- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
161.7K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#33
Spoiler for Taman kecil:
Di kamar mandi sekolah, Naura menatap cermin dengan seksama, memercikkan air ke wajah manisnya kemudian membasuhnya, lalu melihat ke cermin kembali.
"Ada apa sama aku, kenapa tiba-tiba aku minta nomornya Senja, Issshhh...! Dan tatapan Surya mengapa seperti itu?!" gumam Naura keheranan pada cermin di depannya.
Sebelumnya..
"Buat apa? Kamu lagi di ganggu mahkluk astral juga?" tanya Surya keheranan.
"Mmmmhh, i-iya, di rumahku ada hantu penasaran, aku butuh bantuannya," jawab Naura sekenanya.
Surya mengeryitkan dahinya, matanya tajam menyelidiki ekspresi Naura.
"Oke, jam istirahat pertama temui aku di taman kecil."
"Taman kecil?" tanya Naura.
"Kamu tahu hutan kecil di belakang sekolahkan? masuk kedalam sana, lurus saja aku akan tunggu di taman kecil." jawab Surya kemudian berlalu meninggalkan Naura yang kebingungan.
"Apa tuan yang di maksud uli dan ili itu Surya ?" gumam Naura di dalam hati.
Naura beranjak dari kamar kecil menuju ruang kelasnya, sembari jalan ia melihat-lihat sekitar, sekolah ini sangat tenang, aktifitas gaib cenderung sedikit, selain Uli dan Ili yang tadi pagi ia lihat hanya ada beberapa entitas gaib di gudang dan kamar mandi belakang dan itupun bukan entitas astral jahil yang suka mengganggu manusia, sekolah ini seperti memiliki tirai pelindung yang tak kasat mata melingkupinya dan ada seseorang yang sangat kuat di balik tirai tersebut.
Naura memasuki kelas, menyapa bu Lola untuk mempersilakan ia masuk.
"Wah Naura lama sekali kamu di kamar mandi, lagi diare kamu?" tanya bu Lola di barengi tawa seisi kelas.
"Hhe, enggak kok bu, tadi memang sangat mules," jawab Naura menahan malu.
"Yasudah sana duduk."
Pelajaran pun berlanjut, hingga bel istirahat berbunyi, Surya bangun dari kursinya.
"Cok, Bams, gua gak ikut ke kantin, mau tidur di belakang," jawab Surya ke Bambang dan Ucok.
"Bah, mau ngapain kau, tumben kali, zangan-zangan kau mau sebat ya..!" selidik Ucok.
"Jangan samain Surya ama elu Cok, paru-parunya masih perawan, enggak kayak paru-paru elu yang udah kayak jablay, semua merek rokok di cobain," sanggah Bambang.
"Bah, kenapa aku jadi yang salah, pusing aku pusing..!"
Naura pun beranjak berdiri, kemudian mengikuti langkah kaki Surya, Surya berjalan sembari kedua tangannya menggaruk belakang kepalanya, "HOOAAAMMM..!" ia menguap lebar di tengah lorong kemudian menggaruk selangkangannya tanpa rasa malu sedikitpun, banyak murid yang risih kemudian menjauh, terutama Naura yang tidak jadi mengekor di belakang Surya, ia berbelok menuju kantin sambil menutup wajahnya dengan satu tangan, berharap para murid yang merasa risih dengan Surya tidak mengenali dirinya.
"Aiisshh.. Aku lupa dia Surya, bukannya Senja," gumam Naura sembari berbisik ke diri sendiri.
Ia ke kantin membeli beberapa makanan untuk Uli dan Ili, kemudian beranjak menuju belakang sekolah, beberapa mata menatap takjub ke Naura terutama kaum lelaki, dengan kecantikan seperti itu membuat para lelaki di kantin berdesir bulu-bulunya.
Sesampainya di hutan belakang sekolah Naura melihat Uli dan Ili menyambutnya.
"Uli, uli itu tuan putri Naura..!"
"Iya ili, tuan putri disini..!"
Uli dan Ili meloncat-loncat kegirangan melihat Naura datang, Uli menggenggam tangan kanan Naura dan Ili tangan kirinya, ia dituntun memasuki hutan kecil itu, kicau burung menyapa Naura, cahaya mentari siang berusaha menembus rindangnya dedaunan pohon di hutan kecil, di tengah hutan itu sedang tidur sesosok lelaki yang tertidur lelap dengan tangan kanan menutup wajahnya sedangkan kaki mengengkang dengan lebarnya dibarengi tangan kiri yang sedang menggaruk-garuk pantatnya yang gatal, ya sudah dapat di pastikan itu Surya.
Naura bergidik melihat pemandangan itu, ekspresi geli ingin muntah terlihat sekejap dari wajah Naura.
"Oh tuan Surya kami kesini telah membawa putri Naura," jawab Uli sembari sujud seperti kesatria.
"Silakan tuan Surya meminang putri Naura sebagai permaisuri tuan Surya, sehingga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis," jawab Ili sambil bersujud di depan Surya.
