Kaskus

Story

Dauh.TukadAvatar border
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini  ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<

Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.

Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman

Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????

Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
 Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu

Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah  (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.

Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu

Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:

Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)

Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.

Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.


Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku

Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya  aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
arieaduhAvatar border
pulaukapokAvatar border
senjaperenunganAvatar border
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
Dauh.TukadAvatar border
TS
Dauh.Tukad
#100
Bagian 21 "Penunggu Kost"
Lelah dan penat kurasakan tubuh ini, segera.... Kupacu motorku, agar cepat sampai kost. Sampai di kost aku pun segera mandi dan setelah itu bersiap menunaikan shalat maghrib seperti biasanya. Selepas shalat maghrib, mata ini berat sekali dan kuurungkan niatku mengaji hingga waktu shalat isya. Aku tertidur dengan nyenyak yang hanya beralaskan sajadah dengan posisi kepalaku sandarkan pada kasur. HUUEEEKK!!!! Bau bangkai apa ini???.... (Bau bangkai yang menyengat membangunkan tidurku) kuterbangun dari tidur, kamarku masih terang benderang karna tak sempat mematikan lampu dan jam telah menunjukkan pukul 2 lewat.

Seketika bulu badanku merinding dan Samar-samar pandanganku melihat sesosok makhluk astral didepanku. Sosok pocong dengan kainnya yang berlumuran tanah dan sebuah bola matanya menjulur keluar. ASTAGFIRULLAH!!!.... Segeraku berlari menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sekembalinya aku dari wudhu, makhluk astral berbentuk pocong anak kecil itu masih didepan pintu kostku yang tertutup rapat. Saatku dekati.... Sekedipan mata menghilang dari pandanganku. Yaahh!!!.... Baru aja mau nanyain, udh ngilang duluan. Akhirnya kulanjutkan dengan shalat isya dan mengaji sebentar.

Esoknya.... Kejadian yang menimpaku semalam tak kuceritakan pada siapapun. Anehnya.... Malam demi malam berikutnya, satu persatu penghuni kost diganggu. Tetangga kost sebelahku. pas tengah malam jendelanya digedor-gedor dengan keras dan saat membuka tirai yang menurupi jendela.... Terlihat jelas. Penampakan sebuah tangan besar sedang menggedor jendela. Dihari berikutnya, kawanku Ronald yang diganggu. Saat itu jam satu malam dan aku baru saja pulang dari warung. BRO!!!! SINI BRO!!!! Aku mau ngomong penting.... Kata Ronald di depan teras kamarnya memanggilku yang baru saja membuka pintu kamar kost. Kukunci kembali pintu kamar dan kusamperin Ronald.

Saya: Ada apa Bro??? Tumben manggil jam segini??
Ronald: ke kamar dulu yuk.... Ntar aku ceritain (aku pun mengikuti Ronald masuk kamarnya)
Saya: emang ada apa sich Bro???
Ronald: aku tadi ketiduran bro, pas bangun tangan kiriku sakit banget
Saya: salah tidur paling kamu!!!.....
Ronald: enggak bro, aku lihat ada kaki besar dan berbulu lebat menginjak tanganku
Saya: waduuh!!!.... Kok aneh ya?? Satu persatu penghuni kost pada diganggu....
Ronald: Lhaaa???..... Loe juga sempat diganggu??
Saya: Iya.... Dua hari yang lalu aku diganggu pocong berwujud anak kecil
Ronald: bussyeeettt dach!!! Aku bakal lari terbirit-birit keluar kamar, lihat ada pocong
Saya: Buru-buru mau lari Nald!!!.... Lhaa, pocongnya aja depan pintu kamar
Ronald: alaamaaak!!!! Seram kali, kejadian loe itu.
Saya: terus sekarang mau kamu apa??
Ronald: loe, tidur sini aja ya?? Gue takut nie.... Takut digangguin lagi!?!?!....
Saya: yaeelllaaaah!!!!! Ini orang penakut juga ternyata.
Ronald: udah..... Loe, tidur sini aja ya malam ini
Saya: ya udah.... Aku tidur sini, dasar cemen loe jadi laki!!!

