- Beranda
- Stories from the Heart
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish
...
TS
congyang.jus
Ku Kejar Cintamu Sampai Garis Finish

Tuhan tidak selalu memberi kita jalan lurus untuk mencapai suatu tujuan. Terkadang dia memberi kita jalan memutar, bahkan seringkali kita tidak bisa mencapai tujuan yg sudah kita rencanakan diawal. Bukan karena tuhan tidak memberi yg kita inginkan, tetapi untuk memberi kita yg terbaik. Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih indah.
Quote:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 13 suara
Siapa yang akan menjadi pemaisuri Raja?
Olivia
31%
Bunga
8%
Diana
15%
Zahra
15%
Okta
8%
Shinta
23%
Diubah oleh congyang.jus 04-03-2022 10:27
JabLai cOY dan 37 lainnya memberi reputasi
38
166.1K
793
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
congyang.jus
#448
Part 54
Begitu mendengar kabar bahwa Mamah hamil, Papah yang kebetulan sedang berlabuh di korea langsung terbang ke Indonesia. Gw yang menjemput langsung di bandara. Kami berdua langsung menuju rumah, setelah sebuah tas besar gw masukkan ke bagasi mobil.
"Gimana keadaan Mamah kamu?" tanya Papah
"Baik Pah, lagi seneng-senengnya mau punya momongan lagi" Jawab gw. Sebisa mungkin gw sembunyikan ekspresi sedih.
"Kamu kurangin keluyurannya, jagain Mamah dirumah. Sebentar lagi kamu jadi kakak, harus bisa jadi panutan yang baik buat adek kamu" kata Papah
Sesampainya dirumah, Papah langsung menemui Mamah. Beliau lupa menurunkan barang - barangnya. "Udah gw duga, bentar lagi juga gw dilupain. Orang tua kandung gw aja lupa setelah gw punya adek, apalagi ini yang cuma orang tua angkat" ucap gw dalam hati.
Setelah menurunkan barang - barang Papah, gw masukkan mobil ke garasi, dan sesegera mungkin gw pergi
"Es teh mas" pinta gw ke Mas - Mas jaga kucingan biasa gw nongkrong
"Siaaap" jawabnya, kemudian gw melangkah menuju ruko sebelah angkringan. Kurang dari 5 menit, pesanan gw sudah datang
"Barang ready ga?" BBM sent
"Ada" balasan dari chat tersebut
"Anter ke kucingan tempat gw biasa tongkrong. Gw tunggu, ini udah di lokasi" sent, tak ada lagi balasan.
"Lo ga berhak envy cuk, lo itu siapa? cuma anak pungut, gausah berharap dapet kasih sayang penuh" sebuah kata yang entah dari mana datangnya. Tapi ada benernya juga, gw ini bukan anak kandungnya. Seharusnya gw ga berhak buat cemburu kalau nantinya diperlakukan ga adil. Banyak pertanyaan - pertanyaan dalam benak gw, apa ini saatnya gw balik lagi ke rumah eyang? tapi kalo gw balik, gw harus ngomong gimana?
"Cok ngelamun wae" kata seorang remaja di depan gw, sambil memberikan beberapa lintingan daun Bob Marley. Gw check dalamnya, kemudian gw beri dia beberapa lembar uang bergambar Bapak Proklamator RI
"Gw langsungan aja ya" Ia memasukkan uang tersebut ke saku celana, tanpa menghitungnya terlebih dahulu
"Buru - buru amat, temenin bentar napa" pinta gw
"Gw ada acara" ia melirik seorang wanita yang sedang menunggu diatas motor
"Ah, sengaja kan lo. Bawa cewek biar bisa langsung pergi" Ucap gw
"Beneran ini, biasanya kalo lagi free juga gw temenin ja" balasnya
"Yaudah, kelarin dulu acara lo. Kalo sempet, mampir dulu temenin gw"
"Gw tinggal ya" Ia mengulurkan tangannya
"Iyee, thanks" Kami pun saling berjabat tangan
Teh yg gw minum pun terasa sangat nikmat. *drrrt *drrrt *drrtt beberapa panggilan dari Okta tak gw hiraukan, gw lebih memilih menikmati waktu gw sendiri daripada harus meladeni chat basa - basi dengan Okta.
