Kaskus

Story

annastasia81Avatar border
TS
annastasia81
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)
Sebuah Cerita Dari Gadis (Gadis Pramugari 2)


Alert +21


Sebelum Gan n Sis baca kelanjutan kisah hidup Gadis di thread kedua ini. Sebagai TS Anna punya satu permintaan kecil untuk Gan n Sis. Pasti mau kan ya buat dengerin dan subscribe Gadis Pramugari versi Podcast biar lebih mantul lagi cerita Gadis ini.

Terus Gan n Sis juga makin baper denger cerita sedihnya Gadis dan hepinya Gadis di GP Podcast.

Langsung denger aja ya dan jangan lupa subscribe biar ga ketinggalan apdetan-nya di Kaskus Podcast 😘



podcast-episode/episode-1-namaku-gadis



podcast-episode/episode-2--raka-sang-abdi-negara



podcast-episode/di-atas-32000-kaki



podcast-episode/gadis-dan-raka-bertemu-setelah-sekian-lama---ep-4



Bab 1 - First Flight



Raditya... Sebuah awal dari ceritaku.

✈️✈️✈
️

Pukul 5 tepat supir jemputan sudah mengetuk pintu kamar kosku. Setelah berulangkali mematut diri di cermin, akhirnya untuk terakhir kali aku memandang diriku di cermin dan bergumam dalam hati.

"Akhirnya seragam ini kukenakan juga. Aku berharap setelah ini, kehidupanku akan menjadi lebih baik"

Segera kusematkan id carddi baju seragam dan menarik koper menuju mobil maskapai yang telah siap mengantarku ke bandara.

Setibanya di crew room aku melihat seorang perempuan cantik berdiri di tengah ruangan dan dengan mimik serius sedang memperhatikan ponselnya. Rambut perempuan itu rapi tergelung dengan tatanan ala french-twist khas pramugari. Aku membaca name tag yang berada di sebelah kiri seragamnya. Di situ tertulis nama RISA. Aku masuk ke dalam ruangan dan memberanikan diri untuk menyapanya terlebih dahulu.

"Selamat pagi mbak Risa..." Aku tersenyum, menunggu reaksinya. Ia menoleh dan tampak acuh terhadap sapaanku.

"Kenalkan mbak, nama saya Gadis Ginanti, saya junior batch XX. Ini first flight saya mba, mohon bantuannya ya mbak!" Aku mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mbak Risa, senior yang terkenal suka nyinyir se-company.

Selain hobi nyinyir, ia juga suka menyuruh junior-junior yang bertugas dengannya dengan seenak hati.

Dengan tatapan sinis mba Risa menatapku dan dengan nadanya yang judes, ia memberi sebuah peringatan.

"Gadis... Nanti kalau di atas jangan banyak tanya ya! Lakuin aja seperti waktu kamu training, kalau beneran nggak tahu atau nggak bisa, baru tanya! Oh iya jangan lupa kamu nanti kenalan juga sama pilotnya! Inget ya!"

Tanganku yang lama menggantung di udara perlahan-lahan aku turunkan, karena tampaknya lawan bicaraku ini tidak berminat untuk menyambutnya. Aku mengiyakan perintahnya dengan mengangguk patuh.

"Baik Mbak Risa"

Ketika Mbak Risa hendak membuka mulutnya kembali sebuah sapaan terdengar di depan pintu.

"Selamat Pagi!" Mbak dini masuk ke dalam ruangan.

Mbak Dini... Perempuan berambut pendek, berbadan sedikit berisi dan berkulit sawo matang merupakan awak kabin senior yang akan in-charge di penerbangan perdanaku ini.

"Eh... Din! Selamat Pagi, Ikutan yaa!" Mbak Risa mendekat dan memajukan badannya

"Hai Sa" Mbak Dini langsung membalas salamnya dan mereka saling bercipka-cipiki.

"Nanti kita sekamar ya Din! Gw mau CURHAT sama Lo!"

"Pasti tentang Tito lagi deh! Sampai kapan sih Lo mau jadi kesetnya terus! Diinjek-injek, kotor terus dibuang!"

"Iiiihh jahat banget sih Lo ngomong gitu!""

"Gw ngomong gitu biar Lo sadar Sa, kalau Tito cuma manfaatin Lo doang!" Ya udah nanti aja ceritanya di kamar! Landing Surabaya Lo mesti ikut gw ya, gw baru kenalan sama pengusaha di sana!"

"Ciee cowok baru nih ceritanya, Kenal dimana Din? Penumpang ya?"

"Iya dong... Ganteng, Muda, Keren. Waktu gw jalan di cabin dia senyum sama gw, gw tulis aja nomer gw di kertas terus gw kasih dia! Eh dia telepon deh malamnya"

"Udah punya bini belom?"

"Emangnya gw pikirin! Yang penting royal nggak dia nanti! Kalau pelit gw mah ogah, kita tes aja dia nanti malam!"

"Iya deh gw temenin, daripada di kamar bete juga gw kepikiran Tito!

"Eh btw flight ini kita bawa anak baru ya Sa!"

"Iya tuh anaknya! Pasti nyusahin deh di atas!"

"Udah biar aja, nanti kita suruh dia aja yang kerja di atas, kita ngegosip aja di Galley!"

"Iya pastilah itu mah, tapi kalau dia pinter Din, kalau dia bego! Yang ada kita yang capek Din!"

"Ya udah nanti gw briefing dulu aja dia... oiya dia udah kenalan sama Lo?"

"Udah, dia nungguin kita selesai ngobrol kali baru kenalan sama Lo!"

