- Beranda
- Sejarah & Xenology
ERWIN ROMMEL, si RUBAH PADANG PASIR
...
TS
aryosh869
ERWIN ROMMEL, si RUBAH PADANG PASIR
HEYYO, KALI INI GW AKAN MENJELASKAN TENTANG SOSOK ERWIN ROMMEL. YUPS LANGSUNG SAJA.....
Erwin Johannes Eugen Rommel (lahir 15 November 1891 – meninggal 14 Oktober 1944 pada umur 52 tahun) adalah seorang Marsekal lapangan pasukan Jerman pada era Perang Dunia II. Ia juga dikenal dengan sebutan "Rubah Padang Pasir" (The Desert Fox).
Rommel adalah seorang prajurit dengan banyak tanda jasa saat Perang Dunia I dan dianugerahi Pour de Mérite atas tindakan-tindakannya saat berperang di Front Italia. Saat Perang Dunia II, ia menjadi pemimpin Divisi Panzer ke-7 saat Invasi Jerman ke Prancis. Kepemimpinannya saat memimpin pasukan Jerman dan Italia di Front Afrika Utara membuahkan reputasinya sebagai salah satu jendral terhebat dan membuahi julukan "Rubah Padang Pasir" juga. Ia nantinya juga memimpin pasukan Jerman menghadapi pasukan Sekutu di Normandia.
Rommel mendukung Machtergreifung (Berkuasanya Partai Nazi) dan Adolf Hitler, meskipun sikap dan pemahamannya mengenai Nazisme masih diragukan.
Pada 1944, Rommel terlibat dalam Plot 20 Juli, sebuah usaha untuk membunuh Hitler. Usai Hitler mengetahui keterlibatannya, Hitler memutuskan untuk menyingkirkan Rommel diam-diam mengingat bahwa Rommel memegang gelar Pahlawan Nasional. Rommel diberi 2 pilihan oleh Hitler, bunuh diri dengan terhormat dan keluarganya takkan diusik atau dibunuh bersama keluarganya. Rommel memilih untuk bunuh diri. Usai pemakamannya, diumumkan bahwa Rommel mati karena lukanya saat mobil stafnya dihujani peluru di Normandia.
Perang Dunia II
Pada musim gugur 1938, Hitler menunjuk Rommel memimpin unit Wehrmacht yang bertugas melindungi kunjungannya ke Cekoslowakia yang baru saja dianeksasi Jerman. Menjelang invasi ke Polandia. Tahun 1938 itu pula Rommel langsung dipromosikan sebagai Mayor Jenderal. Sebuah kenaikan pangkat yang luar biasa bagi Rommel mengingat dalam setahunpangkatnya naik sebanyak dua kali. Rommel ditunjuk menjabat Komandan Führer-Begleitbattalion yang bertanggungjawab atas pengamanan markas besar bergerak Hitler selama invasi.
Perancis 1940[sunting | sunting sumber]
Tiga bulan setelah invasi Polandia, Rommel mendapat perintah mengomandoi Divisi Panzer ke-7 yang menginvasi Perancis pada Operasi Fall Gelb, Mei 1940. Pasukannya bergerak maju lebih cepat dan lebih jauh dari pasukan-pasukan lain dalam sejarah militer dunia dan mendapat julukan Gespenster-Division (Divisi Hantu), saking sulitnya dideteksi keberadaannya bahkan oleh markas besar Wehrmacht.
Divisi Panzer ke-7 merupakan unit pasukan Jerman pertama yang mencapai Selat Inggris pada 10 Juni 1940, Lalu dia memutar ke selatan, merebut pelabuhan penting Cherbourg pada 19 Juni, dan melaju sepanjang pesisir Perancis hingga mencapai perbatasan Spanyol.
Selama pertempuran di Perancis tersebut, ia tidak henti-hentinya mengalami keberhasilan. Salah satunya pada pertempuran di Arras. Rommel memang seorang yang tahan banting. Pada fase pertama pertempuran ini, Divisi Panzer ke-7 berhasil dipukul mundur oleh tentara Sekutu pimpinan Mayjen Harold Franklyn, tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Setelah ia berhasil mengumpulkan kekuatan kembali, akhirnya ia berhasil mengalahkan tentara sekutu pada fase kedua pertempuran.
