- Beranda
- Stories from the Heart
Berbeda Agama
...
TS
natgeas2
Berbeda Agama
~Berbeda Agama~
Saya cuma seorang anak penjual pastel yang mencoba mencari peruntungan untuk mengubah nasib dimulai dengan kuliah di Universitas Gedhe Mbayare, salah satu kampus tertua di yogyakarta bahkan di indonesia. Langkah yang cukup berani menurut saya, karena bagi seorang anak penjual pastel yang penghasilannya hanya cukup untuk sehari-hari, tidak sedikit yang mencibir bahkan memandang rendah bahwa saya dan keluarga tidak akan mampu menyelesaikan kuliah saya.
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata
Udah segitu aja, karena saya bingung mau bikin prolog apa, ga pernah bikin prolog, ngikutin thread lain bagus-bagus prolognya, tapi saya ga bisa ternyata

Daftar Karakter :

Arjuna
Karakter saya, ya bisa dilihat potongan saya seperti gambar diatas, tinggi, tegap, kepala cepak. ya walaupun gak mirip-mirip banget sama pak miller, tapi karena banyak orang yang bilang saya mirip pak miller ini, maka saya pasang saja foto pak miller sebagai representasi diri saya.

Ibu&Ayah
Ibu saya bernamaSri Hartuti, ayah saya bernama lengkap Hendrikus Leon. ibu ras jawa, ayah ras indonesia timur. mereka berbeda agama, walaupun pas nikah ayah pindah menjadi muslim, tak beberapa lama setelah menikah ayah kembali ke keyakinan asalnya. Ayah saya dulunya pengusaha kontraktor di bidang maintenance elektrikal, namun saat ini nganggur. ibu saya penjual pastel yang dititipkan di setiap warung sarapan pagi disekitar rumah.
Adik-Adik
Saya punya dua adik, satu bernama Desi, perempuan usianya lebih muda dari saya yang lebih mirip ayah saya warna kulitnya sehingga sering dipanggil Rihanna, dan satu lagi Henrysepuluh tahun lebih muda dari saya, walau secara kasat lebih mirip ayah, namun warna kulitnya mengambil warna kulit ibu.

Annisa
Perempuan idaman saya, berjilbab walaupun menurut sebagian manhaj tidak syar'i jilbabnya. wajahnya teduh, adem. siapapun yang memandangnya pasti akan jatuh cinta dengan wajah sendu-sendunya. pipinya bisa sangat merah jika tertawa dan malu.

Ibu dan Ayah Annisa
Ayahnya bernama santoso, seorang pengacara yang cukup terkenal di jakarta. ibunya, kita panggil saja ibu. ayahnya merupakan teman baik ayah saya dan ibunya merupakan teman satu kampung masa kecil ibu saya.

Dhanin
Walaupun wajahnya agak oriental, namun dhanin bukan lah ras china atau keturunan. dia lahir bandung, besar dijakarta. ayahnya seorang kristen yang taat dan seorang pengusaha besar yang bergerak dibidang properti dan perkebunan sawit. ibunya meninggal karena kecelakaan tragis di satu ruas jalan tol saat mengendarai mobil saat dhanin masih kecil.
Ayah Dhanin
Telah dijelaskan sebelumnya. oh iya tambahan, walaupun pengusaha yang bergerak dibidang properti, sebenarnya beliau adalah sarjana kedokteran hewan. keahlian bisnisnya didapat dari orang tuanya yaitu kakek dhanin yang berasal dari sumatra barat yang mempunyai bisnis kelapa sawit dan neneknya aseli bandung pengusaha properti yang masih merupakan keturunan raden patah.

Felisiana
Seorang wanita aseli solo. wajahnya khas wajah aseli cantiknya seorang wanita jawa. siapapun yang didekatnya pasti jatuh cinta dibuatnya. ayah dan ibunya adalah seniman internasional dibidang seni lukis dan fashion designer. entah mengapa dia berkuliah dijurusan teknik tidak mengikuti kedua orang tuanya.

