- Beranda
- Stories from the Heart
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
...
TS
breaking182
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
ASU AJAG PEGUNUNGAN TEPUS
Quote:

SINOPSIS
Quote:
Sekelompok anak muda dari universitas di Jogja yang sedang melaksanakan KKN di desa Telaga Muncar salah satu desa terpencil di kawasan Tepus Gunung Kidul. Tiga sosok anjing misterius mencegat salah satu dari mahasiswa itu yang bernama Zulham. Misteri berlanjut lagi tatkala sesampainya di base camp. Zulham harus dihadapkan dengan ketua kelompok KKN tersebut yang diterror oleh mahkluk –mahkluk asing yang memperlihatkan diri di mimpi –mimpi. Bahkan, bulu –bulu berwarna kelabu kehitaman ditemukan di ranjang Ida. Hingga pada akhirnya misteri ini berlanjut kedalam pertunjukan maut. Nyawa Zulham dan seluruh anggota KKN terancam oleh orang –orang pengabdi setan yang tidak segan –segan mengorbankan nyawa sesama manusia. Bahkan, nyawa darah dagingnya sendiri!
INDEX
Diubah oleh breaking182 22-02-2021 10:13
sukhhoi dan 35 lainnya memberi reputasi
32
111.2K
Kutip
379
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#181
BANJIR DARAH
Quote:
Mendung gerimis ketika Phanter biru gelap itu berhenti di depan sebuah jalan setapak berbatu cadas yang terjal dan berlobang –lobang di setiap sisinya. Di belakang kemudi seorang lelaki muda memakai jaket kulit berwarna coklat. Ia memiliki dahi tinggi serta rahang menonjol. Rambutnya yang cepak pendek tertutup topi pet berwarna hitam. Keseluruhan wajahnya membayangkan ketegasan dan wibawa. Sementara disampingnya seorang lelaki paruh baya duduk dengan santai sembari sesekali menghembuskan asap rokok dari sela –sela bibirnya dan di jok belakang empat pemuda berbadan tegap dan berambut cepak tampak duduk dengan tenang.
Si paruh baya membuang putung rokok ke luar, potongan yang masih ada bara api itu jatuh ke tanah lalu padam masuk ke dalam genangan air.
“ Kau yakin Gan, desa Telaga Muncar ada di tempat ini? “
“ Jalanan terlalu sulit dan buruk untuk dilalui orang “
Pengemudi Phanter biru yang dipanggil Gandi itu mengangguk.
“ Betul Komandan, tadi siang ada laporan pembunuhan misterius di desa itu dan orang itu mengatakan letak lokasi desa Telaga Muncar ?”
“ Kau tahu? Orang itu siapa? Orang Telaga Muncar bukan?! “
“ Sepertinya begitu komandan. Hanya saja orang itu setelah memberikan laporan langsung pergi tanpa berkata –kata apa lagi “
" Kalau begitu baiklah, berarti desa Telaga Muncar ada di depan sana. Hanya saja kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan menggunakan mobil. Jalanan terlalu sempit. Kita tinggalkan mobil kita disini saja. Kita lanjutkan dengan berjalan kaki. Hari sudah mulai gelap. Aku juga takut hujan deras akan terus mengguyur "
Lelaki paruh baya yang dipanggil komandan itu mendongakkan kepalanya ke langit. Mendung bergumpal –gumpal, angin bertiup kencang. Suara berisik pepohonan diterpa angin bercampur dengan suara cicit burung yang terbang pulang ke sarangnya masing –masing.
Keenam orang itupun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan menuju ke desa Telaga Muncar.
Benar saja baru beberapa saat rombongan itu berjalan tiba –tiba hujan lebat menggebrak bumi. Guntur menggelegar berkepanjangan. Kilat sambar menyambar. Saat itu baru menjelang senja tapi hujan lebat, gumpalan awan menghitam membuat suasana seperti dicengkram gulitanya malam. Karena sulit melihat jalan yang ditempuh, apalagi mulai mendaki dan berbatu - batu, rombongan ini tidak berani bergerak cepat. Pakaian yang dikenakan rombongan ini sudah sepenuhnya basah kuyup. Suara deru hujan yang menggila, gelegar guntur dan kiblatan kilat membentuk suara dahsyat yang menegakkan bulu roma!
“ Komandan berhenti dulu! “
Lelaki paruh baya itu menghentikan langkahnya.
“ Ada apa Gan?!”
Mencoba berteriak beradu suara dengan lebatnya suara hujan yang sesekali ditimpali gelegar guntur.