Mereka membicarakan seolah aku tidak ada bersama mereka di ruangan ini.

"Yah nasib jadi junior, harus terima semua perlakuan senior" timbul pemikiran miris dalam hatiku.

"Lebih baik aku segera kenalan dengan mbak Dini, daripada nanti aku kena omel dia karena bersikap apatis terhadap senior, apalagi dia senior awak kabin in-charge dalam penerbangan ini" Dengan gugup aku menghampiri mereka yang sedang asyik bercakap-cakap.

"Maaf Mbak Dini, kenalkan saya Gadis, junior batch xx, ini First Flight saya mbak. Mohon bimbingannya mbak!" Aku mengulurkan tangan dan mbak Dini langsung menjabat erat tanganku.

"Saya Dini... Gadis ya nama kamu?"

"Iya mbak" aku menjawab pelan.

"Begini ya Dis, Kamu kan sudah dirilis terbang, jadi artinya kamu sudah mampu mengerjakan tugas sesuai job desk kamu ya! Kalau ada yang nggak kami tahu, kamu tanya! Jangan bengong di atas. Ngerti ya GADIS!" Mbak Dini menekankan maksudnya agar aku tidak menjadi obstacle di penerbangannya

"Iya mbak" aku kembali mengangguk patuh.

Melihat aku mengangguk, mbak Dini melanjutkan perintahnya "Ya sudah, kamu duduk di sana aja, kita tunggu Captain, mbak Santi dan mas Farhan untuk briefing"

"Baik Mbak" Aku mengambil tempat duduk agak jauh dari mereka yang kembali asyik bercakap-cakap.

Mereka benar-benar tidak menganggapku dan terus berbincang seolah-olah aku tidak berada dalam satu ruangan bersama mereka. Dan sesekali terdengar suara tawa mereka yang bergaung di ruangan.

Aku tidak boleh merasa kecil hati, tidak semua senior seperti mereka - yang merasa aku sebagai beban di Flight ini.

Aku membesarkan hati untuk tetap bersemangat di penerbangan pertamaku.

"Hallo pagi semuanya... Maaf yaa kita datang agak telat" Mbak Santi yang duluan menyapa semua orang di ruangan, sedangkan mas Farhan hanya melambaikan tangannya kepada kami.

"Mbak Santi dan mas Farhan sudah datang, saya ikutan ya Mbak, Mas" Risa menghampiri dan menyalami keduanya.

"Nggak apa-apa mbak, Captain Joko sama mas Radit juga belum datang" Mbak Dini datang mendekat dan menerima jabatan tangan mereka.

"Sebentar lagi mungkin Din" Mas Farhan yang agak gemulai ikut mengomentari percakapan mereka. Sedangkan aku ragu-ragu untuk memotong percakapan mereka.

Mbak Santi yang pertama menyadari kehadiranku disitu "Anak baru ya?" Semua menoleh kepadaku yang tampak berdiri kikuk di hadapan mereka.

"Iya mbak Santi, mas Farhan kenalkan nama saya Gadis Ginanti ini first flight saya mohon bimbingannya mbak, mas!"

"Ih santai aja lagi Dis, nggak usah tegang gitu, kaya kita-kita ini kanibal aja. Kita ini baik kok, tenang aja first flight kamu ini, bakalan jadi flight yang nggak akan kamu lupain!"

"Kaya iklan aja Lo Han hehehe... tapi bener kata Farhan Dis, nggak usah tegang. kalau Lo tegang nanti kerjanya malah berantakan. Yang penting kerja sesuai S.O.P aja Dis" Mbak Santi dan mas Farhan yang tampaknya lebih senior dari Mbak Dini dan Mbak Risa mencoba menenangkan aku yang terlihat tegang dan gugup.

"Akhirnya ada juga senior yang baik" batinku dalam hati, aku tersenyum spontan.

"Mohon bimbingannya ya Mba Santi dan Mas Farhan" Mbak Santi dan Mas Farhan membalas senyumanku.

Percakapan kami terhenti dengan datangnya Captain Joko bersama seorang pilot trainee.

"Hallo Selamat Pagi" Captain Joko yang terkenal tegas dan berwibawa menyapa kami terlebih dahulu.

Captain Joko merupakan seorang instructor Pilot yang juga menjabat sebagai manager operasi di maskapai kami.

"Selamat pagi Captain, mas" Semua serempak menyambut greeting Captain.

"Loh Raditya belum datang Din?" Captain Joko menanyakan keberadaan mas Raditya yang tidak terlihat di ruangan ini.

"Belum Captain"

"Ya sudah kita tunggu sebentar lagi. Oh iya kenalkan ini Bayu, dia akan saya guiding hari ini"

Semua segera menghampiri dan berkenalan dengan pilot trainee yang sedang berdiri di samping Captain Joko.

Kemudian suara laki-laki memecah perhatian mereka.

"Selamat pagi semuanya...." pemilik suara itu bergegas masuk ke dalam ruangan.

"Maaf Captain, ada kecelakaan di tol jadi saya datang terlambat"

"Maaf ya semuanya" Raditya tersenyum dan meminta maaf kepada Captain dan seluruh crew-nya

"No problem Dit! Ok untuk menjaga on time performance mari kita mulai pre-flight briefing-nya" Captain Joko mengalihkan perhatianku yang masih tertegun menatap mas Raditya yang ternyata juga sedang memandangiku.

✈️✈️✈
️

"Dis, coba kamu cek lavatory lagi, amenities-nya habis nggak? Captain mau ke lavatory katanya"

"Baik Mbak"

Baru saja aku keluar dari lavatory, perintah berikut sudah menanti.