"Babe, what r u doin?" teriak Okta dari dalam mobil
"nothing" jawab gw. Kemudian ia keluar dari mobil, berjalan menghampiri dan duduk di sebelah gw.
"ditelepon ga diangkat, taunya malah bertelur disini" ia berdiri, kemudian berjalan ke arah gerobak angkringan untuk memesan minum. Okta kembali dengan membawa segelas es jeruk. Gw perhatikan ia dari atas sampai ujung kakinya. "Tambah mantul aja nih anak" ucap gw dalam hati
Okta membungkukkan badan, memegang dagu gw. "itu mata kamu kenapa merah?" tanya dia. "Ih aneh, malah senyum - senyum" lanjutnya *namanya juga lagi giting
Ia meraih bungkusan yang berada di samping gw, kemudian membukanya "Astaga, kamu nyimeng?" Okta menatap gw dengan penuh tanda tanya. Dan gw? cuma senyam - senyum seakan tanpa dosa. Kedua tangan gw diraihnya, mata kami saling beradu. "Kamu jangan kaya gini dong, aku gasuka" ucapnya
"Udah tau jeleknya aku kan? aku itu ga sebaik yang kamu pikir ta. Diluarnya aja aku baik, ke masjid doang kenceng. Tapi dibalik itu semua, aku itu busuk. Perusak anak orang, tukang nyimeng pula" Matanya mulai berkaca - kaca mendengar perkataan gw
"Apa kamu masih mau sama aku?" tanya gw, Okta hanya diam. "Ga bisa jawab kan" lanjut gw
Genggaman tangannya gw lepas. Gw langkahkan kaki meninggalkan ia yang masih bersedih. "Nih mas, totalin aja sama pesenan dia" Gw bayar pesanan gw dan Okta
"Ojo kasar - kasar karo cah wedok mbah" ucapnya
"Cangkeman wae mas" balas gw sambil berjalan ke arah motor. Perlahan namun pasti, gw kemudikan motor matic milik Zahra ke rumah, dalam keadaan setengah sadar. Sampai di rumah, gw langsung menuju kamar gede yang Izal bilang “mirip hotel bintang 4”. Belum ada 10 berbaring, gw sudah terlelap.
“Plak..” Tamparan dari Zahra membuat gw terbangun. Gw yang engga sepenuhnya sadar menjadi sangat bingung.
“Malah enak-enakan molor. Itu Mbak Okta dateng – dateng kenapa nangis?” tanya Zahra.
Gw mendengus panjang. “Okta kenapa ngikutin sih” ucap gw dalam hati.
Gw beranjak dari tempat tidur. “Sekarang mana Okta?” tanya gw ke Zahra
“Dibawah, lagi sama Tante” jawabnya. Kaki ini melangkah cepat menuruni satu – persatu anak tangga. Segera gw hampiri Okta yang sedang menangis sesenggukan di pelukan Mamah.
Gw berlutut di hadapan Okta yang terduduk di kursi. “Kenapa nangis?” mencoba bertanya dengan nada sehalus mungkin. Ia hanya menggelengkan kepala. Gw meraih tangannya, “Ayok, diomongin di atas aja”. Kami bergandengan menuju balkon kamar gw.
Sesampainya di balkon, Okta duduk dipangkuan gw. “Pake acara mewek – mewek segala kenapa?” tanya gw dengan halus.
“Kamu jangan kayak tadi lagi, ga sukak” Pinta Okta
“Aku tau kamu lagi kepikiran sesuatu” Lanjutnya
“Engga juga” Jawab gw
“Kamu mah gitu, kalo ada apa – apa ga mau cerita. Tau ga, kenapa kebanyakan orang gila itu laki – laki? Ya karena kayak kamu gini, ga mau cerita kalo ada masalah, trus jadi beban pikiran, konslet deh” Jelas Okta panjang lebar, meskipun air matanya belum sepenuhnya kering, ditambah dengan senyum dan bahasa tubuh yang membuat gw seakan terhipnotis.
