Kaskus

Story

jeniussetyo09Avatar border
TS
jeniussetyo09
DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
ONCE AGAIN…. WELCOME TO MY THREAD


DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
Pict by Rido Irdam


Thread ini adalah thread lanjutan dari Thread sebelumnya DIARYMATA INDIGO SEASON 2 : Sebuah Cerita Lanjutan Indigo Interdimensional

DIARY MATA INDIGO SEASON 3 : THE NEXT LEVEL

Cerita Season 3 kali ini bercerita tentang pengalaman sesudah kuliah dan memasuki dunia kerja. Penulis pada season 3 ini akan lebih banyak menambah bumbu-bumbu fiksi sebagai pembungkus pengalaman yang pernah ada. Tentu saja dengan tetap mengedepankan prinsip "Fiksi Rasa Real" daripada "Real Rasa Fiksi". Tentu saja semua nya diambil dari apa yang dihasilkan oleh penglihatan seseorang yang bisa melihat “mereka”. Mereka yang tak kasat mata. Mereka yang berada di alam sebelah. Mereka yang sering disebut dengan hantu, jin, siluman, roh, makhluk halus atau arwah.

Istilah indigo adalah sebutan bagi mereka yang memiliki kemampuan indra keenam, dan dalam thread ini khusus hanya membahas tentang pengalaman Indigo Interdimensional, bukan indigo yang lain. Indigo Interdimensional adalah salah satu kemampuan Indigo dimana seseorang bisa melihat, mendengar bahkan berkomunikasi dengan makhluk halus atau penghuni alam sebelah.

Isi thread ini murni berbagi cerita dan pengalaman dan sama sekali tidak bicara tentang pengertian atau pemahaman tertentu. Bagi orang yang mungkin punya pemahaman atau pengertian yang berbeda dipersilahkan. Tapi yang jelas hal-hal itu tidak akan direspon

Penulis tidak mengharapkan komentar yang menimbulkan perpecahan, apalagi yang berbau SARA, akan tetapi jika ternyata ada juga yang berkomentar demikian, maka semoga mendapatkan hidayah dan semoga orang tersebut semakin dimulikan dan dan ditinggikan derajatnya oleh Tuhan Yang Maha Esa. Terlepas nanti ada syarat dan ketentuan berlakunya atau tidak.

Selebihnya ane cuma bisa mengucapkan, selamat menikmati.

Enjoy….

DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
by Rido Irdam

PS :

Untuk memudahkan dan karena Diary ini terdiri dari beberapa part ane sediakan link nya. Dengan rendah hati ane juga tidak lupa menghimbau untuk membudayakan komeng bagi Agan & Sista. Cendol bila Agan & Sista ikhlas, rate jika berkenan, bata mohon ditiadakan emoticon-Blue Guy Smile (S)
emoticon-Blue Guy Smile (S) emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Blue Guy Peace emoticon-Maaf Agan


Part 1 : DMI 3 - Prolog

Part 2 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 1

Part 3 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 2

Part 4 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 3

Part 5 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 4

Part 6 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 5

Part 7 : DMI 3 - Misteri Gudang Tembakau 6

Part 8 : DMI 3 - Kembali Ke Pak Sam 1

Part 9 : DMI 3 - Kembali Ke Pak Sam 2

Part 10 : DMI 3 – Siap kah Kau Untuk Jatuh Cinta Lagi?

Part 11 : DMI 3 - Bocah Astral

Part 12 : DMI 3 - Mendua Dalam Astral

Part 13 : DMI 3 - Indahnya Mendua

Part 14 : DMI 3 - Pertempuran 1

Part 15 : DMI 3 - Pertempuran 2

Part 16 : DMI 3 - Dead End

Part 17 : DMI 3 - Not Alone

Part 18 : DMI 3 - Berperang Kembali 1

Part 19 : DMI 3 - Berperang Kembali 2

Part 20 : DMI 3 - Berperang Kembali 3

Part 21 : DMI 3 - Kemenangan

Part 22 : DMI 3 - Pagelaran Wayang di Merapi

Part 23 : DMI 3 - Jagad Gumelar

Part 24 : DMI 3 - Harus Memilih

Part 25 : DMI 3 - Good Bye

Part 26 : DMI 3 - Restu

Part 27 : DMI 3 - Legenda Raden Rangga

Part 28 : DMI 3 - Usaha Terakhir

Part 29 : DMI 3 - Menyelamatkan Arya

Part 30 : DMI 3 - Sesuatu Tak Terduga

SIDE STORY :

