- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#902
Quote:
PART 64
Quote:
Saat itu di bandara, setelah Nando memutuskan untuk kabur dan membatalkan keberangkatannya ke Jerman. Adam yang seharusnya juga sudah terbang menuju Jerman, justru memilih meninggalkan boarding gate, sesaat sebelum take off. Ucapan Nando sebelum pergi mendorongnya untuk tetap berada di sini. Adam kini masih berada di kursi tunggu, bukan menunggu penerbangan berikutnya, tapi menunggu apa yang harus ia lakukan sekarang?
Kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tapi cukup menjadi tamparan untuk Adam.
Bagaimana bisa ia mengabaikan kedua orang tua yang mengharapkan kepulangannya di saat ada orang lain yang justru berjuang untuk menemukan ibunya.
Dan Medina…apa ia setuju dengan keputusannya untuk pergi?
Tapi…terlepas dari itu semua pada kenyataannya Adam masih belum bisa melupakan kisah pahitnya saat kecil, ia belum bisa memaafkan keegoisan kedua orang tuanya.
Ia merogoh saku hoodienya, surat dari Andra yang belum sempat ia baca perlahan ia buka. Senyum tipis sedikit menghiasi wajah bimbang Adam, mendapati ucapan salam khas Andra padanya tertulis di sana.
Tapi semakin terus di baca, senyum itu semakin pudar hingga akhirnya berubah muram semuram – muramnya.
Gue nggak mau kehilangan kesempatan buat ketemu sama nyokab gue kak. Ya…walau gue nggak tahu dia ada di mana dan kondisinya seperti apa sekarang, gue harap gue punya kesempatan buat nemuin dia.
Kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tapi cukup menjadi tamparan untuk Adam.
Bagaimana bisa ia mengabaikan kedua orang tua yang mengharapkan kepulangannya di saat ada orang lain yang justru berjuang untuk menemukan ibunya.
Dan Medina…apa ia setuju dengan keputusannya untuk pergi?
Tapi…terlepas dari itu semua pada kenyataannya Adam masih belum bisa melupakan kisah pahitnya saat kecil, ia belum bisa memaafkan keegoisan kedua orang tuanya.
Ia merogoh saku hoodienya, surat dari Andra yang belum sempat ia baca perlahan ia buka. Senyum tipis sedikit menghiasi wajah bimbang Adam, mendapati ucapan salam khas Andra padanya tertulis di sana.
Tapi semakin terus di baca, senyum itu semakin pudar hingga akhirnya berubah muram semuram – muramnya.
Assalammualaikum, gunung es Antartika.
Gimana kabar lo? Gue yakin lo lebih sehat dari gue sekarang. Dan emosinya gue, karena mama bilang lo nggak pernah datang ke sini. By the way Jakarta – Jerman , nggak sejauh Antartika kok. Hahaha.
But, it’s ok…sekalipun lo nggak pernah jengukin gue, gue yakin doa lo selalu ada buat abang lo paling kece ini. Buktinya gue sadar sekarang. Sayang hibernasi gue udah berakhir Dam, dan gue harus pulang tanpa mengucapkan selamat tinggal apalagi say hi sama lo.
Gue tahu, sebatu – batunya lo, suatu hari nanti lo pasti bisa memaafkan mereka. Orang tua lo. Mereka memang salah, tapi gue, mama, udah ngelupain itu. Lo nggak perlu ngerasa bersalah lagi atas dosa mereka. Gue tahu lo masih Adam yang gue kenal dari kecil dulu.
Selain itu gue mau lo jaga dia buat gue. Seseorang yang dengan bodohnya lo abaikan. Seseorang yang nggak pernah berhenti membicarakan lo waktu sama gue, seseorang yang harus pergi karena kebodohan lo, tapi kehilangan segalanya karena kecerobohan gue.
Maafin gue baru bisa bilang ini sekarang, Echa ada sama gue waktu kecelakaan itu.
Mama bilang, dia berniat mau ngasih tahu lo, tapi nomor lo nggak pernah aktif. Mama dapat info kalau Kecelakaan itu membuat Echa harus mengubur impiannya.
