- Beranda
- Stories from the Heart
50 Episode Keistimewaan
...
TS
arako.santo93
50 Episode Keistimewaan

Di thread ini aku akan menceritakan pengalamanku bersama keistimewaan (atau kutukan) yang aku miliki. Pada awalnya aku enggan membagi pengalamanku ini karena muak sudah rasanya dianggap sebagai seorang penipu, pembohong, pencari sensasi atau apapun itu. Sedari awal aku pengen ingatkan ke temen- temen bahwa aku tidak memiliki bukti apapun dan tidak akan mencoba membuktikan apapun. Aku hanya ingin temen-temen merasakan sedikit perjalananku yang notabene adalah makhluk amphibi karena hidup di dua dunia. Well at least aku bisa melihat kedua dunia.
Sekali lagi motivasi saya hanya untuk membagi cerita. Jadi maaf kalau nantinya saya mendapat banyak comment atau pesan yang tidak saya balas.
Janji saya:
Saya akan menyelesaikan cerita ini sampai tuntas (episode ke 50), dan saya akan menghilang (dalam artian apapun) setelah cerita ini selesai saya bagi.
INDEX:
Prologue
Episode 1: Level 8
Episode 2: Kado Kelulusan
Episode 3: Perkenalan SMP
Episode 4: Pemain ke-15
Episode 5: Penjaga Rumah
Episode 6: Bencana
Episode 7: Jurit Malam
Episode 8: Penghuni Candi
Episode 9: Penghuni Candi bag.2
Episode 10: Lik Sri
Episode 11: Resep Rahasia
Episode 12: Peneman Tak Diundang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 11 suara
Sisi apa yang temen-temen pengen baca secara detail?
Horror
73%
Asmara
9%
Keluarga
18%
Diubah oleh arako.santo93 05-02-2019 10:07
anasabila memberi reputasi
1
5.5K
39
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
arako.santo93
#30
Episode 9
Penghuni Candi bag. 2
Hey temen temen semua. Maaf seribu maaf aku baru bisa update ceritaku lagi. September bener-bener bulan yang luar biasa sibuk di Jepang karena hampir semua perusahaan memiliki periode tutup buku bulan Maret. Jadi bulan September kita semua membuat laporan tengah tahun.
Okey down to my story...
Kengerianku karena leak di candi tadi masih belum juga hilang. Sedikit syukur aku ucapkan karena akhirnya aku bisa menjauhi kawasan candi itu. Saat itu jam menunjukkan pukul 4 sore. Ayahku mengemudikan mobil dengan seksama. Kakak ku yang duduk di kursi depan asik bermain HP, dan ibuku duduk di belakang bersamaku. Sesekali kami menyanyikan lagu favorit kami yang diputar di radio. Tapi tidak beberapa lama kebiasaan burukku muncul. Aku selalu ngantuk kalau berada di perjalanan. ‘Bu, aku bobok ya’ kataku merajuk. ‘Ho oh kene (Iya sini)’ kata ibuku sambil mempersilahkanku untuk meletakkan kepala di pangkuannya. Aku pun terlelap. Sampai aku terbangun karena ibuku menepuk pipiku. Mungkin sudah sampai pikirku. Dan aku salah!
Kita berhenti di depan sebuah masjid. Jam menunjukkan pukul 6 sore. ‘Aku harus sholat maghrib’ pikirku. Tapi tunggu dulu! Ayah, Ibu dan Kakakku rupanya sudah tidak ada di mobil, mereka mungkin turun dulu untuk sholat. Lalu siapa yang membangunkanku tadi?
Saat aku berusaha meyakinkan bahwa tadi hanyalah halusinasi, dari kursi belakang ada suara samar-samar tapi sangat jelas ‘sholat mas’. Tak perlu pikir panjang aku langsung meloncat menuju ke masjid dan bergegas menjalankan sholat maghrib. Sebelum aku masuk ke mobil, aku sempatkan mengintip jendela mobilku dan tidak ada siapapun di sana. Perjalanan pulang aku lalui dengan was-was.
