- Beranda
- Stories from the Heart
Pintu Mimpi (Prolog)
...
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)

Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.
All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.
Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda
Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny
Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda
Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias
Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris
INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#23
Pintu Mimpi #9 (Merangkai Teka-teki)
Semuanya menjadi semakin jelas
Aku memiliki alasan mengapa aku harus tinggal
Tetapi apakah aku dapat tinggal?
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Suara Irenka dan Bohumir tak terdengar lagi. Aku membuka jaket yang menutupiku serta menyingkirkan tumpukan jerami dari kakiku.
"Garreth," aku menyebut nama orang yang sudah tak ada di sampingku lagi. Aku terkejut ketika menemukannya sedang berdiri di samping dua orang yang telah mengejarku beberapa waktu ini. "Irenka? Bohumir? Kalian..."
Irenka menghampiriku. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya begitu marah.
Aku mengerang ketika ia menepuk lengan kananku terlalu keras.
"Apakah sakit sekali?" Kemarahan Irenka berubah menjadi rasa iba saat ia melihatku kesakitan.
Aku mengangguk. "Memangnya kau lupa tadi aku terjatuh dari ketinggian?" aku ganti marah padanya. "Untung saja ada tumpukan jerami ini hingga aku tak mengalami patah tulang."
"Lebih baik kita mencari tabib untuk menyembuhkanmu." Bohumir mengusulkan.
"Kau akan membawaku pulang kembali ke Tahta?" tanyaku kecewa.
"Tentu saja. Kemana lagi? Kita harus pulang ke rumah karena tak ada seorang pun disini yang boleh tahu statusmu yang sebenarnya." Irenka memberitahu.
Aku menoleh pada Garreth. "Bagaimana dengan dia?" tanyaku.
Bohumir melambaikan tangannya di depan wajah Garreth, tetapi tak ada reaksi sama sekali. Ia seolah tak sadarkan diri meskipun tampaknya normal.
"Apa yang kalian lakukan padanya? Jangan menyakitinya," ucapku secara spontan ketika melihat apa yang terjadi pada pemuda itu.
"Tenang saja. Ia hanya kubuat tidak sadarkan diri untuk sementara waktu. Ketika ia nanti terbangun, ia akan lupa dengan kejadian ini." Bohumir menjelaskan. "
"Mengapa begitu?" tanyaku. "Bukankah itu seperti melanggar hak asasinya?"
"Milos, tidak akan ada artinya untuk pemuda ini mengingat kejadian yang barusan. Lagipula, ia bukan siapa-siapa untukmu, dan kau bukan siapa-siapa untuknya. Intinya ia atau siapapun juga tak perlu dan tak boleh mengetahui asal usul kita. Ini saja aku menggunakan kekuatanku agar kita tak terlihat oleh siapapun." Irenka terdengar sedikit kesal. "Ayo berdiri. Biar kubantu kau."
Dengan gerakan perlahan aku berusaha berdiri. Sesekali aku mengerang karena rasa sakit itu tidak hanya di lengan kananku tetapi juga di punggungku.
"Kau tidak boleh terlalu lama sakit seperti ini. Belum lama ini lengan kirimu yang memar. Sekarang lengan kananmu. Kau ini, memang penyuka rasa sakit?" canda Irenka, membuat aku dan Bohumir tertawa. "Ayo kita pulang."
"Oh, tunggu," ucapku menahan Irenka saat ia hendak terbang. "Karena saat ini kita tidak terlihat, ijinkan aku mengunjungi satu tempat terlebih dulu sebelum kita kembali."
"Kemana?" tanya Irenka penasaran. "Apakah ini adalah alasannya mengapa kau melarikan diri dari Tahta?"
Aku mengangguk, tidak menyangkal perkataannya. "Jadi, boleh kah? Kumohon," pintaku dengan sungguh-sungguh karena barangkali aku dapat menggunakan kesempatan yang terakhir ini.
Irenka tidak menjawab secara langsung. Ia justru meminta pendapat Bohumir dengan menggunakan matanya.
"Sepenting itukah hingga kau harus nekat seperti ini?" tanya Bohumir.
Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Sangat penting," ucapku tanpa berniat menceritakan kepada mereka yang sesungguhnya.