"Dis kamu buatin black coffee buat Mas Raditya ya!"

"Pakai Gula nggak mbak?"

"Kamu nih, masa gitu aja nanya, kalo Black Coffee itu yaa plain nggak pakai sugar masa gitu aja nggak ngerti kamu!"

"Iya maaf mbak, saya hanya ingin memastikan saja"

"Sudah... cepat sana buatin, dia udah minta sama saya dari tadi"

"Baik mbak, saya buatkan dulu"

"Kalau sudah... Langsung kamu anter ya, nanti saya yang minta izin masuk. Sekalian bilang Captain Lavatory-nya sudah kosong"

Belum lama mbak Dini memberikan perintah, pintu flight deck terbuka.

"Saya minum kopinya di sini saja Din, Oya Din kamu dipanggil Captain!" mas Raditya mengambil paper cup yang berisi kopi dari tanganku.

"Ya sudah Dis... Saya saja yang ke dalam, kamu standby di sini ya!" Mbak Dini masuk ke dalam flight deck Dan meninggalkanku dengan mas Raditya.

"Ini first flight ya, Mbak Gadis?" Mas Raditya membuka pembicaraan denganku.

"Iya Mas"

"Hmmm" Mas Raditya mengerenyitkan dahinya "Mbak Gadis, boleh saya minta ditambahkan gula, ternyata kopinya terlalu pahit untuk saya"

Senyum menawan yang menghiasi wajah tampannya membuatku teringat seseorang. Aku menjadi gugup dan jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya.

"Oh iya boleh mas, mau 3 atau 4 gulanya mas?" Kegugupan membuatku menjadi irasional.

"Saya belum mau kena diabet mbak Gadis" Kekehan kecil terlontar dari mulutnya, kemudian ia melanjutkan "Satu saja saya rasa cukup...."

"Oh iya maaf, maaf mas... Sebentar saya ambilkan gulanya"

"Terima kasih" mas Raditya tersenyum.

Sekilas sentuhan dari mas Raditya, ketika mengambil gula dari tanganku membuat detak jantungku kembali tidak beraturan.

"Jangan bodoh Gadis, ini Raditya bukan Raka, hanya sedikit mirip" aku berusaha menenangkan jantungku yang makin lama makin sulit nurut dengan otak warasku.

"Ya sudah mbak Gadis, saya ke Lavatory dulu ya, terima kasih untuk kopinya" Raditya memberikan kopinya untuk dibuang.

"Iya mas" Dengan cepat aku mengambil kopi itu dan berusaha untuk menghindar bersentuhan tangan dengannya.

Setelah mas Raditya masuk ke dalam Lavatory aku memaki dalam hati.

Aduh bodoh sekali aku ini, memalukan sekali! Di depan mas Raditya kenapa aku salah tingkah begitu! Padahal ia hanya meminta gula saja, bukan meminta nomer telepon atau menanyakan kehidupan pribadiku! Dasar norak kamu Gadis, Ndeso!

✈️✈️✈
️

Akhirnya penerbangan perdanaku berakhir juga. Setelah beberapa kali kena marah oleh Mbak Dini dan Mbak Risa, akhirnya siksaan ala senior-junior ini berakhir. Setelah penumpang selesai disembark, kami mengadakan postflight briefing dan segera menuju hotel tempat kami menginap.

Lobby hotel bintang 4 ini tampak megah di mataku, beberapa kali aku melihat sekeliling dan mengucap syukur - akhirnya aku bisa jadi pramugari beneran seperti cerita-cerita Rini sahabatku, tentang kehidupan Pramugari.

"Enak loh Dis jadi Pramugari! aku lihat kakakku tiap hari bisa traveling gratis. Makan pagi di Australia, makan siang di Denpasar dan makan malam di rumah hehehe... Belum lagi setiap uang terbang turun pasti deh belanjaannya berplastik-plastik. Belum lagi hampir semua hotel bintang 4-5 sudah di coba ini Dis"

Ah aku jadi ingat percakapanku dengan Rini. Bagaimana first flight dia ya, apakah sama dengan first flightku? MENYENANGKAN pikirku.

Ini adalah awal dari langkahku sebagai seorang Pramugari, aku akan menikmati setiap detik dari prosesnya, karena ini adalah esensi dari hidup yaitu mensyukuri setiap nikmat yang kita dapatkan.

Setelah lama melamun, lamunanku buyar oleh ajakan Mbak Santi untuk menuju kamar kami. Sesuai dengan prediksiku duo nyinyir itu cepat-cepat menyingkir menuju kamar untuk bersiap menjalankan rencana mereka malam ini. Dan aku mengucapkan syukur karena mendapatkan Mbak Santi sebagai roomie-ku malam ini.

"Dis... Lo mau tidur disisi sebelah mana?"

"Kalau aku terserah mbak Santi saja, di mana saja boleh mbak"

"Bener nih! Ya udah gw tidur di dekat tembok ya! Gw nggak bisa tidur kalau nggak tidur mepet tembok"

"Iya mbak, aku di mana saja mbak, bener nggak apa-apa kok mbak!"

"Ya sudah gw pakai kamar mandi duluan ya Dis, gw nggak bisa tidur kalau nggak mandi, rasanya pliket bagaimana gitu!"

"Iya mbak sama, Gadis mau rapihin koper dulu aja, nggak apa-apa mbak, pakai saja duluan mbak!"

Mbak Santi masuk ke dalam kamar mandi dan tidak lama terdengar suara pancuran air mengalir.

