- Beranda
- Stories from the Heart
CloudLove (TeenFiction)
...
TS
ayahnyabinbun
CloudLove (TeenFiction)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua beranak dua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis tentang cinta.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus aja ya.
Ini cerita kedua ayahBinBun, sempat dilirik penerbit indie … namun, yah gitulah, hanya berujung PHP, daripada galau enggak jelas mending ayahBinBun gelar disini, enggak usah lama-lama mending langsung aja dibaca.
Spoiler for Index:
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
[URL=]
CHAPTER 6
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 7
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 8
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 9
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 10
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 11
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 12
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 13
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 14
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 15
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 16
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 17
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 18
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 19
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 20
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 21
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 22
[/URL]
[URL=]
CHAPTER 23
[/URL]
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
Spoiler for prolog:
Hari senin di SMA Sinar jaya para murid mulai bersiap melakukan upacara pagi, di luar gerbang riuh anak murid yang terlambat datang.
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
"Akh elah telat lagi kan, elu sih Sin pake sarapan bubur kacang ijo dulu," dengus kesal seorang remaja perempuan dengan tas ransel di punggungnya.
"Hehe, mangap Gi diriku pan lavar, nanti cantik ini lunthur engga mamam dulu," jawab temannya dengan candaan.
"Tailah, yuk muter, kita lewat belakang," dengus kesal sang gadis berambut pendek tersebut.
Sang perempuan hanya mengangguk mengiyakan ide temannya, kedua gadis itu beranjak pergi menuju ke belakang sekolah sebelum guru yang menjaga gerbang melihat mereka.
Sreek..
Sreeek..
"Tas gua jangan di seret kampret..!"
"Mangap Gi, sempit ini lubang."
"Makanya diet..! Makan mulu hidup lu."
"Dailah kayak tetangga gua aje luh, mulutnye pedes kayak boncabe."
"Sstt.. Diem Sin, denger enggak lu? Kayak ada orang di belakang."
Kedua remaja itu mencari arah suara, kedua mata mereka melirik empat murid lelaki sedang berkumpul, Agni dan Sinta menguping pembicaraan mereka.
"Heh cupu kuadrat..! Gua udah bilang kerjain PR gua, kenapa masih kosong ini."
"Udah hajar aje bos, anak cupu gini mesti di takol biar nurut," jawab temannya mengompori keadaan.
"Aku mesti jaga ibu aku bang, jadi enggak sempet ngerjain, nanti aku bakal kerjain yang lainnya dah," jawab remaja yang tersungkur di tanah, pelipisnya terlihat lebam akibat tadi dipukul lelaki tambun itu.
"HEI..! KALO BERANI JANGAN KEROYOKAN BANCI..!" teriak Agni lantang dari arah belakang membuat Sinta di sebelahnya tersentak.
Keempat remaja tersebut mencari sumber suara, mereka serempak menatap seorang gadis berponi dengan potongan rambut pendek sepundak di belakang sekolah.
"Wuih berani juga nih cewe, perlu kita hajar nih."
"B..b.bos ntu Agni, si naga betina, kita pergi aja lah bos."
"Halah banci lu!" jawab lelaki tambun tersebut penuh kesombongan.
Agni melangkah maju menghadapi ke tiga lelaki di depannya, sang lelaki tambun ikut maju untuk menghadapi Agni.
"Heh pramuria, denger ye ini bukan urusan cewe macem elu, jadi...."
-BUUUGH...!!-
Sebuah tendangan telak mengenai selangkangan lelaki tambun itu.
"AAAAAaaaghhhh...!" teriak remaja tambun tersebut, sekujur tubuhnya bergetar, koneksi otak dan tubuhnya seketika terputus, hanya ada bulir air mata menetes di sisi matanya.
"PERGI LU SEMUA, DAN BAWA KARUNG SAMPAH INI DARI HADAPAN GUA..!" titah Agni sang naga betina kepada dua anak buah si lelaki tambun.
Sinta yang melihat dari belakang hanya bisa menganga melihat tindakan temannya yang sangat berani itu, ia pun melempar sampah dedaunan ke arah tiga berandalan yang lari melewati dirinya.
"Rasain luh! Agni dilawan, dasar pe'a, bonyok dah ntu kantong menyan," ledek Sinta puas.
