- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
...
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Dauh.Tukad
#121
Bagian 24 Bertemu Bapak
Selepas Isya.... Aku masih berdiam diri di kamar, sengaja tidak ke warung untuk makan malam. Tahun itu sedang happening diet yang diperkenalkan oleh salah seorang mentalist yang kini jadi host di salah satu program tivi swasta. Diet itu ternyata membantuku, sebenarnya aku bisa saja puasa Daud untuk menurunkan berat badan yang melonjak drastis. Selama dua tahun aku berpacaran jarak jauh dengan Eni dan menghentikan kebiasaan merokok, berat badanku naik dari yang awalnya 50 kilogram menjadi 72 kilogram. Selama aku mengikuti diet, berdasarkan ebook yang aku baca. Telah sukses menurunkan berat badanku sebanyak 12 kilogram dalam kurun waktu sembilan minggu.
Alur cerita ini terjadi saat aku masih berkasih mesra dengan Eni. Aku masih sibuk menyatukan kepingan demi kepingan akta kelahiran asliku yang telah terkoyak. Aku sendiri memiliki dua akta, satu akta dengan nama bapak asliku dan satu lagi dengan nama Papaku dan kesemuanya itu menerangkan bahwa aku anak yamg sah dari pasangan yang tertera di Akta kelahiran. Jika kalian bertanya kenapa bisa???.... Mungkin karna "power yang dimiliki oleh Alm. Eyang Kakung dari mamaku???.... Hanya sedikit yang aku tahu tentang Eyang kakung dari mamaku. Setahuku jasa, beliau adalah salah satu petinggi negara yang turun tangan langsung membasmi para antek partai penyebab gerakan 30 September tahun 1965 di kota Gadis.
Akta yang terkoyak itu ada dua, satu akta dengan nama asliku dan bapak yang berbeda dan satu lagi akta kelahiran adik pertamaku dengan nama papa yang sekarang serta di kedua akta kelahiran tersebut dijelaskan kalo aku dan adik pertamaku adalah sama-sama anak pertama. Apakah perlu aku mencari bapak kandungku??? Ada perasaan bimbang kala itu. Jika aku bertemu dan tak diakui, bagiku tak masalah. Akan tetapi yang jadi masalah, jika aku kedatanganku malah merusak keharmonisan rumah tangga bapakku sekarang. Berhari- hari aku larut dalam kebimbangan itu dan akhirnya kutekadkan niat untuk bertemu dengan bapak kandungku. Apa pun yang terjadi setelah itu?? Aku siap dengan segala konsekuensinya. Agar lebih tenang hatiku, sengaja kusempatkan di sepertiga malam untuk diberikan petunjuk oleh ALLAH SWT.
Langkah awal, aku mencari nama bapak kandungku di kolom pencarian Google. Ternyata.... Cukup tenar juga bapakku ini, beliau pernah menjabat sebagai salah satu anggota dewan daerah di pulau yang sama dengan yang aku tempati. Setelah itu, aku coba untuk mencarinya di Facebook dan lagi-lagi..... Bapakku ini punya akun FB tapi sudah lama tak aktiv. Maaf mengganggu..... Saya sedang mencari tahu keberadaan bapak kandung saya. Kebetulan nama bapak anda sama dengan nama bapak saya. Mungkin anda bisa membantu saya untuk memberikan informasi dimana bapak kandung saya??? Sengaja, aku kirim pesan via FB ke anak-anak bapakku yang sekarang. Kebetulan nama yang sama, tak serta merta langsung memvonis kalo beliau bapak saya. Apalagi di Bali ini kesamaan nama sangat bisa terjadi.
Akhirnya.... Saat itu, aku harus kunjungan kerja keluar kota dan kota yang dituju adalah kota dimana bapak kandungku tinggal. Kebetulan saat itu aku kunjungan kerja bersama dengan Ibu Made. Setelah menunggu sekian lama, aku dapat balasan pesan. Jika beliau memang benar bapakku dan aku diminta bertemu dengan beliau. Bapak kandungku ternyata orang berkasta tinggi, aku tak gentar.... Jika hanya status sosial. Orang yang pertama kuberitahukan keinginanku adalah Mbok/ibu Made, saat itu aku berpikir kalo Mbok Made tidak akan setuju dengan usulku bila ingin bertemu bapak kandungku. Ternyata perkiraanku meleset kawan, gayung pun bersambut.... Mbok Made malah mendukungku untuk bertemu dengan bapak kandungku, bahkan Mbok Made juga penasaran dengan bapak kandungku dan juga keluarganya yang sekarang.
