- Beranda
- Stories from the Heart
Tak disangka pernikahanku berakhir dalam hitungan jam karena ini..
...
TS
chaadom
Tak disangka pernikahanku berakhir dalam hitungan jam karena ini..
Berat sebenarnya ane menulis post ini bro sis.
Sampai saat ini kejadian itu kayak sebuah film, yang diulang dengan sangat lambat dan di play berulang ulang kali di ingatan ane.
Agan sista pernah jatuh dari motor atau kecelakaan gt gak? Pasti ngerasain ketika waktu tiba tiba berjalan lambaaaat banget, dan tiba tiba blas, udah kejadian aja. Nah ini yang ane rasain, masih shock kalau inget kejadian itu. Hari yang seharusnya menjadi hari terindah, terbahagia, yang dinanti nantikan, malah menjadi hari terburuk yang pernah terjadi.
Judulnya memang sesuai dengan cerita yang mau ane share ini, tapi memang bukan ane yang ngerasain, ini pengalaman dari orang terdekat ane, keluarga inti ane, seorang laki-laki, anggap aja namanya agil.
Kalau boleh jujur, ane dan keluarga ane adalah keluarga baik baik. Memang tidak ada gading yang tak retak, tapi sejauh ini, sebelum kejadian itu, belum pernah ada kejadian seklimaks ini. Jujur, ane kalau nonton di tv show kayak kar*a atau oh mam* oh pap* jujur ane ngerasa kayak nggak mungkin. Ngga mungkin ada manusia sekejam itu, ga mungkin ada suami atau istri separah itu, ga mungkin ada keluarga sekacau itu, ga mungkin ada orang secinta itu sama uang. Nah langsung aja mungkin ane cerita tentang kejadian saat itu, dimulai dari masa-masa pacaran si agil ini.
----------------------------------------------------------------------------------------
Agil ini adalah salah satu anggota keluarga inti ane, abang ane, salah satu orang yang paling baik yang ane dekat. Memang abang ane yang ini dari dulu ada aja masalahnya. Mulai dari sma yang bergeng, ditakutin, dan hampir tinggal kelas (biasalah masa puber), kuliah yang ga beres bertahun-tahun, sampai pindah kampus tapi tetep ga selese, sampai akhirnya semua tinggal penyesalan dan sampailah ia di umur tiga puluh tahunan dengan pekerjaan yang tidak tetap dan masih ikut orangtua (kalau nanti banyak peminatnya ane ceritain juga masa lalunya). Mungkin memang benar ada yang namanya karma, dulu agil ini sering melawan ortu ane, membuat mama ane menangis, namun kita tidak ada yang menyangka sampai hari pernikahannya pun mama ane masih juga dibuat menangis.
Dan berikut rentetan kejadian sampai tiba hari pernikahan si agil.
Setelah ini ane akan cerita dari sudut pandang dari sisi agil, tapi hanya sebatas yang ane ketahui karena ane berat bgt nanya abang ane si agil. Jadi kalau ditanya ini cerita siapa? ini cerita agil sepengetahuan saya, jadi bumbu2nya juga dari saya, dan semua dari sudut pandang saya. Jadi mungkin ada yg ditambahin atau dikurangin karena ga mungkin saya tau semua. Ane disini bukan untuk membela diri, atau membuka aib, meminta untuk dikasihani, tapi ane pengen curhat supaya duri yang mengganjal ini bisa terlepas, dan para pembaca bisa menjadi lebih baik daripada agil maupun ane.
Index:
1. chapter 1]
2. chapter 2
3. chapter 3
4. chapter 4
5. chapter 5
6. chapter 6
7. chapter 7
8. chapter 8
9. chapter 9
Sampai saat ini kejadian itu kayak sebuah film, yang diulang dengan sangat lambat dan di play berulang ulang kali di ingatan ane.
