- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
...
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Dauh.Tukad
#50
Bagian 13 (Baksos yang mencekam)
Bagian 13
Sontak saja para peserta Baksos berteriak histeris, suasana yang tadi hening mendadak mencekam, tapi disaat bersamaan terdengar pula suara teriakan panitia dan para warga yg masih terjaga yang meneriakkan agar jangan sampai terbangun dari tidur karena kain kafan tersebut adalah perwujudan dari leak/makhluk gaib yang akan menarik siapa saja yang berani bangkit dari tidur untuk dibawa ke alam gaib dijadikan budak!! Leak tersebut berterbangan mencari korban!!
Waktu terasa sangat lama sekali dimana intimidasi dari mahkluk gaib tersebut terus menerus sambil sesekali terdengar suara tertawa lirih yang menyeramkan dan menggidikan bulu kuduk. Hiiihiiii...... Hiii.....hiiihiiihiiii..... Bahkan Pedanda atau pemuka adat setempat pun tidak sanggup untuk menetralisir keadaan karena saking kuatnya energi dari mahkluk gaib tersebut. Hingga jalan satu-satunya adalah kami semua disuruh untuk tetap tidur atau tiarap agar tidak ditarik dan menunggu sampai makhluk gaib tersebut pergi, karena mereka tidak dapat terbang rendah apalagi sampai menyentuh tanah.
Saya yang saat itu masih di balik sleeping bag sudah gemeteran nggak karuan dan baju basah oleh keringat dingin akibat suasana menegangkan tersebut… tapi teman disebelah tetep tenang saja seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut. Sampai akhirnya drama mengerikan selama lebih dari sejam itu akhirnya berakhir juga. Mahkluk tersebut akhirnya pergi dengan sendirinya, bukan karna suara kokokan ayam atau apapun. Tapi karena tidak mendapatkan korban untuk dibawa ke alam gaib untuk dijadikan budaknya. Saat kejadian tersebut nggak sedikit dari kami yang saking takutnya sampai ngompol di celana!!!
Setelah mahkluk gaib tersebut pergi, saya akhirnya bisa terduduk dan mengamati sekitar, ada yang menangis gemeteran karena saking shocknya. Karena bisa saja nyawanya melayang, bahkan ada juga yang diketawain....karena ngompol di celana dan ternyata tidak sedikit yang mengalami hal tersebut. Teman saya bercerita, kalau di pedesaan masih banyak penganut ilmu beginian. Mulai dari yang sekedar malih rupa jadi wujud binatang hingga yang paling sakti seperti kejadian yang dialami.
Dalam kasus ini, para leak yang datang karena merasa terusik oleh orang luar yang melakukan baksos, dan mereka menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya. Jika saat itu ada yang berani melawan, maka bisa jadi akan terjadi adu ilmu. Adu sakti calon arang juga sering diadakan pada upacara tertentu, dimana para penonton tidak boleh datang telat dan tidak boleh pulang sebelum selesai dan yang datang telat jangan pernah ikut nonton jika masih sayang nyawa…..
Hari berikutnya kami menginap di sekitar area Pura Desa saja, takut terulang kejadian semalam. Saya kebagian jaga malam dengan kawan, karena panitianya sebagian itu kakak SMA ku dulu. Jadi agak longgar dikitlah bisa sambil merokok. Aku mulai mengenal rokok setelah lulus SMA, dan Rokok itu aku beli dari uang hasil keringatku, bukan meminta-minta. Hanya saja papaku meminta agar aku jangan sekali-kali merokok di depan adekku yang kembar. Kunyalakan rokok Marlboro merah yang sore tadi, sengaja diam-diam aku beli saat akan mandi di sungai, nikmat rasanya. Bagi rokoknya bro...... Begitu kata kawanku yang ikut jaga tenda malah itu. Sesekali kakak Panitia lewat dan sedikit kesal berkata: Dasar kalian ini!!!! Udah tahu dilarang merokok....mulai ospek sampai selesai baksos, ini malah ngerokok..... Mana sini minta sebatang rokoknya??!!??.... Setelah itu berlalu meninggalkan kami.
