- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#845
Quote:
PART 59
Nina menyodorkan segelas orange jus kepada Medina. Dan kemudian memilih duduk di kursi yang berada tepat di samping Medina.
Medina sengaja datang ke rumah sahabatnya itu karena tidak bertemu Nina saat di kampus lantaran perempuan itu membolos dengan alasan sakit. Padahal faktanya ia hanya malas saja.
Keduanya diam sejenak menikmati keindahan langit sore ini dari balkon.
“ Jadi nama lengkapnya Meisya Aprilia? Dan dia itu anak dari pimpinan penerbitan yang lo datangi kemaren?” Nina membuka suara lebih dulu dan kemudian menyeruput orange jus miliknya.
Medina mengangguk sambil meletakkan gelasnya di atas meja,” Gue tahu, niat dia baik. Tapi berasa aneh aja. Dia nggak kenal gue, gue juga nggak kenal dia sebelumnya, kok tiba – tiba nawarin bantuan gitu aja.”
“ Emang kalau mau ngebantuin orang kita harus kenal dulu orangnya siapa? Nggakkan?”
“ Iya sih, tapi aneh aja. Semua itu udah kayak di rencanain sama dia, salah satunya minta Tasya buat jadi perantaranya.”
Nina menghela nafas panjang,” Na...lo bisa nggak sih, nggak curigaan mulu’ sama orang. Positive thinking aja.”
“ ... “
“ Lagian, diakan penulis juga. Dia pasti tahu perjuangan jadi penulis hebat itu seperti apa. Percaya sama gue, dia nggak akan ngejerumusin lo.”
“ Tahu darimana lo kalau dia penulis?”
“ Tunggu bentar,” Nina melangkah masuk ke kamarnya, saat keluar lagi ia telah menenteng sebuah buku cukup tebal di tangannya dan memberikannya pada Medina.
Medina mengernyit heran, “ Sejak kapan lo suka baca buku? Di ajak ke perpustakaan aja, kayak ngajakin lo ke ruang eksekusi.”
“ Gue suka baca, tapi ya nggak segila lo sih. Justru malah aneh, lo yang doyan banget baca buku bahkan berniat jadi penulis justru nggak tahu Echa itu siapa.”
Medina terdiam, merasa malu karena kurang update dengan dunia yang ingin ia geluti.
“ Itu novel pertama yang dia terbitin, beberapa tahun lalu. Nama penanya Echa Aprilia. Sempat booming sampe sekian bulan tapi saat dia mengalami kecelakaan, dia menghilang gitu aja. Nggak ada yang tahu dia kemana.”
“ .... “
“ Gue juga baru tahu kalau dia sepupunya Tasya. Gue pikir dulu, Tasya ngaku – ngaku doank. Tahunya bener ya?” Nina terkekeh kecil.
“ ... “
“ Na, lo jangan sia – sia’in kesempatan ini. Lo mungkin nggak percaya sama niat mbak Ningrum, karena dia pernah menghina karya lo sebelumnya. Tapi Echa?”
Medina masih bungkam, ia bingung harus mengatakan apa lagi. Semua ucapan Nina terasa ada benarnya, tapi entah mengapa hatinya ingin terus menyangkalnya.
“ Gue tahu, kemunculan dia yang tiba – tiba memang terasa aneh, tapi coba berbaik sangka aja dulu. Bukannya itu yang sering kak Adam bilang sama lo?”
Medina terdiam sambil memandangi novel Echa di tangannya. Medina merasa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan darinya. Tapi apa? Apa ia turuti saja rencana ini sambil mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi?
Lamunan Medina buyar saat ponselnya berdering. Nama Tirta tertera jelas di layar datar ponsel. Bukannya di angkat, Medina malah me-reject telepon itu. Dia masih kesal karena Tirta terus membicarakan soal berbaikan dengan Nando.
“ Tirta? Gimana keadaannya sekarang?” tanya Nina yang tanpa sengaja mengintip ponsel Medina.
“ Udah mendingan, mungkin besok udah boleh pulang. Lo nggak mau ngejengukin dia?”
Nina menggeleng pelan,” Nggaklah. Lo tahu hubungan gue sama dia seperti apakan?” Nina beranjak dari kursi dan berjalan menuju pagar pembatas balkon. “ Buruk.”
“ Kenapa nggak baikan aja?”
“ Lo sendiri kenapa nggak baikan sama Nando?” tanya Nina balik dan sukses membuat Medina kembali bungkam.
“ Harus banget apa lo bahas soal Nando sekarang?” kesal Medina.
“ Na, belajar dari pengalaman. Lo kehilangan kak Adam saat lo lebih mementingkan ego dan kepala batu lo itu. Jangan sampe itu keulang lagi sama Nando.”
Medina diam, ia kembali di skakmat oleh sahabatnya sendiri. Kemarin Tirta, sekarang Nina, besok siapa lagi???
***
Ragu – ragu , kalimat yang pas di tujukan pada Medina kali ini,sepulangnya ia dari rumah Nina, masalah yang terjadi antara dirinya dengan Nando terus menghantui pikirannya sepanjang perjalanan.
