- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
...
TS
Dauh.Tukad
[TAMAT] Inilah Kisah Hidupku (Horor)
Ini Merupakan beberapa kisah hidup yang telah saya jalani kawan, beberapa hal kadang bisa dikatakan diluar nalar kita sebagai manusia. Akan saya ceritakan beberapa kisah ini saya coba untuk urut dari semenjak kecil, dimana kalian semasa kecil pasti punya yang namanya teman khayalan, entah itu sekedar khayalan atau memang makhluk tak kasat mata yang berkawan dengan kita kala itu sebagai teman bermain. Sama halnya dengan kalian kawan, saya juga memiliki kawan khayalan semasa kecil yang ternyata setelah saya ketahui "DIA" adalah mahkluk gaib dan juga beberapa pengalaman gaib yang saya alami hingga saat ini. Baiklah..... Agar tak terlalu lama menunggu, akan saya mulai kisah ini. Kisah berdasarkan pengalaman pribadi, dimana nama-nama dalam tokoh cerita ini sengaja saya samarkan agar menjaga dari kawan-kawan yang suka penasaran. Jika ada yang bertanya apakah saya ini INDIGO??? sejatinya susah untuk menjelaskan kepada kawan-kawan semua disini. Biarlah..... nanti akan ada saat dimana saya jelaskan dalam cerita ini. Oiyaa.... Sebelumnya saya mohon permisi dulu ama mimin dan momod serta para sesepuh kaskus dimari yang menghuni forum SFTH numpang cerita dimari dan mohon bimbingannya jika masih banyak kekurangan dalam penulisan cerita ini. Selain itu buat kawan yang sudah tahu siapa saya ataupun penasaran siapa saya ini?? lebih baik nikmati saja ceritanya, tidak usah KEPO ikuti RULES yang ada di SFTH ini. Terlepas dari kawan semua mau nanti akan bilang kalo cerita ini ini fiktif atau real itu hak kawan semua. Saya hanya sekedar berbagi bercerita. Semoga dari cerita saya ini ada hikmah dan kebaikan yang bisa diambil. Dan inilah kisah hidupku:
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Bagian 1 Teman Khayalan
Bagian 2 Bertemu Jin Qarin
Bagian 3 Pengalaman Horor Semasa Di Kampung
Bagian 4 Hijrah Ke Pulau Seberang
Bagian 5 Menutup Penglihatanku
Bagian 6 Mengenang Masa SMP
Bagian 7 Ada Cerita Dimasa SMA
Bagian 8 Pengalaman Mistis Kala SMA
Bagian 9 Selamat Dari Kiriman Gaib
Bagian 10 Memacu Adrenaline
Bagian 11 Si Pahit Lidah
Bagian 12 Teror Baksos Kuliah
Bagian 13 Baksos Mencekam
Bagian 14 masa Perkuliahan
Bagian 15 Masa Sulit
Bagian 16 Terpecah-Belah
Bagian 17 Astral Projection
Bagian 18 merajut Asa
Bagian 19 Gadis Penjual Kue
Bagian 20 Bermain Hati
Bagian 21 Penunggu kost
Bagian 22 Bertandang
Bagian 23 Sebuah Jawaban
Bagian 24 Bertemu Bapak
Bagian 25 Menyerupaiku
>>Lanjutan Story Inilah Kisah Hidupku<<
Bagian 1 Teman Khayalan
Sebut saja saya Santoso Lelaki Keturunan Jawa Tulen yang sampai sekarang ini saya masih menetap di sebuah Pulau yang terkenal dengan keindahan alam dan adat istiadatnya yang masih kental, Pulau yang terkenal dengan julukan pulau seribu Pura. Yappzzz..... disinilah saya berada saat ini kawan. Okee.... Kita Flashback ke masa saya kecil dulu ya, Saya kurang begitu ingat betul ketika kecil diasuh oleh nenek dan kakek saya di kota yang terkenal dengan julukan Kota Gadis. Hanya sedikit yang mampu saya ingat semasa kecil, nampaknya usia memang mempengaruhi memori ingatan. Ketika itu saya hanyalah anak kecil yang ditinggalkan oleh kedua orang tua saya merantau diluar pulau Jawa, tak ada satu pun kawan yang berteman dengan saya saat itu, sering kali saat pulang bermain saya akan tiba di rumah dalam keadaan menangis dan baju penuh noda tanah. Mungkin karna saya ini anak yang aneh dan sedikit gila??....... ya, kenapa saya bisa berkata begitu?? Karna yang saya ingat saat itu, kawan-kawan kecil saya menjauhi dan menganggap saya ini orang aneh, sering ngomong sendiri tak jelas dengan siapa saya berbicara. Kejadian itu terjadi dimana saya belum memasuki masa sekolah SD bahkan TK pun belum.
Disuatu siang yang terik sedang bermain sendirian di teras karna tak ada yang mau berkawan denganku sambil sesekali melirik ke arah jalan melihat kereta pengangkut tebu lewat, datanglah seorang anak kecil menggunakan gaun berwarna putih layaknya seorang putri raja yang sedan berulang tahun menghampiri saya yang masih bocah. kamu kok sendirian nggak main ama teman-temanmu???
