- Beranda
- Stories from the Heart
Pintu Mimpi (Prolog)
...
TS
yohanaekky
Pintu Mimpi (Prolog)

Bagaimana jadinya jika pintu ke Narnia itu memang ada? Tapi bukan sekadar dunia yang penuh makhluk aneh nan unik. Itu adalah dunia yang kau impikan. Melody Harris tak sengaja menemukannya, dan dia menemukan sebuah dunia yang betul-betul ia impikan. Mimpi yang merupakan kehidupannya yang sesungguhnya.
All rights reserved.
Yohana Ekky. 2018.
Karakter (berdasarkan urutan keluar):
- Melody Harris a.k.a Putri Miloslava Cuda
Keluarga Krasny
- Madeline Krasny
- Garreth Krasny
- Guinevere Krasny
- Terrence Krasny
- Kystof Krasny
Kerajaan Milos (Tahta)
- Putri Irenka Cuda
- Raja Bedoich Cuda
- Ratu Ladislava Cuda
- Pangeran Klement Cuda
Kerajaan Mocny
- Duta besar Matous Zeleznik
- Ksatria Bohumir Zeleznik
- Raja Honza Elias
- Pangeran Dominic Elias
Orang tua angkat Miloslava
- Paul Harris
- Jeanette Harris
INDEX:
#1 (Pertemuan)
#2 (Kehidupan Baru)
#3 (Sebuah Perjalanan Dimulai)
#4 (Jati Diri)
#5 (Terjebak)
#6 (Hubungan)
#7 (Usaha Melarikan Diri)
#8 (Melarikan Diri)
#9 (Merangkai Teka-teki)
#10 (Kebenaran Terungkap)
#11 (Menuju Garis Akhir)
#12 (Akhirnya)
#Epilog (Mimpi Yang Menjadi Nyata)
Diubah oleh yohanaekky 23-05-2019 15:33
indrag057 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
7.1K
47
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
yohanaekky
#16
Pintu Mimpi #7 (Usaha Melarikan Diri)
Sesuatu telah terjadi
Sesuatu telah menarikku
Namun aku tak dapat tinggal
Tempatku bukan disini.
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Udara pagi terasa sejuk. Sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah tirai. Mataku menjadi terang seketika dan kantuk menghilang.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang, maka aku harus mempersiapkan diri dengan baik. Aku turun dari ranjang dan menghampiri lemari, membukanya dan memilih gaun mana yang akan kupakai. Pilihanku jatuh pada gaun berwarna kuning muda bergaris vertikal dengan pita di bagian pinggang.
Aku memasuki kamar mandi yang bagiku sungguh menakjubkan. Luasnya hampir setengah dari kamarku. Ini benar-benar tampak seperti di film-film. Semuanya tampak mewah dan mahal.
Tetapi ini bukan waktunya untuk terlarut dalam suasana. Aku harus siap lebih awal untuk menjelajahi beberapa sisi dari kastil ini sebelum waktunya sarapan pagi, karena pasti semua anggota keluarga diharuskan hadir untuk sarapan bersama dengan tuan Matous dan Bohumir.
Sekitar dua puluh menit lamanya aku selesai dan berjalan keluar dari kamarku. Beberapa pelayan tampak terkejut ketika melihatku, yang mana aku tak tahu sebabnya. Aku tidak mempedulikan mereka tetapi terus berjalan keluar dari pintu depan.
Mataku menjelajahi seluruh sisi taman. Dari pengelihatanku, tidak ada pintu gerbang lainnya kecuali dari mana aku masuk kemarin. Tentu saja bukan ide yang bagus untuk keluar dari Tahta melalui jalan itu.
Aku meneruskan perjalanan menuju ke sisi barat Tahta. Aku meneliti setiap tembok yang dipenuhi oleh tanaman merambat itu. Barangkali ada pintu tersembunyi disana, sama seperti yang pernah kulihat di film-film. Kuperhatikan dengan baik tetapi aku merasa sepanjang aku melewati sisi barat, tak kudapati pintu rahasia itu.
Sisi barat begitu lebar. Ini sungguh melelahkan. Tapi aku takkan menyerah sebelum aku mengelilingi seluruh sisi Tahta. Aku benar-benar perlu keluar dari sini.
