- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360.1K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#1250
PART 83
“G-gue harus ke toilet dulu.”
“Barusan lo baru aja balik dari toilet,” ucapnya. “Ketiga kalinya dalam satu pertanyaan.”
“I-iyakah?” Gue berdiri dari duduk dan segera melangkah mundur perlahan menuju toilet. “H-habis ini pasti gue jawab, pasti gue jawab.”
Gue segera mengeluarkan hape gue dan mencari kontak bernama “Dawe Dilson.” Tanpa berlama-lama segera gue tekan tambol telepon dan menempelkan hape pada telinga gue. Satu nada tunggu, dua nada tunggu, dan akhirnya tersambung.
‘Halo?’ ucap orang di seberang dengan nada kebanyakan.
“H-halo, Wi?” balas gue mencoba tenang. “Ya Tuhan, Wi–”
‘Ya Tuhan juga, Do,’ potongnya setengah berseru. ‘Ada apa lagi sekarang? Kali ini lo yang ke toilet apa dia yang ke toilet lagi? Si Cassie salah makan apa, sih?’
“Ah… kalo boleh jujur sebenernya dia belum pernah ke toilet.”
‘Satu kalipun?’ tanya Dawi dengan suara yang tersirat penuh kecurigaan.
“Y-ya, satu kalipun,” jawab gue jujur. “D-daritadi gue yang ke toilet.”
‘Lo serius?’ tanyanya dengan nada yang terdengar malas. ‘Lo telepon gue udah empat kalo, lo ijin sama dia buat ke toilet empat kali juga?’
“Iya.”
‘You are hopeles,’ ucapnya lebih malas seolah gue emang kayak gitu.
“Makasih, lhoh!” tanggap gue setengah berseru. “Temen yang supportif banget lo ternyata, Wi! Gue bingung ngadepin cewek di depan gue malah lo nge-judge gue kayak gitu! Makasih!”
‘Sama-sama, Do,’ balasnya enteng.
“Sama-sama? Lo bilang sama-sama?!” keluh gue tidak terima atas jawabannya.
‘Gue udah kasih lo kenalan cewek, gue atur biar lo bisa ketemuan sama dia, sekarang lo ngobrol sama dia juga harus gue yang atur teksnya? Gitu? Enggak sekalian aja besok waktu malam pertama gue yang ngarahin skenario lo?’
“Kok lo gitu sih, Wi?”
‘Gue gitu gimana?’ tanyanya balik dengan suara yang kini terdengar kesal. ‘Menurut lo gue harus gimana? Dateng ke kafe itu terus bilang ke Cassandra kalo lo itu jodoh dia dan gue berani jamin kalo kalian berdua bakalan bahagia seumur hayat? Iya?’
“Y-ya enggak gitu juga, sih,” balas gue ketika menyadari kesalahan gue. “Y-ya gue salah, gue minta maaf.”
‘Apa?’ tanyannya dengan suara datar.
“Gue salah… gue minta maaf.”
‘Bagus deh kalo lo masih berani minta maaf,’ katanya terdengar kembali bersahabat. ‘Do, lo tuh bukan cowok yang hopeless, kayak yang gue bilang sebelumnya, lo tuh cuma desperate.’
“Desperate?”
‘Lo tuh masih punya harapan, lo cuma putus asa doang,’ jelasnya lebih detil. ‘Kalo lo udah enggak ada harapan gue angkat tangan. Tapi karena gue lihat kalo lo masih punya harapan makanya gue mau bantuin lo.’
“Iya, gue tau,” kata gue. “Lo emang selalu bantuin gue.”
‘Paham kan maksud gue? Diri lo sendiri itu harapan, Cassie, atau siapapun cewek di depan lo itu asa lo. Gunain harapan lo buat dapetin asa lo.’
“Y-ya terus? Gue harus gimana sekarang?”
‘Yaudah, kan? Emang ada masalah apa lagi lo sekarang?’
“M-masalahnya gue enggak bisa ngobrol sama cewek–”
‘Aduh, Do…,’ keluh Dawi dengan suara panjang. ‘Pusing gue lama-lama.’
“Lhoh… kok gitu? Lo harus bantuin gue dong, Wi.”