Agan sista pernah jatuh dari motor atau kecelakaan gt gak? Pasti ngerasain ketika waktu tiba tiba berjalan lambaaaat banget, dan tiba tiba blas, udah kejadian aja. Nah ini yang ane rasain, masih shock kalau inget kejadian itu. Hari yang seharusnya menjadi hari terindah, terbahagia, yang dinanti nantikan, malah menjadi hari terburuk yang pernah terjadi.
Judulnya memang sesuai dengan cerita yang mau ane share ini, tapi memang bukan ane yang ngerasain, ini pengalaman dari orang terdekat ane, keluarga inti ane, seorang laki-laki, anggap aja namanya agil.
Kalau boleh jujur, ane dan keluarga ane adalah keluarga baik baik. Memang tidak ada gading yang tak retak, tapi sejauh ini, sebelum kejadian itu, belum pernah ada kejadian seklimaks ini. Jujur, ane kalau nonton di tv show kayak kar*a atau oh mam* oh pap* jujur ane ngerasa kayak nggak mungkin. Ngga mungkin ada manusia sekejam itu, ga mungkin ada suami atau istri separah itu, ga mungkin ada keluarga sekacau itu, ga mungkin ada orang secinta itu sama uang. Nah langsung aja mungkin ane cerita tentang kejadian saat itu, dimulai dari masa-masa pacaran si agil ini.
----------------------------------------------------------------------------------------
Agil ini adalah salah satu anggota keluarga inti ane, abang ane, salah satu orang yang paling baik yang ane dekat. Memang abang ane yang ini dari dulu ada aja masalahnya. Mulai dari sma yang bergeng, ditakutin, dan hampir tinggal kelas (biasalah masa puber), kuliah yang ga beres bertahun-tahun, sampai pindah kampus tapi tetep ga selese, sampai akhirnya semua tinggal penyesalan dan sampailah ia di umur tiga puluh tahunan dengan pekerjaan yang tidak tetap dan masih ikut orangtua (kalau nanti banyak peminatnya ane ceritain juga masa lalunya). Mungkin memang benar ada yang namanya karma, dulu agil ini sering melawan ortu ane, membuat mama ane menangis, namun kita tidak ada yang menyangka sampai hari pernikahannya pun mama ane masih juga dibuat menangis.
Dan berikut rentetan kejadian sampai tiba hari pernikahan si agil.
Setelah ini ane akan cerita dari sudut pandang dari sisi agil, tapi hanya sebatas yang ane ketahui karena ane berat bgt nanya abang ane si agil. Jadi kalau ditanya ini cerita siapa? ini cerita agil sepengetahuan saya, jadi bumbu2nya juga dari saya, dan semua dari sudut pandang saya. Jadi mungkin ada yg ditambahin atau dikurangin karena ga mungkin saya tau semua. Ane disini bukan untuk membela diri, atau membuka aib, meminta untuk dikasihani, tapi ane pengen curhat supaya duri yang mengganjal ini bisa terlepas, dan para pembaca bisa menjadi lebih baik daripada agil maupun ane.
Index:
1. chapter 1]
2. chapter 2
3. chapter 3
4. chapter 4
5. chapter 5
6. chapter 6
7. chapter 7
8. chapter 8
9. chapter 9
Diubah oleh chaadom 07-11-2018 18:48
anasabila memberi reputasi
6
29.7K
141
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
chaadom
#118
Maap ya agan2 semua.. kebetulan ane abis mrlahirkan jadi lama bgt ga buka kaskus dan segala macamnya.. jadi kisah ini pas bgt pas ane hamil 5 bulan makanya membekas bgt krn ane lg hamil malah dikasih cobaan kayak gini ke keluarga.. waktu itu ane nangiss terus dan nyalahin diri sendiri terus.. puji Tuhannya ga depresi dan bayinya lahir sehat hehe.. semoga ane ga kentang lagi..
chapter 8- halangan
Akhirnya kami bertemu. Setelah sekian bulan lebih, dimana ceta menghindariku selalu. Akhirnya aku bisa jemput dia di kantornya di mt haryono itu.. kantor beserta isinya yang ingin kubakar karena banyak mempengaruhi pemikiran ceta. Akhirnya dia pun berterus terang.
