- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#683
Quote:
PART 45
“ Lo yakin mau tinggal di sini?” tanya Nina saat keduanya kini sudah berada di pekarangan rumah susun yang dulu sering Medina kunjungi. Tatapan keduanya kompak mengarah ke arah gedung bertingkat itu.
Medina mengangguk kecil dengan senyum hambar,” Gue yakin, ini jauh lebih baik daripada di rumah. Semoga aja masih ada tempat yang kosong.”
Medina berjalan memasuki gerbang rusun sambil menyeret kopernya, Nina mengikuti sambil memperhatikan keadaan sekeliling.
“ Apa gak sebaiknya lo pulang ke rumah lama lo aja?”
“ Mereka pasti bisa nemuin gue di sana Nin.”
“ Tapi mau sampai kapan lo tinggal di sini?”
Medina mengedikkan bahu dan menoleh pada Nina sejenak,” Nggak tahu. Seenggaknya sampe gue benar-benar tenang.”
“ Eh...itu pengelola rusunnya, bentar ya.”
Medina berlari menghampiri bapak berkumis tebal, berbadan gemuk yang sedang asyik ngobrol di salah satu sudut bangunan. Nina hanya mengangguk tanda setuju.
Usai berbincang dengan pengelola rusun, Medina kembali menghampiri Nina dengan wajah lesu.
“ Kenapa? Udah penuh semua?” tanya Nina sangat ingin tahu.
Medina mengangguk kecil, “ Bapaknya bilang, gue kalah cepat. Satu jam yang lalu udah ada cowok yang datang ke sini, dan ambil tempat yang kosong itu.”
“ Terus sekarang gimana?”
“ Gimana ya?” Medina sama bingungnya dengan Nina, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal , saking frustrasinya.
“ Ya udah...pulang ke rumah lama lo aja.”
“ Nggaklah. Buat apa gue kabur kalau ujung-ujungnya di susulin juga,” rungut Medina sebal dengan saran Nina.
“ Ya...terus lo maunya gimana? Cari kontrakan atau kost-kostan dekat kampus?”
“ Gue bakal paksa tu cowok pindah.”
“ APA? Lo gila?! Ada hak apa lo sampe ngusir orang begitu?”
“ Gue nggak peduli, gue tetap mau tinggal di sini apapun caranya.”
Medina melangkah cepat menaiki tangga sambil membawa kopernya, Nina berusaha mengimbaangi langkah Medina, ia tak ingin sahabatnya itu kembali membuat masalah.
Ternyata perasaan sedih di tinggalkan oleh Adam dan Nando, membuat gadis itu bertingkah semakin nekad. Mulai dari rencana kabur dari rumah, sampai berniat mengusir orang yang belum ia tahu sama sekali wujudnya seperti apa.
“ Na...gue tahu lo kadang gila. Tapi nggak gini juga,” Nina masih melayangkan protes, saat mereka telah tiba di salah satu pintu bernomor 17. “ Lo nggak ada hak ngusir orang dari tempat tinggalnya sendiri.”
Medina memilih mengabaikan semua perkataan Nina, ia menggedor pintu itu cukup keras. Nina yakin ia dan Medina akan mendapat masalah setelah ini.
Tok...tok....
“ PERMISI!! ASSALAMMUALAIKUM!!” pekik Medina tak ubahnya seperti orang gila. Nina yang sudah lelah membujuk Medina, memilih menutup wajahnya dengan slingbag miliknya.
Nina malu, benar – benar di buat malu oleh Medina. Apalagi, mereka kini menjadi pusat perhatian para penghuni rusun yang sedang santai di sepanjang koridor.
“ ASSALAMMUALAIKUM, MAS, BAPAK , OM, ABANG, BISA BUKA PINTUNYA NGGAK?”
“ Medina udah deh, lo bikin malu tahu nggak.” omel Nina deengan suara bisik – bisik.
“ TIRTA!!” suara Medina yang setengah kaget saat pintu terbuka, memancing Nina untuk menyingkirkan slingbag yang dari mukanya.
“ Medina!” Cowok yang di sebut namanya itu, merasa sedikit heran dengan keberadaan Medina di hadapannya. Apalagi kelakuan absurd Medina tadi sudah mengganggu waktu istirahatnya.
“ Kenapa dia bisa ada disini sih??” bisik Nina pada Medina. Medina hanya mengedikkan bahu.
Ia juga sama tak mengertinya, kenapa orang setajir Tirta memilih tinggal di rusun? Apa dia sudah bosan tinggal di rumahnya yang mewah itu?
Tunggu dulu, apa tidak sebaiknya pertanyaan itu di tanyakan pada Medina saja??? Entahlah.
***
“ Jadi lo di usir dari rumah gara – gara buku lo gak laku di pasaran?” Nina langsung membuat kesimpulan, setelah ia dan Medina puas berbincang dengan Tirta. Ketiganya memilih rooftop sebagai tempat ngobrol yang paling nyaman.
“ Iya. Dan satu – satunya orang yang bisa ngebantu gue Cuma Medina.”
“ Kok gue? Kenal bokap lo aja, nggak.” Sungut Medina terlihat begitu tak terima di sangkut pautkan dengan masalah Tirta dan ayahnya. Masalah Medina sudah cukup banyak, ia tak ingin di tambah lagi.
“ Ya emang cuman lo. Bokap gue minta di carikan penulis dengan karya yang unik buat di terbitin di perusahaannya. Dan menurut gue tulisan lo unik.”
“ Sejak kapan bokap lo punya usaha penerbitan?”
tanya Nina dengan nada tak percaya.