Kini aku sampai di bagian belakang Tahta. Ada pintu yang lain disana yang jelas-jelas terlihat. Kuhampiri pintu itu dengan cepat dan kucoba untuk membukanya. Tetapi sayang sekali pintu itu terkunci dengan rapat. Aku harus mencari cara untuk dapat membukanya.
"Selamat pagi, tuan Putri Miloslava." Seseorang menyapaku dari belakang dan membuatku melompat terkejut.
Slavko, kepala rumah tangga itu berdiri dengan tegap sambil memasang senyuman. "Maafkan hamba membuat tuan Putri terkejut," ucapnya.
Aku menunjukkan telapak tangan kananku tanda aku baik-baik saja. "Tak masalah."
"Tetapi jika hamba boleh tahu, sedang apakah tuan Putri disini?" tanya Slavko.
Cepat pikirkan alasan yang tepat. Ayo otak, bekerjalah dengan benar. "Uh, mengapa pintu ini dikunci?" semoga saja ia tak mencurigaiku.
Slavko tertawa kecil. "Tuan Putri ingin bermain di padang rumput seperti saat kecil dulu?" ia menebak.
Ah. Bagus. "Benar. Aku merindukan masa-masa itu. Tidak dapatkah aku kesana lagi?" tanyaku lebih lanjut.
Slavko mengangguk. "Tentu saja, tuan Putri dapat kesana. Tetapi harus ada seseorang yang menemani," ucapnya.
Aku mengerutkan dahiku. "Mengapa begitu? Usiaku tujuh belas tahun dan kurasa tak perlu penjagaan seperti anak kecil," protesku.
Pria itu terkikik. "Mohon maafkan hamba, tuan Putri. Hamba selalu merasa terhibur jika melihat tuan Putri protes seperti ini. Hamba menjadi teringat dengan anak angkat hamba." Ia justru mengatakan sesuatu yang tidak kutanyakan.
Perasaanku menjadi tidak enak. Dari perkataannya aku dapat menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi kepada anak angkat Slavko.
"Jika saja Garry masih hidup, ia akan terus bersama-sama dengan tuan Putri kemanapun. Hamba teringat betapa senangnya Garry memiliki sahabat seperti tuan Putri. Sebelum ia meninggal, ia bahkan berpesan kepada saya agar menjaga tuan Putri dengan sangat baik. Ia pergi terlalu cepat. Usianya masih tujuh tahun." Apa yang Slavko katakan membuatku ingin menangis seketika.
Saat aku meneteskan air mata, kepalaku menjadi sangat pusing dan tiba-tiba saja aku melihat sesuatu dalam pikiranku. Tetapi aku tak tahu apa itu.
"Apakah tuan Putri baik-baik saja?" Slavko menopangku.
Aku menelan ludah, bingung akan apa yang barusan terjadi. "Iya. Aku baik-baik saja," ucapku bohong. "Aku ingin kembali ke dalam."
"Mari hamba bantu," Slavko menawarkan.
Aku menggeleng. "Terima kasih, Slavko, tetapi aku baik-baik saja. Mungkin aku lapar," aku menyeringai untuk menutupi keadaanku.
Perlahan aku menegakkan tubuhku dan berjalan menuju ke sebuah pintu masuk di dekat situ. Sambil berjalan, aku berusaha mengingat-ingat apakah yang telah kulihat dalam pikiranku. Ketika ia menyebutkan nama itu, aku merasakan sesuatu yang aneh.
"Apakah matahari terbit dari barat?" Klement muncul dari balik pintu kamar -- yang aku rasa adalah kamarnya -- dengan ekspresi terkejut. "Apa yang membuatmu bangun sepagi ini? Apakah sejak kau berpetualang di luar Tahta kau berubah menjadi lebih rajin?"
Aku menjulurkan lidah padanya. "Sebetulnya aku ini sangat rajin. Aku hanya mengalah padamu saja agar kau terkesan bangun lebih pagi dariku," aku mengejeknya.
Klement memelukku erat lalu mengacak-acak rambutku. "Pintar sekali kau beralasan," ucapnya.
"Klement!" aku menggerutu karena ia telah membuat rambutku berantakan. Dengan jari-jari tanganku, kurapikan kembali rambutku.
"Ayo kita ke ruang makan. Aku merasa sangat lapar. Barangkali kita dapat mencicipi makanan lebih dulu sebelum yang lain datang." Klement mengajukan ide yang terdengar menyenangkan.
"Tapi bagaimana jika kita ketahuan dan dimarahi?"