Ceta/c: "Kenapa harus ketemu lagi? Kan kita break", ketus ceta, tapi tetap, menaiki mobilku. (Dasar wanita, maunya enaknya aja).
A: " Ya kamu jelasin aja maksud omongan kamu kemaren" ujarku.
C: sebenarnya aku minta break karena bunda. Bunda ga setuju aku sama kamu.
A: masa bunda ngomong gitu sih? Bunda selama ini baik2 aja sama aku. (Ps: gw sering bgt nginep di rumah si ceta, dan selama disana gw pasti ngobrol sama bundanya ceta dan om2annya itulah sampe subuh dan mereka fine2 aja ama gw)
C: iya bunda udh ga setuju karena kamu dilihat lontang-lantung..ga jelas nanti aku mau dikasi makan apa? Gimana nasib aku nantinya?
A: kan aku udah pernah bilang kalau aku akan berjuang. Kamu percaya aja sama aku. Toh kamu sampai sekarang juga aman aja kan sama aku? Apa pernah aku bikin kamu susah banget? Kuliah aku bantu, bahkan ujian kamu dibantu sama kenalannya ayahku.
C: iya sih..tapi...
A: langsung aja. Kamu mau putus atau ngga?
Ceta pun terlihat ciut..dia terlihat bingung dan pada akhirnya dia bilang, "ga. Aku mau lanjut"
Dan seperti itulah, kendaraan kami pun berlanjut.
Gundahku pun hilang seiring melajunya kendaraanku.
Aku kembali menginap di rumah ceta. Setelah ceta tidur, aku pun mengobrol sama bundanya ceta.
Bunda/b: eh, agil.. udah lama sekali ga kesini, kenapa?
A: ada masalah kemaren bun, bunda gatau ceritanya?
B: gatau gil.. ada apa sihh?
Aku pun cerita panjang lebar, mulai dari ceta yg pesta lajang sama teman-temannya, dan perubahan sifatnya yang tiba tiba.
Setelah aku bercerita seperti itu, bunda pun langsung berlinangan air mata..
"Masa sih gil, kakak bilang gitu? Bunda gaada pernah ngomong gitu gil.. bunda aja udah sayang sama kamu, makanya bunda nyariin kamu juga.. tega bgt si kakak bilang gitu tentang bunda..", kata bunda ular🐍.
"Ya begitulah bun. Aku juga bingung" dan percakapan itu mengakhiri pertemuan kami, dan aku pun tidur di sofa lagi. (akhirnya aku tahu kenyataannya yaitu ceta selama ini mendapat pengaruh buruk di kantornya dan teman2nya, dan puncaknya saat pesta lajang temannya itu. Temannya kebetulan sama, tipe wanita yg meminta lebih, sehingga mereka bisa mempengaruhi ceta. Ceta selalu ditanyai kenapa mau sama ane, disaat ane belum jelas hidupnya. Mereka juga cerita kalau sepakat sama pasangan masing masing, tiap bulan harus dikirimi duit sekian juta. Ceta yang merasa hebat pun akhirnya terpengaruh. Memang sejak ceta pindah ke kantor perusahaan jualan ayam di mt haryono itu sifatnya berubah. Hampir tiap bulan belanja tas atau sepatu baru yang harganya tidak murah. Memang, karirnya sudah cukup bagus, dan ia pun sering ditunjuk untuk pergi ke luar kota bahkan luar negeri. Dan ternyata saat kami break, dia sempat berpacaran dengan seseorang, yang mungkin saat kami pacaran pun mereka sudah dekat. Hal ini kuketahui setelah salah satu saudaraku melihat ceta dan pacarnya itu bercanda mesra di pesawat
Setelah kejadian itu hubungan kami pun membaik.. waktu berlalu hingga akhirnya beberapa bulan setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk menikah. Bulan mei 2018, waktu yang kami nantikan, malah menjadi bulan yang terburuk yang pernah kualami.