‘Terserah... gue angkat tangan soal lo.... Tiap dikasih motivasi kayak gimanapun lo tetep aja mundur lagi ke soal titik awal. Gimana caranya ngobrol sama cewek, bosen gue dengernya.’ Terdengar hembusan nafas yang nyaring, ‘Satu-satunya cara biar bisa ngobrol sama cewek ya ngobrol sama cewek itu, bukan cari bantuan lain. Kalo lo enggak mau usaha ya udah gausah. Gausah mikir neko-neko, overthinking lo itu yang nyusahin diri lo sendiri.’
“Lo harus bantuin gue, lo harus bantuin gue!” paksa gue. “Kalo lo enggak bantuin gue… kalo lo enggak bantuin gue–”
‘Apa?! Apa kalo gue enggak bantuin lo? Kenapa kalo gue enggak bantuin lo?’
“G-gue bakalan lari keluar kafe dan balik ke kosan,” ancam gue. “Tanpa pamitan sama dia.
‘Yaudah sana, paling lo sendiri yang malu,
“Lo nantangin gue? Lo nantangin gue?! Gue ini–”
Tut… tut… tut..., terdengar nada telepon terputus dari seberang.
Lhah…, ditutup sama dia?! Tuhan…, sekarang gue harus gimana? Punya temen dimintain tolong aja susahnya minta ampun.
“Dawi kampret!” keluh gue pelan memasukkan hape ke saku celana.
“Hei, udah teleponnya?”
“Iya, udah,” balas gue sambil berbalik.
Di depan gue berdiri Cassie yang dengan tatapannya kembali menimbulkan kekacauan di otak gue. Mampus gue! Sejak kapan dia ada di situ?! J-jangan-jangan dia denger telepon gue sama Dawi yang barusan?
“Ah…, iya, udah,” kata gue sambil manggut-manggut. “M-maksud gue belum!”
Segera gue keluarkan hape gue dan kembali mempelkan hape ke telinga sambil berkata, “I-iya gue udah investasiin semua uang gue ke reksadana. Maaf ya, bulan ini gue enggak bisa kasih lo pinjem uang lagi–”
“Hei,” panggil Cassie sambil menatap ke arah gue. “Lo mau ngajakin gue ngobrol apa teleponan sama orang? Kalo teleponan gue balik, kalo ngobrol ya balik ke meja.”
Terkadang, kita bisa bergantung kepada orang lain. Tapi terkadang, ada waktunya dimana kita enggak bisa bergantung kepada orang lain.
“Yang barusan itu abang dan lo minta saran sama dia?” tembak Cassie. “Ya, kan?”
“I-iya,” kata gue singkat.
“Sekarang bisa kita balik lagi ke meja?”
“Ya,” angguk gue berjalan ke arahnya.
Dan terkadang di saat itulah kita harus bergantung pada diri sendiri.
“Maafin gue udah bikin lo nunggu,” ucap gue kembali duduk di kursi gue setelah dia.
“Ya,” jawabnya pendek.
“Lo udah dengar semuanya,” kata gue pelan. “Lo tau … gue bukan orang yang sempurna. Gue paham kalo enggak ada yang sempurna. Seberapa keraspun gue mencoba gue enggak bakalan bisa jadi sosok yang sempurna.”
Cassie menatap gue dalam. Ya, cuma menatap tanpa menanggapi kalimat panjang gue.
“Jadi…, kalo boleh gue ngomong jujur, boleh enggak orang yang enggak sempurna ini coba buat deketin lo?” jelas gue dengan tenang. “Boleh gue minta kesempatan sekali lagi?”
Cassandra menjawab? Enggak. Pernyataan yang gue akhiri dengan sebuah pertanyaan hasilnya nihil. Tanpa jawaban. Begitu hening, bahkan suara lonceng kafe terdengar lebih kencang dari sebelumnya.
Apa barusan gue ngomongin sesuatu yang salah?
“Gue Edo, temen satu kosannya Dawi,” ucap gue mengulurkan tangan.
“Gue Cassie,” katanya menyambut tangan gue. “Adeknya bang Dawi.”
