- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•2Anggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#880
Quote:
PART 62
Langkah Medina ragu memasuki gerbang sekolah yang sudah tidak asing baginya. Bukan karena ia pernah menempuh pendidikan di SMA unggulan ini, tapi karena ini adalah sekolah kakaknya dulu.
Keraguan itu muncul karena Medina tidak bisa bersekolah di sini, akibat nilainya yang anjlok. NO...bukan karena Medina bego’, tapi standar sekolahnya saja yang ketinggian. Begitulah yang ada di pikiran Medina saat itu.
“ Sepi banget,” ucap Medina terus berjalan memasuki area sekolah sambil melihat keadaan sekeliling.
“ Ini hari minggu Medina,” Echa menyahut dan berjalan mendahului Medina memasuki koridor utama bangunan. Medina kembali memamerkan raut wajah kesal, entah mengapa ucapan Echa sedikit membuatnya tersinggung, sebegitu pikunnya kah gue?
Medina mempercepat langkahnya berusaha menyusul Echa,” Terus darimana lo dapat akses buat masuk ke sini?”
“ Ayah Tasya. Dia kepala sekolah di sini.”
Medina mengangguk – angguk kecil, tanda mengerti.
Kedua perempuan ini terus saja berjalan menyusuri setiap sudut dan ruangan yang ada di sekolah. Echa sesekali bercerita hal unik apa saja yang terjadi saat ia bersekolah dulu.
Terdengar membosankan bagi Medina, karena yang hanya ingin ia tahu sedekat apa kakaknya dengan perempuan berhijab ini, bukan cerita basi tentang Echa yang di usir keluar kelas karena tidak mengerjakan PR atau cerita absurd lainnya. Medina tidak perlu tahu, dan tidak ingin tahu soal itu.
“ Saya pindah ke sekolah ini saat kelas dua karena sempat tinggal kelas di sekolah yang lama.”
Tinggal kelas?Seriusan orang yang terlihat cerdas seperti dia bisa tinggal kelas??
“ Dan saya pertama kali bertemu kakak kamu di lapangan basket. Atau lebih tepatnya dia yang pertama kali menemukan saya,” cerita Echa justru membuat Medina sedikit heran.
Quote:
"Ogi...!!" Echa berteriak nyaring memanggil Ogi yang sedang berdiri persis di pinggir lapangan basket, ia tengah asyik menonton tim basket sekolah latihan untuk turnamen tahunan.
Echa berlari menghampirinya, menenteng sebuah majalah terbitan hari ini di tangannya.
"Girang amat, ada apa?" Tanya Ogi penasaran saat Echa telah berada persis dihadapannya.
Echa tersenyum sambil memberikan majalah tadi pada Ogi. Ogi memandanginya heran.
"Buka halaman 10," perintah Echa dengan penuh semangat. Ogi mengikuti.
"Inikan...," ucapan Ogi tertahan saat mendapati apa yang ada di halaman 10. Ia tersenyum dengan tatapan tak percaya.
Echa mengangguk cepat tanpa henti - hentinya tersenyum, " Iya...itu cerpen yang aku kirim minggu lalu dan jadi cerpen ke sepuluh aku yang terbit di majalah yang sama. Arghh....Ogi aku seneng banget," girang Echa sambil mengambil kembali majalahnya dari tangan Ogi, dan memeluk majalah itu erat.
"Dan...kamu tahu kabar baiknya apa?" sambung Echa lagi yang semakin memancing rasa penasaran Ogi. "Aku...di rekrut jadi penulis tetap di majalah itu."
"Selamat ya , Cimol sayang...akhirnya karya lo bisa nongol setiap minggu di majalah," ucap Ogi dengan tersenyum seraya mengacak gemas rambut Echa.
"Itu juga berkat dukungan kamu kalik, kalau nggak aku mana mungkin bisa berjalan sampai sejauh ini," sahut Echa masih tetap mempertahankan senyumnya.