Saya: ra gelem dolan ambek aku jarene aku kie aneeh??!!! eeehh..... koe kie sopo??? (nggak mau main sama aku, katanya aku ini aneh)
"SARI"
Saya: SANTOSO.... Sambil kuulurkan tangan kepada Sari untuk berkenalan dengannya dan kami pun berjabat tangan kemudian.... saya ingat betul benar-benar menjabat tangannya saat itu
Saya; Laah.... kok aku ndak tau kamu
Sari: iya.... baru saja pindah kesini, aku juga nggak punya teman
Tak lama kemudian kami sudah saling akrab, karna saat itu aku merasa Sarilah teman Pertama yang mau bermain denganku saat itu, yang kuingat Sari ini kulitnya putih rambut berponi dan lurus hingga sebahu. Tak terasa kami pun asiek bermain hingga Ketika nenek memanggilku untuk mandi, maka saat itu pulalah Sari pamit pulang kepadaku dan aku pun berkata "besok main sama aku lagi ya" IYA, jawab Sari kepadaku, kemudian berlari kearah jalan depan rumahku berbelok ke kanan. Ketika nenek menghampiriku bertanyalah Beliau, Ngobrol karo sopo Le????
Saya: Iku mbah Ibu (sebutan ku kepada eyang putri kala itu) ono cah wedog anyar ayu ngejak dolan aku neng kene (ada anak perempuan baru, cantik ngajak main disini)
Nenek: lhaaa..... terus dimana sekarang??
Saya: sudah pamit pulang mbah Ibu
Nenek: ya sudah sekarang mandi ya Nak
saya: nggih iya mbah Ibu
Hari berganti hari pun terlewati, saya sudah tak kesepian lagi karna setiap saya main di Teras rumah, entah darimana sosok Sari ini tiba-tiba muncul dan selalu dengan pakaian yang sama menemani ku bermain dan tak pernah terbesit pun rasa curiga kenapa Sari ini setiap menemuiku tak pernah berganti pakaian. Hingga suatu ketika sedang asyiknya kami bermain, nenek mengejutkanku dengan kehadirannya seraya berkata "ooohhh.... iki tho sing jenenge Sari??" seketika itu Sari kaget dan menjawab nggih mbah, Kulo pamit nggih mbah (iya, saya pamit ya mbah) kata Sari yang kemudian buru-buru lari meninggalkanku.
Nenek: lee..... jangan sering main dengan Sari, main sama teman lainnya kan banyak
Saya: Nggak.... aku cman dijadikan bahan ejekan saja, sambil nunjuk teman-teman yang sedang lewat depan rumah ingin bermain ke sawah sebelah rumah
Nenek: ya pokoknya jangan sering-sering mbah Ibu tidak suka
Saya: YOOO...... berlalu melewati mbah sambil mutung karna kesal teman bermain satu-satunya mendadak pulang.
Setelah merasa cukup lama mengenal Sari, aku pun menanyakan kepadanya dimana dia sebenarnya tinggal
Saya: Sari, sebenarnya rumahmu dimana??? aku pengen tahu!!!
Sari: ya... nanti aku tunjukkan, rumahku dekat kok
Saya: sekarang saja ya... aku pengen tahu
Sari: ya udah aku anterin ke rumahku, tapi kamu nggak boleh masuk rumahku ya, nanti nganterin aku sampai depan gerbang saja
Saya: gampang itu Sari, yang penting aku tahu rumahmu, aku kan bisa gantian main ke rumahmu
Sari: tidak usah.... Biar aku saja yang main ke rumahmu
Saya: gimana jadi nggak aku nganterin?? sampe depang gerbang rumahmu
Sari: Aayooo.... kalo gitu sekalian antarkan aku pulang
Kami pun berjalan sambil ngobrol ngalor ngidul entah apa yang saya obrolkan saat itu karna sudah benar-benar lupa dan yang saya ingat hanyalah pandangan orang-orang di kampung saya yang saya lewati melihat dengan tatapan aneh ke Saya. Tibalah di depan gerbang rumahnya Sari, rumah itu tak besar namun terlihat bergaya arsitektur modern saat itu. pagar dengan pondasi setengah meter yang kemudian bagian atas dilanjutkan dengan teralis besi. Rumah sederhana namun cukup mewah bagi orang kampung dijaman itu, dindingnya bercat putih dengan beberapa hiasan bunga anggrek tertempel dengan indahnya
Sari: ini rumahku ya sudah aku pulang ya..... kamu ndak usah ikut ke rumahku soalnya Bapakku galak, pokoknya jangan pernah main ke rumahku
Saya: masak sudah tahu rumahmu nggak boleh main ke rumahmu??