Kami tiba di rumah hampir isya. Kami lalu mandi secara bergilir, sholat berjamaah dan makan malam bersama-sama. Malam yang begitu kental dengan kehangatan sebuah keluarga. Kelelahan karena tangga candi sore tadi, aku memutuskan untuk mencumbu empuknya bantal lebih dulu. AC aku set pada suhu 18 derajat, sejuknya benar-benar seperti membiusku. Tak butuh waktu lama untuk aku terlelap.
Entah berapa lama aku terlelap, aku terbangun (atau itulah yang aku pikir). Anehnya adalah seluruh kamarku berubah menjadi ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Dinding dengan cat berwarna putih berubah menjadi dinding bata tanpa semen. Langit-langitnya berubah menjadi atap tanpa eternit khas rumah jaman dulu. Aku beranjak dari kasurku dan kusadari lantainya bukan keramik seperti kamarku. Lantainya beralas tanah. Ketika aku berniat untuk berdiri dan melihat keluar kamar, dari arah belakang aku dengar hembusan nafas. Sama seperti hembusan nafas pada umumnya hanya sedikit berat. Perlahan aku menoleh, dan di situ terbaring seorang perempuan dengan baju motif bunga berwarna orange.
Aku berusaha mengingat di mana aku pernah melihat perempuan ini. ‘Tidak salah lagi! Dia perempuan di foto yang kami ambil di candi tadi’ kataku dalam hati. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku berusaha bergerak menjauh dengan perlahan agar dia tidak terbangun sambil sesekali mencubit diriku sendiri untuk meyakinkan ini bukan mimpi. Dan hal yang paling aku takutkan terjadi. Nafas perempuan itu berhenti, dan matanya perlahan terbuka. Tanpa menoleh dia melirik ke arahku. Matanya merah dengan dengan warna pupil berwarna putih kehijauan. Aku berusaha berteriak namun suaraku sama sekali tidak keluar.
Dia lalu bangun dan merangkak seperti laba-laba ke arahku. Dia berkata ‘sugeng rawuh den. Monggo pinarak (selamat datang)’. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku berdoa sebisaku. Sebelum akhirnya dia menyentuh pundakku. Tangannya kasar dan dingin. Ketika wajahnya mendekat aku melihat wajahnya penuh dengan urat-urat berwarna biru tua. ‘Nek neng candi meneh, menika diasta nggih. (kalau ke candi lagi tolong ini dibawa ya’) katanya sambil memberiku selendang batik lusuh berwarna merah. Merasa tidak punya pilihan, aku menerima selendang itu. Sesaat kemudian aku seperti terjatuh ke dalam sumur, dan di atas bibir sumur perempuan itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku benar-benar terbangun kali ini. ‘Syukurlah cuman mimpi’ kataku dalam hati. Tapi betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa aku tidur berselimutkan selendang batik lusuh yang aku terima dari perempuan tadi.
Sampai saat ini aku masih menyimpan selendang itu. Aku masih belum berani untuk kembali ke candi, karena aku terlalu takut membayangkan hal apa yang akan terjadi kalau aku mengikuti apa yang perempuan itu katakan.
Penghuni Candi bag. 2
Hey temen temen semua. Maaf seribu maaf aku baru bisa update ceritaku lagi. September bener-bener bulan yang luar biasa sibuk di Jepang karena hampir semua perusahaan memiliki periode tutup buku bulan Maret. Jadi bulan September kita semua membuat laporan tengah tahun.
Okey down to my story...
Kengerianku karena leak di candi tadi masih belum juga hilang. Sedikit syukur aku ucapkan karena akhirnya aku bisa menjauhi kawasan candi itu. Saat itu jam menunjukkan pukul 4 sore. Ayahku mengemudikan mobil dengan seksama. Kakak ku yang duduk di kursi depan asik bermain HP, dan ibuku duduk di belakang bersamaku. Sesekali kami menyanyikan lagu favorit kami yang diputar di radio. Tapi tidak beberapa lama kebiasaan burukku muncul. Aku selalu ngantuk kalau berada di perjalanan. ‘Bu, aku bobok ya’ kataku merajuk. ‘Ho oh kene (Iya sini)’ kata ibuku sambil mempersilahkanku untuk meletakkan kepala di pangkuannya. Aku pun terlelap. Sampai aku terbangun karena ibuku menepuk pipiku. Mungkin sudah sampai pikirku. Dan aku salah!
