- Beranda
- Stories from the Heart
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
...
TS
irazz1234
Dunia Para Monster [Zombie Apocalypse Story]
Hello kaskuser dan momod tercintah 
Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.
Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS
Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang
Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka
Selamat membaca

Gw mau coba share cerita yang bertema horor.
Tapi horor bukan sembarang horor.

Horor kali ini temanya Zombie Apocalypse.
Mirip kyk resident evil, the last of us, the walking dead, dll.
Tema yg cukup jarang diulas ato dibuat threadnya di SFTH.
Apdet dirilis sesuka hati, tergantung moodnya TS

Kentang sih pasti ada, tapi gw usahain gak sampe busuk tuh kentang

Ga perlu lama-lama dah intronya, semoga semua pada suka

Selamat membaca

Quote:
Diubah oleh irazz1234 06-03-2019 20:55
Karimake.akuna dan 12 lainnya memberi reputasi
13
36.3K
264
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
irazz1234
#189
Chapter 22
Meskipun kekacauan yang timbul tidak dapat terlihat dari kejauhan, namun ada asap yang muncul dari salah satu bangunan yang berada di kota kecil Alyssa, menandakan bahwa telah terjadi sesuatu disana. Wajah Alyssa nampak terkejut saat mereka mulai mendekati lokasi bangunan yang telah terbakar hebat. Terlihat ada sebuah lubang menganga yang cukup besar di salah satu sisi tembok pembatas kota, dan nampaknya para undead menggunakan lobang itu sebagai jalan untuk masuk ke dalam kota. Hal ini berarti seluruh kota telah terkepung, yang artinya tidak ada satu orang pun yang mampu masuk atau keluar dari kota. Setidaknya hingga seluruh zombie telah dibinasakan dan lobang di tembok pembatas telah selesai diperbaiki. Untungnya, seluruh penduduk telah menyiapkan diri jikalau hal seperti ini terjadi, dan perbekalan yang mereka telah siapkan pun akan dapat membuat mereka bertahan selama kurang lebih satu minggu.
"Ya ampun, apa yang telah terjadi?" Tanya Alyssa dengan nada panik dan khawatir.
"Aku tidak begitu yakin." Jawab Gabriel. "Tapi api dan kepulan asap itu dapat terlihat sejauh berkilo-kilo meter jauhnya, dan itu akan membuat para zombie datang untuk mendekat. Api dan kepulan asap itu harus segera di padamkan. Secepatnya."
"Kita temukan Diane dahulu untuk memastikan bawa ia baik-baik saja." Pinta Alyssa.
Gabriel mendaratkan Alyssa di atas atap rumahnya, dan ia pun merasa lega saat melihat Shane dan Pablo telah berada disana, menunggunya dengan cemas.
"Kalian datang dalam ketepatan waktu yang sempurna." Ucap Pablo. "Nampaknya kita tengah diserang."
"Aku sungguh tidak mengetahui atas apa yang telah terjadi." Jawab Gabriel jujur. "Tapi kepulan api dan asap dapat terlihat dalam radius berkilo-kilo meter jauhnya. Hal itu akan menarik banyak perhatian yang tidak akan kita inginkan."
"Kapan hal ini bisa terjadi?" Tanya Alyssa.
"Waktu itu ada ledakan yang langsung menghancurkan tembok pembatas, lalu kemudian terjadi ledakan lainnya yang langsung membakar bangunan disekitarnya. Sepertinya memang disengaja untuk menarik perhatian para zombie." Jawab Pablo. "Sebuah cara murahan dan licik, dan hanya orang-orang brengsek dari California yang mampu melakukan cara pengecut seperti ini."
"Sebaiknya kita tidak langsung menuduh dan berburuk sangka." Ucap Gabriel sambil meletakkan barang-barang persediaan yang berada di dalam tasnya. Ia lalu berjalan ke tepi atap bangunan untuk melihat keadaan di bawah sana. Hanya terlihat para zombie yang berlalu lalang di jalanan kota, tanpa terlihat satupun mayat manusia yang terlihat menjadi korban santapan zombie. Sepertinya semua orang telah bertahan dan membentengi rumah mereka sebelum keadaan menjadi sangat buruk.