“ Ada yang aneh, kita sepertinya hanya berputar –putar saja di tempat ini. Medan juga makin curam, di sebelah kanan ada jurang cukup dalam. Kita sudah terlalu lama berjalan tapi tidak ada tanda- tanda kita akan menemukan desa “
“ Jam berapa sekarang?”
Gandi menyingkap lengan jaket coklatnya. Ada arloji melingkar di pergelangan tangan kanan dengan bantuan lampu senter di tangan kirinya pemuda ini melihat jam berapa sekarang. Seketika hatinya terperanjat kaget. Komandan Polisi yang bernama Probo serentak mendekat.
" Mengapa kau terkejut?! Ada apa?”
Aneh, sekarang sudah jam sebelas malam. Perasaan tadi kita dibawah masih menjelang maghrib. Jadi kita telah berjalan selama hampir lima jam?!”
Suasana tegang mulai menyeruak di benak rombongan ini. Terlihat wajah-wajah gelisah dan tegang.
“ Baiklah kita coba berpikir jernih, kita kembali ke titik awal. Alur lembah dan jurang di hutan kadang menipu, karena melingkar tak berketentuan arah. Apalagi ini situasi sangat buruk “
Komandan Probo mencoba menenangkan hati ke lima anak buahnya.
“ Mari kita kembali ke titik awal “
Keenam orang itu segera berbalik arah dengan perlahan, nyala cahaya senter yang mereka bawa tidak mampu menembus pekatnya malam. Mendadak komandan Probo hentikan langkahnya. Lapat-lapat, di kejauhan sepasang telinganya yang tajam mendengar suara aneh. Suara hiruk pikuk seperti suara semak belukar dan pepohonan yang tengah dirambas sesuatu. Dia pejamkan kedua matanya dan mendongak ke langit.
" Ada apa komandan?!”
“ Aku mendengar ada sesuatu yang berlari menuju kesini. Entah apa itu,mungkin celeng atau babi hutan “
“ Berhati –hatilah kalian “
Belum lagi komandan Probo selesai berbicara tiba –tiba dari arah depan sesosok tubuh hitam dengan mata merah menyeruak dari semak belukar. Beberapa pohon kecil yang melintang di hadapannya ditabraknya dengan kaki –kakinya yang kuat.
“Krak…..! Krak…..!”
Batang-batang pohon itu patah bertumbangan!
Si paruh baya membuang putung rokok ke luar, potongan yang masih ada bara api itu jatuh ke tanah lalu padam masuk ke dalam genangan air.
“ Kau yakin Gan, desa Telaga Muncar ada di tempat ini? “
“ Jalanan terlalu sulit dan buruk untuk dilalui orang “
Pengemudi Phanter biru yang dipanggil Gandi itu mengangguk.
“ Betul Komandan, tadi siang ada laporan pembunuhan misterius di desa itu dan orang itu mengatakan letak lokasi desa Telaga Muncar ?”
“ Kau tahu? Orang itu siapa? Orang Telaga Muncar bukan?! “
“ Sepertinya begitu komandan. Hanya saja orang itu setelah memberikan laporan langsung pergi tanpa berkata –kata apa lagi “
" Kalau begitu baiklah, berarti desa Telaga Muncar ada di depan sana. Hanya saja kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan menggunakan mobil. Jalanan terlalu sempit. Kita tinggalkan mobil kita disini saja. Kita lanjutkan dengan berjalan kaki. Hari sudah mulai gelap. Aku juga takut hujan deras akan terus mengguyur "
Lelaki paruh baya yang dipanggil komandan itu mendongakkan kepalanya ke langit. Mendung bergumpal –gumpal, angin bertiup kencang. Suara berisik pepohonan diterpa angin bercampur dengan suara cicit burung yang terbang pulang ke sarangnya masing –masing.
Keenam orang itupun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan beriringan menuju ke desa Telaga Muncar.
Benar saja baru beberapa saat rombongan itu berjalan tiba –tiba hujan lebat menggebrak bumi. Guntur menggelegar berkepanjangan. Kilat sambar menyambar. Saat itu baru menjelang senja tapi hujan lebat, gumpalan awan menghitam membuat suasana seperti dicengkram gulitanya malam. Karena sulit melihat jalan yang ditempuh, apalagi mulai mendaki dan berbatu - batu, rombongan ini tidak berani bergerak cepat. Pakaian yang dikenakan rombongan ini sudah sepenuhnya basah kuyup. Suara deru hujan yang menggila, gelegar guntur dan kiblatan kilat membentuk suara dahsyat yang menegakkan bulu roma!
