Kaskus

Story

ipbaikAvatar border
TS
ipbaik
Pencarian Arti Ikhlas dengan Merantau
Quote:



Spoiler for Rules:




PROLOG



Malam ini, gua sedang sibuk mengurus perlengkapan untuk kuliah pertama besok. Palingan cuman bawa alat tulis kertas doang. Lalu denger ceramah dosen yang sangat seru. Kok seru? Soalnya kalau dibilang bosan mah mainstream. Tapi sebelum itu kita balik dulu buat intro yak.

Perkenalkan gua Alga. Gua anak perantauan yang akhirnya dapet kesempatan merantau di pulau jawa. Oh ya, gua sendiri berasal dari salah satu kota di daerah Sumatera Barat. Gua anak kedua, dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru dan seorang ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Daerah target rantauan gua saat itu adalah kampus pertanian yang terkenal di daerah bogor. Pasti tau lah kampus mana. Trus kenapa gua pengen merantau? Karena gua pernah dengar “laki-laki minang belum pantas disebut pria kalau belum mencoba yang namanya merantau.” Entah gua denger pepatah dari mana, tapi bagi laki-laki di minang merantau punya gengsi tersendiri yang menandakan seseorang sudah bisa disebut dewasa, khususnya pula untuk laki-laki.

Nantinya gua bakal ceritain suka duka, seneng sengsara zaman perkuliahan gua semenjak berangkat dan sampai berakhir sesuai keinginan aja.

Sebelum itu gua punya spoiler :
Spoiler for Spoiler Keras:






Spoiler for Index:


Spoiler for Tips Sudut Pandang Penulisan:
Diubah oleh ipbaik 16-09-2018 19:15
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
14.4K
86
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
ipbaikAvatar border
TS
ipbaik
#76
14. Misteri

Aku terbangun..

Sekilas aku mengingat akan sebuah kejadian yang membuat diri ini pusing. Kepala ini terasa dibenturkan ke sebuah dinding.

Mimpikah !?

Kurasa Tidak!

Aku bisa merasakan denyutan kesakitan yang ada pada dahi ini. Kuraba sejenak dahi tersebut.

Quote:


Dahi ini masih merasa perih. Perih yang tak tertahankan. Mungkin ini disebabkan karena kesadaranku yang berangsung pulih, sehingga aku dapat lebih fokus merasakan perubahan yang ada pada tubuh. Aku sudah mulai tersadar secara penuh, jam yang berada di dinding pun bisa ku baca dengan instan.

Quote:


Siapa itu Aku merasakan ada yang memanggil namaku. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada orang yang masih terbangun disekitarku. Aku hanya mendapati Kiki yang sedang terlelap sambil duduk disebelahku. Apakah yang bertanya tadi bukan manusia Ayolah jangan bercanda, masa lagi sakit-sakitnya malah diteror setan sih.

Quote:


Aku mengangguk setuju akan saran Kiki. Kugeser kembali selimut keatas sembari mengesampingkan rasa perih ini. Kiki juga melanjutkan tidurnya namun tidak tidur sambil duduk diseblahku tadi, melainkan bergerak kembali ke arah kasurnya.

Pertanyaan dan ucapan Kiki barusan, mirip dengan suara yang kudengar sesaat tadi. Kebetulan Yap, hanya itu yang bisa kujadikan kesimpulan untuk saat ini. Semakin kupikirkan untuk mendapat jawaban maka semakin sakit dan perih pula yang kurasakan pada dahi ini. Oke... Aku menyerah, sepertinya badan ini memang butuh istirahat. Hingga paginya aku bangun sendiri. Kiki dan Sari ternyata sudah siap-siap entah mau kemana.

Quote:


Aku langsung bangun dari tempat tidur. Hal yang pertama kali kurasakan adalah pusing. Berdiri membuatku tidak terlalu fokus dan menambah beban di kepala. Aku yang hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan langsung ditangkap oleh Kiki dan Sari secara bersamaan.

Quote:


Kami menuju ke arah depan asrama, disana sudah ada kakak SR yang menunggu. Aku, Kiki dan kakak tersebut berangkat dengan satu motor, sedangkan Sari dan kakak satu lagi menggunakan motor lain. Yap, motorku boti alias bonceng tiga. Kayak cabe-cabean dong Emang hahaha..
Jarak antara asrama putri dengan poliklinik tidak terlalu jauh, hanya sekitar 100-200 meter. Apalagi kami pergi menggunakan motor, hanya membutuhkan waktu yang tak sampai 5 menit. Sesampainya disana aku langsung dibawa masuk ke sebuah ruangan. Medical check up seperti formalitas biasa.

Quote:


Akhirnya aku menceritakan kejadian semalam. Dari menenmani Kiki ke kamar mandi hingga ada yang mencoba mencelakaiku. Kiki pun ikut cerita bahwa ia heran kenapa aku belum kembali juga dari kamar mandi. Tidak sabar menungguku di kamar, Kiki pun mencoba untuk mengecheck keberadaanku kembali ke arah kamar mandi. Baru saja keluar dari kamar, Kiki pun shock melihatku bersandar ke dinding yang cukup jauh dari kamar dengan kondisi memegang kepala dan tidak sadarkan diri. Kiki yang panik pun langsung memanggil Sari, hingga Sari melapor ke SR kami. Malam itu aku hanya diberikan pertolongan pertama karena disangka hanya kecapekan biasa tanpa mereka tahu bahwa ada yang mencoba mencelakaiku tadinya.

Quote:


Aku mengangguk setuju akan saran itu karena merasa cukup lemah lalu Kiki menuntunku. Saat berjalan ke arah pintu keluar dari poliklinik, disana aku melihat Zanul yang berjalan ke arah pintu juga.

Quote:


Tiba-tiba ia berhenti tepat dihadapanku. Ia memegang keningku dengan lembut dengan tangannya. Lalu memindahkan tangan itu ke arah dahinya sendiri.

Quote:


Sesampainya di depan, ternyata benar kakak SR sudah menunggu. Aku juga melihat Sari yang menunggu. Kami kembali ke arah asrama putri dengan formasi yang sama. Boti dan sisanya bonceng dua. Sesampainya disana, kakak SR berpesan padaku untuk minum obat lalu istirahat sebanyak-banyaknya supaya cepat pulih. Diperjalanan menuju kamar, aku masih dipapah oleh Sari dan Kiki.

Quote:


Sesampainya di kamar, ternyata sudah banyak anak-anak lorongku dan juga beberapa dari lorong sebelah yang menjenguk. Kayaknya ga menjenguk deh, lebih tepatnya “kepo” akan kejadian semalam. Kiki dan Sari yang paham bahwa aku ga mau diganggu pun membawa mereka keluar dan menceritakannya di luar kamar. Hingga aku tinggal sendiri di kamar sambil melihat kalung kesayangan.

Quote:



###
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.