Sesampainya di kota itu, segera secepatnya kuselesaikan semua tugasku dan tengah hari kami sudah beres dengan semua kerjaan. Selepas malam siang, kami istirahat sebentar dan sembari pulang akan mampir ke rumah bapak kandungku. Bertanya dan bertanya pada orang-orang di dekat tempat beliau tinggal. Akhirnya.... Setitik harapan terlihat, ada salah satu penduduk yang mengatakan pada kami "coba mas nya kesana ( sambil nunjuk arah jalan )..... Disana yang tinggal kebanyakan orang berkasta". Saat mobil kami berhenti di depan rumah seorang warga dengan niat menanyakan dimana rumah atas nama Bapak***** Ternyata!!!! Rumah itulah rumah bapak kandungku. Segera saja, anggota keluarga yang ada di rumah itu pada berdatangan menyambutku. "Anak yang hilang sudah pulang".... Kata salah satu anggota keluarga yang ada disitu.
Kami disambut cukup hangat saat itu, namun kejadian sedikit tak mengenakkan saat Ibu Tiri menanyakan padaku.
Ibu Tiri: jadi.... Nak kesini tujuannya apa??
Saya: saya hanya ingin tahu bapak kandung saya ini seperti apa???
Ibu Tiri: sekarang.... Kamu sudah tahu keadaan bapakmu seperti apa
Saya: (sambil melihat beliau terduduk di kursi roda, terkena penyakit stroke) iya Ibu.... Saya sudah lihat bapaka kandung saya sekarang dan bagaimana kondisinya
Ibu Tiri: Nak Santoso sekarang kerja dimana??
Saya: saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang alat kesehatan Bu.... Saya juga masih dalam tahap menyelesaikan kuliah saya, Bu....
Lalu.... Tak berapa lama, kakak kandung bapakku datang. Beliau ini orangnya ramah dan memperkenalkan dirinya padaku. Diceritakanlah padaku bahwa saat mamaku mengandung aku, ada wanita lain yang datang dan mengaku mengandung anak hasil perbuatannya. Karna awalan kedua nama wanita itu sama, bapakku bingung kala itu. Apalagi di jaman itu adat masih kental, jadi bapakku lebih memilih istrinya yang sekarang. Namun sayangnya, anak pertama dari istrinya yang skrg meninggal jadi anak berikutnya diberi nama urutan anak kedua. Kemudian, saat aku lahir eyang kakung dan eyang putri beserta keluarga lain dan ajudannya datang ke rumah bapakku untuk meminta pertanggung jawabannya, yaaa... Sempat dikatakan hampir baku tembak saat itu. Tapi akhirnya dapat diselesaikan dengan kekeluargaan hingga terbitlah akta kelahiranku.
Demi menghargai mereka, saat itu aku aku sengaja diam saja. Tujuanku adalah bertemu dengan bapak kandung dan biarkan mereka menjelaskan pendapat mereka. Walau bagiku ada beberapa kebohongan???dan kejanggalan yang diucapkan. Kebeneran asli kelahiranku dan juga status mamaku saat itu....hanya bapakku yang tahu, sayang beliau terkena stroke hingga lumpuh dan tak dapat bicara.
Kakak Bapak: nak.... Santoso setelah mendengar penjelasan kami gimana??
Saya: Terima kasih Pak.... Sudah dijelaskan secara rinci dan runut
Kakak Bapak: Nak.... Santoso sekarang kerja??
Saya: iya Pak, saya kerja sambil kuliah
Kakak bapak: kuliah dimana dan ambil jurusan apa??
Saya: Udayana ambil jurusan Hukum.
Kakak Bapak: lhaa..... Sama dong dengan bapakmu, dia juga lulusan hukum dan terakhir berkiprah di dunia politik. Nggak mau ikut jejak bapakmu?? Atau kamu mau jadi PNS?? Gampang itu nanti saya yang bantu....
Saya: nggak pak.... Saya sudah merasa cukup dengan pekerjaan saya sekarang, lagipula saya tak pandai berpolitik.
