Kaskus

Story

tmofer.mashiroAvatar border
TS
tmofer.mashiro
Kumpulan cerita terjemahan dan greentext oleh tmofer.mashiro
Diubah oleh tmofer.mashiro 14-10-2018 03:01
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
3
3.1K
18
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
tmofer.mashiroAvatar border
TS
tmofer.mashiro
#8
Anon dan Stella: Bagian 3 [END]


---- 12 ----



Aku khawatir dengan Stella. Hamil dengan postur tubuh yang kecil mungkin tidak baik untuk kesehatannya.

Saking berpikir keras, aku tertidur.

Akhirnya malah memimpikan Stella dan bayi tersebut.

Dalam mimpi, bayi kami adalah laki-laki. Mirip Stella. Imut, pirang, dan agresif, dengan beberapa sifatku, humor yang buruk, mata berwarna hijau, lebih bersabar ketimbang ibunya.

Aku bangun dan menyadari bahwa diriku menangis.

Ku beritahu Stella tentang mimpiku, dan keinginanku untuk tetap memiliki bayi kami walaupun aku harus bekerja lebih keras untuk menghidupi kami bertiga.

Stella menangis.

Aku menangis.

Kami pelukan selama berjam-jam, di tengah malam. Akhirnya, kembali tidur.

Aku memberitahu Tommy keesokan harinya.

Tommy dan Sasha pernah menjalani hal serupa. Mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan aborsi.

Tommy dan Sasha terdorong oleh pekerjaan mereka. Tommy menjalankan perusahaan IT dan Sasha membuat pakaian. Sasha memiliki brand-nya sendiri, situs web dimana orang-orang memesan pakaian.

Tommy mendukung keputusan kami untuk menerima bayi tersebut. Ia juga tidak memberitahu Sasha tentang ini. Sasha tahu hal tersebut beberapa hari kemudian. Stella menjadi kesal sebab ia ingin memberitahu kakaknya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan.

Perut Stella menjadi lebih besar.

Perasaan senang semakin meledak-ledak menunggu bayi kami. Masih kurang dipercaa bahwa kami berhasil menciptakan seorang manusia.

it's time.

Stella mengalami kontraksi dan aku mengantarnya ke rumah sakit.

Stella melahirkan bayi perempuan yang sehat.

Aku tidak merasa kecewa sebab bayinya bukan laki-laki, dan langsung jatuh cinta pada bayi perempuan kami.

Ia telah memiliki beberapa rambut coklat, seperti punyaku. Kami harus membawanya ke hair dresserketika umurnya masih satu minggu.

Feel insanely happy, indescribable feeling, having a kid.


---- 13 ----



Bayi perempuan kami, panggil saja Lisette, telah masuk ke dalam keluarga kami. Ibuku sangat sayang Lisette, dan ingin mengasuhnya sepanjang waktu. Sampai-sampai aku harus ribut dengan Stella.

Sementara itu, di tempat kerja, aku berencana untuk membuat sister companydari perusahaan yang ku miliki sekarang. Pekerjaan menjadi lebih banyak dari biasanya. Situs web baru, mengatur perusahaan, strategi bisnis, memikirkan perekrutan, cara mendapatkan klien, dll.

Stella drop out dari universitas untuk menjadi full time mother. Stella bekerja di rumah, mendesain situs web, dan melakukan sesuatu dengan photoshop.

Sekitar satu setengah tahun berlalu, bayi kecil kami menjadi bagian besar dari keluarga kami. Aku dan Stella masih sering kencan , sebab Ibuku akan sering mengasuh Lisette.

Kata-kata awalnya adalah "dada". I'm so happy.

Malam harinya Stella mengeluh sebab kata-kata awal Lisette bukan "mama". Sepertinya Stella masih menyimpan sifat kompetitif.

Waktu berlalu..

Lisette belajar untuk berjalan, melompat, menonton TV. Banyak ingatan manis dengan Lisette, semuanya terekam di ponsel kami. Stella menjadi ibu yang berbahagia. Istri yang berbahagia. Secara umum, pribadi yang berbahagia. Selalu. Bahkan sebelum kami berpacaran.

Suatu minggu aku menyadari bahwa Stella tidak sering tersenyum seperti biasanya.Matanya menunjukkan bahwa ia barusaja menangis. Aku menanyakan jika ada sesuatu yang terjadi. Ia menjawab "tidak apa-apa" dan kembali tersenyum. Waktu itu aku pikir mungkin hanya pengaruh hormon. Stella sering bertingkah aneh ketika datang bulan.