Sari: udahlah.... Kamu nggak usah keras kepala
Saya: iyo.... iyoo (sambil bersungut-sungut) Yaa...... ya udah aku balik pulang dasar pelit
Sari: tenang aja, besok aku pasti main ke rumahmu
Tapi ternyata pertemanan aku dengan Sari ini tak lama, karna sebelum Sari pamit untuk pindah keluar kota bersama keluarganya, dimana sebelumnya aku sempat ditunjukkan rumahnya yang berada dipinggir jalan yang masih sederet dengan rumah Eyangku namun ternyata jaraknya cukup jauh bagiku yang kala itu masih bocah. Aku pun sebenarnya sering kali mengantarkan Sari pulang hingga depan Pintu gerbang rumahnya. Hingga pada saat sedang beristirahat setelah keasyikan bermain Sari berkata kepadaku:
Sari: maaaf ya Santoso.... aku nggak bisa lama jadi temanmu
Saya: lhaaa... mangnya Bapakmu tidak senang kamu main denganku
Sari: bukan Santoso.... aku sekeluarga akan pindah karna Bapakku pindah tugas kerja
Saya; Ya udah nanti kabari ya kalo mau pindahan..... aku pengen ketemu terakhir kali sebelum pindah
Sari: Ra usah..... ]Nggak usah........ Nanti kalo aku sudah nggak pernah main kesini brarti aku sudah pindah......(dengan mimik muka sedih)
Saya: yo wes ayo dolan neh...
Sari: tapi tenang aja nanti kamu pasti punya teman seperti aku
Tau ndak..... saat itu permainan yang sering saya lakukan dengan Sari biasanya bermain masak-masakan atau bermain tanah, kadang pula bermain sembunyi-sembunyian yang entah saat itu saya juga lupa-lupa ingat permainan apalagi yang saya lakukan bersama dengan Sari.
Hingga tibalah saat Sari akan pindah, Dia datang seorang diri seperti biasanya saat dia datang untuk menemaniku bermain, namun kedatangannya kali ini ternyata untuk mengucapkan pamit perpisahan kepadaku, sungguh saat itu hatiku terasa amat pilu, teman satu-satunya harus pergi meninggalkanku
Sari: Santoso.... Santoso....... Maaf ya seumpama banyak kesalahan, aku sudah saatnya pindah (dengan mimik wajah sedih dan terlihat menitikkan air mata)
Saya: lhaaa....... Aku disini nggak punya teman, sipa yang mau berteman kecuali kamu SARI
Sari: Tenang aja nanti kamu juga pindah darisini, temanmu juga banyak nggak bakal kesepian, kamu bakal jadi orang besar, semua orang segan dengan kamu
Saya: beneran kamu pindah ( tak kuasa air mataku pun mengalir deras ) sambil terisak-isak dan terbata-bata.... Ayoo aku antar pulang, pokoknya aku antar pulang seperti biasanya ya...
Sari: tidak usah.... aku pamit yo (terlihat raut wajah kesedihan dari perpisahan antara aku dan Sari)
Kemudian Sari berjalan meninggalkanku yang masih menangis karna ditinggal satu-satunya teman terbaik yang selalu menemani, Tak menunggu lama aku pun berlari menyusul Sari yang masih tak jauh dari hadapanku sambil kupanggil-panggil namanya Sari...Sari...Sari... sesekali Sari menoleh dan tersenyum melihatku. Namun anehnya aku tak menyadari bahwa aku yang berlari kencang sambil menangis mengejar Sari yang berjalan rasanya tak juga bisa mendekatinya bahkan semakin menjauh di depanku, hingga saat aku lihat Sari memasuki gerbang rumahnya tiba-tiba saja rumah tersebut menghilang, berganti menjadi sebuah rumah yang sudah rusak di bagian sana-sini, jendela sudah pecah kacanya bahkan atapnya pun sudah berlubang. Bangunan rumah tersebut sama persis saat pertama mengantarkan Sari hingga depan gerbang rumahnya hanya saja kondisinya sangat-sangat jauh sekali berbeda dari sebelumnya, berbanding 180 derajat.
Saat itu aku masih tak percaya dengan penglihatanku..... masih menangis layaknya bocah yang kehilangan mainan kesayangannya sembari memanggil-manggil nama Sari di depan pintu gerbang yang sudah reyot itu. Melintaslah Pak Kamidi (bukan nama sebenarnya) melihat saya dengan penuh keheranan sedang menangis di depan rumah yang ternyata bagi warga situ merupakan rumah yang sangat angker.
Pak Kamidi: Lhaaa.... kenapa kamu nangis disitu Nak??
Saya: masih menangis tak menghiraukan perkataan Pak kamidi
Pak kamidi: Nak..... Ikut Bapak ya, nanti dianterin pulang sekalian mampir warung saya belikan jajan
saya: aku mencari temanku SARI Pak, tadi rumahnya disini, sekarang kok berubah rumahnya
Pak kamidi: (dengan wajah heran) ya sudah... besok saya antar lagi ke rumah SARi ya..... ayoo sekarang pulang ikut Bapak, sisan bapak gendong sekalian nyari jajajn kesukaanmu ya Nak
saya: aku pun menuruti permintaan Pak Kamidi dengan masih tetap menangis sesekali menyebut nama Sari.