Afrika Utara 1941-1943[sunting | sunting sumber]

Panglima Tertinggi Erwin Rommel, Komandan Angkatan Jerman di Afrika Utara, dengan para pembantunya selama kampanye gurun pada tahun 1942
Sebagai penghargaan, Rommel dipromosikan menjadi Jenderal dan panglima dari 2 divisi AD Jerman yaitu Divisi Ringan ke-5 (kemudian direorganisir dan redesain sebagai Divisi Panzer ke-21) dan Divisi Panzer ke-15, yang dikirim ke Libya pada awal 1941 untuk menolong pasukan Italia yang menderita kekalahan besar di front Afrika Utara. Pasukannya inilah cikal bakal terbentuknya Deutsches Afrika Korps. Pasukan barunya ini berhasil memukul mundur Tentara ke-8 Inggris (British 8th Army) keluar dari Tobruk di Libya. Pasukannya merangsek terus ke Mesir tapi berhasil dipatahkan di 'Alamain. Begitu tentara Amerika Serikat mendarat di Maroko dan Aljazair, pasukannya ditarik mundur meninggalkan Tunisia. Kiprahnya di medan pertempuran di padang pasir Afrika Utara itu membuatnya dijuluki "Rubah Padang Pasir" ("The Desert Fox")
Kejeniusannya dalam taktik perang infantri, didukung kecanggihan teknologi panser Jerman dan kedisiplinan pasukannya yang tinggi membuat Jerman unggul. Bahkan, disebutkan bahwa pasukan Rommel pernah mengalahkan pasukan Sekutu di Pertempuran Kasserine Pass dengan perbandingan jumlah pasukan Sekutu 30.000 dan pasukan Jerman pimpinan Rommel 22.000 saja. Hal ini terus menambah popularitasnya dikalangan Jerman maupun Sekutu. Sayang sekali, kesuksesan ini tidak terlalu mendapat tanggapan serius dari Reichführer Hitler. Kurangnya pasokan logistik, amunisi dan bahan bakar dikarenakan perhatian Hitler ke front Rusia dan upaya menyerbu Inggris serta adanya blokade Angkatan Laut Inggris di Laut Tengah menyebabkan pasukan Afrika Korps tidak mampu melanjutkan pertempuran dan terus mengalami kekalahan.
NAMUN, ERWIN ROMMEL MENINGGAL DENGAN CARA YG TRAGIS YAITU DENGAN MENEGUK PIL SIANIDA ALIAS BUNDIR KARENA DIDUGA BERSEKONGKOL AKAN MENGGULINGKAN HITLER


Erwin Johannes Eugen Rommel (lahir 15 November 1891 – meninggal 14 Oktober 1944 pada umur 52 tahun) adalah seorang Marsekal lapangan pasukan Jerman pada era Perang Dunia II. Ia juga dikenal dengan sebutan "Rubah Padang Pasir" (The Desert Fox).
Rommel adalah seorang prajurit dengan banyak tanda jasa saat Perang Dunia I dan dianugerahi Pour de Mérite atas tindakan-tindakannya saat berperang di Front Italia. Saat Perang Dunia II, ia menjadi pemimpin Divisi Panzer ke-7 saat Invasi Jerman ke Prancis. Kepemimpinannya saat memimpin pasukan Jerman dan Italia di Front Afrika Utara membuahkan reputasinya sebagai salah satu jendral terhebat dan membuahi julukan "Rubah Padang Pasir" juga. Ia nantinya juga memimpin pasukan Jerman menghadapi pasukan Sekutu di Normandia.
Rommel mendukung Machtergreifung (Berkuasanya Partai Nazi) dan Adolf Hitler, meskipun sikap dan pemahamannya mengenai Nazisme masih diragukan.
