- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
...
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.5K
473
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Dauh.Tukad
#112
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 23
Pagi... Bunda sayang, hari ini masuk apa??....begitulah, hampir setiap pagi aku mengawali hari. Pesan masuk dari Eni..... Masuk siang mas, mas jangan lupa sarapan ya. Siaapp!!!.... Nanti nyampe kantor, aku sarapan.... Balasku pada Eni. Hari jumat itu, aku berencana untuk membeli cincin sebagai mas kimpoi pernikahan. Beruntung kerjaan di hari jumat tak begitu padat. Tak terasa sudah masuk waktu sholat jumat, ada perasaan tak enak dan mengganjal di hatiku. Ada apa gerangan???.... Tak ambil pusing. Segera menuju masjid terdekat, kuambil wudhu dan sholat sunnah terlebih dulu.
Khotib masuk ke mimbar dan mulai memberikan ceramah, hatiku masih tak tenang. Aneh sekali??? Kenapa ini ya???.... Ku perbanyak wirid agar hati lebih tenang. Walau belum reda setidaknya sudah mulai tak gusar hatiku, selepas sholat jumat. Segera saja ku telepon Eni.... Hal yang tak biasa ku lakukan selama berhubungan dengan Eni. Karna jika sudah jam kerja aku sangat jarang sekali mengabari Eni. Agar kerjaanku tak terganggu, begitu pula, eni.... Saat dia bekerja. Tak pernah mengabariku, karena aku tahu. Sebagai seorang perawat akan sibuk dengan pekerjaannya dan tak mungkin sempat membalas pesan WA ku.
Saya: Assalamu'alaikum
Eni: wa'alaikumsalam.... Ada apa mas??? Tumben telepon??? (Nada suara dipelankan, seperti menyembunyikan sesuatu)
Saya: kok??..... Suaranya bisik-bisik Bun, emang lagi dimana??
Eni: lagi di rumah.... Ya gpp mas, lagi ada tamu datang
Saya: biasanya, kalo ada tamu juga nggak bisik-bisik kayak gini... Hayooo!!! Ngaku ada apa ini???
Eni: nggak ada apa-apa kok mas....
Kututup mataku dan melakukan meditasi sambil merapal
Wirid dalam hati sembari menggunakan kekuatan semesta yang Tuhan berikan. Sekejap.... Aku bisa melihat pemandangan di rumah Eni, ternyata.... Disana ada Eni, Uwak dan juga seseorang lelaki yang terlihat lebih muda dariku. Kupandangi lelaki itu, kulihat ada suatu maksud dari kedatangan lelaki ini. Haloo.... Haalllooo.... Haallooo Mas, Suara Eni dari balik telepon.
Saya: Bun..... Kamu jujur aja ya sama mas...
Eni: jujur kenapa Mas??? Emang aku menyembunyikan sesuatu???...
Saya: Iya.... Aku tahu, di rumah ada Uwak dan seorang lelaki kan??
Eni: nggak kok.... Nggak, cuman Uwak aja (dengan nada gelagapan)
Saya: udah jujur aja.... Laki-laki itu datang mau melamar kamu ya??? Aku lihat. Dia masih satu kota dan satu suku denganmu.....
Eni: Yaa... Emang sich, Uwak kesini ngajak salah satu keluarganya. Cuman silaturahmi aja kok.
Saya: lhaaa..... Terus ngapain dari tadi ngomongnya bisik-bisik, kayak yang lagi sembunyi di kamar mandi???
Eni: nggak kok, ini aku lagi di ruang tamu. Ada Uwak juga.
Saya: Ya udah.... Salam buat Uwak ya, ayah mau lanjut kerja lagi.
Saat itu perasaanku berkata benar dengan apa yang telah kulihat, tapi kutepis dan tetap meyakinkan diriku. Sampai aku lupa, tadi sebenernya ingin mengabari Eni. Karna, hari ini mau beli cincin buat mas kimpoi. Akhirnya aku urungkan saja niatku. Aku harus tahu kepastian atas kegundahan hati yang tiba-tiba mulai meraung di kalbu. Malamnya selepas Eni pulang kerja, sengaja aku telepon kembali. Tapi Eni tetap meyakinkanku, kalo kedatangan Uwak dan salah satu keluarga yang ternyata masih keluarga jauh itu hanya sekedar silaturahmi saja. Nama pemuda itu Adnan, dia bekerja luar kota saat itu dan kebetulan sedang pulang kampung, jadi sekalian silaturahmi. Aku tahu, itu adalah kebohongan yang diucapkan secara sempurna oleh Eni padaku. Tapi aku selalu melawan batin kecilku bahwa itu salah dan kami akan menikah selepas Idul Adha tahun depan. Aku pun mencoba mencari tahu lewat sosial media facebook, pemuda bernama Adnan itu kutemukan. Status berandanya di setel publik jadi aku bisa lihat semuanya.
