- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
...
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Dauh.Tukad
#63
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 16
Mencoba untuk tak panik, kurapalkan wirid Asmaul Husna dan tubuhku dapat kembali kugerakkan. Makhluk Astral berwujud gendruwo ini semakin mendekati, tahan napas dan kupusatkan seluruh energi diperut. Mulai terasa aliran energi terpusat di perutku lalu kubayangkan aliran tenaga itu mengalir di tangan kanan. Kuangkat tangan kananku dan kukibaskan kedepan, membayangkan dari tangan ini keluar seberkas sinar DUUUAAARRR!!!!.... Makhluk astral tersebut terpelanting dan menggeram AAAARRGGHH!!!.... Tanpa banyak kata, makhluk astral ini melompat, menerjang kearahku laksana serigala menerkam mangsa.
Mau menghindar jelas tak mungkin, habis sudah aku.... Tapi segalanya hanya bisa kupasrahkan pada ALLAH SWT. Terbukti makhluk astral itu kembali terpelanting saat akan menerkamku. Tercium seperti bau daging hangus terbakar, serangan balik kulancarkan. Ku berlari kearah mahkluk astral tersebut dan ditepisnya, kami pun terpelanting berlawanan arah. Panas kurasakan tangan ini, makhluk astral kembali bersiap ingin menyerang dan akupun juga bersiap melakukan serangan balik. WUUZZZ.... Cakarnya melayang kearah dadaku, beruntung dapat kuhindari. Kulepaskan tendangan tepat mengenai kepala......
AMPUUN..... AMPUUNN TUAN..... Kenapa kau siksa aku??? KAU!!.... Yang lebih dulu menyerangku, kataku menimpali ucapan makhluk tersebut.
Tolong jangan panah aku Tuan..... Aku mengaku kalah....
Saya: kenapa kau ganggu kami??
Mr. G: tuan mengganggu wilayahku
Saya: wilayah apa???.... Aku tak pernah mengusikmu
Mr. G: kehadiran Tuan buat kami panas disini, lagipula pasukan Tuan banyak sekali. Aku.... Mengaku kalah
Saya: Aku minta bangsamu menyingkir dari rumah ini sekarang!!!
Mr. G: baik.... Aku akan pergi
Setelah kepergian makhluk astral tersebut, terperanjat!!!..... Kulihat tubuhku masih dalam posisi bersila dengan kepala tertunduk dan memegang tasbih. ASTAGFIRULLAH!!! Tiba-tiba tersadar dari dudukku, apakah kejadian tadi itu hanya mimpi???.....
Kurasakan capek dan pegal diseluruh tubuh serta masih selintas tercium aroma seperti daging gosong terbakar. Kantuk teramat sangat kembali mendera tubuh dan kupasrahkan untuk tertidur hingga alarm di hape butut berdering. Menandakan bahwa subuh telah datang, lalu kuambil wudhu dan lanjut subuhan kemudian mengaji hingga masuk waktu dhuha.
Setelah kejadian itu, rumah terasa lebih adem dan tidak terasa singup serta gerah. Anehnya terkadang masih sedikit ada gangguan, pintu depan saat sore hari digedor-gedor dan gagang pintu bergerak naik turun dengan cepat layaknya ada orang yang ingin masuk secara paksa. Saat kudekati mendadak langsung berhenti.
Setelah kejadian ini, keadaan keluarga kami semakin buruk. Bahkan tamu yang rumahnya kutempati mendadak berhenti bekerja sama dengan papaku, padahal tak pernah ada masalah. Sungguh aneh satu demi satu tamu langganan papaku memutuskan kerja sama dengan papaku. Sampai akhirnya kedua orang tua dan adekku si kembar pindah kembali ke kampung nenek dari Ibu serta melanjutkan ke salah satu SMA Negeri disana. Aku dan kedua adek perempuanku menetap di Bali dan kami ngekost terpisah, dimana adekku memilih kost'an khusus putri. Aku juga akhirnya mengetahui kenapa selama ini diperlakukan beda??? Iya berbeda..... Bukan dikhususkan kawan. Terutama papaku yang mempeelakukanku secara beda. Tapi sedari kecil aku selalu kebagian tugas seperti pembantu, mulai bebersih rumah, nyabutin rumput, bantu nyuci baju dan perabotan dapur, hingga urusan keluar untuk sekedar beli makanan atau hanya beli es degan saja pasti aku yang disuruh keluar. Tak jarang ada beberapa tetangga yang kukenal nyeletuk ke saya, masa kamu terus yang disuruh wara-wiri kesana kemari. Malah salah satu sahabat kecilku juga pernah bertanya, kamu kok kayak pembantu, kayak bukan anak kandung aja???..... Sampai sakit kena gejala demam berdarah aja kamu berangkat sendiri dan urus obat sendiri. Untung kamu dua kali kena gejala demam berdarah nggak sampai ngamar di rumah sakit. Aku hanya bisa berikan Alasan saat itu..... Karna aku anak pertama, jadi harus bisa mengayomi adek-adekku. Sejatinya, setelah kebenaran teebongkar ternyata hanya dalih..... Iya hanya Dalih, karna..... Ternyata aku, menemukan Akta kelahiran asli milikku dan disitu tertera kalo aku bukan anak dari papa yang sekarang. Yapp..... Aku ternyata berbeda bapak, pantas saja eyang kakung dari papa begitu membenciku dengan sangat. Akan kuceritakan, nanti tatkala mencari ayah kandungku sebenarnya dan tujuanku bertemu dengannya???......