setelah dari warung membeli jajan kesukaanku, diantarkannya aku pulang sampai ke rumah. Dirumah saat itu yang kuingat hanya Mbah Kung dan mbah Ibu saja. Berhari-hari aku diam di depan teras rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sesekali teman-teman sebayaku lewat memanggil namaku Santoso....Santoso... Ayo dolan neng sawah, tapi belum sempat aku menjawab sudah mereka jawab sendiri dengan mengatakan cah aneh kuwi rodo kenthir ojo dijak ngko melu edan.( orang aneh itu agak gila jangan diajak nanti ikutan gila )
Entah kapan.... waktu itu kedua orang tuaku pulang, bahkan aku tak mengenali kedua orang tuaku karna yang kutahu saat itu orang tuaku hanyalah mbah Kung dan mbah Ibu saja, bahkan merasa aku takut saat itu karna bertemu dengan orang asing yang mengatakan bahwa mereka itu kedua orang tuaku.
Bagian 2 ( bertemu Jin Qarin )
Sepasang orang dewasa yang datang ke rumahku itu mengaku sebagai kedua orang tuaku, dimana si Wanitanya saat itu sedang hamil besar, saat itu aku belum tahu kalo itu Ibuku. Saat itu aku merasa tidak tenang karna terdengar kabar jika nanti aku akan dibawa oleh mereka (kedua orang tuaku) pindah. Hingga pada suatu sore saat asyik bermain sendiri datanglah seorang anak perempuan cantik dengan senyumnya yang lucu memperlihatkan beberapa giginya yang ompong karna terlalu banyak memakan kembang gula. berpakaian agak tomboy dengan celana jeans pendek ala tokoh games mario bross, sayangnya aku lupa nama anak itu. namun aku merasa sangat akrab sekali seperti sudah sangat lama kenal dengan anak perempuan itu. Aku merasakan Dia itu seperti sodaraku sendiri, aku mengenalnya berbarengan dengan kedatangan kedua orang tuaku. Aku pun bertanya kamu anaknya om sama tante itu ya???
Anak Perempuan: ssstt..... jangan keras-keras aku ini adikmu
Saya: haaaah...... Adik darimana, aku kan ndak punya adik
anak perempuan: iyaa.... tapi bentar lagi aku akan jadi adikmu
tibalah hari dimana saat mamaku akan melahirkan adik ku yang sekarang, aku masih disibukkan dengan kegiatanku bermain dengan anak perempuan misterius itu. Suara erangan mamaku dibantu oleh mbah Ibu terdengar dari luar kamar bersalin. oiyaaa.... Saya lupa mengatakan kalo nenek/eyang adalah seorang Bidan yang buka praktek di rumah, sedangkan kakek pensiunan Pegawai pabrik Gula. Yang ternyata sebenarnya setelah aku Tahu bahwa kakek adalah salah satu orang penting yang menumpas pemberontakan terkenal yang terjadi di tahun 1965 di kota Gadis. Berkatalah si Anak perempuan misterius kepadaku
Anak perempuan: Waktunya sudah Tiba!! adikmu akan segera lahir dan aku yang akan menemani adikmu dilain sisi hingga akhir hayat.
Saya: maksudmu apa??? aku ndak ngerti
anak perempuan: sudah waktunya aku pergi, nanti ada saatnya kamu akan tahu sendiri
kemudian dia berlari menuju ruangan dimana mamaku sedang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan adik ku, aku pun mengejarnya hingga terlihat si anak perempuan ini masuk menembus kamar tersebut. ketika akan aku buka pintunya ternyata terkunci dan aku pun ditarik oleh eyang kakung agar tidak ganggu si mbah yang lagi membantu proses persalinan. Pecahlah tangis keras seorang bayi perempuan di ruang persalinan itu dan yang kutahu setelah mamaku merasa cukup lama dan bisa meninggalkan anak perempuannya. maka berangkatlah kembali merantau ke pulau seberang dengan papaku, aku juga tak ingat berapa lama kedua orang tuaku tinggal di kampung hingga saat mereka menitipkan lagi salah seorang anaknya dan akhirnya aku mulai tumbuh bersama adekku dalam asuhan mbah kung dan mbah Ibu. Disitu aku masih belum mengerti hanya merasa sosok adik perempuanku ini seperti sudah pernah kenal sebelumnya tapi entah dimana???..... seperti Dejavu dan aku baru tersadar saat akan memasuki masa SMP, dimana kubuka album foto semasa kecil. Disitu aku teringat jelas mulai dari pakaian, model potongan rambut bop hingga senyum lucu dihiasi gigi ompong karna terlalu banyak makan kembang gula. Ini akan anak perempuan misterius itu?? kenapa ini menjadi adekku ya?? siapa dia sebenarnya?? Pertanyaan itu aku simpan sangat lama hingga akhirnya aku dapatkan ketika sudah menginjak masa SMA dimana saat khutbah jumat berkumandang, dijelaskannya tentang Jin Qarin yang menemani manusia sedari lahir hingga ke liang lahat. Bertanyalah aku dalam hati.... jangan-jangan!! sosok anak perempuan misterius itu dulu adalah Jin Qarin adikku??? Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu Qarin dari orang yang saat itu belum lahir?? sampai sekarang masih menjadi misteri bagiku