“Gitu dong, senyum. Jangan mewek kayak tadi, ga sukak” Gw berantakin poninya
Okta berkaca ke jendela kamar, merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah gw. “Jangan diberantakin ih, rese banget jadi orang” Ucapnya dengan mulut cemberut, hati ini gemas dibuatnya.
“Eheeem.. Okta tidur sini ya?. Udah malem, bahaya. Pulang besok pagi aja, sekalian berangkat sekolah” Papah berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar gw.
“Iya om”
“Jangan lupa izin sama orang rumah dulu, biar ga bingung” Ucap Papah, lalu pergi lagi meninggalkan gw dan Okta.
ehehe..
"Gimana keadaan Mamah kamu?" tanya Papah
"Baik Pah, lagi seneng-senengnya mau punya momongan lagi" Jawab gw. Sebisa mungkin gw sembunyikan ekspresi sedih.
"Kamu kurangin keluyurannya, jagain Mamah dirumah. Sebentar lagi kamu jadi kakak, harus bisa jadi panutan yang baik buat adek kamu" kata Papah
Sesampainya dirumah, Papah langsung menemui Mamah. Beliau lupa menurunkan barang - barangnya. "Udah gw duga, bentar lagi juga gw dilupain. Orang tua kandung gw aja lupa setelah gw punya adek, apalagi ini yang cuma orang tua angkat" ucap gw dalam hati.
Setelah menurunkan barang - barang Papah, gw masukkan mobil ke garasi, dan sesegera mungkin gw pergi
"Es teh mas" pinta gw ke Mas - Mas jaga kucingan biasa gw nongkrong
"Siaaap" jawabnya, kemudian gw melangkah menuju ruko sebelah angkringan. Kurang dari 5 menit, pesanan gw sudah datang
"Barang ready ga?" BBM sent
"Ada" balasan dari chat tersebut
"Anter ke kucingan tempat gw biasa tongkrong. Gw tunggu, ini udah di lokasi" sent, tak ada lagi balasan.
"Lo ga berhak envy cuk, lo itu siapa? cuma anak pungut, gausah berharap dapet kasih sayang penuh" sebuah kata yang entah dari mana datangnya. Tapi ada benernya juga, gw ini bukan anak kandungnya. Seharusnya gw ga berhak buat cemburu kalau nantinya diperlakukan ga adil. Banyak pertanyaan - pertanyaan dalam benak gw, apa ini saatnya gw balik lagi ke rumah eyang? tapi kalo gw balik, gw harus ngomong gimana?
"Cok ngelamun wae" kata seorang remaja di depan gw, sambil memberikan beberapa lintingan daun Bob Marley. Gw check dalamnya, kemudian gw beri dia beberapa lembar uang bergambar Bapak Proklamator RI
"Gw langsungan aja ya" Ia memasukkan uang tersebut ke saku celana, tanpa menghitungnya terlebih dahulu
"Buru - buru amat, temenin bentar napa" pinta gw
"Gw ada acara" ia melirik seorang wanita yang sedang menunggu diatas motor
"Ah, sengaja kan lo. Bawa cewek biar bisa langsung pergi" Ucap gw
"Beneran ini, biasanya kalo lagi free juga gw temenin ja" balasnya
"Yaudah, kelarin dulu acara lo. Kalo sempet, mampir dulu temenin gw"
"Gw tinggal ya" Ia mengulurkan tangannya
"Iyee, thanks" Kami pun saling berjabat tangan
Teh yg gw minum pun terasa sangat nikmat. *drrrt *drrrt *drrtt beberapa panggilan dari Okta tak gw hiraukan, gw lebih memilih menikmati waktu gw sendiri daripada harus meladeni chat basa - basi dengan Okta.
"Babe, what r u doin?" teriak Okta dari dalam mobil
"nothing" jawab gw. Kemudian ia keluar dari mobil, berjalan menghampiri dan duduk di sebelah gw.
