Kaskus

Story

m60e38Avatar border
TS
m60e38
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
Quote:



Apa kau percaya dengan Hukum Kekekalan Energi?
Kalau aku percaya dengan Hukum Kekekalan Cinta.
Bahwa Cinta itu tidak dapat dibuat atau dimusnahkan.
Tetapi hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Itulah cinta yang kupercaya.


Ini adalah kisah nyata tentang mereka.
Tentang semua cinta yang tak terbalas.
Tentang semua rasa yang tak terungkap.
Yang terukir indah dalam 874 lembar buku harianku sejak SMA.
Ditambah 101 halaman dari kisahku yang hilang bersama seseorang.

Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17
Maka, saat kau bertanya, mengapa kau masih ingat?
Buku harianku yang mengingatkanku.
Disana tertulis nama lengkap mereka.
Disana tertulis semua perkataan antara aku dan mereka
Disana tertulis semua proses pendewasaanku.


Ini kisah nyata.
Buku harian 975 lembar letter size itu saksi sejarahnya.
Ditulis dengan font Times New Roman 10 Pt.
Dan akan kutulis ulang semuanya untuk kalian.
Bidadari yang pernah datang mengisi hariku.
Bidadari yang mendewasakanku.




Orang bilang, jatuh cinta itu menyenangkan.
Aku mengakui itu, sepanjang aku jatuh cinta, rasanya menyenangkan.


Tetapi orang juga bilang, jatuh cinta itu menyakitkan.
Entah, tetapi aku tidak pernah setuju dengan frasa bahwa cinta itu menyakitkan.


Cinta adalah saat kita menginginkan orang yang kita cintai bahagia.
Tidak peduli seberapa sakitnya kita dibuatnya.
Karena ketulusan yang akan mengobati semua sakit.
Di atas senyum bahagia, dia yang kita cintai.


Namum, apabila ada banyak hati yang saling mencinta.
Apakah akan berakhir bencana?
Ataukah ketulusan yang akan menyembukan mereka.
Ini kisah tentang mereka.


Bidadari sempurna yang hadir dalam hidupku.



Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari


Kembalilah (Tak Terungkap) | Ketulusan Cinta Para Bidadari | R-17



MAKLUMAT


Cerita ini berdasarkan kisah nyata, nama karakter disamarkan sesuai dengan kebutuhan untuk melindungi privasi dari tokoh yang ada di dalam cerita ini. Dan cerita ini sebisa mungkin menggunakan kaedah sastra secara teknis, sehingga akan dibutuhkan waktu yang lama untuk dicerna.

Rating dalam cerita ini adalah R-17, dengan kata lain, cerita ini mengandung bahasa yang kasar dan juga isi cerita yang hanya sesuai untuk usia 17 tahun atau di atasnya, dan atau usia di bawahnya dengan bimbingan orang yang lebih dewasa.

Perlu diingat, rating Restricted tidak serta merta hanya mengacu kepada konten cerita yang mengandung adegan dewasa, belajar dari cerita sebelumnya, saya selaku authorakan meminimalisir cerita dengan adegan dewasa di thread ini. Restricted di sini mengacu kepada kompleksitas cerita yang akan mempengaruhi ideologi pada pembaca, khususnya remaja yang memiliki usia di bawah 17 tahun.

Penggunaan bahasa yang tidak pantas, serta adegan yang penuh dengan konspirasi dan atau tindakan kejahatan juga menjadi pertimbangan saya untuk tetap mempertahankan rating Restricted di dalam cerita ini, jadi terlebih dahulu harus dipahami mengapa saya tetap menggunakan rating R-17 pada cerita ini, dan bukan serta merta karena adanya adegan yang kurang pantas di sini.

Mohon untuk pembaca memahami bahwa tidak semua adagan dalam cerita ini bisa dicontoh, ditiru, dan atau diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terlebih untuk material yang hanya boleh dilakukan untuk pasangan pernikahan yang sah. Pembaca dimohon untuk mengambil hikmah dari cerita ini sebaik-baiknya.

Kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya harapkan, dan mohon maaf apabila banyak tulisan dari karya saya yang masih jauh menyimpang dari Sastra Indonesia. Saya mohon koreksinya dari pembaca, karena saya ingin tetap mempertahankan kaedah menulis Sastra, bukan asal cerita.

