- Beranda
- Stories from the Heart
50 Episode Keistimewaan
...
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan

Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.
Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.
Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.
INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arako.santo93
#34
Episode 11
Resep Rahasia
Halo teman-teman. Apa kabar kalian? Di Jepang sudah memasuki musim gugur dan udaranya mulai dingin. Kalau begini jadi ingat ketika musim hujan di kota istimewa. Udaranya dingin dan sangat pas untuk makan mie rebus sambil ditemani teh hangat.
Ngomong-ngomong soal mie rebus, aku akan ceritakan pengalamanku tentang sebuah rumah makan ternama di kota pelajar. Rumah makan itu adalah rumah makan tionghoa. Nama restaurant nya pun sangat kental dengan budaya tionghoa. Sejak dari kecil aku selalu makan di situ. Namun tidak pernah sekalipun aku makan di tempat itu. Aku selalu membawa pulang masakannya dan menyantapnya di rumah. Alasannya adalah nenekku punya trust issue terhadap kebersihan piring di restaurant. Sehingga tidak pernah sekalipun aku makan di restaurant.
Sampai saat aku berada di kelas 3 SMP. Rumah makan itu berada sangat dekat dengan SMP ku. Dan restaurant itu tepat bersebelahan dengan sebuah bank yang dulunya adalah bangunan untuk beribadah kaum tionghoa. Hari itu program ekstrakulikuler dibatalkan karena hujan. Dinginnya hujan membuat otakku berfantasi tentang hangatnya kuah kaldu dari mie rebus, di tambah dengan empuknya udang dan bakso yang terasa gurih di mulut. Tanpa pikir panjang aku mengajak Fitri dan kebetulan ada Sia juga kala itu. Dengan hanya membawa satu payung kami bertiga menuju ke restaurant.
“Makan mie rebus sewaktu hujan, ditambah berdekatan dengan Sia. Benar-benar hari yang sempurna” begitu pikirku dalam hati sambil tersenyum. “Heh ngapain senyum-senyum sendiri!” seperti biasa Fitri merusak kebahagiaanku. Aku tidak menjawab dan menyikutnya agar berhenti mengoceh. Setibanya di restaurant kami memesan makanan untuk bertiga. Ada cap cay goreng, fu yung hai kepiting, dan tentunya mie rebus favoritku. Sembari menunggu pesanan, kami mengobrol dengan beragam topik.
Fitri: “Ra, kita jadi gak e rekamannya” tanya nya. (Aku dan Fitri dulu memang satu band di sekolah)
Aku: “Ya ayo, kan kemarin dah tak kirim sample laguku”
Sia: “Ara bisa bikin lagu juga ya. Bikinlah buat aku satu” kata nya dengan nada merayu
Aku: “Iya besok deh aku bikinin ya” jawabku ogah-ogahan. Dalam hati aku menggerutu “udah dulu nolak aku, pake minta dibikinin lagu lagi. Dasar kaleng krupuk!”
Sia: “Yaaah, kok gitu jawabnya. Yauda deh gak usah gapapa” gerutunya menyadari nada bicaraku
Aku: “Iyaa kok iyaa dibikinin. Tapi terima dulu dong jadi pacar” jawabku menggoda
Sia: “Dibikinin dulu baru diterima”
Fitri: “Buka warung pak, bu? Pake negosiasi segala. Anggurin aja terus saya” katanya dengan nada kesal
Kata-kata Fitri itu membuat aku dan Sia tertawa terbahak-bahak. Tidak lama kemudian pesanan kami pun sampai. Aroma makanan yang begitu lezat benar-benar membuat kami kalap. Kami langsung mengambil makanan tersebut dengan cekatan dan menyantapnya.
Dan disinilah awal pengalaman burukku yang merusak semua kenangan manisku tentang mie rebus. Ketika asik menyantap makanan, aku merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangku. Aku menoleh dan tidak melihat siapapun di sana. Ketika bersiap menyantap makananku lagi, perasaan itu muncul kembali. Aku melihat Fitri dan Sia yang duduk di depanku. Mereka tidak terlihat seperti menyadari kehadiran seseorang di belakangku. Kembali aku menengok ke belakang, dan kali ini aku melihat ada seseorang, atau lebih tetapnya sesosok makhluk berdiri tepat di belakangku.