Diubah oleh Dauh.Tukad 22-11-2018 19:00
senjaperenungan dan 45 lainnya memberi reputasi
46
117.6K
473
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Dauh.Tukad
#13
Bagian 6 ( Mengenang Masa SMP )
Bersyukur masa-masa SD kulalui sebagaimana manusia normal pada umumnya, tak pernah lagi melihat adanya penampakan makhluk gaib. Aku bisa menjadi manusia normal lagi, begitu kata yang kuucapkan dalam batin. Masa SD sudah kulalui dan dimasa SD ini sempat aku ingat bahwa kedua orangtuaku ingin memiliki anak lagi. Saat itu entah mengapa aku hanya bisa berdoa dalam diam, bahwa aku ingin memiliki adik kembar laki-laki dan Alhamdulilahnya Tuhan menjawab doaku itu. Walaupun sebelumnya ketika mama masih mengandung si bontot dari hasil USG sudah dipastikan kalo bayi yang lahir di dalam kandungan adalah perempuan, namun jika Tuhan berkehendak apapun dapat terjadi. Ujian kelulusan SD sudah kulalui, aku bukan anak yang pintar. Prestasiku biasa saja, nilai raport juga standar saja, karna jaman itu masih menyebut hasil akhir ujian dengan sebutan EBTANAS, maka hasil EBTANAS ku ternyata tidak memenuhi syarat untuk diterima di SMP negeri. Maka diputuskanlah untuk masuk sekolah swasta yang berbasis Agama Islam. Setelah aku masuk sekolah ini, aku lebih sering naik sepeda untuk pergi dan pulang sekolah. Sama seperti kebiasaan yang aku lakukan semenjak kelas 3 SD. Disini aku memiliki teman baru lagi, beradaptasi lagi dengan sekolah dan yang jelas teman-teman SD tak ada yang satu sekolah denganku lagi.
Seperti anak lelaki pada umumnya, aku pun juga sempat menyukai perempuan yang ada di sekolahku itu, yaaa.... Tetap saja, aku masih tidak Pede untuk mendekatinya. Hingga suatu saat ada seorang anak perempuan cantik pindahan dari kota dengan julukan Delhi van Java atau mutiara dari timur, nama seorang dara tersebut adalah...... Yang dalam bahasa Ibrani berarti Keanggunan. Sangat cantik, pantas saja orang orang tuanya menamakan seperti itu karna cantik yang elok nan anggun bagaikan hadiah terindah bagi keluarga tersebut. Walaupun.... Sebenarnya nama itu lebih sering digunakan oleh anak lelaki di sebenarnya. Tentunya beberapa remaja Pria di sekolahku banyak yang mengincar Dia karna ingin menjadikan Dia sebagai pacarnya, tak terkecuali Hilmi, remaja kurus tinggi semampai dengan sifat bengalnya juga ingin menjadikan Dia pacarnya yang kesekian.
Menginjak kelas 2 SMP, jam belajar diadakan siang sampai dengan sore hari kawan. maklum karna terbatasnya ruang kelas jadi ada yang masuk siang. Sekolah ku ini jadi satu dengan SMA, betapa ramainya jika jam istirahat berbunyi. Ketika itu sepeda yang biasa kupakai untuk membawaku ke sekolah ternyata mengalami kerusakan dan harus dirawat dibengkel sepeda dekat rumah, jadi aku malah merepotkan mama atau papaku untuk menjemput dan mengantarkan ke sekolah, biasanya jika aku bersepeda. Sering kawanku yang berdarah keturunan arab ini berbarengan pulang karna kebetulan jalan rumah kami sejalur.
Mentari sudah mulai condong kearah barat sembari menunggu dijemput mamaku atau terkadang sopir papaku, mataku terlalu sibuk tertuju pada pepohonan disekitar yang daunnya meranggas menyisakan dahan-dahan dan ranting tua namun tetap kokoh walau kemarau melanda, dalam penantian menunggu jemputan. Dia datang mendekatiku bahkan sering duduk disampingku. Mengajak ngobrol.... Entah apa yang diobrolkan aku hanya bisa jawab sekenanya. Kikuk, canggung hanya itu yag bisa kurasakan saat seorang dara cantik mendekatiku. Aku sebenarnya tahu yang Dia lakukan hanyalah sebagai pelarian dari Hilmi yang terus mengejarnya, tak jarang jika mamaku sudah datang. Dia minta ditemani hingga yang menjemputnya datang. Tentu hal ini tak mungkin tidak mendatangkan masalah bagiku, jelas Hilmi selalu mengancamku agar aku tidak merebut pacarnya itu. Sungguh aneh..... Asmara Cinta Monyet remaja awal taun 2000an. Bahkan disaat aku sedang memunggu jemputan, duduk berdua di depan sekolah. Sering sekali aku diledekin oleh Pak Yunus: ciiyeeehh..... yang lagi pacaran. Pak Yunus adalah penjual es doger dan juga gorengan yang sangat baik, Beliau biasa berjualan menggunakan sepeda Onthel tua dengan keranjang depan untuk gorengan sedangkan bagian belakang diisi dengan gerobag esnya. Saking baiknya seringnya aku diberikan sekantong es dan dan gorengan, katanya buat bekal nunggu jemputan biar ndak laper.
