- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.6K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#799
Quote:
PART 55
Dek, sebesar apapun masalah kamu. Kamu nggak sendirian, ada mama, papa, sahabat – sahabat kamu, dan yang terpenting ada Allah yang nggak akan pernah meninggalkan kita. Kakak baik – baik aja, jangan khawatir. Kakak mau kamu fokus sama cita – cita kamu, kebahagiaan kakak ada pada kebahagiaan kamu. Jangan sedih, suatu hari nanti kita pasti ketemu.
Ucapan dari Adam terdengar begitu nyata tapi juga seperti mimpi bagi Medina. Apalagi saat bangun tiba – tiba ia sudah berada di kamarnya. Kamar yang cukup besar untuk ia tempati. Medina menghembus nafas kasar, menyadari ia sekarang sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya. Ia masih belum ingat bagaimana ia bisa berada di sini. Terakhir yang dia ingat dia bertemu seseorang yang mirip dengan Adam. Sekedar mirip atau itu memang Adam? Entahlah...semuanya terlihat semu untuk di sebut kenyataan. Dan jika memang itu nyata, kemana kakaknya sekarang?
“ Eh...anak mama udah bangun?” seruan sang ibu yang baru saja masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makanan memecah lamunan Medina. “ Makan dulu ya, setelah itu minum obat.”
“ Aku kok bisa ada di sini?” tanya Medina menghentikan kesibukan ibunya yang bersiap menyuapi Medina sesendok bubur.
Sang ibu menghela nafas, dan kemudian meletakkan kembali mangkok bubur di atas nakas.” Kamu tadi pingsan, makanya papa langsung bawa kamu pulang?”
“ Papa? Tahu darimana papa aku ada di sana?” tanya Medina semakin penasaran. Karena ia belum pernah bercerita apapun soal keberadaan makam orang tua angkatnya.
“ Medina...kamukan tahu, Orang kepercayaan papa itu banyak, jadi ya...buat nemuin kamu doank itu gampang,” terang mama tapi terdengar aneh bagi Medina. Sehebat apapun orang kepercayaan ayahnya, tidak mungkin mereka bisa tahu tempat itu. Kecuali, mereka membuntuti Medina seharian ini. Ah...menyebalkan, sampai di sini sajakah pelariannya?
“ Sayang, jangan kabur – kaburan lagi ya, mama tu khawatir sama kamu. Lihat saja baru berapa hari minggat, kamu udah sakit kayak gini,”
“ Kabur kali ini ada kesalahan teknis aja, Ma. Biasanya juga aku kuat kok.”
Medina beranjak meninggalkan kasurnya yang empuk, dan berjalan ke arah balkon. Hujan telah reda sepenuhnya, langit sore yang merona jingga tampak indah terlukis di cakrawala.
Medina menghirup udara sekitar sambil memejamkan matanya. Satu hal yang selalu ia lakukan saat hujan reda. Entah kenapa ia selalu merasa bahagia mencium aroma yang khas setelah hujan.
Ia tersenyum memandangi langit luas, ucapan Adam tadi kembali terngiang di telinganya. Tak peduli itu nyata atau mimpi tapi yang pasti Medina merasa jauh lebih lega sekarang.
Ia sangat yakin, dimanapun kakaknya saat ini, ia pasti baik – baik saja, dan berharap Medina berhasil meraih mimpinya. Dan...tentu saja ia tidak perlu kabur – kaburan lagi, ia bisa lihat seberapa besar kekhawatiran ibunya tadi. Apalagi pulang – pulang malah sakit. Ah...Medina kenapa akhir – akhir ini ada begitu banyak drama yang kamu ciptakan???
“ Ngapain?” tanya Mama yang entah sejak kapan sudah berada di sisi Medina dan merangkul pundaknya.
Medina tersenyum tipis, dan kemudian memeluk ibunya dengan sangat erat hingga membuat ibunya sedikit heran,” Maafin Medina ya, Ma.” Bisik Medina sambil terus memeluk ibunya.
Ibunya hanya mengangguk pelan dengan mata berkaca – kaca,” Maafin mama juga.”
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan Medina masih saja terjaga. Ia berusaha mati – matian menahan kantuk, demi menungu ayahnya pulang.
Ada beberapa hal yang sangat ingin ia ketahui dan ia tanyakan pada ayahnya terkait pertemuannya dengan orang yang 'mirip' Adam tadi siang. Ia hanya ingin memastikan apa itu nyata? Atau sekedar mimpi? Semoga sang ayah punya jawabannya.
Sejak siuman tadi dia memang belum bertemu ayahnya lantaran ayah tidak ada di rumah.
Deru mesin mobil terdengar memasuki pekarangan. Medina berlari cepat keluar kamar, ia yakin itu ayahnya. Setibanya di ambang pintu, Medina segera membukanya. Dugaannya benar itu ayahnya dan ia sedang tidak baik – baik saja. Aroma alkohol menyeruak,membuat Medina sontak menutup hidungnya.
“ Papa mabuk?”
Tuan Vegar cengengesan dan memasuki rumah dengan jalan sempoyongan. Medina sangat benci bau alkohol, tapi ia tetap harus membantu ayahnya. Ia menuntun sang ayah duduk di sofa ruang tamu.
Setelahnya Medina bingung harus melakukan apa, ia tak pernah berhadapan dengan orang mabuk sebelumnya.
Ia ingin membangunkan ibunya, tapi rasanya itu bukan ide yang bagus. Mama pasti marah lihat papa kayak gini. Memanggil para ART ia juga tidak enak. Mereka juga butuh istirahat, lagipula tengah malam begini mereka pasti sudah pulas tertidur. Kasihan jika harus di bangunkan hanya untuk mengurusi ayahnya yang mabuk seperti ABG labil yang lari dari masalah.