Badannya kurus kering tapi perutnya buncit. Posturnya tinggi tapi bongkok, mungkin tingginya hampir 2 meter. Kulitnya berwarna hitam, rambutnya sangat tipis, matanya cekung ke dalam dan hidung serta mulutnya saling terhubung. Yang membuatku ngeri adalah seluruh tubuhnya dipenuhi borok berwarna putih mengkilat seolah akan segera pecah. Aku tidak bisa apa-apa karena dia tepat di belakangku. Ditambah lagi, aku tidak mau Fitri dan Sia menganggap aku anak aneh karena aku yakin mereka tidak sadar atas kehadiran makhluk ini. Segera aku memalingkan wajah kembali ke meja makan dan berusaha bertingkah wajar.
Sampai saat tangan makhluk itu bergerak tepat di samping telingaku. Tangannya berderit seperti bunyi gigi ketika bergesekan. Tangan itu bergerak kearah makanan kami. Hingga pada akhirnya dia mencelupkan jari nya yang penuh borok ke makanan kami. Setelah itu aku mendengar suara angin dari belakangku “wuushh”, dan makhluk itu hilang. Tidak! Dia tidak benar-benar hilang. Dia berpindah ke meja lain untuk melakukan hal yang sama. Setelah menyadari itu aku tidak bernafsu lagi untuk makan, jadi aku menggegas Fitri dan Sia untuk pulang.
Sejak saat itu aku tidak pernah makan lagi di restaurant itu. Bahkan butuh waktu beberapa bulan untuk kembali bisa menyantap makanan restaurant itu. Hingga saat ini pun aku tidak pernah makan di sana lagi. Aku pasti hanya memesan untuk di bawa pulang. Kalau teman-teman bertanya kenapa aku masih mau makan masakan restaurant itu, jawabannya adalah karena super enak
. Soal rasa, restaurant ini adalah Top 5 restaurant di kota istimewa menurutku. Kalian juga harus coba ya teman-teman.
Resep Rahasia
Halo teman-teman. Apa kabar kalian? Di Jepang sudah memasuki musim gugur dan udaranya mulai dingin. Kalau begini jadi ingat ketika musim hujan di kota istimewa. Udaranya dingin dan sangat pas untuk makan mie rebus sambil ditemani teh hangat.
Ngomong-ngomong soal mie rebus, aku akan ceritakan pengalamanku tentang sebuah rumah makan ternama di kota pelajar. Rumah makan itu adalah rumah makan tionghoa. Nama restaurant nya pun sangat kental dengan budaya tionghoa. Sejak dari kecil aku selalu makan di situ. Namun tidak pernah sekalipun aku makan di tempat itu. Aku selalu membawa pulang masakannya dan menyantapnya di rumah. Alasannya adalah nenekku punya trust issue terhadap kebersihan piring di restaurant. Sehingga tidak pernah sekalipun aku makan di restaurant.
Sampai saat aku berada di kelas 3 SMP. Rumah makan itu berada sangat dekat dengan SMP ku. Dan restaurant itu tepat bersebelahan dengan sebuah bank yang dulunya adalah bangunan untuk beribadah kaum tionghoa. Hari itu program ekstrakulikuler dibatalkan karena hujan. Dinginnya hujan membuat otakku berfantasi tentang hangatnya kuah kaldu dari mie rebus, di tambah dengan empuknya udang dan bakso yang terasa gurih di mulut. Tanpa pikir panjang aku mengajak Fitri dan kebetulan ada Sia juga kala itu. Dengan hanya membawa satu payung kami bertiga menuju ke restaurant.
“Makan mie rebus sewaktu hujan, ditambah berdekatan dengan Sia. Benar-benar hari yang sempurna” begitu pikirku dalam hati sambil tersenyum. “Heh ngapain senyum-senyum sendiri!” seperti biasa Fitri merusak kebahagiaanku. Aku tidak menjawab dan menyikutnya agar berhenti mengoceh. Setibanya di restaurant kami memesan makanan untuk bertiga. Ada cap cay goreng, fu yung hai kepiting, dan tentunya mie rebus favoritku. Sembari menunggu pesanan, kami mengobrol dengan beragam topik.