Agni melihat lelaki yang menjadi korban tiga berandal tadi, ia berjongkok seraya melihat wajah lelaki tersebut.
"Nama lu siapa? Kelas berapa?" tanya Agni selidik.
"Ren..Renvil, kelas 1-A mba," jawab Renvil dengan menahan sakit di pelipisnya.
"Wuiiih anak pinter luh masuk golongan kelas A, jangan panggil gua mba gua bukan mba elu, kenapa si Johan kampret ganggu lu?" tanya Agni lagi.
"Dia..dia minta aku kerjain tugasnya."
"Terus elu mau?!"
Renvil hanya bisa mengangguk pelan atas pertanyaan Agni tersebut.
"bodoh...! elu pinter tapi bodoh, bingung gua," jawab Agni kasar.
Sinta melangkah menuju temannya dan lelaki yang sedang tersungkur di depannya.
"Ya Tuhan, tampan pisan, duh sini-sini neng Sinta bersihin lukanya cah kasep," seruduk Sinta menyenggol Agni yang sedang jongkok.
"Tai lu Sin, badan mirip banget buldoser satpol pp," jengah Agni yang tubuhnya terdorong tubuh sintal Sinta.
Sinta kemudian mengambil tissue dari dalam tasnya dan menyeka luka di pelipis Renvil.
"Nama kamu siapa? kelas berapa? Udah punya pacar? Mau enggak sama neng Sinta yang semok bin demplon ini?" rentetan pertanyaan membredel si Renvil.
"Renvil kak, kelas 1-A, belum kak, saya single by choice," jawab Renvil sekenanya.
"Maaf kak, liat kacamata saya tidak? tadi di lempar sama si Johan."
"Nih, untung kagak gua injek." jawab Agni sembari memberikan sebuah kacamata ke tangan Renvil.
Renvil pun langsung membersihkan lensa kacamatanya, kemudian menyangkutkannya di kedua daun telinganya.
Dua gadis di depannya tersentak, lelaki tampan di depannya langsung jatuh kadar ketampanannya, kacamata tebal bundar sempurna setebal pantat botol menghiasi wajah tampan tersebut.
"Jiaaah.. Buang tuh kacamata Ren, bikin ilfeel gua aja." jawab Sinta jujur sejujur-jujurnya.
Renvil hanya tersenyum mendengar perkataan Sinta, wajahnya memang berubah tatkala ia memakai kacamata pemberian ayahnya tersebut.
"Nama gua Agni, ini Sinta, kalo si Johan ganggu elu lagi bilang ke gua, ngerti lu..!?" terang Agni.
"Iya kak."
"Dan satu hal lagi!"
Renvil terdiam mendengarkan kata-kata selanjutnya dari Agni.
"Mulai hari ini elu jadi budak gua, ngerti lu..?!"
Sinta dan Renvil tersentak mendengar kata-kata Agni.
"I..iya kak Agni."
-Biarkanlah cintaku membawamu keatas awan hingga burung pun iri karena tidak bisa terbang begitu tinggi-
-CloudLove-
Diubah oleh ayahnyabinbun 13-05-2019 21:02
iamzero dan 8 lainnya memberi reputasi
9
15.3K
Kutip
131
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#4
Chapter 3
Spoiler for Rumah:
"Dari semua perempuan di dunia, hanya ibu yang identik sama bidadari."
Renvil turun dari angkutan kota yang mengantarnya, ia berjalan menyusuri jalan komplek perumahan, menebar senyum dan sapaan untuk para tetangga yang sedang melakukan aktifitas diluar rumah mereka, setelah 10 menitan berjalan dengan kaki panjangnya ia sampai di sebuah rumah minimalis dua lantai dengan pohon belimbing yang tumbuh tinggi di depan rumah, memberikan kesan nyaman bagi penghuni dibawahnya, perlahan ia membuka pagar dan kemudian ia masuk ke dalam rumah.
"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATU..!" Teriak renvil terlalu semangat
"Waalaikumsalam, gak usah teriak toh den Ren, kayak di hutan saja," jawab seorang wanita paruh baya yang berada di dapur.
"Hhe, maaf-maaf bi, sedang terbawa suasana bahagia."
"Tumben bahagia, biasanya pulang lesu," jawab seorang wanita dikursi rodanya.