Aku memandang kamar hotel yang terlihat cukup besar dan nyaman ini "Jadi ini rasanya jadi orang kaya, tidur di kamar yang nyaman, bersih dan wangi" ini adalah kali pertama aku berada di sebuah kamar hotel.

"Coba ibu punya hp, aku mau cerita tentang pengalaman terbang pertamaku" Nanti kalau aku sudah gajian, aku akan membelikan ibu hp" Angan-anganku mulai merinci apa saja yang akan aku belikan untuk ibu ketika gajianku nanti.

Pintu kamar mandi terbuka dan dengan cueknya Mbak Santi keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan bra dan celana dalam.

"Dis... Gw sudah selesai pakai kamar mandi, Lo nggak jadi mandi?"

"Iya sebentar lagi mbak, aku mau ambil baju tidur dulu mbak"

"Eh Lo nggak keberatan kan kalau gw tidur cuma pakai bra dan cd aja? Gw nggak betah kalau pakai baju saat tidur, gerah Dis!"

"Kita dinginkan saja suhu ruangannya mbak, nanti aku bisa tidur pakai selimut" setelah lama aku menjadi pramugari baru aku tahu itu bukanlah selimut, tetapi bed cover namanya.

"Nggak Dis bukan gerah karena AC nya nggak dingin, Gw nggak biasa tidur pakai baju"

"...."

Melihatku yang hanya terdiam dan melongo mbak Santi mulai tertawa.

"Hahaha... Aneh ya gw? Udah kebiasaan sejak lama sih, jadi susah dihilangin. Gw aja pernah dilaporin ke Chief sama salah satu FA, katanya risih kalau sekamar sama gw, karena gw suka naked kalau tidur. Gw dituduh lesbi lah, nggak normal lah. Gw sih gak peduli ya. Gw jelasin aja sama Chief kalau gw nggak bisa tidur, terus akhirnya kurang istirahat malahan bisa jadi hazard di flight. Akhirnya Chief nyerah, dia cuma ngasih advice aja. Gw mesti liat-liat roommate dulu, kalau ada yang keberatan, gw disuruh tidur pakai handuk atau kimono hahaha...."

"Nggak kok mbak aku nggak keberatan, aku cuma belum pernah ketemu orang yg tidur nggak pakai baju mbak, maklum mbak, Gadis kan orang kampung mbak"

"Jangankan elo Dis, orang kota aja kaget! Pernah ada teman angkatan gw yang bilang, nggak takut apa nanti disetubuhi jin?"

"Gw jawab aja, asal nggak hamil nggak apa-apa! Hahaha"

Aku hanya tersenyum kikuk menanggapi kecuekan seniorku ini.

"Ya sudah mandi sana Dis, nanti keburu malam"

"Iya mbak, Gadis pakai kamar mandinya dulu ya mbak"

"Memang unik seniorku yang satu ini, meskipun terlihat cuek tetapi hatinya lebih baik daripada kedua seniorku yang terlihat santun tapi ternyata... Yah kalian bisa membuat penilaian sendiri" aku bergegas berpakaian dan keluar dari kamar mandi. Ruangan terlihat temaram hanya satu lampu kamar yang menyala di dekat meja kerja, ternyata mbak Santi sudah lebih dahulu terlelap. Suara dengkur halus samar-samar terdengar, aku berhati-hati melangkah agar tidak membangunkan tidurnya. Aku mencari ponselku di dalam handbag dan mengecek apabila ada pesan atau telepon yang masuk. 3 panggilan tidak terjawab dari sebuah nomer yang tidak aku kenal. Tidak lama nomor itu kembali melakukan panggilan telepon. Karena rasa penasaran aku segera bergegas keluar kamar untuk menjawab panggilan telepon itu.

"Hallo" suaraku menyapa dengan ragu-ragu.

"Dis ini pakde No, ibumu masuk rumah sakit lagi Dis?"

"Masya Allah Pak De, bagaimana keadaan ibu sekarang pakde?"

"Ibu sudah agak baikan, tapi nanti ibumu tinggal di rumah pak de saja dulu, dokter masih larang ibumu untuk kerja berat-berat dulu"

"Iya pakde Gadis sudah larang ibu buat jualan, Gadis pasti kirim gaji Gadis untuk ibu, tapi ibu bilang ibu malah sakit-sakitan kalau tidak berjualan. Boleh Gadis bicara sama ibu Pakde"

"Ibumu sudah tidur, besok saja kamu telepon ke sini Dis"

"Iya pakde, besok Gadis telepon lagi, Gadis minta tolong jaga ibu, maaf merepotkan pakde"

"Iya Dis, kamu hati-hati di sana"

"Iya pakde waalaikum salam" baru saja aku menutup telepon, suara laki-laki mengagetkanku.

"Ibumu sakit?" Suara yang bernada khawatir.

Aku menoleh melihat pemilik suara itu "Eh iya mas Raditya"

"Maaf nggak maksud nguping tapi saya baru keluar kamar mau cari makan. Kamu sudah makan?"

"Oh iya terima kasih mas, saya tidak biasa makan malam"

"Iya sih biasanya FA takut gendut ya kalau makan malam, takut digrounded"

Aku hanya tersenyum menanggapi komentar mas Raditya yang tidak sepenuhnya benar, tidak benar karena aku tidak takut gemuk tetapi karenaΒ  nafsu makanku menghilang ketika mendengar ibu sakit. Dan memang benar kita pramugari dituntut untuk menjaga berat badan ideal agar tidak di grounded kantor.

"Mas Raditya, saya kembali ke kamar dulu ya" aku pamit dan hendak beranjak pergi.

"Dis... Tunggu!"