Pablo melemparkan sebuah bandana kepada Gabriel, lalu berkata. "Kenakan itu, lalu mulailah bekerja. Aku akan menahan mereka dari luar agar tidak ada lagi yang dapat masuk ke dalam kota dengan senapanku."
"Untuk apa bandana itu?" Tanya Alyssa penasaran.
"Untuk menutupi wajahku." Jawab Gabriel sambil mengenakan bandana itu untuk menutupi bagian bawah wajahnya, seperti penjahat dari negeri cowboy. "Bandana ini juga akan menutupi taringku."
"Oh," jawab Alyssa singkat. "Ternyata begitu."
Gabriel lalu berjalan kearah salah satu pria yang datang bersama mereka dari Denver.
"Aku akan membawamu ke dalam truk." Kata Gabriel kepada pria berbadan besar itu. "Saat aku telah membersihkan area tembok dari para zombie, segera kau parkirkan truk itu untuk menutupi lobang yang ada."
"Menggunakan truk untuk menambal lubang di tembok?" Tanya Pablo.
"Cara cepat yang cukup ampuh untuk sementara waktu." Balas Gabriel dengan nada cukup meyakinkan. "Dan saat area sekitar sudah bersih dari para zombie, kita akan segera mencari peralatan dan langsung memperbaiki lobang di tembok. Tanpa waktu lama, keadaan akan kembali normal seperti sedia kala."
Sebelum ada seseorang yang membuka suara, Gabriel telah melompat turun dari atap dan langsung menuju ke bawah. Hal menakjubkan yang terjadi selanjutnya adalah mereka hanya dapat melihat sekelebat bayangan hitam pudar yang melompat kesana kemari dengan begitu cepatnya, lalu zombie-zombie itupun jatuh berguguran seperti lalat yang disemprot dengan cairan hama.
Setelah keadaan sekitar rumah Alyssa sedikit aman, salah seorang pria yang mengemudikan truk kedua dengan hati-hati merayap turun menuju truk yang berada tepat di bawah atap rumah Alyssa melalui tiang pancang yang biasa digunakan oleh pemadam kebakaran. Shane dan krunya sengaja memarkirkan truk itu disana agar mereka dapat dengan mudah naik ke truk jikalau keadaan menjadi berbahaya. Pria itu lalu menunggu di atap hingga para zombie di bawah sana telah selesai dibereskan, dan setelah dirasa cukup aman, iapun langsung turun menuju kap truk dan dengan waspada turun perlahan untuk naik kedalam truk. Dengan segera pria itu menghidupkan truknya dan dengan perlahan memarkirkan truknya agar berada tepat menutupi lobang.
Sebenarnya lobang itu tidak terlalu besar, tetapi cukup lebar bagi para zombie untuk dapat masuk dan menyerang kota, terlebih dari nyala api dan kepulan asap tebal yang menarik perhatian dari zombie untuk menghampirinya.
Ketika truk itu sedang berjalan perlahan, zombie-zombie itu nampak jatuh berguguran karena di tebas dan di cakar oleh kuku jari Gabriel dengan kecepatan yang luar biasa dan tanpa keraguan. Vampire itu menebas semua zombie untuk membuat jalan bagi truk agar dapat parkir tepat menutupi lubang. Ternyata perkiraan Gabriel benar, truknya cukup besar untuk dapat menutup seluruh lubang dan menahan zombie-zombie itu agar tetap diluar sana. Gabriel lalu menatap kearah lubang dan mengamatinya.
"Truk itu sepertinya cukup kuat menahan mereka tetap diluar sana." Kata Gabriel. "Setidaknya cukup kuat hingga kita dapat memperbaiki dan menambal lubang di tembok ini."