Naura terbelalak mendengar kata-kata Uli dan Ili.
-BLETAK..!-
-BLETAK..!-
bunyi jitakan bersarang di kepala Uli dan Ili, Uli dan Ili tersungkur menahan sakit di kepala yang amat sangat, dua buah benjolan menghiasi kepala pelontos mereka berdua..
"Iiisshh, nyebelin, aku mending balik ke kelas kalau seperti ini..!" jawab Naura sambil membuang makanan yang di beli untuk Uli dan Ili.
Naura berbalik arah namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Surya.
"Jadi kamu enggak mau nomor handphone Senja?" tanya Surya.
Posisi Surya sudah terduduk di kursi panjang itu, matanya menatap tajam ke arah Naura yang mendengarkan dengan seksama.
"Dan lagi pula aku bisa ajarin kamu tentang energi sukma," sambung Surya sembari menggaruk puncak kepalanya.
"Energi sukma?!" tanya Naura keheranan.
"Manusia awam menyebutnya tenaga dalam, aura, chi, energi telekinesis dan masih banyak lagi, ya kalo aku bilang ini semua energi sukma."
Sebuah cahaya berpendar dari tangan kanan Surya, membentuk bola cahaya yang terang benderang, cahayanya teduh dan menghangatkan.
"Seperti ini, dan aku bisa mengajari kamu cara agar isi fikiran kamu enggak bisa di baca lagi sama aku ataupun Senja, bagaimana? tertarik?"
Naura menatap tajam ke arah Surya, ia melangkah semakin mendekat ke arah Surya.
"Lanjutkan, aku mendengarkan."
Dilain tempat.
"Pak ketua, pergerakan mereka mulai terlihat, para pengikutnya mulai berkumpul jika kita tidak bergerak segera mereka akan …"
"Kita tidak bisa gegabah jika kita salah bergerak kejadian puluhan tahun yang lalu bisa terulang kembali, aku tidak menginginkan pertumpahan darah lagi di kubu kita," potong seseorang lelaki tua di kursi tuanya.
"Hmmm, lalu apa yang harus kita lakukan ketua?" tanya pemuda itu pada sang lelaki tua.
"Tolong cari pemuda ini, dia anak dari Bagas prakasa, namanya Surya namun memiliki alias Senja saat bekerja."
"Maaf jika saya lancang pak, akan tetapi apa yang ingin anda lakukan pada anak ini?"
Sang lelaki tua menatap manik mata lawan bicaranya lalu berkata, "kita akan merekrutnya menjadi salah satu anggota kita dan semoga kita tidak terlambat."
Bersambung..
"Ada apa sama aku, kenapa tiba-tiba aku minta nomornya Senja, Issshhh...! Dan tatapan Surya mengapa seperti itu?!" gumam Naura keheranan pada cermin di depannya.
Sebelumnya..
"Buat apa? Kamu lagi di ganggu mahkluk astral juga?" tanya Surya keheranan.
"Mmmmhh, i-iya, di rumahku ada hantu penasaran, aku butuh bantuannya," jawab Naura sekenanya.
Surya mengeryitkan dahinya, matanya tajam menyelidiki ekspresi Naura.
"Oke, jam istirahat pertama temui aku di taman kecil."
"Taman kecil?" tanya Naura.
"Kamu tahu hutan kecil di belakang sekolahkan? masuk kedalam sana, lurus saja aku akan tunggu di taman kecil." jawab Surya kemudian berlalu meninggalkan Naura yang kebingungan.
"Apa tuan yang di maksud uli dan ili itu Surya ?" gumam Naura di dalam hati.
Naura beranjak dari kamar kecil menuju ruang kelasnya, sembari jalan ia melihat-lihat sekitar, sekolah ini sangat tenang, aktifitas gaib cenderung sedikit, selain Uli dan Ili yang tadi pagi ia lihat hanya ada beberapa entitas gaib di gudang dan kamar mandi belakang dan itupun bukan entitas astral jahil yang suka mengganggu manusia, sekolah ini seperti memiliki tirai pelindung yang tak kasat mata melingkupinya dan ada seseorang yang sangat kuat di balik tirai tersebut.
Naura memasuki kelas, menyapa bu Lola untuk mempersilakan ia masuk.
"Wah Naura lama sekali kamu di kamar mandi, lagi diare kamu?" tanya bu Lola di barengi tawa seisi kelas.
"Hhe, enggak kok bu, tadi memang sangat mules," jawab Naura menahan malu.
"Yasudah sana duduk."
Pelajaran pun berlanjut, hingga bel istirahat berbunyi, Surya bangun dari kursinya.
"Cok, Bams, gua gak ikut ke kantin, mau tidur di belakang," jawab Surya ke Bambang dan Ucok.
"Bah, mau ngapain kau, tumben kali, zangan-zangan kau mau sebat ya..!" selidik Ucok.
"Jangan samain Surya ama elu Cok, paru-parunya masih perawan, enggak kayak paru-paru elu yang udah kayak jablay, semua merek rokok di cobain," sanggah Bambang.
