- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.1K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#1651
Terimakasih buat yang udah setia mantengin biarpun updatenya bolong-bolong 
Just Info buat yang mantengin story ane dibawah, ane bakal offline buat waktu cukup lama karena ane berniat beresin dulu ngetik lanjutannya sampe tamat. habis itu bakal update borongan, kalo ada yang nanya ampe kapan? ane cuma bisa jawab. Seberesnya.. terima kasih

Quote:
Kak Galih dan kak Ratna sekarang nampaknya sudah cukup tenang dengan kondisi atap mobil yang terbuka tiba-tiba, namun berbeda denganku karena tidak lama kemudian tiba-tiba saja rambut sosok itu seperti tertiup angin yang membuat rambutnya terhempas dan membuat wajahnya jelas terlihat.
Part 39
Baru pertama kali rasanya aku melihat fenomena seperti ini secara langsung, aku sungguh merasa ngeri hingga tubuhku gemetaran karena tahu wanita itu bukanlah manusia, namun disisi lain aku malah merasa terus ingin melihat kearah wajah sosok tersebut yang mana wajahnya itu Rata.
Aku dan sosok tersebut saling memandang satu sama lain, untuk beberapa detik lamanya pandanganku tidak terlepas darinya. Aku merasa sulit untuk mengedipkan mataku mungkin karena perasaan takut, namun ketika aku bisa mengedipkan mata sosok itu sudah hilang bak ditelan bumi.
Badanku terasa lemas, bahkan tanpa kusadari ternyata badanku sudah dibasahi oleh keringat dingin. Jujur saja aku kadang merasa penasaran
kenapa ketika seseorang takut pastilah keluar keringat dingin, segera kuusap keringat yang ada ditubuh dan wajahku.
Akhirnya setelah beberapa lama aku dan yang lainnya tiba dirumahku, sepanjang perjalanan aku terus kepikiran dengan sosok tadi karena selain sosok yang ada dirumah dia adalah sosok lain yang baru kulihat. Segera kubangunkan Kakak dan juga Kak Popi yang rupanya masih tertidur karena kelelahan, aku segera menurunkan barang-barang milik kakak karena tangan kakak masih terluka.
“Ada barang yang ketinggalan gak Ron?” tanya kak Galih.
“Gak tau Lih, soalnya kan yang ngepakin barang bukan gue” jawab kakak lemas.
“Ya udah nanti kalo misalkan ada barang yang gak ada lu tinggal chat gue aja ya, tar gue anterin sekalian nganterin motor lu yang ada dirumah gue”
“Ya udah kita sekarang pergi dulu ya Ron, moga cepet sembuh” ujar Kak Ratna.
Mereka pun akhirna menyalakan mobil dan kembali kerumah kak Galih, aku dan kakak seperti orang yang ada di film-film melambaikan tangan untuk dadah. Aku lantas mengajak kakak untuk segera masuk kedalam rumah dan istirahat, karena kelihatan dari raut wajahnya tampak kelelahan dan kehausan juga.
“Ron !”
Aku dan kakak-ku lantas menoleh karena ada seorang wanita yang memanggil, aku lumayan kaget kerana ternyata yang memanggil adalah kak Popi. Aku pikir dia pindah kekursi depan karena kak Ipin pindah ke mobil sedan Bersama kak Galih, namun ternyata dia malah ada disini.
“Kak Popi kok ada disini?” tanyaku.
“Aku khawatir sama Roni dek, kalo boleh aku juga pengen bantu ngerawat dia” jawab kak Popi, sementara kak Roni hanya diam mendengarkan.
“Khawatir kenapa? Kan ada aku adeknya, lagian besok kak Popi harus ngajar kan disekolah? Aku denger dari kak Galih katanya kak Popi cutinya Cuma sampe besok”
“Iya sih, tapi tolong seenggaknya biarin aku disini nemenin sampe malem nanti” ujar kak Popi dengan nada memohon.
Aku merasa heran dengan sifat kak Popi, bukannya aku selalu suudzon kepada orang lain. Hanya saja sifatnya ini ternyata sangat jauh berbeda dengan yang aku tau semenjak aku bertemu dengannya, rasa perhatiannya yang sudah “Terlalu Perhatian” membuatku sedikit tidak nyaman.
“Maaf kak, aku tau kakak itu khawatir. Tapi jangan berlebihan juga, kan masih ada aku, aku juga bisa kok ngurus kak Roni sendirian”
“Bukannya gitu dek, kakak Cuma khawatir sama Roni”
“Ya tapi tolong jangan berlebihan gitu, kak Popi itu baru Cuma sebatas pacar, masih banyak Batasan yang kak Popi belum boleh lewatin. Emangnya kak Popi mau jadi bahan omongan tetangga karena kak Roni bawa cewek kerumahnya ampe malem?” aku berbicara dengan nada cukup ketus.
Mendengar aku berkata demikian kak Popi hanya terdiam, begitu pula dengan kak Roni yang hanya mendengarkan obrolanku dan kak Popi. Dia hanya melihat dan mendengarkan kami saja, ditambah ekspresi wajahnya yang terlihat datar bak tak peduli.
“Kadang kampret juga nih kakak gue, bukannya ikut ngomong kek biar kak Popi pulang, malah diem-diem aja kek orang lagi nahan kentut” aku bergumam dalam hati.