“G-gue harus ke toilet dulu.”
“Barusan lo baru aja balik dari toilet,” ucapnya. “Ketiga kalinya dalam satu pertanyaan.”
“I-iyakah?” Gue berdiri dari duduk dan segera melangkah mundur perlahan menuju toilet. “H-habis ini pasti gue jawab, pasti gue jawab.”
Gue segera mengeluarkan hape gue dan mencari kontak bernama “Dawe Dilson.” Tanpa berlama-lama segera gue tekan tambol telepon dan menempelkan hape pada telinga gue. Satu nada tunggu, dua nada tunggu, dan akhirnya tersambung.
‘Halo?’ ucap orang di seberang dengan nada kebanyakan.
“H-halo, Wi?” balas gue mencoba tenang. “Ya Tuhan, Wi–”
‘Ya Tuhan juga, Do,’ potongnya setengah berseru. ‘Ada apa lagi sekarang? Kali ini lo yang ke toilet apa dia yang ke toilet lagi? Si Cassie salah makan apa, sih?’
“Ah… kalo boleh jujur sebenernya dia belum pernah ke toilet.”
‘Satu kalipun?’ tanya Dawi dengan suara yang tersirat penuh kecurigaan.
“Y-ya, satu kalipun,” jawab gue jujur. “D-daritadi gue yang ke toilet.”
‘Lo serius?’ tanyanya dengan nada yang terdengar malas. ‘Lo telepon gue udah empat kalo, lo ijin sama dia buat ke toilet empat kali juga?’
“Iya.”
‘You are hopeles,’ ucapnya lebih malas seolah gue emang kayak gitu.
“Makasih, lhoh!” tanggap gue setengah berseru. “Temen yang supportif banget lo ternyata, Wi! Gue bingung ngadepin cewek di depan gue malah lo nge-judge gue kayak gitu! Makasih!”
‘Sama-sama, Do,’ balasnya enteng.
“Sama-sama? Lo bilang sama-sama?!” keluh gue tidak terima atas jawabannya.
‘Gue udah kasih lo kenalan cewek, gue atur biar lo bisa ketemuan sama dia, sekarang lo ngobrol sama dia juga harus gue yang atur teksnya? Gitu? Enggak sekalian aja besok waktu malam pertama gue yang ngarahin skenario lo?’
“Kok lo gitu sih, Wi?”
‘Gue gitu gimana?’ tanyanya balik dengan suara yang kini terdengar kesal. ‘Menurut lo gue harus gimana? Dateng ke kafe itu terus bilang ke Cassandra kalo lo itu jodoh dia dan gue berani jamin kalo kalian berdua bakalan bahagia seumur hayat? Iya?’
“Y-ya enggak gitu juga, sih,” balas gue ketika menyadari kesalahan gue. “Y-ya gue salah, gue minta maaf.”
‘Apa?’ tanyannya dengan suara datar.
“Gue salah… gue minta maaf.”
‘Bagus deh kalo lo masih berani minta maaf,’ katanya terdengar kembali bersahabat. ‘Do, lo tuh bukan cowok yang hopeless, kayak yang gue bilang sebelumnya, lo tuh cuma desperate.’
“Desperate?”
‘Lo tuh masih punya harapan, lo cuma putus asa doang,’ jelasnya lebih detil. ‘Kalo lo udah enggak ada harapan gue angkat tangan. Tapi karena gue lihat kalo lo masih punya harapan makanya gue mau bantuin lo.’
“Iya, gue tau,” kata gue. “Lo emang selalu bantuin gue.”
‘Paham kan maksud gue? Diri lo sendiri itu harapan, Cassie, atau siapapun cewek di depan lo itu asa lo. Gunain harapan lo buat dapetin asa lo.’
“Y-ya terus? Gue harus gimana sekarang?”
‘Yaudah, kan? Emang ada masalah apa lagi lo sekarang?’
“M-masalahnya gue enggak bisa ngobrol sama cewek–”
‘Aduh, Do…,’ keluh Dawi dengan suara panjang. ‘Pusing gue lama-lama.’
“Lhoh… kok gitu? Lo harus bantuin gue dong, Wi.”