Hal pertama yang Medina lakukan adalah membuka sepatu ayahnya. Pergerakannya terhenti saat ayahnya berbicara.
“ Dasar anak tidak tahu diri, di ajak hidup seneng malah nolak. Papa itu sayang sama kamu Adam. Papa ngelakuin semua ini buat kebahagiaan kamu dan Medina.”
Medina tertegun mendengar kata – kata ayahnya. Ia bingung harus mempercayai atau tidak, baginya setiap perkataan orang yang sedang mabuk terdengar melantur. Tapi...Nina pernah bilang orang mabuk terkadang mereka juga bicara jujur tanpa mereka sadari. Lalu...teori mana yang harus Medina gunakan saat ini?
“ Pa, papa udah ketemu kak Adam?” tanya Medina penasaran dengan harapan ayahnya berkata jujur.
“ Adam? Adam siapa? Papa nggak kenal,” jawab tuan Vegar dengan cengengesan dan sekaligus mengubur harapan Medina tadi. Memang tidak ada gunannya berbicara serius dengan orang mabuk alias ‘nggak nyambung’.
“ Hehehe...bercanda. Mana mungkin papa lupa sama anak sendiri.”
“ Jadi benaran papa ketemu kak Adam?”
Tuan Vegar mengangguk,” Dia pagi tadi ke kantor, pamitan.”
“ Pamit? Pamit kemana?”
“ Ke kuburan, hahahaha.”
“ Pa, aku serius.”
“ Papa juga serius, dia pamitan lalu pergi ke TPU tadi buat nyusulin kamu.”
Medina gamang, matanya mulai berkaca – kaca. Firasatnya benar , yang ia lihat tadi Adam. Ia tidak bermimpi. Dan semua ucapan itu, ia yakin itu juga suara Adam. Tapi kenapa ia tidak di sini? Kenapa ia justru pergi sebelum Medina siuman? Masih marahkah ia pada Medina? Dan...kesempatan Medina untuk meminta maaf apa harus musnah begitu saja?
“ Pa...kak Adam pamit kemana?”
Tuan Vegar menggeleng wajahnya berubah sedih, “ Papa nggak tahu. Papa sedih. Papa mau dia di sini, tapi dia nggak mau.”
Medina berangsur memeluk ayahnya, ia menemukan air mata yang perlahan luruh membasahi pipi sang ayah. Medina tahu ini adalah pengakuan paling jujur dari seorang ayah yang selama ini mengabaikan anak – anaknya.
Tangisan Medina pecah begitu saja menyaksikan ayahnya menangis karena perasaan bersalah yang selama ini ia tanggung dan berusaha ia tutupi.
“ Kak Adam pasti balik pa, dia pasti kembali.” Lirih Medina pelan dengan deraian air mata.
***
Medina baru saja selesai berbenah diri, ia bersiap kembali ke kampus hari ini. Medina mematut diri di depan cermin, ia baru sadar ia memang terlihat berbeda dengan jilbab yang membungkus raambutnya, merasa lebih terjaga dan...nyaman.
“ Kak Adam benar, ini jauh lebih baik daripada topi buluk gue,” ucap Medina dengan tersenyum tipis.
Walau pada kenyataannya Adam tidak berada di sini, Medina yakin kakaknya sangat berharap agar ia menjadi Medina yang lebih baik, lebih mandiri, dan lebih dewasa lagi.
Medina sarapan!! Teriak mama dari lantai dasar.
“ Iya Ma, bentar.”
Medina bergegas keluar kamar sambil memanggul ranselnya dan membawa sebuah box berukuran sedang yang sudah ia siapkan sejak tadi malam.
Senyum mengembang mama langsung menyambutnya saat tiba di meja makan. Tapi tidak dengan sang ayah , yang justru terlihat sangat datar. Ayahnya telah kembali pada sosok aslinya yang tegas dan minim senyuman. Setidaknya itu jauh lebih baik daripada melihat ayahnya dalam kondisi mabuk tadi malam.
Medina memilih duduk di kursi yang berada dekat dengan sang ayah,” Selamat pagi, Pa.”
“ Pagi.” Jawab tuan Vegar tanpa menoleh ke arah Medina.
Medina meletakkan box yang ia bawa tadi di atas meja,” Aku punya sesuatu buat papa,” Medina menggeser kotak itu agar berada lebih dekat dengan ayahnya. Dan sedikit memancing rasa penasaran kedua orang tuanya.
“ Kak Adam bilang, masalah nggak akan selesai dengan alkohol. Semoga apa yang ada di dalam kotak ini bisa membantu papa lebih tenang.”
“ Sayang itu apa?” tanya Mama yang semakin penasaran, apalagi sang suami belum berhasrat membuka apalagi menyentuh kotak itu.
Medina beranjak dari tempat duduknya dan membisikkan sesuatu pada sang ibu. Tuan Vegar yang melihat keduanya tiba – tiba tersenyum hanya mengerutkan dahi sesaat dan kemudian kembali memamerkan wajah datarnya, pura – pura tidak tertarik.
“ Aku berangkat dulu ya,” pamit Medina sembari mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
“ Nggak sarapan dulu?” tanya Mama heran.
“ Nggak deh Ma. Di kantin aja nanti, aku lagi buru – buru. Assalammualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Selang beberapa detik kepergian Medina, senyum tipis terukir di bibir tuan Vegar. Sorot mata tajamnya, tenang memandangi hadiah kecil pemberian anak bungsunya. “ Hm...anak itu.” Gumam tuan Vegar pelan agar tidak terdengarr sang istri yang terlihat sangat menikmati sarapannya.
●●●
0
Kutip
Balas