Renvil tersenyum kearah wanita tersebut, ia langsung menyalami tangan kanan wanita itu dan mengecup keningnya.
"Ibu udah makan? Udah minum obat? Jangan terlalu capek! Ingat kata dokter! biar bibi yang ngerjain semua tugas rumah, ibu tugasnya mantau aja kayak mandor," tanya Renvil penuh perhatian.
"Iya-iya dokter Renvil, ibu udah minum obat kok." jawab sang ibu dengan berkacak pinggang.
"Nah gitu dong, nurut sama anak, jangan bandel."
Ibu langsung mengambil sebuah sapu yang kebetulan ada disebelahnya dan mengejar anak semata wayangnya tersebut dengan melajukan kursi roda miliknya hingga sampai ke bibir tangga.
"Eits enggak kena, hhi," canda Renvil sambil menaiki tangga.
"Habis ganti baju langsung makan ya Ren!" perintah ibu ke Renvil.
"Siap komandan...!" jawab Renvil sambil mengikuti gerakan tentara yang sedang hormat.
Ibu hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya sembari tersenyum simpul.
Renvil berjalan menaiki tangga sambil menatap foto-foto yang terpampang di dinding sepanjang anak tangga untuk menuju kamarnya, kamar bersih nan rapi yang di penuhi buku-buku tertata rapi di lemari, poster-poster pahlawan dan action figure juga tersusun rapi di lemari khusus untuk mainan miliknya, kamar khas kutu buku sejati.
Renvil melempar tasnya sembarang dan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk sambil menatap poster wonder women yang tertempel di langit-langit.
Ia mengambil guling di sebelahnya, lalu memeluknya dengan erat.
"Kak Agni terima kasih ya buat hari ini, hati ini makin mantap dengan kamu," gumam Renvil berbicara dengan guling, kemudian mencium-cium guling seakan guling itu adalah kak Agni.
Tanpa disadari Renvil dua buah bola mata tengah mengintip di balik pintu, bi Imah sudah mengintip dari celah pintu kamar Renvil yang lupa ditutupnya, bi Imah menatap heran kelakuan remaja yang tengah di mabuk asmara itu.
"Den, makan, di suruh ibu," seru bi Imah cepat, kemudian bi Imah berlalu sambil berlari kecil menuju lantai dasar.
"......."
Terkejut dan malu menjadi satu, Renvil terdiam kemudian berganti baju, kaos bergambar ironman dan celana pendek hitam menjadi pilihannya, kemudian dengan tergesa-gesa ia menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Senyum-senyum tertahan terlihat dari dua wanita di depannya, Renvil menatap sinis ke mereka, "ketok kek ketok! Renvil sumpahin bintitan loh," kata Renvil menyindir bi Imah.
"Iya den Renvil maaf," seru bi Imah sambil bi Imah memperagakan pelukan guling khas Renvil, "cup..cup..cup," kemudian bi Imah memperagakan ciuman ke pantat panci, "oh pantat panci, aku jadi makin yakin sama kamu," seru bi Imah menyindir.
"HAHahahaha," tawa ibu membahana melihat bi Imah yang sedang akting seperti Renvil, sedangkan muka Renvil merah semerah kepiting rebus.
"Renvil, tiba-tiba enggak laper."
"Hhahahha," tawa ibu tiba-tiba terhenti, "heh makan..! Kalo kamu enggak makan ibu enggak bakal minum obat!"
Merasa di skakmat sang ibu Renvil akhirnya menyendok setangkup nasi dan lauk secukupnya, sedangkan bi Imah kembali menyuci piring sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Siapa Agni Ren?" tanya ibu selidik pada renvil.
-uuhhhukk-
-glek-
"Bukan siapa-siapa kok bu," jawab Renvil gugup sembari menghindari tatapan memindai ibunya.
"Pacar? Teman? Atau …" tanya bunda seperti detektif profesional.
"....." Renvil terdiam.
"Oh temen, kakak kelas ya?"
"B..bu..bukan bu," jawab Renvil terbata-bata.
"Oh begitu, kakak kelas ternyata."
"Stop bu STOP..! Hentikan...! Renvil nyerah..!" sahut Renvil sambil menutup kedua telinganya.
