- Beranda
- Stories from the Heart
Pencarian Arti Ikhlas dengan Merantau
...
TS
ipbaik
Pencarian Arti Ikhlas dengan Merantau
Quote:
Spoiler for Rules:
PROLOG
Malam ini, gua sedang sibuk mengurus perlengkapan untuk kuliah pertama besok. Palingan cuman bawa alat tulis kertas doang. Lalu denger ceramah dosen yang sangat seru. Kok seru? Soalnya kalau dibilang bosan mah mainstream. Tapi sebelum itu kita balik dulu buat intro yak.
Perkenalkan gua Alga. Gua anak perantauan yang akhirnya dapet kesempatan merantau di pulau jawa. Oh ya, gua sendiri berasal dari salah satu kota di daerah Sumatera Barat. Gua anak kedua, dari seorang ayah yang berprofesi sebagai guru dan seorang ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Daerah target rantauan gua saat itu adalah kampus pertanian yang terkenal di daerah bogor. Pasti tau lah kampus mana. Trus kenapa gua pengen merantau? Karena gua pernah dengar “laki-laki minang belum pantas disebut pria kalau belum mencoba yang namanya merantau.” Entah gua denger pepatah dari mana, tapi bagi laki-laki di minang merantau punya gengsi tersendiri yang menandakan seseorang sudah bisa disebut dewasa, khususnya pula untuk laki-laki.
Nantinya gua bakal ceritain suka duka, seneng sengsara zaman perkuliahan gua semenjak berangkat dan sampai berakhir sesuai keinginan aja.
Sebelum itu gua punya spoiler :
Spoiler for Spoiler Keras:
Spoiler for Index:
Spoiler for Tips Sudut Pandang Penulisan:
Diubah oleh ipbaik 16-09-2018 19:15
anasabila memberi reputasi
1
14.4K
86
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
ipbaik
#73
12. Akak
Jam menunjukkan pukul 14.40 yang mana menandakan bahwa kelas jadwal ketiga sudah selesai. Salah satu kelas yang tadinya diisi dengan perkuliahan pun akhirnya dibubarkan. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang keluar dari kelas secara berebutan. Seakan-akan tidak mau telat untuk melakukan aktifitas mereka selanjutnya.
Salah seorang cewek pun pamit untuk memisahkan diri kepada teman-temannya untuk menuju tempat favoritnya. Cewek ini berangkat sendirian ke salah satu gedung, yang mana gedung tersebut terdiri dari banyak lantai dengan lantai paling atas adalah lokasi strategis untuk melihat sedikit dari daerah kampus. Tersisa satu lantai lagi menuju lantai favoritnya. Namun ia dikejutkan oleh suara alat musik yang sangat jarang didengar oleh khalayak banyak.
Ternyata lantai teratas sudah ditempati terlebih dahulu oleh seorang cowok yang bermain harmonika sambil bersandar ke batas pagar dari lantai tersebut. Bunyi harmonikanya tidak terlalu keras namun sangat bagus untuk didengar. Setelah naik ke lantai paling atas, cewek tadi tidak langsung mendekat pada sumber nada melainkan mengambil posisi berlawanan dan lebih jauh dari cowok tadi. Ia menikmatinya sedalam mungkin hingga reflek menutup mata. Seakan-akan mulai hanyut sangat jauh oleh nada-nada sendu yang telah dihasilkan oleh harmonika tersebut.
Tidak berapa lama, suara harmonika itu tiba-tiba saja tak terdengar lagi alias berhenti. Dirinya yang masih menikmati langsung saja merasa bingung.
Kenapa berhenti?
Apakah ia mengganggu?
Itulah reflek pertanyaan batin yang sekilas timbul hingga ada sapaan dari cowok tersebut. Sapaan itu membuat si cewek kembali membuka matanya.
Ternyata usaha gombalan dari Alga tidak cukup mampu menembus pertahanan dari Tania. Selesai tertawa, Tania kembali menguasai dirinya. Ia kembali teringat akan beberapa pertanyaan tadi yang sekilas terlintas di pikirannya.
