Kaskus

Story

Dauh.TukadAvatar border
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini  ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<

Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.

Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman

Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????

Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
 Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu

Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah  (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.

Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu

Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:

Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)

Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.

Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.


Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku

Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya  aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
arieaduhAvatar border
pulaukapokAvatar border
senjaperenunganAvatar border
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
Dauh.TukadAvatar border
TS
Dauh.Tukad
#29
Bagian 9 ( Selamat Dari Kiriman Gaib )
Sore itu selepas maghrib segera kuraih kunci motor bebek yang tergantung di tembok ruangan depan di ruang tamu, tak ingin menyia-nyiakan karna hari ini mau ada janji dengan teman karib atau lebih tepatnya sahabatku sedari SMA ini. Papa yang melihat gelagatku hanya berkata: Pulang jam berapa Le???.......... Kujawab jam 11 Pah,....... sambil memakai jaket lalu kucium tangan papaku dan pamit berangkat. Aku terlalu takut mengajak Ririe keluar, lagipula mau diajak jalan kemana???...... duit juga pas-pasan, selain itu Ririe juga lebih suka menghabiskan waktu dengan keluarganya. Sesampainya di Rumah sahabatku di bilangan jalan Ahmad Yani Denpasar, ternyata disana sudah berkumpul beberapa temanku yang lain. Agenda malam itu bagi yang tidak punya pasangan hanya sekedar putar-putar keliling kota, sambil godain cewek cantik mengendarai matic yang mulai marak di kotaku. Sampailah di tempat nongkrong kami, sebagian teman-temanku menyukai game online CS yang lagi marak saat itu. aku hanya sekedar melihat saja, ikutan main juga nggak pernah bisa dan selalu kalah duluan kena tembak.

Perut lapar dan aku segera mencari penjual nasi goreng didekat situ, sambil menawarkan diri pada teman-teman kali saja ada yang mau nitip sekalian. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 lewat, aku pamit duluan karna janji pulang jam 11 malam ini malah sudah kelewatan jam pulang. Semoga saja Papaku sudah tidur (batinku berkata begitu)....... Kupacu motor bebekku dengan cepat agar segera sampai di rumah, beruntung jalanan Denpasar di tahun itu lewat jam 10 malam sudah sangat sepi.

Sesampainya di rumah, pelan-pelan ku buka pintu gerbang.... Kumasukkan motor dengan didorong pelan-pelan agar tak menimbulkan kegaduhan. Motor akhirnya sukses aku parkir di lorong yang posisinya berada diantara rumah dan gudang. Setelah memarkirkan motor. Kutengok dari balik pintu dengan berhiaskan kaca rada hitam yang menjadi pintu utama masuk ke rumahku, terlihat dengan jelas papaku sudah lelap dalam tidurnya hingga dengkurannya dapat kudengar. Yaahh!?!?!!........ Tivi nonton orang ini, tapi untunglah. Kalo belum tidur bisa dipijat sapu ini punggungku. Sambil perlahan-lahan membuka kunci pintu terdengar suara eraman Aaaaarrrrggh..... Aaaarrgghh....... Aaaaarrrgghhh..... begitu kutengok sebelah kananku ASTAGFIRULLAH!!!!....... gemetar sekujur tubuh saat dengan jelas melihat Papaku menyeringai dengan tatapan matanya yang tajam.