Mulai bulan januari 2018 kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan kami.. yang kecil seperti suvenir, undangan, dan lainnya. Kami juga survey gedung2 dan ceta meminta outdoor. Ceta yang sudah berubah ini memang banyak sekali permintaannya, dia tidak ingin pernikahannya biasa-biasa saja, di saat keluarganya tidak perlu repot untuk mengeluarkan uang. Aku dulu memang necis dan suka barang-barang mahal, tapi sekarang aku sudah lebih tau diri.. untuk baju pengantin, awalnya ceta pesan dari ali express dengan harga yang murah, namun akhirnya ia pun menyewa gaun juga di tempat lain. Kami pergi ke wedding exhibition dan akhirnya memutuskan untuk ikut eo, dan melangsungkan pernikahan kami secara outdoor di salah satu gedung di cibubur.. dari eo sudah diputuskan harga sebesar 120 juta dengan paket-paketnya, yang ternyata eo itu sendiri adalah saudara dari si ceta juga.
Lima bulan bukanlah waktu yang lambat.. ada aja permasalahan sebelum hari h, yang sebenarnya kalau diartikan mungkin perkataan dari Tuhan agar kami tidak menikah. Sampai menjelang satu bulan pernikahan, eonya tidak ada menghubungiku untuk melunasi paketan pernikahan tersebut. Lucu kalau dipikir-pikir. Namun saat dua minggu sebelum pernikahan baru bunda terus menerus menghubungiku untuk segera melunasi pernikahan itu. Kedua orangtuaku yang kaget, segera mencari pinjaman sana sini dan mencairkan semua asuransi yang ada supaya bisa melunasi pernikahan itu. Kembali lagi aku melakukan kesalahan, aku tidak terbuka dengan keluargaku. Aku tidak berusaha untuk mengandalkan mereka untuk pernikahanku ini. Aku mencoba mengerjakan semua sendirian, dengan anggapan "aku bisa kok ngurus ini semua", yang ternyata egoku ini membawaku ke kerusakan fatal nantinya. Mungkin pelajaran untuk dipetik, bila menikah, hilangkan semua egomu, dan terbukalah ke keluarga, dan buka juga pikiranmu. Terkadang di saat penuh tekanan seperti mengurus pernikahan seperti ini kita tidak bisa berpikir jernih, dan orang sekitar kitalah yang bisa kita andalkan, mereka pasti bisa memberikan masukan yang baik. Memang aku ingin mengurus ini semua sendiri agar aku terlihat siap, terlihat sudah menjadi pemimpin di keluargaku. Pada akhirnya, aku berdiam diri dan hanya melibatkan keluargaku bila aku membutuhkan uang segera. Sampai aku menikah pun, aku masih merepotkan orangtuaku..aku meminta uang seratusan juta itu, dan memintanya tiba tiba sehingga mereka kocar kacir. Bukan maksudku sepetti itu, karena dari eo nya sendiri menghubunginya pihak ceta dan di akhir akhir baru mereka meminta segera dari pihak kami.. hambatan lainnya yaitu pihak ceta, tidak mau diadakannya perjanjian pra nikah. Di agama kami, ada perjanjian pra nikah, dimana seminggu atau dua minggu sebelum menikah, akan diadakan semacam kebaktian di gereja, dan di hadapan umat, pendeta dan gereja, calon pengantin mengaku bahwa mereka tidak punya hubungan lain selain daripada calonnya masing-masing. Ayahku ngotot untuk diadakannya perjanjian pra nikah ini, agar jelas status kami masing-masing, namun pihak keluarga ceta tidak mau, karena yang datang dari pihak keluarga ceta pasti sedikit (ayah dan bunda ceta sudah bercerai, dan bunda ceta pun tidak akur dengan ibunya sendiri dan kakak2nya, jadi takut akan merasa malu dengan agil dan keluarganya yang luar biasa akrab seperti saat tunangan yang lalu, dimana tamu dari ceta bisa dihitung dengan jari dan dari pihak agil yang banyak dan akrab). Lucu kalau dipikir-pikir, dimana keluarga sana menolak karena malu tamunya sedikit, padahal perjanjian pra nikah ini adalah urusan capeng dengan pasangan masing masing dan Tuhan. Akhirnya ayahku mengalah dan kami pun mencari gereja yang tidak mengadakan perjanjian pra nikah sebelumnya, dan untungnya ada. Hambatan selanjutnya adalah, gereja yang kami incar untuk tempat pemberkatan kami, meminta biaya sewa dan diluar budget kami, sehingga kami pun akhirnya menggunakan gedung pernikahan kami untuk pemberkatan kami. Kedua orangtuaku tidak setuju awalnya, karena ingin perjanjian sakral seperti ini diadakannya di gereja, bukan gedung biasa. Namun akhirnya, kembali orangtuaku mengizinkan..