Lagi enak-enaknya menikmati nikotin yang merasuk ke paru-paru, teman jagaku berkata: eeehhh..... Liat bro!! Itu di sawah ngapain ada orang bawa obor ya???.....
Saya: mana Bro????
Dipto/ itu lihat di sawah depan itu Bro!!....
Saya: ( melihat lagi dengan seksama sambil sedikit memusatkan mata bathin) coba lihat lagi Dip, itu obor napa ndak ada orang yang pegang kayak cuman api melayang doang
Dipto: eeeehhh..... Iya, tadi kayak ada orangnya.... Sekarang cuman api doang
Saya: udah biarin aja itu kemamang atau ada beberapa orang bilang banaspati.
Dipto: mereka mau kemana ya kira-kira???
Saya: mana saya tahu bro???..... Coba aja teriak darisini tanyain
Dipto: kamprrreeettt.... Ntar kayak kejadian kemaren lagi
Saya: ya udah..... Bangunin yang lain gih, udah 2 jam..... Sekarang giliran kita tidur.
Dipto pun membangunkan teman yang lain untuk menggantikan tugas kami jaga malam. Sialnya aku malah kebagian ditengah-tengah tenda. Karna tenda kami dibawah dipakai buat mereka yang sedang halangan, maka kami nyampur dengan grup lainnya.
Dip..... Kamu aja ditengah sono, aku yang pinggir ya..... Dipto pun membalas: ogah.... Koe aja bro, ntar ndak kuat ta grepe-grepe itu cewek. Akhirnya dengan terpaksa kulangkahi teman-teman yang sudah tidur didalam tenda. Tenda ini luas, beratapkan terpal besar bisa muat 20 orang didalamnya. Aneh.... Ini si Theo ngapain bikin jarak ama grup yang punya tenda. Jaraknya malah bisa cukup untuk 2 orang dan kutawarkan Dipto untuk bareng di tengah tenda karna masih cukup ruang, Dipto menyanggupi permintaanku, tapi tetap saja tepat disebelah kananku cewek dari grup pemilik tenda ini. Hawa pedesaan di tengah malam ini dingin sekali, terdengar suara jangkrik bersahutan dan kawanku yang sedang jaga di depan tenda asyik mengobrol. Aku kedinginan dibalik jaketku, terutama bagian kaoskaki yang sengaja aku lepas agar tidak bau ikan asin satu tenda heheheheehhe......😁😁
Suara gigiku yang gemratak karna menggigil ternyata membangunkan gadis cantik disebelah kananku. Kamu kedinginan ya??..... Iya nie.... selimutnya udah mentok sampai Dipto aja kataku. Lalu gadis itu membalas lagi ucapanku:
Dian: Aku Dian.... Kamu Siapa???
Saya: J...... santoso ( ku jabat tangannya yang halus )
Dian: udah sini merapat dekat aku aja
Saya: duch... Maaf, saya malu Dian
Dian: halaah.... (Sambil ditariknya badanku agar bisa satu selimut ) sini udah daripada sakit besok
Saya: maaf.... Jadi ngerepotin kamu ( canggung dan kikuk jika berhadapan gadis secantik ini )
Dian: ya udah.... Ayoo tidur, besok pagi kita ada senam pagi sebelum acara ke balai desa.
Saya: iyaaa.... makasih ya Dian
Dian pun membalikkan posisi tidurnya memunggungi aku yang sudah mulai hangat di dalam selimut. Tanpa banyak tanya tiba-tiba Dian menarik tanganku dan dilingkarkan tanganku diperutnya. Persisi seperti sepasang suami istri yang tidur dengan mesra. Kemudian Dian hanya berkata pelan.... Udah!!! jangan mikir yang aneh-aneh??.... Ayo lekas tidur!!. Anehnya, saat itu sama sekali tidak ada napsu yang menguasai hati dan pikiranku. Bayangkan tidur bareng dengan gadis bali asli, kulit putih mulus, dagu sedikit lancip, hidung mancung. Jika melihat sekilas mirip Zaskia Mecca, tapi ini lebih cantik lagi menurutku. Paginya.... Aku jadi bahan omongan satu tenda, ciiyeeehhh!!!!.... Ada yang menang banyak nie semalem!!!. Ada pula yang nyeletuk, padahal semalem ama Dian, nggak boleh ada yang tidur dekat dia harus buat jarak, ini teman satu malah enak, bisa curi-curi kesempatan tidur berpelukan. Aku hanya bisa cengar-cengir nggak jelas saat itu dan di malam berikutnya, Dian tahu aku tidur dengan posisi beda dari kemarin berada diantara teman yang lain. Maka Dian pun juga memilih untuk berada ditengah kawannya. Sempat aku tanyakan ke Dian dan dijawab: kalo boboknya bareng kamu enak nggak mesum kayak yang lain.... Lagi lagi aku hanya bisa cengar-cengir nggak jelas menyembunyikan rasa kikuk dan canggung sambil mbatin..... Ngapain juga aku nanya beginian ke Dian?!?!...
