Kaskus

Story

arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan
50 Episode Keistimewaan
Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.

Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.

Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.

INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
arako.santo93Avatar border
TS
arako.santo93
#31
Episode 10
Lik Sri

Pengalaman kali ini aku aku dapatkan ketika lebaran. Hari suci di mana konon para makhluk gaib dikurung selama 30 hari. Tapi aku percaya bahwa mereka akan selalu ada untuk menggoda kita seperti yang mereka ikhrarkan kepada Sang Pencipta.

Hari lebaran tahun itu sama seperti lebaran sebelumnya. Sanak saudara saling bersilaturahmi dan mengucapkan maaf atas kesalahan yang mereka buat. Di rumahku ada tradisi bahwa setiap lebaran nenekku akan membuat lontong opor yang luar biasa lezat. Di rumah kalian ada tradisi apa teman-teman?

Hari pertama selalu kami habiskan di rumah. Kami menunggu para tamu yang datang untuk bermaafan. Hanya pada bulan lebaran aku merasa anak kecil di kompleks ku begitu banyak. Mereka datang untuk silaturahmi dan tentunya untuk mendapat amplop emoticon-Big Grin.

Hari kedua aku bersama keluarga selalu bersilaturahmi ke rumah nenek dari ayahku dan menginap 3 hari di sana. Rumahnya ada di kota di mana jasad sang proklamator Indonesia bersemayam. Cukup jauh kami menempuh perjalanan menggunakan mobil. Tapi rasa lelah di perjalanan melebur ketika keluarga besar ayahku menyambut kami ketika kami sampai. Rumah nenekku ini sangat sederhana, tapi aku selalu merasa sangat-sangat nyaman berada di sini. Hawanya sangat sejuk dan tentram.

Tidak jauh dari rumah nenekku, di sana ada rumah budhe (kakak dari ayahku). Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumahnya karena di sana ada beberapa kakak sepupu yang hampir seumuran denganku. Selepas sholat maghrib, aku bersiap berkunjung ke rumah budhe ku.

Aku: “Mbah, pamit rumiyin badhe dateng dalemipun budhe (eyang saya pamit dulu mau ke rumah bude)”
Eyang: “Ya le, ora maem disik ta? (Iya nak, apa tidak makan dulu?)”
Aku: “Sampun kok mbah, mangke wonten dalemipun budhe ugi maem (sudah kok eyang. Nanti di rumah budhe juga makan lagi)”
Eyang: “Yauwis ati-ati”

Kakakku sudah lebih dulu berangkat ke rumah budhe ku dari sore tadi. Perjalanan ke rumah budhe ku tidak lebih dari 10 menit dengan jalan kaki. Tapi sepi nya jalanan dan redupnya lampu penerangan membuatku berimajinasi yang tidak-tidak. Sesaat setelah aku berjalan, dari belakang aku dengar suara sandal jepit yang diseret. Aku berusaha tidak memperdulikannya karena aku pikir itu hanyalah orang yang berjalan di belakangku. Semakin lama suaranya semakin dekat dan membuatku tidak nyaman. Aku akhirnya menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun. “Sial ternyata di sini ada juga” pikirku sembari mempercepat langkah.

Tidak lama kemudian suara itu muncul kembali. Kali ini suara langkahnya sudah tidak diseret lagi. Langkah itu seperti berlari. Aku pun ikut berlari karena aku tidak mau dia menyusulku. Aku terkejut setengah mati ketika merasakan ada genggaman tangan di pergelangan kakiku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak saat itu. Pagar rumah budhe ku sudah dapat terlihat, tapi aku sama sekali tidak dapat bergerak. Aku berdoa sambil memalingkan wajahku ke arah belakang. Aku liat seorang perempuan tua bersimpuh sembari memegangi pergelangan kaki ku.

Rambutnya putih bergelombang. Bajunya kaos berwarna merah dengan celana pendek berwarna hijau tua. Dia menatapku sambil tertawa. Aku pejamkan mataku dan berdoa, hingga aku rasakan genggaman itu hilang. Secepat kilat aku berlari menuju rumah budhe ku. Di sana ada budhe, kakak ku, kakak sepupuku dan juga dua keponakanku. Mereka semua terkejut melihat ku begitu terengah-engah.