Kenapa harus menunggu lepas Idul adha tahun depan. Karna aku ingin menyiapkan semua dengan baik dan tak tergesa-gesa. Lagipula dipertemuan saat lebaran juga direncanakan setelah Idul adha tahun depan. Hari demi hari berganti, hubunganku dengan Eni tak ada perubahan. Tapi aku tahu, ada sebuah kebohongan yang disembunyikan secara rapi, Eni memang sedari dulu selalu menagih padaku agar segera melamarnya. Tahun pun berganti dan masuk di bulan yang menaungi zodiak pisces serta aries. Ada ketenangan sejenak kala itu, batinku hanya nyeletuk.... Ikhlaskan. Ada apa ini?? Tampaknya akan ada sebuah jawaban mengejutkan. Semoga saja hal yang baik, hanya keyakinan itu yang selalu kutanamkan pada diriku.
Tibalah.... Kenyataan itu datang, Eni menelepon ku. Mengatakan sesuatu yang penting bagiku dan bagi hubungan kami tentunya.
Eni: Assalamu'alaikum mas
Saya: wa'alaikumsalam.... Ada apa Bun??
Eni: nggak usah panggil bunda lagi sama aku ya???
Saya: lhoo??? Ada apa ini??
Eni: mas.... Maaf, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.
Saya: maksudmu Apa?? Tolong jelaskan padaku!!....
Eni: aku akan menikah mas, tapi tidak denganmu mas....
Saya: maksudmu apa??..... Kamu membatalkan pernikahan kita??...
Eni: iya mas, mas.... Terlalu mengulur waktu.
Saya: kita kan akan nikah setelah Idul Adha nanti.... Kenapa kamu tiba-tiba minta putus!!! Ini aku lagi usaha ngumpulin uang buat biaya kita Nanti.....
Eni: udah mas.... Mas lupain aku aja, kita tak usah berhubungan lagi mas!!!!
Saya: Eni.... Kamu tahu kan!!! Aku sudah janji sama Alm. Abah untuk menikahi kamu, janji adalah hutang. Jika aku ingkar bagaimana tanggung jawabku di akhirat???
Eni: udah mas...... Nggak usah pikirin itu!!! Aku juga bingung kalo mas bilang gitu.
Saya: ya udah sekarang mau kamu apa??....
Eni: yaa.... Kita udahan aja dan jangan pernah hubungi aku lagi!!!!
Saya: Eni.... Terus, janjiku pada Alm. Abah gimana??
Eni: udahlah nggak usah dipikirin itu
Saya: aku nggak mau nanti saat akan masuk surga dipanggil Abahmu karna tak menepati janji.
Eni: biarkan keluarga kami yang nanggung!!!! ( dengan nada bicara berisi kemarahan )
Saya: ya udah.... Kalo emang mau kamu begitu, aku tak bisa memaksa lagi.
Eni: iya mas..... Jangan hubungi aku lagi setelah ini.
Saya: kok gitu???..... Apa karna lelaki itu yang dulu itu ke rumah ya???
Eni: iya.... Adnan lebih baik dari kamu, dia hanya bertemu empat kali denganku dan langsung melamarku.
Saya: aku tahu.... Adnan lebih baik dari segi agama dibanding aku dan yang jelas dia lebih mapan dariku.
Eni: yang jelas walaupun dia lebih muda dariku.... Dia lebih baik dari kamu.
Saya: iya.... Iya.... Aku tahu, aku cuman pegawai biasa sedangkan Adnan memiliki Usaha perak yang tentu jauh lebih baik dariku.
Eni: nggak kok.... Dia cuman kerja aja disana.
Saya: udah nggak usah bohong, aku sudah lihat FB nya Adnan. Dia pria sukses. Dari orang biasa sampe bisa punya usaha perak, punya rumah bahkan punya ninja 250.
