- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#592
Quote:
Part XXVIII
Hidup atau mati
Hidup atau mati
Quote:
Tau kalau ternyata dukun itu malah mau menyerahkan ane ke penguasa balai desa, bikin ane jadi kebingungan sama posisi ane saat itu. Mau kabur bingung karena ini alam lain, dimana juga jalan keluarnya ane gak tau. Diem aja disitu juga yang ada ane di makan sama penguasa balai desa. Posisi ane serba salahkan kalau udah kaya gini. 
Dari sudut lain yang lebih gelap, penguasa balai desa mulai mendekat perlahan. Ane yang mau mundur di pegang tangannya sama mbah dukun. Karena semakin dekat jin penguasa balai desa, dalam posisi ketakutan ane reflek nonjok mbah dukun sampai mbah dukun akhirnya tangan dia udah gak nahan tangan ane lagi. Ane langsung lari ke lorong gelap yang bau busuk itu.
Ane lari sekuat yang ane bisa, tapi herannya lorong yang awalnya ada ujungnya, sekarang kenapa seperti gak berhujung. Ane yang udah lemes mutusin buat berhenti, sekalian memikirkan dan mencari jalan keluar lain yang mungkin ada. Tapi emang gak ada celah lain buat keluar.
Baru sebentar tarik nafas, dari kejauhan kedengeran suara langkah sekumpulan orang lari yang menuju ke arah ane berdiri. Ane yang denger suara itu mulai ketakutan lagi dan memutuskan buat lanjut lari lagi.
Ane udah lari sekuat tenaga, tapi anehnya suara langkah sekumpulan orang lari itu bukannya makin jauh malah kaya deket banget. Tapi anehnya ane noleh belakang gak ada penampakan apa apa. Lorong yang sedikit remang remang seharusnya cukup buat ane ngeliat kalau emang ada penampakan tepat dibelakang ane.
Sangking takutnya sama suara yang ikutin ane, ane jadi beberapa kali noleh ke belakang khawatir ada Jin yang emang posisinya udah dibelakang ane. Sialnya tiba tiba ane nabrak sesuatu yang setelah ane liat ternyata penampakan pocong yang memiliki penampakan seram lengkap dengan kapas di hidungnya. Dia melihat ane yang sedang jatuh, ane reflek merem dan nunduk.
Belum reda syok ane karena penampakan pocong yang ane tabrak, tiba tiba kaki ane ada yang narik, tarikannya kenceng banget nyeret ane balik lagi kearah ruangan jin balai desa.
Sepanjang lorong saat ane diseret, ane liat penampakan jin jin lain yang tertawa ngeliat ane dalam posisi teriak dan ketakutan.
Akhirnya jin itu ngebawa ane, ke ruangan yang sama yaitu ruangan dimana dukun itu bawa ane untuk dijadikan tumbal penguasa balai desa.
Disana ane liat lagi dukun sialan itu, dia tertawa terbahak bahak liat ane balik lagi. Dan kali ini ane gak bisa kabur lagi seperti sebelumnya. Karena jin yang narik ane, masih pegangin kaki ane, ditambah 3 penampakan jin lain yang menyerupai pocong waktu ane tindihan juga ikut bantuin pegang tangan dan kaki ane.
Waktu itu ane Cuma bisa menghardik dukun sialan itu, sambil coba goyang goyangin kaki dan tangan ane. Tapi percuma jin bukan mbah dukun yang bisa ditampol supaya dia ngelepasin pegangannya. Semakin ane gerak makin kenceng pegangannya.
Pada akhirnya ane menyerah sama keadaan, waktu itu ane pasrah sama nasib yang akan menimpa ane. Mungkin ane memang harus berakhir menjadi tumbal penguasa balai desa. Ane yang udah mulai pasrah, di datengin sosok penampakan jin penguasa balai desa yang wajahnya di dekatkan diwajah ane. Ane bisa liat wajah gosongnya yang mengeluarkan hawa panas. Kukunya yang tajam di goresin ke baju ane sampai tembus ke kulit. Kayaknya dia siap buat ambil nyawa ane.
