- Beranda
- Stories from the Heart
Become True (Kakak)
...
TS
riani14
Become True (Kakak)
Quote:
WARNING!!!
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
DILARANG KERAS!!! MENGCOPY / AKSI PLAGIAT/ SHARE TANPA SEIZIN PENULIS.
JIKA TERJADI, SAYA AKAN MENINDAK TEGAS, TERKAIT DENGAN HAK CIPTA PENULIS.
Quote:
Jangan Lupa...tinggalkan jejak berupa KRITIK/ SARAN agan2 dan Sista2.



Dan Jangan Lupa






Dan Jangan Lupa



Quote:
Genre:FIKSI

Quote:

Quote:
INDEX
Part 1
Part 2
Part 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11
PART 12
PART 13
PART 14
PART 15
PART 16
PART 17
PART 18
PART 19
PART 20
PART 21
PART 22
PART 23
PART 24
PART 25
PART 26
PART 27
PART 28
PART 29
PART 30
PART 31
PART 32
PART 33
PART 34
PART 35
PART 36
PART 37
PART 38
PART 39
PART 40 ( revisi )
PART 41
PART 42
PART 43
PART 44
PART 45
PART 46
PART 47
PART 48
PART 49
PART 50
PART 51
PART 52
PART 53
PART 54
PART 55
PART 56
PART 57
PART 58
PART 59
PART 60
PART 61
PART 62
PART 63
PART 64
PART 65
PART 66
PART 67
PART 68
PART 69
PART 70 + extra part
PART 71
PART 72
PART 73
PART 74
PART 75
EPILOG
ADAM MOMENT
Prolog
Barisan antrian mengular mengisi salah satu sisi toko buku besar yang ada di kawasan mall ibu kota. Antrian terjadi bukan tanpa alasan, kehadiran penulis novel bestseller dengan judul fenomenal 'BECOME TRUE' menjadi pemyebabnya.
Penulis berjilbab itu tampak ramah menyapa para pembacanya sambil membubuhkan tanda tangan di novel karyanya yang selalu ludes di buru penggemar. Berbagai komentar manis dan menyenangkan terlontar dari para pembaca setianya yang berasal dari berbagai kalangan dan usia itu.
Ya ampun kak Medina, aslinya cantik banget.
Iya. Ramah banget lagi.
Nggak heran sih dia bisa sesukses sekarang, orangnya baik gitu
Berbagai celotehan itu samar – samar melewati indra pendengarannya, ia tersenyum sekaligus bersyukur atas apa yaang ia raih saat ini.
Tapi...kebahagiaan yang ia dapatkan sekarang terasa kurang lengkap oleh satu hal. Hal paling penting dalam hidupnya, yang pernah ia tinggalkan.Dan saat ia ingin semuanya kembali, ia malah kehilangan segalanya. Ia kehilangan kepercayaan dan senyuman itu. Bahkan ia kehilangan kesempatan untuk sekedar menyampaikan permintaan maaf.
Lamunan tentang masa lalu, tanpa sadar membuatnya menitikkan air mata. Membuat heran para penggemarnya. Sadar jadi pusat perhatian, lekas ia mengusap air mata yang turut jatuh membasahi buku yang seharusnya ia tanda tangani itu.
" Jangan sedih. Dia nggak pernah ninggalin kamu."
Suara berat seseorang yang sudah lama tidak pernah menyapanya, sontak membuat gadis berlesung pipi ini mengangkat wajah. Air mata yang tadi mulai berhenti mengalir kini kembali tumpah kian deras namun di sertai senyum bahagia mendapati siapa yang berdiri di hadapannya kini.
Dia kembali.
Quote:
PART 1
Derap langkah kaki jenjang seorang gadis terlihat lincah menapaki setiap anak tangga yang berjejer rapi. Bulir keringat terlihat kian membasahi dahi mulusnya. Rambut panjang yang di kuncir ekor kuda kini tampak lepek, tak ada indah – indahnya sama sekali. Ingin sekali rasanya dia memaki orang yang memintanya mendatangi rooftop rumah susun berlantai 15 ini.