Eni: kamu ngapain sich??? Ngomongin Adnan seperti itu padaku ( nada bicara tak terima ) pake banding-bandingin segala
Saya: ya udah.... Aku minta maaf belum bisa mewujudkan mimpimu, belim bisa jadi yang terbaik buat kamu. Setidaknya selama denganmu aku jadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar. Terima kasih untuk semua kesabaran dan waktunya untukku.
Eni: aku terlalu lama dan terlalu sabar nunggu kamu.... Udahlah, aku sudah dapat yang terbaik. Kamu cari aja yang lain.
Saya: iyaa.... Makasih atas sarannya. Assalamu'alaikum
Eni: Wa'alaikumsalam.
Aku terdiam.... Pelupuk mata tak kuasa membendung air mata. Semalaman aku tak tidur, marah tentu saja. Instrospeksi diri dan juga mengingat masa lalu. Betapa hancur saat itu, bagaimana tidak??? Semua pengorbananku lenyap seketika. Ibarat kata aku ini hanya alas kaki, berguna jika diperlukan dan selalu melindungi, menopang sepasang kaki agar tak terantuk kerikil maupun duri di jalan serta diabaikan begitu saja.... jika sudah tak dibutuhkan.
Setelah kejadian itu, FB ku diblokir dan password FB Eni diganti. Aku pun juga mengganti password FB agar Eni tak memakai FBku lagi. Dulu memang kami saling memberitahukan password serta email FB, hal itu sengaja dilakukan untuk melihat apakah pasangan kita setia atau menyembunyikan sesuatu di FB. Saat kulihat kontak blokir Di FB, banyak sekali kawan wanitaku yang diblokirnya. Bahkan saudara perempuan dari papa juga diblokir. Ini apa-apaan coba??? Untung aku ganti password. Kalo nggak bisa-bisa makin parah FB ku, kataku dalam hati saat sedang di warnet langganan. Kebetulan kalo lagi di bosen ke warung yaa.... Main ke warnet, sekedar buka FB dan memainkan game poker yang trend saat itu.
Aku tak mengerti dengan perubahan sikap Eni yang drastis padaku. Padahal kalo berakhir sebagai kawan pun tak mengapa. Kucoba cari tahu dengan olah Batin, sekelebatan terlihat jika yang melarang dan mengatur adalah Adnan. Agak aneh juga ya??? Kenapa saat perempuan diatur dan ditekan lebih keras hidupnya, jadi lebih menurut. Saat denganku???.... Aku memberikan keleluasaan. Tak pernah mengatur pertemanannya, tak pernah melarang Eni pergi keluar kemana dan dengan siapa??? Asal semua dikabarkan dengan jelas. Maka tak masalah bagiku.... Lagipula, aku ini orangnya simpel tak mau merepotkan dengan remeh temeh yang tak perlu dalam percintaan.
Aku juga sadar diri kawan, tak semuanya kesalahan Eni. Aku juga salah.... Salah karna mengulur waktu hingga lebih dari tiga tahun. Aku harus berusaha keras mungumpulkan pundi-pundi jerih payah demi tujuanku kala itu. Aku hanya pemuda miskin, gaji seadanya yang berusaha keras mencari tambahan uang kesana kemari dengan halal demi cita-cita menghabiskan hidupku dengan Eni hingga akhir hayat. Betapa cinta mengajari tentang kasih dan juga tentang kerelaan. Rela melepas Dia bercanda mesra, berkeluh kesah dan menemukan bahu untuk bersandar sembari menikmati senja. Cinta mengajari bahwa Dia hanya sebentar singgah dihatimu sembari
Meninggalkan luka menganga.
Aku ingat saat awal berkenalan dengan Eni, dia juga baru beberapa bulan putus dengan calon suaminya. Lelaki itu datang ke rumah sakit dimana Eni bekerja dan dengan tegas meminta hubungan mereka diakhiri. Kata Eni saat itu, betapa hancur hatinya, dia rela berhenti dari pekerjaannya di Cikarang dan memilih kembali ke kotanya agar bisa setiap saat bertemu dengan calon suaminya. Apakah ini nampak seperti balas dendam yang Eni lakukan atas masa lalunya padaku???..... Mungkin??.... Biarlah.... Biarkan hanya Eni dan Tuhan yang tahu. Kutulis kisah ini dengan gemuruh sesak didadaku, sakit yang kembali mendera dada menyayat kalbu, karna aku masih mengingat detail kejadian itu..... Kejadian yang bagiku baru seperti kemarin terjadi.