Demikian maklumat dari saya, Terima Kasih.



Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


Quote:


OVERTURE



     Selamat pagi rekan-rekan Kaskuser, khususnya di Sub-Forum Story from the Heart, perkenalkan, saya Faristama Aldirch, selaku Nubie SR di sini untuk berbagi kisah. Sebelumnya pasti rekan-rekan semua tahu apa alasan saya menggunakan User ID m60e38, tentunya ada hubungannya antara mesin BMW M60 dan sasis BMW E38.


     Tentu saja, cerita ini berawal dari saya yang jatuh cinta kepada Aerish Rivier, menyatakan cinta kepada gadis itu, dan membuat saya menanti akan sebuah balasan yang tak berujung. Menutup hati dari banyak hati yang berusaha mengisi hati saya dan berusaha tak acuh dengan apa yang saya alami sendiri. Hingga pada akhirnya banyak hal yang terlewatkan hingga semuanya menjadi satu.

     Tetapi, hal tersebut tidak pernah disadari oleh saya, Cauthelia Nandyadatang dengan membawa cinta dan keikhlasan yang begitu luar biasa, tertuang dalam diary-nya sejak tahun 2002. Nadine Helvelina datang dengan cinta dan ketulusan yang tidak pernah bisa diragukan. Shinta Adinda yang menjadi sahabat terbaik saya juga datang dengan ketulusan yang benar-benar membuat saya berpikir tidak akan meninggalkannya.

     Arteana Andrianti, seorang Guru penjaga UKS yang merasakan bahwa saya adalah laki-laki yang telah menyelamatkannya di satu peristiwa pada pertengahan 2006. Hingga Aluna Amelia, gadis berdarah Oriental yang begitu cantik, mempercayakan segala perasaannya kepada saya atas semua apa yang pernah saya lakukan kepadanya.

     Ketulusan mereka semua sudah tidak mungkin diragukan lagi, apapun mereka lakukan bukan serta merta menginginkan saya bahagia, tetapi ingin yang lainnya bahagia. Memang ini terlihat menyenangkan, dicintai banyak wanita sekaligus, dan mereka terlihat begitu akrab dan juga akur satu sama lainnya, padahal hal tersebut benar-benar menjadi sebuah beban yang begitu luar biasa untuk saya.

     Semenjak kedatangan Erik di kehidupan saya, semuanya mulai terasa begitu berat, dengan anak buahnya, ia berusaha untuk mendekati satu per satu bidadari untuk sekadar mengancam saya, atau mungkin melakukan hal yang buruk kepada mereka. Hal tersebut membuat saya benar-benar was-was, terlebih saat ini saya tidak bisa tenang karena Cauthelia tidak bisa dihubungi.

     Satu persatu masalah muncul dan semuanya bermuara ke satu nama, yaitu Markus, siapakah orang itu? Entahlah, hanya Sang Jabbar yang tahu siapakah Markus itu, yang pasti semenjak kedatangan Nancy malam itu, setidaknya selain hengkangnya Erik perlahan dari kehidupan saya, muncul aliansi baru yang akan membantu saya mengungkap siapa dan apa tujuan Markus sebenarnya.

     Semoga cerita ini bisa menjadi salah satu kawan di kala senggang untuk rekan-rekan Kaskuser yang senang membaca cerita dengan format baku seperti yang saya suguhkan. Tidak perlu banyak kata-kata dalam pembukaan ini, saya akan melanjutkannya pada kisah yang akan saya tulis dengan format yang sama seperti cerita saya sebelumnya. Atas perhatian dan kerjasama Anda, saya mengucapkan Terima Kasih.

Quote:


Polling
0 suara
Siapa Karakter Perempuan Favorit Reader dalam Cerita Ini?
Diubah oleh m60e38 04-02-2024 10:41
fajar1908Avatar border
redalion101Avatar border
jamalfirmans282Avatar border
jamalfirmans282 dan 24 lainnya memberi reputasi
23
304.9K
2.4K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
m60e38Avatar border
TS
m60e38
#2268
Tentang Sebuah Nama: Talita | Bagian 6
TENTANG SEBUAH NAMA: TALITA (BAGIAN 6)


     April 2006.

      “Kan gak mungkin kamu sama Kevin sampe nikah Tam,” ujarnya lalu tertawa, “kalian kan sahabatan.”