PULANG 1

PULANG 2

MEMBUKA MATA KETIGA PART 1

MEMBUKA MATA KETIGA PART 2

MEMBUKA MATA KETIGA PART 3

TANGISAN ARWAH 1

TANGISAN ARWAH 2

TANGISAN ARWAH 3

TANGISAN ARWAH 4

HILANG 1

HILANG 2

GERBANG DIMENSI IMOGIRI 1

GERBANG DIMENSI IMOGIRI 2

Jon Sansiro Story :

Story 1 : Gundul Pringis


Sekarang Mas Yus juga sudah merambah spotify. Dengarkan celoteh dan obrolan Mas Yus yang akan selalu menghantui anda di Podcast Mas Yus di Spotify. Cekidot

Spotify Mas Yus - Diary DImensi Ketiga

Top 5 Astral Feminim selain Kuntilanak

Top 5 Pesugihan Underrated

[/QUOTE]
Mas Yus sekarang sudah punya Channel Youtube judulnya Ngopi Mistis alias Ngobrol Pokoknya Intinya Mistis. Jangan lupa Share, Like, dan Subscribenya yaaaa







[/QUOTE]


Penampilan Perdana di TV, di Acara KERAMATINews

Sebuah acara bertema kan penelusuran tempat-tempat angker dan keramat. Menguak misteri-misteri yang tersimpan di dalamnya. Bersama paranormal dan host-host kece. Tayang setiap hari SABTU dan MINGGU, pukul 20:30 WIB. Hanya di channel INEWS

Kalau ketinggalan programnya nggak usah khawatir, subscribe channel youtubenya : https://www.youtube.com/channel/UC5c...H0tQ3l49G-_rtw

Ini penampakan pertama Mas Yus dalam episode Keramat :

1. Misteri Gedung Biru Kalimalang - Bekasi



2. Setan dilarang masuk - Bioskop Atoom Citeureup



3. Misteri Sinden Marni - Studio Alam TVRI Depok



4. Misteri Sumur 7- Sumur 7 Beji Depok



5. Pastur Tanpa Kepala VS Nenek Gayung - Makam Jeruk Purut



7. Jangan Fitnah Setan - Bekas Pabrik Ciputat





Anda bertanya Indigo Menjawab. Sekali-sekali coba bikin konten di youtube. Isinya tentang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke Instagram diarymataindigo09. Penasaran? Klik Linknya....
Jangan lupa like nya :







[/QUOTE]


Quote:



Quote:


Cek Juga karya ane yang lain ya Gan..

DIARY MATA INDIGO SEASON 1

DIARY MATA INDIGO SEASON 2

EKSPEDISI KRAMAT - HIDDEN STORY

DARK SIDE INDONESIAN FAIRYTALE


BUAT TAMBAH PENGETAHUAN :

1. Melihat Hantu Tanpa Mata Ketiga / Indra Keenam

2. Kenali Jenis-Jenis Distorsi Pada Anak Indigo

3. Thread Kaskus yang jadi Novel

4. Gunung-gunung yang memiliki Pasar Setan

5. 5 Fakta yang jarang orang ketahui tentang Pocong

Quote:


Quote:


Quote:


DIARY MATA INDIGO - SEASON 3 : THE NEXT LEVEL
by Rido Irdam
Diubah oleh jeniussetyo09 02-03-2020 09:42
bandarlagunaAvatar border
c4kr4d3w4Avatar border
recktryAvatar border
recktry dan 82 lainnya memberi reputasi
77
1.5M
3.5K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
jeniussetyo09Avatar border
TS
jeniussetyo09
#2769
SIDE STORY - MEMBUKA MATA KETIGA PART 2

“Kaak.... Sakit Kak..... Sakit......”. Rica merintih pelan. Tinus tidak mampu berkata apa-apa lagi. Dirinya hanya bisa menenangkan Rica dan memohon berteriak pada sopir pick up itu. Agar lebih cepat sedikit. Bergegas membawa Rica dan dirinya ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan. Dilihatnya mulut Rica tidak berhenti mengeluarkan darah. Semakin lama semakin banyak.

