Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)
Pintu Mimpi (Prolog)


Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.

All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.

Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda

Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny

Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda

Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias

Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris

INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
someshitnessAvatar border
zixzaxfireAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.9KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#27
Pintu Mimpi #10 (Kebenaran Terungkap)
Dan kini semuanya menjadi jelas
Tak ada lagi pertanyaan
Tak ada lagi keraguan
Aku pun tahu apa yang harus kulakukan
-- Melody Harris


○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

"Milos!" Garry mengejar sahabatnya itu tanpa memperhatikan kerikil-kerikil kecil yang mungkin dapat membuatnya terjatuh.

Miloslava tertawa terbahak-bahak sambil berlari menghindari Garry setelah membuatnya basah kuyup dengan air sungai.

"Kemari kau!" Garry bergerak semakin cepat dan pada akhirnya menangkap Milos.

Mereka jatuh ke rerumputan bersama-sama lalu tertawa.

"Kau curang. Setelah mendorongku ke sungai kau melarikan diri," ucap Garry menggelitik Milos.

"Hentikan, hentikan," Milos tertawa keras karena merasa geli.

"Tidak. Ini hukumanmu." Garry tetap menggelitik gadis kecil di sampingnya yang tampak begitu bahagia.

Milos beranjak dan berusaha untuk melarikan diri lagi, tetapi Garry menahannya dengan cara memeluk dari belakang.

"MILOSLAVA!"

"Itu suara mama! Aku harus kembali sekarang," ucap Milos cepat.

Garry melepaskan Milos tetapi masih menggenggam pergelangan tangannya. "Kalau bukan karena Ratu memanggilmu, aku akan menghabisimu," ia menggelitik gadis itu lagi.

Milos menjulurkan lidahnya lalu melambai pada Garry sebelum ia berlari kembali ke kastil.

///////////////////////////////////////

Suara guntur yang begitu menggelora disertai kilat yang menyambar membuat seluruh kota menjadi takut, termasuk para anggota Kerajaan Milost. Menurut para ahli nujum, sesuatu yang buruk akan terjadi. Seluruh penjaga dikerahkan untuk mengamankan kota, terutama Tahta. Rupanya musuh dari kerajaan Milost berusaha untuk menyerang dan masuk ke dalam kota.

Terjadi perang yang sangat sengit di atas langit kerajaan Milost. Para pahlawan perang mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk memerangi musuh. Tetapi karena kekuatan kerajaan Milost sangat besar, musuh pun pada akhirnya berhasil dikalahkan.

Namun sayang sekali selama perang berlangsung, sebuah kemalangan tak terhindarkan terjadi. Ada sebuah panah milik musuh yang berhasil menembus lingkaran pertahanan kota dan masuk ke lingkungan Tahta.

Panah itu menembus kaca kamar Miloslava dan hampir menancap pada tubuh gadis kecil itu, tetapi Garry yang diperintahkan Raja untuk menemaninya menarik tubuh Miloslava dengan cepat demi menghindarkannya. Hanya saja, panah itu terlalu cepat melesat hingga Garry tak memiliki waktu yang cukup untuk turut terhindar.

Miloslava berteriak dengan sangat kencang, membuat para anggota Tahta berlari masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Garry telah bersimbah darah. Anak laki-laki malang itu tergeletak tak berdaya.

///////////////////////////////////////

Selama setengah tahun sejak kejadian itu, Miloslava mengalami guncangan mental yang berat. Tak ada senyuman atau tawa dari mulutnya. Ia bahkan makan serba sedikit dan pandangan matanya senantiasa kosong. Setiap kali ia melewati tempat-tempat dimana ia menghabiskan waktu bersama dengan Garry, ia akan menangis seharian.

Satu-satunya tempat yang membuatnya merasa nyaman hingga ia seringkali menghabiskan waktu yang begitu lama disana adalah sebuah taman kecil dengan dua ayunan yang khusus dibuatkan untuk Miloslava dan Garry. Tetapi disana, ia seringkali berbicara sendiri seolah Garry ada disana.

Raja dan Ratu tak sanggup melihat putri kecilnya menjadi seperti itu. Mereka mencari cara untuk menyembuhkan Miloslava. Seorang dari tua-tua yang juga merupakan tabib kerajaan kemudian memberikan sebuah jalan keluar yang sangat ditentang oleh Ratu.

"Ini adalah Pintu Mimpi." Tabib yang bernama Henrich itu menunjukkan kepada Raja dan Ratu melalui cermin ajaib yang dapat menunjukkan berbagai lokasi di dunia. "Kita perlu mengasingkan Putri Miloslava keluar dari dunia ini."

Ratu menangis. "Aku tidak akan membiarkan putriku pergi. Bagaimanakah ia akan hidup? Ia tak mungkin tinggal sendirian di dunia antah berantah itu." Ia menyatakan penolakannya yang tegas.