      Huh, gadis ini ternyata bisa mencairkan suasana dengan candaan yang cukup membuatku tersenyum saat ini. Kuusap pelan kepala gadis itu seraya tersenyum kepadanya, “ya gak mungkin lah aku nikahin Kevin, emangnya eike cowok apaan.”

      Talita tertawa lepas, dan ini adalah momen di mana aku benar-benar melihat gadis itu tertawa seolah tidak ada beban yang tertanam di pundaknya. Sungguh, aku sangat menyukai gadis yang benar-benar bisa melepaskan segala yang ada di dalam benaknya, tanpa merasa harus menyembunyikan sisi terburuk dari dirinya.

      Karena menurutku, seorang gadis yang benar-benar mengutarakan cintanya tidak akan pernah takut terlihat buruk di depan orang yang ia cintai. Tidak peduli seberapa jelek dirinya di depan orang yang ia sudah serahkan segalanya, dan itulah di mana ketulusan seorang gadis bisa terlihat.

      Kami mulai menyantap makanan yang disuguhkan. Meskipun agak menolak, akhirnya Talita mengunyah satu bongkah daging yang dipotong kecil tersebut di dalam mulutnya. Eskpresinya sedikit aneh saat mungkin membayangkan seekor kelinci lucu yang tengah ia makan, matanya terpejam dan seluruh tubuhnya bereaksi saat gigitan demi gigitan ia lakukan untuk mulai mencerna makanan tersebut.

      Ia lalu menghela napas dan membuka matanya seraya menatapku, “ternyata enak ya Tam.”

      “Kan apa aku bilang,” ujarku lalu tertawa kecil, “gak usah dibayangin betapa lucunya mereka, karena mereka juga enak dimakan.”

      Suasana menghangat di tengah dinginnya dekapan udara pegunungan yang sesekali mengembuskan angin yang begitu menusuk. Tidak jarang kulihat Talita mendekap sendiri tubuhnya, tetapi aku tidak dapat melakukan apapun kecuali mengusap kedua pundaknya.

      Tidak ada alasan bagiku untuk mencari kesempatan lebih dengan Talita. Aku hanya duduk di seberangnya, seraya menghabiskan penganan yang telah kami pesan tadi seraya menikmati malam yang semakin syahdu di antara kami berdua saat ini.

      “Besok kita beneran ke Bosscha kan yah?” tanya Talita penasaran.

      Aku mengangguk pasti, “ya beneran lah Lit, besok malem kita ke sana.”

      “Kirain siang-siang gitu Tam,” ujar Talita lalu tertawa kecil.

      “Apa yang mau diliat coba siang-siang?” tanyaku seraya menghela napas, sejurus kulempar pandanganku ke arah langit malam yang begitu indah terlihat dari sini. Sungguh, aku tidak dapat memungkiri, lisanku berujar kecil tentang betapa sempurnanya ciptaan Sang Jabbar yang terbentang di atas kami.

      Sejenak, aku berpikir, betapa kecilnya diri ini dibandingkan dengan apa yang terlihat di sana. Butuh hingga ratusan tahun dari kerlipan cahaya bintang itu agar sampai di mataku saat ini. Ya, cahaya yang saat ini kulihat adalah cahaya yang berada di sana jauh sebelum berada di sini, atau mungkin jauh sebelum aku terlahir ke dunia.

      “Serius amat Tam?” tanya Talita, lalu mengikutiku untuk melihat kerlipan bintang di atas horizon yang sebenarnya tidak terlihat itu.

      Aku mengangguk, “karena aku selalu kagum, bintang yang kita liat sekarang itu bukan bintang yang sekarang kita liat.”

      “Loh, maksudnya?” tanya Talita, ia mungkin sedikit bingung dengan frasa yang kulontarkan barusan.

      Aku tersenyum, “maksud aku, bintang itu,” seraya kutunjuk ke salah satu kerlipan bintang yang paling terang yang bisa kami lihat malam ini, “bintang itu jaraknya delapan-setengah-tahun-cahaya.”

      “Dan kamu tahu, cahaya merambat di ruang angkasa itu kecepatannya tiga-ratus-ribu-kilometer-per-detik, dan cahaya kelipan yang kita liat di bintang itu adalah cahaya delapan-setengah-taun yang lalu.”