Fauziyyah
Perempuan cantik berjilbab syar'i, walaupun kelakuannya agak sedikit maskulin. perbedaan keyakinan tidak menghalanginya menjadi "Teman baik" felisiana.
Yusuf
Teman felisiana dari SMA dulu, agak kemayu walaupun laki-laki. namun cukup bersih dan rapih dalam segala hal terutama perawatan wajah.

Annchi / Angchi
Seorang wanita chinese yang energik. salah satu anggota resimen mahasiswa kampus. kakeknya seorang pedagang terkenal dikawasan malioboro dan saya bekerja paruh waktu disana. oh iya dia menyukai salah satu teman kos saya.

Valerie
Agamis, professional, Pekerja Keras dan cantik, kombinasi sempurna dari seorang wanita idaman untuk pria yang mencari seorang istri, minus, menurut saya ya, walaupun sebenarnya bukan poin minus, pandangan islam dan politiknya bisa dibilang garis keras (PKS)
Band Saya

Ini adalah band saya yang beranggotakan enam orang,
Intan: Vokalis, badannya tinggi putih, rambutnya agak ikal dibawah dan panjang terurai, suaranya kayak mulan jameela.
Galih : Gitaris yang skillnya setingkat paul gilbert. mantap lah pokoknya ni orang.
Adi: Tambun, gemuk berkacamata, gak ganteng, tapi dialah otak dibalik semua lagu band kami.
Tanco/Ardi: salah satu personil paling tampan, putih ganteng, cuma sayang agak telmi.
Arrie: Drummer bermuka arab, walau aselinya dari sumatra utara medan.

Temen-temen Kos
Putra : Jawa timur, kalo ngomong kaya ngajak berantem bagi yang baru kenal, tapi sebetulnya baik.
Viki : Bocah gamers dari tangerang. pinter boy.
Mas Peri : Jenius. namanya memang benar2 hanya PERI, di KTPnya juga begitu, chinese.
Didit
Ternyata saudaranya fauziah, ga ada yang spesial

Myrna
Saudara kembarnya indra, campuran sunda banjarmasin, wajahnya ayu dan sangat putih, putihnya putih bening ya, bukan kaleng-kaleng apalagi pake pemutih yang bikin muka kaya zombi, macem orang-orang kota lah, dia nih cantiknya 100% natural.
Indra
Saudara kembarnya myrna, wajahnya mirip, ini laki-laki tapi cantik kalo saya mau bilangg, bersih, pinter, kutu buku, tapi doyan mabok, aduh susah dah dibilanginnya

Ciput
Si gingsul yang keibuan, pengertian dan penengah konflik yang handal
Nanti saya update lagi kalau ada tokoh-tokoh baru yang masuk dalam cerita, hehehe.. sementara itu dulu. mohon maaf jika ada kesalahan link pada index yang saya buat, karena baru dalam perapihan. biar enak dibaca awal-awalnya seperti thread2 yang lain hehehe...

