Kaskus

Story

yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)
Pintu Mimpi (Prolog)


Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.

All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.

Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda

Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny

Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda

Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias

Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris

INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
someshitnessAvatar border
zixzaxfireAvatar border
indrag057Avatar border
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
yohanaekkyAvatar border
TS
yohanaekky
#18
Pintu Mimpi #8 (Melarikan Diri)
Ijinkan aku pergi
Aku tak dapat berada disini lagi
Aku harus pergi
Mohon maafkan aku.
-- Melody Harris


○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

"Milos, Milos,"

Suara samar yang memanggilku kini menjadi jelas. Cepat-cepat aku membuka kedua mataku untuk melihat sosok pemilik suara tersebut. Tetapi saat aku melihat Irenka dan Bohumir berjongkok di kanan dan kiriku dengan ekspresi cemas, aku menjadi kecewa. Bukan mereka yang aku harapkan.

"Ada apa denganmu?" tanya Irenka. Tangannya menggenggam kedua tanganku yang terlipat di atas lututku.

Aku menghela nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan diriku. Mereka tak boleh mengira aku sakit atau mengalami kesulitan, karena rencanaku untuk keluar dari Tahta tak boleh gagal.

"Kau baik-baik saja?" Giliran Bohumir yang bertanya karena aku belum memberikan jawaban apapun.

Kupasang senyuman palsu di wajahku. "Ya, tentu," sahutku. "Aku hanya tak suka saja dengan percakapan di meja makan tadi. Karena itu aku menyendiri di tempat ini untuk menenangkan emosiku."

Irenka tertawa kecil. "Kau ini memang anak-anak," celetuknya.

Aku pun beranjak dari ayunan itu dan berdiri tegak. "Ayolah, temani aku ke padang rumput di belakang. Aku merasa sangat suntuk dan memerlukan udara segar," ajakku.

Irenka dan Bohumir ikut berdiri.

"Tapi mungkin kita perlu bantuan dari Slavko untuk membuka pintu belakang. Kurasa ia yang memegang kuncinya," ucapku.

"Biarkan aku yang memanggil Slavko," Bohumir menawarkan diri.

"Baiklah. Terima kasih. Kami akan menunggumu di pintu belakang," ucapku padanya sebelum ia pergi.

Aku dan Irenka berjalan keluar dari area taman kecil itu. Sebelum benar-benar meninggalkannya, aku sempat menoleh ke belakang sejenak. Dalam hatiku ada rasa bahwa taman itu memberikan kenangan tersendiri. Tetapi apa itu, aku tak tahu. Namun kurasa untuk saat ini, aku lebih baik melupakannya.

"Hei Irenka, aku sengaja melakukan ini," ucapku padanya saat kami hampir sampai di pintu belakang.

Irenka menaikkan alisnya. "Hmm?"

"Ya. Agar kau dan Bohumir dapat mengenal satu sama lain lebih lagi. Gunakan kesempatan ini. Lakukan sebaik mungkin dan jangan biarkan usahaku menjadi sia-sia, oke?" aku memberikan wejangan padanya.

Irenka tampak merona, merasa tersipu. "Kau ini, memang adik yang baik," ucapnya lirih karena takut terdengar oleh Bohumir.

"Tak masalah. Aku harap kau dapat berakhir dengannya nanti," kusampaikan harapanku dengan tulus.

Tak lama Bohumir muncul bersama dengan Slavko yang ada di sisinya. Kukira tubuh Bohumir saja sudah tinggi tetapi rupanya ia masih kalah tinggi dari Slavko. Benar-benar fakta menarik.

"Tuan Putri, mengapa sangat ingin pergi ke padang rumput?" tanya Slavko sembari membukakan pintu.

Aku tersenyum padanya. "Karena aku rindu untuk bermain disana," jawabku.

Slavko pada akhirnya berhasil membuka pintu. "Hamba senang mengetahui hal ini, tuan Putri. Sudah sekian lama tuan Putri menolak untuk kesana. Bahkan hanya mendengarnya saja tak mau," ungkapnya.

Benarkah aku seperti itu? Oh tidak. Maksudku Miloslava, bukan aku.

"Baiklah. Terima kasih, Slavko," kusentuh lengannya lalu melangkah keluar melalui pintu tersebut.

"Mohon jaga kedua tuan Putri kami, Ksatria Bohumir. Meskipun disini aman, tetaplah berhati-hati." Slavko berkata pada Bohumir.

Melihat hamparan padang rumput yang begitu luas ini membuatku merasa sangat bahagia. Aku berlarian tanpa arah di rerumputan yang juga dipenuhi bunga beraneka macam dan warna itu. Seperti anak kecil aku tak dapat menahan diri untuk merasa riang di tempat ini. Sungguh inilah kemerdekaan.