Bukan masalah berapa lantai yang harus ia tempuh, melainkan tidak ada akses alternatif menuju rooftop selain melewati tangga. Belum lagi ramainya kawasan rumah susun yang membuat langkahnya semakin tak leluasa. Mata hitamnya sesekali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.29, itu artinya satu menit lagi ia akan terlambat dari waktu yang di janjikan.
Gadis berlesung pipi ini kian mempercepat langkahnya, ia tidak boleh terlambat ini kesempatan bagus demi mewujudkan mimpinya selama ini. Mimpi yang selama ini hanya jadi bahan lelucon teman – teman satu kampusnya.
Dengan nafas nyaris terputus akhirnya ia tiba di puncak gedung. Naamun apa yang ia temui ternyata sangat jauh dari ekspektasinya. Tak ada siapa – siapa di sana, hanya ada deretan jemuran yang berbaris dan melambai – lambai di hembus angin pengantar senja. Sepasang matanya terlihat sayu memandangi naskah cerita yang sudah di jilid rapi, yang sejak tadi ada dalam genggaman.
Kemana orang yang meneleponnya tadi? Kemana pimpinan penerbitan yang harus ia temui sore ini? Kemana orang yang bisa memberikannya jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorang penulis terkenal? Kemana-.
Lamunan itu pecah saat gelak tawa seseorang membentur gendang telinganya, ia menoleh cepat ke sumber suara dengan tangan terkepal. Ia kenal suara itu, seorang bocah yang senang melihatnya seperti ini. Melihatnya jatuh dan kehilangan semangat untuk mimpi – mimpinya. Bukan bocah dalam arti sesungguhnya, melainkan dalam artian sifat laki – laki itu yang menurutnya sangat kekanak – kanakan. Laki – laki jangkung berkacamata yang kini berdiri tepat dihadapannya ini, selalu jadi tersangka utama untuk setiap moment menyebalkan dalam kehidupannya sejak satu tahun terakhir.
“ Jadi ini kerjaan lo?” hardiknya yang di sambut dengan senyum meledek dari laki – laki itu. Ia semakin kesal, bolehkah ia memaki orang yang akan ia temui sekarang?
“ Lo bisa nggak sih, nggak ngusilin gue sehari aja?” kesalnya dengan tatapan marah.
“ Bisa. Asal lo mau jadi pacar gue?”
Lagi. Kata – kata yang sama yang selalu ia dengar sepanjang tahun ini. Membosankan.
“ Jadi pacar lo? Nggak akan pernah, bahkan dalam mimpi lo sekalipun.”
Hening kemudian menguasai keduanya, tak ada yang membuka suara terkecuali tatapan saling mengintimidasi satu sama lain yang mereka layangkan saat ini. Hingga beberapa saat kemudian suara berat seseorang menghentikan kegiatan keduanya.
“ Pada ngapain?” tanya cowok yang punya sorot mata teduh itu, yang kini berdiri tegak persis di antara keduanya. Tumpukan pakaian kering ada dalam dekapan tubuh tegapnya. Iris mata hitam pekatnya melirik ke kiri dan kekanan, menanti jawaban dari dua orang ini.
“ Kak Adam,” seru keduanya kompak dengan mata membelalak kaget. Entah malu atau kesal karena kehadiran Adam yang tiba – tiba, keduanya saling membuang pandangan ke sembarang arah.
Gadis berlesung pipi itu yang terlihat sangat gusar dengan kehadiran Adam, ia memilih berdiri memunggungi Adam daripada harus bertemu tatap dengannya. Terlalu mengerikan dan membuat lidahnya kelu. Kakaknya itu pasti akan sangat, sangat, sangat marah melihat kelakuannya hari ini. Belum lagi apa yaang ia kenakan saat ini, kaos hitam rangkap kemeja kebesaran, topi baseball buluk dikepala serta celana jeans sobek yang membungkus kaki jenjangnya, membuatnya terlihat seperti preman jalanan ketimbang adik satu – satunya seorang Adam Vegar Raditya, yang terkenal cerdas dan berperangai baik bak malaikat. Apa yang ia kenakan saat ini, sudah cukup menjadi alasan untuk Adam mengomelinya habis – habisan.
“ Medina. Pulang,” Itu bukan ajakan, itu perintah.