Tapi, setelah dipikir kembali, yang paling fatal adalah pihak keluarga ceta yang tidak mau bertemu keluargaku. Aneh ga sih, di saat anak perempuan satu satunya, mau menikah namun bunda sama sekali tidak bisa (ntah tidak bisa atau tidak mau ntahlah) untuk bertemu keluargaku. Kedua orangtuaku menelepon terus namun ada aja alasan dari bunda ini. Tiba tiba di bandunglah, atau sakit kepala lah, dan banyak lagi alasannya. Akhirnya memilih kebaya orangtua dipilihkan oleh mamaku. Aku, sierra, mamaku, dan ceta pergi ke pasar baru untuk mencari kebaya tersebut. Hingga pada akhirnya, sebelum pernikahan, kedua orangtua kami hanya bertemu sekali *SATU KALI saja hingga akhirnya aku menikah. Itu juga karena tidak sengaja, dimana saat aku menanyakan ceta sedang dimana, ternyata dia sedang di gedung pernikahan kami, dan langsung saja aku dan orangtuaku menyusul kesana. Hanya disanalah orangtua kami bertemu. Secara kebetulan. Orangtuaku juga selalu menanyakan dan meminta dipertemukan, namun aku juga menutup-nutupi, karena disisi lain aku takut nantinya akan ada pembicaraan mengenai biaya, dan aku kasihan kepada keluarga ceta bila diberatkan masalah tersebut.
Di rumah pun mamaku selalu berkomentar, "Aneh banget ya, itu anak perempuannya, satu satunya, mau nikah, masa gaada ngasih sepeser pun buat acara ini? Apa ga bisa dia nyari pinjaman atau apa kek? Masa ditemui juga susahnya minta ampun."
Harusnya aku mengikuti orangtuaku. Memang feeling orangtua terutama ibu memang yang paling kuat. Mamaku sudah terus menerus sebelumnya meminta aku pisah dari ceta, namun aku terus mengotot ingin sama ceta, karena aku pikir, mana mungkin ada yang mau lagi denganku..
Selain itu ada masalah lagi, yaitu permasalahan dengan negara. Ceta yang selama ini tinggal di cibubur, memiliki ktp bandung, dan belum diurus sampai kami mau menikah..hingga puncaknya, aku belum bisa mengurus catatan sipil karena bahkan ktp saja dia belum beres! Prosedur pernikahan itu meminta surat dari rt, rw, keluarahan, kecamatan sampai nantinya di catatan sipil..kalau ktp ceta bandung, akan sulit sekali mengurus semuanya, jadi kami pikir lebih mudah membuat perpindahan ktp ke cibubur dulu baru ke rt rw cibubur dan prosedur lainnya..
Memang kata orang, persiapan pernikahan itu berat, namun untuk kami halangan selalu saja ada. Hingga akhirnya aku sendiri pernah nyeletuk ke keluargaku, "ya kalau jadi nikah ya", karena aku sebagai mediator antara pihak keluargaku dan keluarga ceta merasa tertekan..
chapter 8- halangan
Akhirnya kami bertemu. Setelah sekian bulan lebih, dimana ceta menghindariku selalu. Akhirnya aku bisa jemput dia di kantornya di mt haryono itu.. kantor beserta isinya yang ingin kubakar karena banyak mempengaruhi pemikiran ceta. Akhirnya dia pun berterus terang.