Temui Echa Dam…sampaikan maaf gue sama dia. Jaga dia sebaik lo menjaga Medina.
Wassalammualaikum, kepala batu.
Gimana kabar lo? Gue yakin lo lebih sehat dari gue sekarang. Dan emosinya gue, karena mama bilang lo nggak pernah datang ke sini. By the way Jakarta – Jerman , nggak sejauh Antartika kok. Hahaha.
But, it’s ok…sekalipun lo nggak pernah jengukin gue, gue yakin doa lo selalu ada buat abang lo paling kece ini. Buktinya gue sadar sekarang. Sayang hibernasi gue udah berakhir Dam, dan gue harus pulang tanpa mengucapkan selamat tinggal apalagi say hi sama lo.
Gue tahu, sebatu – batunya lo, suatu hari nanti lo pasti bisa memaafkan mereka. Orang tua lo. Mereka memang salah, tapi gue, mama, udah ngelupain itu. Lo nggak perlu ngerasa bersalah lagi atas dosa mereka. Gue tahu lo masih Adam yang gue kenal dari kecil dulu.
Selain itu gue mau lo jaga dia buat gue. Seseorang yang dengan bodohnya lo abaikan. Seseorang yang nggak pernah berhenti membicarakan lo waktu sama gue, seseorang yang harus pergi karena kebodohan lo, tapi kehilangan segalanya karena kecerobohan gue.
Maafin gue baru bisa bilang ini sekarang, Echa ada sama gue waktu kecelakaan itu.
Mama bilang, dia berniat mau ngasih tahu lo, tapi nomor lo nggak pernah aktif. Mama dapat info kalau Kecelakaan itu membuat Echa harus mengubur impiannya.
Temui Echa Dam…sampaikan maaf gue sama dia. Jaga dia sebaik lo menjaga Medina.
Wassalammualaikum, kepala batu.
Adam kembali mengulangi membaca surat dari Andra. Dan rasanya masih tetap sama seperti saat pertama kali ia membacanya. Kesedihan itu belum juga usai. Kepergian Andra di rasa Adam begitu cepat. Bahkan ia tidak di berikan kesempatan untuk bertemu kembali dengan laki – laki itu. Tapi…di balik itu semua Adam yakin rencana Allah selalu lebih indah.
“ Permisi, Mas. Ini kopinya.” Kehadiran seorang ART sedikit mengagetkan Adam yang sejak tadi melamun.
“ Terima kasih ya, Bi.” Ucap Adam ramah.
“ Nungguin mbak Echa di ruang tamu aja, Mas.”
“ Nggak apa – apa bi, saya di sini aja.”
Sepeninggal ART keluarga Echa, Adam kembali larut dalam lamunannya, ia ingat bagaimana canggungnya ia saat kembali di pertemukan dengan Echa setelah bertahun – tahun tidak pernah melihat gadis itu.
---------
Quote:
Sore itu, Adam yang tengah asyik menikmati senja di rooftop di kejutkan oleh kehadiran seseorang yang beberapa hari ini berusaha ia temukan. Tepatnya setelah ia batal berangkat ke Jerman. Seseorang di masa lalu, yang punya posisi penting di hati kakaknya.
“ Berasa de javu nggak sih?” tanyanya dengan senyum merekah.
Adam terdiam tak menyangka jika itu adalah orang yang sama yang dulu selalu membuatnya bersemangat ke sekolah. Seseorang yang kini terlihat lebih anggun dengan jilbabnya, seseorang yang tidak terlihat kekanak – kanakan lagi.
“ Echa,” ucap Adam setengah tak percaya. Ia memang sedang mencari gadis itu, ia hanya tidak menyangka ternyata Allah begitu memudahkan usahanya.
“ Assalammualaikum, Adam.”
“ Wa-waalaikumsalam.”
Echa berjalan mendekati Adam dengan tatapan lurus ke arah langit yang berbias jingga. Indah. Binar mata bahagia jelas terpancar dari manik mata hazel itu.