      “Bintang apa itu Tam?” tanya Talita, suaranya terdengar sedikit parau seraya mengagumi apa yang ia lihat di atas cakrawala saat ini.

      “Sirius,” jawabku singkat, “bintang paling terang yang bisa kita liat tiap malem.”

      “Eh, itu ada yang lebih gede terus terang tuh Tam,” ujar Talita, menunjuk ke arah lain dari bintang yang kumaksud.

      “Itu Jupiter Lit, bukan bintang. Kalo pagi ato fajar, kamu bisa liat Venus ato Mars, tergantung bulan apa kamu liat langit.”

      Talita memandangku dengan wajah yang sangat merah. Entah, apa yang ia pikirkan saat aku mengatakan hal-hal yang sebenarnya menurut sebagian wanita adalah hal yang menarik, tetapi bagiku itu adalah dasar pelajaran astronomi yang aku dapatkan saat aku mengikuti olimpiade beberapa bulan yang lalu.

      Tetapi, hal yang paling membuatku berkesan pada malam ini adalah, segala kehangatan dan keramahan sikap Talita yang sebenarnya sudah kurasakan sejak aku menjadi teman sekelasnya. Ia adalah sosok yang lembut namun periang, tutur katanya yang lembut dan selalu terjaga baik frasa maupun intonasinya membuat banyak orang menaruh rasa kepada gadis ini.

      Lingga adalah pemenang hatinya. Sejak semester kedua kelas X, kakak senior di salah satu ekstrakulikuler di sekolahku tersebut langsung menyatakan cintanya di bawah hujan saat itu. Talita tampak tidak bisa menolak apa yang laki-laki itu utarakan tempo hari, dan sejak saat itu hubungan antara Lingga dan Talita menjadi semakin hangat hingga saat awal tahun Talita tampak tidak pernah berboncengan dengan Lingga.

      Sudahlah, untuk apa aku memikirkan Lingga, sudah tidak ada lagi nama Lingga sepertinya di hati Talita apabila melihatnya saat ini. Ia tampak menikmati detik demi detik waktu yang kami lalui hingga benar-benar tidak terasa empat porsi sate kelinci kami habiskan dan juga tiga cangkir bandrek juga telah kami teguk, dan jam pun sudah menunjukkan pukul 21.30.

      “Lit, kayaknya dating kita harus kelar deh,” ujarku seraya menunjukkan waktu yang telah menunjukkan setengah-sepuluh-malam kepadanya.

      Ia menghela napas pendek seraya memandangku dengan mengerucutkan bibirnya, entah apakah itu sebuah tanda bahwa ia masih mengingkan malam ini lebih panjang, atau memang ia tidak ingin mengakhiri ini semua begitu saja, tetapi itu adalah satu ekspresi yang baru kudapatkan darinya hari ini.

      “Besok pulang dari Bosscha kita jalan-jalan lagi,” ujarku, tersenyum kepadanya.

      Ia menganggukkan kepalanya pelan, lalu menjulurkan tangannya, “janji ya Tam?”

      Aku meraih jemari mungilnya, menggenggamnya dengan lembut dan menjabat tangannya, “aku janji.”

      Setelah aku membayar apa yang telah disantap, kami pun langsung menuju ke angkutan umum yang menunggu kami. Satu porsi satu kelinci, jagung bakar, dan bandrek juga menemaninya saat ia hanya berada di dalam mobilnya untuk menunggu kami.

      Laju mobil ini terasa sedikit berat saat eskalasi ketinggian meter-demi-meter, padahal pada malam yang semakin larut ini kondisi jalan sudah mulai sepi. Hanya beberapa kali raungan rem mesin yang terdengar dari beberapa truk pengangkut air minum kemasan tampak bersusah payah untuk menuruni perjalanan dari Lembang menuju ke Subang ini.

      Jam 21.55, kami tiba di depan wisma yang saat itu tampak akan ditutup. Satu sosok gadis tampak langsung menghampiri kami dengan ekspresi yang benar-benar aku pahami. Antara cemas, marah, kecewa, dan semuanya tertumpah di air mukanya yang diterpa cahaya temaram dari dalam wisma yang hanya sedikit menyinarinya.

      “Loe dari mana Tam?” tanya Nadine, nadanya agak tinggi.