Masih tak percaya dengan yang aku lihat, kembali pandangan kualihkan ke ruang tamu dan disana masih jelas terlihat papaku yang tertidur dengan tivi masih menyala. mana mungkin bisa ada dua orang papaku. AARRRGGHHH....... teriakan itu terdengar tepat disebelah kananku yang hanya berjarak kurang dari dua meter, disertai bau busuk seperti bangkai tikus mati. karna saking kaget dan takutnya, aku pun tergesa-gesa masuk ke dalam hingga akhirnya membangunkan Papaku yang tertidur. tentu kalian tahu sendiri..... Setelah itu aku kena omelan, kuping kena jewer dan yang parah kunci motor disita otomatis selama seminggu ke depan aku berjalan kaki ke sekolah. Untungnya besok minggu jadi masih ada kesempatan buat rayu Papaku. setelah itu segeraku sikat gigi dan ambil wudhu karna tadi belum sholat isya. Aku ceritakan pengalaman itu ke sahabat-sahabatku di komplek perumahan, jawaban mereka ternyata sama. Pernah melihat penampakan Papaku saat mereka menginap di rumahku. Padahal jelas-jelas saat itu Papa dan Mama sedang mengantarkan adekku berobat ke Jakarta, ada rasa penasaran menghinggapi hatiku.

Malam pun tiba, selepas sholat isya sengaja pindah ke kamar sebelah. kamar yang biasa dipakai sebagai mess untuk pegawai Papaku yang hari itu sedang tidak ada orang karena sedang pergi keluar. tivi kunyalakan kemudian genjrang-genjreng gitar sayur menyanyikan beberapa lagu. Tak terasa jam di kamar menunjukkan pukul 10 malam, segeraku ambil wudhu lalu balik lagi ke kamar karyawan Papaku. Gelar sajadah lanjut Wiridan sembari mengkhususkan untuk penunggu rumah tersebut, sekedar ingin berinteraksi secara batin saja. DEEGH...... Batinku berdesir lalu ada seorang lelaki yang berat dan berwibawa dalam hati bertanya.....

Penunggu: Ada apa memanggilku..... mau nantang???
saya: bukan mbah..... ( keringat mulai terasa membasah badan dan bulu kuduk berdiri) hanya mau nanya aja. Sering ada penampakan bangsanya Mbah menyerupai Papaku itu sebenarnya siapa??........
Penunggu: Itu aku....... Aku yang menjaga keluargamu secara gaib
Saya: Lantas kenapa harus menyerupai Papaku???.......
Penunggu: yaa.... Karna Papamu kepala keluarga di rumah ini dan sudah tugasku memantau jika ada yang mencurigakan.
Saya: Apakah keluarga di rumah ini pernah lihat ketika mbah berubah wujud menyerupai Papaku??.....
penunggu: Tidak...... Aku lebih sering menampakkan diri kepadamu karna kamu ini bandel dan sering pulang melewati persetujuan dengan orang tuamu.
Saya: Biklah mbah..... makasih banyak sudah memberitahu saya..... Assalamu'alaikum
Penunggu: Yaa..... Wa'alaikumsalam.
Akhirnya ada sedikit jawaban yang kutemukan walaupun sebenarnya ingin bertanya lebih banyak lagi tapi sengaja aku urungkan niat karna teringat saat di sebuah Khutbah Jumat, Khatib berkata bahwa sebaik-baiknya bangsa Jin adalah seburuk-buruknya manusia, tetap berhati-hati karna mereka diciptakan dengan penuh tipu daya.

Namanya orang usaha pasti ada saja gangguan, baik itu secara langsung atau "lewat belakang" dan beberapa kali pernah terjadi pada keluarga kami. Alhamdulillah kami masih dalam Lindungan Tuhan sehingga tidak sampai kena gangguan gaib. Sekali aku pernah kena "kiriman Gaib" (katanya ya ) dibagian betis sebelah kanan, oleh orang yang tidak suka dengan usaha Papaku. seperti biasa aku yang badung pulang lewat tengah malam dan anehnya sosok yang menyerupai Papaku tidak hadir menggangguku. saat akan melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu tiba-tiba betis sebelah kanan terasa nyeri, panas dan kesemutan hebat. Segera aku masuk ambil air wudhu dan setelah itu mengurut betisku sambil mengucapkan Istigfar berkali-kali. Saat itu aku tidak tahu, kalo terkena gangguan kiriman gaib dan setelah kejadian itu betis kanan serasa mati rasa, sampai aku coba tusuk pake jarum jahit hingga masuk lebih dari satu centimeter tetap tak kurasakan. Bodohnya kejadian ini sengaja aku rahasiakan dari kedua orang tuaku, hingga ketika saya pulang jumatan dengan membonceng Papa, ingin rasanya menceritakan kejadian yang ku alami bila nanti sudah sampai rumah. Begitu sampai rumah dan masuk garasi mobil, kami dikejutkan dengan suara salam yang santun dan hangat dari seorang lelaki tua mengendari sepeda onthel dengan kemeja koko putih, peci putih, tesemat kain Rida' dipundak dan bersarung kotak-kotak coklat. jika menaksir umurnya bisa jadi sudah diatas 70 tahun namun fisiknya masih terlihat bugar, kemudian percakapan pun berlanjut:

Kami: Wa'alaikumsalam
Papa: Iya mbah,..... mencari siapa ya???.........
mbah: begini Pak, saya seperti diarahkan kesini oleh oleh Gusti ALLAH.... ijinkan saya untuk masuk dan melihat-lihat rumah Bapak??....
Papa: emang ada apa ya mbah???..... kok pengen masuk Rumah saya??
mbah: jika Bapak mengijinkan, mungkin kita nanti akan tahu maksud kedatangan saya kesini.
Papa: ( dengan wajah heran melihatku dan aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju ).......... Ayo kalo gitu mbah kalo pengen lihat-lihat rumah saya.
Mbah dan kami pun masuk ke rumah kemudian Mamaku bertanya pada Papa, siapa itu Pah??..... Entahlah??? katanya pengen lihat rumah ini dan bantuin kita kata Papaku. Mamaku hanya memperlihatkan wajah heran dan menggelengkan kepala, lalu kembali melanjutkan memasak di dapur. Suasana halaman belakang ramai oleh kegiatan karena orderan Papa lagi ramai saat itu. kakek itu kembali ke garasi kemudian menyusuri halaman depan, sejurus kemudian terhenti di pagar tembok dekat gerbang. Segera kakek itu berjongkok dan mengambil sesuatu yang ternyata sebuah botol kecil persis botol parfum tester ukuran 1 mililiter. Kakek pun berkata padaku: Nak..... coba kamu bakar di dalam tungku bara api tempat Bapakmu itu (sambil menunjuk kearah tunggu yang menyala diatasnya ditaruh drum besar yang sudah diisi air, berfungsi untuk meluruhkan malam dan obat kain agar menempel di kain).

Aku pun menuruti lalu kubuang kedalam tungku yang berisi kayu bakar yang sedang menyala, lalu aku pun kembali bergabung dengan Papa dan Kakek tersebut. lalu kakek berkata: Pak.... Banyak yang tidak suka dengan usaha Bapak ini, ini anak Bapak jadi korban kiriman gaib. untungnya kena dibetis sebelah kanan dan anak Bapak ini ternyata kuat menahan kiriman gaib yang ada dibetisnya.

Papa: (dengan wajah kaget) kamu kena kiriman gaib Nak???.....
Saya: entahlah.... Pah??? Cuman betis ini serasa mati rasa, jangankan dicubit.... ditusuk jarum aja nggak kerasa, kalo malam kadang serasa ketarik-tarik uratnya cuman ya aku tahan aja Pah....
Mbah: Sini Kakek coba bantu obatin ya Nak.......
saya: Boleh mbah, jika saya bisa sembuh
Mbah: saya hanya berusaha masalah bisa tidaknya hanya ALLAH SWT yang punya kuasa Nak..... Tolong belikan saya telur ayam kampung 3 atau 5 butir ya....