"Hamba tidak dapat memaksa. Tetapi, jika Ratu ingin Putri Miloslava segera pulih, membiarkannya pergi beberapa tahun saja akan lebih baik daripada melihatnya menderita seumur hidupnya. Tuan Putri memerlukan tempat lain yang sama sekali baru untuk melupakan segala sesuatunya disini, terutama yang berkaitan dengan Garry." Henrich menjelaskan dengan panjang lebar.

"Lalu kapan ia akan kembali kemari? Dan ketika ia kembali, apakah ia akan mengingat semuanya kembali?" Ratu melemparkan banyak pertanyaan, hendak memastikan apakah pilihan untuk mengasingkan Miloslava dapat menjadi jalan keluar.

Henrich sedikit menunduk. "Tuan Putri tak akan dapat mengingat--"

"Kalau begitu tidak akan!" sergah Ratu.

"Sayang, biarkan Henrich selesai berbicara," Raja memberitahu istrinya untuk lebih tenang. "Mohon lanjutkan, Henrich."

Henrich mengangguk. "Tuan Putri tak akan dapat mengingat secara langsung. Tetapi akan butuh waktu untuk mengembalikan ingatanya. Jika ada keajaiban, ingatannya akan kembali lebih cepat," ia melanjutkan.

"Dan apakah keajaiban itu?" tanya Ratu.

Henrich menggeleng. "Hamba tidak tahu, Ratu," ucapnya.

Ratu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Mengambil keputusan itu merupakan langkah yang teramat berat bagi Raja dan Ratu. Keduanya menghabiskan beberapa waktu lamanya sampai pada akhirnya dengan berat hati merelakan Miloslava untuk diasingkan.

Raja, Ratu beserta dengan Henrich, membawa Miloslava yang sedang tertidur akibat pengaruh penghapusan memori sementara menuju ke Pintu Mimpi pada tengah malam. Di seberang pintu, telah menanti sepasang suami istri yang tak dapat memiliki keturunan, dan telah didatangi secara pribadi oleh Henrich sebelumnya.

"Mohon jaga putri kami dengan baik," ucap Raja sembari menyerahkan Miloslava ke pelukan pasangan yang bernama Paul dan Jeanette Harris itu.

"Saat ia terbangun, pastikan kalian segera berbuat seolah-olah kalian adalah orang tua kandungnya. Kalian juga bebas memberikan nama baru untuknya." Henrich memberitahu keduanya atas persetujuan Raja dan Ratu.

Paul dan Jeanette memandang putri baru mereka dengan senyuman lebar dan mata berbinar.

"Jangan memberitahukannya mengenai dunia ini sampai ia menemukannya sendiri." Begitulah ucapan terakhir dari Henrich sebelum Pintu Mimpi ditutup dan tidak pernah dibuka sama sekali selama bertahun-tahun lamanya.




Cermin itu kembali menunjukkan bayangan diriku setelah selesai menayangkan semua kejadian di masa lalu. Garreth, atau yang sebenarnya adalah Garry, sahabat kecilku membawaku bertemu dengan Henrich yang telah ia temui sebelumnya, untuk mengetahui kebenarannya. Namun aku masih tak percaya semuanya ini nyata.

"Lalu, bagaimana dengan papa dan mamaku?" tanyaku ingin tahu lebih dalam.

Henrich memerintahkan cermin untuk memperlihatkan kedua orang tuaku di London. Disana mereka tampak bersedih dan sedang duduk di ruang makan dimana kami biasa makan dan bercanda bersama.

"Mungkin Melody sudah menemukan Pintu itu," kata papa. "Kita harus merelakannya. Sejak awal kita juga tahu bahwa suatu kali ia akan kembali ke tempatnya. Dan inilah saatnya."

Mama mengangguk tetapi air matanya mulai membasahi pipinya. "Tapi aku sudah sangat menyayanginya seperti putriku sendiri," katanya. "Kita pun tak sempat mengucapkan kata perpisahan."

Melihat papa dan mama membuat hatiku merasa sesak. Aku berpaling ke arah lain dan pada saat yang sama cermin itu berhenti menampilkan mereka. Tak kuasa menahan, kubiarkan air mataku jatuh.

Garry pun langsung mendekapku dengan erat sambil membelai punggungku. Ia membiarkanku menangis beberapa lama tanpa mengatakan satu hal pun.

"Ah," aku memegangi kepalaku saat rasa pusing itu kembali.

"Milos, ada apa?" Garry memandangiku dengan cemas. "Henrich, lakukan sesuatu." Ia mendesak pria tua itu.

Samar-samar kulihat Henrich justru tersenyum. "Tuan Putri akan baik-baik saja," ucapnya.

"AH!" Rasa pusing itu semakin menjadi-jadi. Aku sungguh tak kuat menahannya.

Kilatan-kilatan berwarna putih muncul di dalam pikiranku, seolah ada cahaya yang membutakan mataku. Namun setelah itu, kulihat senyuman lebar Garry dan aku tak merasakan pusing lagi.

"Jangan pernah tinggalkan aku," pintaku pada Garry, sembari duduk bersebelahan di ayunan kami masing-masing.

Garry mengeluarkan sebuah pisau kecil entah dari mana.