      Sesaat setelah aku turun dari angkutan tersebut, dan memberikan lagi ongkos kepada pengemudinya, aku langsung melewati gadis itu begitu saja setelah mengucapkan terima kasih kepada pemuda tersebut. Tentu saja, tanganku masih menggenggam lembut jemari Talita yang tampak agak canggung saat ini.

      “Tam, apa susahnya sih loe jawab pertanyaan gue?”

      Aku terhenti, menoleh ke arah Nadine, “loe gak perlu tahu apa yang gue lakuin sama Talita.”

      “Yang gue tau, sekolah kasih waktu sampe jam sepuluh, dan gue pulang sebelum jam malem abis,” ujarku lalu meninggalkan gadis yang lalu mengikuti langkahku dan langsung menarik pundakku dari belakang.

      “Loe ke mana sama Lita?” tanya gadis itu, nadanya berubah, tidak ada nada tinggi yang terdengar, lebih kepada isakan yang menyuratkan sebuah kekecewaan yang begitu lirih terdengar di indraku saat ini, “apa susahnya loe jujur sama gue Tam.”

      Aku menghela napas, “Lit, kamu duluan aja,” ujarku, melepas genggaman tangan Talita. Gadis itu tampak enggan untuk meninggalkan kami, tetapi setelah aku mengangguk pelan, ia lalu memimpin langkahnya yang terlihat berat menuju ke kamarnya.

      “Gue jalan ke arah Subang tadi sama Lita, kalo loe mau tau.”

      “Kenapa harus Talita sih Tam?” tanya Nadine, ia tertunduk seraya mendekatkan tubuhnya ke arahku, “kenapa bukan gue yang loe ajak buat jalan?”

      Aku menghela napas panjang, “bukannya gue gak mau ngajak loe Nad, tapi gue udah janji tadi siang ke Talita.”

      Nadine terdiam, mematung di tempatnya berdiri, masih menundukkan kepalanya seolah enggan menatap ke arahku. Aku tahu, napasnya tersengal, pundaknya sesekali bergetar seraya suara isak menyeruak begitu lirih, pelan membasuh telingaku dengan nada minor yang tidak pernah kusuka.

      “Kenapa sih Tam, gak pernah sekali aja ngertiin perasaan Nadine?”

      “Kenapa Tama gak pernah bisa sebentar aja mandang Nadine bukan sebagai sosok orang lain?”

      Aku terheran, ia tidak mengangkat kepalanya. Hanya terus menunduk seraya melantunkan lisan yang penuh dengan harmoni pilu yang terus menerus mendesakku untuk mendengarkannya lebih. Ia lalu mengangkat wajahnya seraya mengusap air mata yang sudah menganaksungai di kedua pipinya, mengembunkan kacamata yang selalu ia kenakan.

      Tidak ada senyum, hanya lengkungan labia oris yang tidak pernah kuapresiasi dari perasaan gadis ini. Sungguh, aku mengerti apa yang ia maksudkan, hanya saja bukan begitu cara kerja cinta yang aku inginkan. Aku tidak mau ada suatu keniscayaan yang terbentu dari retorika kata-kata aku cinta kamu dalam bentuk pacaran.

      “Gue paham perasaan loe Nad,” ujarku pelan, mendekat ke arahnya saat suasana mulai sepi di lorong ini, “gue juga tahu gimana perasaan loe ke gue dari dulu sampe sekarang.”

      “Tapi, cara loe mandang perasaan gue, beda dengan cara gue mandang perasaan loe,” ujarku, mengusap pundak kirinya dengan tangan kananku seraya menghela napas pendek, “dan yakinlah, perasaan yang loe mau sebenernya ada sama gue, tapi kadang loe gak pernah paham.”

      “Tapi harusnya Tama tahu, gimana,” ujarnya, menggantungkan nada sumbang di akhir frasa yang ia lantunkan.

      Aku menggeleng pelan, “gue gak tau harus gimana, tapi gue tau gimana gue hargain perasaan loe Nad.”

      “Sekarang, loe mending balik ke kamar, gue gak mau loe keliatan lemah di depan orang. Gue mau loe jadi Nadine Helvelina yang kuat kayak biasanya, bukan Nadine yang cengeng karena perasaan loe,” kuusap pelan kepalanya dan saat itu aku membalik tubuhku untuk meninggalkannya.

