- Beranda
- Stories from the Heart
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)
...
TS
ayahnyabinbun
SURYA Dikala SENJA (Horor, Komedi)

Assalamualaikum semua.
Ini hanya goresan tinta imajinasi seorang lelaki tua yang telat menemukan hasratnya dalam hal menulis.
No Junk.
No Spam.
Pokoknya ikuti Rules dari Kaskus ya.
Cerita ini murni Fiksi, jadi kalau ada kesamaan nama tokoh dan tempat mohon di maklumi.
Terakhir.
Selamat menikmati bacaan ringan ini.
Spoiler for Prolog:
-Jakarta-
UGD RS di jakarta.
"Bagaimana istri saya sus!? " tanya seorang pria kepada suster yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"Maaf pak masih kritis saya tidak bisa memberitahu lebih rinci kondisi istri bapak, itu wewenang dokter," jawab suster cepat kemudian dia berlalu meninggalkan lelaki itu.
Lelaki itu pun bersandar di tembok rumah sakit, raut mukanya terlihat lemas dan pucat kedua tangannya gemetar tatkala menutup wajahnya.
"Maafkan aku Naura, hiks, maafkan aku, " gumam lelaki itu sambil terisak menangis tersedu-sedu.
Seberkas cahaya membentuk sosok manusia berjongkok di depan lelaki itu, "jangan menangis sayang, ini memang sudah waktuku, jaga anak kita ya, dia ganteng seperti kamu, cup. " seru sesosok cahaya tersebut sambil mencium kening sang lelaki, dan cahaya itu pun berlalu bersama sesosok laki-laki berjubah putih yang menemaninya.
Lelaki itu mengangguk lesu sambil tersenyum tipis, melihat ruh istrinya menghilang menuju ufuk matahari dikala senja.
"Krieeek" suara pintu UGD terbuka, keluar seorang dokter dan beberapa suster menggendong seorang bayi.
"Pak Bagas, bayi bapak kami bersihkan dulu di ruang bayi ya pak, dokter ingin bicara dengan bapak," jawab suster dengan lemah lembut ke lelaki itu.
Lelaki itu pun berdiri, berjalan pelan menuju dokter yang menundukkan kepala di depan lelaki itu, gurat penyesalan terlihat dari wajah sang dokter.
"Sudah tidak apa-apa dok, saya sudah tahu, sehebat apapun anda tidak bisa melawan takdir, " jawab lelaki itu sambil menepuk pundak sang dokter.
"Ba-bagaimana bapak bisa tahu!? " jawab dokter dengan rona kebingungan.
Lelaki itu kemudian berlalu menuju ruangan bayi, langkah demi langkah terasa berat, tangisan tak terbendung dari kedua matanya, lelaki itu memukul-mukul dadanya agar menyisakan kelegaan saat ia bernafas.
"OOOEeeeK...OOOEEEEK...OOOEEEK," seketika tangis bayi memecah kesunyian lorong rumah sakit, lelaki itu mempercepat langkah demi langkahnya, terlihat seorang bayi sedang di gendong suster, menangis dengan kencangnya.
"Silakan pak di gendong anaknya, sudah saya bersihkan dedek bayinya," jawab suster ke lelaki itu.
Sang lelaki menerima si bayi dari tangan suster, menggendong dengan penuh kehati-hatian, sang bayi yang tadi menangis kencang seketika terdiam di pelukan lembut sang ayah.
"Mau di beri nama siapa pak bayinya?" tanya suster.
"Surya, Surya dikala senja. " jawab bapak Bagas lirih.
Spoiler for Chapter 1 : sang Surya:
Jakarta, 2018.
"TENG!! TENG!! TENG!!" bunyi bel terdengar hingga ujung jalan setapak depan sebuah sekolah, segerombolan anak tunggang langgang berlarian menuju gerbang sekolah tersebut.
Pak Kusni penjaga sekolah, merangkap satpam, merangkap manusia terlihat mendorong gerbang dengan kepayahan, faktor usia seperti menggerogoti tenaganya yang dulu seperti kuda jantan, nafasnya terdengar mengebu-gebu seperti pemain film erotis tahun 80an, padahal gerbang sekolahnya hanya ada satu, bayangkan bila sekolah ini memiliki 7 gerbang layaknya pintu neraka, mungkin senin beliau sudah di kebumikan.
Dari ufuk timur terdengar suara dengan lantang.
"HEI KUSNI!!! HENTIKAN!!! GUA MASIH MAU SEKOLAH KUSNI!!!"
Remaja itu berlari bersama gerombolan murid yang telat bagai babi hutan.
Pak Kusni yang sedang mendorong gerbang terdiam sesaat, lalu melihat asal suara tersebut, matanya melotot melihat remaja tersebut berlari seperti maling BH yang dikejar warga, dengan sisa tenaga tuanya di dorong gerbang itu dengan tergesa-gesa,
"bocah sialan itu tak boleh masuk..! TIDAK BOLEH MASUK..! YOU SHALL NOT PASS..!" gumam lelaki tua itu sambil mengutip kata-kata Gandalf Lord Of The Ring.
