- Beranda
- Stories from the Heart
Kumpulan cerita terjemahan dan greentext oleh tmofer.mashiro
...
TS
tmofer.mashiro
Kumpulan cerita terjemahan dan greentext oleh tmofer.mashiro
Diubah oleh tmofer.mashiro 14-10-2018 03:01
anasabila memberi reputasi
3
3.1K
18
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
tmofer.mashiro
#2
Anon dan Stella : Bagian 1
Anon dan Stella : Bagian 1
---- 01 ----
Tahun 2009. Aku seorang anak SMA, umur 16 tahun, dan masih perjaka (tentu saja). Aku bekerja paruh waktu di sebuah minimarket di kota ini. Kehidupan sekolah yang cukup normal, nilai sedikit di atas rata-rata. Aku memiliki seorang teman, panggil saja Stella. Dia 1 tahun lebih muda dariku. Kami telah berteman selama bertahun-tahun, sejak taman kanak-kanak.
Stella adalah anak yang pintar, dia pernah mengambil kelas akselerasi. Sekarang, kami berada di tingkat yang sama walaupun kelas yang berbeda. Stella memiliki bentuk tubuh yang cukup pendek bagi cewek sebayanya. Dia memiliki wajah yang cerah, rambut pirang, mata berwarna coklat, dan pendek. Ia kelihatan 2 - 3 tahun lebih muda dari orang-orang seumurannya. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan ia sering dibully.
Aku tidak (baca: belum) menganggap Stella lebih dari seorang sahabat. Kami bermain video gamebersama, membaca buku bersama, bermain musik band bersama. Stella bermain piano dan ia memang ahli dalam memainkannya. Ia belajar bermain piano dari guru yang mengajariku bermain gitar.
Hari kasih sayang pun tiba.
Aku jatuh cinta dengan seorang siswi yang mungkin tidak akan kudapatkan, jadi aku memberinya mawar pada hari kasih sayang. Di sekolah, terdapat jasa di mana kamu bisa mengirim sebuah mawar kepada seseorang, secara anonim maupun tidak. Dengan pertimbangan bahwa aku ini adalah remaja yang kurang peka, aku tidak pernah serius memikirkan mawar yang kudapat. Aku hanya mendapatkan 2 mawar anonim. Bukan hal yang jarang ketika seseorang mendapat 1 atau 2 mawar. Siswa cowok juga terkenal saling memberikan mawar agar kelihatan keren sebab beberapa diantara mereka sama sekali tidak terkenal.
Aku ditolak. called it though.
Aku pergi menemui Stella, ingin menceritakan kepadanya 2 mawar yang aku terima.
Stella ternyata tidak mendapatkan mawar sama sekali.
---- 02 ----
Ia kelihatannya baik-baik saja. Sebenarnya, Stella adalah cewek yang jarang bicara, bagaikan sebuah dinding. Setelah mencurahkan isi hatiku padanya, Stella mencoba menenangkanku "Tenang saja, anon. Aku yakin masih ada cewek yang suka padamu. Buktinya kamu dapat 2 mawar". Aku merasa enggan sebab mengeluarkan curhat kepada sahabatku yang tidak mendapat mawar.
Aku bertanya "kamu mendapat mawar, Stella?".
"Tidak. Aku tidak pernah dapat. Aku bukan orang yang begitu spesial" jawabnya.
Aku bisa melihat wajahnya sedikit sedih ketika menjawab.
"Aku bisa membelikan satu untukmu Stella, tapi bukankah itu sedikit aneh" Aku kasihan padanya.
Sial!. Aku baru menyadari bahwa 1 dari 2 mawar yang aku terima ini mungkin saja dari Stella.
"Tidak perlu" Stella tersenyum.
Keadaan menjadi canggung. Kami menjadi diam bergeming dan duduk hanya berdua setelah bel sekolah berbunyi. Kebanyakan siswa lainnya telah pulang. Aku mengajak Stella berkunjung ke rumah, seperti yang sering kami lakukan, namun ia menolaknya.
Beberapa jam kemudian.