"Suka boleh, lagian kamu juga masih mencari jatidiri, tapi jangan sampai ganggu belajar kamu ya anakku yang manis," kata ibu sambil mengelus puncak kepala Renvil.
Renvil hanya mengangguk sambil tersenyum mendengarkan nasihat ibunya yang tercinta. Selesai makan ia mendorong perlahan kursi roda milik ibunya menuju teras rumah, semilir angin dan suara daun bersinggungan menemani kedua insan itu menikmati teduhnya pohon belimbing, Renvil kemudian selonjoran di lantai teras dengan posisi kepala di pangkuan sang ibu.
"Masih muda ubannya banyak banget sih Ren.! Makan sayur dih..!" perintah ibunya sembari mencari uban di kepala anaknya itu.
"Siap bu!" jawab Ren singkat.
"Halah, nanti juga lupa," sergah ibu kesal.
"Kamu mau cerita tentang kakak kelas kamu itu?" tanya ibu langsung.
"Emh..emang boleh?" tanya Renvil ragu.
"Ya enggak kenapa-napa, lagian kalo lagi nyari uban gini kamu malah cerita rumus kimia melulu, ibu mana ngerti, mending cerita tentang cinta pertama anak ibu."
"Isshh, ibu bisa aja, Renvil jadi malu," seru Renvil sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Jadi cerita dong."
"Eeemmh, Renvil suka kak Agni dari awal masuk sekolah bu, menurut Renvil dia cantik pake banget, enggak kaya gadis lain dia keliatan mandiri dan lagi waktu itu pentas ekstrakulikuler, kak Agni kan anak taekwondo dia praktekin patahin tiga balok sekaligus loh bu, hebatkan!"
"......"
"Ibu kok diam?!"
"Ibu lagi dengerin dengan seksama, terus?"
"Terus beberapa bulan yang lalu dia ngehajar lima preman, sampai babak belur, sekarang preman-preman itu malah jadi anak buahnya kak Agni."
"............"
"Ibu masih mau dengerin? Dari tadi diam melulu."
"Eenghh, iya-iya ibu dengerin kok Ren, terus kak Agninya udah punya pacar belum?"
"Setahu Renvil sih belum, siapa juga yang mau sama cewe macho kayak gitu bu."
"Lah ada pasti Ren."
"HAH SIAPA BU..?!!" tanya Renvil penuh antusias.
"Ya kamulah, katanya suka sama si Agni itu."
"Oh iya ya, Hehehhe," jawab Renvil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dilain tempat.
"Gi gua pulang duluan ya? Hoam!!" kata Sinta sembari menguap.
"Abis makan ngantuk, diabetes ntar lu Sin, yaudah sono, hati-hati di jalan."
Sinta pun berlalu meninggalkan Agni yang sendirian di tepi sungai, menikmati langit sore, menikmati terangnya matahari yang kian meredup menuju peraduannya.
"Hei belon balik lu?"
Sapaan seorang lelaki memecah keheningan.
"Belon, bete gua di rumah, elu kenapa belon balik?"
"Lagi ada urusan, mau gua anter pulang?" tanya lelaki itu sopan.
Agni menggelengkan kepalanya sambil menunduk, "gua bisa balik sendiri," jawabnya.
"Yaudah kalo begitu, gua pergi dulu ya," kata lelaki itu dan ia pun kemudian berlalu meninggalkan Agni sendirian.
Agni hanya bisa menatap punggung bidang lelaki yang meninggalkannya tersebut dengan malas.
"Cowo semua sama aja," gumam pelan Agni pada dirinya sendiri.
Angin berhembus pelan membelai kulit kuning langsat Agni dan membuat rambut pendeknya tergerak searah angin berhembus matahari pun perlahan berganti menjadi sinar rembulan.
Renvil turun dari angkutan kota yang mengantarnya, ia berjalan menyusuri jalan komplek perumahan, menebar senyum dan sapaan untuk para tetangga yang sedang melakukan aktifitas diluar rumah mereka, setelah 10 menitan berjalan dengan kaki panjangnya ia sampai di sebuah rumah minimalis dua lantai dengan pohon belimbing yang tumbuh tinggi di depan rumah, memberikan kesan nyaman bagi penghuni dibawahnya, perlahan ia membuka pagar dan kemudian ia masuk ke dalam rumah.
"ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATU..!" Teriak renvil terlalu semangat
"Waalaikumsalam, gak usah teriak toh den Ren, kayak di hutan saja," jawab seorang wanita paruh baya yang berada di dapur.
"Hhe, maaf-maaf bi, sedang terbawa suasana bahagia."
"Tumben bahagia, biasanya pulang lesu," jawab seorang wanita dikursi rodanya.
Renvil tersenyum kearah wanita tersebut, ia langsung menyalami tangan kanan wanita itu dan mengecup keningnya.
"Ibu udah makan? Udah minum obat? Jangan terlalu capek! Ingat kata dokter! biar bibi yang ngerjain semua tugas rumah, ibu tugasnya mantau aja kayak mandor," tanya Renvil penuh perhatian.
"Iya-iya dokter Renvil, ibu udah minum obat kok." jawab sang ibu dengan berkacak pinggang.
"Nah gitu dong, nurut sama anak, jangan bandel."
Ibu langsung mengambil sebuah sapu yang kebetulan ada disebelahnya dan mengejar anak semata wayangnya tersebut dengan melajukan kursi roda miliknya hingga sampai ke bibir tangga.
"Eits enggak kena, hhi," canda Renvil sambil menaiki tangga.
"Habis ganti baju langsung makan ya Ren!" perintah ibu ke Renvil.
"Siap komandan...!" jawab Renvil sambil mengikuti gerakan tentara yang sedang hormat.
Ibu hanya geleng-geleng melihat tingkah anaknya sembari tersenyum simpul.
Renvil berjalan menaiki tangga sambil menatap foto-foto yang terpampang di dinding sepanjang anak tangga untuk menuju kamarnya, kamar bersih nan rapi yang di penuhi buku-buku tertata rapi di lemari, poster-poster pahlawan dan action figure juga tersusun rapi di lemari khusus untuk mainan miliknya, kamar khas kutu buku sejati.
Renvil melempar tasnya sembarang dan merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk sambil menatap poster wonder women yang tertempel di langit-langit.
Ia mengambil guling di sebelahnya, lalu memeluknya dengan erat.
"Kak Agni terima kasih ya buat hari ini, hati ini makin mantap dengan kamu," gumam Renvil berbicara dengan guling, kemudian mencium-cium guling seakan guling itu adalah kak Agni.
Tanpa disadari Renvil dua buah bola mata tengah mengintip di balik pintu, bi Imah sudah mengintip dari celah pintu kamar Renvil yang lupa ditutupnya, bi Imah menatap heran kelakuan remaja yang tengah di mabuk asmara itu.
"Den, makan, di suruh ibu," seru bi Imah cepat, kemudian bi Imah berlalu sambil berlari kecil menuju lantai dasar.
"......."
Terkejut dan malu menjadi satu, Renvil terdiam kemudian berganti baju, kaos bergambar ironman dan celana pendek hitam menjadi pilihannya, kemudian dengan tergesa-gesa ia menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Senyum-senyum tertahan terlihat dari dua wanita di depannya, Renvil menatap sinis ke mereka, "ketok kek ketok! Renvil sumpahin bintitan loh," kata Renvil menyindir bi Imah.
"Iya den Renvil maaf," seru bi Imah sambil bi Imah memperagakan pelukan guling khas Renvil, "cup..cup..cup," kemudian bi Imah memperagakan ciuman ke pantat panci, "oh pantat panci, aku jadi makin yakin sama kamu," seru bi Imah menyindir.
"HAHahahaha," tawa ibu membahana melihat bi Imah yang sedang akting seperti Renvil, sedangkan muka Renvil merah semerah kepiting rebus.
"Renvil, tiba-tiba enggak laper."
"Hhahahha," tawa ibu tiba-tiba terhenti, "heh makan..! Kalo kamu enggak makan ibu enggak bakal minum obat!"
Merasa di skakmat sang ibu Renvil akhirnya menyendok setangkup nasi dan lauk secukupnya, sedangkan bi Imah kembali menyuci piring sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Siapa Agni Ren?" tanya ibu selidik pada renvil.
-uuhhhukk-
-glek-
"Bukan siapa-siapa kok bu," jawab Renvil gugup sembari menghindari tatapan memindai ibunya.