"SIALAN KAU KUSNI! GUA TIDAK AKAN KALAH DENGAN TUA BANGKA MACAM KAU KUSNI!!" teriak lagi remaja itu dengan lantang, langkah kakinya semakin kencang ia sampai lupa resleting celananya masih menganga memberikan sensasi cooling breeze di sekujur pangkal pahanya.
Mendengar itu Kusni geram, ia semakin menggebu-gebu mendorong gerbang, akan tetapi, "KREEK!!" suara tulang bergeser bersua, teriakan tertahan mengema di kalbu Kusni.
"AAARRRGGHH!! AMPUN GUSTI!! PINGGANGKU!!" sakit encok strata tiga Kusni kambuh, tubuh kusni tertahan gerbang, tanpa adanya gerbang mungkin tubuh Kusni akan tersungkur ke tanah, ada hubungan simbiosis mutualisme yang ironis antara Kusni dan gerbang.
"Pagi beh, kambuh?! AHAAY!" ejek remaja itu ke pak Kusni sambil berlenggang menuju kelas.
Sakit, malu, vertigo menjadi satu, itulah yang di rasakan Kusni sekarang, melihat murid itu berlalu membuat matanya berkaca-kaca seutas kata terucap dari bibir Kusni.
"Dasar bocah KAMPRET!!" Kusni tertahan mematung sambil menggenggam gerbang sekolah yang masih seperempat terbuka.
Kelas 2-A sudah di penuhi manusia-manusia unggulan, datang setiap pagi untuk mencari ilmu, bersiap-siap menatap masa depan dengan penuh harapan cemerlang, di belakang dua insan lelaki saling bercakap.
"Cok, film bokep yang kemaren elu kirim crash, kirim lagi dong bro," celoteh Bambang ke Ucok di baris belakang.
"BAH!! Handphone kau saza yang zadul Bams, buktinya zalan-zalan zaja tuh di hp ku, makanya beli hape zangan di pasar malam lai," jawab Ucok dengan logat medannya yang kental, sungguh percakapan yang menginspirasi kaum muda mudi INDONESIA.
"Eh eh eh, guru guru guru!" riuh anak-anak kelas 2-a, sesosok lelaki tinggi, atletis nan tampan terlihat di depan pintu, kemudian berlalu, berganti menjadi lelaki pendek, tambun dengan kepala botak di tengah layaknya lapangan bola, sekilas adegan tadi seperti iklan L-men yang gagal.
Pak Hartono masuk ke dalam kelas, melihat sekeliling kelas sambil menyapa.
"Pagi anak-anak!!", sapa pak Hartono.
"PAGI PAK GURUUU!!" Jawab murid-murid dengan serentak dan kompak.
Tiba-tiba seorang anak berdiri di depan pintu kelas, wajahnya terlihat kecapaian dan pucat.
"Yaaah! Telat!" ujar anak itu, pak Hartono menelisik dengan teliti anak yang terlambat itu, kemudian berujar "hei kamu! Berani kamu telat di jam saya! Kesini kamu!" perintah pak Hartono dengan galaknya, anak itu pun maju dengan perlahan, kepalanya menunduk malu tidak bisa menatap pak Hartono, "Push up 25 kali! Jikalau tidak sanggup silakan keluar kelas saya!!" ujar pak Hartono dengan tegas, ketika anak itu mengambil ancang-ancang untuk melakukan push up, sesosok mahkluk mengintip dari balik jendela di barisan pojok kanan belakang, matanya nanar namun tajam melihat situasi kelas.
"oke situasi aman," ujarnya dengan percaya diri, dengan mode silent ia menyelundupkan tasnya dari balik jendela menuju bangku belajar, lalu ia merangsek masuk dari celah jendela, bak ular kadut dengan licinnya ia masuk melewati celah lumayan sempit itu, setengah badannya sudah masuk ke dalam ruang kelas, tangan kirinya menyentuh meja kemudian ia mendorong sisa tubuhnya melalui tembok menggunakan tangan kanan, dengan sangat cepat dan tanpa satu makhluk pun mengetahui ia sudah masuk ke dalam kelas, dengan posisi menungging di atas meja, misi pun berhasil, ia turun dari meja kemudian menikmati pemandangan Budi yang sedang push up.
"Budi, terima kasih ya, tanpa elu sebagai pengalih perhatian gua ngak bisa sampai di dalam kelas, Budi, kamu, numero uno," gumam pria itu di dalam hati.
Iya, pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Surya, anak dari bapak Bagas prakasa yang kalian liat kisah pilunya di prolog, anak ini tumbuh besar menjadi sosok lelaki tampan, pintar dan soleh, itu hanya menurut penuturan bapaknya sendiri.
