- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#727
Quote:
PART 49
Kepulan asap disertai aroma manis yang khas dari cappucino favoritnya, terlihat tak menarik minat Medina sama sekali. Bukan karena ia mengubah seleranya , tapi karena tempat yang di pilih Tirta sore ini membuat mood baiknya seketika terjun bebas.
Medina masih tidak paham kenapa Tirta harus mengajaknya ke tempat ini. Dari sekian banyak coffeshop yang ada di kota, kenapa harus di cafe tempat Adam bekerja dulu?
“ Gue turut prihatin soal Nando. Dan...soal kak Adam juga.” Tirta membuka pembicaraan lebih dulu, setelah cukup lama keduanya hanya saling diam dan sibuk dengan pikiran masing – masing.
Medina mengangguk kecil, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berharap bisa menemukan sosok Adam. Walau kemungkinannya hanya 1:0.
Ya...Adam tidak mungkin berada di sini, jika ia sungguh – sungguh ingin pergi.
“ Lo nyari’in apa?” tanya Nando membuat Medina terkesiap.
“ Nggak. Bukan apa – apa kok,” jawab Medina cepat, sambil terus berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“ Sekali lagi sorry ya, gue nggak habis pikir ternyata bokap gue punya niat buruk sama karya lo,” sesal Tirta dengan tatapan sendu.
“ Nggak perlu minta maaf, lo nggak salah. Bokap lo begitu karena dia mau lo jadi yang terbaik,” jawab Medina santai.
Ia juga sudah tidak ingin ambil pusing dengan karyanya yang nyaris jadi korban plagiat ayah temannya sendiri.
“ Tapi nggak dengan mencuri karya orang lain terus menyematkan nama gue di sana.Jelas itu curang. Dan Itu bukan hal yang bisa bikin gue bangga,” kesal Tirta yang masih belum bisa melupakan pemicu pertengkarannya dengan ayahnya di kantor pagi tadi.
Sebelum Medina datang ia memang sempat terlibat adu mulut dengan sang ayah, karena ia tak terima ayahnya mencuri karya Medina hanya unuk membuatnya jadi penulis hebat. Ayahnya yang tak terima di salahkan, justru melayangkan beberapa pukulan padanya.
Hidup Tirta sungguh menyedihkan, saat ia ingin melakukan hal baik, justru ia harus di pukul hingga babak belur.
“ By the way Terima kasih juga ya,” ucap Tirta usai meneguk blackcoffee miliknya, tanpa tahu jika Medina sudah tak nyaman berada di tempat ini.
“ Terima kasih buat apa?”
“ Terima kasih karena udah nggak pergi dan tetap berada di sini, saat orang lain justru takut berteman sama gue.”
“ Nggak perlu berterima kasih, itu udah tugas gue sebagai sahabat lo.”
Tirta menghela nafas dan tersenyum hambar,”Sahabat?”
“ Iya.”
“ Apa kekhawatiran lo atas kecelakaan yang menimpa Nando juga atas dasar persahabatan?” tanya Tirta dengan tatapan curiga.
Medina mengernyit heran,” Kenapa lo tiba – tiba bahas soal Nando?”
“ Jawab aja, Na. Gue Cuma pengen tahu, apa pandangan lo ke gue sama dengan pandangan lo ke Nando?”
“ Ta, kita ke sini untuk sama – sama cari jalan keluar soal masalah lo, bukan ngurusin soal Nando ataupun gue,”
Medina sedikit kesal dengan sikap yang di tunjukkan Tirta.
Tak seperti biasanya Medina yang mudah meledak – ledak saat marah, kali ini memilih untuk tetap tenang. Ia tahu resiko macam apa yang akan ia dapat jika ia juga ikut larut dalam emosi saat menghadapi orang seperti Tirta.
“ Na, lo tahu persis baik gue ataupun Nando nggak pernah sekalipun melihat lo sebagai seorang sahabat,” Tirta melempar senyum sinis pada Medina yang menurutnya sangat naif. “ Gue minta lo jujur sama perasaan lo, lo lebih pilih gue atau Nando?”
“ Sumpah ya, gue nggak habis pikir sama lo. Saat lo lagi ada masalah sama bokap lo, lo malah lebih mentingin soal kita bertiga?” Medina semakin di buat kesal dengan sifat kekanak-kanakan Tirta.
“ Gue pulang. Kita lanjutin obrolan kita setelah pikiran lo kembali sehat.”
Dengan perasaan kesal Medina berjalan cepat menuju pintu keluar cafe.
Ternyata tak semudah itu menahan amarah. Jika sudah begini bagaimana bisa ia membantu Tirta, sedangkan dirinya sendiri juga perlu di tolong dalam meredam emosinya.
Tirta tidak tinggal diam, ia menyusul Medina hingga keluar cafe. Saat posisinya telah dekat dengan Medina, ia spontan menarik pergelangan tangan Medina serta mencengkramnya erat.
“ Kenapa lo malah kabur? Apa susahnya sih Na jawab pertanyaan gue?” tanya Tirta dengan senyum sinis dan sorot mata yang tajam.