Saat itu kami bertiga hanya berdiri didepan rumah dan saling terdiam, aku terus menatap wajah kak Popi dengan sedikit ketus. Kak Popi kulihat lumayan merasa terganggu dengan tatapanku yang seperti ini, dia lalu menundukkan wajahnya sambil mengucek-ngucek baju bagian bawahnya.
“Ya elah kak Popi, masa udah gede kalo lagi bingung gini malah ngucek-ngucek ujung baju kayak anak kecil yang lagi ngambek”
Karena keadaan seperti ini membuatku bingung, aku hanya bisa menghela nafas Panjang, aku sudah bingung harus berkata apa kepada kak
Popi. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bertanya langsung kepada kak Roni, begitu aku mengalihkan pandangan kearah kakak-ku rupanya dia sedang asyik mengupil.
“Ih kakak gimana sih, orang lagi begini juga malah asyik ngupil !”
Bukannya menanggapi perkataanku, eh kakak malah memasukan jari kelingkingnya lebih dalam kelubang hidungnya. Aku sungguh merasa tidak mengerti dengan kehidupanku ini, rasanya lambat laun aku mulai berpikir hal yang kualami tidaklah lumrah.
“Dek, karena si Popi khawatir.. kakak rasa gak apa-apa dia mampir dulu sampe sore mah” jawab kakak sambil membuang upilnya.
“Lah terus nanti siapa yang nganterin kak Popi pulang ketempatnya? Kan motor kakak masih di kak Galih?”
“Kamu gak usah khawatir dek, nanti sore juga si Galih pasti nganterin motornya”
Mendengar kakak berkata seperti itu, aku tidak bisa membantah lagi karena sekarang dia sudah menjadi kepala keluargaku. Aku sekarang hanya bisa menuruti perkataan kakak, sementara kak Popi kulihat wajahnya tersenyum bahagia.
“Ya udah ah kita masuk kedalem, rasanya kakak pengen cepet mandi, makan terus tidur”
Kakak berkata demikian sambil ngeloyong masuk sambil menarik tangan kak Popi, jujur saja aku merasa kesal karena biasanya dia menarik tanganku sebelumnya. Hari ini aku sungguh merasa kesal karena selain perhatian kakak direbut oleh orang lain, akupun harus membawa Ransel kakak yang lumayan berat ini.
Aku berusaha untuk tenang dan melupakan hal yang membuatku kesal hari ini, dengan langkah pelan dan malas aku memasuki rumah. Diruang tamu dan tengah aku tidak melihat kakak dan kak Popi, seketika aku merasa panik dan pikiranku menjadi liar.
Kujatuhkan ransel kakak dan segera berlari kearah kamar kakak, pintu kamarnya yang tertutup semakin membuat pikiranku tidak terkendali. Segera kubuka pintunya dan kubanting pintu dengan keras, berharap menemukan hal yang ada dipikiran liarku.
“Brak !!”
“Kalian lagi ngapain !!” aku berteriak cukup keras.
“Kamu kenapa dek kek orang kesurupan gitu?”
Kakak bertanya dengan heran terlihat dari alis matanya yang mengkerung
, sementara kak Popi hanya terpaku diam sambil kedua tangannya berada diatas keyboard laptop.
“Ka…Kalian ngapain?” tanyaku.
“Gak ngapa-ngapain kok, kakak Cuma minta tolong Popi buat cek email sama ketikin diary log punya kakak”
“Kenapa harus kak Popi? kan masih ada aku kak !” nada bicaraku cukup tinggi.
Setelah aku berkata demikian, suasana menjadi hening dan dihiasi oleh dua wajah manusia yang keheranan melihatku. Karena aku merasa malu sendiri, dengan sendirinya aku berjalan keluar sambil menutup pintu kamar kakak dan menuju kamarku, meskipun ternyata aku kembali lagi dan membuka pintunya kembali karena khawatir mereka melakukan hal yang tidak-tidak.
Didalam kamarku aku langsung menjatuhkan diri ketempat tidurku, dengan posisi telungkup bak di sinetron yang aku sering lihat. Semakin kesini aku semakin merasakan gejolak didalam hati, gejolak yang membuatku merasa gelisah dan bertanya-tanya “ Kenapa harus Kakak?”.
“Turiring…!!”
Hp ku berbunyi menandakan ada chat whatsapp masuk, segera ku-cek layar utama dan mendapati 10 pesan dari 3 chat yang mana salah satunya adalah dari kakak beberapa detik yang lalu. Aku bersemangat untuk segera membuka pesan dari kakak, yang mungkin saja berisi permintaan maaf dan langsung kubuka.
Cie-cie adek cemburu yah kakak deket sama cewek laen, ciuw-ciuw

Entah mengapa begitu membaca pesan kakak, aku merasa ada sesuatu yang muncul dari dalam diriku. Sesuatu yang seolah berbisik bahwa aku harus segera bisa menerima kenyataan, bahwa tidak mungkin bisa mendapatkan kakak sebagai lelakiku.
Enggak kok kak, maafkan adikmu yang cantik ini yah karena udah nyangka yang enggak-enggak sama kakak
Segera kukirim chat-ku kepada kakak, berharap dia mengatakan hal yang baik terhadapku. Namun lagi-lagi ternyata harapanku hanya harapan karena rupanya hanya di read saja.