Medina reflek memutar badannya,” ta-tapi kak, urusan aku sama dia belum kelar,” sela Medina sambil mengarahkan telunjuk dan tatapan melototnya pada cowok berkacamata yang sejak tadi hanya diam memperhatikan. “ Dia tu...,” Medina menjeda ucapannya, lirikan tajam Adam dan hentakan nafasnya sukses membungkam mulutnya. Jika Adam sudah seperti itu, artinya dia tak ingin di bantah.
“ Iya...iya...aku pulang.”
Dengan kepala tertunduk dan bibir mengerucut, Medina menyusul langkah Adam yang telah berada didepannya. Ia kembali menghentikan langkahnya ketika mendengar cekikikan dari arah belakang. Medina menoleh dan memandangi cowok berkacamata tadi dengan tatapan membunuh, darahnya serasa mendidih, melihat cowok tadi tampak puas menertawainya. Ia kembali ingin mendekat dan memberi pelajaran pada musuh bebuyutannya itu, tapi apa mau di kata, langkahnya tertahan karena Adam telah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan menyeretnya persis anak kucing.
“ Ah...kak Adam, aku harus beri dia pelajaran dulu,” rengek Medina.
“ Pelajaran apa? Kamu sendiri masih butuh di ajari.”
“ Kak...,”
“ Diam.”
Medina tahu betul kakaknya itu tidak suka di bantah, tapi entah mengapa ia justru jadi orang yang paling sering membantah perkataan kakaknya. Walau ia bandel dan kakaknya cukup tegas serta over protective terhadap dirinya, ia tetap menyayangi kakak semata wayangnya itu. Bagaimanapun, Adam adalah satu – satunya keluarga yang ia miliki setelah kepergian kedua orang tuanya.
“ Kak, dia itu udah ngebohongin aku, dia harus dapat balasannya.”
“ Salah kamu, kenapa gampang banget di bohongin,” tuding Adam sambil menggedor salah satu pintu rumah yang berada di lantai 10.
“ Bukannya gitu, aku cuma-,” ucapan Medina tertahan saat si empunya rumah keluar dan menerima pakaian kering yang sedari tadi di bawa Adam.
Wanita paruh baya itu juga tampak memberikan beberapa lembar uang lima ribuan pada Adam. Adam menerimanya seraya mengucapkan terima kasih.
“ Kak, Nando itu emang rese’. Aku selalu jadi bahan lelucon dia di kampus. Kakak tahu itu kan? Jadi...apa salahnya aku kasih dia pukulan sedikit biar jera,” Medina kembali buka suara saat ibu berambut sebahu tadi masuk ke rumah dan menutup pintu.
“ Kamu itu cewek. Nggak pantes kayak gitu.”
“ Kakak...cewek itu juga perlu pertahanan diri.”
“ Pertahanan diri buat hal yang penting, bukan buat ngeladenin orang rese’.”
“ Tapi, Kak-,”
“ Kakak nggak pernah ngajarin kamu berkelakuan kayak preman begitu.”
Mereka terus saja berdebat sambil menapaki satu persatu anak tangga menuju ke lantai dasar. Keduanya saling tidak mau mengalah. Keduanya keukeuh mempertahankan argumen masing – masing.
Yang mereka ributkan tentu saja bukan hanya soal kelakuan Medina yang sebelas dua belas sama preman pasar, tapi juga cara berpakaian Medina yang sangat di tentang oleh sang kakak. Adam sudah berulang kali menasehati Medina untuk berpakaian lebih santun dan feminim, tapinpercuma nasehat itu mental duluan sebelum masuk ke telinga adiknya. Medina terlalu keras kepala.
“ Pokoknya mulai besok kakak nggak mau liat kamu berpenampilan kayak gini lagi,” tegas Adam dengan tatapan dingin.
“ Tapi...kak, aku nyaman dengan penampilan aku yang sekarang.”
Adam memijat pelipisnya, ia seperti kehabisan kata – kata untuk menasehati adiknya itu. Terlalu keras di beritahu, Medina akan semakin melawan. Tapi jika bersikap lembut, Medina malah ngelunjak.