Ternyata Tuhan berkata lain dan aku pun hanya sebentar sekali mengenal Dara cantik ini. Dia harus pindah karna suatu kasus yang tak dapat ku jelaskan disini kawan semua. Karna saat itu tidak hanya Dia saja yang dikeluarkan tapi ada temannya yang juga seorang perempuan ikut dikeluarkan dari sekolah. Anehnya ada perasaan sedih, kesal yang berdesir di dadaku saat itu, padahal jelas aku tak pernah merasakan rasa sayang pada Dia. Kepergiannya sangat mendadak, bahkan untuk mengucapkan kata perpisahan pada teman-temannya tak sempat. Ingin rasanya sekedar meneleponnya, tapi aku tak tahu sama sekali nomer telepon rumahnya. Mau bertanya pada kawan perempuan yang mengenal Dia. Aku tambah malu karna kawannya ini termasuk salah satu anggota geng cewek-cewek cantik di sekolah dan cukup terkenal maka bertambah malu untuk bertanya.
Masa SMP Ini aku lebih memilih extra kurikuler bela diri dan yang menjadi daya tarikku adalah pencak silat. Sebenarnya aku menyukai olah raga basket, karna bisa menunjang tubuhku yang mungil ini agar tumbuh besar dan tinggi. Tapi aku urungkan niat karna perkataan papaku, nak..... "Kamu ini anak lelaki harus bisa jaga diri, kehormatan keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi" kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku sampai sekarang. Bersyukur dimasa SMP ini bisa lebih mengenal Tuhanku dan dimasa peralihan dari anak-anak menjadi remaja ini. Kelebihan yang aku miliki kadang timbul secara tiba-tiba. Mungkin karna aku lebih dekat dengan Tuhan dan sering berpuasa. Dimasa SMP ini Pernah sekali aku menyukai seorang dara remaja, tubuhnya mungil namun padat berisi serta "aset"nya yang menyembul dibalik kemeja lengan panjangnya. Wajar cimon alias Cinta Monyet ala Anak SMP diawal millenium. Kisah SMP kulalui dengan wajar dan mulai belajar untuk membiasakan agar tidak kaget seumpama ada makhluk gaib yang sengaja menampakkan diri. karna disaat itu seringkali tak sengaja bertemu dengan makhluk gaib mulai dari hanya sekedar samar-samar berupa asap putih hingga nampak jelas nyata di depanku.
Perubahan paling besar yang terjadi di masa SMP ini adalah tubuhku yang menjadi kurus, awalnya bobot tubuhku mencapai hampir 60kg dengan tinggi badan yang hanya 150 sentimeter. Betapa gemuknya aku saat itu kawan, sempat sakit yang lumayan parah. Namun tak sampai harus menginap di rumah sakit, membuat tubuhku banyak kehilangan berat badan, hingga berakhir dibobot 40kg. Bersyukur karna extrakurikuler yang aku ikuti dapat membantu ketika masuk di SMA Negeri Favorit di kotaku.
Kejadian Horor yang paling saya ingat adalah Ujian kenaikan tingkat pencak silat, dimana diadakannya Jurit malam. kawan semua pasti tahu apa itu jurit malam???....... biasalaaah, uji mental. Dimana dilepas stau persatu dengan hanya modal peta untuk sampai ke tempat finish. saat menuju kesana akan ditakut-takuti oleh pelatih yang menyamar menjadi Hantu, sayangnya disaat seperti itu hantu yang asli ikut nongol. Kalo ini sich nggak seram kawan, pengalaman seramnya malah ketika kami berkemah di sebuah tempat yang dekat dengan Danau. Terletak di salah satu desa di daerah Bedugul, pelatih sengaja mengajak outbond kesana agar lebih menyatu dengan alam. Pengalaman pertama ikut kemah di pegunungan, digembleng jam 11 malam buat latihan pencak silat pula, katanya biar ndak kedinginan, biar nanti lebih hangat suhu tubuh jadi tidur ndak kedinginan. Batin saya...... Pala Loe peyang, ini udh kisut luar dalem masih aja digembleng. Bahkan sebelum penutupan malam itu satu persatu dari kami diuji keahlian bela dirinya. modal bodi protektor doang buat nahan pukulan di badan, kebayang sakitnya saat kuda-kuda goyah dan dengan mudahnya kena hantaman sapuan dari lawan.
Hawa yang dingin bikin susah untuk tidur, alhasil setelah subuh kami melakukan pendakian di bukit dekat situ. Kurangnya istirahat hampir membuatku pingsan, untung ada salah seorang pelatih yang tahu dan membantu saat turun kebawah karna lelah mendaki. Saya, Ahmad dan seorang pelatih akhirnya sukses turun dari pendakian. Sempat saat malam akan istirahat terjadi sedikit kegaduhan karna datangnya kuntilanak mengganggu disekitar tenda kami. Terdengar suara cekikikan khas yang terasa menakutkan dan seperti terdengar jauh. Biasanya jika suara terdengar jauh maka makhluk gaib itu sebenarnya sudah berada disekitar kita, malah kalo suaranya terdengar dekat biasanya masih jauh dari kita. Begitu juga sumber suaranya jika terdengar di depan biasanya makhluk tersebut ada di belakang kita.