‘Terserah... gue angkat tangan soal lo.... Tiap dikasih motivasi kayak gimanapun lo tetep aja mundur lagi ke soal titik awal. Gimana caranya ngobrol sama cewek, bosen gue dengernya.’ Terdengar hembusan nafas yang nyaring, ‘Satu-satunya cara biar bisa ngobrol sama cewek ya ngobrol sama cewek itu, bukan cari bantuan lain. Kalo lo enggak mau usaha ya udah gausah. Gausah mikir neko-neko, overthinking lo itu yang nyusahin diri lo sendiri.’
“Lo harus bantuin gue, lo harus bantuin gue!” paksa gue. “Kalo lo enggak bantuin gue… kalo lo enggak bantuin gue–”
‘Apa?! Apa kalo gue enggak bantuin lo? Kenapa kalo gue enggak bantuin lo?’
“G-gue bakalan lari keluar kafe dan balik ke kosan,” ancam gue. “Tanpa pamitan sama dia.
‘Yaudah sana, paling lo sendiri yang malu,
“Lo nantangin gue? Lo nantangin gue?! Gue ini–”
Tut… tut… tut..., terdengar nada telepon terputus dari seberang.
Lhah…, ditutup sama dia?! Tuhan…, sekarang gue harus gimana? Punya temen dimintain tolong aja susahnya minta ampun.
“Dawi kampret!” keluh gue pelan memasukkan hape ke saku celana.
“Hei, udah teleponnya?”
“Iya, udah,” balas gue sambil berbalik.
Di depan gue berdiri Cassie yang dengan tatapannya kembali menimbulkan kekacauan di otak gue. Mampus gue! Sejak kapan dia ada di situ?! J-jangan-jangan dia denger telepon gue sama Dawi yang barusan?
“Ah…, iya, udah,” kata gue sambil manggut-manggut. “M-maksud gue belum!”
Segera gue keluarkan hape gue dan kembali mempelkan hape ke telinga sambil berkata, “I-iya gue udah investasiin semua uang gue ke reksadana. Maaf ya, bulan ini gue enggak bisa kasih lo pinjem uang lagi–”
“Hei,” panggil Cassie sambil menatap ke arah gue. “Lo mau ngajakin gue ngobrol apa teleponan sama orang? Kalo teleponan gue balik, kalo ngobrol ya balik ke meja.”
Terkadang, kita bisa bergantung kepada orang lain. Tapi terkadang, ada waktunya dimana kita enggak bisa bergantung kepada orang lain.
“Yang barusan itu abang dan lo minta saran sama dia?” tembak Cassie. “Ya, kan?”
“I-iya,” kata gue singkat.
“Sekarang bisa kita balik lagi ke meja?”
“Ya,” angguk gue berjalan ke arahnya.
Dan terkadang di saat itulah kita harus bergantung pada diri sendiri.
“Maafin gue udah bikin lo nunggu,” ucap gue kembali duduk di kursi gue setelah dia.
“Ya,” jawabnya pendek.
“Lo udah dengar semuanya,” kata gue pelan. “Lo tau … gue bukan orang yang sempurna. Gue paham kalo enggak ada yang sempurna. Seberapa keraspun gue mencoba gue enggak bakalan bisa jadi sosok yang sempurna.”
Cassie menatap gue dalam. Ya, cuma menatap tanpa menanggapi kalimat panjang gue.
“Jadi…, kalo boleh gue ngomong jujur, boleh enggak orang yang enggak sempurna ini coba buat deketin lo?” jelas gue dengan tenang. “Boleh gue minta kesempatan sekali lagi?”
Cassandra menjawab? Enggak. Pernyataan yang gue akhiri dengan sebuah pertanyaan hasilnya nihil. Tanpa jawaban. Begitu hening, bahkan suara lonceng kafe terdengar lebih kencang dari sebelumnya.
Apa barusan gue ngomongin sesuatu yang salah?
“Gue Edo, temen satu kosannya Dawi,” ucap gue mengulurkan tangan.
“Gue Cassie,” katanya menyambut tangan gue. “Adeknya bang Dawi.”
JabLai cOY dan 6 lainnya memberi reputasi
7