Kakak Bapak: sekarang kuliah semester berapa???
Saya: semester akhir dan sudah mulai pengajuan skripsi, namun ada beberapa mata kuliah yang sengaja saya ulang. Agar IPK saya lebih tinggi lagi.
Ibu Tiri: jadi kamu kesini minta dibantu biaya kuliah??....
Saya: (agak panas kuping saya sebenarnya mendengar tapi berusaha tenang) tidak Bu!!! Saya kuliah bisa membiayai kuliah saya dengan biaya sendiri.
Ibu Tiri: terus kesini itu.... Kamu mau dibantu apa??? Mungkin kami bisa bantu???
Saya: tak perlu Bu, Saya hanya ingin tahu bapak kandung saya dan saya sudah bertemu sekarang.
Ibu Tiri: iya.... Bapakmu begini keadaannya sekarang, saya selalu merawatnya sampai saat ini.
Kakak Bapak: iya Nak, kondisi bapakmu begini keadaannya.... Mau gimana lagi?? Namanya juga cobaan dari yang Maha Kuasa. Bapakmu, mudanya dulu nakal suka main perempuan. Semoga nak Santoso ndak seperti bapaknya....
Saya: iya Pak, saya tahu itu.... Lagipula saya sudah tahu bapak saya dan melihat serta bertemu secara langsung, sudah lebih dari cukup bagi Saya.
Kakak Bapak: bapakmu punya rumah di denpasar, ini adek-adekmu yang menempati. Kalo mau?? Kamu bisa tinggal disana!!! Itu kan ada hak kamu disana.
Saya: tidak usah Pak, saya malah merepotkan. Lagipula saya terbiasa hidup sendiri, jadi lebih memilih kost
Kakak Bapak: yaa.... Daripada kost kan lebih enak tinggal di rumah. Itu kan rumah kamu juga.
Kakak bapak: ya sudah kalo itu kemauan kamu, tapi jika suatu saat ingin pulang ke rumah. Datanglah.... Karna itu juga rumahmu.
Saya: terima kasih Pak.
Kemudian obrolan ringan berlanjut agar semakin akrab dan mencairkan suasana. Tanpa terasa, jam tanganku sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah saatnya pamit pulang, walaupun ditawari menginap. Sengajaku tolak, karna esok hari aku kerja dan ada kunjungan ke kota lainjya juga. Aku dan Bu Made pun berpamitan, tak lupa pula. Kami dibawakan oleh-oleh buah banyak macam. Hanya kata terima kasih yang mampu kuberikan. Diperjalanan pun bu Made mulai bercerita tentang pertemuan tadi padaku.
Bu Made: wuiiihhh.... Hebat kamu, bapakmu orang penting ternyata. Malah ditawari jadi PNS tuch, emang kamu nggak mau???
Saya: nggaklah mbok, saya ini lebih suka pekerjaan saya sekarang. Lagipula bagi saya. Sepertinya pekerjaan PNS itu menjemukan??
Bu Made: lhoo.... Udah ditawari kesempatan masa nggak mau??? Beneran nie??? Ntar nyesel lho ( dengan nada becanda padaku)
Saya: nggaklah.... Saya lebih suka hidup seperti ini. Walaupun hidup saya lebih sering susahnya daripada senangnya hehehehehe......
Bu Made: eehhh.... Aku mau tanya nie, kamu lahir tahun berapa?? Kok aku merasa ada yang janggal ya??
Saya: saya lahir di akhir tahun 198* emang kenapa mbok??
Bu Made: Gini.... Kalo kamu lahir di tahun itu dan ibu tirimu yang hamil saat itu mengatakan kalo anaknya meninggal beberapa bulan setelah lahir. Brarti kesannya..... Bapakmu nikah duluan dengan Istrinya yang sekarang dan Ibumu datang setelah itu minta tanggung jawab dong!!!
Saya: gini mbok (sambil buka fb dan liat profil ibu tiri saya) disini tertulis menikah pada tahun 1987 bulan **** dan anak perempuannya lahir bulan *********. Jadi.... Agak nggak masuk bagi saya. Jika anak kedua Ibu tiri saya ini lahir, berarti jaraknya terlalu dekat dengan saya. Kalo benar anak pertamanya lahir dan meninggal maka tidak cocok dengan bulan dimana mereka menikah. (Sambil menyodorkan hape ke Bu Made)
Bu Made: benar juga analisamu.... Tidak cocok jika disamakan dengan tanggal pernikahan mereka dan juga tanggal kelahiran adik tiri perempuanmu
Saya: Naahhh.... Itu dia Mbok, makanya saya tadi sengaja diam saja. Saya ingin tahu penjelasan mereka. Ingin menyocokkan dengan analisa saya.