ternyata kejadian saat bermalam di balai deaa tidak berhenti sampai di situ saja Kawan. Teror kembali berlanjut dan membuat kekacauan di grup kami!! Pada hari terakhir saat penutupan baksos malam harinya merupakan malam yang indah dan diisi dgn berbagai acara yg meriah hingga menjelang fajar. Alhasil ketika sebelum pamit pulang kami semua mendengarkan ceramah dari kepala desa, pemuka adat setempat dan aparat kepolisian tentu dikeesokan pagi harinya banyak peserta baksos yang kelelahan akibat kurang tidur.
Efek kelelahan tersebut ternyata berakibat fatal!! Pikiran yang kosong mengakibatkan makhluk astral mudah masuk ke dalam diri, sehingga akhirnya satu persatu peserta baksos mengalami kesurupan (kerauhan dalam bahasa balinya), yang akhirnya berujung pada kesurupan massal di tengah ceramah!!...... Akibatnya acara yang sedianya akan ditutup dengan hikmat dengan sangat terpaksa akhirnya dibubarkan. Karena para pemangku adat yang hadir dan berjumlah sepuluhan orang kewalahan mengatasi kesurupan massal tersebut. Acara pun menjadi kacau balau..!!
Sebenarnya saat apel pamit kepada para tetua desa dan yang terkait di dalamnya, saya merasakan hawa kesedihan dan juga terasa sumpek, serasa tempat ini dipenuhi sangat banyak orang yang ikut berdesak-desakan bersama kami.
Bahkan teman saya satu kelompok yang awalnya masih ikut mengomentari karna mulai banyak yang kerauhan/kesurupan. Terlihat sudah kelelahan dan ketika akan duduk malah terjadi kesurupan pada dirinya. Saya menoleh kearah Dia dan ternyata dia juga ikutan kesurupan!! Tiba-tiba saja dirinya cekikikan tidak jelas dengan nada melengking yang membuat bulu kuduk berdiri, terkadang menangis minta tolong bahkan tak jarang matanya melotot menyeramkan menatap saya, membuat saya segera memanggil pemangku adat untuk membantu!!! Karena semakin banyak yang mengalami kesurupan, akhirnya kami dibubarkan dengan terburu-buru naik ke truk. Pemangku adat berkata, apabila kami telah keluar dari desa tersebut maka pengaruh kesurupannya akan hilang dengan sendirinya.
Setelah diinfokan demikian, saya bersama teman-teman yang lain tanpa berpikir dua kali segera berhamburan naik ke truk, tujuan kami adalah keluar dari desa yang menakutkan ini, dengan harapan kesurupan teman-teman saya segera selesai… Suasana kisruh dan ricuh memenuhi udara, suara lengkingan teriakan terdengar dimana-mana, kacau balau semua…kami yang tidak kesurupan membantu yang kerasukan naik ke atas struk termasuk saya.
Di atas truk, suasana tidak bertambah lebih baik, kami semua didera kepanikan dan ketakutan yang amat sangat… kejadian tersebut terekam seperti adegan slow motion di mata saya… bahkan salah satu peserta cewek yang kesurupan membuat ulah dengan mencoba melompat dari truk yang sedang melaju kencang di jalanan pedesaan!! Beberapa teman yang ada mencoba menahan dan memegangnya tapi… masya Allah!! …tenaganya seperti badak liar!!