Adam menghela nafas kasar, akan lebih baik ia menyudahi perdebatan ini sebelum Medina ngambek dan kabur dari rumah seperti kebiasaannya yang sudah – sudah.
“ Kakak berangkat kerja dulu. Kamu langsung pulang,” titah Adam dan kemudian berlalu pergi meninggalkan pelataran parkir rumah susun serta Medina yang terlihat semringah karena kakaknya tidak lagi berkomentar soal apa yang ia kenakan. Atau...lebih tepatnya belum berkomentar. Entahlah...apapun itu yang penting sekarang Medina tidak harus menuruti kemauan kakaknya untuk mengubah penampilan tomboynya itu.
“ Baru tahu gue, kalau ‘macan kampus’ punya pawang.”
Kalimat bernada meledek itu, menyentil emosi Medina yang kian menggunung. Nando kini berdiri di sisinya dengan melayangkan senyum yang dibuat semanis – manisnya, tapi entah kenapa terlihat begitu menyebalkan bagi Medina.
“ Oh...mulut lo itu kayaknya butuh belaian langsung dari bogem mentah gue ya?” tanya Medina sambil menyingsingkan lengan kemejanya, menantang.
“ Ya elah Na, jangankan bogem mentah. Di cium mesra sama lo aja, gue pasrah,” Nando semakin semringah. Tak gentar menghadapi kemarahan Medina yang sudah sangat sering ia lihat.
Tapi...tingkahnya justru semakin menaikkan kadar kemarahan Medina,” Nando!!”
Medina siap melayangkan tinjunya, Nando reflek menghindar melarikan diri.
Aksi saling kejar – kejaran layaknya Tom and Jerry mengisi pelataran parkir rumah susun yang terlihat sepi. Medina dan Nando sebenarnya telah saling mengenal sejak masih ingusan, tapi karena keusilan Nando, keduanya malah tidak pernah akur.
Walau takdir terus – terusan mempertemukan mereka di tempat yang sama. Sekolah yang sama dari jaman Tk hingga SMA, bahkan kampus yang sama, itu tak membuat keduanya bisa menjalin pertemanan yang baik, apalagi sejak Nando menyatakan cintanya pada Medina satu tahun lalu. Gadis bermata hitam pekat itu seakan kian antipati kepadanya.
Apa sikap antipati itu untuk menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya pada Nando? Atau memang ia ingin membuat Nando menjauh? Entahlah, apapun itu toh usahanya untuk membuat Nando menjauh tak pernah berhasil. Cowok manis berkacamata itu justru kian sering muncul mengisi kehidupannya.
Terkadang, cinta itu keras kepala.
●●●
Diubah oleh riani14 07-10-2023 17:38
efti108 dan tien212700 memberi reputasi
5
76.5K
Kutip
1K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
riani14
#666
Quote:
PART 43
Matahari perlahan mulai menampakkan diri, bersiap menjalankan tugasnya hari ini.
Medina dan Nina yang tak sengaja terlelap di atas kursi rotan yang mereka duduki, terbangun akibat suara kokok ayam milik warga sekitar.
Baru juga bangun keduanya sudah di kejutkan oleh sebuah kotak ukuran sedang yang terletak di atas meja yang membatasi kursi keduanya.
Keduanya saling berpandangan dengan wajah bingung, hingga akhirnya Medina memutuskan untuk meraih kotak itu lebih dulu dan segera membukanya.
Tangannya bergetar, air matanya kembali mengalir saat ingin meraih benda yang ada di dalam kotak.
Ada mukena, sajadah, dan Al-qur’an ukuran kecil di dalamnya, serta jilbab abu – abu yang dulu pernah ia kenakan.
Medina tahu siapa yang meninggalkan kotak ini untuknya. Tapi...yang tidak ia tahu kenapa orang Itu justru tak ingin menemuinya. Jika memang ia ingin pergi, apa tidak bisa berpamitan pada Medina lebih dulu???
“ Na, gue yakin kak Adam mau yang terbaik buat lo.”
Nina yang sejak tadi hanya diam menyaksikan sahabatnya yang terus saja terisak akhirnya membuka suara. Ia tidak ingin Medina kembali terpuruk dan menyerah begitu saja pada keadaan.