Ceta/c: "Kenapa harus ketemu lagi? Kan kita break", ketus ceta, tapi tetap, menaiki mobilku. (Dasar wanita, maunya enaknya aja).
A: " Ya kamu jelasin aja maksud omongan kamu kemaren" ujarku.
C: sebenarnya aku minta break karena bunda. Bunda ga setuju aku sama kamu.
A: masa bunda ngomong gitu sih? Bunda selama ini baik2 aja sama aku. (Ps: gw sering bgt nginep di rumah si ceta, dan selama disana gw pasti ngobrol sama bundanya ceta dan om2annya itulah sampe subuh dan mereka fine2 aja ama gw)
C: iya bunda udh ga setuju karena kamu dilihat lontang-lantung..ga jelas nanti aku mau dikasi makan apa? Gimana nasib aku nantinya?
A: kan aku udah pernah bilang kalau aku akan berjuang. Kamu percaya aja sama aku. Toh kamu sampai sekarang juga aman aja kan sama aku? Apa pernah aku bikin kamu susah banget? Kuliah aku bantu, bahkan ujian kamu dibantu sama kenalannya ayahku.
C: iya sih..tapi...
A: langsung aja. Kamu mau putus atau ngga?
Ceta pun terlihat ciut..dia terlihat bingung dan pada akhirnya dia bilang, "ga. Aku mau lanjut"
Dan seperti itulah, kendaraan kami pun berlanjut.
Gundahku pun hilang seiring melajunya kendaraanku.
Aku kembali menginap di rumah ceta. Setelah ceta tidur, aku pun mengobrol sama bundanya ceta.
Bunda/b: eh, agil.. udah lama sekali ga kesini, kenapa?
A: ada masalah kemaren bun, bunda gatau ceritanya?
B: gatau gil.. ada apa sihh?
Aku pun cerita panjang lebar, mulai dari ceta yg pesta lajang sama teman-temannya, dan perubahan sifatnya yang tiba tiba.
Setelah aku bercerita seperti itu, bunda pun langsung berlinangan air mata..
"Masa sih gil, kakak bilang gitu? Bunda gaada pernah ngomong gitu gil.. bunda aja udah sayang sama kamu, makanya bunda nyariin kamu juga.. tega bgt si kakak bilang gitu tentang bunda..", kata bunda ular🐍.
"Ya begitulah bun. Aku juga bingung" dan percakapan itu mengakhiri pertemuan kami, dan aku pun tidur di sofa lagi. (akhirnya aku tahu kenyataannya yaitu ceta selama ini mendapat pengaruh buruk di kantornya dan teman2nya, dan puncaknya saat pesta lajang temannya itu. Temannya kebetulan sama, tipe wanita yg meminta lebih, sehingga mereka bisa mempengaruhi ceta. Ceta selalu ditanyai kenapa mau sama ane, disaat ane belum jelas hidupnya. Mereka juga cerita kalau sepakat sama pasangan masing masing, tiap bulan harus dikirimi duit sekian juta. Ceta yang merasa hebat pun akhirnya terpengaruh. Memang sejak ceta pindah ke kantor perusahaan jualan ayam di mt haryono itu sifatnya berubah. Hampir tiap bulan belanja tas atau sepatu baru yang harganya tidak murah. Memang, karirnya sudah cukup bagus, dan ia pun sering ditunjuk untuk pergi ke luar kota bahkan luar negeri. Dan ternyata saat kami break, dia sempat berpacaran dengan seseorang, yang mungkin saat kami pacaran pun mereka sudah dekat. Hal ini kuketahui setelah salah satu saudaraku melihat ceta dan pacarnya itu bercanda mesra di pesawat
Setelah kejadian itu hubungan kami pun membaik.. waktu berlalu hingga akhirnya beberapa bulan setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk menikah. Bulan mei 2018, waktu yang kami nantikan, malah menjadi bulan yang terburuk yang pernah kualami.