Bu Made: kalo dipikir-pikir ya.... Bali ini kan masih sistem kasta. Contohnya gini aja ya.....
Jika ada seorang lelaki menikah punya anak pertama. Maka pasti ada nama bali urutan pertama di nama anak tersebut. Katakanlah anak pertama Putu. Lalu ternyata lelaki ini menikah lagi dengan wanita lain, maka anak pertama dari istri berikutnya tidak akan menyandang nama bali Putu , tapi akan menggunakan nama Made.
Jadi jika diurut berdasarkan urutan nama anak di Bali. Maka yang dapat nama awalan Putu adalah kamu.
Saya: Naahh.... Itu Bu Made tahu gitu!!!
Bu Made: ya, aku kan menyimpulkan dari keterangan mereka dan dari keteranganmu juga. Maka jika dilihtat dari urutan nama anak di Bali, tentu analisamu yang benar. Dimana saat itu, mungkin?? Ya ini mungkin lho???!!!!.... Ibumu sudah menikah dengan bapakmu, entah saat Ibumu sedang mengandung kamu atau setelah kamu lahir datang perempuan lain mengaku dihamili bapakmu.
Saya: yang jelas jawaban aslinya hanya bapak kandung saya yang bisa menjelaskan, itu juga kalo dikatakan sebenar-benarnya.
Setelah itu, diperjalanan kami terjebak macet parah. Hingga akhirnya, aku baru sampai kost hampir tengah malam. Selama di perjalanan pulang, keluarga bapakku beberapa kali SMS, menanyakan kabar sudah sampai dimana perjalanan pulangnya dan kujawab sedang terjebak macet saat itu.
Maaf sebelumnya, aku ceritakan ini semua. Bukan untuk pembelaan diriku, tetapi menyocokkan saja antara penjelasan keluarga bapak saya dengan analisa data yang saya dapatkan. Sekali lagi saya mohon maaf, tak ada maksud sedikit pun untuk melukai perasaan keluarga bapak saya. Apa pun yang telah terjadi, biarlah terjadi.... Karna semua itu bisa terjadi tentu sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Alur cerita ini terjadi saat aku masih berkasih mesra dengan Eni. Aku masih sibuk menyatukan kepingan demi kepingan akta kelahiran asliku yang telah terkoyak. Aku sendiri memiliki dua akta, satu akta dengan nama bapak asliku dan satu lagi dengan nama Papaku dan kesemuanya itu menerangkan bahwa aku anak yamg sah dari pasangan yang tertera di Akta kelahiran. Jika kalian bertanya kenapa bisa???.... Mungkin karna "power yang dimiliki oleh Alm. Eyang Kakung dari mamaku???.... Hanya sedikit yang aku tahu tentang Eyang kakung dari mamaku. Setahuku jasa, beliau adalah salah satu petinggi negara yang turun tangan langsung membasmi para antek partai penyebab gerakan 30 September tahun 1965 di kota Gadis.
Akta yang terkoyak itu ada dua, satu akta dengan nama asliku dan bapak yang berbeda dan satu lagi akta kelahiran adik pertamaku dengan nama papa yang sekarang serta di kedua akta kelahiran tersebut dijelaskan kalo aku dan adik pertamaku adalah sama-sama anak pertama. Apakah perlu aku mencari bapak kandungku??? Ada perasaan bimbang kala itu. Jika aku bertemu dan tak diakui, bagiku tak masalah. Akan tetapi yang jadi masalah, jika aku kedatanganku malah merusak keharmonisan rumah tangga bapakku sekarang. Berhari- hari aku larut dalam kebimbangan itu dan akhirnya kutekadkan niat untuk bertemu dengan bapak kandungku. Apa pun yang terjadi setelah itu?? Aku siap dengan segala konsekuensinya. Agar lebih tenang hatiku, sengaja kusempatkan di sepertiga malam untuk diberikan petunjuk oleh ALLAH SWT.