Push up Budi sudah berada di angka 23 kali, keringat bercucuran dari kening sampai badan Budi, bahkan sampai muncul bercak basah di daerah selangkangannya, pergelangan tangannya mulai goyah, lututnya bergetar 4,5 skala richter, tubuh yang di rancang untuk main warnet seharian itu tidak mampu menerima push up lebih dari 20 kali.
"Pak, sudah ya pak, saya sudah tidak sanggup," nego Budi ke pak Hartono.
Pak Hartono sedikit terenyuh melihat Budi yang kecapaian, "aduh, kasihan kamu nak, ya sudah … tambah lima lagi push upnya, biar genap jadi 30," tutur pak Hartono dengan melepas topeng kesedihannya, mata Budi nanar namun kosong menatap lantai, terlihat raut penyesalan teramat sangat dari wajah Budi.
Pak Hartono mulai menuju meja ia mengambil daftar absensi lalu mulai mengabsen satu per satu muridnya, dimulai dari Ani, Deni dan seterusnya, murid-murid saling bersahutan saat nama mereka disebut pak Hartono, ketika mulut pak Hartono menyebut nama Surya, "HADIR PAK..!" sahut seseorang pemuda dari belakang dengan lantang.
Seisi kelas kaget, terperanga sambil menganga melihat Surya sudah di dalam kelas, pertanyaan dan praduga berkecamuk di hati mereka.
"Bagaimana ia bisa masuk!?"
"Sejak kapan ia ada di kelas?!"
"Kenapa aku ada di kelas ini!!" gumam Ari yang seharusnya masuk kelas 2-d.
semua perhatian itu berbanding terbalik dengan kondisi Budi yang tanpa perhatian satupun dari teman-temannya.
"Sakit, banget, tapi tak berdarah, sungguh biadab temen-temen gua, kata mereka kita teman sejati, selalu di hati, HILIH KINTHIL!!" ujar Budi di dalam hati kesal dengan teman-temannya.
Pelajaran berjalan setelah sesi absensi, pak Hartono mulai menjelaskan di depan kelas, suasana hening terasa, murid-murid mulai mendengarkan dengan seksama, kecuali Surya yang sedang terlelap di mejanya, posisinya yang berada paling belakang dan di tutupi Bambang yang jangkung dan Ucok yang bulat menjadikan tempat duduknya seperti vila di puncak, tempat paling nyaman untuk beristirahat.
"TOK TOK TOK TOK" bunyi ketukan pintu memecah keheningan kelas, pak Zul sang kepala sekolah sedang berdiri dengan seorang gadis cantik nan manis di sebelahnya, "pagi pak, maaf ganggu kelasnya, ini ada murid baru kelas 2-a," ujar pak Zul, "oh iya pak, silakan neng masuk, perkenalkan diri dulu sama teman yang lain," jawab pak Hartono sambil mempersilakan gadis itu masuk.
Sesosok gadis manis memakai hijab putih berjalan perlahan menuju depan kelas, wajah manisnya terlihat malu-malu ketika bertatap muka dengan murid-murid kelas 2-A, "pagi semua, nama aku Naura kelana subhi, panggil saja Naura," jawab Naura sambil tersenyum simpul memperlihatkan lesung pipinya, seketika itu juga rentetan panah asmara menusuk hati para lelaki di kelas 2-A, kecuali Surya yang sedang berkelana di pulau kapuk dan para murid perempuan yang menunjukkan ekspresi tersaingi secara jasmani dan rohani.
"kamu duduk di belakang ya nak Naura, soalnya bangku yang kosong cuman ada di sebelah sana, " ujar pak Hartono sambil menunjuk bangku disebelah Surya.
Naura pun berjalan menuju bangkunya, diiringi tatapan nakal murid laki-laki di kelas itu, ia kemudian duduk sambil mulai mengeluarkan peralatan belajarnya.
Bambang dan Ucok yang duduk di depan Naura pun sontak membalikkan badan untuk berkenalan.
"Hai Naura, namanya cantik secantik orangnya," puji Bambang dengan gaya sok coolnya.
"hei Naura, cantik kali kau, nanti pulang ku antar pakai motor ninja ku mau tak?" goda Ucok sambil menyisir jambul khatulistiwa miliknya.
Melihat gelagat kedua lelaki di depannya naura langsung ilfeel stadium akhir, didalam hatinya ia berteriak "TIDAAAAAAK..!" akan tetapi Naura hanya membalas dengan senyum malu tapi palsu ke kedua orang utan itu.
"ikh amit-amit jabang bayi, masa hari pertama di sekolah baru gua udah di godain cowok alay macem keset kayak gini, Ya tuhan salah apa hambamu ini, " ketus Naura di dalam hati.
"Jangan di anggap serius, mereka cuman bercanda."
"DEG...!!"