Aku telah pulang dan berada di depan layar laptop, kebanyakan waktu dipakai untuk berselancar di `MSN`. Melihat statusnya, sedikit lebih dramatis dari biasanya.
Aku kemudian mengobrol dengannya, sepertinya ia sedang sedih.
Salah satu teman Stella tiba-tiba mengirim pesan kepadaku. Bertanya mengapa aku sangat sering berkumpul dan dekat dengan Stella. Aku beritahu bahwa kami telah berteman sejak kecil dan akan selalu seperti itu. Ia bertanya apakah aku menyukai Stella.
Mind = Blown
Aku mulai meragukan diriku sendiri. Apakah aku menyukai Stella?
---- 03 ----
Aku berpikir sejenak. Hari ini adalah hari valentine, Stella tidak mendapat mawar dan sepertinya sedang sedih, dan kemudian temannya tiba-tiba bertanya apakah aku menyukai Stella.
Otak remaja yang kurang peka ini mulai menghubungkan pecahan-pecahan petunjuk. Stella mungkin menyukaiku, walaupun aku sendiri tidak menyadarinya. Apakah itu yang membuatnya sering berkumpul bersamaku?
Aku mengirim pesan kepada Stella.
"Stella, maaf aku tidak mengirim mawar un-"
Hapus pesan yang barusan.
Apa yang sedang aku lakukan? Apakah aku melakukan ini karena aku ingin sahabatku merasa baikan? Ataukah aku melakukan ini karena aku suka padanya?
Aku memikirkan hal tersebut beberapa saat.
Stella tidak memiliki penampilan yang buruk, hanya saja underdeveloped. Walaupun rambutnya sedikit berantakan dan pakaiannya kurang mewah(orang tuanya kurang mampu), Stella memiliki wajah yang imut.
Aku membayangkan diriku bersama Stella. Membayangkan teman-temanku menjahili kami (mereka selalu bercanda-canda mengenai kami berdua sebagai pasangan dan hal tersebut selalu membuatku malu). Jatungku berdebar-debar kencang, seperti saat memilih pilihan penting dalam hidup.
Aku mengirimkan Stella pesan.
"Stella, Aku ingin bicara empat mata denganmu. Kita ketemuan di taman bermain dekat rumahmu yuk!"
Ia membalasnya sangat cepat.
"Ya"
Aku keluar, mengambil motor yang telah kubeli dengan semua uang dari bekerja di minimarket dan segera menuju tempatnya.
Di luar ternyata udara sangat dingin, dan aku bukan seorang perencana tempat bertemu yang baik. Ketika aku sampai, Stella sedang duduk di ayunan. Ia terlihat senang melihatku.
"Hai" Aku duduk di ayunan yang satunya.
"Hai" Balasnya, sembari melihatku berada di depannya.
Sangat sepi di sini, tidak ada orang di jalan raya ataupun taman bermain. Hanya aku, Stella, dan angin dingin.
Aku memandangnya. Ia sedikit gemetar.
Aku juga sangat kedinginan tapi aku memberinya hoodie yang aku pakai di dalam jaketku.
Ia menerima dan memakainya.
Terlihat senyum di wajahnya.
Karena aku adalah remaja yang paling tidak romantis, aku langsung saja bertanya.
"Stela, apakah kau suka padaku?"
Ia diam membeku.
---- 04 ----
Kami saling menatap dengan penuh rasa canggung.
Mengapa aku bertanya pada Stella, cewek paling canggung yang kuketahui dengan pertanyaan seperti itu?
Mencoba untuk tenang, namun imajinasiku semakin tidak terkendali. Aku membayangkan Stella akan memberikan jawaban seperti "Kita jadi teman saja ya" atau bahkan "Aku tidak ingin menjadi temanmu lagi".
Keheningan ini berlangsung selama 3 menit, namun bagiku rasanya seperti setengah jam.
"Ya"
Sekarang aku yang membeku. Aku sama sekali tidak menyangka Stella akan menerimanya. Aku belum pernah memiliki pacar sebelumnya sejak drama 7-hari di taman kanak-kanak.
Keheningan yang canggung ini terasa semakin lama.