Quote:
Diubah oleh natgeas2 03-01-2020 21:28
8
106K
694
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
natgeas2
#421
Matahari
badan terasa masih sangat kaku ketika saya coba mambangunkan diri saya yang masih belum berpakaian dari tempat tidur nan empuk. saya mengucek mata dan menoleh ke sekitaran ruangan berlapis wallpaper dan kayu asli yang penuh hiasan lukisan tak nampak sosok felisiana. saya mulai bertanya, apakah semalam mimpi?? tidak mungkin.. begitu terasa sangat nyata. saya mencoba meraba kasur dengan tangan saya dan memang masih terasa hangat.
saya terdiam sejenak dan langsung mengenakan baju yang sudah tersedia di lemari kecil di samping tempat tidur. satu set kemeja biru plus celana panjang yang sangat pas dengan lipatan setrika yang sangat rapih lengkap dengan gesper melingkar kecil disampingnya. mencoba memasukan baju kedalam celana, ternyata saya menyenggol sepasang sepatu hitam yang sepertinya sengaja disiapkan sepertinya. hmm.. pas sekali ukurannya.
ketika merasa sudah rapih, saya menuju keluar pintu kamar. ternyata saya ada disebuah rumah yang lumayan besar. kondisi perabotan dan sekelilingnya tidak jauh beda dengan didalam kamar. lukisan abstrak dan patung menggantung disana-sini. ternyata saya berada di lantai dua. ketika saya mencoba menuruni tangga yang memutar indah bak tangga istana jaman dahulu, saya mendapati sebuah aula besar di ujung tangga yang dihiasi dengan salib besar dengan sosok yesus tergantung dengan wajah sedih terpahat. lampu istana bercorak lilin berwarna kuning menerangi aula tersebut. nampak dua orang seperti sepasang suami istri sedang berdoa di depan mimbar yang mengelilingi salib tersebut dengan cara menyedekapkan tangan dan bersimpuh.
pasangan tersebut sepertinya menyadari kehadiran saya dan si pria langsung menuju ke arah saya. pria paruh baya tadi berjalan perlahan ke arah saya. "mas juna, kalau mau diantar kerumah mbak zizi,bilang saya saja ya" ucap pria tadi dengan baju polo bergaris abu-abu putih dengan rambut belah pinggir yang sudah mulai di jajah uban.
"iya pak, ini saya juga mau jalan, tapi kalau bapak lagi berdoa, lanjutkan saja dulu" jawab saya pelan
"saya sudah selesai mas"
"ngomong-ngomon, felisiana dimana ya?"
"sudah pergi mas, nyusul bapak dan ibu kembali, saya cuma dititipin pesan itu"
"hah? pergi?" batin saya. aduh, makin bingung, lah kemarin sore maksudnya apa? dia seperti berkata bahwa tidak akan pergi dari saya. dia berkata begitu menyayangi saya. lah kenapa sekarang tiba-tiba dia pergi lagi tanpa pesan yang jelas? apa saya salah lagi? saya merasa tidak melakukan hal yang salah malam itu. kami tertawa bersama, dia pun tertawa lepas berbalut keringat kami berdua yang membaur menjadi satu. tak ada kemarahan, bahkan kami sempat bercerita tentang awal pertemuan sampai masa-masa indah sebelumnya.
apa saya salah bicara lagi?
*****
"if i diee tomorrow illbe allright because i believe that after were gone, the spirit caries oooonnn"
suara lantunan merdu intan berbalut musik orkestra yang saya mainkan dengan melodi gitar galih yang menyayat hati, disotrsi gitar adi yang membuat riuh, alunan bass tanco yang bergetar di dada bercampur dalam gubahan wadah dan gebukan drum hasnul yang penuh semangat membuat tengah malam menjadi semakin semarak