Langkah awal, aku mencari nama bapak kandungku di kolom pencarian Google. Ternyata.... Cukup tenar juga bapakku ini, beliau pernah menjabat sebagai salah satu anggota dewan daerah di pulau yang sama dengan yang aku tempati. Setelah itu, aku coba untuk mencarinya di Facebook dan lagi-lagi..... Bapakku ini punya akun FB tapi sudah lama tak aktiv. Maaf mengganggu..... Saya sedang mencari tahu keberadaan bapak kandung saya. Kebetulan nama bapak anda sama dengan nama bapak saya. Mungkin anda bisa membantu saya untuk memberikan informasi dimana bapak kandung saya??? Sengaja, aku kirim pesan via FB ke anak-anak bapakku yang sekarang. Kebetulan nama yang sama, tak serta merta langsung memvonis kalo beliau bapak saya. Apalagi di Bali ini kesamaan nama sangat bisa terjadi.
Akhirnya.... Saat itu, aku harus kunjungan kerja keluar kota dan kota yang dituju adalah kota dimana bapak kandungku tinggal. Kebetulan saat itu aku kunjungan kerja bersama dengan Ibu Made. Setelah menunggu sekian lama, aku dapat balasan pesan. Jika beliau memang benar bapakku dan aku diminta bertemu dengan beliau. Bapak kandungku ternyata orang berkasta tinggi, aku tak gentar.... Jika hanya status sosial. Orang yang pertama kuberitahukan keinginanku adalah Mbok/ibu Made, saat itu aku berpikir kalo Mbok Made tidak akan setuju dengan usulku bila ingin bertemu bapak kandungku. Ternyata perkiraanku meleset kawan, gayung pun bersambut.... Mbok Made malah mendukungku untuk bertemu dengan bapak kandungku, bahkan Mbok Made juga penasaran dengan bapak kandungku dan juga keluarganya yang sekarang.
Sesampainya di kota itu, segera secepatnya kuselesaikan semua tugasku dan tengah hari kami sudah beres dengan semua kerjaan. Selepas malam siang, kami istirahat sebentar dan sembari pulang akan mampir ke rumah bapak kandungku. Bertanya dan bertanya pada orang-orang di dekat tempat beliau tinggal. Akhirnya.... Setitik harapan terlihat, ada salah satu penduduk yang mengatakan pada kami "coba mas nya kesana ( sambil nunjuk arah jalan )..... Disana yang tinggal kebanyakan orang berkasta". Saat mobil kami berhenti di depan rumah seorang warga dengan niat menanyakan dimana rumah atas nama Bapak***** Ternyata!!!! Rumah itulah rumah bapak kandungku. Segera saja, anggota keluarga yang ada di rumah itu pada berdatangan menyambutku. "Anak yang hilang sudah pulang".... Kata salah satu anggota keluarga yang ada disitu.
Kami disambut cukup hangat saat itu, namun kejadian sedikit tak mengenakkan saat Ibu Tiri menanyakan padaku.
Ibu Tiri: jadi.... Nak kesini tujuannya apa??
Saya: saya hanya ingin tahu bapak kandung saya ini seperti apa???
Ibu Tiri: sekarang.... Kamu sudah tahu keadaan bapakmu seperti apa
Saya: (sambil melihat beliau terduduk di kursi roda, terkena penyakit stroke) iya Ibu.... Saya sudah lihat bapaka kandung saya sekarang dan bagaimana kondisinya
Ibu Tiri: Nak Santoso sekarang kerja dimana??
Saya: saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang alat kesehatan Bu.... Saya juga masih dalam tahap menyelesaikan kuliah saya, Bu....
Lalu.... Tak berapa lama, kakak kandung bapakku datang. Beliau ini orangnya ramah dan memperkenalkan dirinya padaku. Diceritakanlah padaku bahwa saat mamaku mengandung aku, ada wanita lain yang datang dan mengaku mengandung anak hasil perbuatannya. Karna awalan kedua nama wanita itu sama, bapakku bingung kala itu. Apalagi di jaman itu adat masih kental, jadi bapakku lebih memilih istrinya yang sekarang. Namun sayangnya, anak pertama dari istrinya yang skrg meninggal jadi anak berikutnya diberi nama urutan anak kedua. Kemudian, saat aku lahir eyang kakung dan eyang putri beserta keluarga lain dan ajudannya datang ke rumah bapakku untuk meminta pertanggung jawabannya, yaaa... Sempat dikatakan hampir baku tembak saat itu. Tapi akhirnya dapat diselesaikan dengan kekeluargaan hingga terbitlah akta kelahiranku.