Selepas kami terpisah.... Ingat betul saat pertama kali kost, duit yang kupegang hanya 400 ribu itupun sudah kupakai bayar uang muka untuk kost sebesar 100 ribu. Sisanya aku mencoba pinjam dari sahabat-sahabatku. Saat itu, dimana lagi aku bisa meminjam uang???.... Mau tak mau.... Sahabat semasa kecil yang kucoba pinjamin duit, mereka berdalih sedang tak ada uang juga. Serasa langit runtuh menimpaku saat itu, tak ada yang membantu meringankan keadaanku. Tapi kuikhlaskan semuanya karna aku yakin bahwa Tuhan tak akan tinggal diam melihat umatnya yang kesusahan. Akhirnya aku mencoba meminjam uang dari sahabat SMA ku dulu, Alhamdulillah!!!.... kudapatkan juga pinjaman uang dari ayah sahabatku. Jumlahnya memang kecil tapi itu amat sangat membantu kehidupanku yang pontang-panting kala itu. Kerja disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang alat kesehatan untuk mensuplai ke beberapa rumah sakit. Gajiku di tahun itu hanya sebesar 1.2 juta itupun gaji kotor yang kuterima, padahal UMK saat itu sudah diangka 1.6 juta. Ku tetap bersyukur bahwa dibalik kesempitan yang kulalui selalu diberikan jalan keluar. Bahkan saat akan kukembalikan uang tersebut, ditolak oleh ayah sahabatku ini. Beliau ikhlas membantuku yang sedang kesusahan.
Aku kembali menjalani hobi lama, yaitu memancing dan spot yang kuketahui saat itu hanya di daerah tanah kilap-suwung. Disini aku mancing bisa seharian lebih kawan, mulai sabtu jam 7 malam sampai esok jam 5 sore. Tak jarang sampai hampir tengah malam lagi baru pulang ke kost. Itu sengaja aku lakukan untuk mengusir kegelisahanku dan instrospeksi diri. Kejadian ganjil kembali terjadi di tempat langganan mancingku, tepat ketika rona jingga telah hilang dan malam menjelang bersamaan dengan gemerlap bintang bertaburan di angkasa. Di depan kantor PDAM, secara tiba-tiba.... Didepan sungai tempatku memancing muncul seberkas sinar hijau seperti lampu LED. Semakin naik keatas, semakin terang sinarnya. Hingga batu berwarna hijau zamrud itu mengambang diatas air.
Saat itu aku memancing dengan sahabat yang hobi mancing. Dia bernama Agung, karna lebih tua.... Aku biasa memanggil dengan sebutan Mas Agung. Sahabatku ini asli Bali kawan, dia juga kaget saat melihat munculnya batu mustika berwarna hijau. Tak ada yang berani mengambil mustika tersebut saat itu. Kemudian mustika itu kembali lagi masuk ke dalam air.
Mas Agung: bro..... Minggu depan, kita coba mancing disini lagi ya??
Saya: iya mas..... Aku juga penasaran ama penampakan mustika tadi???
Mas Agung: kali aja.... Minggu depan muncul lagi Bro
Saya: iya mas.... Minggu depan kita coba lagi.