Alga diam tanpa menjawab pertanyaan Tania. Seketika hening kembali datang menyapa mereka untuk melengkapi kehidupan di dunia ini. Tania juga tidak mengatakan sepatah kata pun seakan-akan ia tahu bahwa keheningan ini harus dinikmati berdua.
Satu menit....
Dua menit...
Tiga menit..
Empat menit.
Tania mulai mencoba kembali agar keheningan ini pergi untuk sesaat.
Alga pun menggeleng menandakan bahwa Tania tidak membuatnya terganggu, apalagi sampai tersinggung.
Tania mengangguk menandakan bahwa ia pernah mendengar kata-kata tersebut.
Alga kembali menggeleng. Suatu jawaban yang sering tidak disukai oleh banyak orang dan tentunya membuat Tania kecewa.
###
Jam menunjukkan pukul 14.40 yang mana menandakan bahwa kelas jadwal ketiga sudah selesai. Salah satu kelas yang tadinya diisi dengan perkuliahan pun akhirnya dibubarkan. Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang keluar dari kelas secara berebutan. Seakan-akan tidak mau telat untuk melakukan aktifitas mereka selanjutnya.
Salah seorang cewek pun pamit untuk memisahkan diri kepada teman-temannya untuk menuju tempat favoritnya. Cewek ini berangkat sendirian ke salah satu gedung, yang mana gedung tersebut terdiri dari banyak lantai dengan lantai paling atas adalah lokasi strategis untuk melihat sedikit dari daerah kampus. Tersisa satu lantai lagi menuju lantai favoritnya. Namun ia dikejutkan oleh suara alat musik yang sangat jarang didengar oleh khalayak banyak.
Quote:
Ternyata lantai teratas sudah ditempati terlebih dahulu oleh seorang cowok yang bermain harmonika sambil bersandar ke batas pagar dari lantai tersebut. Bunyi harmonikanya tidak terlalu keras namun sangat bagus untuk didengar. Setelah naik ke lantai paling atas, cewek tadi tidak langsung mendekat pada sumber nada melainkan mengambil posisi berlawanan dan lebih jauh dari cowok tadi. Ia menikmatinya sedalam mungkin hingga reflek menutup mata. Seakan-akan mulai hanyut sangat jauh oleh nada-nada sendu yang telah dihasilkan oleh harmonika tersebut.
Tidak berapa lama, suara harmonika itu tiba-tiba saja tak terdengar lagi alias berhenti. Dirinya yang masih menikmati langsung saja merasa bingung.
Kenapa berhenti?
Apakah ia mengganggu?
Itulah reflek pertanyaan batin yang sekilas timbul hingga ada sapaan dari cowok tersebut. Sapaan itu membuat si cewek kembali membuka matanya.
Quote:
Ternyata usaha gombalan dari Alga tidak cukup mampu menembus pertahanan dari Tania. Selesai tertawa, Tania kembali menguasai dirinya. Ia kembali teringat akan beberapa pertanyaan tadi yang sekilas terlintas di pikirannya.
Quote:
Alga diam tanpa menjawab pertanyaan Tania. Seketika hening kembali datang menyapa mereka untuk melengkapi kehidupan di dunia ini. Tania juga tidak mengatakan sepatah kata pun seakan-akan ia tahu bahwa keheningan ini harus dinikmati berdua.
Satu menit....
Dua menit...
Tiga menit..
Empat menit.
Tania mulai mencoba kembali agar keheningan ini pergi untuk sesaat.
Quote:
Alga pun menggeleng menandakan bahwa Tania tidak membuatnya terganggu, apalagi sampai tersinggung.
Quote:
Tania mengangguk menandakan bahwa ia pernah mendengar kata-kata tersebut.
Quote:
Alga kembali menggeleng. Suatu jawaban yang sering tidak disukai oleh banyak orang dan tentunya membuat Tania kecewa.
Quote:
###
0


Tanya cowok tersebut.
Jawab cowok sambil terkekeh.
Balas si cewek tak mau kalah sembari berjalan mendekati cowok tadi.
Ucap cowok itu dan berpaling mengarah ke pemandangan kampus.