Mulai bulan januari 2018 kami sudah mulai mempersiapkan pernikahan kami.. yang kecil seperti suvenir, undangan, dan lainnya. Kami juga survey gedung2 dan ceta meminta outdoor. Ceta yang sudah berubah ini memang banyak sekali permintaannya, dia tidak ingin pernikahannya biasa-biasa saja, di saat keluarganya tidak perlu repot untuk mengeluarkan uang. Aku dulu memang necis dan suka barang-barang mahal, tapi sekarang aku sudah lebih tau diri.. untuk baju pengantin, awalnya ceta pesan dari ali express dengan harga yang murah, namun akhirnya ia pun menyewa gaun juga di tempat lain. Kami pergi ke wedding exhibition dan akhirnya memutuskan untuk ikut eo, dan melangsungkan pernikahan kami secara outdoor di salah satu gedung di cibubur.. dari eo sudah diputuskan harga sebesar 120 juta dengan paket-paketnya, yang ternyata eo itu sendiri adalah saudara dari si ceta juga.
Lima bulan bukanlah waktu yang lambat.. ada aja permasalahan sebelum hari h, yang sebenarnya kalau diartikan mungkin perkataan dari Tuhan agar kami tidak menikah. Sampai menjelang satu bulan pernikahan, eonya tidak ada menghubungiku untuk melunasi paketan pernikahan tersebut. Lucu kalau dipikir-pikir. Namun saat dua minggu sebelum pernikahan baru bunda terus menerus menghubungiku untuk segera melunasi pernikahan itu. Kedua orangtuaku yang kaget, segera mencari pinjaman sana sini dan mencairkan semua asuransi yang ada supaya bisa melunasi pernikahan itu. Kembali lagi aku melakukan kesalahan, aku tidak terbuka dengan keluargaku. Aku tidak berusaha untuk mengandalkan mereka untuk pernikahanku ini. Aku mencoba mengerjakan semua sendirian, dengan anggapan "aku bisa kok ngurus ini semua", yang ternyata egoku ini membawaku ke kerusakan fatal nantinya. Mungkin pelajaran untuk dipetik, bila menikah, hilangkan semua egomu, dan terbukalah ke keluarga, dan buka juga pikiranmu. Terkadang di saat penuh tekanan seperti mengurus pernikahan seperti ini kita tidak bisa berpikir jernih, dan orang sekitar kitalah yang bisa kita andalkan, mereka pasti bisa memberikan masukan yang baik. Memang aku ingin mengurus ini semua sendiri agar aku terlihat siap, terlihat sudah menjadi pemimpin di keluargaku. Pada akhirnya, aku berdiam diri dan hanya melibatkan keluargaku bila aku membutuhkan uang segera. Sampai aku menikah pun, aku masih merepotkan orangtuaku..aku meminta uang seratusan juta itu, dan memintanya tiba tiba sehingga mereka kocar kacir. Bukan maksudku sepetti itu, karena dari eo nya sendiri menghubunginya pihak ceta dan di akhir akhir baru mereka meminta segera dari pihak kami.. hambatan lainnya yaitu pihak ceta, tidak mau diadakannya perjanjian pra nikah. Di agama kami, ada perjanjian pra nikah, dimana seminggu atau dua minggu sebelum menikah, akan diadakan semacam kebaktian di gereja, dan di hadapan umat, pendeta dan gereja, calon pengantin mengaku bahwa mereka tidak punya hubungan lain selain daripada calonnya masing-masing. Ayahku ngotot untuk diadakannya perjanjian pra nikah ini, agar jelas status kami masing-masing, namun pihak keluarga ceta tidak mau, karena yang datang dari pihak keluarga ceta pasti sedikit (ayah dan bunda ceta sudah bercerai, dan bunda ceta pun tidak akur dengan ibunya sendiri dan kakak2nya, jadi takut akan merasa malu dengan agil dan keluarganya yang luar biasa akrab seperti saat tunangan yang lalu, dimana tamu dari ceta bisa dihitung dengan jari dan dari pihak agil yang banyak dan akrab). Lucu kalau dipikir-pikir, dimana keluarga sana menolak karena malu tamunya sedikit, padahal perjanjian pra nikah ini adalah urusan capeng dengan pasangan masing masing dan Tuhan. Akhirnya ayahku mengalah dan kami pun mencari gereja yang tidak mengadakan perjanjian pra nikah sebelumnya, dan untungnya ada. Hambatan selanjutnya adalah, gereja yang kami incar untuk tempat pemberkatan kami, meminta biaya sewa dan diluar budget kami, sehingga kami pun akhirnya menggunakan gedung pernikahan kami untuk pemberkatan kami. Kedua orangtuaku tidak setuju awalnya, karena ingin perjanjian sakral seperti ini diadakannya di gereja, bukan gedung biasa. Namun akhirnya, kembali orangtuaku mengizinkan..
