Renvil di dalam hati.
"Jangan bengong, ntar kesurupan lu," kata Agni mengagetkan lamunan Renvil.
"Enggak usah dibilang Renvil sudah kesurupan cinta kakak," gumam kembali Renvil dalam hati.
"Besok sabtu lu ada acara?" tanya Agni.
Renvil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengunyah nasi goreng buatan mang Ujo.
"Kita belajar di rumah gua ya, nanti gua kasih alamat rumah gua," seru Agni.
-uhhuk-
-uhhuk-
"Makanya kalo makan doa dulu Ren, elu sama Sinta sama aja, kalo udah makan asal telen, dikunyah dulu kali."
-glek-
-glek-
-glek-
Renvil meminum air mineral botolan kemudian berkata, "Aaah..! Ke rumah kak Agni?!" Tanya Renvil lagi memastikan.
Agni mengangguk membenarkan pernyataannya kepada Renvil, jantung Renvil berdegup lebih kencang, fikirannya menerawang jauh, imajinasi berduaan dengan kak Agni membuat pipinya bersemu merah seperti buah ceri.
Sedangkan Agni melanjutkan memakan bekal milik Renvil dengan penuh penghayatan, "Aaaah...! Kenyang, makasih ya Ren, besok bawa bekal lagi ya..!, Ren? Ren? Perasaan elu bengong mulu dah."
"Oh, i-iya k-kak maaf," jawab Renvil tersadar dari lamunannya.
"Gua duluan ya," Agni pun berlalu setelah membayar mang Ujo sambil mengacak-acak puncak kepala Renvil.
Renvil menyelesaikan makannya, kemudian membereskan sisa bekal yang dimakan kak Agni.
-glek-
Ia memegang sendok bekas makan kak Agni.
"Sendok ini gak bakal aku cuci, enggak bakal!!!"
Renvil pun berlalu menuju kelasnya, tanpa di sadari Renvil sepasang mata memerhatikannya dari awal ia masuk kantin.
"Kenapa tiap lihat dia jantung ini berdegup sangat cepat..! Apa aku jatuh cinta..! Renvil." gumam gadis manis berkacamata itu dengan tatapan melekat pada Renvil yang sedang berjalan menuju kelasnya.
Bersambung.
Pagi ini sedikit mendung dan bulir air hujan gerimis menemani sang awan di langit, Renvil berjalan sambil menenteng payung berwarna biru muda bergambar tokoh Doraemon di atasnya, jarak antara jalan raya dan sekolahnya cukup jauh karena sekolahnya berada di dalam komplek, tidak seperti lelaki lain yang menaiki motor yang di mintakan dengan cara merengek-rengek ke orang tua mereka, Renvil lebih bersyukur memiliki payung yang di belinya dengan uang sendiri ketika ia ada di acara jejepangan bersama Udin di suatu mall, ia mendapat diskon 50% karena penjualnya mengira ia cosplayer Nobita dan Udin cosplayer Suneo.
Jalanan lengang kala itu, didepan Renvil seorang gadis memakai tas merah muda berjalan pelan di terpa bulir air hujan, Renvil mempercepat langkahnya hingga ia sejajar dengan sang gadis tersebut ia kemudian memayunginya tanpa meminta izin kepada sang gadis, sang gadis menatap Renvil lalu berkata, "t-terima kasih," jawabnya dengan pelan.
Renvil hanya mengangguk sambil tersenyum menatap gadis manis itu, mereka berjalan beriringan tanpa ada satu katapun terucap dari bibir mereka masing-masing, sebenarnya Renvil sangat malu melakukan hal ini, akan tetapi setiap ada wanita kesusahan ia jadi teringat ibunya, lagipula bagi Renvil tidak perlu izin untuk membantu sesama manusia.
Sedangkan sang gadis hanya terdiam membisu, ia mengutuk dirinya sendiri karena lupa memasukkan payung lipat tadi pagi ke dalam tas sehingga ia harus di payungi lelaki di sebelahnya.
"Kamu kelas berapa?" tanya renvil memecah keheningan.
"Ke-kelas 1-b," jawab gadis itu singkat.
"Oh, kita seangkatan ternyata," jawab singkat Renvil.
"I-iya," jawab sang gadis.
Suasanapun kembali hening, bunyi rintik gerimis terdengar jelas jatuh di payung Renvil.
"Nama kamu siapa?" tanya Renvil lagi memecah kecanggungan mereka.
"Be-bening, Bening lalundra." jawabnya kembali.
"Oh namanya bagus, pas, sama kayak orangnya, sama-sama bening, hahahaha." jawab Renvil dengan sedikit gombalan receh.
Bening tersipu malu mendengar perkataan Renvil akan tetapi ia tetap diam membuat suasana menjadi semakin canggung.
Tidak terasa mereka berjalan dalam diam, pintu gerbang sekolah sudah terlihat, Bening berlari kecil beranjak meninggalkan Renvil di belakangnya.
"Te-terima kasih ya Renvil," gadis itu pun pergi berlalu meninggalkan Renvil.
"Oh iya, senang berkenalan dengan kamu Bening," jawab Renvil.
"Eh tunggu, kok dia tahu namaku?!" gumam Renvil dalam hati.