itulah lagu terakhir yang kami bawakan dalam acara "New Year with Dream Theater Songs" bersama dua band lain yang juga selalu memainkan lagu-lagu dream theater. lagu tersebut juga menjadi konser penutup acara akhir tahun di sebuah cafe yang lumayan terkenal di bilangan kemang jakarta selatan.
"terimakasih, terimakasih" ucap saya dengan mic yang saya gunakan untuk menjadi backing vokal, "ada satu lagi lagi kalau boleh.." tanya saya kepada audience yang sepertinya masih ingin mendengar lagu dream theater kembali.
"boleh!!" ujar salah seorang menyaut dari belakang, entah siapa.
"tapi bukan lagu dream theater, ini lagi band kami dan saya yang nyanyi..."jelas saya,"boleh ya?"
"BOLEH!!" ucap suara yang berbeda dari sebelah kiri panggung dengan sedikit lebih keras.
"terimakasih, ini judulnya, matahari, sesuai dengan wanita yang saya jadikan inspirasi untuk lagu ini yang saat ini ada ditengah2 kita"
seketika lampu sorot kuning langsung mengarah kepada sosok perempuan berjilbab di tengah tengah penonton yang sedang duduk. lantunan piano yang kali ini dimainkan intan pun menjadi pengiring lagu untuk sosok yang memang dari dulu saya idamkan untuk menjadi pendamping hidup saya.
Matahari
Kuberikan sebuah lagu untukmu
Sebagai tanda cinta kasih dariku
Ku berjanji tuk setia selamanya
takan ada yang kedua dari mu...
Ku berjanji tuk setia slamanya
takan ada yang kedua dari mu..
jangan pernah kau dustai aku..
kupastikan kita selalu bersama...
Semua... kan kucobaa.. berikan yang terbaik..
takan ada... dan tak pernah kuberpaling darimu...
Matahariku
Bersinarlah..
terangi hatiku..
matahariku..
biasilah..
Seluruh hidupku...
Link lagu Matahariku
https://drive.google.com/file/d/1vCv...ew?usp=sharing
wajahnya tersipu saat saya mencapai akhir lagu. sinaran matanya mengarah sendu ke arah saya sambil tersenyum kecil. penampilan saya barusan adalah penampilan penutup disambut dengan riuh tepuk tangan yang saya tidak menyangka bahwa lagu saya ternyata bisa juga dinikmati.
Jam menunjukan pukul dua pagi. semua penonton mulai melangkah ke pintu keluar satu-persatu. tinggal beberapa krew membereskan semua alat-alat musik serta para pelayan merapihkan meja yang berantakan. saya menghampiri annisa yang sejak lagu berakhir tadi masih duduk di kursi walaupun sekarang sudah tidak duduk sendiri karena intan menemaninya.
"hei.." sapa saya.
"hai jun.."
"makasih ya udah dateng, ga nyangka" ucap saya pelan.
"Makasih sama intan tuh, yang udah kerumah jemput, bilang sama ibu bahwa mau nginep bareng dirumahnya.."
"jadi ini bohong dong ke ibu kamu?"
"demi lo tuh jun" tepuk hasnul dari belakang saya
saya tersenyum kecil melihatnya yang melemparkan senyuman setelah hasnul berkelakar.
bukan-bukan!! bukan pelarian! dari awal cerita kan memang saya menyukainya, bukan dari awal cerita bahkan mungkin sejak di alam roh sebelum terlahir kedunia saya rasa saya sudah mencintainya. felisiana gimana tuh.. katanya harus menyatu denganya. lah? diakan yang pergi.. terus saya harus gimana? mencarinya lagi? ke selandia baru? uang dari mana!!
"cinta kan butuh perjuangan jun"
"perjuangan saya juga terbatas"
"ah bisa aja lu"
"lah ngapa lu marah..."
"jadi setelah ini kamu pulang sama intan tidur dirumah intan?" tanya saya
"iya jun.. udah pagi juga nih..." jawabnya yang tampak lelah
"yaudah tan, anter ya, bawa mobil kan?" tanya saya menoleh ke intan
"iya jun.. bawa"
kami pun mengepak peralatan bermusik kami mulai dari gitarr, efek, keyboard, mic dan beberapa simbal serta dobel pedal dan tom-tom. ada satu sih yang menggelitik, sepanjang konser tadi, ada pria yang selalu menatap tajam ke annisa. saya ga tau itu siapa, namun ketika saya perhatikan dia membuang muka seperti menutupi sesuatu.