Ia sangat bahagia karena sejak ia menerima telepon itu bulan lalu, cerpennya selalu di sambut baik oleh majalah tersebut. Bahkan, majalah itu memuat tiga cerpen Echa sekaligus setiap pekan. Pencapaian yang luar biasa, bukan?
"AWAS!!" Teriakan seseorang memecah perhatian keduanya pada sebuah bola basket yang sedang melayang di udara dan...kini mendarat persis di kepala Echa.
Tubuh mungil Echa terhuyung, kepalanya langsung merasa pusing setengah mati. Jika saja Ogi tak memegangi pundaknya, mungkin sudah sejak tadi ia tumbang.
"Cha, lo nggak apa - apakan?" Tanya Ogi khawatir.
"Pusing," Echa memegangi kepalanya.
"Eh...lo nggak apa - apakan?" Kehadiran seorang cowok membuat keduanya menoleh. Echa tak bisa melihat dengan jelas wajah cowok berbadan tegap itu lantaran pandangannya mulai samar - samar akibat benturan dengan bola basket tadi cukup keras dan membuat pandangannya berkunang - kunang.
"Kamu bisa main basket nggak sih? Kalau nggak bisa jangan sok - sok'an masuk tim inti," Echa menggerutu seraya mengarahkan telunjuknya ke sembarang arah.
"Cha...ini gue. Orangnya di sebelah sana,"
Jelas itu suara Ogi, dan ia sedang protes. Ternyata Echa mengarahkan telunjuk pada orang yang salah. Echa berseru di dalam hati, God, i am blind for a few minute.
Echa memutar badannya, dan seorang cowok jangkung kini berdiri tepat didepan matanya. Pandangannya masih buram, kepalanya juga semakin pusing, sungguh Echa ingin sekali melihat wajah menyebalkan cowok yang dengan tak beradabnya mendaratkan bola itu kekepalanya.
Echa mendongakkan kepala, sinar matahari menusuk tepat dimanik matanya. Silau dan ia semakin tak bisa melihat wajah cowok itu.
"Kamu itu...,"
Kata - kata Echa terhenti, ia pingsan.
Echa berlari menghampirinya, menenteng sebuah majalah terbitan hari ini di tangannya.
"Girang amat, ada apa?" Tanya Ogi penasaran saat Echa telah berada persis dihadapannya.
Echa tersenyum sambil memberikan majalah tadi pada Ogi. Ogi memandanginya heran.
"Buka halaman 10," perintah Echa dengan penuh semangat. Ogi mengikuti.
"Inikan...," ucapan Ogi tertahan saat mendapati apa yang ada di halaman 10. Ia tersenyum dengan tatapan tak percaya.
Echa mengangguk cepat tanpa henti - hentinya tersenyum, " Iya...itu cerpen yang aku kirim minggu lalu dan jadi cerpen ke sepuluh aku yang terbit di majalah yang sama. Arghh....Ogi aku seneng banget," girang Echa sambil mengambil kembali majalahnya dari tangan Ogi, dan memeluk majalah itu erat.
"Dan...kamu tahu kabar baiknya apa?" sambung Echa lagi yang semakin memancing rasa penasaran Ogi. "Aku...di rekrut jadi penulis tetap di majalah itu."
"Selamat ya , Cimol sayang...akhirnya karya lo bisa nongol setiap minggu di majalah," ucap Ogi dengan tersenyum seraya mengacak gemas rambut Echa.
"Itu juga berkat dukungan kamu kalik, kalau nggak aku mana mungkin bisa berjalan sampai sejauh ini," sahut Echa masih tetap mempertahankan senyumnya.
Ia sangat bahagia karena sejak ia menerima telepon itu bulan lalu, cerpennya selalu di sambut baik oleh majalah tersebut. Bahkan, majalah itu memuat tiga cerpen Echa sekaligus setiap pekan. Pencapaian yang luar biasa, bukan?
"AWAS!!" Teriakan seseorang memecah perhatian keduanya pada sebuah bola basket yang sedang melayang di udara dan...kini mendarat persis di kepala Echa.
Tubuh mungil Echa terhuyung, kepalanya langsung merasa pusing setengah mati. Jika saja Ogi tak memegangi pundaknya, mungkin sudah sejak tadi ia tumbang.