Medina merasa Tirta menjadi sangat menyeramkan sekarang, Medina yang tak pernah kenal kata takut, dan bisa dengan mudah melawan setiap tindakan kasar dari orang lain, kini terpaku ditempat dengan wajah cemas.
Apa tidak apa – apa jika ia melawan? Bagaimana kalau Tirta jadi lebih beringas seperti ayahnya? Medina tak ingin mati konyol.
“ Gue tahu, diakan yang ada di hati lo saat ini?” tanya Tirta dengan suara yang semakin berat tapi masih tak kunjung dapat jawaban dari Medina.
Sekalipun cengkraman tangan Tirta semakin erat dan semakin menyakitinya, Medina masih tetap membisu. Baginya diam lebih baik daripada melawan yang akan semakin menambah amarah Tirta.
“ JAWAB NA!!” hardik Tirta dengan wajah merah padam. Teriakannya sukses memancing perhatian orang di sekitar parkiran cafe. Anehnya tak ada satupun yang berani menolong.
Hingga tiba - tiba...
Buggg!!Satu pukulan keras menghantam rahang tegas Tirta bahkan sedikit membuat luka sobek di sudut bibirnya.
Sementara Medina melongo bengong melihat siapa yang datang memukul Tirta, bahkan ia harus beberapa kali mengucek matanya karena saking tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Nando.
***
Mobil sedan porsche berwarna putih melintas cepat di jalanan ibu kota. Nando yang berada di balik kemudi mobil mewah itu sangat bersyukur, perjalanannya tidak harus terjebak macet kali ini. Apalagi ia ingin segera bertemu Medina dan memberitahukan jika ia baik – baik saja. Sungguh, ia sangat merindukan gadis itu.
Sebelum ke rusun, Nando berbelok memasuki pelataran parkir salah satu coffeshop favoritnya dan Medina. Satu gelas cappucino hangat sepertinya bisa jadi pilihan yang tepat untuk mengawali pertemuannya dengan Medina.
Baru saja turun dari mobil, Nando sudah di kagetkan dengan keributan kecil di depan cafe. Dua orang yang terlibat pertengkaran itu tak hanya memancing perhatian Nando tapi juga semua orang yang ada di sana. Bahkan dari dalam cafe.
Awalnya Nando tidak mau peduli dengan adegan bak sinetron itu, tapi saat posisinya kian dekat ke arah cafe, ia merasa sangat mengenali dua orang itu.
Iya, tidak salah lagi itu Tirta dan Medina. Emosi Nando tersulut melihat perlakuan kasar Tirta pada Medina.
Tanpa pikir panjang, ia berlari mendekati keduanya dan langsung mendaratkan pukulan keras tepat di rahang tegas Tirta.
Bukannya mengaduh kesakitan , Tirta justru tertawa. Tapi Nando memilih untuk mengabaikan itu, memastikan Medina baik – baik saja, jelas lebih penting baginya.
“ Na...lo nggak apa – apakan?” tanya Nando sambil membenahi kacamatanya yang sedikit melorot dari hidung mancungnya.
Pertanyaan Nando tidak mendapat jawaban dari Medina, gadis itu malah bengong dengan sorot mata tak terbaca.
Nando maklum, ia yakin gadis itu masih shock melihatnya yang muncul tiba – tiba. Semoga saja...Medina tidaak mengira Nando sebagai arwah gentayangan.
“ Br**gsek!!” Dengan emosi yaang semakin membludak Tirta mencoba melayangkan pukulan balasan pada Nando, tapi respon Nando cukup cepat. Ia dengan gesit menangkis pukulan itu dan langsung menendang area perut Tirta dan sukses membuat Tirta jatuh mencium aspal.
“ Na, ayo pergi,” ajak Nando dan berlalu pergi sambil menarik ujung tas yang di kenakan Medina. Ia tak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk berkelahi dengan Tirta. Satu pukulan dan satu tendangan sepertinya sudah lebih dari cukup untuk memberi peringatan pada pria itu.
Oh...iya soal Medina, gadis itu masih membisu dengan tatapan tak terbaca mengarah pada Nando. Bahkan hingga berada di dalam mobilpun, gadis itu masih dengan kebengongannya. Hal itu membuat Nando sedikit...risih. Iya tatapan Medina lebih mirip tatapan orang yang melihat makhluk halus.
Come On Medina, nggak ada makhluk halus seganteng gue.
Pletak!!
Satu pukulan keras mendarat tepat di kepala Nando hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
“ Auwww...lo apa – apa’an sih?”
“ NANDO!! Ini benaran lo?!” jerit Medina spontan.
“ Iyalah,” ketus Nando sambil mengusap kepalanya yang masih sakit akibat tindakan tak terduga Medina.
“ Lo masih hidup? Alhamdulillah.”
Wajah ceria Medina turut memancing senyuman Nando, bahkan saking bahagianya Medina jadi menangis haru. Ia berusaha menyembunyikan air mata itu, tapi gagal karena Nando telah melihatnya lebih dulu.
Apa gue tega membohongi perempuan sebaik ini?
●●●
Diubah oleh riani14 14-10-2018 23:31
1
Kutip
Balas