“ Iya, yang terbaik buat dia adalah pergi dari orang yang nggak pernah menghargai pengorbanan dia sedikitpun,” sahut Medina dengan suara bergetar. “ Dan orang itu, gue.”
“ Nggak Na, bukan itu maksud gue.”
“ Kak Adam pasti benci sama gue, Nin. Dia pasti benci banget sama gue. “ tangis Medina kian deras, ia bahkan tidak sadar jika air matanya kini sudah membasahi jilbab yang ada didalam kotak.
Nina memandanginya dengan tatapan prihatin, ia tak pernah melihat Medina menangis sejadi – jadinya seperti sekarang. Ia yakin gadis itu begitu terluka saat ini.
Nina mendekati Medina dan kemudian memeluk erat sahabatnya itu, berharap itu bisa memberikannya sedikit saja ketenangan,” Na, percaya sama gue kak Adam tetap sayang sama lo. Orang kayak dia nggak mungkin benci sama adiknya sendiri.”
“ Tapi...kenapa dia ninggalin gue?” isak Medina kian menjadi.
Nina melepas pelukannya dan menatap Medina dengan tatapan meyakinkan, “ Medina, gue yakin kak Adam nggak punya niat buat ngejauh dari lo, dia pasti punya penjelasannya.”
Medina terdiam sambil menyeka air matanya,” Gue harus temuin Nando.” Medina beranjak dari kursi.
“ Nando?” taanya Nina heran hingga menghentikan langkah Medina.
Medina mengangguk cepat,” Gue yakin, Nando pasti tahu ada dimana kak Adam sekarang.”
“ Na, lo jangan ngaco...Nando udah terbang ke Jerman tadi malam.”
“ Nggak...nggak mungkin. Lo pasti bohong.”
Wajah penuh depresi tampak begitu jelas tergambar dari wajah Medina, matanya terlihat seperti orang yang bingung. Nina kian menaruh rasa kasihan pada Medina. Gadis itu sungguh telah berada di puncak kekalutannya.
Nina merogoh saku kemejanya, mengambil haandphonenya dan kemudian memperlihatkan isi pesan singkat yang di kirimkan Nando untuknya kepada Medina,” Baca. Ini pesan yang gue terima dari Nando setengah jam sebelum dia take off.”
From : Nando
Nin, bentar lagi gue take Off.
Tolong jemput Medina. Dia ada di rumah sakit.
Gue titip Medina ya.
Nin, bentar lagi gue take Off.
Tolong jemput Medina. Dia ada di rumah sakit.
Gue titip Medina ya.
Tanpa sadar air mata Medina kembali tumpah membasahi kedua pipinya. Ia terduduk lemas di lantai. Apa yang akan ia lakukan sekarang? Ia sudah kehilangan dua orang penting dalam hidupnya karena keegoisan dan kebodohannya sendiri. Ia mengabaikan Adam yang hanya ingin hal terbaik untuknya. Ia juga mengabaikan Nando yang selama ini selalu ada untuknya.
“ Awalnya gue sempat mikir mau nyusul Nando di bandara buat cegah dia pergi. Karena gue yakin bukan hanya gue yang merasa kehilangan. Tapi...gue tahu, sahabat gue lebih butuh gue di sini,”
“ Gue udah minta dia buat stay, Nin. Tapi kenapa dia tetap pergi?” isak Medina kian menjadi. Sosoknya yang tomboy dan tahan banting kini hilang entah kemana. Ia tak peduli jika Nina menganggapnya gadis yang super cengeng sekarang, ia hanya ingin meluapkan seluruh kesedihannya hingga terkikis habis.
“ Dia ingin stay, tapi dia nggak bisa.”
“ Kenapa?”
Nina menggeleng pelan,” Gue nggak tahu. Nando nggak cerita. Dia Cuma bilang dia harus pergi, dan dia nggak mau liat lo sedih.”
Ucapan Nina langsung membuat Medina berangsur memeluknya erat. Gadis itu tak lagi menjawab, ia larut dalam tangisannya sendiri. Kesedihan yang di rasakan Medina turut menular pada Nina, mata bulat itu tampak berkaca – kaca.
Sabar Na, lo nggak sendirian. Lo masih punya gue, sahabat lo.