Tak terasa seminggu telah berlalu dan kami kembali memancing ditempat seminggu yang lalu. Ternyata benar.... Mustika itu muncul kembali di tempat yang sama. Tak menyia-nyiakan kesempatan, mas Agung turun dan mencoba mengambil mustika tersebut. BYUUURR!!!.... Batu tertangkap di tangan. Namun saat dibuka batu itu tak ada ditangan. Minggu berikutnya, kami coba lagi dan benar muncul kembali. Kini giliranku.... Saat mustika itu muncul...... BYUUURRRR!!!! Terasa mustika berada digenggaman tangan. Dingin seperti menggenggam es Batu, saat kugenggam dengan posisi tangan masih berada didalam air. Terlihat dari celah genggamanku memancar sinar hijau yang terang.
Kukeluarkan tangan dari dalam sungai, saat kubuka..... Sama seperti mas Agung, mustika itu seketika lenyap dari genggaman tanganku. Masih dengan rasa penasaran..... Kami putuskan lagi untuk minggu depan nyamperin ke tempat tadi. Minggu yang ditunggu pun tiba, kami kembali lagi ke tempat dimana menemukan mustika itu. Kali ini lebih aneh kawan, karna yang muncul kali ini bukan lagi mustika batu hijau. Saat menunggu mustika itu muncul, kami gunakan untuk memancing. Dari arah kanan kulihat seekor ular mendekat, MAS.... AGUNG!!!! Awas!!!! Ada ular lewat, ntar malah kena pancing. Eehhh.... Iya bro, itu ular ngarah kemari!!!....
Saat sudah dekat.... Yang kami lihat ternyata bukan ular??? Tapi sebilah keris tanpa warangka/sarung. Aneh.... Keris itu meliuk-liuk mendekati kami seperti seekor ular.
Dengan tergesa, kami segera cabut tanpa membereskan peralatan pancing. Pokoknya, pancing kebawa udah syukur..... LARRIII!!!! Kataku pada mas Agung. Kami berlari dan sesampainya di motor langsung starter motor. Lagi-lagi kejadian aneh terjadi, motor tak dapat distarter. Udah dorong aja mas!!!!..... Ntar kalo udah jauh distarter lagi, kataku pada mas Agung. Kami dorong motor dengan sangat cepat dan sejauh mungkin. Sampai akhirnya motor dapat kembali distarter dan kami langsung pulang, tanpa peduli beberapa ikan yang sudah kami dapatkan.
Mencoba untuk tak panik, kurapalkan wirid Asmaul Husna dan tubuhku dapat kembali kugerakkan. Makhluk Astral berwujud gendruwo ini semakin mendekati, tahan napas dan kupusatkan seluruh energi diperut. Mulai terasa aliran energi terpusat di perutku lalu kubayangkan aliran tenaga itu mengalir di tangan kanan. Kuangkat tangan kananku dan kukibaskan kedepan, membayangkan dari tangan ini keluar seberkas sinar DUUUAAARRR!!!!.... Makhluk astral tersebut terpelanting dan menggeram AAAARRGGHH!!!.... Tanpa banyak kata, makhluk astral ini melompat, menerjang kearahku laksana serigala menerkam mangsa.
Mau menghindar jelas tak mungkin, habis sudah aku.... Tapi segalanya hanya bisa kupasrahkan pada ALLAH SWT. Terbukti makhluk astral itu kembali terpelanting saat akan menerkamku. Tercium seperti bau daging hangus terbakar, serangan balik kulancarkan. Ku berlari kearah mahkluk astral tersebut dan ditepisnya, kami pun terpelanting berlawanan arah. Panas kurasakan tangan ini, makhluk astral kembali bersiap ingin menyerang dan akupun juga bersiap melakukan serangan balik. WUUZZZ.... Cakarnya melayang kearah dadaku, beruntung dapat kuhindari. Kulepaskan tendangan tepat mengenai kepala......
AMPUUN..... AMPUUNN TUAN..... Kenapa kau siksa aku??? KAU!!.... Yang lebih dulu menyerangku, kataku menimpali ucapan makhluk tersebut.
Tolong jangan panah aku Tuan..... Aku mengaku kalah....
Saya: kenapa kau ganggu kami??
Mr. G: tuan mengganggu wilayahku
Saya: wilayah apa???.... Aku tak pernah mengusikmu
Mr. G: kehadiran Tuan buat kami panas disini, lagipula pasukan Tuan banyak sekali. Aku.... Mengaku kalah
Saya: Aku minta bangsamu menyingkir dari rumah ini sekarang!!!