dan, ketika kami rapih-rapih, hanya ada beberapa yang tersisa dan salah satunya dia satu penonton yang masih tersisa di ujung pojok kursi melingkar sambil terus menatap ke kerumunan kami saat kami lengah. saya yang risih pun langsung berniat menghampirinya, namun annisa menggenggam tangan saya melarangnya. rupanya, dia juga sadar bahwa sedari tadi dia diperhatikan oleh orang itu.
saya mencoba mengacuhkannya, setelah selesai beres-beres kami langsung bergegas beramai-ramai meninggalkan stage setelah sebelumnya berpamitan dengan pemilik cafe.
di lorong arah pintu keluar, dan benar, ternyata pria tadi mengendap-endap mengikuti dibelakang. kami semua mempercepat langkah, dia pun ikut mempercepat langkahnya. saya yang geram menghentikan langkah dan berbalik arah. namun, diluar perkiraan, dia malah makin kencang menuju ke arah kami dan bukannya bersembunyi atau berbalik arah.
Annisa kembali menggenggam tangan saya menahan saya agar tidak melakukan hal yang irasional seperti biasanya. main pukul. ketika saya bernafsu ingin menghajarnya pria tadi menahan saya dengan gemetar.
"tunggu dulu, saya tidak bermaksud apa-apa" ucap pria tadi sambil menahan tangan saya yang hendak memukulnya.
"terus elu ngapain sejak kedatangan annisa terus ngeliatin dia?" tanya saya tegas
"udah jun sabar,"ucap tanco mencoba melerai.
"saya cuma mau kasih titipan, dari almarhum ayahnya, saya ga mungkin ngasih ini di kampus, dirumah atau ditempat-tempat yang biasanya dia kunjungi, karena pasti di pantau" ucap pria tadi yang ternyata masih muda juga dengan kumis tipis dan rambut belah pinggir.
"dipantau siapa?" tanya saya tegas
"maaf mas, saya ga bisa lama-lama ada di dekat annisa, ini" ucapnya sambil menyerahkan flashdisk berwarna biru kepada annisa yang langsung di terimanya.
"permisi mas, maaf mengganggu ya.."
pemuda tadi langsung pergi menerabas kami dengan cepat meninggalkan kerumunan kami yang masih meninggalkan banyak pertanyaan tentang apa isi flashdisk yang diberikan barusan.
"kamu gapapa kan nis?" tanya saya.
"gapapa jun, ayo kita pulang"
setelah beberapa saat gamang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju parkiran. diparkiran, annisa dan intan berpisah dengan rombongan kami untuk menaiki mobil hitam mini sedan milik intan. sedankan kami menaikin mobil milik hasnul yang biasa kami sebut mobil operasional band. hehehe
"hati-hati ya tan"
"iya jun"
"kamu hati-hati ya jun" ucap annisa sambil melambai dan tersenyum
"iya..."
****
"BRAKKK BRAKK BRAKK!!! suara pintu di gedor kencang, "BUKA PINTUNYA!!!"
terdengar suara seperti marah-marah di luar. mata saya yang masih sepet mencoba dibuka karena memang saya baru tidur bada subuh tadi, dan ini masih jam tujuh. suara gebrakan dan marah-marah seorang perempuan terdengar menggema ke seluruh rumah saya yang memang berukuran kecil.
"siapa sih mah?' ucap saya mengucek mata.
"SIAPA-SIAPA!! KAMU GA USAH SOK BEGO YA!!" ucap wanita itu yang ternyata setelah saya tegaskan pandangan itu ibunya annisa,"KEMANA ANNISA?"
"hah?" saya masih kebingungan dengan pertanyaannya.
"GA USAH PURA-PURA BEGO KAMU, SEMALAM ANNISA SAMA KAMU KAN?" bentaknya makin keras
"emang iya jun?" tanya ibu saya.
"sabar ya bu" lerai ayah saya
saya mengangguk pelan.
"ANNISA KEMANA?"
"dirumah intan bu nginep" jawab saya pelan