Pagi... Bunda sayang, hari ini masuk apa??....begitulah, hampir setiap pagi aku mengawali hari. Pesan masuk dari Eni..... Masuk siang mas, mas jangan lupa sarapan ya. Siaapp!!!.... Nanti nyampe kantor, aku sarapan.... Balasku pada Eni. Hari jumat itu, aku berencana untuk membeli cincin sebagai mas kimpoi pernikahan. Beruntung kerjaan di hari jumat tak begitu padat. Tak terasa sudah masuk waktu sholat jumat, ada perasaan tak enak dan mengganjal di hatiku. Ada apa gerangan???.... Tak ambil pusing. Segera menuju masjid terdekat, kuambil wudhu dan sholat sunnah terlebih dulu.
Khotib masuk ke mimbar dan mulai memberikan ceramah, hatiku masih tak tenang. Aneh sekali??? Kenapa ini ya???.... Ku perbanyak wirid agar hati lebih tenang. Walau belum reda setidaknya sudah mulai tak gusar hatiku, selepas sholat jumat. Segera saja ku telepon Eni.... Hal yang tak biasa ku lakukan selama berhubungan dengan Eni. Karna jika sudah jam kerja aku sangat jarang sekali mengabari Eni. Agar kerjaanku tak terganggu, begitu pula, eni.... Saat dia bekerja. Tak pernah mengabariku, karena aku tahu. Sebagai seorang perawat akan sibuk dengan pekerjaannya dan tak mungkin sempat membalas pesan WA ku.
Saya: Assalamu'alaikum
Eni: wa'alaikumsalam.... Ada apa mas??? Tumben telepon??? (Nada suara dipelankan, seperti menyembunyikan sesuatu)
Saya: kok??..... Suaranya bisik-bisik Bun, emang lagi dimana??
Eni: lagi di rumah.... Ya gpp mas, lagi ada tamu datang
Saya: biasanya, kalo ada tamu juga nggak bisik-bisik kayak gini... Hayooo!!! Ngaku ada apa ini???
Eni: nggak ada apa-apa kok mas....
Kututup mataku dan melakukan meditasi sambil merapal
Wirid dalam hati sembari menggunakan kekuatan semesta yang Tuhan berikan. Sekejap.... Aku bisa melihat pemandangan di rumah Eni, ternyata.... Disana ada Eni, Uwak dan juga seseorang lelaki yang terlihat lebih muda dariku. Kupandangi lelaki itu, kulihat ada suatu maksud dari kedatangan lelaki ini. Haloo.... Haalllooo.... Haallooo Mas, Suara Eni dari balik telepon.
Saya: Bun..... Kamu jujur aja ya sama mas...
Eni: jujur kenapa Mas??? Emang aku menyembunyikan sesuatu???...
Saya: Iya.... Aku tahu, di rumah ada Uwak dan seorang lelaki kan??
Eni: nggak kok.... Nggak, cuman Uwak aja (dengan nada gelagapan)
Saya: udah jujur aja.... Laki-laki itu datang mau melamar kamu ya??? Aku lihat. Dia masih satu kota dan satu suku denganmu.....
Eni: Yaa... Emang sich, Uwak kesini ngajak salah satu keluarganya. Cuman silaturahmi aja kok.
Saya: lhaaa..... Terus ngapain dari tadi ngomongnya bisik-bisik, kayak yang lagi sembunyi di kamar mandi???
Eni: nggak kok, ini aku lagi di ruang tamu. Ada Uwak juga.
Saya: Ya udah.... Salam buat Uwak ya, ayah mau lanjut kerja lagi.
Saat itu perasaanku berkata benar dengan apa yang telah kulihat, tapi kutepis dan tetap meyakinkan diriku. Sampai aku lupa, tadi sebenernya ingin mengabari Eni. Karna, hari ini mau beli cincin buat mas kimpoi. Akhirnya aku urungkan saja niatku. Aku harus tahu kepastian atas kegundahan hati yang tiba-tiba mulai meraung di kalbu. Malamnya selepas Eni pulang kerja, sengaja aku telepon kembali. Tapi Eni tetap meyakinkanku, kalo kedatangan Uwak dan salah satu keluarga yang ternyata masih keluarga jauh itu hanya sekedar silaturahmi saja. Nama pemuda itu Adnan, dia bekerja luar kota saat itu dan kebetulan sedang pulang kampung, jadi sekalian silaturahmi. Aku tahu, itu adalah kebohongan yang diucapkan secara sempurna oleh Eni padaku. Tapi aku selalu melawan batin kecilku bahwa itu salah dan kami akan menikah selepas Idul Adha tahun depan. Aku pun mencoba mencari tahu lewat sosial media facebook, pemuda bernama Adnan itu kutemukan. Status berandanya di setel publik jadi aku bisa lihat semuanya.