Sontak saja para peserta Baksos berteriak histeris, suasana yang tadi hening mendadak mencekam, tapi disaat bersamaan terdengar pula suara teriakan panitia dan para warga yg masih terjaga yang meneriakkan agar jangan sampai terbangun dari tidur karena kain kafan tersebut adalah perwujudan dari leak/makhluk gaib yang akan menarik siapa saja yang berani bangkit dari tidur untuk dibawa ke alam gaib dijadikan budak!! Leak tersebut berterbangan mencari korban!!
Waktu terasa sangat lama sekali dimana intimidasi dari mahkluk gaib tersebut terus menerus sambil sesekali terdengar suara tertawa lirih yang menyeramkan dan menggidikan bulu kuduk. Hiiihiiii...... Hiii.....hiiihiiihiiii..... Bahkan Pedanda atau pemuka adat setempat pun tidak sanggup untuk menetralisir keadaan karena saking kuatnya energi dari mahkluk gaib tersebut. Hingga jalan satu-satunya adalah kami semua disuruh untuk tetap tidur atau tiarap agar tidak ditarik dan menunggu sampai makhluk gaib tersebut pergi, karena mereka tidak dapat terbang rendah apalagi sampai menyentuh tanah.
Saya yang saat itu masih di balik sleeping bag sudah gemeteran nggak karuan dan baju basah oleh keringat dingin akibat suasana menegangkan tersebut… tapi teman disebelah tetep tenang saja seperti sudah terbiasa dengan hal tersebut. Sampai akhirnya drama mengerikan selama lebih dari sejam itu akhirnya berakhir juga. Mahkluk tersebut akhirnya pergi dengan sendirinya, bukan karna suara kokokan ayam atau apapun. Tapi karena tidak mendapatkan korban untuk dibawa ke alam gaib untuk dijadikan budaknya. Saat kejadian tersebut nggak sedikit dari kami yang saking takutnya sampai ngompol di celana!!!
Setelah mahkluk gaib tersebut pergi, saya akhirnya bisa terduduk dan mengamati sekitar, ada yang menangis gemeteran karena saking shocknya. Karena bisa saja nyawanya melayang, bahkan ada juga yang diketawain....karena ngompol di celana dan ternyata tidak sedikit yang mengalami hal tersebut. Teman saya bercerita, kalau di pedesaan masih banyak penganut ilmu beginian. Mulai dari yang sekedar malih rupa jadi wujud binatang hingga yang paling sakti seperti kejadian yang dialami.
Dalam kasus ini, para leak yang datang karena merasa terusik oleh orang luar yang melakukan baksos, dan mereka menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya. Jika saat itu ada yang berani melawan, maka bisa jadi akan terjadi adu ilmu. Adu sakti calon arang juga sering diadakan pada upacara tertentu, dimana para penonton tidak boleh datang telat dan tidak boleh pulang sebelum selesai dan yang datang telat jangan pernah ikut nonton jika masih sayang nyawa…..
Hari berikutnya kami menginap di sekitar area Pura Desa saja, takut terulang kejadian semalam. Saya kebagian jaga malam dengan kawan, karena panitianya sebagian itu kakak SMA ku dulu. Jadi agak longgar dikitlah bisa sambil merokok. Aku mulai mengenal rokok setelah lulus SMA, dan Rokok itu aku beli dari uang hasil keringatku, bukan meminta-minta. Hanya saja papaku meminta agar aku jangan sekali-kali merokok di depan adekku yang kembar. Kunyalakan rokok Marlboro merah yang sore tadi, sengaja diam-diam aku beli saat akan mandi di sungai, nikmat rasanya. Bagi rokoknya bro...... Begitu kata kawanku yang ikut jaga tenda malah itu. Sesekali kakak Panitia lewat dan sedikit kesal berkata: Dasar kalian ini!!!! Udah tahu dilarang merokok....mulai ospek sampai selesai baksos, ini malah ngerokok..... Mana sini minta sebatang rokoknya??!!??.... Setelah itu berlalu meninggalkan kami.
Lagi enak-enaknya menikmati nikotin yang merasuk ke paru-paru, teman jagaku berkata: eeehhh..... Liat bro!! Itu di sawah ngapain ada orang bawa obor ya???.....