"GAK ADA, PEMBANTUNYA BILANG INTAN DAN ANNISA BELUM PULANG DARI SEMALAM!!"
badan terasa masih sangat kaku ketika saya coba mambangunkan diri saya yang masih belum berpakaian dari tempat tidur nan empuk. saya mengucek mata dan menoleh ke sekitaran ruangan berlapis wallpaper dan kayu asli yang penuh hiasan lukisan tak nampak sosok felisiana. saya mulai bertanya, apakah semalam mimpi?? tidak mungkin.. begitu terasa sangat nyata. saya mencoba meraba kasur dengan tangan saya dan memang masih terasa hangat.
saya terdiam sejenak dan langsung mengenakan baju yang sudah tersedia di lemari kecil di samping tempat tidur. satu set kemeja biru plus celana panjang yang sangat pas dengan lipatan setrika yang sangat rapih lengkap dengan gesper melingkar kecil disampingnya. mencoba memasukan baju kedalam celana, ternyata saya menyenggol sepasang sepatu hitam yang sepertinya sengaja disiapkan sepertinya. hmm.. pas sekali ukurannya.
ketika merasa sudah rapih, saya menuju keluar pintu kamar. ternyata saya ada disebuah rumah yang lumayan besar. kondisi perabotan dan sekelilingnya tidak jauh beda dengan didalam kamar. lukisan abstrak dan patung menggantung disana-sini. ternyata saya berada di lantai dua. ketika saya mencoba menuruni tangga yang memutar indah bak tangga istana jaman dahulu, saya mendapati sebuah aula besar di ujung tangga yang dihiasi dengan salib besar dengan sosok yesus tergantung dengan wajah sedih terpahat. lampu istana bercorak lilin berwarna kuning menerangi aula tersebut. nampak dua orang seperti sepasang suami istri sedang berdoa di depan mimbar yang mengelilingi salib tersebut dengan cara menyedekapkan tangan dan bersimpuh.
pasangan tersebut sepertinya menyadari kehadiran saya dan si pria langsung menuju ke arah saya. pria paruh baya tadi berjalan perlahan ke arah saya. "mas juna, kalau mau diantar kerumah mbak zizi,bilang saya saja ya" ucap pria tadi dengan baju polo bergaris abu-abu putih dengan rambut belah pinggir yang sudah mulai di jajah uban.
"iya pak, ini saya juga mau jalan, tapi kalau bapak lagi berdoa, lanjutkan saja dulu" jawab saya pelan
"saya sudah selesai mas"
"ngomong-ngomon, felisiana dimana ya?"
"sudah pergi mas, nyusul bapak dan ibu kembali, saya cuma dititipin pesan itu"
"hah? pergi?" batin saya. aduh, makin bingung, lah kemarin sore maksudnya apa? dia seperti berkata bahwa tidak akan pergi dari saya. dia berkata begitu menyayangi saya. lah kenapa sekarang tiba-tiba dia pergi lagi tanpa pesan yang jelas? apa saya salah lagi? saya merasa tidak melakukan hal yang salah malam itu. kami tertawa bersama, dia pun tertawa lepas berbalut keringat kami berdua yang membaur menjadi satu. tak ada kemarahan, bahkan kami sempat bercerita tentang awal pertemuan sampai masa-masa indah sebelumnya.
apa saya salah bicara lagi?
*****
"if i diee tomorrow illbe allright because i believe that after were gone, the spirit caries oooonnn"
suara lantunan merdu intan berbalut musik orkestra yang saya mainkan dengan melodi gitar galih yang menyayat hati, disotrsi gitar adi yang membuat riuh, alunan bass tanco yang bergetar di dada bercampur dalam gubahan wadah dan gebukan drum hasnul yang penuh semangat membuat tengah malam menjadi semakin semarak
itulah lagu terakhir yang kami bawakan dalam acara "New Year with Dream Theater Songs" bersama dua band lain yang juga selalu memainkan lagu-lagu dream theater. lagu tersebut juga menjadi konser penutup acara akhir tahun di sebuah cafe yang lumayan terkenal di bilangan kemang jakarta selatan.