Kutinggalkan Irenka dan Bohumir di belakang tanpa menoleh ke belakang. Aku berharap mereka benar-benar mendapatkan waktu untuk saling mengenal sehingga mereka tak perlu berfokus padaku. Pada saat itu, aku memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Aku melayangkan pandangan mataku ke seluruh sisi padang rumput ini. Struktur tanah yang naik turun ini dan rumput-rumput yang tinggi akan menguntungkanku. Jika begini aku dapat menyelinap dan pergi jauh.

Sesekali aku menoleh ke belakang untuk melihat Irenka dan Bohumir demi memastikan apakah mereka masih mengawasiku atau tidak. Rupanya mereka mengobrol dan menikmati kebersamaan. Ini adalah kesempatan yang sangat baik.

"Milos! Jangan terlalu jauh!" Irenka berseru, membuatku menoleh padanya.

"Tenanglah, Irenka. Jangan khawatirkan aku. Bersenang-senanglah, karena aku juga ingin bersenang-senang." Aku ganti berseru padanya.

Aku melanjutkan perjalananku. Kulihat ke arah kanan dan kiriku. Tak ada seorang pun tampak disana. Ini benar-benar kesempatan yang baik.

"Halo," baru saja berpikir begitu, kudengar seseorang menyapa.

Kutengok ke arah sumber suara dan tak menemukan siapapun disana. Oh, mungkin hewan yang berbicara padaku. "Siapa disana?" tanyaku.

"Lihat ke bawah, tuan Putri," suara itu memberitahu.

Maka aku mengarahkan pandangan ke bawah dan mendapati sosok kelinci biru nan mungil disana.

Aku pun berjongkok. "Oh halo." Melihatnya membuatku sangat bahagia. Rasanya seperti menjadi Alice di Negeri Ajaib. Aku tak percaya aku sedang berbicara dengan seekor kelinci.

"Sudah begitu lama sejak tuan Putri kemari," ucap kelinci itu. "Mungkin sepuluh tahun? Sejak tuan Garry pergi."

Ketika kelinci itu menyebutkan kepergian Garry, ada kesedihan yang seketika kurasakan. Tetapi aku tak boleh terlarut. Maka, aku cepat-cepat menyadarkan diriku.

"Benar. Tetapi itu sudah lama sekali. Maka sekarang aku harus bangkit. Bukankah begitu?" aku meminta persetujuan.

Kelinci tersebut mengangguk. "Ini yang tuan Garry harapkan," ucapnya yakin.

"Bagaimana kau tahu? Kau terdengar seperti mengenal Garry," aku sedikit ingin tahu lebih jauh.

"Tuan Putri, hamba adalah teman tuan Garry juga. Ia banyak menceritakan tentang tuan Putri ketika ia tidak sedang bersama tuan Putri." Kelinci itu mengaku.

"Begitukah?"

Kelinci itu mengangguk. "Tuan Garry sangat menyukai tuan Putri Miloslava. Hamba sangat memahaminya karena ia tak dapat berhenti bercerita tentang tuan Putri," ia bercerita lebih lanjut.

Tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi pipiku. Terheran, aku menyekanya perlahan sambil bertanya-tanya dalam hati mengapa ini bisa terjadi.

"Mohon maafkan hamba. Hamba tak bermaksud membuat tuan Putri sedih," kelinci itu membungkuk dengan kepalanya sampai menempel di tanah.

"Oh, jangan khawatir. Kau tidak bersalah. Tenang saja," ucapku meyakinkannya.

Sungguh mengherankan karena hatiku benar-benar merasakan kehilangan saat ini. Aku merindukan Garry. Tapi bagaimana bisa aku merindukan seseorang yang tidak kukenal dan tak pernah kutemui?

Sadarlah, Melody. Ini bukan saatnya terlarut. Kau harus fokus pada tujuan utamamu. Aku berkata pada diriku sendiri. "Bolehkah kau meninggalkanku sendiri saat ini, kelinci?" pintaku padanya.

Kelinci itu tampak sedih. "Baiklah, tuan Putri. Jaga dirimu baik-baik." ucapnya lalu pergi.

Ketika melihat kelinci itu sudah tak ada lagi, aku bangkit dan berjalan lagi. Kali ini aku berjalan lebih cepat dan memasuki rerumputan yang lebih tinggi sehingga tubuhku tidak terlihat lagi dari kejauhan. Aku menengok ke belakang dan tidak lagi melihat Irenka serta Bohumir.

Mendapati bahwa ini merupakan saat yang tepat, aku pun mulai berlari. Kuangkat gaunku agar aku tak tersandung. Memang merupakan suatu kesulitan tersendiri untuk berlari menggunakan gaun sepanjang ini. Tetapi aku tak perlu memikirkannya terlalu dalam. Yang penting saat ini adalah aku dapat pergi ke pintu itu.

Semakin lama aku berlari, semakin aku letih jadinya. Aku tak yakin dapat sampai ke pintu itu jika berlari seperti ini.

Terbang. Pikiranku tiba-tiba saja tertuju pada fakta bahwa aku memiliki kemampuan itu.