Pada 1944, Rommel terlibat dalam Plot 20 Juli, sebuah usaha untuk membunuh Hitler. Usai Hitler mengetahui keterlibatannya, Hitler memutuskan untuk menyingkirkan Rommel diam-diam mengingat bahwa Rommel memegang gelar Pahlawan Nasional. Rommel diberi 2 pilihan oleh Hitler, bunuh diri dengan terhormat dan keluarganya takkan diusik atau dibunuh bersama keluarganya. Rommel memilih untuk bunuh diri. Usai pemakamannya, diumumkan bahwa Rommel mati karena lukanya saat mobil stafnya dihujani peluru di Normandia.
Perang Dunia II
Pada musim gugur 1938, Hitler menunjuk Rommel memimpin unit Wehrmacht yang bertugas melindungi kunjungannya ke Cekoslowakia yang baru saja dianeksasi Jerman. Menjelang invasi ke Polandia. Tahun 1938 itu pula Rommel langsung dipromosikan sebagai Mayor Jenderal. Sebuah kenaikan pangkat yang luar biasa bagi Rommel mengingat dalam setahunpangkatnya naik sebanyak dua kali. Rommel ditunjuk menjabat Komandan Führer-Begleitbattalion yang bertanggungjawab atas pengamanan markas besar bergerak Hitler selama invasi.
Perancis 1940[sunting | sunting sumber]
Tiga bulan setelah invasi Polandia, Rommel mendapat perintah mengomandoi Divisi Panzer ke-7 yang menginvasi Perancis pada Operasi Fall Gelb, Mei 1940. Pasukannya bergerak maju lebih cepat dan lebih jauh dari pasukan-pasukan lain dalam sejarah militer dunia dan mendapat julukan Gespenster-Division (Divisi Hantu), saking sulitnya dideteksi keberadaannya bahkan oleh markas besar Wehrmacht.
Divisi Panzer ke-7 merupakan unit pasukan Jerman pertama yang mencapai Selat Inggris pada 10 Juni 1940, Lalu dia memutar ke selatan, merebut pelabuhan penting Cherbourg pada 19 Juni, dan melaju sepanjang pesisir Perancis hingga mencapai perbatasan Spanyol.
Selama pertempuran di Perancis tersebut, ia tidak henti-hentinya mengalami keberhasilan. Salah satunya pada pertempuran di Arras. Rommel memang seorang yang tahan banting. Pada fase pertama pertempuran ini, Divisi Panzer ke-7 berhasil dipukul mundur oleh tentara Sekutu pimpinan Mayjen Harold Franklyn, tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Setelah ia berhasil mengumpulkan kekuatan kembali, akhirnya ia berhasil mengalahkan tentara sekutu pada fase kedua pertempuran.
Afrika Utara 1941-1943[sunting | sunting sumber]
Panglima Tertinggi Erwin Rommel, Komandan Angkatan Jerman di Afrika Utara, dengan para pembantunya selama kampanye gurun pada tahun 1942
Sebagai penghargaan, Rommel dipromosikan menjadi Jenderal dan panglima dari 2 divisi AD Jerman yaitu Divisi Ringan ke-5 (kemudian direorganisir dan redesain sebagai Divisi Panzer ke-21) dan Divisi Panzer ke-15, yang dikirim ke Libya pada awal 1941 untuk menolong pasukan Italia yang menderita kekalahan besar di front Afrika Utara. Pasukannya inilah cikal bakal terbentuknya Deutsches Afrika Korps. Pasukan barunya ini berhasil memukul mundur Tentara ke-8 Inggris (British 8th Army) keluar dari Tobruk di Libya. Pasukannya merangsek terus ke Mesir tapi berhasil dipatahkan di 'Alamain. Begitu tentara Amerika Serikat mendarat di Maroko dan Aljazair, pasukannya ditarik mundur meninggalkan Tunisia. Kiprahnya di medan pertempuran di padang pasir Afrika Utara itu membuatnya dijuluki "Rubah Padang Pasir" ("The Desert Fox")
Kejeniusannya dalam taktik perang infantri, didukung kecanggihan teknologi panser Jerman dan kedisiplinan pasukannya yang tinggi membuat Jerman unggul. Bahkan, disebutkan bahwa pasukan Rommel pernah mengalahkan pasukan Sekutu di Pertempuran Kasserine Pass dengan perbandingan jumlah pasukan Sekutu 30.000 dan pasukan Jerman pimpinan Rommel 22.000 saja. Hal ini terus menambah popularitasnya dikalangan Jerman maupun Sekutu. Sayang sekali, kesuksesan ini tidak terlalu mendapat tanggapan serius dari Reichführer Hitler. Kurangnya pasokan logistik, amunisi dan bahan bakar dikarenakan perhatian Hitler ke front Rusia dan upaya menyerbu Inggris serta adanya blokade Angkatan Laut Inggris di Laut Tengah menyebabkan pasukan Afrika Korps tidak mampu melanjutkan pertempuran dan terus mengalami kekalahan.