Belum sampai di rumah sakit Tinus sudah kehilangan kesadaran duluan. Saat sadar, dirinya sudah berada di ruangan ICU. Beberapa teman kuliah sudah datang menengoknya. Dan saat itu juga, Tinus mendapat kabar kalau Rica sudah ada di kamar jenazah.

Tinus terbangun dari tidurnya bagaikan tersadar dari mimpi buruk. Sinar matahari yang terang masuk menerobos jendela rumah sakit tempatnya di rawat. Di sebelahnya sudah ada Yus dan Mbak Lova, Kakak kelasnya yang juga Kakak angkat Rica. Mbak Lova memang satu kos dengan Rica. Kedekatan mereka akhirnya membuat hubungan mereka jadi seperti Kakak Adik. Kepada dua orang itu Tinus merasa sangat bersalah. Kalau Mbak Lova karena telah membuat nya kehilangan Rica, sedangkan kalau Yus karena telah membuatnya kehilangan motornya.

“Yus.... Maaf Yus..... Gara-gara Aku, motor mu.....”. Tinus tidak mampu meneruskan kata-kata nya. Dirinya terlalu malu gara-gara rasa bersalah.

“Sudah Tin.... Nggak apa-apa..... Kebetulan itu motor diasuransiin kok”. Yus menjawab ringan. Ekspresinya tampak datar, tanpa ada kesan marah atau tidak terima. Sebaliknya malah berusaha menenangkan dan menjaga perasaan Tinus.

“Mbak Lova.... Rica.....”. Entah kenapa setiap menyebut nama itu, Air mata Tinus kembali meleleh. Mbak Lova juga tampaknya masih sangat terpukul dengan kepergian Rica. Namun sikap Mbak Lova tampak lebih dewasa. Berusaha menerima semua kejadian ini sebagai sesuatu yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Iya Tin.... Rica sudah dibawa kemarin ke Medan. Dimakamkan di sana. Sudah lah, yang berlalu biarlah berlalu. Ini sudah jalan nya. Yang penting sekarang kamu nya Tin. Cepat pulih. Sehat kembali”. Mata Tinus kembali berkaca-kaca. Satu sisi lega, sekaligus terharu dengan kebesaran hati Yus dan Mbak Lova.

Tinus menceritakan semuanya. Bagaimana kejadiaan naas itu terjadi. Bagaimana menyesalnya hidupnya saat ini. Yus dan Mbak Lova hanya bisa mendengarkan. Mereka berdua tahu kalau Tinus perlu menceritakan semuanya. Supaya segala beban dan kegelisahan nya setidaknya berkurang. Selesai menceritakan semuanya mata Tinus kembali menerawang. Menatap kosong ke depan. Kadang dirinya masih tidak percaya begini jadinya. Seandainya dirinya waktu itu tidak mengajak Rica. Seandainya waktu itu dirinya memilih untuk tidak ke Semarang. Seandainya waktu itu dirinya lebih berhati-hati. Seandainya..... Seandainya......

“Aku kadang masih merasakan Rica ada di dekatku Yus.... Kemarin tiba-tiba ada seekor kupu-kupu masuk ke kamar ini. Kayaknya itu memang dia. Habis itu Aku bisa mencium baunya. Walaupun nggak kelihatan, tapi Aku tahu dia datang......”. Kata-kata Tinus membuat Yus hanya menghela napas. Siapapun yang mendengar nya pasti akan merasa miris. Mata Mbak Lova sampai berkaca-kaca mendengarnya.