Aku hanya bisa menghela nafas Panjang agar pikiranku tetap tenang, kuputuskan untuk menuju kamar kakak dan menemani mereka. Karena katanya jika seorang lelaki dan wanita berduaan, maka orang ketiganya adalah setan.
“Bentar bentar, orang ketiganya adalah setan? Loh kan setan itu bukan orang? Kok baru kepikiran yah?”
Karena pintu kamar kakak sudah terbuka, aku tidak perlu lagi membukanya dan hanya tinggal masuk. Disana aku melihat kak Popi sedang mengecek email yang masuk, aku berusaha ikhlas karena pekerjaanku hari ini digantikan olehnya.
Kuarahkan pandangan kearah Kasur, tampak kakak sedang duduk memandangi kak Popi. Dari raut wajahnya dia tampak bahagia, raut wajah yang sama ketika dia masih Bersama dengan alm kak Linda.
“Kak, katanya mau mandi? Kok malah diem mulu disini?” tanyaku.
“Eh adek, maunya sih gitu Cuma kakak takut lukanya perih”
“Kakak udah kepala 2 masih mikir gitu, ya kan pas mandi nanti tangan yang luka jangan dibasahin atuh”
“Hmm ya udah deh kakak gak bisa ngalahin argument adek kakak yang cantik ini”
“Eh kalo aku yang mandi duluan boleh enggak?” tiba-tiba kak Popi menyela.
Aku dan kakak saling memandang satu sama lain, karena kupikir kondisi kakak masih lemah akhirnya aku mempersilahkan kak Popi mandi duluan. Setelah kak Popi keluar sambil membawa handuk "milik kakak”, tinggal aku saja berdua denga kakak.
“Kak aku mau nanya dong !”
“Mau nanya apa dek?” jawabnya sambil merebahkan badan.
“Waktu di RS tadi, kakak bilang kalo alm Kak Linda juga ngomong hal yang sama kayak aku, itu maksudnya gimana?”
“Iya gitu kakak ngomong gitu sama kamu?”
Bukannya menjawab pertanyaan, kakak malah balik bertanya kepadaku. Namun karena aku tahu kondisi kakak seperti ini yang mana kata dokter mengalami amnesia khusus, aku berusaha menanggapi dengan santai.
“Iya kakak ngomong gitu kok, masa gak inget? Jangan pura-pura amnesia kayak di sinetron deh kak !”
“Loh dek, kakak kan emang lagi Amnesia.. gimana sih kamu !”
Aku jadi malu sendiri begitu menyadari perkataan kakak ada benarnya, karena sudah seperti ini aku memutuskan untuk tidak menanyakan hal-hal itu dulu, mungkin akan kutanyakan nanti ketika kakak sudah sembuh.
Sembari menunggu kak Popi mandi, aku dan kakak mengisi waktu dengan mengobrol ringan dan juga melihat foto-foto kakak sewaktu berkemah. Aku berusaha sabar melihat foto kemesraan kakak dan kak Popi di HP-nya, hanya saja aku merasa ganjil karena di HP kakak sama sekali tidak ada foto kak Ayu.
Aku bisa berpikir demikian karena aku tahu wajah kak Ayu seperti apa, kak Ratna pernah menunjukkan foto kak Ayu ketika kami membicarakan musibah yang menimpanya. Sebenarnya kak Ratna memiliki foto Jenazah kak Ayu yang dia dapatkan dari salah seorang warga (maklum lah orang jaman now pasti foto dulu baru nolong), hanya saja aku tidak kuat untuk melihat foto-foto seperti itu.
“Ron, aku udah mandinya. Sekarang kamu gih !”
Rupanya kak Popi sudah selesai mandi, dia masuk kekamar sudah menggunakan pakaian yang sepertinya dia bawa baju ganti kekamar mandi. Jika saja dia masuk kekamar hanya dengan menggunakan handuk saja, mungkin aku akan mengamuk.
“Ya udah aku mandi dulu yah, Eh dek sekalian sambil nunggu kakak mandi sama ganti baju kamu masak gih, biar nanti kita makan bareng !”
“Nanti aku bantu yah dek masaknya !” Ujar kak Popi.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja, karena tidak ada salahnya dia membantu memasak. Sekalian aku ingin mengatahui apakah level masak Kak Popi ada dibawahku atau tidak, kamipun segera menuju kedapur dan tak lupa membawa bahan-bahan dari kulkas yang ada diruangan tengah.
[ SATU JAM KEMUDIAN DIRUANGAN TENGAH KAMI SEMUA DUDUK UNTUK MAKAN BERSAMA]
“Dek, kok wajah kamu gitu kayak orang shock? Masakannya rasanya aneh kah?” tanya Kak Popi dengan wajah khawatir.
“Aneh? Ah enggak kok Pop, enak ini malah. Tumis bayam sama ikan mas gorang buatan kamu enak banget ini mah” potong kakak.
Sungguh diluar dugaan, aku merasa kalah telak oleh rasa masakan Teh Popi (kak Popi minta dipanggil Teteh Aja takut dia sama kakak dua-duanya ngelirik kalo manggilnya kakak). Aku yang awalnya mengira bahwa level masakanku berada diatasnya karena aku sudah terbiasa memasak untuk kakak selama dua tahun belakangan,mharus mengakui rasa masakan Teh Popi ternyata jauh lebih enak dari buatanku [T_T] .