Sekarang giliranku untuk mengatakan sesuatu.
Aku dapat melihat air mata berkumpul di kelopak matanya. Ia pasti mengira aku akan menolaknya.
"Aku juga menyukaimu, Stella"
Suasana kembali hening.
Sekarang ada dua remaja aneh sedang membeku di taman itu.
"Jadi ... sekarang ... apa?" Tanyaku kira-kira setelah 1 menit.
Kami berdua masih saling menatap satu sama lain.
Stella cekikikan sembari menahan genangan di matanya. Itu hal yang imut sekaligus lucu, dan membuatku tertawa.
Kami tertawa untuk beberapa saat.
Menggigil, aku bangun dari ayunan.
Aku orangnya cukup tinggi, dapat dibilang aku menutup Stella yang sedang duduk di ayunannya.
Stella melompat dari ayunannya dan memelukku.
Aku balas memeluknya.
Rasanya seperti kami berpelukan selama setengah jam.
Aku kemudian dengan segala ke-tidakromantisan-ku bertanya kepada Stella.
"can i kiss you?"
"Ya" balasnya dengan senyuman.
the most awkward lip kiss scene in the history of of cringy teen relationship.
Semua perasaan bercampur aduk dan bergejolak di dalam diriku. Kebanyakan adalah perasaan yang menyenangkan.
Berkata sesuatu seperti "wah, yang barusan rasanya luar biasa. Mau lakukan sekali lagi?"
Aku benci diriku setelah mengingat cringefestini.
Stella tertawa dan menyetujuinya.
Kami bercumbu sekali lagi.
---- 05 ----
Ini pertama kalinya aku memberikan ciuman, jadi terus terang saja bahwa aku masih belum berpengalaman dalam hal ini. Pada akhirya aku malah mendorong lidah dengan paksa ke dalam bibir Stella. Bisa dibilang bahwa Stella memiliki gigi yang manis, sebab aku dapat menyicip sisa persen yang tersisa.
Rasanya sangat aneh dan menggelikan. Aku mungkin telah mengatakan ini berulang kali, tapi aku belum pernah mencium seorang cewek sebelumnya, dan ini sangat canggung. Perasaan tidak nyaman membuat kami berdua berhenti memberikan kecupan.
"Jadi... Kita telah resmi berpacaran?" Aku bertanya, sekadar untuk memastikan.
Stella hanya mengangguk dan tersenyum.
Rasanya sudah lama aku tidak melihatnya sebahagia ini.
Kami berpamitan dan pulang ke rumah. Udara dingin seakan menusuk tubuh apalagi jika mengendarai motor, tetapi aku tidak peduli. Aku telah memilih seorang pacar.
Setelah sampai di rumah, aku masih bercengkrama dengan Stella menggunakan ponsel sampai sebelum tidur.
Keesokan harinya di sekolah, kami tidak terlalu banyak bercakap-cakap. Kami duduk berdua saat jam istirahat dan memakan bekal dari rumah, mencoba untuk membuka percakapan, namun tetap saja rasanya canggung. Mudah untuk ditebak bahwa kami berdua belum terbiasa dengan kehidupan setelah menjadi pasangan satu sama lain. Walaupun begitu, kami merasa senang dapat saling menjadi pendamping.
Aku memberitahu teman-teman tentang hubungan antara aku dengan Stella. Mereka berlaga seperti ini bukanlah hal baru dan semua orang telah tahu dari dahulu. Aku pikir mereka sengaja melakukannya hanya untuk bercanda. Setelah dipikir-pikir, Aku dan Stella memang sudah begitu dari dulu. Satu-satunya yang berbeda adalah ciuman yang canggung dan hubungan ini.
Butuh waktu sekitar seminggu bagi kami berdua untuk berani bergandengan tangan di depan publik. Kami menjadi pasangan yang tidak kelihatan seperti pasangan pada umumnya. Lagipula, Stella hanyalah seorang murid yang pendiam dan aku juga bukan seseorang yang populer.
---- Bagian 1 Selesai ----
Diubah oleh tmofer.mashiro 18-09-2018 21:18
1