      Nadine, sejurus menahan lengan atasku, “makasih Tam,” ujarnya pelan, “Nadine pikir Talita udah ngubah pandangan Tama ke Nadine.”

      Kumenoleh ke arah gadis yang menahan lenganku ini, tampak ada torehan senyum yang terlihat di bawah temaramnya lampu lorong saat ini. “Apapun itu Nad, gue gak akan ngubah cara pandang gue ke loe, karena buat gue loe itu berarti.”

      “Sama Aerish?” tanyanya, berusaha menelusup lebih dalam ke relung hatiku.

      Kugelengkan kepala, “kadarnya beda, dan gue rasa buat loe lebih dari sekadar itu.”

      “Sekarang, loe mending istirahat. Gue tau udah banyak hal loe lakuin buat sekolah kita hari ini, dan gue mau loe hargain diri loe sendiri biar besok loe bisa lebih fresh lagi.”

      Gadis itu tersenyum, ia lalu berjalan di sebelahku, “anterin Nadine ya Tam sampe ke kamar,” gadis itu lalu mendekap lenganku.

      Di malam yang semakin larut, aku mengantarkan Nadine hanya sampai di teritorial yang tidak ingin kuselami lebih dalam. Sedikit kata perpisahan manja dilontarkan olehnya seraya ia melambaikan tangannya, ia lalu berjalan menuju kamarnya dan aku pun kembali ke kamarku.

      Andri, ia tampak sudah terlelap di balik selimut yang berada di sana. Sementara aku, setidaknya setelah beberapa saat aku membersihkan diri terlebih dahulu, barulah aku merebahkan diri di atas ranjang yang tidak seberapa nyaman ini.

      Ah biarlah, esensi perjalanan kami kemari bukanlah untuk menikmati kamar yang nyaman, tetapi untuk karyawisata dan tidak lupa ada acara kegiatan luar ruangan di Maribaya pada besok pagi dan dilanjutkan ke Bosscha pada malam harinya. Setelah kupejamkan mataku sejenak, aku pun terlelap dalam buaian kantuk yang sebenarnya sudah kurasakan sejak tadi.

      Jam 04.35, setidaknya itu yang tertera di layar ponselku saat alunan merdu panggilan Sang Rahman melalui lantunan pujian yang dikumandangkan tidak jauh dari tempat ini sukses membangunkanku. Segera setelah aku terjaga, aku langsung mencari di mana arah datangnya suara dan mulai merapatkan barisan.

      Tidak banyak, tetapi beberapa temanku juga hadir di sana. Hanya satu yang menarik perhatianku di pagi ini, Talita, Nadine, dan Shinta juga berada di sana. Mereka bertiga tampak menyunggingkan senyum yang terlihat malu-malu di pagi ini. Dan itu benar-benar sukses membuyarkan konsentrasiku sesaat, membayangkan apa yang telah terjadi di antara kami semua yang terputar di dalam dalam kepalaku dalam bentuk kenangan.

      Jam 05.00, setelah semuanya usai, hanyalah aku sendiri merenung di sudut lain kompleks bangunan ini seraya memandang ke arah langit yang saat itu masih cerah, ditaburi bintang-bintang yang masih berkerlipan tak kenal lelah sejak semalam. Dan lisan ini pun tak pernah berhenti mengagumi betapa luar biasanya kesempurnaan penciptaan Sang Jabbar di jagat raya ini.

      “Tama,” panggil suara itu manja, suara yang sudah sangat lama kukenal.

      “Shinta,” ujarku, menengok ke arah gadis yang saat itu tersenyum begitu indah ke arahku.

      “Sendirian?” memberikan sebuah pertanyaan yang sudah pasti ia tahu sendiri jawabannya.

      Aku mengangguk pelan, “kan loe bisa liat Shin, gak ada orang lain selain kita di sini. Lagian kayaknya gak ada murid laen dah yang kepikiran buat kemari.”

      Ia tertawa kecil, mendekatkan tubuhnya ke arahku, “gue ngikutin loe kali Tam,” ujarnya pelan, “udah lama gue gak punya waktu bener-bener berdua sama loe semenjak ada Agung.”