“Eh enggak kok Kak, masakannya enak kok, aku pikir kayaknya Teh Popi bakalan jadi istri yang baik buat kakak nanti”
Aku berkata demikian dengan wajah tersenyum namun padahal didalam hati aku masih belum menerima bahwa level masakan Teh Popi ternyata ada diatasku. Siang itu kami semua makan dengan lahap, termasuk diriku yang padahal sebelum berangkat tadi sudah makan mie instan rasa yang pernah ada.
PUKUL 15.30
“Udah jam segini kok Galih belum dateng juga nganterin motor aku” ujar kakak memulai pembicaraan.
“Mungkin bentar lagi, tadi sih aku chat katanya lagi dijalan berdua ama Ipin” jawab Teh Popi.
“Berdua? Emangnya Teh Popi gak bawa motor kesana pas mau berangkat?” tanyaku.
“Enggak dek, Teteh kesana dijemput sama Ratna”
“Tiin…Tiin !!!!”
Terdengar suara klakson motor dengan keras, Panjang umur rupanya karena yang datang kak Galih Bersama dengan kak Ipin karena aku mengenali suara mereka yang sedang memanggil nama kakak (bukannya assalamualaikum). Segera kubukakan pintu untuk mereka berdua, wajah mereka berdua tampak sedikit tegang.
Kak Galih mendekati kak Roni dan berbisik, aku dan Teh Popi tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Kak Galih. Hanya saja dari raut wajahnya, sepertinya ada hal yang penting.
“Zzzzzt…..Zzzzzt..!!!”
Terdengar suara Hp bergetar yang ternyata adalah HP milik Teh Popi, dari raut wajahnya juga sepertinya dia mendapat kabar yang juga serius. Aku jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa ini? Apakah lagi-lagi ada masalah?.
“Ron, kayaknya aku pamit dulu. Kang Robi bilang ada sesuatu yang harus diomongin” ujar Teh Popi.
“Pulang sekarang? Kalo gitu Ipin yang nganterin gak apa-apa?” jawab kakak.
“Biar aku aja kak” Potongku.
“Kamu yakin dek? Bukannya kamu gak bisa naik motor?” tanya kakak dengan khawatir.
“Tenang aja aku bisa, diem-diem aku belajar naik motor matic kok”
Awalnya kakak tampak merasa ragu, namun pada akhirnya dia membiarkanku untuk mengantarkan Teh Popi pulang. Lantas dengan segera aku menuju keluar, sementara Teh Popi mengambil Ranselnya.
Diperjalanan aku dan Teh Popi sama sekali tidak mengobrol, dia tampak sibuk mengutak-ngatik HP-nya. Sepertinya memang ada hal penting, dan aku merasa tidak enak jika harus mengajak mengobrol karena akan dirasa mengganggu.
Jarak dari rumahku ke tempat Teh Popi sebenarnya tidak begitu jauh, hanya saja karena aku belum lancer mengendarai motor jadi aku melewati jalan perkampungan yang agak memutar sehingga memakan waktu 20 menit.
“Padahal mah biar cepet tadi nyuruh Teh Popi aja yang nyetir, eh tapi dia kayaknya lagi ada masalah jadinya gak apa-apa deh aku yang nyetir” aku berbicara sendiri dalam hati.
Begitu memasuki daerah kampung yang dimaksud, Teh Popi mulai menunjukkan arah ketempat tinggalnya. Dengan pelan kami memasuki gang-gang kecil hingga akhirnya Teh Popi menyuruhku berhenti didepan sebuah kontrakan, ya…kontrakan dengan jumlah 4 pintu yang mana 2 dari kontakan tersebut tampaknya kosong.
Aku segera masuk dan memarkir motor didepan pintu kamar Teh Popi, agak kaget juga diriku mengetahui ternyata Teh Popi yang merupakan Guru dan juga sepupu dari kepala sekolahku tinggal dikontrakan petak sendirian. Tapi disisi lain aku merasa kagum kepadanya karena kelihatannya dia tidak mengeluh meski tinggal disebuah kontrakan, ditambah keadaan kontrakan ini cukup tua.
“Dek makasih yah udah nganterin Teteh, maaf nih gak bisa Teteh suguhin apa-apa karena harus buru-buru kerumah Pak Robi” ujarnya.
Dia berkata sambil membuka pintu kontrakan dan langsung mengeluarkan motor miliknya, ketika aku memundurkan motor untuk memberi ruang kepada Teh Popi. Tanpa sengaja mataku melihat kedalam ruangan kontrakan Teh Popi yang mana didinding menggantung sebuah bingkai berisi foto wanita yang wajahnya kurasa adalah Teh Popi, namun berpenampilan seperti berandalan karena memakai jaket kulit hitam dan juga celana jeans bolong-bolong.
Aku sedikit terkejut namun tidak dapat memastikan kembali apakah benar yang ada didalam foto itu Teh Popi atau bukan, karena aku hanya melihat sepintas saja. Tapi aku berusaha tidak mengindahkan hal tersebut, dan langsung memarkir keluar motorku untuk segera pulang.
“Teh aku pulang lagi ya !”
“Iya dek Hati-hati dijalannya !”
Sebelum aku memacu motorku, aku memandang kearah pintu kontrakan Teh Popi yang mana dia sudah mengeluarkan motornya dan menutup pintu. Sedetik kemudian dia membuka lagi pintu kontrakannya mungkin dia lupa sesuatu, bagitu dia membuka pintu alangkah terkejutnya diriku karena ternyata dibalik pintu itu ada sosok wanita lain.