Renvil pun memasuki sekolah dan memulai harinya yang panjang di sekolah, rumor Johan yang tidak masuk terdengar di sekolah, ada yang bilang ia kecelakaan, ada yang bilang ia dihajar preman, ada lagi yang bila dia disantet, sungguh hanya Renvil yang tahu kenyataan sebenarnya.
Bel istirahat pertama berbunyi, kelas 2-F sudah mulai di tinggal oleh murid-murid kelasnya menuju kantin, di depan pintu berdiri mematung Renvil menunggu seseorang.
"Heh elu, udah disini aja, yuk ikut gua ke kantin," perintah Agni.
"Siap kak..!" jawab Renvil sambil mengekor kak Agni di belakang.
"Gua males ke kantin sendirian, si Sinta bulet lagi sakit diare, udah gua bilang makan seblak level sepuluh bakal bikin sakit tuh perut, benerkan kata gua, duduk sini Ren, elu mau makan apa? Gua jajanin."
Dengan agak canggung Renvil pun duduk di depan kak Agni, "Air putih aja kak, saya bawa bekal," serunya kala itu.
"Mang Ujo air putih dua botol, sama nasi goreng satu," kata Agni ke mang Ujo.
"Siap non, neng Sintanya mana atuh? Tumben enggak keliatan," tanya mang ujo.
"Sinta sakit mang dia kena diare, kenapa kangen ya? Cie … pelanggan kesayangannya enggak hadir," ejek Agni.
Mang Ujo hanya tersenyum malu walau pun di hati mendoakan Sinta untuk lekas sembuh.
"Elu selalu bawa bekal ya Ren?" tanya Agni.
"Iya kak, saya yang buat sendiri, soalnya bisa lebih hemat, sisa uang jajan bisa Renvil tabung, kakak mau coba?" tanya Renvil.
"Mau dong, AAaaaa..." seru Agni sambil membuka mulutnya.
Tiba-tiba jantung Renvil berdetak teramat kencang, kak Agni yang berada di depannya membuka mulutnya lebar meminta sesuap bekal dari Renvil, dengan gemetaran tangan Renvil menyuapkan sesendok bekal makanannya ke mulut kak Agni.
"Emmh enak Ren, pinter masak lu, ini beneran buatan elu?" tanya Agni takjub dengan rasa masakan Renvil.
Renvil hanya mengangguk, ia masih menata ekspresinya dan detak jantungnya yang barusan seperti menaiki wahana halilintar di dufan, tanpa alat pengaman.
"Ini neng Agni, nasi gorengnya, kalo ada yang lain bilang mamang ya."
"Oke mang, makasih," jawab Agni.
Agni tiba-tiba menukar bekal Renvil dengan nasi goreng miliknya.
"Gua tiba-tiba kagak kepengen nasi goreng, elu makan nasi gorengnya ya Ren."
"S-siap k-kak Agni." jawab Renvil terbata-bata.
"Jangankan bekal kak, hati ini di ambil juga Renvil ridho," gumam Renvil di dalam hati.
"Jangan bengong, ntar kesurupan lu," kata Agni mengagetkan lamunan Renvil.
"Enggak usah dibilang Renvil sudah kesurupan cinta kakak," gumam kembali Renvil dalam hati.
"Besok sabtu lu ada acara?" tanya Agni.
Renvil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengunyah nasi goreng buatan mang Ujo.
"Kita belajar di rumah gua ya, nanti gua kasih alamat rumah gua," seru Agni.
-uhhuk-
-uhhuk-
"Makanya kalo makan doa dulu Ren, elu sama Sinta sama aja, kalo udah makan asal telen, dikunyah dulu kali."
-glek-
-glek-
-glek-
Renvil meminum air mineral botolan kemudian berkata, "Aaah..! Ke rumah kak Agni?!" Tanya Renvil lagi memastikan.
Agni mengangguk membenarkan pernyataannya kepada Renvil, jantung Renvil berdegup lebih kencang, fikirannya menerawang jauh, imajinasi berduaan dengan kak Agni membuat pipinya bersemu merah seperti buah ceri.
Sedangkan Agni melanjutkan memakan bekal milik Renvil dengan penuh penghayatan, "Aaaah...! Kenyang, makasih ya Ren, besok bawa bekal lagi ya..!, Ren? Ren? Perasaan elu bengong mulu dah."
"Oh, i-iya k-kak maaf," jawab Renvil tersadar dari lamunannya.
"Gua duluan ya," Agni pun berlalu setelah membayar mang Ujo sambil mengacak-acak puncak kepala Renvil.
Renvil menyelesaikan makannya, kemudian membereskan sisa bekal yang dimakan kak Agni.
-glek-
Ia memegang sendok bekas makan kak Agni.
"Sendok ini gak bakal aku cuci, enggak bakal!!!"
Renvil pun berlalu menuju kelasnya, tanpa di sadari Renvil sepasang mata memerhatikannya dari awal ia masuk kantin.
"Kenapa tiap lihat dia jantung ini berdegup sangat cepat..! Apa aku jatuh cinta..! Renvil." gumam gadis manis berkacamata itu dengan tatapan melekat pada Renvil yang sedang berjalan menuju kelasnya.
Bersambung.
1
Kutip
Balas