NAMUN, ERWIN ROMMEL MENINGGAL DENGAN CARA YG TRAGIS YAITU DENGAN MENEGUK PIL SIANIDA ALIAS BUNDIR KARENA DIDUGA BERSEKONGKOL AKAN MENGGULINGKAN HITLER


coklat80 memberi reputasi
3
7.6K
38
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Sejarah & Xenology
6.5KThread•11.6KAnggota
Tampilkan semua post
hannepin
#4
Quote:
yang dikatakan betul.
blitzkrieg itu cuma karangan jurnalis barat. AB Jerman sendiri gak mengenal istilah blitzkrieg.
demikian juga taktik kavaleri berat mengacu pada reformasi oleh Guderian, bukan Rommel yang belum jadi perwira tinggi ketika itu. Guderian di masa peralihan ke PD 2 membangun dan melatih taktik baru. hal ini yang membuat Jerman menjadi superior daripada Prancis dkk di awal, karena korps dan divisi tank mereka terpisah dari infantri.
apabila prancis dkk tank itu selalu mengikuti infantri dan karenanya evolusinya menjadi berat dan lambat, karena sekedar jadi bunker berjalan. bagi jerman tank itu mandiri, unit tank bergerak sendiri dengan leluasa dengan unit tank tank lainnya. mereka tidak diikat dengan gerakan infantri yang jauh lebih lambat.
karena itu gerakan Jerman menjadi sangat cepat dan membuat kaget pihak Prancis. karena di luar dugaan sudah ada dimana-mana, karena kavaleri tank mereka gass poll tanpa harus mikirin infantri jauh di belakang. taktik mereka adalah bergerak secepatnya dan beruntung gebuk kekuatan prancis yang sama sekali belum siap.
bahkan jerman beberapa kali mergokin pasukan prancis yang hendak dikirim untuk nambah gap di ardeness sedang istirahat di pinggir jalan. sedang santai, ranpur parkir rapih dan sedang buka tenda dan masak sore. langsung dihajar tanpa ampun. entah berapa divisi prancis jadi korban ketidaksiapan mereka sendiri.
1-1nya jasa rommel di prancis adalah ia termasuk yang paling nekat maju sejauh-jauhnya, bahkan sampai diomelin korps logistik karena supply BBM mereka begitu jauh. tetapi hal ini yang membuat namanya tenar karena mainnya agresif dan sudah sampai paling jauh ke jantung prancis membuat kekacauan dimana-mana. hal ini yang membuat blitzkrieg jadi tenar.
tapi bukan cuma rommel, beberapa tank leader juga punya prestasi yang sama karena pertahanan prancis yang memang tidak sigap dengan pertempuran tank modern.
Quote:
iyes. beberapa tank prancis nyatanya jauh lebih superior sehingga tank jerman harus keroyokan untuk membuatnya rusak. gak bisa dihancurkan pula kecuali dari sudut belakang. biasanya malah dianggap selesai kalau crew tank prancis kabur karena ditembak bertubi-tubi, padahal tank nya masih masih selamat.
Flak 88 itu di era afrika utara mungkin?
di prancis rasanya flak 88 telat dibawa sebelum prancis rekapitulasi. walau mungkin juga beberapa mengikuti divisi infantri dan kebetulan menghajar tank lawan. ane sudah lupa komposisi AA gun berat macam flak 88 nempel ke level/ satuan satuan mana saja.
1