Aku rebahkan badanku di matras dan Ronald saat itu masih menonton tivi, menunggu pertandingan sepak bola klub kesayangannya. Ketika hampir terlelap, tiba-tiba.... Aku merasakan ketindihan. Seluruh badan tak dapat digerakkan dan napasku mulai sesak. Aku yang sudah pernah berlatih astral projection tahu mengatasi kejadian ini. Kubuka mata, namun badan masih kaku tak dapat bergerak. Pandanganku arahkan ke pintu kamar dan terlihat sesosok makhluk astral berwujud lelaki dan berpakaian persis manusia dengan rambut panjang lurus dan dikuncir kuda menembus tembok. Permisi.... Saya numpang lewat kata makhluk astral itu padaku.... Silahkan mas.... Kataku pada penghuni tersebut. Saat tepat makhluk astral itu lewat disebelahku, kembali kutanyakan.... Mas penunggu disini???.... Iya, saya sudah lama sekali.... Tapi, ini bukan rumah saya.... Saya hanya kebetulan numpang lewat saja..... Kata makhluk astral itu padaku.

Selanjutnya makhluk itu berlalu meninggalkanku. Aku pun terbangun dan kulihat Ronald sedang didalam selimut menggigil seperti orang sakit terkena demam. Loe.... Kenapa??? Kataku pada Ronald.
Ronald: Sialaan (dengan raut muka penuh ketakutan).... Tadi aku dengar jelas sekali ada dua suara berbicara
Saya: suara apaan??
Ronald: suara loe!!! Ama suara orang lain yang kagak gue kenal
Saya: brarti kamu lihat tadi ada yang nembus tembok???
Ronald: jangan gila loe!!! Gue kagak liat apa-apa??? cuman suara doang
Saya: lhaaa.... Terus??? Loe denger Apalagi???
Ronald: kagak..... Anehnya, pas gue liat loe.... Loe itu masih tidur dan kagak bersuara. Tapi anehnya?!?!?..... Kedengeran suara loe ngomong ama seseorang
Saya: masa sich??? Aku perasaan tidurnya nggak ngiggau
Ronald: ya.... Itu dia maksud gue, kan aneh?!?!..... Orangnya tidur, mulutnya diem nggak ada suara. Tapi bisa ada suara loe
Saya: hallaaah!!!!.... Ngelindur palingan loe??....
Ronald: SUMPAH!!!! Gue masih melek tadi, orang bolanya aja baru mulai
Saya: ya udah.... Aku balik tidur, ngantuk bro.... Besok gawe pagi soalnya.

Malam berikutnya, kamar setelah Ronald kena giliran digangguin dan saat itu, kebetulan anak pemilik kost baru balik dari pulang kampung. Apesnya anak pemilik kost juga kena gangguan makhluk astral tersebut. Akhirnya.... Ditanyakanlah pada pemangku yang dikenal oleh anak pemilik kost. Penyebab utamanya karena anak pemilik kost jarang sembahyang disitu dan "penunggu karang" yang berada di salah satu sanggah protes. Setelah diadakan upacara sederhana, kami semua tak pernah mengalami gangguan makhluk gaib lagi.

Paling malas saat harus visit atau ikut membantu kirim barang ke salah satu rumah sakit negeri di Bali. Tiap masuk ke dalam rumah sakit itu, dari parkiran saja sudah terasa hawa kesedihan. Batinku kadang ikut berkata layaknya pemandu tur. Menjelaskan penghuni yang ada, sudut demi sudut rumah sakit itu. Kegiatan ku selepas kerja..... Jika sedang malas mencari nasabah kartu kredit, biasanya kuhabiskan dengan nongkrong di warung atau di warnet. Menemani kawanku Daniel yang bekerja di Warnet.
Warnet ini di depannya ada pijat plus-plusnya hehehehehe.....😁😁 tapi para terapisnya profesional, mereka tidak mau memberikan servis pada orang-orang yang sudah dikenal dan menjadi teman ngobrol mereka. Yaa.... Namanya juga pekerjaan seperti itu kawan, mereka biasa mempersenjatai diri dengan susuk agar lebih banyak memikat pelanggan. Aku bisa tahu, tanpa mereka perlu memberitahukannya padaku.

Warnet tempat aku biasa nongkrong ini sebenarnya banyak penghuni gaibnya. Aku bisa merasakan kehadiran mereka, walau tak bisa melihatnya. Mau gimana lagi?? Latihan astral berbulan-bulan cuman mentok disitu-situ aja. Lagipula.... Ada keinginan terpendam dalam hatiku untuk membangkitkan semua kemampuan yang kumiliki. Namun aku tak tahu harus berguru pada siapa, selain itu.... Aku lebih memilih berguru yang mursyid dan semua yang kupelajari jelas sanadnya. Sayangnya masih hanya sebatas keinginan belaka karna terhalang hal-hal yang kusebutkan tadi kawan.
Tapi.... Tak jarang. Saat diperjalanan pulang ke kost selepas dari warnet, aku melihat sekelebatan lewat di dekatku.
pulaukapok
a.wicaksono
Wiro1937
Wiro1937 dan 11 lainnya memberi reputasi
10
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.