Lagi-lagi suaranya kembali mengingatkanku pada orang itu. Aku menoleh dan menaikkan alisku "Iya Mas, ada apa?"

"Oh enggak sih, mau nanya aja boleh aku minta nomer kamu? Aku belum izin Captain, jadi kalau ada apa-apa dan Captain cari aku, boleh kamu kabarin aku?"

"Oh iya mas" kami saling bertukar nomer dan kembali aku pamit kepadanya.

"Sekarang saya masuk ya Mas"

"Iya terima kasih Dis" senyumnya terkembang dan aku segera menutup pintu kamar dengan hati-hati.

Berbaring di twin bed-ku yang empuk, mataku tidak kunjung menutup "Ya Allah... Kenapa aku ini, itu hanya senyuman tanda terima kasih saja darinya. Jangan berpikir yang aneh-aneh Gadis! Sudah tidur Dis... besok kamu harus bangun dan mandi lebih awal dari seniormu, itu adalah peraturan tidak tertulis disini"
Otakku berkali-kali mengirimkan peringatan kepadaku.

Aku makin merapatkan mata berusaha untuk tidur dan tidak GR terhadap sikap Raditya.

✈️✈️✈
️

https://www.kaskus.co.id/show_post/5...508b4567/657/-INDEX
Diubah oleh annastasia81 05-11-2021 21:44
azhuramasdaAvatar border
motherparker699Avatar border
yusrillllllAvatar border
yusrillllll dan 178 lainnya memberi reputasi
173
521.5K
3.1K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThreadβ€’52.5KAnggota
Tampilkan semua post
annastasia81Avatar border
TS
annastasia81
#115
Bab 3 - Layover Pertama
Pak Dahlan driver maskapai yang mengantarku kembali ke tempat kos ku membantu menurunkan koper dari bagasi mobil.

"Selamat istirahat mbak" senyumnya terkembang ketika aku menyelipkan lembaran uang di tangannya sebagai tips mengantarku.

Turun dari mobil jemputan, aku menarik koperku dengan setengah bertenaga menuju kamarku.

"Assalamualaikum" aku mengucapkan salam kepada kamar kosong yang ku tinggal layover semalam. Ah sungguh lelahnya, bukan aku mengeluh karena lelah melayani penumpang hari ini, tetapi karena lelah menahan diri dari semua emosi yang bergejolak. Menahan diri dari senior nyinyir macam mbak Risa dan mbak Dini dan juga dari mas Radit yang selalu membuatku salah tingkah.

Andai saja ibu ada disini pasti aku langsung merebahkan kepalaku di pangkuan ibu dan ibu pasti akan membelai sayang rambutku. Ah ibu...

"Sebaiknya aku langsung mandi, setelah itu menelepon ibu" akan tetapi aku ingat saran instruktur untuk tidak langsung mandi setelah pulang terbang agar tidak mudah sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon ibu terlebih dahulu. Aku mengambil ponsel dari handbag dan mencoba mencari riwayat last call dari pakde.

Belum sempat aku me-redial nomer pakde, ponselku berbunyi dan tertera nama mas Raditya disitu. Ragu-ragu aku mempertimbangkan apakah akan mengangkat teleponnya atau tidak. Akhirnya aku pikiran warasku memutuskan untuk membiarkannya. Sehingga ponselku terus menjerit meminta untuk mengangkat panggilan itu. Setelah beberapa kali, panggilan itu akhirnya menyerah dan memilih masuk melalui pesan.

"Selamat istirahat Gadis" pesan singkat beserta icon smile yang membuatku galau dan akhirnya memutuskan untuk mandi dan tidak jadi menelepon pakde.

Selesai mandi dan berpakaian, aku mencoba menghubungi pakde No, mungkin karena pakde sudah tidur sehingga panggilanku tidak dijawabnya.

Aku membuka koperku dan mulai mengeluarkan pakaian dalam kotor yang tidak aku laundry di hotel.Β  Aku memilih mencuci pakaian dalam ku sendiri meski jasa laundry dibayarkan oleh kantor.

Aku menata koper dan mengecek kelengkapan untuk terbang besok. Koper kami memiliki check list item yang harus dibawa terbang. FAM (Flight Attendant Manual), spare seragam, pakaian tidur, pakaian resmi dan santai, sepatu, sandal, alat-alat mandi dan make up, semua tersusun rapi di dalam koper dan travel bag.

Setelah selesai merapikan perlengkapan terbangku. Aku berbaring di ranjang. Mengambil ponsel dan menghidupkan alarm. Schedule-ku besok adalah layover di Makassar.

Setelah selesai menghidupkan alarm, aku menekan tombol galeri dan mulai melihat-lihat koleksi fotoku di Solo. Fotoku dengan ibu, dengan keluarga pakde No, foto-foto wisuda di SMA ku dan fotoku bersama Raka. Aku menyisakan satu foto bersamanya, sebagai pengingat tujuanku berada di sini.

Pikiranku kembali melayang kepadaΒ  Raka. Masa-masa pacaran kami yang indah hingga kedatangan ibunya yang akhirnya membuatku berada di sini. Lama ku habiskan waktu untuk melamun hingga wajah Raditya yang tersenyum mengetuk ingin ikut masuk ke dalam pikiranku.

"Sudahlah tidur saja Dis... Ini efek kesepian tinggal di kos sendirian" pikirku. Aku mulai memejamkan mata dan tidak lupa berdoa agar pikiranku tidak aneh-aneh lagi.

✈️✈️✈
️

Bandara Soekarno Hatta pagi ini terlihat mendung, matahari masih nyaman berlindung di balik awan.