Saya: mana Bro????
Dipto/ itu lihat di sawah depan itu Bro!!....
Saya: ( melihat lagi dengan seksama sambil sedikit memusatkan mata bathin) coba lihat lagi Dip, itu obor napa ndak ada orang yang pegang kayak cuman api melayang doang
Dipto: eeeehhh..... Iya, tadi kayak ada orangnya.... Sekarang cuman api doang
Saya: udah biarin aja itu kemamang atau ada beberapa orang bilang banaspati.
Dipto: mereka mau kemana ya kira-kira???
Saya: mana saya tahu bro???..... Coba aja teriak darisini tanyain
Dipto: kamprrreeettt.... Ntar kayak kejadian kemaren lagi
Saya: ya udah..... Bangunin yang lain gih, udah 2 jam..... Sekarang giliran kita tidur.
Dipto pun membangunkan teman yang lain untuk menggantikan tugas kami jaga malam. Sialnya aku malah kebagian ditengah-tengah tenda. Karna tenda kami dibawah dipakai buat mereka yang sedang halangan, maka kami nyampur dengan grup lainnya.
Dip..... Kamu aja ditengah sono, aku yang pinggir ya..... Dipto pun membalas: ogah.... Koe aja bro, ntar ndak kuat ta grepe-grepe itu cewek. Akhirnya dengan terpaksa kulangkahi teman-teman yang sudah tidur didalam tenda. Tenda ini luas, beratapkan terpal besar bisa muat 20 orang didalamnya. Aneh.... Ini si Theo ngapain bikin jarak ama grup yang punya tenda. Jaraknya malah bisa cukup untuk 2 orang dan kutawarkan Dipto untuk bareng di tengah tenda karna masih cukup ruang, Dipto menyanggupi permintaanku, tapi tetap saja tepat disebelah kananku cewek dari grup pemilik tenda ini. Hawa pedesaan di tengah malam ini dingin sekali, terdengar suara jangkrik bersahutan dan kawanku yang sedang jaga di depan tenda asyik mengobrol. Aku kedinginan dibalik jaketku, terutama bagian kaoskaki yang sengaja aku lepas agar tidak bau ikan asin satu tenda heheheheehhe......😁😁
Suara gigiku yang gemratak karna menggigil ternyata membangunkan gadis cantik disebelah kananku. Kamu kedinginan ya??..... Iya nie.... selimutnya udah mentok sampai Dipto aja kataku. Lalu gadis itu membalas lagi ucapanku:
Dian: Aku Dian.... Kamu Siapa???
Saya: J...... santoso ( ku jabat tangannya yang halus )
Dian: udah sini merapat dekat aku aja
Saya: duch... Maaf, saya malu Dian
Dian: halaah.... (Sambil ditariknya badanku agar bisa satu selimut ) sini udah daripada sakit besok
Saya: maaf.... Jadi ngerepotin kamu ( canggung dan kikuk jika berhadapan gadis secantik ini )
Dian: ya udah.... Ayoo tidur, besok pagi kita ada senam pagi sebelum acara ke balai desa.
Saya: iyaaa.... makasih ya Dian
Dian pun membalikkan posisi tidurnya memunggungi aku yang sudah mulai hangat di dalam selimut. Tanpa banyak tanya tiba-tiba Dian menarik tanganku dan dilingkarkan tanganku diperutnya. Persisi seperti sepasang suami istri yang tidur dengan mesra. Kemudian Dian hanya berkata pelan.... Udah!!! jangan mikir yang aneh-aneh??.... Ayo lekas tidur!!. Anehnya, saat itu sama sekali tidak ada napsu yang menguasai hati dan pikiranku. Bayangkan tidur bareng dengan gadis bali asli, kulit putih mulus, dagu sedikit lancip, hidung mancung. Jika melihat sekilas mirip Zaskia Mecca, tapi ini lebih cantik lagi menurutku. Paginya.... Aku jadi bahan omongan satu tenda, ciiyeeehhh!!!!.... Ada yang menang banyak nie semalem!!!. Ada pula yang nyeletuk, padahal semalem ama Dian, nggak boleh ada yang tidur dekat dia harus buat jarak, ini teman satu malah enak, bisa curi-curi kesempatan tidur berpelukan. Aku hanya bisa cengar-cengir nggak jelas saat itu dan di malam berikutnya, Dian tahu aku tidur dengan posisi beda dari kemarin berada diantara teman yang lain. Maka Dian pun juga memilih untuk berada ditengah kawannya. Sempat aku tanyakan ke Dian dan dijawab: kalo boboknya bareng kamu enak nggak mesum kayak yang lain.... Lagi lagi aku hanya bisa cengar-cengir nggak jelas menyembunyikan rasa kikuk dan canggung sambil mbatin..... Ngapain juga aku nanya beginian ke Dian?!?!...