“Mungkin memang dia mampir datang nengokin kamu Tin. Pengen ngobrol kayak dulu mungkin.....”.Sebenarnya Mbak Lova hanya bermaksud menghibur, tetapi Tinus malah menanggapinya serius. Tinus malah balik bertanya

“Lho? Bukan nya kalau meninggal biasanya langsung ke surga atau neraka ya Mbak?”. Tinus bertanya heran. Sedangkan Mbak Lova malah gelagapan. Tidak siap dengan pertanyaan Tinus. Dipikirnya Tinus tidak akan sampai bertanya seperti itu.

“Ehh... Emmm..... katanya sih kalau sebelum 40 hari orang yang meninggal biasanya jiwa nya masih ada di alam manusia Tin. Nggak langsung pindah ke sana......”. Mbak lova coba menjelaskan sebisanya. Walaupun pikiran nya sebenarnya kurang yakin juga dengan kata-katanya

“Masak sih Mbak? Emang bener kayak begitu? Mbak tahu darimana?”. Tinus malah ingin kembali diyakinkan. Satu sisi memang terlihat dirinya sangat berharap. Keinginan nya untuk bisa kembali bertemu dan melihat Rica tampak dari tatapan matanya.

“Kata nya Aku punya Eyang sih begitu. Dia pernah cerita seperti itu. Mangkanya kalau tradisi Jawa ada 40 hari, 100 hari, 1000 hari. Itu untuk menandakan proses perpindahan nya. Jadi memang nggak langsung pindah. Tanya aja Si Yus tu kalau nggak percaya. Dia kan Dukun.......”. Yus cuma bisa melotot ke arah Mbak Lova. Sepertinya kurang begitu suka dengan julukan yang diberikan.

“Tapi Aku juga pernah dengar dari Adi, waktu ikut bantu-bantu panitia Makrab di Kaliurang. Katanya memang kamu bisa lihat makhluk halus ya? Indigo.... indigo begitu ya? Emang bener itu Yus?”. Tinus mulai jadi ikut bertanya. Pertanyaan itu membuat Yus jadi agak terpojok. Sangat terlihat dia sama sekali kurang nyaman dengan pertanyaan itu.

“Nggak kok.... itu cuma gosip..”. Tukas Yus pendek. Dia seperti tidak mau memperpanjang pembicaraan. Namun hal itu malah justru membuatnya terlihat menutupi sesuatu.

“Tapi Aku pernah lihat pas Makrab, kamu kan sempat bantu nyembuhin orang-orang yang kesurupan juga kayaknya. Nggak mungkin kamu bisa nyembuhin orang-orang itu kalau kamu nggak punya kemampuan apa-apa Yus.....”. Pertanyaan Tinus cukup telak. Yus tidak mampu mengelak lagi. Lagi pula sepertinya memang tidak ada yang perlu ditutupi.

“Yaaa... nggak yang gimana-gimana kok. Cuma memang dari kecil suka bisa lihat yang begitu-begitu. Cuma itu. Mending bahas yang lain. Buat apa juga yang begitu dibahas....”. Yus berusaha menghindari pembicaraan lebih lanjut dari pertanyaan Tinus. Sepertinya dia paham kalau hal itu malah akan menjadi pembahasan yang panjang nantinya.

“Kalau begitu kira-kira apakah Rica masih ada di sini Yus?”. Pertanyaan Tinus kali ini membuat Yus terdiam. Seperti serba salah. Bingung mau menjawab apa.

“Yus... tolong jujur Yus....... tolong bilang yang sebenarnya.... Apakah Rica ada di dekat kita sekarang?”. Yus masih terdiam. Malah mengarahkan pandangan nya ke Mbak Lova. Seolah meminta bantuan dan petunjuk. Bagaimana dirinya harus menjawab.

“Sudah Yus dijawab saja apa ada nya. Apa pun jawaban mu kita percaya kok”. Jawaban Mbak Lova jelas tidak membantu. Yus jadi tidak enak hati. Bagaimanapun dirinya menghargai prinsip pertemanan. Pelan kemudian Yus mengangguk.