“ Aku kira cuma aku yang selalu kepikiran dengan tempat ini.”
“ Cha-,”
“ Iya aku tahu. Kamu mencariku kan?” tanya Echa dan kemudian memilih duduk di ujung rooftop, membiarkan kakinya mengayun bebas di udara, sama seperti yang Adam lakukan sekarang. “ Ogi udah cerita.”
“ … “
“ Dan yang jadi pertanyaannya, kenapa baru sekarang?” Pertanyaan sederhana yang justru memaksa Adam berpikir keras demi menemukan jawaban yang pas.
“ Selama ini lo ada dimana?” tanya Adam datar.
Echa yang menunggu jawaban Adam justru di buat kesal dengan ulah Adam, tapi ia memilih mengabaikan itu.
” Sejak pertengkaran waktu itu, aku pindah ke Bandung. Beberapa tahun kemudian Andra datang di acara launching buku kedua aku. Dan di hari itu pula kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan itu membuat aku harus rela kehilangan penglihatan. Dan beberapa minggu lalu, ada orang baik hati yang mau mendonorkan matanya buat aku. Tempat ini adalah tempat pertama yang pengen aku datangi setelah penglihatanku kembali. So…here me now.” Terang Echa panjang lebar.
“ Lalu kenapa baru sekarang?” Echa mengulangi pertanyaan yang sama. Dan Adam masih diam. Ia hanya memberikan selembar surat pada Echa. Echa menerimanya dengan raut wajah heran.
Adam masih diam sambil sesekali memandangi Echa yang masih serius membaca isi surat terakhir Andra untuk Adam. Hingga akhirnya Adam bisa menemukan mata itu mulai berkaca – kaca.
“ Tante Fika bilang, Andra mau lo bisa melihat lagi.”
Echa mulai menangis sesenggukan, Adam memilih untuk tidak melakukan apapun, ia membiarkan Echa larut dalam tangisannya. Adam yakin, apa yang ia rasakan pasca kepergian Andra kini juga di alami gadis itu.
---------
“ Berasa de javu nggak sih?” tanyanya dengan senyum merekah.
Adam terdiam tak menyangka jika itu adalah orang yang sama yang dulu selalu membuatnya bersemangat ke sekolah. Seseorang yang kini terlihat lebih anggun dengan jilbabnya, seseorang yang tidak terlihat kekanak – kanakan lagi.
“ Echa,” ucap Adam setengah tak percaya. Ia memang sedang mencari gadis itu, ia hanya tidak menyangka ternyata Allah begitu memudahkan usahanya.
“ Assalammualaikum, Adam.”
“ Wa-waalaikumsalam.”
Echa berjalan mendekati Adam dengan tatapan lurus ke arah langit yang berbias jingga. Indah. Binar mata bahagia jelas terpancar dari manik mata hazel itu.
“ Aku kira cuma aku yang selalu kepikiran dengan tempat ini.”
“ Cha-,”
“ Iya aku tahu. Kamu mencariku kan?” tanya Echa dan kemudian memilih duduk di ujung rooftop, membiarkan kakinya mengayun bebas di udara, sama seperti yang Adam lakukan sekarang. “ Ogi udah cerita.”
“ … “
“ Dan yang jadi pertanyaannya, kenapa baru sekarang?” Pertanyaan sederhana yang justru memaksa Adam berpikir keras demi menemukan jawaban yang pas.
“ Selama ini lo ada dimana?” tanya Adam datar.
Echa yang menunggu jawaban Adam justru di buat kesal dengan ulah Adam, tapi ia memilih mengabaikan itu.
” Sejak pertengkaran waktu itu, aku pindah ke Bandung. Beberapa tahun kemudian Andra datang di acara launching buku kedua aku. Dan di hari itu pula kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan itu membuat aku harus rela kehilangan penglihatan. Dan beberapa minggu lalu, ada orang baik hati yang mau mendonorkan matanya buat aku. Tempat ini adalah tempat pertama yang pengen aku datangi setelah penglihatanku kembali. So…here me now.” Terang Echa panjang lebar.