"Apa rencana kita sekarang?" Tanya pria bertubuh besar.
"Aku akan membereskan sisanya." Ucap Gabriel sambil menatap sekelilingnya. "Kau coba kumpulkan alat pemadam api yang dapat kau temukan di sekitar sini. Aku akan memadamkan apinya nanti."
"Siap, laksanakan." Jawab pria itu dengan cepat, lalu keluar turun dari dalam truk dan mulai mencari alat pemadam kebakaran yang diminta.
Mudah saja bagi Gabriel untuk membereskan sisa zombie yang masih berkeliaran. Dan setelah semua zombie telah dibereskan, pria bertubuh besar itu datang dengan membawa setengah lusin alat pemadam api.
"Sepertinya ini sudah cukup." Ucap Gabriel yang lalu mengambil salah satu tabung merah itu dan berkata. "Tunggu disini, aku akan segera kembali."
"Dimengerti, Pak." Jawab pria itu dengan sikap agak hormat.
Gabriel berlari dengan kecepatan yang luar biasa dengan membawa satu tabung pemadam agar dapat memadamkan api secepat yang dirinya mampu. Bahkan saking cepatnya ia berlari, api yang sedang berkobar terlihat padam dengan seketika saat Gabriel berlari melewatinya.
Saat Gabriel tengah berusaha memadamkan api di area koridor lantai dua, ia segera menghentikan kegiatannya saat mendengar sesuatu, sebuah suara seperti bunyi bip yang cukup kencang, dan seketika Vampire itu pun tahu suara apa itu. Dengan cepat ia menuju kearah sumber suara, yang ternyata tepat seperti dugaannya sebelumnya, sebuah bom waktu dengan pemicu jarak jauh. Gabriel mencoba untuk menonaktifkan bom itu sebelum benda itu meledak dan membuat lebih banyak lagi kerusakan. Tapi terdengar lagi bunyi bip lainnya di kejauhan, dan Gabriel pun dengan segera memeriksanya. Ia tidak berhasil mematikan bom yang pertama, dan setelah melihat bom yang kedua, ia memilih untuk berlari keluar menuju kearah pria berbadan besar yang sedang menunggunya dengan beberapa alat pemadam api.
"Ada apa?" Pria itu bertanya.
"Aku telah memadamkan sebagian besar api yang ada." Gabriel memberitahukan situasi kepadanya. "Masuklah kedalam dan padamkan api yang tersisa. Ada mangsa lebih besar yang harus kutangkap."
Sebelum pria itu bertanya tentang lebih detail, Gabriel telah melompat jauh ke atas langit. Kali ini ia tidak mencari suara bip yang berasal dari bom, melainkan mencari alat pemicu yang digunakan untuk mengaktifkan bom dari jarak jauh menggunakan pendengarannya yang super tajam.
Dari udara ia melihat ada sebuah truk pickup yang diparkirkan beberapa kilometer dari arah kota, dan ada tampak dua orang yang berada di dalam truk pickup itu yang sedang mengamati kearah kota. Sebelum kedua orang itu menyadari apa yang terjadi, seorang pria yang berada di balik kemudi ditarik keluar dengan paksa oleh Gabriel dan membantingnya ke atas tanah. Gabriel langsung menonjolkan gigi taring dan cakarnya lalu menggeram kepada pria yang tengah ditahannya di atas tanah. Gabriel hendak mencabik-cabik pria itu dengan cakarnya yang kuat dan tajam ketika sebuah suara terdengar dari dalam truk pickup.
"Jangan sakiti ayahku!"
Gabriel menengok kearah truk itu dan melihat seorang pria berbadan kecil yang ternyata hanyalah seorang anak kecil, kurang lebih berusia sekitar delapan tahun. Sang Vampire ternyata mengenali anak kecil itu, anak lelaki yang ia dan Alyssa temui di New Lycan. Berarti pria yang telah ia banting tadi adalah...
