- Beranda
- Stories from the Heart
Pencarian Arti Ikhlas dengan Merantau
...
TS
ipbaik
Pencarian Arti Ikhlas dengan Merantau
Quote:
Spoiler for Rules:
PROLOG
Malam ini, gua sedang sibuk mengurus perlengkapan untuk kuliah pertama besok. Palingan cuman bawa alat tulis kertas doang. Lalu denger ceramah dosen yang sangat seru. Kok seru? Soalnya kalau dibilang bosan mah mainstream. Tapi sebelum itu kita balik dulu buat intro yak.
Perkenalkan gua Alga. Gua anak perantauan yang akhirnya dapet kesempatan merantau di pulau jawa. Oh ya, gua sendiri berasal dari salah satu kota di daerah Sumatera Barat. Gua anak kedua, dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru dan seorang ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Daerah target rantauan gua saat itu adalah kampus pertanian yang terkenal di daerah bogor. Pasti tau lah kampus mana. Trus kenapa gua pengen merantau? Karena gua pernah dengar “laki-laki minang belum pantas disebut pria kalau belum mencoba yang namanya merantau.” Entah gua denger pepatah dari mana, tapi bagi laki-laki di minang merantau punya gengsi tersendiri yang menandakan seseorang sudah bisa disebut dewasa, khususnya pula untuk laki-laki.
Nantinya gua bakal ceritain suka duka, seneng sengsara zaman perkuliahan gua semenjak berangkat dan sampai berakhir sesuai keinginan aja.
Sebelum itu gua punya spoiler :
Spoiler for Spoiler Keras:
Spoiler for Index:
Spoiler for Tips Sudut Pandang Penulisan:
Diubah oleh ipbaik 16-09-2018 19:15
anasabila memberi reputasi
1
14.4K
86
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ipbaik
#78
Spoiler for Perubahan Penting!!!:
15. Saksi
Apa yang bakal kalian pikirkan saat ada seorang anggota baru disebuah asrama lalu ia membuat masalah hingga menyebabkan seseorang pingsan?
Palingan dikasih sanksi..,
Palingan bayar denda..,
Palingan diusir dari asrama..,
Palingan di Drop Out!
Hah? Drop Out? Ga.. ga.. ga seekstrem itu kok. Yang jelas malam itu gua di panggil oleh kakak SR yang menjadi ketuanya. Bukan kakak-kakak SR yang baru diangkat. Gua langsung diajak bicara enam mata. Berarti ada 3 orang disana dong? Ga, kakaknya pake kacamata. Makanya jadi enam.. huahahahaha.. receh banget gua.
Kembali fokus, gua yang dihadapkan di depan ketua SR disuruh menceritakan kronologinya. Gua mulai menceritakan dari bagaimana mulanya kami bermasalah, lalu terjadi perkelahian, hingga gua membuat Ilham pingsan. Ketua SR itu pun mengangguk-angguk seakan-akan mengerti permasalahan ini. Ia menyuruh gua kembali besok pagi menemuinya sekaligus menemui orang tua Ilham karena gua harus mempertanggung-jawabkan apa yang telah gua perbuat. Ia juga menyarankan untuk membawa saksi jika nantinya ada perbedaan kronologi maka ada saksi tersebut yang bisa membantu menjelaskan. Respon gua terhadap ketua ini? Respect pastinya dan gua juga salut. Pantas saja dia mendapat kepercayaan dari orang-orang lain untuk menjabat sebagai ketua SR.
Gua kembali ke kamar sambil memikirkan pembelaan apa yang bakal gua ucapkan besok pada pagi harinya.
Quote:
*Pada pagi harinya, gua dipanggil kakak SR untuk menghadap ketua SR dan orang tua Ilham. Rahmat dan Rian juga ikut pergi menghadap ketua SR. Mereka ternyata mau bersaksi agar semua kesalapahaman jelas tanpa adanya tambahan-tambahan dari kedua belah pihak. Ya memang itu tujuan gua sih, secara posisi gua ga salah. Apalagi ini cuman masalah sepele yang terlalu dibesar-besarkan. Kami dipersilahkan masuk oleh kakak SR lalu diantar menuju ruang tamu gedung kantor SR. Disana sudah ada Ilham dengan keluarganya, ada Ketua SR dan beberapa anggotanya, lalu gua, Rahmat, dan Rian.
Quote:
Gua yang masih diam langsung disuruh duduk oleh ketua SR. Ia menanyakan beberapa pertanyaan terkait kronologi, namun emaknya Ilham tiba-tiba saja mencela omongan ketua SR. Gua yang udah merasa sampai ke ubun-ubun amarahnya langsung bersuara dengan tegas.
Quote:
Saat emaknya mau ngamuk, bapaknya si Ilham bisa menengahi kami sehingga emaknya tadi tidak jadi melanjutkan amukan tersebut. Ketua SR langsung menanyakan kronologi dari gua. Gua pun akhirnya menceritakan dengan jelas, jujur, amanah dan tanpa bumbu-bumbu penyedap. Mulai dari Ilham mengejek gua duluan, lalu gua balas ejek dan ia tak terima. Setelah itu Ilham yang melakukan kontak fisik pertama kali sehingga gua balas kontak fisik tersebut.
Quote:
Setelah itu gua kembali menjelaskan bagaimana cara gua bisa membuat Ilham yang segede itu pingsan. Orang-orang yang hadir disana menatap gua tak percaya. Mereka pasti berpikir kalau gua terlalu cerdas untuk memanfaatkan lingkungan atau emang sebaliknya si Ilham aja yang terlalu ceroboh tak waspada akan sekitar.
Padahal gua berharap si Ilham bakalan membuat-buat cerita untung menguntungkan dia, tapi sepertinya dia sadar kalau gua udah bawa saksi kunci yang menyaksikan perkelahian kami sehingga ia tak bisa membela diri dihadapan semuanya.
Setelah penjelasan yang cukup, akhirnya diketahuilah bahwa posisi gua memang lebih benar dan Ilham yang memulai perkara menjadi lebih besar.
Quote:
Emaknya yang tadi ribut-ribut sendiri, sekarang hanya bisa diam melihat kelakuan anaknya. Pastinya mereka sekeluarga merasa malu, sudah anakknya melakukan masalah sepele, kalah lalu pingsan. Mencoba membela anaknya tapi malah membela tanpa dasar karena tak tahu kronologi.
Bapaknya meminta damai tanpa ada permasalahan lagi dan saling memaafkan. Bapaknya pamit duluan untuk pulang kepada kami semua, sedangkan emaknya sudah nyelonong untuk keluar duluan. Ilham pun disuruh ikut dengan orang tuanya entah untuk apa dan juga gua ga perduli.
Quote:
###
Diubah oleh ipbaik 16-09-2018 19:13
0