“ Sejak sebelum gue kenal lo ataupun Medina. Gue emang nggak pernah cerita, nggak penting juga buat di ceritain.”
“ Jadi maksud lo, bokap lo mau terbitin tulisan gue?” tanya Medina memastikan, wajahnya seketika berseri.
Tirta mengangguk mengiyakan,” Makanya waktu itu gue minta lo buat ke kantornya, tapi lo nggak muncul. Dan akhirnya di sinilah gue, gue di usir.”
“ Kapan gue bisa ke kantor bokap lo lagi?” tanya Medina cepat, ia terlihat begitu bersemangat.
“ Na...lo percaya sama nih cowok? Bisa aja kan ini Cuma akal bulusnya aja buat narik perhatian lo,” curiga Nina pada Tirta. Sejak putus, ia memang tak pernah sekalipun mempercayai apapun yang Tirta lakukan dan bicarakan. Nina sudah kadung menilai semua gerak gerik Tirta hanya omong kosong.
Tirta tak langsung menjawab, ia mendelik tajam ke arah Nina. Ucapan Nina barusan sedikit membuatnya tersinggung. Sebusuk itukah Tirta di mata mantannya itu? Hanya Nina yang tahu jawabannya.
“ Tirta...kapan gue bisa ketemu bokap lo?” tanya Medina lagi kian mendesak.
“ Hmm...besok.”
“ Ok...gue masih punya waktu 24 jam untuk memperbaiki tulisan gue,” ucap Medina dengan senyum lebar.
“ Medina lo-,” Nina ingin kembali protes, tapi urung karena Medina kembali memotong ucapannya.
“ Terus...kapan lo keluar dari rusun?” tanya Medina lagi dengan wajah polos.
“ Lo beneran ngusir gue?” Tirta terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan Medina, sementara Medina hanya mengangguk cepat masih dengan wajah sok lugunya.
“ Lo kenapa ngotot banget sih pengen tinggal di sini?” tanya Nina yang sudah penasaran sejak tadi. Menurutnya ada begitu banyak kontrakan atau rusun yang ada di kota ini, tapi kenapa Medina keukeuh memilih tinggal di rusun ini? Bahkan ia nekad mengusir Tirta, yang telah menyewa tempat itu lebih dulu.
Medina diam sambil memandangi Nina dan Tirta secara bergantian, ia yakin jika jawabannya akan terdengar menggelikan bagi kedua orang itu. Tapi dia juga tidak ingin berbohong kali ini, apa keinginannya untuk menanti kedatangan Adam ke sini terdengar konyol???
***
Hari berangsur sore, temaram lampu jalanan mulai menyala secara bergantian bak domino. Sayup – sayup adzan maghrib mulai terdengar mengisi setiap dimensi ruang ibu kota. Dari arah parkiran rusun terlihat Tirta dan Nina berjalan beriringan menuju area mobil Nina terparkir.
“ Gue baru tahu, kalau rusun ini jadi salah satu tempat yang sering di kunjungi kak Adam sama Medina.” Ucap Nina masih mengingat pengakuan Medina sebelum mereka beranjak pulang.
“ Bukan kunjungan Nin, kak Adam kerja di sini,” sahut Tirta tak setuju.
“ Sama aja kalik,”keukeuh Nina
Tirta menghela nafas,” Terserah lo deh.”
“ By the way, lo mau tinggal di mana setelah ini?”
“ Di mana aja,” jawab Tirta pasrah.
“ Lo suka ya sama Medina?” tanya Nina tiba – tiba , entah kenapa melihat interaksi antara Tirta dengan Medina sejak kemarin membuat mulut Nina gatal ingin bertanya pada orangnya langsung.
“ Kenapa tiba – tiba lo nanya kayak gitu?” Tirta heran, namun tampak ia sedang berusaha menyembunyikan kebenaran itu dari Nina. Baginya lucu, seorang mantan bertanya seperti itu. Apalagi sosok yang di bicarakan adalah sahabat mantannya sendiri.
“ Ya...sekedar pengen tahu aja. Kalik aja gue bisa kasih saran.”
“ saran apa’an?”
“ Saran gue, lo lupain perasaan lo ke Medina.”
Mendengar itu Tirta langsung menghentikan langkahnya. Begitu pula dengan Nina. Ekspresi wajah Tirta seketika berubah merah, Nina tidak tahu artinya apa. Tirta merasa malu karena rahasianya terbongkar? Atau Tirta marah karena merasa tersinggung dengan perkataan Nina? Entahlah , Nina tak peduli toh niatnya baik.
“ Tir, kita sama – sama tahu siapa orang yang sekarang ada di hati Medina,”tutur Nina sambil menepuk pundak Tirta.
“ Maksud lo, Nando?!” tanya Tirta tegas sambil menepis tangan Nina dengan sangat keras, hingga sukses membuat gadis itu meringis kecil.
“ Gue nggak mau kehadiran lo di antara mereka, merusak kebahagiaan sahabat gue,”
“ Kalau gitu, gue berharap Nando nggak pernah di temuin!!” Tirta beranjak pergi meninggalkan Nina yang masih menahan sakit di pergelangan tangannya.
Nina tak berniat menyusul Tirta, baginya sungguh tindakan yang tidak berguna sama sekali jika ia ingin menidurkan macan yang sedang ngamuk. Ia hanya berharap semoga Nando capet di temukan, agar Tirta sadar jika yang Nina katakan tadi benar adanya.
Lamunan Nina di buyarkan oleh dering ponsel miliknya. Ada satu panggilan masuk dari ayah Nando. Nina berharap semoga kali ini ada kabar baik.
“ Hallo?”
●●●
1
Kutip
Balas