Hal itu memaksanya untuk datang ke rumah Nando.
Nina dan Tirta benar, ia tidak boleh melakukan kesalahan yang sama. Menurunkan ego dan meminta maaf bukan hal mudah untuk ia lakukan, tapi ia juga tidak ingin terus di hantui oleh masalah tanpa penyelesaian, ia juga tidak ingin di cap pengecut karena lari dari masalah yang ia timbulkan sendiri.
Sepuluh menit waktu yang ia habiskan hanya untuk berdiri di depan pintu rumah Nando. Entah sudah berapa kali pula ia berniat memencet bel atau mengetuk pintu, tapi kemudian urung karena keraguannya. Ragu dengan keputusannya datang ke sini benar atau tidak? Apa Nando mau memaafkannya?
Medina menghela nafas berkali – kali, mungkin itu bisa sedikit memberinya ketenangan.
” Bismillah, “ Akhirnya Medina memberanikan diri mengetuk pintu berkali – kali sembari mengucap salam, “ Assalammualaikum!!”
Setelah beberapa kali melakukan percobaan yang sama, Medina bisa mendengar langkah kaki seseorang dari dalam mendekati pintu. Seorang ibu paruh baya mengenakan daster motif bunga muncul dari balik pintu yang sudah terbuka. Itu mbok Min, ART keluarga Nando.
“ Assalammualaikum, mbok.”
“ Waalaikumsalam mbak. Kemana aja udah lama nggak ke sini?”
Medina tersenyum kecil,” Lagi sibuk sedikit mbok. Oh iya, Nandonya ada?”
“ Mas Nando belum pulang mbak.”
“ Mbok tahu dia kemana?”
Mbok Min menggeleng,” Emang di kampus nggak ketemu, mbak?”
“ Nggak. Emang Perginya dari kapan?”
“ Pagi – pagi tadi mbak, buru – buru juga keliatannya. Mbok juga nggak berani tanya.”
“ Gitu ya?” ucap Medina terdengar sedikit kecewa.
“ Tunggu aja mbak, paling bentar lagi mas Nando pulang,” usul Mbok Min sambil membuka pintu lebih lebar.
Medina berpikir sejenak, hingga akhirnya dia mengiyakan usulan mbok Min dan melangkah masuk ke dalam rumah Nando yang juga tidak bisa di bilang kecil.
“ Sepi banget mbok, Om Anton kemana?” Medina mempertanyakan keberadaan ayah Nando sembari memperhatikan keadaan sekeliling.
“ Bapak lagi keluar kota mbak, katanya sih sekitar dua minggu gitu. Duduk dulu mbak, mbok Min ambilin minum dulu.”
Medina mengangguk kecil dan duduk di sofa ruang tamu kediaman Nando. Beberapa menit berselang, Mbok Min kembali masuk ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan.
“ Silakan Mbak,” ucap Mbok Min sembari memindahkan isi nampan di atas meja kaca yang ada di depan Medina.
“ Terima kasih, mbok.” Medina tersenyum ramah. Tapi kemudian senyum itu hilang saat melihat mbok Min duduk di lantai.
“ Mbok min kenapa duduk di lantai, di sini aja.” Medina menepuk – nepuk sisi sofa yang kosong di sampingnya.
“ Nggak enak mbak. Mbakkan tamu di sini.”
“ Iya. Tapi mbok kan lebih tua dari aku. Udah nggak apa – apa duduk di sini aja,” ajak Medina tetap mempertahankan senyumnya, Mbok Min akhirnya menurut.
Medina sadar kadang ia suka bertindak tidak sopan dengan orang yang lebih tua, tapi pengecualian untuk orang yang seumuran atau lebih tua dari ayah dan ibunya. Kalau masih kurang ajar juga, itu namanya keterlaluan.
“ Mbak, lagi ada masalah ya dengan Mas Nando?” tanya Mbok Min tiba – tiba, membuat Medina mengernyit heran dengan tatapan yang seakan berkata, ‘maksudnya?’
“ Maaf, bukannya mbok min mau lancang atau ikut campur, cuman seminggu ini mas Nando jadi lebih pendiam, sering pergi – pergi juga, belum lagi sama bapak , Mas Nando kayak acuh nggak acuh gitu. Pokoknya beda dengan Mas Nando yang biasanya, mbak.”
“ Memang ada masalah sedikit sih, Mbok. Tapi...aku nggak yakin hanya karena masalah itu Nando jadi berubah.
Mbok Min mengangguk mengerti,” Kalau gitu mbok Min permisi dulu mbak, mau masak makan malam buat Mas Nando.” Pamit mbok Min yang di sambut anggukan kepala oleh Medina.
Suasana ruang tamu kembali sunyi, hanya ada Medina di sini. Cerita mbok Min barusan sedikit membebani pikiran Medina. Dia tahu Nando, sebesar apapun masalah yang terjadi di antara mereka Nando akan bergerak sendiri menyelesaikannya.
Dan satu hal yang bisa di tangkap Meddina dari cerita mbok Min tadi, Nando punya masalah lain yang jauh lebih kompleks dari apa yang ia pikirkan, tapi apa?
●●●
1
Kutip
Balas