Rona wajah Naura terlihat terkejut, sebuah telepati terkirim langsung menuju fikirannya, ia mencari sumber telepati itu, dan matanya tertuju pada punggung lelaki teman sebangkunya, Surya.
Spoiler for Index:
PART 1
CHAPTER 1
CHAPTER 2
CHAPTER 3
CHAPTER 4
CHAPTER 5
CHAPTER 6
CHAPTER 7
CHAPTER 8
CHAPTER 9
CHAPTER 10
CHAPTER 11
CHAPTER 12
CHAPTER 13
CHAPTER 14
CHAPTER 15
CHAPTER 16
CHAPTER 17
CHAPTER 18
CHAPTER 19
CHAPTER 20
CHAPTER 21
CHAPTER 22
CHAPTER 23
CHAPTER 24
CHAPTER 25
CHAPTER 26
CHAPTER 27
CHAPTER 28
CHAPTER 29
CHAPTER 30
PART 2
CHAPTER 2.1
CHAPTER 2.2
CHAPTER 2.3
CHAPTER 2.4
CHAPTER 2.5
CHAPTER 2.6
CHAPTER 2.7
CHAPTER 2.8
CHAPTER 2.9
CHAPTER 2.10
CHAPTER 2.11
CHAPTER 2.12
CHAPTER 2.13
CHAPTER 2.14
CHAPTER 2.15
CHAPTER 2.16
CHAPTER 2.17
CHAPTER 2.18
CHAPTER 2.19
CHAPTER 2.20
CHAPTER 2.21
CHAPTER 2.22
CHAPTER 2.23
CHAPTER 2.24
CHAPTER 2.25
CHAPTER 2.26
CHAPTER 2.27
CHAPTER 2.28
CHAPTER 2.29
Diubah oleh ayahnyabinbun 29-05-2022 00:42
namakuve dan 116 lainnya memberi reputasi
115
162.1K
Kutip
916
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ayahnyabinbun
#14
First Exorcist
Spoiler for first exorcist:
Suasana teduh sore itu di kediaman Naura, terlihat sesosok lelaki tua namun masih terlihat gagah berpakaian kemeja hitam dengan kalung salib yang melingkar di lehernya sedang bercengkrama dengan Naura.
"Kamu yakin mau ikut? Kakek bukan mau jalan-jalan ke mall loh," tanya sang kakek heran.
"Iih..! Kapan lagi coba Naura liat kakek kerja, lagian kakek sudah tua, kali aja butuh bantuan Naura buat jalan," kilah Naura.
"Enak saja tua, kakek tuh matang, lagian kamu kan takut sama hal-hal begituan Naura," timpal sang kakek.
"Naura enggak kenapa-kenapa kakek, sini tasnya Naura bawain," Naura pun mengambil tas yang di tenteng kakeknya.
Mereka akhirnya beranjak menuju mobil tua si kakek, kemudian melaju di jalanan ibukota, laju mobil menebas gelapnya malam secara perlahan, sepoi-sepoi angin menerpa wajah Naura dari balik jendela mobil.
"Kita kemana kek?"
"Kita ke rumah om Hendrik, teman kakek anaknya berubah sikap sejak seminggu yang lalu dia jadi lebih murung dan menjadi penyendiri padahal sebelumnya anaknya ceria dan tadi sore anaknya ngamuk dan teriak-teriak enggak jelas seperti gejala kerasukan kakek harap bisa bantu dia." jawab romo sambil fokus menyetir.
"Oh," jawab Naura singkat kemudian kembali mengecek gawai miliknya.
Selang beberapa lama mereka sampai di tempat tujuan, sebuah rusun padat penduduk yang sesak dengan berbagai macam manusia di dalam sana, mereka di sambut oleh pak RT sedari dari parkiran, saling menyapa kemudian mereka berjalan menuju lantai 3, riuh rendah para penghuni yang berkumpul di lorong rusun menghambat jalan mereka menuju kediaman keluarga Hendrik tinggal.
"Tok..Tok..Tok"
"Permisi, Hendrik ini romo sudah disini," sahut ketua RT yang menemani romo sedari awal sampai di dalam rusun.
-Krieeek-
Pintu terbuka, seorang lelaki paruh baya berdiri di bibir pintu.
"Pakde, terima kasih sudah sudi mampir, saya sudah tidak tahu harus menghubungi siapa lagi," jawab pak Hendrik dengan nada cemas.
Romo pun masuk beserta Naura yang mengekor sedari tadi di ikuti pak RT dan pak Hendrik di belakangnya, di dalam ruang tamu terasa sesak aura panas dan lembab menyeruak kulit romo dan Naura yang baru saja datang.
"Romo selamat datang, maaf sudah merepotkan bapak terus." kata seorang wanita menyambut kedatangan mereka sambil mengelap bekas air mata di pipinya.
"Tidak kenapa-kenapa toh bu, sudah pekerjaan saya, Calistanya di kamar?" jawab romo dengan lembut tetapi tegas.