BERSAMBUNG
Part 39
Baru pertama kali rasanya aku melihat fenomena seperti ini secara langsung, aku sungguh merasa ngeri hingga tubuhku gemetaran karena tahu wanita itu bukanlah manusia, namun disisi lain aku malah merasa terus ingin melihat kearah wajah sosok tersebut yang mana wajahnya itu Rata.
Aku dan sosok tersebut saling memandang satu sama lain, untuk beberapa detik lamanya pandanganku tidak terlepas darinya. Aku merasa sulit untuk mengedipkan mataku mungkin karena perasaan takut, namun ketika aku bisa mengedipkan mata sosok itu sudah hilang bak ditelan bumi.
Badanku terasa lemas, bahkan tanpa kusadari ternyata badanku sudah dibasahi oleh keringat dingin. Jujur saja aku kadang merasa penasaran
kenapa ketika seseorang takut pastilah keluar keringat dingin, segera kuusap keringat yang ada ditubuh dan wajahku.
Akhirnya setelah beberapa lama aku dan yang lainnya tiba dirumahku, sepanjang perjalanan aku terus kepikiran dengan sosok tadi karena selain sosok yang ada dirumah dia adalah sosok lain yang baru kulihat. Segera kubangunkan Kakak dan juga Kak Popi yang rupanya masih tertidur karena kelelahan, aku segera menurunkan barang-barang milik kakak karena tangan kakak masih terluka.
“Ada barang yang ketinggalan gak Ron?” tanya kak Galih.
“Gak tau Lih, soalnya kan yang ngepakin barang bukan gue” jawab kakak lemas.
“Ya udah nanti kalo misalkan ada barang yang gak ada lu tinggal chat gue aja ya, tar gue anterin sekalian nganterin motor lu yang ada dirumah gue”
“Ya udah kita sekarang pergi dulu ya Ron, moga cepet sembuh” ujar Kak Ratna.
Mereka pun akhirna menyalakan mobil dan kembali kerumah kak Galih, aku dan kakak seperti orang yang ada di film-film melambaikan tangan untuk dadah. Aku lantas mengajak kakak untuk segera masuk kedalam rumah dan istirahat, karena kelihatan dari raut wajahnya tampak kelelahan dan kehausan juga.
“Ron !”
Aku dan kakak-ku lantas menoleh karena ada seorang wanita yang memanggil, aku lumayan kaget kerana ternyata yang memanggil adalah kak Popi. Aku pikir dia pindah kekursi depan karena kak Ipin pindah ke mobil sedan Bersama kak Galih, namun ternyata dia malah ada disini.
“Kak Popi kok ada disini?” tanyaku.
“Aku khawatir sama Roni dek, kalo boleh aku juga pengen bantu ngerawat dia” jawab kak Popi, sementara kak Roni hanya diam mendengarkan.
“Khawatir kenapa? Kan ada aku adeknya, lagian besok kak Popi harus ngajar kan disekolah? Aku denger dari kak Galih katanya kak Popi cutinya Cuma sampe besok”
“Iya sih, tapi tolong seenggaknya biarin aku disini nemenin sampe malem nanti” ujar kak Popi dengan nada memohon.
Aku merasa heran dengan sifat kak Popi, bukannya aku selalu suudzon kepada orang lain. Hanya saja sifatnya ini ternyata sangat jauh berbeda dengan yang aku tau semenjak aku bertemu dengannya, rasa perhatiannya yang sudah “Terlalu Perhatian” membuatku sedikit tidak nyaman.
“Maaf kak, aku tau kakak itu khawatir. Tapi jangan berlebihan juga, kan masih ada aku, aku juga bisa kok ngurus kak Roni sendirian”
“Bukannya gitu dek, kakak Cuma khawatir sama Roni”
“Ya tapi tolong jangan berlebihan gitu, kak Popi itu baru Cuma sebatas pacar, masih banyak Batasan yang kak Popi belum boleh lewatin. Emangnya kak Popi mau jadi bahan omongan tetangga karena kak Roni bawa cewek kerumahnya ampe malem?” aku berbicara dengan nada cukup ketus.
Mendengar aku berkata demikian kak Popi hanya terdiam, begitu pula dengan kak Roni yang hanya mendengarkan obrolanku dan kak Popi. Dia hanya melihat dan mendengarkan kami saja, ditambah ekspresi wajahnya yang terlihat datar bak tak peduli.
“Kadang kampret juga nih kakak gue, bukannya ikut ngomong kek biar kak Popi pulang, malah diem-diem aja kek orang lagi nahan kentut” aku bergumam dalam hati.
Saat itu kami bertiga hanya berdiri didepan rumah dan saling terdiam, aku terus menatap wajah kak Popi dengan sedikit ketus. Kak Popi kulihat lumayan merasa terganggu dengan tatapanku yang seperti ini, dia lalu menundukkan wajahnya sambil mengucek-ngucek baju bagian bawahnya.
“Ya elah kak Popi, masa udah gede kalo lagi bingung gini malah ngucek-ngucek ujung baju kayak anak kecil yang lagi ngambek”
Karena keadaan seperti ini membuatku bingung, aku hanya bisa menghela nafas Panjang, aku sudah bingung harus berkata apa kepada kak
Popi. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah bertanya langsung kepada kak Roni, begitu aku mengalihkan pandangan kearah kakak-ku rupanya dia sedang asyik mengupil.