"Baiklah. Kami akan mengantarmu," ucap Bohumir.
Oh, tidak. Mengapa mereka harus ikut? "Baiklah." Aku tak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, aku berjalan ke arah Garreth, menyentuh salah satu lengannya dan berkata, "Terima kasih untuk pertolonganmu, walaupun tidak berhasil."
Namun ketika aku hendak berbalik pergi, kurasakan tanganku tertahan. Aku berpaling pada Garreth yang sudah menggenggam pergelangan tanganku.
"Miloslava." Garreth menyebutkan namaku yang lain.
"Bagaimana bisa?" ucap Bohumir tak percaya. "Ia tidak seharusnya bisa terbangun secepat ini."
Irenka berjalan mendekat padaku. "Milos menyentuhnya, dan itu membangunkannya," ia menyimpulkan.
Mendengar ucapan mereka justru membuatku semakin bingung. Sesungguhnya aku tidak memahami dengan baik mengenai cara kerja penghapusan memori, membuat diri tak terlihat, terbang, atau apapun itu. Tetapi aku kini berfokus pada Garreth yang tampak seperti seseorang yang kukenal, jauh sebelum pertama kalinya aku masuk ke dunia ini melalui pintu itu.
"Milos," Garreth menyentuh wajahku.
Pada saat yang sama, kepalaku menjadi pusing kembali. "Ah!" aku mengerang dan hampir terjatuh tetapi Garreth memegangiku. Kini aku terduduk di tanah dalam pelukan Garreth.
"Milos, ada apa?" samar-samar kulihat Irenka duduk disampingku dengan cemas. Ia kini memukul lengan Garreth dan menyalahkannya. "Apa yang kau lakukan pada adikku?"
Melihatnya begitu, aku berusaha menahan tangan Irenka agar tak memukul Garreth. Tapi aku tahu tanganku bahkan luput menyentuhnya. "Jangan pukul Garry," ucapku dengan suara lemah sampai akhirnya semuanya menjadi tampak gelap.
////////
"TIDAK!" aku terbangun dari tidurku dan terduduk secepat kilat. Kulihat ke sekelilingku dan aku masih ada di dalam Tahta.
Ini bukan hal yang baik. Aku telah melewatkan kesempatan untuk pulang ke duniaku. Papa dan mama pasti telah mengkhawatirkanku karena aku belum kembali sampai sekarang. Aku harus mencari cara lain.
Aku melangkah turun dari ranjang lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar, memikirkan sebuah cara untuk pergi dari sini. Yang aku tahu, aku tidak mungkin melarikan diri lagi seperti sebelumnya karena cara itu hanya menghasilkan kegagalan.
Bagaimana jika aku mengatakan kepada mereka yang sebenarnya? Bahwa namaku adalah Melody Harris, bukan Miloslava, dan aku berasal dari dunia yang lain. Itu ide yang bagus. Aku akan melakukannya.
Tanpa berpikir dua kali ataupun memperhatikan penampilanku, aku berjalan keluar dari kamarku. Aku tak tahu dimana mereka semua berada saat ini jadi aku asal mengambil jalan menuju ke ruang tamu.
"Tuan Putri sudah siuman?" seorang pelayan perempuan berpapasan denganku dan tampak terkejut.
Aku menggeleng. "Jangan panggil aku tuan Putri. Aku bukan Miloslava. Aku Melody Harris," ucapku sambil meletakkan kedua tanganku di atas bahunya. "Dimana Raja dan Ratu? Irenka dan Klement?"
"Tuan Putri,"
"Telah kukatakan padamu bahwa aku ini Melody Harris, bukan Putri Miloslava. Tidakkah kau mengerti?" aku menjadi gusar dibuatnya. "Sudahlah. Katakan saja dimana mereka."
Pelayan itu menunjuk ke suatu arah. Aku menoleh kesana dan melihat Ratu sedang berjalan mendekat.
"Miloslava. Kau sudah siuman?" Ratu cepat-cepat menghampiriku lalu memelukku erat.
Aku melepaskan diri lalu berkata, "Maaf, Ratu. Selama ini aku menyimpannya. Tetapi aku ingin memberitahumu yang sebenarnya."