Budhe: “Ngapa le? Ana apa? (Kenapa nak? Ada apa?)”
Kakak sepupu: “Ho oh ngopo to le? (iya kenapa sih?)”

Aku saat itu bingung harus berbohong apa. Tentunya aku tidak ingin semuanya tau aku memiliki keanehan ini. Budhe ku seolah menyadari itu dan mengajakku ke dapur.

Budhe: “Ngapa le? Enek medi ta? (Kenapa nak? Ada hantu ya?)” tanyanya sambil menyodorkan air putih kepadaku
Aku: “Inggih bude, wonten simbah-simbah ngoyak kula (Iya budhe, ada nenek-nenek ngejar saya)”
Budhe: “Kuwi mesti lik sri le. Pas lebaran wingi nggantung neng wit rambutan kulon kali (Itu pasti lik sri nak. Lebaran kemarin gantung diri di pohon rambutan barat sungai)”
Aku: “Menapa inggih budhe? Lik sri menika kados pripun wujud e? (Apa iya budhe? Lik sri itu orangnya kayak gimana?)”

Budhe ku lalu mengambil sebuah foto. Di foto tersebut ada banyak wanita paruh baya dan orang tua. Rupanya itu adalah foto liburan anggota arisan yang diadakan dua bulan lalu.

Budhe: “Iki lho le lik sri (Ini lho lik sri)” katanya sambil menunjuk satu wajah di foto
Aku: “Inggih budhe menika budhe! (Iya budhe ini budhe!)” kataku masih setengah tidak percaya
Budhe: “Ayo kene ndonga karo budhe kene (Ayo sini berdoa sama budhe)”

Aku hanya mengangguk dan mengamini doa budhe ku. Lantas kami kembali untuk berkumpul di ruang tengah. Budhe ku memberi kode ke kakak sepupuku, dan kakak sepupuku seperti mengerti. Dia lalu pergi ke belakang dan mengambil air. Lalu menyiramkan di sekeliling rumah. Setalah itu idak ada lagi yang membahas topik itu.

Malam itu aku menginap di rumah budhe ku karena terlalu takut untuk kembali ke rumah nenek. Aku tidur di kamar kakak sepupuku. Kamarnya berada di paling depan dekat teras. Ada jendela besar yang langsung terhubung dengan gang samping rumah. Saat aku mencoba untuk memejamkan mataku, aku dengar ketukan pelan di jendela.

Suaranya berirama. Setiap ketukan memiliki jeda seperti suara metronome. Aku berfikir itu adalah anak kecil yang usil jadi aku tidak menghiraukan. Lagi pula aku tidak tidur sendiri kala itu. Ada kakak ku dan kakak sepupuku yang tidur bersamaku jadi aku tidak terlalu merasa takut. Hampir 20 menit ketukan itu terus berlanjut. Karena tidak tahan dengan berisiknya suara itu, aku menyibak gorden dan bersiap untuk mengumpat anak-anak usil itu.

Tapi pemandangan yang aku lihat di luar jendela bukanlah anak-anak yang sedang mengusiliku, aku lihat telapak kaki berwarna biru kehitaman tergantung 30 cm dari tanah. Lalu ku melihat celana hijau dan kaos merah yang masih sangat aku ingat. Dan ketika aku melihat wajahnya, seutas tali berwarna hijau terlilit di lehernya, membuat seluruh wajahnya berwarna biru. Lidahnya terjulur keluar. Seluruh badannya mengayun ke depan ke belakang sehingga jari kakinya mengetuk-ngetuk jendala kamarku. Beberapa detik aku terpaku oleh pemandangan mengerikan yang aku lihat, sampai kakak sepupuku dari belakang menutup gorden dan berdoa. Sesaat kemudian suara ketukan itu menghilang.
Malam itu benar-benar malam yang sangat panjang. Kakak sepupuku dengan baik hati menemaniku menghisap rokok dan meminum kopi sampai pagi. Pagi harinya kami berdua terkapar karena sama sekali tidak memejamkan mata malam tadi.
0
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.