Kita berhenti di depan sebuah masjid. Jam menunjukkan pukul 6 sore. ‘Aku harus sholat maghrib’ pikirku. Tapi tunggu dulu! Ayah, Ibu dan Kakakku rupanya sudah tidak ada di mobil, mereka mungkin turun dulu untuk sholat. Lalu siapa yang membangunkanku tadi?
Saat aku berusaha meyakinkan bahwa tadi hanyalah halusinasi, dari kursi belakang ada suara samar-samar tapi sangat jelas ‘sholat mas’. Tak perlu pikir panjang aku langsung meloncat menuju ke masjid dan bergegas menjalankan sholat maghrib. Sebelum aku masuk ke mobil, aku sempatkan mengintip jendela mobilku dan tidak ada siapapun di sana. Perjalanan pulang aku lalui dengan was-was.
Kami tiba di rumah hampir isya. Kami lalu mandi secara bergilir, sholat berjamaah dan makan malam bersama-sama. Malam yang begitu kental dengan kehangatan sebuah keluarga. Kelelahan karena tangga candi sore tadi, aku memutuskan untuk mencumbu empuknya bantal lebih dulu. AC aku set pada suhu 18 derajat, sejuknya benar-benar seperti membiusku. Tak butuh waktu lama untuk aku terlelap.
Entah berapa lama aku terlelap, aku terbangun (atau itulah yang aku pikir). Anehnya adalah seluruh kamarku berubah menjadi ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Dinding dengan cat berwarna putih berubah menjadi dinding bata tanpa semen. Langit-langitnya berubah menjadi atap tanpa eternit khas rumah jaman dulu. Aku beranjak dari kasurku dan kusadari lantainya bukan keramik seperti kamarku. Lantainya beralas tanah. Ketika aku berniat untuk berdiri dan melihat keluar kamar, dari arah belakang aku dengar hembusan nafas. Sama seperti hembusan nafas pada umumnya hanya sedikit berat. Perlahan aku menoleh, dan di situ terbaring seorang perempuan dengan baju motif bunga berwarna orange.
Aku berusaha mengingat di mana aku pernah melihat perempuan ini. ‘Tidak salah lagi! Dia perempuan di foto yang kami ambil di candi tadi’ kataku dalam hati. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan saat itu. Aku berusaha bergerak menjauh dengan perlahan agar dia tidak terbangun sambil sesekali mencubit diriku sendiri untuk meyakinkan ini bukan mimpi. Dan hal yang paling aku takutkan terjadi. Nafas perempuan itu berhenti, dan matanya perlahan terbuka. Tanpa menoleh dia melirik ke arahku. Matanya merah dengan dengan warna pupil berwarna putih kehijauan. Aku berusaha berteriak namun suaraku sama sekali tidak keluar.
Dia lalu bangun dan merangkak seperti laba-laba ke arahku. Dia berkata ‘sugeng rawuh den. Monggo pinarak (selamat datang)’. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku berdoa sebisaku. Sebelum akhirnya dia menyentuh pundakku. Tangannya kasar dan dingin. Ketika wajahnya mendekat aku melihat wajahnya penuh dengan urat-urat berwarna biru tua. ‘Nek neng candi meneh, menika diasta nggih. (kalau ke candi lagi tolong ini dibawa ya’) katanya sambil memberiku selendang batik lusuh berwarna merah. Merasa tidak punya pilihan, aku menerima selendang itu. Sesaat kemudian aku seperti terjatuh ke dalam sumur, dan di atas bibir sumur perempuan itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Aku benar-benar terbangun kali ini. ‘Syukurlah cuman mimpi’ kataku dalam hati. Tapi betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa aku tidur berselimutkan selendang batik lusuh yang aku terima dari perempuan tadi.
Sampai saat ini aku masih menyimpan selendang itu. Aku masih belum berani untuk kembali ke candi, karena aku terlalu takut membayangkan hal apa yang akan terjadi kalau aku mengikuti apa yang perempuan itu katakan.
0