"terimakasih, terimakasih" ucap saya dengan mic yang saya gunakan untuk menjadi backing vokal, "ada satu lagi lagi kalau boleh.." tanya saya kepada audience yang sepertinya masih ingin mendengar lagu dream theater kembali.
"boleh!!" ujar salah seorang menyaut dari belakang, entah siapa.
"tapi bukan lagu dream theater, ini lagi band kami dan saya yang nyanyi..."jelas saya,"boleh ya?"
"BOLEH!!" ucap suara yang berbeda dari sebelah kiri panggung dengan sedikit lebih keras.
"terimakasih, ini judulnya, matahari, sesuai dengan wanita yang saya jadikan inspirasi untuk lagu ini yang saat ini ada ditengah2 kita"
seketika lampu sorot kuning langsung mengarah kepada sosok perempuan berjilbab di tengah tengah penonton yang sedang duduk. lantunan piano yang kali ini dimainkan intan pun menjadi pengiring lagu untuk sosok yang memang dari dulu saya idamkan untuk menjadi pendamping hidup saya.
Matahari
Kuberikan sebuah lagu untukmu
Sebagai tanda cinta kasih dariku
Ku berjanji tuk setia selamanya
takan ada yang kedua dari mu...
Ku berjanji tuk setia slamanya
takan ada yang kedua dari mu..
jangan pernah kau dustai aku..
kupastikan kita selalu bersama...
Semua... kan kucobaa.. berikan yang terbaik..
takan ada... dan tak pernah kuberpaling darimu...
Matahariku
Bersinarlah..
terangi hatiku..
matahariku..
biasilah..
Seluruh hidupku...
Link lagu Matahariku
https://drive.google.com/file/d/1vCv...ew?usp=sharing
wajahnya tersipu saat saya mencapai akhir lagu. sinaran matanya mengarah sendu ke arah saya sambil tersenyum kecil. penampilan saya barusan adalah penampilan penutup disambut dengan riuh tepuk tangan yang saya tidak menyangka bahwa lagu saya ternyata bisa juga dinikmati.
Jam menunjukan pukul dua pagi. semua penonton mulai melangkah ke pintu keluar satu-persatu. tinggal beberapa krew membereskan semua alat-alat musik serta para pelayan merapihkan meja yang berantakan. saya menghampiri annisa yang sejak lagu berakhir tadi masih duduk di kursi walaupun sekarang sudah tidak duduk sendiri karena intan menemaninya.
"hei.." sapa saya.
"hai jun.."
"makasih ya udah dateng, ga nyangka" ucap saya pelan.
"Makasih sama intan tuh, yang udah kerumah jemput, bilang sama ibu bahwa mau nginep bareng dirumahnya.."
"jadi ini bohong dong ke ibu kamu?"
"demi lo tuh jun" tepuk hasnul dari belakang saya
saya tersenyum kecil melihatnya yang melemparkan senyuman setelah hasnul berkelakar.
bukan-bukan!! bukan pelarian! dari awal cerita kan memang saya menyukainya, bukan dari awal cerita bahkan mungkin sejak di alam roh sebelum terlahir kedunia saya rasa saya sudah mencintainya. felisiana gimana tuh.. katanya harus menyatu denganya. lah? diakan yang pergi.. terus saya harus gimana? mencarinya lagi? ke selandia baru? uang dari mana!!
"cinta kan butuh perjuangan jun"
"perjuangan saya juga terbatas"
"ah bisa aja lu"
"lah ngapa lu marah..."
"jadi setelah ini kamu pulang sama intan tidur dirumah intan?" tanya saya
"iya jun.. udah pagi juga nih..." jawabnya yang tampak lelah
"yaudah tan, anter ya, bawa mobil kan?" tanya saya menoleh ke intan
"iya jun.. bawa"
kami pun mengepak peralatan bermusik kami mulai dari gitarr, efek, keyboard, mic dan beberapa simbal serta dobel pedal dan tom-tom. ada satu sih yang menggelitik, sepanjang konser tadi, ada pria yang selalu menatap tajam ke annisa. saya ga tau itu siapa, namun ketika saya perhatikan dia membuang muka seperti menutupi sesuatu.