Bu Hendrik hanya mengangguk pelan sambil terisak ketika romo menyinggung anak semata wayangnya, romo, Naura dan pak RT kemudian menuju sebuah kamar bercat pink ciri khas kamar seorang gadis remaja terlihat disana seorang gadis terduduk di kasurnya, kaki dan tangannya terikat di tiap ujung tempat tidur, rambutnya berantakan, wajahnya kusam dihiasi mata yang nanar menatap orang-orang yang masuk ke dalam kamar.
"Baik, saya mulai saja ya pak, bu." romo pun mulai bersiap mengambil tasnya dari tangan naura.
Di lain tempat..
Seorang pemuda berdiri menatap kosong kearah jendela bus transjakarta, dengan tas selempang di pinggangnya, dia menatap kosong langit malam jakarta, kerlap kerlip lampu taman berpendar terang di gelapnya malam.
Sepanjang jalan banyak arwah penasaran mengelilingi sang prmuda, berkeluh kesah tentang masalah kehidupan mereka di masa lalu, ada yang meminta bantuan akan tetapi tak di gubris olehnya, seketika aura panas layaknya jilatab api keluar dari tubuh lelaki itu membuat arwah-arwah pergi kabur menjauh dari pemuda tersebut.
Lelaki itu pun turun di bilangan jakarta barat, berjalan menyusuri jembatan besi menuju bibir jalan, ia menatap sejenak gedung yang akan ia singgahi, kemudian berlalu menuju lantai 3.
Lalu..
"Dia pilihan ke duanya pak Hendrik, masuk nak, " jawab romo kepada pemuda itu.
Pemuda itupun masuk perlahan, dengan menggunakan jaket, topi dan buff yang serba hitam yang menutupi dirinya, ia mulai menyalami satu persatu orang yang berada di dalam ruang tamu, Naura mengeryitkan dahi saat lelaki itu membuka buff yang menutupi mulutnya.
"Surya?! Ngapain dia disini?!"
"Perkenalkan nama saya Senja, senang berkenalan dengan kalian semua, romo dimana gadisnya? Saya masih ada pekerjaan di tempat lain," jawab Senja dengan dingin.
"Oh iya ayo ikut bapak," seru romo.
Mereka akhirnya berjalan masuk ke kamar Calista, Senja menatap gadis itu dengan seksama, kemudian ia melihat-lihat sekeliling ruang tersebut.
"HAHAHHA..! DASAR MANUSIA BODOH..! SETELAH KAKEK TUA ITU GAGAL KALIAN MEMINTA PERTOLONGAN BOCAH..! HAHHAHAH..! KALIAN SEMUA AKAN MATI..! MATI..! MAAAATIII..!" teriak Calista sambil menggeliat berusaha melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya.
Naura menahan tangan romo kemudian berbisik pada sang kakek.
"Kek, itu siapa?" tanyanya
"Dia Senja, temen kakek dari biro pengusiran hantu, dia indigo sama kayak kamu, kenapa kamu nanya? Kamu naksir ya?" tanya romo dengan nada menggoda cucu perempuannya.
"Iih apaan si kek, Naura kan nanya doank!" dengus Naura kesal dengan sikap kakeknya.
Romo tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Naura.
Dikamar Senja sudah mulai menaburkan garam di sekeliling kasur, membuka topi dan jaketnya ditaruh di atas kursi belajar.
Romo dan Naura berdiri di belakang Senja, sedang kedua orangtua Calista berada di samping sang anak semata wayangnya.
"Sebelum saya mulai, apapun yang terjadi jangan mengganggu ritual saya, terutama bapak dan ibu, karena sekarang Calista bukan Calista yang kalian kenal di dalam dirinya ada entitas lain yang mengambil alih tubuhnya, sebelum saya menarik entitas di dalam Calista silakan berdoa menurut kepercayaan masing-masing."
"GGGRRRRRRHHH...!" geram Calista membahana di kamar.
Setelah berdoa Senja maju beberapa langkah menuju depan kasur, tangan kiri Senja bercahaya, sebuah jilatan api berpendar dari tangannya, Senja mengambil sebuah tongkat seukuran pena dan menggenggamnya di tangan kirinya, kaki kanannya meringsek naik ke atas kasur kemudian menindih Calista yang kian meronta, sejurus kemudian ujung tongkat tersebut menghujam dengan lembut di ulu hati tubuh Calista, tubuh gadis itu tersentak kemudian teriak.
"AAAAAAA...PANAAAAAS..HENTIKAAAAN..PANAAAAAS..!!"
Dengan mata ketiga Naura melihat semuanya dengan jelas, entitas di dalam tubuh Calista terlihat terbakar dan meronta-ronta meminta ampun, kejadian yang hanya bisa dilihat oleh manusia yang memiliki pengelihatan lebih.