Ratu tampak begitu tercengang mendengar perkataanku. Ia sekilas melirik pada pelayan yang ada di belakangku, seolah sedang bertanya apa yang terjadi.
"Mungkin ini mendadak bagimu, Ratu. Tetapi aku bukan Putri Miloslava. Namaku adalah Melody Harris. Aku berasal dari dunia yang lain. Entah bagaimana aku masuk melalui sebuah pintu yang menghubungkan antara duniaku dan dunia ini. Itulah sebabnya aku ada disini." Aku berusaha menjelaskan semuanya secara rinci.
Ratu menangkup wajahku dan memandangku dengan serius. "Milos, mengapa kau berkata seperti itu? Kau ini jelas puteriku."
Aku menggeleng. "Tidak, Ratu. Aku memiliki orang tua di duniaku. Kumohon mengertilah. Nama mereka adalah Paul dan Jeanette Harris. Aku tinggal di kota London, Inggris." Aku masih berusaha meyakinkannya lagi karena ia tampak tidak mempercayaiku.
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan agar ia memahami situasiku yang sesungguhnya?
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Raja muncul dari belakangku. "Mengapa ribut sekali?"
Aku berbalik menghadap Raja dan mengatakan hal yang sama persis seperti yang kukatakan pada Ratu. "Mohon, percayalah padaku, dan ijinkanlah aku pergi dari sini. Aku tak ingin membuat kedua orang tuaku merasa khawatir padaku." Aku memohon.
"Aku tak mengerti mengapa Milos seperti ini," Ratu berkata dengan lirih. Ia kemudian menyentuh tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. "Sayang, kau tak boleh begini. Kau ini puteri kami."
"Tidak, Ratu." Aku kembali melepaskan diriku dari pelukannya. "Mohon percayalah padaku. Aku bukan Miloslava. Aku Melody."
"Papa, mama, ada apa ini?" tanya Irenka yang datang bersama dengan Klement dan Bohumir.
Melihat mereka, aku pun mengatakan hal yang sama untuk meyakinkan mereka bahwa aku bukan Miloslava. "Mungkin kalian berpikir bahwa aku gila. Tetapi aku tidak gila. Aku memang bukan berasal dari tempat ini. Kumohon, percayalah." Kini aku tak dapat menahan air mataku. Aku merasa sangat kesal karena ketiga orang itu juga tak mempercayaiku.
Karena itu, aku pun berlari menerobos mereka ke sembarang arah tanpa berpikir. Rasanya sesak sekali di dada karena aku sangat putus asa.
Aku berhenti dan tertegun, ketika aku menyadari bahwa aku sekarang sedang berdiri di taman kecil yang sebelumnya aku datangi itu. Namun bedanya, saat ini ada seseorang yang sedang duduk di salah satu ayunan tersebut, menghadap pada tembok yang dipenuhi dengan tanaman. Perlahan aku berjalan mendekati ayunan itu untuk melihat siapa yang sedang duduk disana.
Orang itu menoleh dan tersenyum padaku. "Kau sudah bangun?" ucapnya. "Duduklah disini." Ia menunjuk pada ayunan yang kosong di sebelahnya.
Aku melakukan sesuai dengan instruksinya sambil memandangnya. Wajahnya membuatku tak ingin berpaling darinya dan memperhatikan setiap ucapannya.
"Aku senang dapat bertemu kembali denganmu disini, Miloslava."
Ketika ia memanggilku dengan nama itu, aku merasa tak ingin membantah dan memberitahunya bahwa namaku adalah Melody. Anehnya, aku justru merasa seolah ia benar-benar memanggilku dengan nama asliku.
"Bertahun-tahun lamanya aku hanya dapat bertanya-tanya, akhirnya aku mengenali siapa diriku dan menemukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucapnya.
Apa yang sedang ia ceritakan sebenarnya? Mengapa aku merasa bahwa aku mengetahuinya tetapi aku tidak mengingat apapun? "Siapa kau sebenarnya?" tanyaku.
Ia beranjak dari duduknya, lalu berlutut di depanku, mensejajarkan tinggi kepalanya dengan kepalaku. Digenggamnya kedua tanganku dengan erat lalu berkata, "Ini aku Garry, sahabatmu, yang selama ini kau kenal sebagai Garreth, kakak Madeline."