“ Komandan berhenti dulu! “
Lelaki paruh baya itu menghentikan langkahnya.
“ Ada apa Gan?!”
Mencoba berteriak beradu suara dengan lebatnya suara hujan yang sesekali ditimpali gelegar guntur.
“ Ada yang aneh, kita sepertinya hanya berputar –putar saja di tempat ini. Medan juga makin curam, di sebelah kanan ada jurang cukup dalam. Kita sudah terlalu lama berjalan tapi tidak ada tanda- tanda kita akan menemukan desa “
“ Jam berapa sekarang?”
Gandi menyingkap lengan jaket coklatnya. Ada arloji melingkar di pergelangan tangan kanan dengan bantuan lampu senter di tangan kirinya pemuda ini melihat jam berapa sekarang. Seketika hatinya terperanjat kaget. Komandan Polisi yang bernama Probo serentak mendekat.
" Mengapa kau terkejut?! Ada apa?”
Aneh, sekarang sudah jam sebelas malam. Perasaan tadi kita dibawah masih menjelang maghrib. Jadi kita telah berjalan selama hampir lima jam?!”
Suasana tegang mulai menyeruak di benak rombongan ini. Terlihat wajah-wajah gelisah dan tegang.
“ Baiklah kita coba berpikir jernih, kita kembali ke titik awal. Alur lembah dan jurang di hutan kadang menipu, karena melingkar tak berketentuan arah. Apalagi ini situasi sangat buruk “
Komandan Probo mencoba menenangkan hati ke lima anak buahnya.
“ Mari kita kembali ke titik awal “
Keenam orang itu segera berbalik arah dengan perlahan, nyala cahaya senter yang mereka bawa tidak mampu menembus pekatnya malam. Mendadak komandan Probo hentikan langkahnya. Lapat-lapat, di kejauhan sepasang telinganya yang tajam mendengar suara aneh. Suara hiruk pikuk seperti suara semak belukar dan pepohonan yang tengah dirambas sesuatu. Dia pejamkan kedua matanya dan mendongak ke langit.
" Ada apa komandan?!”
“ Aku mendengar ada sesuatu yang berlari menuju kesini. Entah apa itu,mungkin celeng atau babi hutan “
“ Berhati –hatilah kalian “
Belum lagi komandan Probo selesai berbicara tiba –tiba dari arah depan sesosok tubuh hitam dengan mata merah menyeruak dari semak belukar. Beberapa pohon kecil yang melintang di hadapannya ditabraknya dengan kaki –kakinya yang kuat.
“Krak…..! Krak…..!”
Batang-batang pohon itu patah bertumbangan!
Quote:
Dan ini yang membuat mata keenam orang polisi ini melotot tidak berkedip diliputi rasa tegang bercampur kengerian yang teramat sangat. Berdiri tegak dihadapan mereka beberapa tombak di muka seekor anjing yang besarnya melebihi anjing biasa. Binatang ini memiliki bulu kelabu kehitaman dengan sepasang mata merah menyala. Binatang buas ini menatap tajam ke arah orang –orang yang ada d hadapannya. Tiba – tiba binatang ini melolong setinggi langit, lalu berdiri dengan kedua kaki belakangnya. Tingginya hampir tiga meter!
Dan orang –orang ini merasakan jantungnya seperti copot!
“ Mahkluk apa ini?!”
Komandan Probo terkejut bukan main, tangannya dengan cepat mengambil pistol yang tergantung dibalik jaket hitamnya.
“ Mundur perlahan, siapkan senjata kalian masing –masing !”
Keenam orang ini mundur perlahan –lahan. Ditangan mereka tergenggam pistol yang siap memuntahkan timah panas jika mahkluk ganas itu tiba –tiba menyerang.
“ Jangan melakukan tindakan yang ceroboh “
Komandan Probo berbisik pada para anak buahnya. Mereka mengangguk mengerti. Anjing raksasa yang tengah berdiri tegak dengan kaki belakangnya menyerupai manusia itu menatap tajam tak berkedip ke arah orang –orang yang berjalan mundur dengan perlahan. Diikuti dengan suara gerengan binatang ganjil itu serta – merta menyerang ke depan. Korban pertama adalah seorang polisi muda yang berada di paling depan. Lehernya menyemburkan darah begitu kuku runcing anjing raksasa itu, mengorek tenggorokannya dan memutus urat besar! Orang ini menjerit lalu roboh bermandikan darah!
Komandan Probo berseru kaget. Siapa yang akan menduga kalau seekor anjing aneh seram tiba-tiba muncul dan menyerang dengan ganas.