Untungnya kegaduhan tersebut dapat diatasi dan tidak sampai terjadi adanya kesurupan.
Masa SMP pun berakhir. Nilai EBTANAS ku cukup memuaskan, yaa..... Walaupun untuk bisa masuk SMA negeri ya masih pas-pasan, untungnya ada prestasi olah raga dari extra kurikuler yang kuiikuti. Jadi bisa memberikan nilai lebih untuk diterima di SMA Negeri incaranku.
Seperti anak lelaki pada umumnya, aku pun juga sempat menyukai perempuan yang ada di sekolahku itu, yaaa.... Tetap saja, aku masih tidak Pede untuk mendekatinya. Hingga suatu saat ada seorang anak perempuan cantik pindahan dari kota dengan julukan Delhi van Java atau mutiara dari timur, nama seorang dara tersebut adalah...... Yang dalam bahasa Ibrani berarti Keanggunan. Sangat cantik, pantas saja orang orang tuanya menamakan seperti itu karna cantik yang elok nan anggun bagaikan hadiah terindah bagi keluarga tersebut. Walaupun.... Sebenarnya nama itu lebih sering digunakan oleh anak lelaki di sebenarnya. Tentunya beberapa remaja Pria di sekolahku banyak yang mengincar Dia karna ingin menjadikan Dia sebagai pacarnya, tak terkecuali Hilmi, remaja kurus tinggi semampai dengan sifat bengalnya juga ingin menjadikan Dia pacarnya yang kesekian.
Menginjak kelas 2 SMP, jam belajar diadakan siang sampai dengan sore hari kawan. maklum karna terbatasnya ruang kelas jadi ada yang masuk siang. Sekolah ku ini jadi satu dengan SMA, betapa ramainya jika jam istirahat berbunyi. Ketika itu sepeda yang biasa kupakai untuk membawaku ke sekolah ternyata mengalami kerusakan dan harus dirawat dibengkel sepeda dekat rumah, jadi aku malah merepotkan mama atau papaku untuk menjemput dan mengantarkan ke sekolah, biasanya jika aku bersepeda. Sering kawanku yang berdarah keturunan arab ini berbarengan pulang karna kebetulan jalan rumah kami sejalur.
Mentari sudah mulai condong kearah barat sembari menunggu dijemput mamaku atau terkadang sopir papaku, mataku terlalu sibuk tertuju pada pepohonan disekitar yang daunnya meranggas menyisakan dahan-dahan dan ranting tua namun tetap kokoh walau kemarau melanda, dalam penantian menunggu jemputan. Dia datang mendekatiku bahkan sering duduk disampingku. Mengajak ngobrol.... Entah apa yang diobrolkan aku hanya bisa jawab sekenanya. Kikuk, canggung hanya itu yag bisa kurasakan saat seorang dara cantik mendekatiku. Aku sebenarnya tahu yang Dia lakukan hanyalah sebagai pelarian dari Hilmi yang terus mengejarnya, tak jarang jika mamaku sudah datang. Dia minta ditemani hingga yang menjemputnya datang. Tentu hal ini tak mungkin tidak mendatangkan masalah bagiku, jelas Hilmi selalu mengancamku agar aku tidak merebut pacarnya itu. Sungguh aneh..... Asmara Cinta Monyet remaja awal taun 2000an. Bahkan disaat aku sedang memunggu jemputan, duduk berdua di depan sekolah. Sering sekali aku diledekin oleh Pak Yunus: ciiyeeehh..... yang lagi pacaran. Pak Yunus adalah penjual es doger dan juga gorengan yang sangat baik, Beliau biasa berjualan menggunakan sepeda Onthel tua dengan keranjang depan untuk gorengan sedangkan bagian belakang diisi dengan gerobag esnya. Saking baiknya seringnya aku diberikan sekantong es dan dan gorengan, katanya buat bekal nunggu jemputan biar ndak laper.
Ternyata Tuhan berkata lain dan aku pun hanya sebentar sekali mengenal Dara cantik ini. Dia harus pindah karna suatu kasus yang tak dapat ku jelaskan disini kawan semua. Karna saat itu tidak hanya Dia saja yang dikeluarkan tapi ada temannya yang juga seorang perempuan ikut dikeluarkan dari sekolah. Anehnya ada perasaan sedih, kesal yang berdesir di dadaku saat itu, padahal jelas aku tak pernah merasakan rasa sayang pada Dia. Kepergiannya sangat mendadak, bahkan untuk mengucapkan kata perpisahan pada teman-temannya tak sempat. Ingin rasanya sekedar meneleponnya, tapi aku tak tahu sama sekali nomer telepon rumahnya. Mau bertanya pada kawan perempuan yang mengenal Dia. Aku tambah malu karna kawannya ini termasuk salah satu anggota geng cewek-cewek cantik di sekolah dan cukup terkenal maka bertambah malu untuk bertanya.
