- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#711
Quote:
PART 47
Dengan langkah cepat Medina berjalan memasuki pelataran parkir kantor penerbitan milik ayah Nando. Tapi...langkahnya tiba – tiba terhenti tepat di depan lobby, ia merasa pernah datang ke tempat ini. Setidaknya untuk beberapa kali dan bersama Adam. Gadis yang kini kembali mengenakan jilbabnya ini mengedarkan pandangan ke segala arah.
Iya...dirinya mengenal tempat ini. Tempat dimana ia pertama kali bertemu Ningrum.
“ Maaf mbak? Ada yang bisa saya bantu?” Suara seorang satpam memecah lamunan Medina.
Tidak salah lagi, itu adalah satpam yang sama yang pernah ia temui. Medina merutuki dirinya sendiri, kenapa ia tidak menyadari hal ini saat Tirta memberikan alamat kantor ayaahnya kemarin???
“ Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanya satpam itu lagi membuat Medina terkesiap, ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“ Hmm...saya mau ketemu sama bapak Wijaya. Beliau ada di tempat?”
“ Sudah buat janji sebelumnya?”
Medina menggeleng,” Tapi...anaknya sendiri yang meminta saya datang ke sini. Dia bilang, pak Wijaya ingin bertemu saya.”
“ Maksudnya Mas Tirta?”
Medina mengangguk mantap.
“ Kalau gitu langsung ke ruangannya aja mbak. Mas Tirta juga ada di dalam. Ruangannya ada di lantai tiga.”
“ Terima kasih ya pak.” Ucap Medina dan kemudian melangkah cepat memasuki kantor dan bergegas menuju lift.
Di dalam lift, hanya ada Medina dan kesunyian. Ia masih terus berpikir apa keputusannya sudah tepat untuk datang ke sini? Mengingat naskahnya pernah di tolak di sini.
Tapi...apa mungkin ceritanya akan berbeda jika Tirta yang memintanya? Apa mungkin tulisannya bisa langsung naik terbit tanpa melalui penilaian editor?
Ah...Medina lo bego’ atau gila sih? Tulisan lo itu di pinang langsung sama bos besarnya, ngapain harus lewat editor lagi?Gumam Medina sekaligus berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tiba di lantai tiga, Medina tak perlu bersusah payah mencari ruangan sang direktur utama, pak Wijaya. Lift yang mengantarnya ternyata langsung terhubung dengan ruangan pak Wijaya. Di depan lift, tampak sebuah pintu jati cukup besar. Itu adalah satu – satunya ruangan yang ada di lantai ini.
Medina melangkah mendekati pintu, namun belum juga tangannya terangkat untuk mengetuk pintu ia di kejutkan oleh suara keributan yang berasal dari dalam ruangan, samar – samar ada suara dua orang lelaki yang terdengar sedang cekcok.
Ia berniat ingin pergi, tapi rasa penasarannya jelas lebih dominan. Lalu...apa perlu ia menguping pembicaraan bapak dan anak itu agar rasa penasarannya hilang, tapi...itu kan dosa.
Medina yang kini tengah di selimuti keraguannya sendiri, kembali di buat terkejut karena pintu tiba – tiba terbuka dan Tirta terdorong begitu keras hingga membuatnya tersungkur tepat di hadapan Medina.
“ Tirta!!” ucap Medina dengan mata melotot, iapun tak bergerak sedikitpun dari posisinya. Ia benar – benar di buat terkejut sekarang.
Wajah Tirta yang babak belur, dan darah yang mengucur dari pelipisnya semakin meyakinkan Medina untuk tidak pergi dari sana. Dan ini tentu bukan cekcok biasa.
“ APA KAMU MASIH INGIN MENENTANG PERKATAAN ORANG TUAMU!!” hardik seorang bapak paruh baya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu. Tangan kanannya terlihat menggenggaam tongkat baseball. Medina meringis kecil, ia yakin tongkat itu pulalah yang membuat sahabatnya menjadi seperti itu. Kemeja putih serta dasi yang melingkar di lehernya, sangat jauh dari kata rapi, terrlihat bapak itu sudah sejak tadi memukul Tirta tanpa ampun.
Apa seperti ini figur seorang ayah yang selalu Tirta banggakan di depan gue?
“ Na...pergi. Lo nggak perlu datang ke sini lagi,” pinta Tirta sambil berusaha kembali berdiri.
“ Pergi? Ninggalin lo dalam keadaan kayak gini? Nggak!!” tolak Medina dengan nada cukup tegas.
“ Gue bilang pergi, Na. Ini urusan gue sama bokap gue.”
“ Kamu yang namanya Medina?” Kali ini justru ayah Tirta yang bersuara. Lucunya, wajah tegas yang tadinya garang dan merah padam karena amarah seketika berubah menjadi selembut malaikat.
“ Iya!!” jawab Medina tegas, ia sama sekali
tidak takut.
“ Mana naskahnya?”
“ Jangan di kasih, Na.” Ucap Tirta pelan dan nyaris tak terdengar. Medina melihat sorot mata ketakutan dari Tirta. Apa sebegitu menyeramkannya bapak Wijaya ini?
“ Serahkan naskahnya,” pinta pak Wijaya lembut, seakan pukulannya pada Tirta yang tertangkap oleh Medina bukanlah masalah kecil.
“ Apa yang udah om lakuin? Apa salah Tirta?”