Mr. G: baik.... Aku akan pergi
Setelah kepergian makhluk astral tersebut, terperanjat!!!..... Kulihat tubuhku masih dalam posisi bersila dengan kepala tertunduk dan memegang tasbih. ASTAGFIRULLAH!!! Tiba-tiba tersadar dari dudukku, apakah kejadian tadi itu hanya mimpi???.....
Kurasakan capek dan pegal diseluruh tubuh serta masih selintas tercium aroma seperti daging gosong terbakar. Kantuk teramat sangat kembali mendera tubuh dan kupasrahkan untuk tertidur hingga alarm di hape butut berdering. Menandakan bahwa subuh telah datang, lalu kuambil wudhu dan lanjut subuhan kemudian mengaji hingga masuk waktu dhuha.
Setelah kejadian itu, rumah terasa lebih adem dan tidak terasa singup serta gerah. Anehnya terkadang masih sedikit ada gangguan, pintu depan saat sore hari digedor-gedor dan gagang pintu bergerak naik turun dengan cepat layaknya ada orang yang ingin masuk secara paksa. Saat kudekati mendadak langsung berhenti.
Setelah kejadian ini, keadaan keluarga kami semakin buruk. Bahkan tamu yang rumahnya kutempati mendadak berhenti bekerja sama dengan papaku, padahal tak pernah ada masalah. Sungguh aneh satu demi satu tamu langganan papaku memutuskan kerja sama dengan papaku. Sampai akhirnya kedua orang tua dan adekku si kembar pindah kembali ke kampung nenek dari Ibu serta melanjutkan ke salah satu SMA Negeri disana. Aku dan kedua adek perempuanku menetap di Bali dan kami ngekost terpisah, dimana adekku memilih kost'an khusus putri. Aku juga akhirnya mengetahui kenapa selama ini diperlakukan beda??? Iya berbeda..... Bukan dikhususkan kawan. Terutama papaku yang mempeelakukanku secara beda. Tapi sedari kecil aku selalu kebagian tugas seperti pembantu, mulai bebersih rumah, nyabutin rumput, bantu nyuci baju dan perabotan dapur, hingga urusan keluar untuk sekedar beli makanan atau hanya beli es degan saja pasti aku yang disuruh keluar. Tak jarang ada beberapa tetangga yang kukenal nyeletuk ke saya, masa kamu terus yang disuruh wara-wiri kesana kemari. Malah salah satu sahabat kecilku juga pernah bertanya, kamu kok kayak pembantu, kayak bukan anak kandung aja???..... Sampai sakit kena gejala demam berdarah aja kamu berangkat sendiri dan urus obat sendiri. Untung kamu dua kali kena gejala demam berdarah nggak sampai ngamar di rumah sakit. Aku hanya bisa berikan Alasan saat itu..... Karna aku anak pertama, jadi harus bisa mengayomi adek-adekku. Sejatinya, setelah kebenaran teebongkar ternyata hanya dalih..... Iya hanya Dalih, karna..... Ternyata aku, menemukan Akta kelahiran asli milikku dan disitu tertera kalo aku bukan anak dari papa yang sekarang. Yapp..... Aku ternyata berbeda bapak, pantas saja eyang kakung dari papa begitu membenciku dengan sangat. Akan kuceritakan, nanti tatkala mencari ayah kandungku sebenarnya dan tujuanku bertemu dengannya???......
Selepas kami terpisah.... Ingat betul saat pertama kali kost, duit yang kupegang hanya 400 ribu itupun sudah kupakai bayar uang muka untuk kost sebesar 100 ribu. Sisanya aku mencoba pinjam dari sahabat-sahabatku. Saat itu, dimana lagi aku bisa meminjam uang???.... Mau tak mau.... Sahabat semasa kecil yang kucoba pinjamin duit, mereka berdalih sedang tak ada uang juga. Serasa langit runtuh menimpaku saat itu, tak ada yang membantu meringankan keadaanku. Tapi kuikhlaskan semuanya karna aku yakin bahwa Tuhan tak akan tinggal diam melihat umatnya yang kesusahan. Akhirnya aku mencoba meminjam uang dari sahabat SMA ku dulu, Alhamdulillah!!!.... kudapatkan juga pinjaman uang dari ayah sahabatku. Jumlahnya memang kecil tapi itu amat sangat membantu kehidupanku yang pontang-panting kala itu. Kerja disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang alat kesehatan untuk mensuplai ke beberapa rumah sakit. Gajiku di tahun itu hanya sebesar 1.2 juta itupun gaji kotor yang kuterima, padahal UMK saat itu sudah diangka 1.6 juta. Ku tetap bersyukur bahwa dibalik kesempitan yang kulalui selalu diberikan jalan keluar. Bahkan saat akan kukembalikan uang tersebut, ditolak oleh ayah sahabatku ini. Beliau ikhlas membantuku yang sedang kesusahan.