"Sepertinya itu kau, Frank." Ucap Gabriel sambil tetap menahan Frank diatas tanah. "Apa yang kau lakukan disini, dan apa maksud dari semua serangan ini?"
"Aku tidak akan menjawab apapun, Vampire!" Frank membalas dengan nada menantang.
"Tentu saja tidak," Jawab Gabriel yakin. "Tapi aku telah menonaktifkan sisa bom yang ada disana. Jadi apapun yang telah kalian lakukan, semuanya telah berakhir."
"Mengapa kau mau bersekutu dengan manusia-manusia bodoh itu?" Tanya Frank. "Mereka hanya makhluk lemah tak berguna."
"Diriku dapat mengatakan hal yang sama kepadamu, dan seluruh penduduk di New Lycan." Balas Gabriel. "Tapi biar kuluruskan satu hal kepadamu. Kota ini berada di dalam penguasaanku. Jika diperlukan, akan kulawan semua manusia serigala brengsek yang berani berbuat ulah di dalam properti yang kumiliki, meskipun kakakku mungkin akan melakukannya lebih dulu."
"Aku tidak takut padanya," balas Frank. "Ataupun padamu."
"Tapi kau harus." Ujar Gabriel lalu menengok kearah anak lelaki kecil yang berada di dalam truk pickup. "Apakah kau bisa mengemudikan truk ini?"
"Yeah, aku bisa." Jawab anak kecil itu. "Ayah telah mengajarkanku caranya."
"Bagus sekali." Ucap Gabriel. Ia lalu berdiri dan menginjak kaki kanan Frank dengan kerasnya, hingga terdengar bunyi 'krak' yang sangat memilukan. Frank berteriak kesakitan, sepertinya Lycan itu tidak akan dapat berjalan untuk waktu yang sangat lama, dan kalaupun ia mampu, ia tidak akan berjalan seperti orang normal.
"Brengsek! Dasar kau Vampire sialan!" Frank berteriak kesakitan sambil memaki Gabriel.
"Berikutnya akan kupatahkan lehemu." Ucap Gabriel sambil berbisik di telinga Frank. "Setelah aku mematahkan leher pria kecil itu."
Frank mengerti apa maksud ucapan Gabriel dengan jelas. Vampire itu tidak akan ragu-ragu untuk membunuh dirinya dan anak lelakinya jika mereka bersinggungan lagi di lain waktu.
"Peringatan yang pertama dan terakhir untukmu, Frank." Kata Gabriel. "Sekarang pergi dari sini."
Sebelum Frank dapat menjawab, Gabriel telah berada di dalam truk untuk mengambil alat yang ia kira adalah alat pemicu bom. Ia juga mengambil semua senjata dan senapan yang berada di dalam truk, agar membuat Frank tidak berani macam-macam lagi dan langsung pulang kerumah.
Gabriel mengawasi truk pickup itu hingga menghilang di kejauhan, lalu iapun kembali pulang menuju rumah Alyssa. Dengan cepat ia merayap di jalanan tanpa diketahui orang lain dan lalu melompat keatas atap. Pablo, Alyssa, serta Shane dan keluarganya tengah berada di atap dan mengawasi keadaan sekitar, ketika Gabriel berjalan perlahan kearah mereka. Ia menyerahkan beberapa peralatan dan senjata kepada Pablo.
"Darimana kau dapatkan barang-barang ini?" Tanya Pablo.
"Akan kujelaskan nanti." Balas Gabriel cepat, lalu menoleh kepada Alyssa. "Apakah semuanya baik-baik saja?"
"Sepertinya begitu." Jawab Alyssa dengan senang karena Gabriel telah kembali.
Gabriel baru saja akan berbicara, ketika ada seseorang yang menarik perhatiannya. Seorang anak perempuan yang sedang duduk bersama anak-anak Shane, yaitu Diane. Gadis muda itu telah melihat dirinya, dan semuanya.
"Ya ampun..." Ujar Gabriel, menyadari atas apa yang telah ia lakukan.
kudo.vicious memberi reputasi
3