Tapi, setelah dipikir kembali, yang paling fatal adalah pihak keluarga ceta yang tidak mau bertemu keluargaku. Aneh ga sih, di saat anak perempuan satu satunya, mau menikah namun bunda sama sekali tidak bisa (ntah tidak bisa atau tidak mau ntahlah) untuk bertemu keluargaku. Kedua orangtuaku menelepon terus namun ada aja alasan dari bunda ini. Tiba tiba di bandunglah, atau sakit kepala lah, dan banyak lagi alasannya. Akhirnya memilih kebaya orangtua dipilihkan oleh mamaku. Aku, sierra, mamaku, dan ceta pergi ke pasar baru untuk mencari kebaya tersebut. Hingga pada akhirnya, sebelum pernikahan, kedua orangtua kami hanya bertemu sekali *SATU KALI saja hingga akhirnya aku menikah. Itu juga karena tidak sengaja, dimana saat aku menanyakan ceta sedang dimana, ternyata dia sedang di gedung pernikahan kami, dan langsung saja aku dan orangtuaku menyusul kesana. Hanya disanalah orangtua kami bertemu. Secara kebetulan. Orangtuaku juga selalu menanyakan dan meminta dipertemukan, namun aku juga menutup-nutupi, karena disisi lain aku takut nantinya akan ada pembicaraan mengenai biaya, dan aku kasihan kepada keluarga ceta bila diberatkan masalah tersebut.
Di rumah pun mamaku selalu berkomentar, "Aneh banget ya, itu anak perempuannya, satu satunya, mau nikah, masa gaada ngasih sepeser pun buat acara ini? Apa ga bisa dia nyari pinjaman atau apa kek? Masa ditemui juga susahnya minta ampun."
Harusnya aku mengikuti orangtuaku. Memang feeling orangtua terutama ibu memang yang paling kuat. Mamaku sudah terus menerus sebelumnya meminta aku pisah dari ceta, namun aku terus mengotot ingin sama ceta, karena aku pikir, mana mungkin ada yang mau lagi denganku..
Selain itu ada masalah lagi, yaitu permasalahan dengan negara. Ceta yang selama ini tinggal di cibubur, memiliki ktp bandung, dan belum diurus sampai kami mau menikah..hingga puncaknya, aku belum bisa mengurus catatan sipil karena bahkan ktp saja dia belum beres! Prosedur pernikahan itu meminta surat dari rt, rw, keluarahan, kecamatan sampai nantinya di catatan sipil..kalau ktp ceta bandung, akan sulit sekali mengurus semuanya, jadi kami pikir lebih mudah membuat perpindahan ktp ke cibubur dulu baru ke rt rw cibubur dan prosedur lainnya..
Memang kata orang, persiapan pernikahan itu berat, namun untuk kami halangan selalu saja ada. Hingga akhirnya aku sendiri pernah nyeletuk ke keluargaku, "ya kalau jadi nikah ya", karena aku sebagai mediator antara pihak keluargaku dan keluarga ceta merasa tertekan..
0