"Mama..tolong Calista, sakit ma, tolong Calista mah.." lirih Calista pada mamanya, dengan sayu mata Calista tertuju ke mamanya yang ada di sebelahnya, wajahnya terlihat normal sang mama mengira Calista telah sembuh, ibu Hendrik yang mendengar anak gadisnya memohon pertolongan akhirnya melangkah maju ke Calista tidak menghiraukan perintah Senja sebelumnya, ia mengambil sebuah gunting kemudian menggunting tali yang mengikat tangan kanan Calista.
"JANGAN BU..!" teriak Senja yang sedang berusaha konsentrasi.
"BUGH..!"
Sebuah pukulan mendarat di perut Senja, di ikuti cekikan di leher Senja.
"EENGHHHH..! Sial..!" rancau Senja yang sedang tercekik.
"BRUAK..!"
Senja terhempas ke depan pintu, kekuatan gadis itu di luar nalar manusia biasa, kemudian Calista melempar semua yang dapat ia gapai ke orang-orang sekitarnya, mulai dari bantal, gelas hingga senyum licik tersungging ketika ia melihat sebuah gunting di sebelahnya.
Tanpa peringatan ia mengambil gunting tersebut lalu melemparnya menuju Naura.
"KYAAA..!" Pekik Naura.
-Jleeb..!-
suara benda tajam tertanam di daging manusia.
Naura bergetar, tubuhnya kaku, sesosok laki-laki memeluk dirinya Naura dapat merasakan detak jantung pemuda di depan dirinya sedangkan di bahu kanan pemuda itu tertanam gunting yang tadi di lempar Calista.
Lelaki itu mundur beberapa langkah kemudian berkata.
"Kamu gpp kan ?"
Sebuah suara lembut keluar dari mulut Senja, sambil menahan sakit ia bertanya kepada Naura, Naura hanya bisa mengangguk sambil gemetar menanggapi pertanyaan Senja.
Senja mencabut gunting tersebut dan melemparnya sembarangan, ia kemudian mengambil sesuatu dari tasnya, sedangkan romo dan pak Hendrik berusaha menahan agar Calista tidak bertindak lebih anarkis.
Senja memakai sebuah sarung tangan hitam, ia kembali menaiki kasur, sedangkan romo dan pak Hendrik menahan tangan kanan Calista yang kian meronta.
"Ya ALLAH lindungilah diriku dari godaan syaitan yang terkutuk."
Tangan kiri senja semakin membara, jilatan api berpendar tak tentu arah ke atas langit-langit, sejurus kemudian ia menekan telapak tangannya di wajah Calista, ia mencengkram sesuatu dan menariknya, sesosok mahkluk astral berwajah manusia akan tetapi berkaki ular tercekik oleh tangan senja, senja menarik mahkluk gaib itu kemudian menekannya ke lantai.
"Hei..! Naura..! Ambil botol di tas itu," tunjuk Senja ke Naura.
Naura dengan sigap mengambil botol bertutup gabus kemudian menaruhnya di depan senja.
"Terima kasih cantik," jawab senja sambil mengedipkan matanya genit ke arah Naura.
Ada getaran hangat dari tubuh Naura, pipi Naura merona merah di perlakukan seperti itu, baru kali ini ia di kedipkan oleh seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
Tak menunggu lama Senja menarik mahkluk itu dan mengurungnya di dalam botol, kemudian menutup rapat botol tersebut dengan tutup gabus yang dilapisi kertas doa.
"Oke, semua sudah aman," kata Senja sambil menekan luka di bahu kanannya.
"Kamu yakin mau ikut? Kakek bukan mau jalan-jalan ke mall loh," tanya sang kakek heran.
"Iih..! Kapan lagi coba Naura liat kakek kerja, lagian kakek sudah tua, kali aja butuh bantuan Naura buat jalan," kilah Naura.
"Enak saja tua, kakek tuh matang, lagian kamu kan takut sama hal-hal begituan Naura," timpal sang kakek.
"Naura enggak kenapa-kenapa kakek, sini tasnya Naura bawain," Naura pun mengambil tas yang di tenteng kakeknya.
Mereka akhirnya beranjak menuju mobil tua si kakek, kemudian melaju di jalanan ibukota, laju mobil menebas gelapnya malam secara perlahan, sepoi-sepoi angin menerpa wajah Naura dari balik jendela mobil.
"Kita kemana kek?"
"Kita ke rumah om Hendrik, teman kakek anaknya berubah sikap sejak seminggu yang lalu dia jadi lebih murung dan menjadi penyendiri padahal sebelumnya anaknya ceria dan tadi sore anaknya ngamuk dan teriak-teriak enggak jelas seperti gejala kerasukan kakek harap bisa bantu dia." jawab romo sambil fokus menyetir.
"Oh," jawab Naura singkat kemudian kembali mengecek gawai miliknya.