"Mengapa kau membawa benda tajam? Itu berbahaya." Aku memarahinya.

"Tenang saja. Aku tidak akan menggunakannya untuk berbuat jahat," ucap Garry dengan begitu tenang.

Ia kemudian melakukan sesuatu pada pegangan ayunan kami dengan pisau tersebut. Pada awalnya aku tak tahu apa yang ia lakukan sampai akhirnya ia menunjukkan padaku hasil karyanya.

"Aku mengukir nama kita disini," ucap Garry. "Ini adalah janjiku padamu. Seperti ayunan ini yang akan terus bersama, begitu juga aku tidak akan pernah meninggalkanmu."

Melihat ukiran nama kami berdua disana membuatku merasa bahagia. Aku beranjak dari ayunanku dan memeluknya dengan erat. "Aku sayang padamu, Garry. Kau akan selalu menjadi sahabatku."

"Tidak. Aku tidak ingin selalu menjadi sahabatmu," Garry menolak.

Aku pun melepaskan pelukanku darinya dan memukul pelan lengannya. "Kau jahat. Mengapa begitu?" tanyaku.

"Karena aku ingin menjadi suamimu," ucapan Garry membuatku merona lalu memeluknya lagi.

"Baiklah," ucapku setuju.


Kedua mataku terbuka lebar. Aku sekarang terduduk di sebuah kursi dengan Garry yang duduk di sampingku sambil memegangi tanganku. "Aku ingat semuanya," ucapku. "Garry, aku ingat semuanya."

Garry meneteskan air mata lalu memelukku dengan erat.

"Aku tak tahu jika aku benar-benar kehilanganmu waktu itu," ucapku. "Aku tak dapat bernafas ketika melihatmu terbujur kaku."

Garry melepaskan pelukannya lalu menatapku. "Pada awalnya aku juga tak mengerti, Milos. Saat aku membuka mataku, aku berada dalam keluarga yang tak kukenal, tetapi mereka mengatakan bahwa aku adalah anak mereka. Sampai suatu kali Madeline membawamu ke rumah, aku mulai mendapatkan kembali ingatanku." Ia menjelaskan perihalnya.

"Aku juga yang membawanya kepada keluarga itu." Henrich angkat bicara. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di sebuah kursi yang ada di hadapanku dan Garry. "Keluarga Krasny adalah satu-satunya yang tersisa dari tabib yang dapat mengolah buah dari pohon kehidupan untuk membangkitkan seseorang dari kematian."

"Pohon kehidupan? Maksudmu yang ada di pusat kota itu? Di seberang Pintu Mimpi?" aku menyela, mengingat sesuatu yang menarik hatiku untuk pertama kalinya.

Henrich mengangguk.

"Tetapi mengapa pada saat itu kau tidak segera mengantarkan Garry kembali ke Tahta sehingga aku tak perlu keluar dari dunia ini? Mungkin saja jika aku melihatnya masih hidup, maka kesehatanku akan pulih," ucapku lagi.

Henrich tersenyum. "Tidak semudah itu, tuan Putri," sahutnya. "Sebelum panah itu mengenai Garry, punggung tangan tuan Putri tergores juga saat ditarik menghindar dari panah itu."

"Lalu, apa hubungannya?" tanyaku.

"Panah itu memiliki racun yang mematikan. Begitu mematikan sehingga meskipun setiap orang yang dapat bertahan dan tidak mati, tetapi kemudian bertemu dengan orang yang juga terkena panah itu, akan mati bersama-sama." Henrich menjelaskan secara rinci. "Butuh waktu yang sangat lama agar pengaruh racun itu benar-benar menghilang. Itulah mengapa tuan Putri dan Garry tak boleh bertemu pada waktu itu."

"Apakah keluarga Krasny mengetahui hal ini?" aku lanjut bertanya.

Henrich mengangguk. "Aku memberitahu mereka agar Garry tak mengingat identitasnya dan mencegah bagaimana pun caranya agar tak bertemu dengan tuan Putri pada saat itu. Itulah sebabnya namanya juga berubah menjadi Garreth."

Aku tiba-tiba teringat kejadian di pinggir tebing sebelum aku kembali ke Tahta. "Jadi itu sebabnya Madeline berlari pergi dariku? Ia tahu bahwa aku adalah Milos dan Garry tak boleh bertemu denganku. Tetapi ia tidak tahu bahwa pengaruh racun itu telah hilang." Aku menyimpulkan.

"Benar, tuan Putri," sahut Henrich.

Semuanya menjadi jelas sekarang dan aku bersyukur atasnya. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan aku tak perlu merasa khawatir lagi --- kecuali satu hal. "Aku dijodohkan dengan Pangeran Dominic dari Kerajaan Mocny." Aku menghela nafas dalam-dalam. "Sebaiknya aku menghadap kepada orang tuaku sekarang untuk mengatakan bahwa aku telah mengingat semuanya sehingga mereka lebih berfokus kepadaku daripada perjodohan itu."

Garry mengangguk. "Aku akan membantumu," ucapnya.

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.