Mengikuti instruksi yang merpati pernah berikan padaku, aku memikirkan agar sayapku keluar. Rupanya aku berhasil. Namun tantangan yang sesungguhnya adalah terbang.

Aku mencoba untuk terbang tetapi beberapa kali aku hanya terbang rendah dan terjatuh ke bawah. Untung saja belum terlalu tinggi sehingga aku tidak terluka.

Bagaimana ini? Rasanya ketika bersama merpati aku dapat terbang dengan mudah. Tetapi mengapa sekarang aku tak bisa?

Aku memegangi kedua kepalaku dan meremas rambutku. "Ayolah, terbang," aku bergumam, kemudian menghela nafas dalam-dalam. "Baiklah. Ayo coba lagi."

Kutegakkan badanku dan memerintah sayapku untuk membawaku naik. Usahaku tak sia-sia kali ini. Aku perlahan dapat naik ke udara.

"Miloslava!"

Itu suara Irenka. Aku menoleh ke arah belakang dan tampak ia serta Bohumir melihatku dengan jelas.

"Kau tak boleh melakukannya di luar Tahta!" Irenka berseru lagi.

Aku tak bisa mundur. Saat ini aku sudah selangkah lebih dekat dengan pintu masuk ke dunia ini. Siapapun boleh mencegahku demi kebaikanku. Tetapi maafkan aku, aku harus segera pergi.

Dengan mudah kini aku dapat mengendalikan sayapku. Aku terbang menuju ke arah yang aku yakini menuju pada tempat Garreth bekerja.

Sesuai dengan dugaanku, akhirnya aku dapat melihat bangunan tempat Garreth bekerja. Dari sana aku mengikuti jalanan sempit yang aku lewati bersama Madeline dan Garreth dengan mobil. Seharusnya setelah ini akan mudah untuk masuk ke dalam kota.

"Miloslava!"

Aku menoleh ke belakang dan mendapati Irenka serta Bohumir terbang menyusulku.

"Oh tidak," aku bergumam. "Tolong jangan tahan aku. Kumohon." Lalu aku mempercepat laju terbangku.

Kini aku terbang tanpa arah yang jelas. Aku hanya ingin menghindar dari mereka. Rencanaku tak boleh gagal karena ini kesempatanku satu-satunya.

Pohon kehidupan. Itu pohon kehidupan. Berarti itu dekat dengan pintu masuk.

Beruntung sekali aku tidak melewatkannya. Aku pun terbang kesana dengan laju yang sangat cepat, bahkan lebih cepat daripada yang aku pernah bayangkan. Hingga aku tak menyadari bahwa itu membawa kerugian bagiku.

Aku kehilangan kendali hingga tak bisa mengarahkan kemana aku harus pergi saat aku hampir sampai di pohon kehidupan. Seperti pesawat terbang yang rusak, aku pun mulai terbang turun dengan tajam ke area perumahan.

Oh tidak. Bagaimana ini? Tolong. Tolong aku. Sayapku telah menghilang dan aku tak dapat terbang kecuali berserah. Karena itu, aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku, berharap wajahku tetap terlindungi saat terjatuh nanti.

BUM!

Tubuhku bagian kanan menghantam sesuatu dengan sangat keras. Rasanya sakit sekali hingga aku mengerang dengan keras juga.

"Melody?"

Mendengar nama asliku disebut, aku membuka kedua mataku segera meskipun masih menahan sakit.

Seorang pemuda yang kukenal menghampiriku. "Bagaimana kau dapat terjatuh dari ketinggian?" tanyanya khawatir.

"Garreth," aku mengerang lagi saat aku berusaha bergerak di atas sesuatu yang ternyata adalah tumpukan jerami. "Tolong."

Garreth kemudian berusaha membangunkanku perlahan dengan meletakkan lengan kirinya di belakang kepalaku dan tangan kanannya menopang tubuhku.

Aku pun bersandar pada tembok yang ada di belakangku.

"Miloslava!" Itu suara Irenka dan Bohumir yang berteriak secara bersamaan.

"Garreth, sembunyikan aku. Pinjami aku jaketmu dan tutupi aku sekarang," pintaku padanya.

Garreth tampak kebingungan. Tetapi ia melakukan apa yang kuminta. Dilepaskannya jaketnya yang besar itu dan kemudian dibentangkannya menutupi sebagian tubuhku.

"Tumpuki kakiku dengan jerami." Sekali lagi aku memintanya.

"Apa?"

"Cepat!"

Garreth pun mengambil jerami-jerami itu dan mulai mengubur kakiku.

"Tetaplah berbuatlah seolah-olah kau sedang merapikan jerami," aku memberi instruksi.

"Milos!"

Suara Irenka semakin mendekat. Jantungku berdebar dengan sangat kencang. Dalam hati aku berharap untuk tidak dapat ditemukan olehnya dan Bohumir.

○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.