“Ih kakak gimana sih, orang lagi begini juga malah asyik ngupil !”
Bukannya menanggapi perkataanku, eh kakak malah memasukan jari kelingkingnya lebih dalam kelubang hidungnya. Aku sungguh merasa tidak mengerti dengan kehidupanku ini, rasanya lambat laun aku mulai berpikir hal yang kualami tidaklah lumrah.
“Dek, karena si Popi khawatir.. kakak rasa gak apa-apa dia mampir dulu sampe sore mah” jawab kakak sambil membuang upilnya.
“Lah terus nanti siapa yang nganterin kak Popi pulang ketempatnya? Kan motor kakak masih di kak Galih?”
“Kamu gak usah khawatir dek, nanti sore juga si Galih pasti nganterin motornya”
Mendengar kakak berkata seperti itu, aku tidak bisa membantah lagi karena sekarang dia sudah menjadi kepala keluargaku. Aku sekarang hanya bisa menuruti perkataan kakak, sementara kak Popi kulihat wajahnya tersenyum bahagia.
“Ya udah ah kita masuk kedalem, rasanya kakak pengen cepet mandi, makan terus tidur”
Kakak berkata demikian sambil ngeloyong masuk sambil menarik tangan kak Popi, jujur saja aku merasa kesal karena biasanya dia menarik tanganku sebelumnya. Hari ini aku sungguh merasa kesal karena selain perhatian kakak direbut oleh orang lain, akupun harus membawa Ransel kakak yang lumayan berat ini.
Aku berusaha untuk tenang dan melupakan hal yang membuatku kesal hari ini, dengan langkah pelan dan malas aku memasuki rumah. Diruang tamu dan tengah aku tidak melihat kakak dan kak Popi, seketika aku merasa panik dan pikiranku menjadi liar.
Kujatuhkan ransel kakak dan segera berlari kearah kamar kakak, pintu kamarnya yang tertutup semakin membuat pikiranku tidak terkendali. Segera kubuka pintunya dan kubanting pintu dengan keras, berharap menemukan hal yang ada dipikiran liarku.
“Brak !!”
“Kalian lagi ngapain !!” aku berteriak cukup keras.
“Kamu kenapa dek kek orang kesurupan gitu?”
Kakak bertanya dengan heran terlihat dari alis matanya yang mengkerung
, sementara kak Popi hanya terpaku diam sambil kedua tangannya berada diatas keyboard laptop.“Ka…Kalian ngapain?” tanyaku.
“Gak ngapa-ngapain kok, kakak Cuma minta tolong Popi buat cek email sama ketikin diary log punya kakak”
“Kenapa harus kak Popi? kan masih ada aku kak !” nada bicaraku cukup tinggi.
Setelah aku berkata demikian, suasana menjadi hening dan dihiasi oleh dua wajah manusia yang keheranan melihatku. Karena aku merasa malu sendiri, dengan sendirinya aku berjalan keluar sambil menutup pintu kamar kakak dan menuju kamarku, meskipun ternyata aku kembali lagi dan membuka pintunya kembali karena khawatir mereka melakukan hal yang tidak-tidak.
Didalam kamarku aku langsung menjatuhkan diri ketempat tidurku, dengan posisi telungkup bak di sinetron yang aku sering lihat. Semakin kesini aku semakin merasakan gejolak didalam hati, gejolak yang membuatku merasa gelisah dan bertanya-tanya “ Kenapa harus Kakak?”.
“Turiring…!!”
Hp ku berbunyi menandakan ada chat whatsapp masuk, segera ku-cek layar utama dan mendapati 10 pesan dari 3 chat yang mana salah satunya adalah dari kakak beberapa detik yang lalu. Aku bersemangat untuk segera membuka pesan dari kakak, yang mungkin saja berisi permintaan maaf dan langsung kubuka.
Quote:
Cie-cie adek cemburu yah kakak deket sama cewek laen, ciuw-ciuw


Entah mengapa begitu membaca pesan kakak, aku merasa ada sesuatu yang muncul dari dalam diriku. Sesuatu yang seolah berbisik bahwa aku harus segera bisa menerima kenyataan, bahwa tidak mungkin bisa mendapatkan kakak sebagai lelakiku.
Quote:
Enggak kok kak, maafkan adikmu yang cantik ini yah karena udah nyangka yang enggak-enggak sama kakak
Segera kukirim chat-ku kepada kakak, berharap dia mengatakan hal yang baik terhadapku. Namun lagi-lagi ternyata harapanku hanya harapan karena rupanya hanya di read saja.
Aku hanya bisa menghela nafas Panjang agar pikiranku tetap tenang, kuputuskan untuk menuju kamar kakak dan menemani mereka. Karena katanya jika seorang lelaki dan wanita berduaan, maka orang ketiganya adalah setan.
“Bentar bentar, orang ketiganya adalah setan? Loh kan setan itu bukan orang? Kok baru kepikiran yah?”
Karena pintu kamar kakak sudah terbuka, aku tidak perlu lagi membukanya dan hanya tinggal masuk. Disana aku melihat kak Popi sedang mengecek email yang masuk, aku berusaha ikhlas karena pekerjaanku hari ini digantikan olehnya.
Kuarahkan pandangan kearah Kasur, tampak kakak sedang duduk memandangi kak Popi. Dari raut wajahnya dia tampak bahagia, raut wajah yang sama ketika dia masih Bersama dengan alm kak Linda.