Aku sering tidak ada di rumah sebab pekerjaanku serang lebih berat. Jam kerja selam 40 jam per minggu perlahan berubah menjadi 80 jam perminggu sebab perusahaan baru tersebut. Aku juga sering tidak berjumpa dengan Lisette, kebanyakan pada akhir pekan. Ketika aku pulang, Lisette telah tidur dan aku berangkat kerja lebih dahulu pada hari kerja.

Suatu hari aku mendapatkan panggilan dari ponsel...


---- 14 ----




"Halo, apakah ini tuan Anon?"

Aku sedikit bingung.

"Ya, ada yang bisa dibantu?"

"Pacar anda telah mengalami kecelakaan. Ia sekarang ada di rumah sakit"

Aku langsung bergegas menuju ke rumah sakit.

Buru-buru menemui resepsionis, secepatnya memberitahu dan mereka langsung mengantarku ke kamar Stella.

IV di tangannya, breathing tubedi hidung. Dia sedang tidak sadar.

Aku bertanya apa yang terjadi. Dokter bilang Stella pingsan ketika berbelanja di mall. Dokter meyakinkan aku bahwa Stella tidak dalam kondisi kritis. Aku tetap berada di rumah sakit selama dua hari. Ibuku mengurus Lisette ketika aku di rumah sakit.

Dokter menjelaskan bahwa Stella sepertinya pingsan dari mengkonsumsi obat-obatan yang salah, dan mengakibatkan pikirannya kacau.

Butuh satu minggu bagi Stella untuk bangun. Satu minggu bagiku untuk tidak berangkat kerja sama sekali.

Ia terbangun.

Aku menangis.

Stella menangis.

Stella bilang padaku bahwa ia telah mengonsumsi obat-obat anti-depresi dan obat-obatan lain untuk menenangkan pikirannya. Stress dan kesepian membuatnya melakukan hal tersebut.

Ini Salahku.

Aku hiatus dari pekerjaan sampai Stella sembuh. Akhirnya aku menjual perusahaanku, dan mengambil pekerjaan dengan 32 jam kerja per minggu.

Stella sembuh, namun masih merasa bersalah sebab hampir meninggalkan kami.

Aku menyadari bahwa kondisi di rumah sekarang tidak seceria dulu. Terkadang Stella menangis walaupun ketika keadaan sedang baik-baik saja. Stella telah didiagnosis dengan depresi kronis. Ia mendapat pengobatan yang sesuai.

Fast Foward to now.

Lisette telah menjadi gadis muda, cepat bertumbuh dan aku mencintainya lebih dari apapun

Stella masih bersama denganku tapi,


---- 15 ----



Semuanya tak lagi sama.

Stella is absent, mentally.

Stella bukanlah lagi Stella yang kekanak-kanakan dan agresif. Stella adalah Stella ramah, baik, dan tenang. Aku rindu dengan spark of lifeyang dulu selau ia miliki. Aku masih mencintainya, sangat. Stella adalah segalanya bagiku.

Aku tidak akan meninggalkan Stella. Namun ada perasaan aneh yang aku rasakan malam ini setelah aku menidurkan Lisette dan melihat Stella tertidur. Aku tidak dapat mengatakan bahwa Stella masih Stella. Rasanya seperti sesuatu telah berubah pada hari itu. Sebagian dari dirinya telah tiada, dan aku merindukannya.

Apakah hal tersebut membuatku egois?. Aku tidak benci dengan Stella yang sekarang. Aku tidak marah padanya. Aku hanya merasa sesuatu telah mengacaukanku dari dalam setelah minggu -- Proses penyembuhan -- itu. Aku tidak sebahagia sebelum proses itu terjadi.

Aku masih sesekali melihat Stella menangis, dan aku tahu penyebabnya adalah depresi. Aku itu bukan salah ku, Stella telah mengatakannya berjuta-juta kali. Namun bagaimanapun juga aku tetap merasa bertanggung jawab atas hal tersebut.

Mungkin jika aku dapat mencegahnya...

Jika aku menghabiskan waktu lebih banyak dengan Stella...

Jika aku tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanku...

Mungkin semuanya akan berbeda.


---- Selesai ----

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.