Masa SMP Ini aku lebih memilih extra kurikuler bela diri dan yang menjadi daya tarikku adalah pencak silat. Sebenarnya aku menyukai olah raga basket, karna bisa menunjang tubuhku yang mungil ini agar tumbuh besar dan tinggi. Tapi aku urungkan niat karna perkataan papaku, nak..... "Kamu ini anak lelaki harus bisa jaga diri, kehormatan keluarga dan orang-orang yang kamu sayangi" kata-kata itu selalu terngiang ditelingaku sampai sekarang. Bersyukur dimasa SMP ini bisa lebih mengenal Tuhanku dan dimasa peralihan dari anak-anak menjadi remaja ini. Kelebihan yang aku miliki kadang timbul secara tiba-tiba. Mungkin karna aku lebih dekat dengan Tuhan dan sering berpuasa. Dimasa SMP ini Pernah sekali aku menyukai seorang dara remaja, tubuhnya mungil namun padat berisi serta "aset"nya yang menyembul dibalik kemeja lengan panjangnya. Wajar cimon alias Cinta Monyet ala Anak SMP diawal millenium. Kisah SMP kulalui dengan wajar dan mulai belajar untuk membiasakan agar tidak kaget seumpama ada makhluk gaib yang sengaja menampakkan diri. karna disaat itu seringkali tak sengaja bertemu dengan makhluk gaib mulai dari hanya sekedar samar-samar berupa asap putih hingga nampak jelas nyata di depanku.
Perubahan paling besar yang terjadi di masa SMP ini adalah tubuhku yang menjadi kurus, awalnya bobot tubuhku mencapai hampir 60kg dengan tinggi badan yang hanya 150 sentimeter. Betapa gemuknya aku saat itu kawan, sempat sakit yang lumayan parah. Namun tak sampai harus menginap di rumah sakit, membuat tubuhku banyak kehilangan berat badan, hingga berakhir dibobot 40kg. Bersyukur karna extrakurikuler yang aku ikuti dapat membantu ketika masuk di SMA Negeri Favorit di kotaku.
Kejadian Horor yang paling saya ingat adalah Ujian kenaikan tingkat pencak silat, dimana diadakannya Jurit malam. kawan semua pasti tahu apa itu jurit malam???....... biasalaaah, uji mental. Dimana dilepas stau persatu dengan hanya modal peta untuk sampai ke tempat finish. saat menuju kesana akan ditakut-takuti oleh pelatih yang menyamar menjadi Hantu, sayangnya disaat seperti itu hantu yang asli ikut nongol. Kalo ini sich nggak seram kawan, pengalaman seramnya malah ketika kami berkemah di sebuah tempat yang dekat dengan Danau. Terletak di salah satu desa di daerah Bedugul, pelatih sengaja mengajak outbond kesana agar lebih menyatu dengan alam. Pengalaman pertama ikut kemah di pegunungan, digembleng jam 11 malam buat latihan pencak silat pula, katanya biar ndak kedinginan, biar nanti lebih hangat suhu tubuh jadi tidur ndak kedinginan. Batin saya...... Pala Loe peyang, ini udh kisut luar dalem masih aja digembleng. Bahkan sebelum penutupan malam itu satu persatu dari kami diuji keahlian bela dirinya. modal bodi protektor doang buat nahan pukulan di badan, kebayang sakitnya saat kuda-kuda goyah dan dengan mudahnya kena hantaman sapuan dari lawan.
Hawa yang dingin bikin susah untuk tidur, alhasil setelah subuh kami melakukan pendakian di bukit dekat situ. Kurangnya istirahat hampir membuatku pingsan, untung ada salah seorang pelatih yang tahu dan membantu saat turun kebawah karna lelah mendaki. Saya, Ahmad dan seorang pelatih akhirnya sukses turun dari pendakian. Sempat saat malam akan istirahat terjadi sedikit kegaduhan karna datangnya kuntilanak mengganggu disekitar tenda kami. Terdengar suara cekikikan khas yang terasa menakutkan dan seperti terdengar jauh. Biasanya jika suara terdengar jauh maka makhluk gaib itu sebenarnya sudah berada disekitar kita, malah kalo suaranya terdengar dekat biasanya masih jauh dari kita. Begitu juga sumber suaranya jika terdengar di depan biasanya makhluk tersebut ada di belakang kita.
Untungnya kegaduhan tersebut dapat diatasi dan tidak sampai terjadi adanya kesurupan.
Masa SMP pun berakhir. Nilai EBTANAS ku cukup memuaskan, yaa..... Walaupun untuk bisa masuk SMA negeri ya masih pas-pasan, untungnya ada prestasi olah raga dari extra kurikuler yang kuiikuti. Jadi bisa memberikan nilai lebih untuk diterima di SMA Negeri incaranku.
Diubah oleh Dauh.Tukad 17-10-2018 19:30
a.wicaksono dan 16 lainnya memberi reputasi
17