“Kak, katanya mau mandi? Kok malah diem mulu disini?” tanyaku.
“Eh adek, maunya sih gitu Cuma kakak takut lukanya perih”
“Kakak udah kepala 2 masih mikir gitu, ya kan pas mandi nanti tangan yang luka jangan dibasahin atuh”
“Hmm ya udah deh kakak gak bisa ngalahin argument adek kakak yang cantik ini”
“Eh kalo aku yang mandi duluan boleh enggak?” tiba-tiba kak Popi menyela.
Aku dan kakak saling memandang satu sama lain, karena kupikir kondisi kakak masih lemah akhirnya aku mempersilahkan kak Popi mandi duluan. Setelah kak Popi keluar sambil membawa handuk "milik kakak”, tinggal aku saja berdua denga kakak.
“Kak aku mau nanya dong !”
“Mau nanya apa dek?” jawabnya sambil merebahkan badan.
“Waktu di RS tadi, kakak bilang kalo alm Kak Linda juga ngomong hal yang sama kayak aku, itu maksudnya gimana?”
“Iya gitu kakak ngomong gitu sama kamu?”
Bukannya menjawab pertanyaan, kakak malah balik bertanya kepadaku. Namun karena aku tahu kondisi kakak seperti ini yang mana kata dokter mengalami amnesia khusus, aku berusaha menanggapi dengan santai.
“Iya kakak ngomong gitu kok, masa gak inget? Jangan pura-pura amnesia kayak di sinetron deh kak !”
“Loh dek, kakak kan emang lagi Amnesia.. gimana sih kamu !”
Aku jadi malu sendiri begitu menyadari perkataan kakak ada benarnya, karena sudah seperti ini aku memutuskan untuk tidak menanyakan hal-hal itu dulu, mungkin akan kutanyakan nanti ketika kakak sudah sembuh.
Sembari menunggu kak Popi mandi, aku dan kakak mengisi waktu dengan mengobrol ringan dan juga melihat foto-foto kakak sewaktu berkemah. Aku berusaha sabar melihat foto kemesraan kakak dan kak Popi di HP-nya, hanya saja aku merasa ganjil karena di HP kakak sama sekali tidak ada foto kak Ayu.
Aku bisa berpikir demikian karena aku tahu wajah kak Ayu seperti apa, kak Ratna pernah menunjukkan foto kak Ayu ketika kami membicarakan musibah yang menimpanya. Sebenarnya kak Ratna memiliki foto Jenazah kak Ayu yang dia dapatkan dari salah seorang warga (maklum lah orang jaman now pasti foto dulu baru nolong), hanya saja aku tidak kuat untuk melihat foto-foto seperti itu.
“Ron, aku udah mandinya. Sekarang kamu gih !”
Rupanya kak Popi sudah selesai mandi, dia masuk kekamar sudah menggunakan pakaian yang sepertinya dia bawa baju ganti kekamar mandi. Jika saja dia masuk kekamar hanya dengan menggunakan handuk saja, mungkin aku akan mengamuk.
“Ya udah aku mandi dulu yah, Eh dek sekalian sambil nunggu kakak mandi sama ganti baju kamu masak gih, biar nanti kita makan bareng !”
“Nanti aku bantu yah dek masaknya !” Ujar kak Popi.
Aku hanya bisa menganggukan kepalaku saja, karena tidak ada salahnya dia membantu memasak. Sekalian aku ingin mengatahui apakah level masak Kak Popi ada dibawahku atau tidak, kamipun segera menuju kedapur dan tak lupa membawa bahan-bahan dari kulkas yang ada diruangan tengah.
[ SATU JAM KEMUDIAN DIRUANGAN TENGAH KAMI SEMUA DUDUK UNTUK MAKAN BERSAMA]
“Dek, kok wajah kamu gitu kayak orang shock? Masakannya rasanya aneh kah?” tanya Kak Popi dengan wajah khawatir.
“Aneh? Ah enggak kok Pop, enak ini malah. Tumis bayam sama ikan mas gorang buatan kamu enak banget ini mah” potong kakak.
Sungguh diluar dugaan, aku merasa kalah telak oleh rasa masakan Teh Popi (kak Popi minta dipanggil Teteh Aja takut dia sama kakak dua-duanya ngelirik kalo manggilnya kakak). Aku yang awalnya mengira bahwa level masakanku berada diatasnya karena aku sudah terbiasa memasak untuk kakak selama dua tahun belakangan,mharus mengakui rasa masakan Teh Popi ternyata jauh lebih enak dari buatanku [T_T] .
“Eh enggak kok Kak, masakannya enak kok, aku pikir kayaknya Teh Popi bakalan jadi istri yang baik buat kakak nanti”
Aku berkata demikian dengan wajah tersenyum namun padahal didalam hati aku masih belum menerima bahwa level masakan Teh Popi ternyata ada diatasku. Siang itu kami semua makan dengan lahap, termasuk diriku yang padahal sebelum berangkat tadi sudah makan mie instan rasa yang pernah ada.
PUKUL 15.30
“Udah jam segini kok Galih belum dateng juga nganterin motor aku” ujar kakak memulai pembicaraan.
“Mungkin bentar lagi, tadi sih aku chat katanya lagi dijalan berdua ama Ipin” jawab Teh Popi.