Demi menghargai mereka, saat itu aku aku sengaja diam saja. Tujuanku adalah bertemu dengan bapak kandung dan biarkan mereka menjelaskan pendapat mereka. Walau bagiku ada beberapa kebohongan???dan kejanggalan yang diucapkan. Kebeneran asli kelahiranku dan juga status mamaku saat itu....hanya bapakku yang tahu, sayang beliau terkena stroke hingga lumpuh dan tak dapat bicara.
Kakak Bapak: nak.... Santoso setelah mendengar penjelasan kami gimana??
Saya: Terima kasih Pak.... Sudah dijelaskan secara rinci dan runut
Kakak Bapak: Nak.... Santoso sekarang kerja??
Saya: iya Pak, saya kerja sambil kuliah
Kakak bapak: kuliah dimana dan ambil jurusan apa??
Saya: Udayana ambil jurusan Hukum.
Kakak Bapak: lhaa..... Sama dong dengan bapakmu, dia juga lulusan hukum dan terakhir berkiprah di dunia politik. Nggak mau ikut jejak bapakmu?? Atau kamu mau jadi PNS?? Gampang itu nanti saya yang bantu....
Saya: nggak pak.... Saya sudah merasa cukup dengan pekerjaan saya sekarang, lagipula saya tak pandai berpolitik.
Kakak Bapak: sekarang kuliah semester berapa???
Saya: semester akhir dan sudah mulai pengajuan skripsi, namun ada beberapa mata kuliah yang sengaja saya ulang. Agar IPK saya lebih tinggi lagi.
Ibu Tiri: jadi kamu kesini minta dibantu biaya kuliah??....
Saya: (agak panas kuping saya sebenarnya mendengar tapi berusaha tenang) tidak Bu!!! Saya kuliah bisa membiayai kuliah saya dengan biaya sendiri.
Ibu Tiri: terus kesini itu.... Kamu mau dibantu apa??? Mungkin kami bisa bantu???
Saya: tak perlu Bu, Saya hanya ingin tahu bapak kandung saya dan saya sudah bertemu sekarang.
Ibu Tiri: iya.... Bapakmu begini keadaannya sekarang, saya selalu merawatnya sampai saat ini.
Kakak Bapak: iya Nak, kondisi bapakmu begini keadaannya.... Mau gimana lagi?? Namanya juga cobaan dari yang Maha Kuasa. Bapakmu, mudanya dulu nakal suka main perempuan. Semoga nak Santoso ndak seperti bapaknya....
Saya: iya Pak, saya tahu itu.... Lagipula saya sudah tahu bapak saya dan melihat serta bertemu secara langsung, sudah lebih dari cukup bagi Saya.
Kakak Bapak: bapakmu punya rumah di denpasar, ini adek-adekmu yang menempati. Kalo mau?? Kamu bisa tinggal disana!!! Itu kan ada hak kamu disana.
Saya: tidak usah Pak, saya malah merepotkan. Lagipula saya terbiasa hidup sendiri, jadi lebih memilih kost
Kakak Bapak: yaa.... Daripada kost kan lebih enak tinggal di rumah. Itu kan rumah kamu juga.
Kakak bapak: ya sudah kalo itu kemauan kamu, tapi jika suatu saat ingin pulang ke rumah. Datanglah.... Karna itu juga rumahmu.
Saya: terima kasih Pak.
Kemudian obrolan ringan berlanjut agar semakin akrab dan mencairkan suasana. Tanpa terasa, jam tanganku sudah menunjukkan pukul enam sore. Sudah saatnya pamit pulang, walaupun ditawari menginap. Sengajaku tolak, karna esok hari aku kerja dan ada kunjungan ke kota lainjya juga. Aku dan Bu Made pun berpamitan, tak lupa pula. Kami dibawakan oleh-oleh buah banyak macam. Hanya kata terima kasih yang mampu kuberikan. Diperjalanan pun bu Made mulai bercerita tentang pertemuan tadi padaku.