Dan Pada akhirnya hari ini ane masih bisa berbagi cerita sama kalian lalu apa yang terjadi waktu itu dihujung akhir ritual tumbal jin penguasa balai desa. Adalah yang membuat ane masih sehat dan bisa membagikan kisah ini.
Bersambung

Dari sudut lain yang lebih gelap, penguasa balai desa mulai mendekat perlahan. Ane yang mau mundur di pegang tangannya sama mbah dukun. Karena semakin dekat jin penguasa balai desa, dalam posisi ketakutan ane reflek nonjok mbah dukun sampai mbah dukun akhirnya tangan dia udah gak nahan tangan ane lagi. Ane langsung lari ke lorong gelap yang bau busuk itu.
Ane lari sekuat yang ane bisa, tapi herannya lorong yang awalnya ada ujungnya, sekarang kenapa seperti gak berhujung. Ane yang udah lemes mutusin buat berhenti, sekalian memikirkan dan mencari jalan keluar lain yang mungkin ada. Tapi emang gak ada celah lain buat keluar.
Baru sebentar tarik nafas, dari kejauhan kedengeran suara langkah sekumpulan orang lari yang menuju ke arah ane berdiri. Ane yang denger suara itu mulai ketakutan lagi dan memutuskan buat lanjut lari lagi.
Ane udah lari sekuat tenaga, tapi anehnya suara langkah sekumpulan orang lari itu bukannya makin jauh malah kaya deket banget. Tapi anehnya ane noleh belakang gak ada penampakan apa apa. Lorong yang sedikit remang remang seharusnya cukup buat ane ngeliat kalau emang ada penampakan tepat dibelakang ane.
Sangking takutnya sama suara yang ikutin ane, ane jadi beberapa kali noleh ke belakang khawatir ada Jin yang emang posisinya udah dibelakang ane. Sialnya tiba tiba ane nabrak sesuatu yang setelah ane liat ternyata penampakan pocong yang memiliki penampakan seram lengkap dengan kapas di hidungnya. Dia melihat ane yang sedang jatuh, ane reflek merem dan nunduk.
Belum reda syok ane karena penampakan pocong yang ane tabrak, tiba tiba kaki ane ada yang narik, tarikannya kenceng banget nyeret ane balik lagi kearah ruangan jin balai desa.
Sepanjang lorong saat ane diseret, ane liat penampakan jin jin lain yang tertawa ngeliat ane dalam posisi teriak dan ketakutan.
Akhirnya jin itu ngebawa ane, ke ruangan yang sama yaitu ruangan dimana dukun itu bawa ane untuk dijadikan tumbal penguasa balai desa.
Disana ane liat lagi dukun sialan itu, dia tertawa terbahak bahak liat ane balik lagi. Dan kali ini ane gak bisa kabur lagi seperti sebelumnya. Karena jin yang narik ane, masih pegangin kaki ane, ditambah 3 penampakan jin lain yang menyerupai pocong waktu ane tindihan juga ikut bantuin pegang tangan dan kaki ane.
Waktu itu ane Cuma bisa menghardik dukun sialan itu, sambil coba goyang goyangin kaki dan tangan ane. Tapi percuma jin bukan mbah dukun yang bisa ditampol supaya dia ngelepasin pegangannya. Semakin ane gerak makin kenceng pegangannya.
Pada akhirnya ane menyerah sama keadaan, waktu itu ane pasrah sama nasib yang akan menimpa ane. Mungkin ane memang harus berakhir menjadi tumbal penguasa balai desa. Ane yang udah mulai pasrah, di datengin sosok penampakan jin penguasa balai desa yang wajahnya di dekatkan diwajah ane. Ane bisa liat wajah gosongnya yang mengeluarkan hawa panas. Kukunya yang tajam di goresin ke baju ane sampai tembus ke kulit. Kayaknya dia siap buat ambil nyawa ane.
Dan Pada akhirnya hari ini ane masih bisa berbagi cerita sama kalian lalu apa yang terjadi waktu itu dihujung akhir ritual tumbal jin penguasa balai desa. Adalah yang membuat ane masih sehat dan bisa membagikan kisah ini.
Bersambung
Diubah oleh achanyoe 27-09-2018 21:00
pulaukapok dan 12 lainnya memberi reputasi
13
Kutip
Balas
Tutup