“Berdua? Emangnya Teh Popi gak bawa motor kesana pas mau berangkat?” tanyaku.
“Enggak dek, Teteh kesana dijemput sama Ratna”
“Tiin…Tiin !!!!”
Terdengar suara klakson motor dengan keras, Panjang umur rupanya karena yang datang kak Galih Bersama dengan kak Ipin karena aku mengenali suara mereka yang sedang memanggil nama kakak (bukannya assalamualaikum). Segera kubukakan pintu untuk mereka berdua, wajah mereka berdua tampak sedikit tegang.
Kak Galih mendekati kak Roni dan berbisik, aku dan Teh Popi tidak bisa mendengar apa yang dibisikkan oleh Kak Galih. Hanya saja dari raut wajahnya, sepertinya ada hal yang penting.
“Zzzzzt…..Zzzzzt..!!!”
Terdengar suara Hp bergetar yang ternyata adalah HP milik Teh Popi, dari raut wajahnya juga sepertinya dia mendapat kabar yang juga serius. Aku jadi bertanya-tanya sebenarnya ada apa ini? Apakah lagi-lagi ada masalah?.
“Ron, kayaknya aku pamit dulu. Kang Robi bilang ada sesuatu yang harus diomongin” ujar Teh Popi.
“Pulang sekarang? Kalo gitu Ipin yang nganterin gak apa-apa?” jawab kakak.
“Biar aku aja kak” Potongku.
“Kamu yakin dek? Bukannya kamu gak bisa naik motor?” tanya kakak dengan khawatir.
“Tenang aja aku bisa, diem-diem aku belajar naik motor matic kok”
Awalnya kakak tampak merasa ragu, namun pada akhirnya dia membiarkanku untuk mengantarkan Teh Popi pulang. Lantas dengan segera aku menuju keluar, sementara Teh Popi mengambil Ranselnya.
Diperjalanan aku dan Teh Popi sama sekali tidak mengobrol, dia tampak sibuk mengutak-ngatik HP-nya. Sepertinya memang ada hal penting, dan aku merasa tidak enak jika harus mengajak mengobrol karena akan dirasa mengganggu.
Jarak dari rumahku ke tempat Teh Popi sebenarnya tidak begitu jauh, hanya saja karena aku belum lancer mengendarai motor jadi aku melewati jalan perkampungan yang agak memutar sehingga memakan waktu 20 menit.
“Padahal mah biar cepet tadi nyuruh Teh Popi aja yang nyetir, eh tapi dia kayaknya lagi ada masalah jadinya gak apa-apa deh aku yang nyetir” aku berbicara sendiri dalam hati.
Begitu memasuki daerah kampung yang dimaksud, Teh Popi mulai menunjukkan arah ketempat tinggalnya. Dengan pelan kami memasuki gang-gang kecil hingga akhirnya Teh Popi menyuruhku berhenti didepan sebuah kontrakan, ya…kontrakan dengan jumlah 4 pintu yang mana 2 dari kontakan tersebut tampaknya kosong.
Aku segera masuk dan memarkir motor didepan pintu kamar Teh Popi, agak kaget juga diriku mengetahui ternyata Teh Popi yang merupakan Guru dan juga sepupu dari kepala sekolahku tinggal dikontrakan petak sendirian. Tapi disisi lain aku merasa kagum kepadanya karena kelihatannya dia tidak mengeluh meski tinggal disebuah kontrakan, ditambah keadaan kontrakan ini cukup tua.
“Dek makasih yah udah nganterin Teteh, maaf nih gak bisa Teteh suguhin apa-apa karena harus buru-buru kerumah Pak Robi” ujarnya.
Dia berkata sambil membuka pintu kontrakan dan langsung mengeluarkan motor miliknya, ketika aku memundurkan motor untuk memberi ruang kepada Teh Popi. Tanpa sengaja mataku melihat kedalam ruangan kontrakan Teh Popi yang mana didinding menggantung sebuah bingkai berisi foto wanita yang wajahnya kurasa adalah Teh Popi, namun berpenampilan seperti berandalan karena memakai jaket kulit hitam dan juga celana jeans bolong-bolong.
Aku sedikit terkejut namun tidak dapat memastikan kembali apakah benar yang ada didalam foto itu Teh Popi atau bukan, karena aku hanya melihat sepintas saja. Tapi aku berusaha tidak mengindahkan hal tersebut, dan langsung memarkir keluar motorku untuk segera pulang.
“Teh aku pulang lagi ya !”
“Iya dek Hati-hati dijalannya !”
Sebelum aku memacu motorku, aku memandang kearah pintu kontrakan Teh Popi yang mana dia sudah mengeluarkan motornya dan menutup pintu. Sedetik kemudian dia membuka lagi pintu kontrakannya mungkin dia lupa sesuatu, bagitu dia membuka pintu alangkah terkejutnya diriku karena ternyata dibalik pintu itu ada sosok wanita lain.
BERSAMBUNG
Just Info buat yang mantengin story ane dibawah, ane bakal offline buat waktu cukup lama karena ane berniat beresin dulu ngetik lanjutannya sampe tamat. habis itu bakal update borongan, kalo ada yang nanya ampe kapan? ane cuma bisa jawab. Seberesnya.. terima kasih
Diubah oleh roni.riyanto 01-11-2018 13:14
piripiripuru dan redbaron memberi reputasi
5
Kutip
Balas
Tutup