Aku kembali menjalani hobi lama, yaitu memancing dan spot yang kuketahui saat itu hanya di daerah tanah kilap-suwung. Disini aku mancing bisa seharian lebih kawan, mulai sabtu jam 7 malam sampai esok jam 5 sore. Tak jarang sampai hampir tengah malam lagi baru pulang ke kost. Itu sengaja aku lakukan untuk mengusir kegelisahanku dan instrospeksi diri. Kejadian ganjil kembali terjadi di tempat langganan mancingku, tepat ketika rona jingga telah hilang dan malam menjelang bersamaan dengan gemerlap bintang bertaburan di angkasa. Di depan kantor PDAM, secara tiba-tiba.... Didepan sungai tempatku memancing muncul seberkas sinar hijau seperti lampu LED. Semakin naik keatas, semakin terang sinarnya. Hingga batu berwarna hijau zamrud itu mengambang diatas air.
Saat itu aku memancing dengan sahabat yang hobi mancing. Dia bernama Agung, karna lebih tua.... Aku biasa memanggil dengan sebutan Mas Agung. Sahabatku ini asli Bali kawan, dia juga kaget saat melihat munculnya batu mustika berwarna hijau. Tak ada yang berani mengambil mustika tersebut saat itu. Kemudian mustika itu kembali lagi masuk ke dalam air.
Mas Agung: bro..... Minggu depan, kita coba mancing disini lagi ya??
Saya: iya mas..... Aku juga penasaran ama penampakan mustika tadi???
Mas Agung: kali aja.... Minggu depan muncul lagi Bro
Saya: iya mas.... Minggu depan kita coba lagi.
Tak terasa seminggu telah berlalu dan kami kembali memancing ditempat seminggu yang lalu. Ternyata benar.... Mustika itu muncul kembali di tempat yang sama. Tak menyia-nyiakan kesempatan, mas Agung turun dan mencoba mengambil mustika tersebut. BYUUURR!!!.... Batu tertangkap di tangan. Namun saat dibuka batu itu tak ada ditangan. Minggu berikutnya, kami coba lagi dan benar muncul kembali. Kini giliranku.... Saat mustika itu muncul...... BYUUURRRR!!!! Terasa mustika berada digenggaman tangan. Dingin seperti menggenggam es Batu, saat kugenggam dengan posisi tangan masih berada didalam air. Terlihat dari celah genggamanku memancar sinar hijau yang terang.
Kukeluarkan tangan dari dalam sungai, saat kubuka..... Sama seperti mas Agung, mustika itu seketika lenyap dari genggaman tanganku. Masih dengan rasa penasaran..... Kami putuskan lagi untuk minggu depan nyamperin ke tempat tadi. Minggu yang ditunggu pun tiba, kami kembali lagi ke tempat dimana menemukan mustika itu. Kali ini lebih aneh kawan, karna yang muncul kali ini bukan lagi mustika batu hijau. Saat menunggu mustika itu muncul, kami gunakan untuk memancing. Dari arah kanan kulihat seekor ular mendekat, MAS.... AGUNG!!!! Awas!!!! Ada ular lewat, ntar malah kena pancing. Eehhh.... Iya bro, itu ular ngarah kemari!!!....
Saat sudah dekat.... Yang kami lihat ternyata bukan ular??? Tapi sebilah keris tanpa warangka/sarung. Aneh.... Keris itu meliuk-liuk mendekati kami seperti seekor ular.
Dengan tergesa, kami segera cabut tanpa membereskan peralatan pancing. Pokoknya, pancing kebawa udah syukur..... LARRIII!!!! Kataku pada mas Agung. Kami berlari dan sesampainya di motor langsung starter motor. Lagi-lagi kejadian aneh terjadi, motor tak dapat distarter. Udah dorong aja mas!!!!..... Ntar kalo udah jauh distarter lagi, kataku pada mas Agung. Kami dorong motor dengan sangat cepat dan sejauh mungkin. Sampai akhirnya motor dapat kembali distarter dan kami langsung pulang, tanpa peduli beberapa ikan yang sudah kami dapatkan.
a.wicaksono dan 11 lainnya memberi reputasi
12