“Binatang celaka!” teriak Komandan Probo itu dengan marah.
Dorr!!!
Dorr!!!
Pistol di tangan kanannya langsung memuntahkan timah panas pada binatang itu. Tak ayal lagi sebutir timah melesat dari mocong senjata api itu menghantam pecah kepala anjing jadi –jadian itu, binatang ini hanya tersentak beberapa kejap dengan cepat sekali membalik menyerang komandan Probo itu dengan hantaman tangan kirinya.
Wuut…!
Komandan Probo tidak bisa selamatkan diri. Pelipis kanannya tampak rengkah. Komandan polisi malang ini langsung ambruk, terkulai di pinggiran bibir jurang. Dari mulutnya terdengar suara erangan, lalu diam. Tak terdengar apaapa lagi pertanda ajalnya sudah sampai.
Melihat seorang temannya tewas dan komandan pimpinan juga menenmui ajal, ke empat polisi muda lari menyelamatkan diri.
Dorr !!
Gandi masih sempat melepaskan pemicu pisto di tangan kanannya. Tetapi hal itu tidak berarti apa –apa, timah panas itu seperti menembus lapisan baju baja tatkala menghantam tubuh kokoh berbulu yang tengah merangsek di depannya.
" Akh....!!! “
" Akh....!!! “
Dua teriakan merobek langit. Tatkala dua orang polisi terpeleset tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang juram. Teriakan mereka bergema sampai ke dasar jurang. Tubuh keduanya hancur di makan bebatuan karang yang berada di dasar jurang. Gandi dan seorang kawannya, yang mencoba untuk lari menjadi pucat pasi ketakutan. Gandi jatuhkan diri dan berlindung di balik rapatnya pohon jati. Sementara kawannya nekat untuk terus berlari menjauhi tempat itu.
Polisi itu menjerit ketakutan. Lalu terjatuh berkelukuran di tanah. Dirasakannya kaki kanannya perih sekali. Ketika dirabanya ternyata kaki itu telah putus! Ketakutan setengah mati polisi ini segera beringsut -ingsut sembari menahan sakit. Tetapi anjing jejadian itu datang lebih cepat, binatang itu langsung menyerbu. Cakaran kaki - kakinya yang berkuku tajam merobek wajah polisi yang malang itu. Darah mengucur mengerikan. Terdengar jerit, panjang mengenaskan. Kedua tangannya ditekapkan ke wajahnya yang hancur. Darah mengucur. Tak dapat menahan sakit, polisi ini berteriak keras dan menghambur ke dalam jurang.
Gandi menahan nafas di balik persembunyiannya. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Lelaki muda ini tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Sepasang matanya nyalang mengawasi sesosok tubuh anjing raksasa itu yang tengah berdiri tegak dengan sekujur tubuh berselemotan darah. Anjing raksasa itu mendongak ke angkasa lalu melolong tinggi. Cuping hidung binatang buas itu bergerak –gerak sepertinya ia tahu bahwa ada mangsa hidup yang tengah bersembunyi di sekitar tempat itu.
Anjing besar ini berbalik badan dan berjalan ke arah kerapatan pohon jati. Gandi makin pucat pasi, nyawanya serasa terbang. Tubuhnya gemetaran hebat. Naluri bertahan hidupnya telah membawanya untuk beranjak dan lari secepat –cepatnya. Binatang ini ternyata tidak ingin mangsanya lolos dengan sekali lompat binatang jejadian itu mulai mencabik dan mengoyak Gandi mulai dari kepala sampai ke kaki. Hanya dalam waktu beberapa kejapan saja tubuh pemuda itu sudah hancur luluh dikoyak dan dicabik. Darahnya muncrat membasahi tanah mengalir tersapu hujan deras yang masih juga mengguyur bumi.
Dan orang –orang ini merasakan jantungnya seperti copot!
“ Mahkluk apa ini?!”
Komandan Probo terkejut bukan main, tangannya dengan cepat mengambil pistol yang tergantung dibalik jaket hitamnya.
“ Mundur perlahan, siapkan senjata kalian masing –masing !”
Keenam orang ini mundur perlahan –lahan. Ditangan mereka tergenggam pistol yang siap memuntahkan timah panas jika mahkluk ganas itu tiba –tiba menyerang.