“ Lalu kenapa baru sekarang?” Echa mengulangi pertanyaan yang sama. Dan Adam masih diam. Ia hanya memberikan selembar surat pada Echa. Echa menerimanya dengan raut wajah heran.
Adam masih diam sambil sesekali memandangi Echa yang masih serius membaca isi surat terakhir Andra untuk Adam. Hingga akhirnya Adam bisa menemukan mata itu mulai berkaca – kaca.
“ Tante Fika bilang, Andra mau lo bisa melihat lagi.”
Echa mulai menangis sesenggukan, Adam memilih untuk tidak melakukan apapun, ia membiarkan Echa larut dalam tangisannya. Adam yakin, apa yang ia rasakan pasca kepergian Andra kini juga di alami gadis itu.
---------
Echa baru saja tiba di rumah saat senja, setelah seharian berada di kampus lantaran tugas yang menggunung.
Kepulangannya sontak di kejutkan oleh kehadiran Adam yang tampak duduk di teras sambil menyesap kopi. Sejak kembali bertemu dengan laki – laki itu beberapa minggu yang lalu, tak banyak perubahan dari Adam yang ia lihat. Ia masih orang yang sama yang ia kenal saat remaja dulu, hanya saja kali ini Adam bersifat lebih dingin dan semakin irit bicara kepadanya. Echa tidak ingin tahu alasannya, ia hanya tidak suka di perlakukan seperti orang asing.
“ Kalau kamu ke sini hanya untuk menepati janji kamu sama Andra, lebih baik kamu pulang.” Echa berniat memasuki rumahnya.
“ Gimana Medina?” tanya Adam cepat dengan raut wajah datar, dan tak sedikitpun berniat melihat lawan bicaranya. Hal yang sama yang selalu ia lakukan dulu.
Echa tersenyum pahit melihat Adam, “ She’s fine. Tapi akan lebih baik lagi kalau kamu tidak menjadi seorang pengecut.”
“ … “
“ Dia butuh kamu, Adam. Bukan aku ataupun orang – orang dari penerbit lainnya.”
“ … “
“ Dia hanya butuh kakaknya ada di samping dia saat berjuang mencapai apa yang dia mau. Mau sampai kapan kamu harus seperti ini? Melarikan diri dari masalah, berharap dapat ketenangan tapi justru menyakiti orang di sekitar kamu.”
“ Lo tahu alasannya, Cha,” ucap Adam pelan, berharap Echa mau mengakhiri ocehannya.
“ Apa? Karena kamu belum bisa memaafkan kedua orang tua kamu? Karena kamu ingin berusaha memperbaiki semuanya?” terka Echa dengan raut wajah kesal.
“ Cukup Cha.”
“ Aku tahu Dam, kamu ingin memperbaiki semuanya…SEMUANYA, tapi apa kamu juga tahu, tanpa sadar kamu justru memperburuk keadaan di belakang kamu. Karena apa? Karena kamu nggak bisa mengendalikan semuanya sesuai keinginan kamu, karena sudah saatnya kamu melupakan masa lalu itu. Memaafkan orang tua kamu, memaafkan diri kamu sendiri.”
“ … “
“Dan, Adam yang dulu aku kenal tidak egois dan sepengecut ini.”
Adam memilih diam, ia malas berdebat sekarang.
“ Lebih baik kamu pulang. Aku mau istirahat. Soal Medina, sesuai permintaan kamu, aku akan bantu dia sampe akhir.” Tukas Echa dan kemudian masuk ke dalam rumah, menutup pintu kembali dan tak berniat mempersilakan Adam masuk.
Adam tahu ini akan terjadi, bahkan saat pertama kali ia meminta bantuan Echa, ia tahu gadis itu tidak sepenuhnya menyetujui rencananya.
Mungkin…melarikan diri adalah hal terbodoh yang pernah ia lakukan, tapi baginya itu lebih baik daripada terus menyakiti perasaan kedua orang tuanya.
●●●
Diubah oleh riani14 14-11-2018 23:05
1
Kutip
Balas