"Cha, lo nggak apa - apakan?" Tanya Ogi khawatir.
"Pusing," Echa memegangi kepalanya.
"Eh...lo nggak apa - apakan?" Kehadiran seorang cowok membuat keduanya menoleh. Echa tak bisa melihat dengan jelas wajah cowok berbadan tegap itu lantaran pandangannya mulai samar - samar akibat benturan dengan bola basket tadi cukup keras dan membuat pandangannya berkunang - kunang.
"Kamu bisa main basket nggak sih? Kalau nggak bisa jangan sok - sok'an masuk tim inti," Echa menggerutu seraya mengarahkan telunjuknya ke sembarang arah.
"Cha...ini gue. Orangnya di sebelah sana,"
Jelas itu suara Ogi, dan ia sedang protes. Ternyata Echa mengarahkan telunjuk pada orang yang salah. Echa berseru di dalam hati, God, i am blind for a few minute.
Echa memutar badannya, dan seorang cowok jangkung kini berdiri tepat didepan matanya. Pandangannya masih buram, kepalanya juga semakin pusing, sungguh Echa ingin sekali melihat wajah menyebalkan cowok yang dengan tak beradabnya mendaratkan bola itu kekepalanya.
Echa mendongakkan kepala, sinar matahari menusuk tepat dimanik matanya. Silau dan ia semakin tak bisa melihat wajah cowok itu.
"Kamu itu...,"
Kata - kata Echa terhenti, ia pingsan.
Echa tersenyum mengingat kejadian sekitar tiga tahun lalu itu.“ Itu adalah hari paling memalukan dalam hidup saya. Dan uniknya saat sadar, bukannya teman saya atau petugas UKS yang saya temui, tapi kakak kamu.”
Sweet juga kakak gue waktu SMA.
“ Saya akui dia sedikit menyebalkan dengan sikap dingin dan sok tahunya, tapi karena hal itu juga saya berhasil mencapai impian saya.” Echa memilih duduk di kursi yang terdapat di koridor, Medina hanya diam mengikuti.
“ Di sana, di pohon itu,” jari lentik Echa mengarah ke arah sebuah pohon yang rindang, yang berada di sudut taman.
“Itu salah satu tempat favorit Adam buat baca buku atau sekedar duduk sambil memandangi langit. Tapi saya pernah bikin dia kesal karena melemparnya dengan kaleng minuman saat dia lagi santai di bawah pohon itu,” Echa tersenyum kecil saat setiap kejadian lucu bersama Adam seakan direka ulang di ingatannya.
“ Kakak kamu itu orang paling baik yang pernah saya kenal. Saya juga pernah berniat menyerah dengan impian saya, tapi dia hadir dan bilang-,”
“ Lebih baik kamu jadi orang yang pengecut, yang selalu melarikan diri lewat tulisannya. Daripada memutuskan berhenti dan melarikan diri dari apa yang seharusnya kamu kejar,” Echa dan Medina kompak mengucapkan kalimat yang sama.
Echa memamerkan wajah bingungnya. Medina hanya membalasnya dengan senyum tipis,” Kalimat yang sama yang selalu kak Adam bilang ke gue.”
“ Kakak kamu itu punya kesabaran yang luar biasa Medina. Sadar atau tidak, saya adalah orang yang berkali – kali menyakitinya, tapi berkali – kali pula dia mau memaafkan saya.”
“ Iya, dan sekarang justru gue orang yang secara nggak langsung nyakitin dia dan membuat dia pergi,” ujar Medina bernada kecewa. Kecewa pada dirinya sendiri yang melukai perasaan kakaknya.
Medina menunduk sedih, Echa yang melihat itu hanya bisa merangkul pundaknya berusaha menenangkan. Ia tak ingin berkomentar banyak mengenai hubungan kakak adik ini, diam dan berusaha meredakan kesedihan Medina semampu yang ia bisa, itu jelas lebih baik.
●●●
Diubah oleh riani14 10-11-2018 07:19
2
Kutip
Balas