dan, ketika kami rapih-rapih, hanya ada beberapa yang tersisa dan salah satunya dia satu penonton yang masih tersisa di ujung pojok kursi melingkar sambil terus menatap ke kerumunan kami saat kami lengah. saya yang risih pun langsung berniat menghampirinya, namun annisa menggenggam tangan saya melarangnya. rupanya, dia juga sadar bahwa sedari tadi dia diperhatikan oleh orang itu.
saya mencoba mengacuhkannya, setelah selesai beres-beres kami langsung bergegas beramai-ramai meninggalkan stage setelah sebelumnya berpamitan dengan pemilik cafe.
di lorong arah pintu keluar, dan benar, ternyata pria tadi mengendap-endap mengikuti dibelakang. kami semua mempercepat langkah, dia pun ikut mempercepat langkahnya. saya yang geram menghentikan langkah dan berbalik arah. namun, diluar perkiraan, dia malah makin kencang menuju ke arah kami dan bukannya bersembunyi atau berbalik arah.
Annisa kembali menggenggam tangan saya menahan saya agar tidak melakukan hal yang irasional seperti biasanya. main pukul. ketika saya bernafsu ingin menghajarnya pria tadi menahan saya dengan gemetar.
"tunggu dulu, saya tidak bermaksud apa-apa" ucap pria tadi sambil menahan tangan saya yang hendak memukulnya.
"terus elu ngapain sejak kedatangan annisa terus ngeliatin dia?" tanya saya tegas
"udah jun sabar,"ucap tanco mencoba melerai.
"saya cuma mau kasih titipan, dari almarhum ayahnya, saya ga mungkin ngasih ini di kampus, dirumah atau ditempat-tempat yang biasanya dia kunjungi, karena pasti di pantau" ucap pria tadi yang ternyata masih muda juga dengan kumis tipis dan rambut belah pinggir.
"dipantau siapa?" tanya saya tegas
"maaf mas, saya ga bisa lama-lama ada di dekat annisa, ini" ucapnya sambil menyerahkan flashdisk berwarna biru kepada annisa yang langsung di terimanya.
"permisi mas, maaf mengganggu ya.."
pemuda tadi langsung pergi menerabas kami dengan cepat meninggalkan kerumunan kami yang masih meninggalkan banyak pertanyaan tentang apa isi flashdisk yang diberikan barusan.
"kamu gapapa kan nis?" tanya saya.
"gapapa jun, ayo kita pulang"
setelah beberapa saat gamang, kami pun melanjutkan perjalanan menuju parkiran. diparkiran, annisa dan intan berpisah dengan rombongan kami untuk menaiki mobil hitam mini sedan milik intan. sedankan kami menaikin mobil milik hasnul yang biasa kami sebut mobil operasional band. hehehe
"hati-hati ya tan"
"iya jun"
"kamu hati-hati ya jun" ucap annisa sambil melambai dan tersenyum
"iya..."
****
"BRAKKK BRAKK BRAKK!!! suara pintu di gedor kencang, "BUKA PINTUNYA!!!"
terdengar suara seperti marah-marah di luar. mata saya yang masih sepet mencoba dibuka karena memang saya baru tidur bada subuh tadi, dan ini masih jam tujuh. suara gebrakan dan marah-marah seorang perempuan terdengar menggema ke seluruh rumah saya yang memang berukuran kecil.
"siapa sih mah?' ucap saya mengucek mata.
"SIAPA-SIAPA!! KAMU GA USAH SOK BEGO YA!!" ucap wanita itu yang ternyata setelah saya tegaskan pandangan itu ibunya annisa,"KEMANA ANNISA?"
"hah?" saya masih kebingungan dengan pertanyaannya.
"GA USAH PURA-PURA BEGO KAMU, SEMALAM ANNISA SAMA KAMU KAN?" bentaknya makin keras
"emang iya jun?" tanya ibu saya.
"sabar ya bu" lerai ayah saya
saya mengangguk pelan.
"ANNISA KEMANA?"
"dirumah intan bu nginep" jawab saya pelan
"GAK ADA, PEMBANTUNYA BILANG INTAN DAN ANNISA BELUM PULANG DARI SEMALAM!!"
3