“Iya... dia masih di sini....”. Jawaban Yus tidak hanya membuat mata Tinus kembali berkaca-kaca, namun Mbak Lova pun juga sampai hampir menangis. Yus lalu memandang ke arah sebuah kursi kosong yang terletak tidak jauh dari tempat tidur Tinus. Melihatnya seakan dirinya memperhatikan seseorang yang sedang duduk di situ.

“Dia ada di sana........”. Tinus malah menangis semakin sesenggukan mendengar kata-kata Yus. Mbak Lova sampai turut menenangkan nya sambil ikut menangis. Tangan Tinus sesekali membuat gerakan memukul-mukul dadanya sendiri. Menunjukkan penyesalan nya yang sangat dalam.

“Tolong Yus, tolong..... kamu bisa ajarin Aku supaya bisa lihat kayak kamu? Aku pingin lihat dia Yus. Walau sebentar, ijinin Aku buat lihat dia sekaliii saja Yus. Aku pingin lihat dia. Pengen ketemu dan ngomong kalau Aku nggak akan pernah lupain dia......”. Tiba-tiba Tinus mencengkeram tangan Yus erat. Dirinya berusaha memohon sekuat tenaga, supaya Yus mengabulkan permohonannya.

“Aku... Aku nggak bisa Tin......”. Yus berusaha menolak permintaan Tinus dengan halus. Tangan nya berusaha melepaskan cengkeraman tangan Tinus.

“Tolong Yus..... tolong....... Aku tahu kamu bisa. Aku pernah lihat di acara TV. Orang-orang kayak kamu punya kemampuan membuat orang lain bisa melihat yang nggak kelihatan. Kamu pasti bisa Yus... Please......”. Tinus mulai agak memaksa. Sepertinya hasratnya untuk bisa melihat Rica lagi begitu besar. Malah seperti orang yang setengah lupa diri.

“Jangan Tin.... jangan.... Kamu nggak tahu dampaknya bakal seperti apa......”. Yus berusaha menyadarkan Tinus. Mencoba menjelaskan bahwa apa yang diminta nya itu bukan sesuatu yang worth it dengan resiko nya.

“Tolong Yus... tolong.... Aku bakal bayar berapa pun yang kamu minta. Kalau perlu Aku tukar tambah motor mu yang rusak sama Moge ku. Aku kasih buat kamu. Atau apa pun yang kamu minta Yus. Tapi tolong. Bantu Aku supaya bisa lihat Rica, Ajarin Aku caranya Yus.....”. Yus dengan keras menarik tangan nya. Melepaskan nya dari tangan Tinus. Membuat Tinus langsung tertunduk dan kembali sesenggukan. Yus sebenarnya tidak tega melihatnya. Tapi permintaan Tinus jelas merupakan permintaan yang absurd.

“Sori Tin, Aku nggak bisa....”. Yus lalu pamit duluan dan meninggalkan Tinus dan Mbak Lova berdua. Keluar dari kamar bangsal itu sebelum Tinus kembali meracau dan memaksanya lagi. Ada perasaan tidak enak sebenarnya yang menggelayuti pikiran Yus. Namun dirinya memaksa tidak menghiraukan nya.

Keesokan harinya sehabis kuliah hukum perdata islam, ternyata Mbak Lova sudah menunggu Yus di depan ruang kuliah. Sepertinya ingin membicarakan suatu hal.

“Yus bisa ikut sebentar? Penting...”. Mbak Lova lalu menunjukkan sebuah pesan SMS dari sebuah nomor, yang katanya mengaku sebagai Kakak dari Tinus. Orang itu mengajak untuk bertemu di warung Bakso Pak Pri di Kantin kampus Sanata Dharma (Sadhar). Kebetulan kampus Atma Jaya tempat Yus dan Mbak Lova Kuliah, tidak terlalu jauh jaraknya dari Kampus Sanata Dharma. Hanya tinggal menyeberang jalan saja.