Semua crew sudah datang dan diantara mereka, aku melihat mas Radit. "Pasti ada perubahan schedule, karena seharusnya co-pilot nya adalah mas Agung bukan dia. Mungkin mas Agung tidak bisa menjalankan schedule karena sakit" gumamku dalam hati.

Crew-ku mulai bersalaman satu sama lainnya dan sampai giliranku kepada mas Radit.

"Saya ikutan ya Mas" Mas Radit menjabat tanganku dan tersenyum.

Setelah pre-briefing selesai kami menuju ke mobil yang mengantarkan kami ke garbarata pesawat. Aku menaruh handbag-ku di drawer dan mulai melakukan pre-flight check. Setelah selesai me-report bahwa semua equipment dalam kondisi baik, mas Hasan selaku senior awak kabin memintaku untuk standby di galley depan sebelum boarding. Mas Radit keluar dari Flight Deck.

"Dis" ia menepuk bahuku lembut.

"Iya mas... ada yang bisa saya bantu?"

"Tadi malam kamu sudah tidur ya? Maaf ya kalau ganggu"

"Iya tidak apa-apa mas"

"Ini buat kamu" Mas Radit memberikan kantong plastik duty free kepadaku.

"Apa ini mas?"

"Coklat, kemarin papaku baru pulang simulator bawain coklat, tadinya mau ku kasih sepupuku di Surabaya tapi aku di reroute jadi buat kamu aja ya"

"Hmmm..."

"Awas nolak loh! Ya sudah saya masuk dulu ya, sudah mau boarding sepertinya"

"Terima kasih mas"

Mas Radit hanya membalasnya dengan tersenyum.

✈️✈️✈
️

Penumpang telah dipanggil untuk boarding dan kami mulai membantu penumpang untuk mencari kursinya. Aku mulai membagikan infant life vest dan infant seatbelt kepada ibu yang membawa infant. Tidak lupa juga mem-briefing ibu yang membawa infant tentang prosedur yang harus dilakukan jika terjadi emergency dan mengingatkan untuk tidak membawa pulang infant life vest. Pernah terjadi di maskapai lain penumpang yang baru pertama kali terbang membawa pulang infant life vest karena dipikirnya itu adalah suvenir dari pramugari untuk bayinya. Mungkin pramugari itu lupa untuk memberitahukan atau si penumpang tidak mengetahui bahwa baju pelampung hanya digunakan untuk keadaan darurat di pesawat.

Setelah fasten seat belt sign off, Kami mulai menjalankan peran kami masing-masing. Mas Hasan memintaku membantunya untuk assist cockpit dengan alasan - lebih luwes perempuan untuk melayani Captain dan co-pilot untuk makan dan minum.

Aku menawarkan dua pilihan menu makanan yang berbeda kepada Captain Muhammad dan mas Radit. Captain memilih menu omelette berarti mas Radit harus mengambil menu nasi goreng untuknya. Alasan pilot harus memakan dua jenis menu berbeda adalah jika salah satu pilot keracunan makanan maka diharapkan pilot yang lain baik-baik saja karena memakan jenis menu yang berbeda. Tapi tidak semua se-profesional Captain Muhammad dan mas Radit, banyak juga yang meminta disiapkan menu yang sama dengan pilot di sebelahnya. Memang hampir tidak pernah terjadi di Indonesia, pilot yang mengalami keracunan makanan di pesawat, jadi masih ada saja pilot nakal yang tidak mematuhi SOP ini.

Aku memberikan tray berisi makanan kepada Captain melalui sisi sebelah kiri, sisi mana yang tidak banyak terdapat instrumen pesawat.

"Mbak Gadis, saya sudah selesai makan. Setelah mbak menaruh tray, saya ingin ke lavatory ya. Prosedurnya salah satu FA harus menemani pilot di Flight Deck ya mbak" Captain Muhammad mengingatkanku tentang prosedur ini.

"Baik Captain, saya taruh dulu tray ini. Nanti saya kembali lagi"

Setelah menaruh tray, aku segera kembali. Sementara Captain pergi ke lavatory aku duduk dalam diam menatap awan dari windshield di depanku. Selesai berkomunikasi dengan ATC mas Radit menoleh kepadaku.

"Kamu sudah pernah ke Makassar belum Dis?"

"Belum pernah mas"

"Mau temenin aku jalan nggak nanti. Kita ajak crew yang lain juga"

"Nanti Gadis tanyakan sama mbak dan masnya dulu ya mas"

"Ok"

"Mas mau saya buatkan minum apa?"

"Saya masih punya mineral water kok di sini" Mas Radit menunjukkan botol mineral water-nya yang masih terisi penuh.

"Baik mas kalau begitu saya siapkan makanan mas"

"Nggak usah Dis. Saya masih kenyang. Nanti kita kan mau jalan, kita makan dil uar aja"

"Iya mas nanti.." "Nanti kamu tanya sama mbak dan masnya dulu kan" Mas Raditya meniru ucapanku kemudian dia tertawa kecil.

"Kamu masih kaku aja Dis, ini kan second flight kita"

Melihatnya tertawa seperti itu membuatku ingin tersenyum.

"Nah gitu dong jadi makin cantik" Pujiannya makin membuat senyumku semakin sumringah.

✈️✈️✈
️

Kami sudah berada di kamar masing-masing. Kali ini, aku tidur sendiri karena terdapat dua pramugara dalam penerbangan kami, sehingga terdapat satu pramugari yang tidak mendapatkan roommate.

Telepon kamarku berbunyi.