      Ia berdiri di sebelahku, lebih dekat dari yang biasa ia lakukan kepadaku, dan ia menyandarkan separuh tubuhnya di tubuhku seraya memandang ke arah mana mataku memandang saat ini, “itu bintang apa Tam, warnanya oranye terang gitu?” tanya gadis itu pelan.

      “Mars,” ujarku singkat, kutunjuk arah lain, “Venus,” lalu kutunjuk ke arah lainnya, “Jupiter.”

      Gadis itu terdiam, sekilas aku masih melihat kalung dengan inisial namanya masih tersemat di sana. Betapa tidak, ia mengenakan pakaian dengan kerah yang cukup rendah, memperlihatkan lehernya yang begitu bersih di atas kesempurnaan fisik yang pasti diakui oleh siapapun mata yang memandangya.

      Rambut panjang bergelombang yang menghiasi tubuh sintalnya sesekali berterbangan. Angin pun begitu nakal meniup anak-anak rambutnya yang sukses menggelitik wajahku dengan lambaian menggoda segenap saraf sadar yang biasanya lumpuh pada waktu-waktu seperti ini. Harum tubuhnya pun begitu kukenal, dan itu semua seolah menjadi sebuah pagi yang begitu sempurna untukku.

      Sejurus, ia lalu menyudutkan tubuhku di bagian lain tempat ini, mendekapku dengan sangat erat, seolah aku adalah kekasihnya yang sudah lama hilang dan amat sangat ia rindukan. Pagutan tangannya yang begitu kurasakan di punggungku seolah menyatakan semua hal yang ia pendam selama waktu yang telah habis tanpa dirinya.

      “Ta,” panggilku pelan, memanggil nama kecilnya, “gak salah apa yang kamu lakuin ke aku?”

      Tidak ada jawaban dari gadis ini, selain dekapan yang semakin erat, mengetatkan tubuhnya di depan tubuhku, seolah tidak peduli dengan batasan yang sebenarnya kuciptakan antara diriku dan dirinya semenjak ia menerima permintaan cinta Agung tempo hari.

      Di tempat yang hanya ada kami berdua ini, aku menyambut dekapannya yang seolah menyatakan segenap perasaannya kepadaku. Dan ia pun tahu, bahwa apa yang kami lakukan saat ini sudah melanggar semua batasan itu. Kamu benar-benar terbuai dalam bungkamnya lisan di atas denyut yang mendesirkan darah di tubuh kami, seolah berkomunikasi dalam diam dengan bahasa tubuh kami masing-masing.

      “Gak akan pernah salah perasaan aku buat kamu Tam,” ujarnya pelan, “gak akan pernah ada abisnya hatiku buat kangen sama kamu.”

      “Tapi Ta, kamu udah punya Agung, dan aku gak mau bikin masalah lagi. Udah cukup dia ngelakuin hal buruk gara-gara kamu ketemu sama aku di kantin pas awal kelas XI dulu, dan aku gak mau dia ngelakuin hal buruk itu.”

      “Aku masih Shinta yang dulu Tam, Shinta yang selalu kamu kenal,” ujarnya, “cewek yang selalu butuh sama kamu, cewek yang gak akan pernah bisa hidup tanpa kamu.”

      Deg!

      Pandanganku terasa kabur saat ia melantunkan frasa itu di telingaku. Nadanya begitu tulus, seperti yang telah lalu, dan aku tahu apa maksud hatinya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahnya, hanya beberapa centimeter kini, mengalunkan kehangatan yang teruntai dari desah napas kami, beradu menciptakan sebuah hasrat tak terungkap seraya labia orisnya sedikit menyentuh labia orisku di dinginnya udara Lembang pagi ini.

      Deg!

      “Tidak mungkin! Faristama apa yang kau lakukan kepada Shinta?” batinku berteriak saat pagutan labia orisnya, begitu canggung berada di atasku, mengolah segala bahasa cinta yang telah tercipta di antara kita, menenggelamkan kami dalam buaian nikmat yang benar-benar tidak dapat kuungkapkan. Sungguh ini kali pertama aku benar-benar merasakan betapa lembutnya belaian labia oris seorang gadis, dan ia adalah Shinta Adinda, gadis yang telah kujaga sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

      “Tama! Shinta!” pekik suara itu, celaka!



Diubah oleh m60e38 10-09-2018 21:28
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.