“Ya sudah yuk kita ke sana....”. Yus lalu mengiyakan ajakan itu. Ternyata di sana sudah menunggu Kak Karmel. Dia Kakaknya Tinus. Kak Karmel ternyata mahasiswi tingkat lanjut Jurusan Bahasa Inggris di Kampus Sadhar. Sebentar lagi dia wisuda. Setelah memperkenalkan diri dan berbasa-basi sejenak, Kak Karmel menjelaskan maksud nya mengajak Yus dan Mbak Lova bertemu

“Jadi kemarin Tinus berusaha bunuh diri. Dia sengaja memecahkan gelas kaca untuk dia minum lalu menyayat nadinya. Untung perawat langsung datang dan memeriksa nya. Tinus bisa diselamatkan. Tapi yang jelas Kakak khawatir dia bakal melakukan nya lagi”. Cerita Kak Karmel jelas membuat Yus dan Mbak Lova terkejut. Tidak menyangka kalau Tinus akan berbuat senekat itu.

“Akhirnya semalam Kakak ajak dia ngobrol. Dia bilang pingin sekali melihat dan bertemu Rica. Dia bilang untuk Kakak menyampaikan ini terutama sama Yus. Tolong Tinus dibantu supaya bisa melihat Rica”. Yus hanya bisa mengucap sumpah-serapah dalam hati. Teman nya yang bernama Tinus itu memang tidak pernah belajar menjadi dewasa. Selalu saja menyusahkan orang lain dan menyusahkan dirinya sendiri. Kembali Yus bingung harus berbuat apa. Sebodo amat sebenarnya kalau Tinus mau bunuh diri, tapi satu sisi dirinya memang tidak tega. Satu hal juga permintaan itu juga beresiko tinggi. Bagaikan buah simalakama.

Tiga hari berselang, Yus kembali datang ke rumah sakit menjenguk Tinus. Dirinya menyusuri bangsal dengan langkah malas. Rumah sakit bukanlah tempat yang disenangi nya. Karena di tempat itu dirinya banyak sekali melihat penampakan. Seandainya bukan karena terpaksa, dirinya tidak akan datang hari itu ke rumah sakit Bethesda tempat Tinus dirawat. Sengaja diri nya hari itu datang sendiri. Dirinya ingin bicara empat mata dengan Tinus.

Pintu kamar tempat Tinus dirawat dibiarkan setengah terbuka. Sepertinya memang sengaja dibuat seperti itu agar jika terjadi apa-apa, orang yang berada di luar bisa segera mengetahui.

Pelan Yus membuka pintu kamar itu dan melongok ke dalam. Terlihat Tinus tergolek di tempat tidur dengan kondisi tangan dan kaki terikat. Dadanya bergerak naik turun lemah, dengan kepala menoleh ke samping. Tatapan nya kosong tanpa ekspresi. Mengarah pada bangku kosong yang berada di dekat tempat tidurnya. Seolah berusaha dan berharap dapat melihat sesuatu di bangku yang ada disebelahnya itu. Mencari secercah asa untuk melihat penampakan Rica yang tidak dapat dijangkau oleh mata nya.

Saat Yus memasuki ruangan, Tinus seperti tersadar. Sejenak kemudian tersenyum memandang ke arah Yus. Orang yang dinanti-nantikan nya akhirnya hadir.

“Yus, akhirnya kamu datang juga...”. Kata-kata Tinus itu tidak ditanggapi oleh Yus. Dengan wajah dingin, Yus melepaskan ikatan kaki dan tangan Tinus dari ikatan perban dan kain yang melilit di pinggir tempat tidur. Ikatan itu memang kemarin sengaja kembali dipasang, namun bukan karena Tinus berteriak-teriak dan mengamuk. Ikatan itu sengaja dibuat karena Tinus sudah 3 kali berusaha bunuh diri. Mulai dari dengan menyayat nadinya menggunakan pecahan kaca, sampai membentur-benturkan kepalanya sendiri ke tembok.

“Yus kamu mau bantu Aku kan? Kamu bisa ajarin Aku supaya Aku bisa lihat Rica? Kamu bisa bikin Aku lihat dia kan?”. Entah kenapa pertanyaan Tinus justru menyulut emosi Yus. Dengan satu gerakan Yus menarik dan mencengkeram bagian dada kaus berkerah yang dikenakan Tinus. Mata nya menatap tajam ke arah Tinus. Yus yang biasanya tenang dan kalem kali ini tampak marah sekali.