"Pacar? Teman? Atau …" tanya bunda seperti detektif profesional.
"....." Renvil terdiam.
"Oh temen, kakak kelas ya?"
"B..bu..bukan bu," jawab Renvil terbata-bata.
"Oh begitu, kakak kelas ternyata."
"Stop bu STOP..! Hentikan...! Renvil nyerah..!" sahut Renvil sambil menutup kedua telinganya.
"Suka boleh, lagian kamu juga masih mencari jatidiri, tapi jangan sampai ganggu belajar kamu ya anakku yang manis," kata ibu sambil mengelus puncak kepala Renvil.
Renvil hanya mengangguk sambil tersenyum mendengarkan nasihat ibunya yang tercinta. Selesai makan ia mendorong perlahan kursi roda milik ibunya menuju teras rumah, semilir angin dan suara daun bersinggungan menemani kedua insan itu menikmati teduhnya pohon belimbing, Renvil kemudian selonjoran di lantai teras dengan posisi kepala di pangkuan sang ibu.
"Masih muda ubannya banyak banget sih Ren.! Makan sayur dih..!" perintah ibunya sembari mencari uban di kepala anaknya itu.
"Siap bu!" jawab Ren singkat.
"Halah, nanti juga lupa," sergah ibu kesal.
"Kamu mau cerita tentang kakak kelas kamu itu?" tanya ibu langsung.
"Emh..emang boleh?" tanya Renvil ragu.
"Ya enggak kenapa-napa, lagian kalo lagi nyari uban gini kamu malah cerita rumus kimia melulu, ibu mana ngerti, mending cerita tentang cinta pertama anak ibu."
"Isshh, ibu bisa aja, Renvil jadi malu," seru Renvil sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya
"Jadi cerita dong."
"Eeemmh, Renvil suka kak Agni dari awal masuk sekolah bu, menurut Renvil dia cantik pake banget, enggak kaya gadis lain dia keliatan mandiri dan lagi waktu itu pentas ekstrakulikuler, kak Agni kan anak taekwondo dia praktekin patahin tiga balok sekaligus loh bu, hebatkan!"
"......"
"Ibu kok diam?!"
"Ibu lagi dengerin dengan seksama, terus?"
"Terus beberapa bulan yang lalu dia ngehajar lima preman, sampai babak belur, sekarang preman-preman itu malah jadi anak buahnya kak Agni."
"............"
"Ibu masih mau dengerin? Dari tadi diam melulu."
"Eenghh, iya-iya ibu dengerin kok Ren, terus kak Agninya udah punya pacar belum?"
"Setahu Renvil sih belum, siapa juga yang mau sama cewe macho kayak gitu bu."
"Lah ada pasti Ren."
"HAH SIAPA BU..?!!" tanya Renvil penuh antusias.
"Ya kamulah, katanya suka sama si Agni itu."
"Oh iya ya, Hehehhe," jawab Renvil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Dilain tempat.
"Gi gua pulang duluan ya? Hoam!!" kata Sinta sembari menguap.
"Abis makan ngantuk, diabetes ntar lu Sin, yaudah sono, hati-hati di jalan."
Sinta pun berlalu meninggalkan Agni yang sendirian di tepi sungai, menikmati langit sore, menikmati terangnya matahari yang kian meredup menuju peraduannya.
"Hei belon balik lu?"
Sapaan seorang lelaki memecah keheningan.
"Belon, bete gua di rumah, elu kenapa belon balik?"
"Lagi ada urusan, mau gua anter pulang?" tanya lelaki itu sopan.
Agni menggelengkan kepalanya sambil menunduk, "gua bisa balik sendiri," jawabnya.
"Yaudah kalo begitu, gua pergi dulu ya," kata lelaki itu dan ia pun kemudian berlalu meninggalkan Agni sendirian.
Agni hanya bisa menatap punggung bidang lelaki yang meninggalkannya tersebut dengan malas.
"Cowo semua sama aja," gumam pelan Agni pada dirinya sendiri.
Angin berhembus pelan membelai kulit kuning langsat Agni dan membuat rambut pendeknya tergerak searah angin berhembus matahari pun perlahan berganti menjadi sinar rembulan.
Diubah oleh ayahnyabinbun 26-11-2018 20:53
1
Kutip
Balas