***
Matahari naik kian tinggi waktu juga sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Keadaan rumah mewah milih tuan Vegar terlihat sepi, para security yang biasanya berjaga di luar juga tak tampak di sana.
Nina menghentikan laju kendaraannya persis di depan pintu utama. Ia memandangi Medina yang duduk persis di sebelahnya dengan tatapan prihatin. Sejak meeninggalkan rumah di gang sempit itu, Medina terus saja membisu, tatapannya terlihat kosong. Nina merasa ia telah kehilangan sahabatnya yang kadang petakilan dan selalu tersenyum.
“ Gue minta maaf,” ucap Medina akhirnya dan membuat Nina sedikit terheran – heran. Maaf buat apa?
“ Belakangan ini, gue sering bersikap kasar dan mengabaikan kebaikan lo. Gue minta maaf,” sambung Medina lebih rinci.
Nina tersenyum sambil mengusap pundak sahabatnya,” Maafin gue juga ya, Na. Gue udah berpikiran buruk tentang lo belakangan ini.”
Medina mengangguk ,“ Gue juga minta maaf, karena selama ini nggak pernah sadar udah nyakitin lo.”
Nina yang sedikit bingung mendengar pernyataan Medina,” Nyakitin gue? Maksud lo?”
“ Come On, Nin...lo nggak perlu bohong lagi sama gue. Lo sukakan sama Nando?”
Nina tak langsung menjawab, ia meemilih memamerkan senyum tipis pada Medina dan membuat perempuan itu bingung. “ Gue emang suka sama Nando. Tapi...gue bisa apa kalau pada kenyataannya yang ada di hati Nando itu, LO.”
“ ... “
“ Lo tahu sendirikan, Cinta itu nggak bisa di paksakan. Dan gue juga nggak mau egois. Sekalipun Nando juga suka sama gue, gue nggak akan bisa bahagia di atas luka sahabat gye sendiri.”
“ Maksud lo? Gue? Nggaklah. Gue bahagia kok kalau kalian bahagia,” Medina berusaha mengelak, ia jelas tahu kemana arah pembicaraan Nina barusan.
“ Bullshit. Sejak kapan lo jadi alay gini? Di tinggal Nando ke Jerman aja lo cemas, apalagi di tinggal Nando buat nikah sama gue. Yakin masih bisa bahagia?”kelakar Nina sambil terkekeh. Tampaknya suasana tak lagi setegang tadi, Medina juga sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
“ Yakinlah. Kan dia bahagianya sama sahabat gue sendiri, “celetuk Medina berniat menyembunyikan perasaannya, tapi tanpa sadar justru membuka rahasianya sendiri.
“ Cieee...yang pengen Nando bahagia,” canda Nina sambil mentoel pipi Medina.
“ Idih...apa’an, nggaklah.”
“ Ya elah, masih jual mahal aja.”
“ Udah deh Nin, lo jangan bikin mood gue turun lagi deh.”
“ Iya...iya...,” pasrah Nina masih setia mempertahankan senyumnya. “ Gue seneng lo udah baik – baik aja sekarang.”
Medina hanya membalas itu dengan senyuman tipis,” Sekalipun gue nangis darah, kak Adam belum tentu balikkan?”
“ Yang sabar ya, Na.”
Medina mengangguk dan tetap tersenyum. Terkadang kita butuh menyembunyikan luka sendiri, agar luka itu tidak menular pada orang lain. Itulah yang sedang di lakoni Medina di hadapan Nina sekarang. Ia bisa mengerti sebesar apa rasa khawatir Nina padanya, dan ia tak ingin Nina ikut terluka saat melihat dirinya terpuruk.
Berpura – pura bahagia bukanlah keahlian Medina. Tapi setidaknya ia sudah pernah beberapa kali melakukannya. Dan ia sudah terbiasa.
“ Na...Nando-,” ucap Nina sesaat setelah ia membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.
Lamunan Medina buyar seketika, ia juga di buat bingung dengan perubahan ekspresi wajah Nina. Wajah perempuan itu tak lagi setenang tadi, bahkan Medina bisa melihat Nina sedang berkaca – kaca sekarang?
Apa yang terjadi?
●●●
1
Kutip
Balas