Selang beberapa lama mereka sampai di tempat tujuan, sebuah rusun padat penduduk yang sesak dengan berbagai macam manusia di dalam sana, mereka di sambut oleh pak RT sedari dari parkiran, saling menyapa kemudian mereka berjalan menuju lantai 3, riuh rendah para penghuni yang berkumpul di lorong rusun menghambat jalan mereka menuju kediaman keluarga Hendrik tinggal.
"Tok..Tok..Tok"
"Permisi, Hendrik ini romo sudah disini," sahut ketua RT yang menemani romo sedari awal sampai di dalam rusun.
-Krieeek-
Pintu terbuka, seorang lelaki paruh baya berdiri di bibir pintu.
"Pakde, terima kasih sudah sudi mampir, saya sudah tidak tahu harus menghubungi siapa lagi," jawab pak Hendrik dengan nada cemas.
Romo pun masuk beserta Naura yang mengekor sedari tadi di ikuti pak RT dan pak Hendrik di belakangnya, di dalam ruang tamu terasa sesak aura panas dan lembab menyeruak kulit romo dan Naura yang baru saja datang.
"Romo selamat datang, maaf sudah merepotkan bapak terus." kata seorang wanita menyambut kedatangan mereka sambil mengelap bekas air mata di pipinya.
"Tidak kenapa-kenapa toh bu, sudah pekerjaan saya, Calistanya di kamar?" jawab romo dengan lembut tetapi tegas.
Bu Hendrik hanya mengangguk pelan sambil terisak ketika romo menyinggung anak semata wayangnya, romo, Naura dan pak RT kemudian menuju sebuah kamar bercat pink ciri khas kamar seorang gadis remaja terlihat disana seorang gadis terduduk di kasurnya, kaki dan tangannya terikat di tiap ujung tempat tidur, rambutnya berantakan, wajahnya kusam dihiasi mata yang nanar menatap orang-orang yang masuk ke dalam kamar.
"Baik, saya mulai saja ya pak, bu." romo pun mulai bersiap mengambil tasnya dari tangan naura.
Di lain tempat..
Seorang pemuda berdiri menatap kosong kearah jendela bus transjakarta, dengan tas selempang di pinggangnya, dia menatap kosong langit malam jakarta, kerlap kerlip lampu taman berpendar terang di gelapnya malam.
Sepanjang jalan banyak arwah penasaran mengelilingi sang prmuda, berkeluh kesah tentang masalah kehidupan mereka di masa lalu, ada yang meminta bantuan akan tetapi tak di gubris olehnya, seketika aura panas layaknya jilatab api keluar dari tubuh lelaki itu membuat arwah-arwah pergi kabur menjauh dari pemuda tersebut.
Lelaki itu pun turun di bilangan jakarta barat, berjalan menyusuri jembatan besi menuju bibir jalan, ia menatap sejenak gedung yang akan ia singgahi, kemudian berlalu menuju lantai 3.
Lalu..
"Dia pilihan ke duanya pak Hendrik, masuk nak, " jawab romo kepada pemuda itu.
Pemuda itupun masuk perlahan, dengan menggunakan jaket, topi dan buff yang serba hitam yang menutupi dirinya, ia mulai menyalami satu persatu orang yang berada di dalam ruang tamu, Naura mengeryitkan dahi saat lelaki itu membuka buff yang menutupi mulutnya.
"Surya?! Ngapain dia disini?!"
"Perkenalkan nama saya Senja, senang berkenalan dengan kalian semua, romo dimana gadisnya? Saya masih ada pekerjaan di tempat lain," jawab Senja dengan dingin.
"Oh iya ayo ikut bapak," seru romo.
Mereka akhirnya berjalan masuk ke kamar Calista, Senja menatap gadis itu dengan seksama, kemudian ia melihat-lihat sekeliling ruang tersebut.
"HAHAHHA..! DASAR MANUSIA BODOH..! SETELAH KAKEK TUA ITU GAGAL KALIAN MEMINTA PERTOLONGAN BOCAH..! HAHHAHAH..! KALIAN SEMUA AKAN MATI..! MATI..! MAAAATIII..!" teriak Calista sambil menggeliat berusaha melepaskan diri dari ikatan di tangan dan kakinya.
Naura menahan tangan romo kemudian berbisik pada sang kakek.
"Kek, itu siapa?" tanyanya
"Dia Senja, temen kakek dari biro pengusiran hantu, dia indigo sama kayak kamu, kenapa kamu nanya? Kamu naksir ya?" tanya romo dengan nada menggoda cucu perempuannya.
"Iih apaan si kek, Naura kan nanya doank!" dengus Naura kesal dengan sikap kakeknya.
Romo tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Naura.
Dikamar Senja sudah mulai menaburkan garam di sekeliling kasur, membuka topi dan jaketnya ditaruh di atas kursi belajar.
Romo dan Naura berdiri di belakang Senja, sedang kedua orangtua Calista berada di samping sang anak semata wayangnya.