"ditelepon ga diangkat, taunya malah bertelur disini" ia berdiri, kemudian berjalan ke arah gerobak angkringan untuk memesan minum. Okta kembali dengan membawa segelas es jeruk. Gw perhatikan ia dari atas sampai ujung kakinya. "Tambah mantul aja nih anak" ucap gw dalam hati
Okta membungkukkan badan, memegang dagu gw. "itu mata kamu kenapa merah?" tanya dia. "Ih aneh, malah senyum - senyum" lanjutnya *namanya juga lagi giting
Ia meraih bungkusan yang berada di samping gw, kemudian membukanya "Astaga, kamu nyimeng?" Okta menatap gw dengan penuh tanda tanya. Dan gw? cuma senyam - senyum seakan tanpa dosa. Kedua tangan gw diraihnya, mata kami saling beradu. "Kamu jangan kaya gini dong, aku gasuka" ucapnya
"Udah tau jeleknya aku kan? aku itu ga sebaik yang kamu pikir ta. Diluarnya aja aku baik, ke masjid doang kenceng. Tapi dibalik itu semua, aku itu busuk. Perusak anak orang, tukang nyimeng pula" Matanya mulai berkaca - kaca mendengar perkataan gw
"Apa kamu masih mau sama aku?" tanya gw, Okta hanya diam. "Ga bisa jawab kan" lanjut gw
Genggaman tangannya gw lepas. Gw langkahkan kaki meninggalkan ia yang masih bersedih. "Nih mas, totalin aja sama pesenan dia" Gw bayar pesanan gw dan Okta
"Ojo kasar - kasar karo cah wedok mbah" ucapnya
"Cangkeman wae mas" balas gw sambil berjalan ke arah motor. Perlahan namun pasti, gw kemudikan motor matic milik Zahra ke rumah, dalam keadaan setengah sadar. Sampai di rumah, gw langsung menuju kamar gede yang Izal bilang “mirip hotel bintang 4”. Belum ada 10 berbaring, gw sudah terlelap.
“Plak..” Tamparan dari Zahra membuat gw terbangun. Gw yang engga sepenuhnya sadar menjadi sangat bingung.
“Malah enak-enakan molor. Itu Mbak Okta dateng – dateng kenapa nangis?” tanya Zahra.
Gw mendengus panjang. “Okta kenapa ngikutin sih” ucap gw dalam hati.
Gw beranjak dari tempat tidur. “Sekarang mana Okta?” tanya gw ke Zahra
“Dibawah, lagi sama Tante” jawabnya. Kaki ini melangkah cepat menuruni satu – persatu anak tangga. Segera gw hampiri Okta yang sedang menangis sesenggukan di pelukan Mamah.
Gw berlutut di hadapan Okta yang terduduk di kursi. “Kenapa nangis?” mencoba bertanya dengan nada sehalus mungkin. Ia hanya menggelengkan kepala. Gw meraih tangannya, “Ayok, diomongin di atas aja”. Kami bergandengan menuju balkon kamar gw.
Sesampainya di balkon, Okta duduk dipangkuan gw. “Pake acara mewek – mewek segala kenapa?” tanya gw dengan halus.
“Kamu jangan kayak tadi lagi, ga sukak” Pinta Okta
“Aku tau kamu lagi kepikiran sesuatu” Lanjutnya
“Engga juga” Jawab gw
“Kamu mah gitu, kalo ada apa – apa ga mau cerita. Tau ga, kenapa kebanyakan orang gila itu laki – laki? Ya karena kayak kamu gini, ga mau cerita kalo ada masalah, trus jadi beban pikiran, konslet deh” Jelas Okta panjang lebar, meskipun air matanya belum sepenuhnya kering, ditambah dengan senyum dan bahasa tubuh yang membuat gw seakan terhipnotis.
“Gitu dong, senyum. Jangan mewek kayak tadi, ga sukak” Gw berantakin poninya
Okta berkaca ke jendela kamar, merapikan rambutnya yang sempat berantakan karena ulah gw. “Jangan diberantakin ih, rese banget jadi orang” Ucapnya dengan mulut cemberut, hati ini gemas dibuatnya.
“Eheeem.. Okta tidur sini ya?. Udah malem, bahaya. Pulang besok pagi aja, sekalian berangkat sekolah” Papah berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar gw.
“Iya om”
“Jangan lupa izin sama orang rumah dulu, biar ga bingung” Ucap Papah, lalu pergi lagi meninggalkan gw dan Okta.
ehehe..
Diubah oleh congyang.jus 24-09-2018 04:10
mirzazmee dan 12 lainnya memberi reputasi
13