"Hallo selamat malam" sapaku di telepon.

"Dis ini aku"

"Oiya mas Radit ada apa?"

"Jadi kan nemenin aku jalan?"

"Aku sudah tanya mbak dan masnya nggak ada yang mau jalan. Sudah bosan jalan di Makassar katanya"

"Ya udah kita aja Dis"

"Hmmm..."

"Please temenin aku makan ya! aku belum makan loh di pesawat"

"Makan aja kan mas?"

"Iya nanti aku izin sama Captain, kamu izin sama mas Hasan aja. Apa perlu aku yang telepon mas Hasan?"

"Biar Gadis saja mas"

"Setengah jam ya Dis, aku tunggu kamu di lobby"

Aku melihat ke sekelilingku mencari sosok Raditya dan disanalah dia, berdiri melihatku tersenyum. Senyumnya menular kepadaku.

"Sudah siap?"

"Siap?"

"Siap naik kendaraan favoritku disini"

"Motor?" Aku mulai menebak

Ia menggeleng "Bukan Dong, di Solo banyak kok"

"Mobil"

"Bukan, yuk lihat sendiri" ia meraih tanganku dan mulai menggenggamnya.

"Ini"

"Becak?"

"Iya becak, nggak apa-apa kan?"

"Hahaha iyaa tidak apa-apa dong"

"Bentar yaa aku tawar dulu"

"Hahaha masa pilot nawar, nggak pantes mas. Biar Gadis yang tanya harganya saja"

"Jangan dong, kan aku yang ngajak, kamu berdiri di sini aja ya"

"Pak... Ke pantai Losari berapa"

"30ribu"

"Ok 50 RB ya pak" Ia mengeluarkan uang dari dompetnya. Dan aku spontan tertawa.

Ia ikut tertawa, hanya bapak pemilik becak yang diam, aneh melihat kami yang tiba-tiba tertawa.

Kami memilih makan ikan bakar di restoran dekat pantai. Mas Radit banyak bercerita tentang dirinya. Usianya yang terpaut 5 tahun denganku, zodiaknya dan bahkan musik jazz favoritnya dengan bangga dibeberkannya. Aku menyukai caranya bercerita, penuh percaya diri dan menarik orang yang mendengarnya ke dalam kisahnya.

"Bagaimana mau kemana lagi kita?"

Aku mengangkat bahuku "Terserah tour guide-nya aja deh"

"Kok nggak ada perlawanan gitu Dis! Hehehe"

"Ya sudah, kita jalan ke situ saja yuk. Kelihatannya asyik melihat itu!"

"Ke tulisan PANTAI LOSARI itu? Ok deh Yuk...." kembali mas Radit menggandeng tanganku menuju tempat yang aku tunjuk.

"Dis aku boleh tanya nggak?"

"Hmmm... Tanya apa?"

"Kamu memang cantik dari lahir ya?"

"Ah mas Radit ini kirain mau nanya apa"

"Nggak deh cuma bercanda aja. Nggak jadi bilang cantik" dia tampak tersenyum usil.

Aku hanya tertawa kecil.

"Mas Radit kita pulang yuk, sudah malam Gadis takut di telepon mas Hasan ke kamar"

"Yuk... Tapi jangan maksa naik becak lagi ya, abangnya udah pada bobo. Kita naik taksi aja" Lagi-lagi ia menggandeng tanganku. Dan aku membiarkannya.

Sampai di depan kamarku, barulah ia melepaskannya. "Selamat istirahat ya Gadis. Terima kasih sudah nemenin makan" senyumannya tampak menawan.

"Terima kasih sudah diajak naik becak ya mas Radit" sikapku sudah tidak lagi kaku dihadapannya. "Aku masuk ya mas"

"Selamat malam Gadis, jangan mimpiin aku ya"

Seketika aku tertawa spontan "Ih GR... Hahaha Selamat malam mas" aku pun menutup pintuku dengan hati berbunga-bunga.

✈️✈️✈
️

Aku mulai semakin terbiasa dengan job desk ku sebagai FA. Aku mulai melakukannya dengan enjoy, tidak seperti penerbangan pertamaku.

Begitu juga dengan mas Radit, berada dekatnya tidak lagi membuatku salah tingkah. Semakin lama aku berbicara dengannya semakin aku nyaman berada di dekatnya.

"Dis... Aku antar pulang ya? Aku bawa mobil sendiri kok"

"Terima kasih mas Radit tapi Gadis naik mobil jemputan aja"

"Awas ya nolak nanti aku geret kamu se koper kopernya ya hehehe"

"Takut dilihat senior Gadis mas!"

"Udah nggak apa-apa yuk" ia hendak mengandeng tanganku, tapi aku menolaknya halus.

"Iya mas Gadis ikut"

Sore itu langit tampak cerah dari kaca Rubiconnya yang melaju kencang membelah kota Jakarta"

"Sudah lama kamu tinggal di sini?"

"Dari sejak aku pindah ke Jakarta"

"Ok Dis selamat istirahat ya"

"Terima kasih mas Radit" aku menjawab lambaian tangannya dan menutup pintu.

✈️✈️✈️


Setelah mandi, aku membuka kantong duty free berisi coklat dari Mas Radit
Isinya bermacam-macam coklat dengan rasa yang berbeda white dan Hazelnut Chocolat, belum lagi coklat yang berisi wine di dalamnya. Aku mencicipi satu coklat dengan kacang almond di dalamnya sambil memikirkan orang yang memberinya. "Hmmmm manis"

Drrrttt... Drrrttt... Ponselku bergetar, speaking of the devil ternyata mas Radit yang memanggil.