"Sebelum saya mulai, apapun yang terjadi jangan mengganggu ritual saya, terutama bapak dan ibu, karena sekarang Calista bukan Calista yang kalian kenal di dalam dirinya ada entitas lain yang mengambil alih tubuhnya, sebelum saya menarik entitas di dalam Calista silakan berdoa menurut kepercayaan masing-masing."
"GGGRRRRRRHHH...!" geram Calista membahana di kamar.
Setelah berdoa Senja maju beberapa langkah menuju depan kasur, tangan kiri Senja bercahaya, sebuah jilatan api berpendar dari tangannya, Senja mengambil sebuah tongkat seukuran pena dan menggenggamnya di tangan kirinya, kaki kanannya meringsek naik ke atas kasur kemudian menindih Calista yang kian meronta, sejurus kemudian ujung tongkat tersebut menghujam dengan lembut di ulu hati tubuh Calista, tubuh gadis itu tersentak kemudian teriak.
"AAAAAAA...PANAAAAAS..HENTIKAAAAN..PANAAAAAS..!!"
Dengan mata ketiga Naura melihat semuanya dengan jelas, entitas di dalam tubuh Calista terlihat terbakar dan meronta-ronta meminta ampun, kejadian yang hanya bisa dilihat oleh manusia yang memiliki pengelihatan lebih.
"Mama..tolong Calista, sakit ma, tolong Calista mah.." lirih Calista pada mamanya, dengan sayu mata Calista tertuju ke mamanya yang ada di sebelahnya, wajahnya terlihat normal sang mama mengira Calista telah sembuh, ibu Hendrik yang mendengar anak gadisnya memohon pertolongan akhirnya melangkah maju ke Calista tidak menghiraukan perintah Senja sebelumnya, ia mengambil sebuah gunting kemudian menggunting tali yang mengikat tangan kanan Calista.
"JANGAN BU..!" teriak Senja yang sedang berusaha konsentrasi.
"BUGH..!"
Sebuah pukulan mendarat di perut Senja, di ikuti cekikan di leher Senja.
"EENGHHHH..! Sial..!" rancau Senja yang sedang tercekik.
"BRUAK..!"
Senja terhempas ke depan pintu, kekuatan gadis itu di luar nalar manusia biasa, kemudian Calista melempar semua yang dapat ia gapai ke orang-orang sekitarnya, mulai dari bantal, gelas hingga senyum licik tersungging ketika ia melihat sebuah gunting di sebelahnya.
Tanpa peringatan ia mengambil gunting tersebut lalu melemparnya menuju Naura.
"KYAAA..!" Pekik Naura.
-Jleeb..!-
suara benda tajam tertanam di daging manusia.
Naura bergetar, tubuhnya kaku, sesosok laki-laki memeluk dirinya Naura dapat merasakan detak jantung pemuda di depan dirinya sedangkan di bahu kanan pemuda itu tertanam gunting yang tadi di lempar Calista.
Lelaki itu mundur beberapa langkah kemudian berkata.
"Kamu gpp kan ?"
Sebuah suara lembut keluar dari mulut Senja, sambil menahan sakit ia bertanya kepada Naura, Naura hanya bisa mengangguk sambil gemetar menanggapi pertanyaan Senja.
Senja mencabut gunting tersebut dan melemparnya sembarangan, ia kemudian mengambil sesuatu dari tasnya, sedangkan romo dan pak Hendrik berusaha menahan agar Calista tidak bertindak lebih anarkis.
Senja memakai sebuah sarung tangan hitam, ia kembali menaiki kasur, sedangkan romo dan pak Hendrik menahan tangan kanan Calista yang kian meronta.
"Ya ALLAH lindungilah diriku dari godaan syaitan yang terkutuk."
Tangan kiri senja semakin membara, jilatan api berpendar tak tentu arah ke atas langit-langit, sejurus kemudian ia menekan telapak tangannya di wajah Calista, ia mencengkram sesuatu dan menariknya, sesosok mahkluk astral berwajah manusia akan tetapi berkaki ular tercekik oleh tangan senja, senja menarik mahkluk gaib itu kemudian menekannya ke lantai.
"Hei..! Naura..! Ambil botol di tas itu," tunjuk Senja ke Naura.
Naura dengan sigap mengambil botol bertutup gabus kemudian menaruhnya di depan senja.
"Terima kasih cantik," jawab senja sambil mengedipkan matanya genit ke arah Naura.
Ada getaran hangat dari tubuh Naura, pipi Naura merona merah di perlakukan seperti itu, baru kali ini ia di kedipkan oleh seorang lelaki yang bukan muhrimnya.
Tak menunggu lama Senja menarik mahkluk itu dan mengurungnya di dalam botol, kemudian menutup rapat botol tersebut dengan tutup gabus yang dilapisi kertas doa.
"Oke, semua sudah aman," kata Senja sambil menekan luka di bahu kanannya.
Diubah oleh ayahnyabinbun 18-11-2018 12:41
namakuve dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Kutip
Balas