Fitri: “Ra, kita jadi gak e rekamannya” tanya nya. (Aku dan Fitri dulu memang satu band di sekolah)
Aku: “Ya ayo, kan kemarin dah tak kirim sample laguku”
Sia: “Ara bisa bikin lagu juga ya. Bikinlah buat aku satu” kata nya dengan nada merayu
Aku: “Iya besok deh aku bikinin ya” jawabku ogah-ogahan. Dalam hati aku menggerutu “udah dulu nolak aku, pake minta dibikinin lagu lagi. Dasar kaleng krupuk!”
Sia: “Yaaah, kok gitu jawabnya. Yauda deh gak usah gapapa” gerutunya menyadari nada bicaraku
Aku: “Iyaa kok iyaa dibikinin. Tapi terima dulu dong jadi pacar” jawabku menggoda
Sia: “Dibikinin dulu baru diterima”
Fitri: “Buka warung pak, bu? Pake negosiasi segala. Anggurin aja terus saya” katanya dengan nada kesal
Kata-kata Fitri itu membuat aku dan Sia tertawa terbahak-bahak. Tidak lama kemudian pesanan kami pun sampai. Aroma makanan yang begitu lezat benar-benar membuat kami kalap. Kami langsung mengambil makanan tersebut dengan cekatan dan menyantapnya.
Dan disinilah awal pengalaman burukku yang merusak semua kenangan manisku tentang mie rebus. Ketika asik menyantap makanan, aku merasakan ada seseorang yang berdiri di belakangku. Aku menoleh dan tidak melihat siapapun di sana. Ketika bersiap menyantap makananku lagi, perasaan itu muncul kembali. Aku melihat Fitri dan Sia yang duduk di depanku. Mereka tidak terlihat seperti menyadari kehadiran seseorang di belakangku. Kembali aku menengok ke belakang, dan kali ini aku melihat ada seseorang, atau lebih tetapnya sesosok makhluk berdiri tepat di belakangku.
Badannya kurus kering tapi perutnya buncit. Posturnya tinggi tapi bongkok, mungkin tingginya hampir 2 meter. Kulitnya berwarna hitam, rambutnya sangat tipis, matanya cekung ke dalam dan hidung serta mulutnya saling terhubung. Yang membuatku ngeri adalah seluruh tubuhnya dipenuhi borok berwarna putih mengkilat seolah akan segera pecah. Aku tidak bisa apa-apa karena dia tepat di belakangku. Ditambah lagi, aku tidak mau Fitri dan Sia menganggap aku anak aneh karena aku yakin mereka tidak sadar atas kehadiran makhluk ini. Segera aku memalingkan wajah kembali ke meja makan dan berusaha bertingkah wajar.
Sampai saat tangan makhluk itu bergerak tepat di samping telingaku. Tangannya berderit seperti bunyi gigi ketika bergesekan. Tangan itu bergerak kearah makanan kami. Hingga pada akhirnya dia mencelupkan jari nya yang penuh borok ke makanan kami. Setelah itu aku mendengar suara angin dari belakangku “wuushh”, dan makhluk itu hilang. Tidak! Dia tidak benar-benar hilang. Dia berpindah ke meja lain untuk melakukan hal yang sama. Setelah menyadari itu aku tidak bernafsu lagi untuk makan, jadi aku menggegas Fitri dan Sia untuk pulang.
Sejak saat itu aku tidak pernah makan lagi di restaurant itu. Bahkan butuh waktu beberapa bulan untuk kembali bisa menyantap makanan restaurant itu. Hingga saat ini pun aku tidak pernah makan di sana lagi. Aku pasti hanya memesan untuk di bawa pulang. Kalau teman-teman bertanya kenapa aku masih mau makan masakan restaurant itu, jawabannya adalah karena super enak
. Soal rasa, restaurant ini adalah Top 5 restaurant di kota istimewa menurutku. Kalian juga harus coba ya teman-teman.0