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Aku memiliki alasan mengapa aku harus tinggal
Tetapi apakah aku dapat tinggal?
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Suara Irenka dan Bohumir tak terdengar lagi. Aku membuka jaket yang menutupiku serta menyingkirkan tumpukan jerami dari kakiku.
"Garreth," aku menyebut nama orang yang sudah tak ada di sampingku lagi. Aku terkejut ketika menemukannya sedang berdiri di samping dua orang yang telah mengejarku beberapa waktu ini. "Irenka? Bohumir? Kalian..."
Irenka menghampiriku. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya begitu marah.
Aku mengerang ketika ia menepuk lengan kananku terlalu keras.
"Apakah sakit sekali?" Kemarahan Irenka berubah menjadi rasa iba saat ia melihatku kesakitan.
Aku mengangguk. "Memangnya kau lupa tadi aku terjatuh dari ketinggian?" aku ganti marah padanya. "Untung saja ada tumpukan jerami ini hingga aku tak mengalami patah tulang."
"Lebih baik kita mencari tabib untuk menyembuhkanmu." Bohumir mengusulkan.
"Kau akan membawaku pulang kembali ke Tahta?" tanyaku kecewa.
"Tentu saja. Kemana lagi? Kita harus pulang ke rumah karena tak ada seorang pun disini yang boleh tahu statusmu yang sebenarnya." Irenka memberitahu.
Aku menoleh pada Garreth. "Bagaimana dengan dia?" tanyaku.
Bohumir melambaikan tangannya di depan wajah Garreth, tetapi tak ada reaksi sama sekali. Ia seolah tak sadarkan diri meskipun tampaknya normal.
"Apa yang kalian lakukan padanya? Jangan menyakitinya," ucapku secara spontan ketika melihat apa yang terjadi pada pemuda itu.
"Tenang saja. Ia hanya kubuat tidak sadarkan diri untuk sementara waktu. Ketika ia nanti terbangun, ia akan lupa dengan kejadian ini." Bohumir menjelaskan. "
"Mengapa begitu?" tanyaku. "Bukankah itu seperti melanggar hak asasinya?"
"Milos, tidak akan ada artinya untuk pemuda ini mengingat kejadian yang barusan. Lagipula, ia bukan siapa-siapa untukmu, dan kau bukan siapa-siapa untuknya. Intinya ia atau siapapun juga tak perlu dan tak boleh mengetahui asal usul kita. Ini saja aku menggunakan kekuatanku agar kita tak terlihat oleh siapapun." Irenka terdengar sedikit kesal. "Ayo berdiri. Biar kubantu kau."
Dengan gerakan perlahan aku berusaha berdiri. Sesekali aku mengerang karena rasa sakit itu tidak hanya di lengan kananku tetapi juga di punggungku.
"Kau tidak boleh terlalu lama sakit seperti ini. Belum lama ini lengan kirimu yang memar. Sekarang lengan kananmu. Kau ini, memang penyuka rasa sakit?" canda Irenka, membuat aku dan Bohumir tertawa. "Ayo kita pulang."
"Oh, tunggu," ucapku menahan Irenka saat ia hendak terbang. "Karena saat ini kita tidak terlihat, ijinkan aku mengunjungi satu tempat terlebih dulu sebelum kita kembali."
"Kemana?" tanya Irenka penasaran. "Apakah ini adalah alasannya mengapa kau melarikan diri dari Tahta?"
Aku mengangguk, tidak menyangkal perkataannya. "Jadi, boleh kah? Kumohon," pintaku dengan sungguh-sungguh karena barangkali aku dapat menggunakan kesempatan yang terakhir ini.
Irenka tidak menjawab secara langsung. Ia justru meminta pendapat Bohumir dengan menggunakan matanya.
"Sepenting itukah hingga kau harus nekat seperti ini?" tanya Bohumir.
Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. "Sangat penting," ucapku tanpa berniat menceritakan kepada mereka yang sesungguhnya.
"Baiklah. Kami akan mengantarmu," ucap Bohumir.