"Hallo..."

"Hallo Gadis... Lagi apa?"

"Lagi makan mas"

"Pasti lagi makan coklatku yaa!"

"Ah enggak kok" aku melihat berkeliling kok dia bisa tahu aku lagi makan coklat pemberiannya "Lucky Guess"

"Terus makan apa dong?"

"Yaa makan, makan tempe"

"Ah masa cuma makan tempe aja, Dis nggak kenyang nanti. Eh Dis kamu keluar deh bulannya lagi bagus"

"Keluar kosan?"

"Iya keluar dong, keluar yaa"

"Iyaa iyaa aku keluar" aku memakai cardiganku dan membuka pintu untuk keluar kamar.

"Surprise" sebuah buket mawar merah muda dia berikan ke tanganku. Mas Radit tersenyum "Suka nggak?"

Aku mengangguk dan mencium buket bunga yang sangat cantik itu.

"Cantik seperti kamu" senyumnya semakin menawan.

"Terima kasih ya" tanganku meraih tangannya. Ia membalas dengan mengenggam erat jari-jariku.

"Mau masuk ke dalam mas?"

"Sudah malam kamu pasti mau istirahat kan? Besok kamu terbang kemana Dis?"

"Besok aku terbang vendel mas"

"Aku jemput ya, besok aku day off"

Aku mengangguk menjawabnya.

"Selamat malam Gadis"

"Selamat malam mas Radit"

"Tunggu Dis"

"Apa mas?"

Cup... Mas Radit mengecup lembut pipiku "Terima kasih ya" Dia tersenyum menggodaku dan beranjak pergi meninggalkanku yang masih berdiri di tempat.

"Daaahh Gadis" Tidak lupa ia melambaikan tangannya dan meneriaki namaku ketika mobilnya berlalu.

"Raditya... Nama yang mulai mengisi hatiku"

✈️✈️✈
️

Sejak malam itu mas Radit sering menjemputku jika ia tidak terbang atau jika kebetulan schedule landing kami berdekatan. Ia selalu menemuiku setelah pulang terbang meski hanya sebentar, hanya untuk memberikan bunga atau kejutan-kejutan kecil lainnya. Dan selalu berakhir dengan kecupan kecil di pipiku.

WhatsApp-nya masuk ketika aku sedang memikirkannya.

"Kita ke Bandung yuk Dis?"

"Kapan?"

"Besok, kamu DF kan? Aku tukeran schedule sama mas Roy"

"Sehari aja?"

"Memang Gadis mau diajak nginep? πŸ˜‹"

"PP aja, besoknya aku terbang malam"

"Deal! Besok pagi Abang jemput ya!"

"Abang Ojek? πŸ˜‚"

"😑"

"Marah? Maaf 😭"

"Eh eh sorry... salah kirim itu buat mbak mugari yang lain πŸ˜‹"

"Radit 😠😠😠"

"Hehehe bercanda cinta 😘😘😘"

"See you tomorrow"

"Kok nggak pakai ❀️❀️❀️"

"Iya... see you tomorrow mas Raditku 😘"

"😘😘😘😘"

✈️✈️✈
️

"Aku mau ajak kamu ke kawah putih ya"

"Sebentar aku Googlingdulu yaa, mau lihat kaya apa tempatnya"

"Pokoknya romantis deh... trus disana Dingin, jadi nanti kamu pelukin aku ya, biar aku nggak kedinginan. Kan aku udah nyetirin kamu sampai sini"

"Ih jadi cowok perhitungan banget, aku kan nggak bisa nyetir"

"Iyaa dong masa aku di pesawat nyetir di darat nyetir juga, makanya Gadis harus baik sama aku" dia tertawa menggoda.

"Iya iyaa aku baik sama kamu" aku mencium pipinya dan mengusap bekas lisptikku yang tertinggal di sana.

Ia meraih tanganku, mengenggam tanganku erat sedangkan satu tangan yang lain berada di setir mobil.

✈️✈️✈
️

"Sayang, kita istirahat di situ aja yuk?" Mas Radit menunjuk sebuah hotel sekembalinya kami dari kawah putih.

"Kamu belum makan kan? Nanti aku pesenin aja biar di antar ke kamar"

Aku bingung untuk menjawabnya tapi akhirnya aku mengiyakan juga setelah untuk kesekian kali mendengar mas Radit mengeluh capek dan ingin beristirahat sebentar.

Kamar itu cukup bagus untuk ukuran boutique hotel, mas Radit langsung memesankanku makanan ketika kami check in tadi. Sambil menunggu aku makan, dia merebahkan tubuhnya di ranjang.

Aku memperhatikan wajahnya yang sedang tidur, hidungnya yang mancung dan wajahnya yang tampan membuatku ingin membelai wajahnya.

"Kamu sudah bangun" matanya perlahan terbuka.

"Aku kangen kamu" Ia memelukku membuatku berbaring bersamanya.Ia mengecup bibirku pelan. Memandangi dan membelai wajahku, ia kembali menciumku. Kami berciuman cukup lama. Meski ini bukan ciumanku yang pertama tetapi ciumannya memabukkanku dan membuatku lupa diri. Ia semakin mendominasi, menciumi setiap inci tubuhku dan mulai membuka pakaianku..........................................

SenSor emoticon-Hansipemoticon-Hansipemoticon-Hansip

✈️✈️✈
Diubah oleh annastasia81 29-12-2018 22:28
gajah_gendut
Tika1909
JabLai cOY
JabLai cOY dan 25 lainnya memberi reputasi
26
Tutup
Ikuti KASKUS di
Β© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.