diminta tolonglah adekku untuk membeli telur ayam kampung di warung dekat rumah, setelah adekku datang membawa 5 butir telur ayam kampung, dibersihkan dan direndam kedalam baskom berisi air biasa saja..... iyaa air biasa saja tanpa embel-embel apapun. Lalu kakek terebut menegadahkan tangan sambil berdoa setelah itu mulailah diambil salah satu telur yang ada di baskom sambil digosokan ke betisku..... Aaaaarrrr.... Aduuuduhh...... Aaaaarrrggh..... Sakit, Mbah hanya tersenyum. kakek tersebut lalu berkata:.... tolong ambilkan piring atau mangkok, saya mau pecahkan isinya. bergegaslah Mamaku mengambilkan piring lalu diberikannya pada kakek itu. Kemudian dipecahkannya telur ayam kampung itu, serempak kami berucap ASTAGFIRULLAH HAL AZIM...... Sungguh aneh tapi nyata, telur yang dipecahkan itu berisi 2 buah Paku berukuran kurang lebih 7 centimeter. Tak masuk diakal telur sekecil itu berisi paku sebesar itu. Kembali digosokkannya telur berikutnya dan aku pun kembali meringis kesakitan dan seperti yang pertama kawan, lagi-lagi telur itu berisi 2 buah paku namun agak kecil kira-kira paku 5 centimeter. Tahan ya Nak!!... ini yang terakhir, kata si Kakek itu........Aaaaarrrr.... Aaaarrrghh.... Aduuuduhh...... Aaaaarrrggh..... dan isinya juga sama paku besi lagi seperti yang kedua kawan. Setelah selesai kami berdoa bersama dan Kakek berkata kembali pada kami yang sedang berkumpul di ruang tamu.

Mbah: botol kecil yang kamu bakar tadi gimana nak???....
Saya: nggak tahu mbah tadi saya tinggal gitu saja
Mbah: Ayoo.... sama-sama kita lihat
Begitu ditungku untuk merebus kain, kakek tersebut meminta kepada karyawan Papaku untuk menyingkir dan meminta sebuah kayu untuk mencari botol yang aku buang ke dalam tungku tadi. Setelah agak lama mencari ternyata botol tersebut masi utuh dengan warna membara seperti bara arang. Diambillah botol itu menggunakan sekop oleh salah satu pegawai Papaku lalu disiram dengan air kemudian kembali Kakek itu menengadahkan tangan dan berdoa, kemudian memberikan aba-aba...... Setelah aku masukkan kedalam tungku kita semua harus menyinggir. Benar saja tak berapa lama terjadi sebuah ledakan BUUMBBB..... bunyi ledakan tidak keras seperti BOM akan tetapi diikuti oleh sebuah gumpalan api yang besar dan tinggi mengarah ke langit, untung saja tungku tempat merebus kain saat itu atapnya sudah tidak ada dan belum sempat diperbaiki.
Alhamdulillah..... Insya Allah sekarang bapak sekeluarga sudah aman, kalo begitu saya mohon pamit dulu. Papaku lalu berkata..... saya antar sampai rumah ya mbah??...... Tidak usah saya pulang naik sepeda saja kata si Kakek menimpali ucapan Papaku. Assalamu'alaikum...... Pak Ibu saya mohon pamit dulu, lalu dikayuhnya sepeda itu hingga sampe di depan jalan rumahku Kakek itu belok ke kiri. Papaku masih penasaran, maka segeralah mengambil kunci motor dengan maksud ingin mengejar kakek itu. Logikanya orang naik sepeda gayung dengan sepeda motor, tentu yang naik sepeda motor akan dengan mudah menyusul pengendara sepeda gayung. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya kawan, Papaku tak menemukan Kakek itu, bahkan bertanya kepada tetangga dimana jalan itu dilewati mereka mengatakan tidak ada kakek-kakek lewat pakai sepeda gayung.

Diubah oleh Dauh.Tukad 17-10-2018 18:38
doelviev
redrices
a.wicaksono
a.wicaksono dan 12 lainnya memberi reputasi
11
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.