Oh, tidak. Mengapa mereka harus ikut? "Baiklah." Aku tak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu, aku berjalan ke arah Garreth, menyentuh salah satu lengannya dan berkata, "Terima kasih untuk pertolonganmu, walaupun tidak berhasil."
Namun ketika aku hendak berbalik pergi, kurasakan tanganku tertahan. Aku berpaling pada Garreth yang sudah menggenggam pergelangan tanganku.
"Miloslava." Garreth menyebutkan namaku yang lain.
"Bagaimana bisa?" ucap Bohumir tak percaya. "Ia tidak seharusnya bisa terbangun secepat ini."
Irenka berjalan mendekat padaku. "Milos menyentuhnya, dan itu membangunkannya," ia menyimpulkan.
Mendengar ucapan mereka justru membuatku semakin bingung. Sesungguhnya aku tidak memahami dengan baik mengenai cara kerja penghapusan memori, membuat diri tak terlihat, terbang, atau apapun itu. Tetapi aku kini berfokus pada Garreth yang tampak seperti seseorang yang kukenal, jauh sebelum pertama kalinya aku masuk ke dunia ini melalui pintu itu.
"Milos," Garreth menyentuh wajahku.
Pada saat yang sama, kepalaku menjadi pusing kembali. "Ah!" aku mengerang dan hampir terjatuh tetapi Garreth memegangiku. Kini aku terduduk di tanah dalam pelukan Garreth.
"Milos, ada apa?" samar-samar kulihat Irenka duduk disampingku dengan cemas. Ia kini memukul lengan Garreth dan menyalahkannya. "Apa yang kau lakukan pada adikku?"
Melihatnya begitu, aku berusaha menahan tangan Irenka agar tak memukul Garreth. Tapi aku tahu tanganku bahkan luput menyentuhnya. "Jangan pukul Garry," ucapku dengan suara lemah sampai akhirnya semuanya menjadi tampak gelap.
////////
"TIDAK!" aku terbangun dari tidurku dan terduduk secepat kilat. Kulihat ke sekelilingku dan aku masih ada di dalam Tahta.
Ini bukan hal yang baik. Aku telah melewatkan kesempatan untuk pulang ke duniaku. Papa dan mama pasti telah mengkhawatirkanku karena aku belum kembali sampai sekarang. Aku harus mencari cara lain.
Aku melangkah turun dari ranjang lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar, memikirkan sebuah cara untuk pergi dari sini. Yang aku tahu, aku tidak mungkin melarikan diri lagi seperti sebelumnya karena cara itu hanya menghasilkan kegagalan.
Bagaimana jika aku mengatakan kepada mereka yang sebenarnya? Bahwa namaku adalah Melody Harris, bukan Miloslava, dan aku berasal dari dunia yang lain. Itu ide yang bagus. Aku akan melakukannya.
Tanpa berpikir dua kali ataupun memperhatikan penampilanku, aku berjalan keluar dari kamarku. Aku tak tahu dimana mereka semua berada saat ini jadi aku asal mengambil jalan menuju ke ruang tamu.
"Tuan Putri sudah siuman?" seorang pelayan perempuan berpapasan denganku dan tampak terkejut.
Aku menggeleng. "Jangan panggil aku tuan Putri. Aku bukan Miloslava. Aku Melody Harris," ucapku sambil meletakkan kedua tanganku di atas bahunya. "Dimana Raja dan Ratu? Irenka dan Klement?"
"Tuan Putri,"
"Telah kukatakan padamu bahwa aku ini Melody Harris, bukan Putri Miloslava. Tidakkah kau mengerti?" aku menjadi gusar dibuatnya. "Sudahlah. Katakan saja dimana mereka."
Pelayan itu menunjuk ke suatu arah. Aku menoleh kesana dan melihat Ratu sedang berjalan mendekat.
"Miloslava. Kau sudah siuman?" Ratu cepat-cepat menghampiriku lalu memelukku erat.
Aku melepaskan diri lalu berkata, "Maaf, Ratu. Selama ini aku menyimpannya. Tetapi aku ingin memberitahumu yang sebenarnya."
Ratu tampak begitu tercengang mendengar perkataanku. Ia sekilas melirik pada pelayan yang ada di belakangku, seolah sedang bertanya apa yang terjadi.