Kenapa harus menunggu lepas Idul adha tahun depan. Karna aku ingin menyiapkan semua dengan baik dan tak tergesa-gesa. Lagipula dipertemuan saat lebaran juga direncanakan setelah Idul adha tahun depan. Hari demi hari berganti, hubunganku dengan Eni tak ada perubahan. Tapi aku tahu, ada sebuah kebohongan yang disembunyikan secara rapi, Eni memang sedari dulu selalu menagih padaku agar segera melamarnya. Tahun pun berganti dan masuk di bulan yang menaungi zodiak pisces serta aries. Ada ketenangan sejenak kala itu, batinku hanya nyeletuk.... Ikhlaskan. Ada apa ini?? Tampaknya akan ada sebuah jawaban mengejutkan. Semoga saja hal yang baik, hanya keyakinan itu yang selalu kutanamkan pada diriku.
Tibalah.... Kenyataan itu datang, Eni menelepon ku. Mengatakan sesuatu yang penting bagiku dan bagi hubungan kami tentunya.
Eni: Assalamu'alaikum mas
Saya: wa'alaikumsalam.... Ada apa Bun??
Eni: nggak usah panggil bunda lagi sama aku ya???
Saya: lhoo??? Ada apa ini??
Eni: mas.... Maaf, kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.
Saya: maksudmu Apa?? Tolong jelaskan padaku!!....
Eni: aku akan menikah mas, tapi tidak denganmu mas....
Saya: maksudmu apa??..... Kamu membatalkan pernikahan kita??...
Eni: iya mas, mas.... Terlalu mengulur waktu.
Saya: kita kan akan nikah setelah Idul Adha nanti.... Kenapa kamu tiba-tiba minta putus!!! Ini aku lagi usaha ngumpulin uang buat biaya kita Nanti.....
Eni: udah mas.... Mas lupain aku aja, kita tak usah berhubungan lagi mas!!!!
Saya: Eni.... Kamu tahu kan!!! Aku sudah janji sama Alm. Abah untuk menikahi kamu, janji adalah hutang. Jika aku ingkar bagaimana tanggung jawabku di akhirat???
Eni: udah mas...... Nggak usah pikirin itu!!! Aku juga bingung kalo mas bilang gitu.
Saya: ya udah sekarang mau kamu apa??....
Eni: yaa.... Kita udahan aja dan jangan pernah hubungi aku lagi!!!!
Saya: Eni.... Terus, janjiku pada Alm. Abah gimana??
Eni: udahlah nggak usah dipikirin itu
Saya: aku nggak mau nanti saat akan masuk surga dipanggil Abahmu karna tak menepati janji.
Eni: biarkan keluarga kami yang nanggung!!!! ( dengan nada bicara berisi kemarahan )
Saya: ya udah.... Kalo emang mau kamu begitu, aku tak bisa memaksa lagi.
Eni: iya mas..... Jangan hubungi aku lagi setelah ini.
Saya: kok gitu???..... Apa karna lelaki itu yang dulu itu ke rumah ya???
Eni: iya.... Adnan lebih baik dari kamu, dia hanya bertemu empat kali denganku dan langsung melamarku.
Saya: aku tahu.... Adnan lebih baik dari segi agama dibanding aku dan yang jelas dia lebih mapan dariku.
Eni: yang jelas walaupun dia lebih muda dariku.... Dia lebih baik dari kamu.
Saya: iya.... Iya.... Aku tahu, aku cuman pegawai biasa sedangkan Adnan memiliki Usaha perak yang tentu jauh lebih baik dariku.
Eni: nggak kok.... Dia cuman kerja aja disana.
Saya: udah nggak usah bohong, aku sudah lihat FB nya Adnan. Dia pria sukses. Dari orang biasa sampe bisa punya usaha perak, punya rumah bahkan punya ninja 250.