“ Jangan melakukan tindakan yang ceroboh “
Komandan Probo berbisik pada para anak buahnya. Mereka mengangguk mengerti. Anjing raksasa yang tengah berdiri tegak dengan kaki belakangnya menyerupai manusia itu menatap tajam tak berkedip ke arah orang –orang yang berjalan mundur dengan perlahan. Diikuti dengan suara gerengan binatang ganjil itu serta – merta menyerang ke depan. Korban pertama adalah seorang polisi muda yang berada di paling depan. Lehernya menyemburkan darah begitu kuku runcing anjing raksasa itu, mengorek tenggorokannya dan memutus urat besar! Orang ini menjerit lalu roboh bermandikan darah!
Komandan Probo berseru kaget. Siapa yang akan menduga kalau seekor anjing aneh seram tiba-tiba muncul dan menyerang dengan ganas.
“Binatang celaka!” teriak Komandan Probo itu dengan marah.
Dorr!!!
Dorr!!!
Pistol di tangan kanannya langsung memuntahkan timah panas pada binatang itu. Tak ayal lagi sebutir timah melesat dari mocong senjata api itu menghantam pecah kepala anjing jadi –jadian itu, binatang ini hanya tersentak beberapa kejap dengan cepat sekali membalik menyerang komandan Probo itu dengan hantaman tangan kirinya.
Wuut…!
Komandan Probo tidak bisa selamatkan diri. Pelipis kanannya tampak rengkah. Komandan polisi malang ini langsung ambruk, terkulai di pinggiran bibir jurang. Dari mulutnya terdengar suara erangan, lalu diam. Tak terdengar apaapa lagi pertanda ajalnya sudah sampai.
Melihat seorang temannya tewas dan komandan pimpinan juga menenmui ajal, ke empat polisi muda lari menyelamatkan diri.
Dorr !!
Gandi masih sempat melepaskan pemicu pisto di tangan kanannya. Tetapi hal itu tidak berarti apa –apa, timah panas itu seperti menembus lapisan baju baja tatkala menghantam tubuh kokoh berbulu yang tengah merangsek di depannya.
" Akh....!!! “
" Akh....!!! “
Dua teriakan merobek langit. Tatkala dua orang polisi terpeleset tergelincir dan jatuh ke dalam jurang yang juram. Teriakan mereka bergema sampai ke dasar jurang. Tubuh keduanya hancur di makan bebatuan karang yang berada di dasar jurang. Gandi dan seorang kawannya, yang mencoba untuk lari menjadi pucat pasi ketakutan. Gandi jatuhkan diri dan berlindung di balik rapatnya pohon jati. Sementara kawannya nekat untuk terus berlari menjauhi tempat itu.
Polisi itu menjerit ketakutan. Lalu terjatuh berkelukuran di tanah. Dirasakannya kaki kanannya perih sekali. Ketika dirabanya ternyata kaki itu telah putus! Ketakutan setengah mati polisi ini segera beringsut -ingsut sembari menahan sakit. Tetapi anjing jejadian itu datang lebih cepat, binatang itu langsung menyerbu. Cakaran kaki - kakinya yang berkuku tajam merobek wajah polisi yang malang itu. Darah mengucur mengerikan. Terdengar jerit, panjang mengenaskan. Kedua tangannya ditekapkan ke wajahnya yang hancur. Darah mengucur. Tak dapat menahan sakit, polisi ini berteriak keras dan menghambur ke dalam jurang.
Gandi menahan nafas di balik persembunyiannya. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Lelaki muda ini tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Sepasang matanya nyalang mengawasi sesosok tubuh anjing raksasa itu yang tengah berdiri tegak dengan sekujur tubuh berselemotan darah. Anjing raksasa itu mendongak ke angkasa lalu melolong tinggi. Cuping hidung binatang buas itu bergerak –gerak sepertinya ia tahu bahwa ada mangsa hidup yang tengah bersembunyi di sekitar tempat itu.
Anjing besar ini berbalik badan dan berjalan ke arah kerapatan pohon jati. Gandi makin pucat pasi, nyawanya serasa terbang. Tubuhnya gemetaran hebat. Naluri bertahan hidupnya telah membawanya untuk beranjak dan lari secepat –cepatnya. Binatang ini ternyata tidak ingin mangsanya lolos dengan sekali lompat binatang jejadian itu mulai mencabik dan mengoyak Gandi mulai dari kepala sampai ke kaki. Hanya dalam waktu beberapa kejapan saja tubuh pemuda itu sudah hancur luluh dikoyak dan dicabik. Darahnya muncrat membasahi tanah mengalir tersapu hujan deras yang masih juga mengguyur bumi.
Diubah oleh breaking182 12-09-2018 09:38
User telah dihapus dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Kutip
Balas