"Mungkin ini mendadak bagimu, Ratu. Tetapi aku bukan Putri Miloslava. Namaku adalah Melody Harris. Aku berasal dari dunia yang lain. Entah bagaimana aku masuk melalui sebuah pintu yang menghubungkan antara duniaku dan dunia ini. Itulah sebabnya aku ada disini." Aku berusaha menjelaskan semuanya secara rinci.
Ratu menangkup wajahku dan memandangku dengan serius. "Milos, mengapa kau berkata seperti itu? Kau ini jelas puteriku."
Aku menggeleng. "Tidak, Ratu. Aku memiliki orang tua di duniaku. Kumohon mengertilah. Nama mereka adalah Paul dan Jeanette Harris. Aku tinggal di kota London, Inggris." Aku masih berusaha meyakinkannya lagi karena ia tampak tidak mempercayaiku.
Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan agar ia memahami situasiku yang sesungguhnya?
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Raja muncul dari belakangku. "Mengapa ribut sekali?"
Aku berbalik menghadap Raja dan mengatakan hal yang sama persis seperti yang kukatakan pada Ratu. "Mohon, percayalah padaku, dan ijinkanlah aku pergi dari sini. Aku tak ingin membuat kedua orang tuaku merasa khawatir padaku." Aku memohon.
"Aku tak mengerti mengapa Milos seperti ini," Ratu berkata dengan lirih. Ia kemudian menyentuh tanganku dan menarikku ke dalam pelukannya. "Sayang, kau tak boleh begini. Kau ini puteri kami."
"Tidak, Ratu." Aku kembali melepaskan diriku dari pelukannya. "Mohon percayalah padaku. Aku bukan Miloslava. Aku Melody."
"Papa, mama, ada apa ini?" tanya Irenka yang datang bersama dengan Klement dan Bohumir.
Melihat mereka, aku pun mengatakan hal yang sama untuk meyakinkan mereka bahwa aku bukan Miloslava. "Mungkin kalian berpikir bahwa aku gila. Tetapi aku tidak gila. Aku memang bukan berasal dari tempat ini. Kumohon, percayalah." Kini aku tak dapat menahan air mataku. Aku merasa sangat kesal karena ketiga orang itu juga tak mempercayaiku.
Karena itu, aku pun berlari menerobos mereka ke sembarang arah tanpa berpikir. Rasanya sesak sekali di dada karena aku sangat putus asa.
Aku berhenti dan tertegun, ketika aku menyadari bahwa aku sekarang sedang berdiri di taman kecil yang sebelumnya aku datangi itu. Namun bedanya, saat ini ada seseorang yang sedang duduk di salah satu ayunan tersebut, menghadap pada tembok yang dipenuhi dengan tanaman. Perlahan aku berjalan mendekati ayunan itu untuk melihat siapa yang sedang duduk disana.
Orang itu menoleh dan tersenyum padaku. "Kau sudah bangun?" ucapnya. "Duduklah disini." Ia menunjuk pada ayunan yang kosong di sebelahnya.
Aku melakukan sesuai dengan instruksinya sambil memandangnya. Wajahnya membuatku tak ingin berpaling darinya dan memperhatikan setiap ucapannya.
"Aku senang dapat bertemu kembali denganmu disini, Miloslava."
Ketika ia memanggilku dengan nama itu, aku merasa tak ingin membantah dan memberitahunya bahwa namaku adalah Melody. Anehnya, aku justru merasa seolah ia benar-benar memanggilku dengan nama asliku.
"Bertahun-tahun lamanya aku hanya dapat bertanya-tanya, akhirnya aku mengenali siapa diriku dan menemukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucapnya.
Apa yang sedang ia ceritakan sebenarnya? Mengapa aku merasa bahwa aku mengetahuinya tetapi aku tidak mengingat apapun? "Siapa kau sebenarnya?" tanyaku.
Ia beranjak dari duduknya, lalu berlutut di depanku, mensejajarkan tinggi kepalanya dengan kepalaku. Digenggamnya kedua tanganku dengan erat lalu berkata, "Ini aku Garry, sahabatmu, yang selama ini kau kenal sebagai Garreth, kakak Madeline."
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
0