Bu Made: wuiiihhh.... Hebat kamu, bapakmu orang penting ternyata. Malah ditawari jadi PNS tuch, emang kamu nggak mau???
Saya: nggaklah mbok, saya ini lebih suka pekerjaan saya sekarang. Lagipula bagi saya. Sepertinya pekerjaan PNS itu menjemukan??
Bu Made: lhoo.... Udah ditawari kesempatan masa nggak mau??? Beneran nie??? Ntar nyesel lho ( dengan nada becanda padaku)
Saya: nggaklah.... Saya lebih suka hidup seperti ini. Walaupun hidup saya lebih sering susahnya daripada senangnya hehehehehe......
Bu Made: eehhh.... Aku mau tanya nie, kamu lahir tahun berapa?? Kok aku merasa ada yang janggal ya??
Saya: saya lahir di akhir tahun 198* emang kenapa mbok??
Bu Made: Gini.... Kalo kamu lahir di tahun itu dan ibu tirimu yang hamil saat itu mengatakan kalo anaknya meninggal beberapa bulan setelah lahir. Brarti kesannya..... Bapakmu nikah duluan dengan Istrinya yang sekarang dan Ibumu datang setelah itu minta tanggung jawab dong!!!
Saya: gini mbok (sambil buka fb dan liat profil ibu tiri saya) disini tertulis menikah pada tahun 1987 bulan **** dan anak perempuannya lahir bulan *********. Jadi.... Agak nggak masuk bagi saya. Jika anak kedua Ibu tiri saya ini lahir, berarti jaraknya terlalu dekat dengan saya. Kalo benar anak pertamanya lahir dan meninggal maka tidak cocok dengan bulan dimana mereka menikah. (Sambil menyodorkan hape ke Bu Made)
Bu Made: benar juga analisamu.... Tidak cocok jika disamakan dengan tanggal pernikahan mereka dan juga tanggal kelahiran adik tiri perempuanmu
Saya: Naahhh.... Itu dia Mbok, makanya saya tadi sengaja diam saja. Saya ingin tahu penjelasan mereka. Ingin menyocokkan dengan analisa saya.
Bu Made: kalo dipikir-pikir ya.... Bali ini kan masih sistem kasta. Contohnya gini aja ya.....
Jika ada seorang lelaki menikah punya anak pertama. Maka pasti ada nama bali urutan pertama di nama anak tersebut. Katakanlah anak pertama Putu. Lalu ternyata lelaki ini menikah lagi dengan wanita lain, maka anak pertama dari istri berikutnya tidak akan menyandang nama bali Putu , tapi akan menggunakan nama Made.
Jadi jika diurut berdasarkan urutan nama anak di Bali. Maka yang dapat nama awalan Putu adalah kamu.
Saya: Naahh.... Itu Bu Made tahu gitu!!!
Bu Made: ya, aku kan menyimpulkan dari keterangan mereka dan dari keteranganmu juga. Maka jika dilihtat dari urutan nama anak di Bali, tentu analisamu yang benar. Dimana saat itu, mungkin?? Ya ini mungkin lho???!!!!.... Ibumu sudah menikah dengan bapakmu, entah saat Ibumu sedang mengandung kamu atau setelah kamu lahir datang perempuan lain mengaku dihamili bapakmu.
Saya: yang jelas jawaban aslinya hanya bapak kandung saya yang bisa menjelaskan, itu juga kalo dikatakan sebenar-benarnya.
Setelah itu, diperjalanan kami terjebak macet parah. Hingga akhirnya, aku baru sampai kost hampir tengah malam. Selama di perjalanan pulang, keluarga bapakku beberapa kali SMS, menanyakan kabar sudah sampai dimana perjalanan pulangnya dan kujawab sedang terjebak macet saat itu.
Maaf sebelumnya, aku ceritakan ini semua. Bukan untuk pembelaan diriku, tetapi menyocokkan saja antara penjelasan keluarga bapak saya dengan analisa data yang saya dapatkan. Sekali lagi saya mohon maaf, tak ada maksud sedikit pun untuk melukai perasaan keluarga bapak saya. Apa pun yang telah terjadi, biarlah terjadi.... Karna semua itu bisa terjadi tentu sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Wiro1937 dan 15 lainnya memberi reputasi
16
Tutup