"Bah, kenapa aku jadi yang salah, pusing aku pusing..!"
Naura pun beranjak berdiri, kemudian mengikuti langkah kaki Surya, Surya berjalan sembari kedua tangannya menggaruk belakang kepalanya, "HOOAAAMMM..!" ia menguap lebar di tengah lorong kemudian menggaruk selangkangannya tanpa rasa malu sedikitpun, banyak murid yang risih kemudian menjauh, terutama Naura yang tidak jadi mengekor di belakang Surya, ia berbelok menuju kantin sambil menutup wajahnya dengan satu tangan, berharap para murid yang merasa risih dengan Surya tidak mengenali dirinya.
"Aiisshh.. Aku lupa dia Surya, bukannya Senja," gumam Naura sembari berbisik ke diri sendiri.
Ia ke kantin membeli beberapa makanan untuk Uli dan Ili, kemudian beranjak menuju belakang sekolah, beberapa mata menatap takjub ke Naura terutama kaum lelaki, dengan kecantikan seperti itu membuat para lelaki di kantin berdesir bulu-bulunya.
Sesampainya di hutan belakang sekolah Naura melihat Uli dan Ili menyambutnya.
"Uli, uli itu tuan putri Naura..!"
"Iya ili, tuan putri disini..!"
Uli dan Ili meloncat-loncat kegirangan melihat Naura datang, Uli menggenggam tangan kanan Naura dan Ili tangan kirinya, ia dituntun memasuki hutan kecil itu, kicau burung menyapa Naura, cahaya mentari siang berusaha menembus rindangnya dedaunan pohon di hutan kecil, di tengah hutan itu sedang tidur sesosok lelaki yang tertidur lelap dengan tangan kanan menutup wajahnya sedangkan kaki mengengkang dengan lebarnya dibarengi tangan kiri yang sedang menggaruk-garuk pantatnya yang gatal, ya sudah dapat di pastikan itu Surya.
Naura bergidik melihat pemandangan itu, ekspresi geli ingin muntah terlihat sekejap dari wajah Naura.
"Oh tuan Surya kami kesini telah membawa putri Naura," jawab Uli sembari sujud seperti kesatria.
"Silakan tuan Surya meminang putri Naura sebagai permaisuri tuan Surya, sehingga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis," jawab Ili sambil bersujud di depan Surya.
Naura terbelalak mendengar kata-kata Uli dan Ili.
-BLETAK..!-
-BLETAK..!-
bunyi jitakan bersarang di kepala Uli dan Ili, Uli dan Ili tersungkur menahan sakit di kepala yang amat sangat, dua buah benjolan menghiasi kepala pelontos mereka berdua..
"Iiisshh, nyebelin, aku mending balik ke kelas kalau seperti ini..!" jawab Naura sambil membuang makanan yang di beli untuk Uli dan Ili.
Naura berbalik arah namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara Surya.
"Jadi kamu enggak mau nomor handphone Senja?" tanya Surya.
Posisi Surya sudah terduduk di kursi panjang itu, matanya menatap tajam ke arah Naura yang mendengarkan dengan seksama.
"Dan lagi pula aku bisa ajarin kamu tentang energi sukma," sambung Surya sembari menggaruk puncak kepalanya.
"Energi sukma?!" tanya Naura keheranan.
"Manusia awam menyebutnya tenaga dalam, aura, chi, energi telekinesis dan masih banyak lagi, ya kalo aku bilang ini semua energi sukma."
Sebuah cahaya berpendar dari tangan kanan Surya, membentuk bola cahaya yang terang benderang, cahayanya teduh dan menghangatkan.
"Seperti ini, dan aku bisa mengajari kamu cara agar isi fikiran kamu enggak bisa di baca lagi sama aku ataupun Senja, bagaimana? tertarik?"
Naura menatap tajam ke arah Surya, ia melangkah semakin mendekat ke arah Surya.
"Lanjutkan, aku mendengarkan."
Dilain tempat.
"Pak ketua, pergerakan mereka mulai terlihat, para pengikutnya mulai berkumpul jika kita tidak bergerak segera mereka akan …"
"Kita tidak bisa gegabah jika kita salah bergerak kejadian puluhan tahun yang lalu bisa terulang kembali, aku tidak menginginkan pertumpahan darah lagi di kubu kita," potong seseorang lelaki tua di kursi tuanya.
"Hmmm, lalu apa yang harus kita lakukan ketua?" tanya pemuda itu pada sang lelaki tua.
"Tolong cari pemuda ini, dia anak dari Bagas prakasa, namanya Surya namun memiliki alias Senja saat bekerja."
"Maaf jika saya lancang pak, akan tetapi apa yang ingin anda lakukan pada anak ini?"
Sang lelaki tua menatap manik mata lawan bicaranya lalu berkata, "kita akan merekrutnya menjadi salah satu anggota kita dan semoga kita tidak terlambat."
Bersambung..
namakuve dan 18 lainnya memberi reputasi
19
Kutip
Balas