“ Jangan banyak tanya, saya bilang serahkan naskahnya SE.KA.RANG,” pinta pak Wijaya sekali lagi, kali ini nada suaranya terdengar lebih berat, ia seperti sedang menutupi kemarahannya.
“ Na, gue bilang pergi.”
“ Gue bilang, gue nggak akan ninggaalin lo.” Medina keukeuh dengan keinginannya. Sungguh gadis yang keras kepala.
Kesal dengan sikap Medina, Tirta langsung menyeret gadis itu menuju lift. Saat pintu lift terbuka, tanpa rasa kasihan ia mendorong tubuh Medina cukup keras hingga membentur dinding lift,” LO NGGAK SEHARUSNYA ADA DI SINI!!”
Itu adalah kata – kata terakhir yang Medina dengar dari Tirta sebelum pintu lift tertutup sempurna.Rasa sakit di bahunya yang terbentur tadi, tidak lebih sakit dari perlakuan kasar Tirta tadi.
Tirta yang pada awalnya di liputi perasaan takut, cemas dan begitu mengkhawatirkan Medina mendadak berubah menjadi galak bahkan tega mendorong Medina dengan sangat keras. Apa kecurigaan Medina selama ini benar? Tirta seorang Bipolar. Dan penyebabnya adalah ayahnya sendiri.
Mengingat hal itu, Tirta tak seharusnya di biarkan sendirian. Medina berniat kembali ke lantai tiga. Tapi malang tak dapat di hindarkan, lift tiba – tiba saja mati. Jangankan naik ke lantai tiga. Bahkan Medina sendiri juga tidak tahu dia ada di lantai berapa sekarang. Kenapa hidupnya harus sedrama ftv begini???Menyebalkan.
“ Apes banget sih lo, Na,” kesal Medina mencak – mencak di lift, hingga membuat lift sedikit terguncang dan membuatnya jadi heboh dan panik sendiri.
“ Ok...ok...Medina lo harus tenang. Nggak akan terjadi apa – apa. Ngelawan kak Adam yang galak aja lo berani, masa’ beginian doank lo musti takut sih???”
Tak ubahnya seperti orang gila , Medina ngedumel sendiri untuk menghilangkan rasa takutnya.
Medina berinisiatif menekan tombol panggilan darurat yang terdapat pada sisi kanan lift.,” Siapapun tolongin gue. GUE KEJEBAK DI LIFT!!”
Mohon tenang mbak, bantuan akan segera datang.
Kurang lebih seperti itulah suara seorang lelaki yang terdengar lewat speaker kecil yang berada di lift. Suaranya terdengar tenang tapi entah kenapa begitu menyebalkan bagi Medina. Berusaha tetap tenang di situasi genting seperti ini? Tidak semudah itu.
Medina memilih duduk selonjoran dan bersender di pojokan lift. Ia mulai merasa sedikit kepanasan dan sesak. Entah karena panik atau apa, ia merasa kadar oksigen di sekitarnya semakin meenipis. Medina berharap semoga saja bantuan segera datang sebelum ia terkapar di sini karena kehabisan oksigen.
***
Dengan langkah tertatih Tirta menapaki anak tangga untuk turun ke lantai satu. Ia juga tidak mengerti kenapa tiba – tiba lift tidak bisa di gunakan. Bukan apa – apa, pukulan bertubi – tubi membuat fisiknya kian melemah, dan melewati tangga darurat seakan menambah rasa sakitnya.
Ayahnya sungguh keterlaluan. Jika ada yang tanya kenapa ia hanya diam saja saat di pukuli. Jawabannya, karena melawan sama saja bunuh diri. Ayahnya akan semakin beringas.
Setibanya di lantai satu, Tirta di buat heran dengan sedikit keramaian yang terjadi di depan lift. Terlihat pula beberapa orang teknisi yang sedang sibuk memperbaiki lift atau lebih tepatnya sedang berusaha menyelamatkan orang – orang yang terjebak di dalamnya. Tirta tidak peduli dengan itu, ia memilih untuk segera meninggalkan kantor sebelum semua karyawan ayahnya melihat wajah babak belurnya, itu hanya akan memperkeruh suasana dan membuat nama besar sang ayah menjadi rusak. Dan jika itu terjadi, tamatlah riwayatnya.
“ Mas Tirta, mau kemana?” tanya pak Satpam saat ia sudah berada di lobby.
“ Pulang,” jawab Tirta seadanya dengan kepala tertunduk, berusaha menyembunyikan wajah lebamnya.
“ Loh gak mau bantuin temennya yang kejebak di lift?”
“ Temen saya?”
“ Iya. Temen mas, yang tadi datang ke sini.”
“ Bapak serius?!” tanya Tirta sedikit kaget.
“ Iya Mas. Saya tadi udah liat di cctv, kalo yang kejebak itu mbak yang tadi. Sa-,”
Tirta tak tertarik lagi mendengar cerita pak satpam, ia berbalik arah dan bergegas menerobos keramaian di depan lift. Bahkan ia tak menghiraukan teriakan satpam yang berusaha menyusulnya dan memintanya untuk tetap tenang. Kekhawatirannya pada Medina membuatnya mengabaikan semuanya.
Perempuan itu pingsan!!!
Untuk sesaat hening menguasai Tirta.
●●●
1
Kutip
Balas