“Kamu itu nggak tahu apa-apa Tin....”. Kata Yus masih dengan posisi mencengkeram kerah baju Tinus. Nada suara nya seperti orang yang siap menghajar siapa pun yang ada di depan nya.

“Tapi.... tapi Aku lebih baik mati daripada menanggung semua ini Yus. Sekali saja Aku pingin lihat dia. Aku cuma pingin minta maaf. Aku cuma pingin bilang kalau Aku nggak akan melupakan dia seumur hidupku”. Mata Tinus untuk kesekian kali nya kembali berkaca-kaca. Tatapan Yus langsung melunak saat melihatnya. Berganti dengan ekspresi kebingungan dan galau.

Yus melepaskan cengkeraman tangan nya dan menghempaskan tubuh Tinus ke kasur. Raut muka nya bingung bercampur kesal. Melemparkan pandangan nya ke arah lain dengan bimbang sambil berkacak pinggang. Berjalan acak ke segala arah dengan gelisah. Sulit mengambil sikap.

“Tolong Yus... sekali saja. Sebentar saja. Supaya Aku bisa move on. Aku janji akan lakukan apa pun yang kamu mau. Aku bakal turutin semua yang kamu bilang. Asal kamu mau ajarin dan bikin Aku bisa lihat yang kamu lihat....”. Yus menatap Tinus dengan ekor mata nya. Posisi tubuhnya membelakangi Tinus. Dirinya sengaja melakukan itu karena tidak ingin Tinus melihat wajahnya yang bingung karena serba salah. Sepertinya tidak ada pilihan.Yus hanya bisa menghela napas dan menghempaskan nya dengan berat

"Oke lah Tin, kalau itu memang mau mu....". Dengan berat hati Yus akhirnya menyetujui. Dirinya sadar, sudah terjebak oleh kemauan Tinus.

“Tapi kamu harus janji Tin. Pertama jangan pernah coba-coba bunuh diri lagi. Kedua Aku hanya akan lakukan itu kalau kamu sudah sembuh dan keluar dari rumah sakit”. Wajah Tinus mendadak sumringah. Secercah harapan yang diberikan membuat semangat hidupnya kembali. Seandainya dia bisa bangkit, ingin dirinya memeluk Yus dan berterima kasih. Mencium tangan nya sebagai tanda hormat dan kepatuhan

“Dan satu lagi. Secara resiko, Aku cuma bisa meminimalisir. Tapi secara prinsip, dirimu yang sepenuhnya menanggungnya bila ada”. Tinus sebenarnya tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud dari kata-kata itu. Namun dirinya dengan mantap mengiyakan dan tidak terlalu memikirkan nya

“Baik Yus... Aku setuju”. Yus mengulurkan tangan nya ke arah Tinus sebagai jabat tanda persetujuan. Dan Tinuspun membalas jabatan tangan itu erat-erat tanda dirinya pun setuju.

Setelah itu semangat Tinus untuk sembuh meningkat drastis. Obat rajin diminumnya. Gairah makan nya juga meningkat. Padahal sebelumnya boro-boro dia menyantap makanan yang dihidangkan. Sampai pada saat terapi, untuk memulihkan fungsi tulang-tulang pergerakan nya pun semua dijalani dengan serius. Padahal terapi itu sangat berat dan menyakitkan. Tetapi semua dijalaninya tanpa mengeluh. Semangat dan tekadnya untuk sembuh luar biasa. Janji Yus yang dipegangnya untuk bisa membuatnya melihat Rica benar-benar membuat semangat hidupnya kembali 100%. Dokter yang merawatnya pun sampai dibuat geleng-geleng kepala dengan semangatnya. Sampai akhirnya Tinus diperbolehkan pulang, dan dokter menyatakan dirinya bisa beraktifitas seperti sedia kala.
axxis2sixx
mmuji1575
sipandia
sipandia dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.