ternyata kejadian saat bermalam di balai deaa tidak berhenti sampai di situ saja Kawan. Teror kembali berlanjut dan membuat kekacauan di grup kami!! Pada hari terakhir saat penutupan baksos malam harinya merupakan malam yang indah dan diisi dgn berbagai acara yg meriah hingga menjelang fajar. Alhasil ketika sebelum pamit pulang kami semua mendengarkan ceramah dari kepala desa, pemuka adat setempat dan aparat kepolisian tentu dikeesokan pagi harinya banyak peserta baksos yang kelelahan akibat kurang tidur.
Efek kelelahan tersebut ternyata berakibat fatal!! Pikiran yang kosong mengakibatkan makhluk astral mudah masuk ke dalam diri, sehingga akhirnya satu persatu peserta baksos mengalami kesurupan (kerauhan dalam bahasa balinya), yang akhirnya berujung pada kesurupan massal di tengah ceramah!!...... Akibatnya acara yang sedianya akan ditutup dengan hikmat dengan sangat terpaksa akhirnya dibubarkan. Karena para pemangku adat yang hadir dan berjumlah sepuluhan orang kewalahan mengatasi kesurupan massal tersebut. Acara pun menjadi kacau balau..!!
Sebenarnya saat apel pamit kepada para tetua desa dan yang terkait di dalamnya, saya merasakan hawa kesedihan dan juga terasa sumpek, serasa tempat ini dipenuhi sangat banyak orang yang ikut berdesak-desakan bersama kami.
Bahkan teman saya satu kelompok yang awalnya masih ikut mengomentari karna mulai banyak yang kerauhan/kesurupan. Terlihat sudah kelelahan dan ketika akan duduk malah terjadi kesurupan pada dirinya. Saya menoleh kearah Dia dan ternyata dia juga ikutan kesurupan!! Tiba-tiba saja dirinya cekikikan tidak jelas dengan nada melengking yang membuat bulu kuduk berdiri, terkadang menangis minta tolong bahkan tak jarang matanya melotot menyeramkan menatap saya, membuat saya segera memanggil pemangku adat untuk membantu!!! Karena semakin banyak yang mengalami kesurupan, akhirnya kami dibubarkan dengan terburu-buru naik ke truk. Pemangku adat berkata, apabila kami telah keluar dari desa tersebut maka pengaruh kesurupannya akan hilang dengan sendirinya.
Setelah diinfokan demikian, saya bersama teman-teman yang lain tanpa berpikir dua kali segera berhamburan naik ke truk, tujuan kami adalah keluar dari desa yang menakutkan ini, dengan harapan kesurupan teman-teman saya segera selesai… Suasana kisruh dan ricuh memenuhi udara, suara lengkingan teriakan terdengar dimana-mana, kacau balau semua…kami yang tidak kesurupan membantu yang kerasukan naik ke atas struk termasuk saya.
Di atas truk, suasana tidak bertambah lebih baik, kami semua didera kepanikan dan ketakutan yang amat sangat… kejadian tersebut terekam seperti adegan slow motion di mata saya… bahkan salah satu peserta cewek yang kesurupan membuat ulah dengan mencoba melompat dari truk yang sedang melaju kencang di jalanan pedesaan!! Beberapa teman yang ada mencoba menahan dan memegangnya tapi… masya Allah!! …tenaganya seperti badak liar!!
Diubah oleh Dauh.Tukad 17-10-2018 11:13
a.wicaksono dan 10 lainnya memberi reputasi
11