Eni: kamu ngapain sich??? Ngomongin Adnan seperti itu padaku ( nada bicara tak terima ) pake banding-bandingin segala
Saya: ya udah.... Aku minta maaf belum bisa mewujudkan mimpimu, belim bisa jadi yang terbaik buat kamu. Setidaknya selama denganmu aku jadi pribadi yang lebih baik dan lebih sabar. Terima kasih untuk semua kesabaran dan waktunya untukku.
Eni: aku terlalu lama dan terlalu sabar nunggu kamu.... Udahlah, aku sudah dapat yang terbaik. Kamu cari aja yang lain.
Saya: iyaa.... Makasih atas sarannya. Assalamu'alaikum
Eni: Wa'alaikumsalam.
Aku terdiam.... Pelupuk mata tak kuasa membendung air mata. Semalaman aku tak tidur, marah tentu saja. Instrospeksi diri dan juga mengingat masa lalu. Betapa hancur saat itu, bagaimana tidak??? Semua pengorbananku lenyap seketika. Ibarat kata aku ini hanya alas kaki, berguna jika diperlukan dan selalu melindungi, menopang sepasang kaki agar tak terantuk kerikil maupun duri di jalan serta diabaikan begitu saja.... jika sudah tak dibutuhkan.
Setelah kejadian itu, FB ku diblokir dan password FB Eni diganti. Aku pun juga mengganti password FB agar Eni tak memakai FBku lagi. Dulu memang kami saling memberitahukan password serta email FB, hal itu sengaja dilakukan untuk melihat apakah pasangan kita setia atau menyembunyikan sesuatu di FB. Saat kulihat kontak blokir Di FB, banyak sekali kawan wanitaku yang diblokirnya. Bahkan saudara perempuan dari papa juga diblokir. Ini apa-apaan coba??? Untung aku ganti password. Kalo nggak bisa-bisa makin parah FB ku, kataku dalam hati saat sedang di warnet langganan. Kebetulan kalo lagi di bosen ke warung yaa.... Main ke warnet, sekedar buka FB dan memainkan game poker yang trend saat itu.
Aku tak mengerti dengan perubahan sikap Eni yang drastis padaku. Padahal kalo berakhir sebagai kawan pun tak mengapa. Kucoba cari tahu dengan olah Batin, sekelebatan terlihat jika yang melarang dan mengatur adalah Adnan. Agak aneh juga ya??? Kenapa saat perempuan diatur dan ditekan lebih keras hidupnya, jadi lebih menurut. Saat denganku???.... Aku memberikan keleluasaan. Tak pernah mengatur pertemanannya, tak pernah melarang Eni pergi keluar kemana dan dengan siapa??? Asal semua dikabarkan dengan jelas. Maka tak masalah bagiku.... Lagipula, aku ini orangnya simpel tak mau merepotkan dengan remeh temeh yang tak perlu dalam percintaan.
Aku juga sadar diri kawan, tak semuanya kesalahan Eni. Aku juga salah.... Salah karna mengulur waktu hingga lebih dari tiga tahun. Aku harus berusaha keras mungumpulkan pundi-pundi jerih payah demi tujuanku kala itu. Aku hanya pemuda miskin, gaji seadanya yang berusaha keras mencari tambahan uang kesana kemari dengan halal demi cita-cita menghabiskan hidupku dengan Eni hingga akhir hayat. Betapa cinta mengajari tentang kasih dan juga tentang kerelaan. Rela melepas Dia bercanda mesra, berkeluh kesah dan menemukan bahu untuk bersandar sembari menikmati senja. Cinta mengajari bahwa Dia hanya sebentar singgah dihatimu sembari
Meninggalkan luka menganga.
Aku ingat saat awal berkenalan dengan Eni, dia juga baru beberapa bulan putus dengan calon suaminya. Lelaki itu datang ke rumah sakit dimana Eni bekerja dan dengan tegas meminta hubungan mereka diakhiri. Kata Eni saat itu, betapa hancur hatinya, dia rela berhenti dari pekerjaannya di Cikarang dan memilih kembali ke kotanya agar bisa setiap saat bertemu dengan calon suaminya. Apakah ini nampak seperti balas dendam yang Eni lakukan atas masa lalunya padaku???..... Mungkin??.... Biarlah.... Biarkan hanya Eni dan Tuhan yang tahu. Kutulis kisah ini dengan gemuruh sesak didadaku, sakit yang kembali mendera dada menyayat kalbu, karna aku masih mengingat detail kejadian itu..... Kejadian yang bagiku baru seperti kemarin terjadi.
Wiro1937 dan 9 lainnya memberi reputasi
10