"Tidak akan. Kalaupun sampai ketahuan, aku akan berpura-pura mengingatkanmu agar kau yang dimarahi," ucap Klement.
"Apa? Dasar kau!" Aku berusaha memukul lengan Klement tapi tak kena. Lalu aku berlari mengejarnya yang lebih dulu menghindariku dengan berlari menuju ruang makan.
Pada belokan yang tak jauh lagi dari ruang makan, aku menginjak gaunku sendiri. Aku telah merasa yakin bahwa aku pasti akan terjatuh, tetapi pada kenyataannya wajahku tidak jadi menyentuh lantai pada jarak sepuluh centimeter. Kemudian aku ditarik ke belakang dan kembali berdiri tegak di samping.. Bohumir.
"Kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu.
Aku mengangguk-angguk. "Terima kasih banyak. Jika kau tidak menarikku, aku pasti telah melukai wajahku sendiri," ucapku.
Bohumir tertawa kecil. "Lagipula kau ini bukan anak kecil lagi yang dapat berlarian kesana kemari," ia mengingatkan.
"Ini karena Klement," cepat-cepat aku menunjuk ke arah dimana Klement pergi tetapi tentu saja ia telah menghilang. Aku mendesis karena ia tidak bertanggung jawab. "Kau menuju ke ruang makan?"
Bohumir mengiyakan. "Ayo kesana bersama-sama," ajaknya.
Kami pun berjalan berdampingan menuju ruang makan dan mendapati bukan hanya Klement tetapi juga Irenka sudah duduk manis disana. Aku kemudian duduk di sebelah Irenka, dan Bohumir di sebelah Klement.
"Kau," tunjukku pada Klement. "Mengapa kau pergi dan tidak menolongku? Untung saja ada Bohumir. Aku tidak jadi terjatuh."
Klement tertawa. "Aku tak tahu kau hampir terjatuh. Maaf ya adik kecil," ia menyeringai tanpa dosa. "Tapi, tunggu. Mengapa kau memanggil Ksatria Bohumir hanya dengan namanya saja? Apakah kalian memang sedekat itu?"
"Bukan urusanmu," aku menjulurkan lidahku pada Klement. Lalu aku berpaling pada Irenka, berusaha mendekatkannya dengan Bohumir. "Hei Irenka, kau tahu? Aku akan senang sekali memiliki kakak ipar seperti Bohumir. Mengapa kau tidak menikah saja dengan pria sebaik dia? Berilah adikmu ini sebuah hadiah yang indah."
Irenka melotot padaku, tapi aku berbuat seolah tak peduli. Karena itu, ia menginjak kakiku, dan kali ini aku mengerang.
"Ada apa?" Bohumir bertanya penuh kecemasan hingga ia harus menengok ke bawah meja.
Aku menggerak-gerakkan kedua telapak tanganku. "Ah, tidak, tidak. Kakiku tak sengaja menghantam kaki meja," dengan cepat aku beralasan.
"Berhati-hatilah lebih lagi. Kau dapat melukai dirimu sendiri jika tidak berhati-hati." Bohumir menasihati.
Klement melirik ke arah Bohumir dan aku secara bergantian lalu tersenyum menggoda. Aku mengetahuinya tetapi tidak kuhiraukan. Fokusku saat ini adalah mendekatkan Irenka dengan Bohumir.
Sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Setali tiga uang, ini dapat menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mendekatkan Irenka dan Bohumir sekaligus melarikan diri dari Tahta.
"Bagaimana jika setelah makan kita pergi ke padang rumput dan bermain disana? Aku sangat rindu untuk pergi kesana. Ya?" aku mengusulkan, sambil memasang ekspresi penuh harapan.
"Lewati aku. Aku sibuk." Klement menanggapi.
Aku melirik padanya. "Baiklah. Tanpa kau akan tetap menyenangkan," celetukku. "Bohumir, Irenka, temani aku ya?"
Irenka mengangguk. "Baiklah," ucapnya.
"Bukan ide yang buruk. Aku rasa menikmati alam akan menyenangkan." Bohumir menyetujui.
Kukepalkan kedua tanganku dan kuangkat tinggi melebihi kepala sambil bersorak riang.
"Hmmm, ramai sekali disini," suara Ratu membuat Irenka, Klement dan Bohumir beranjak dari kursi.
Aku belum terbiasa dengan kebiasaan disini sehingga cepat-cepat aku mengikuti apa yang mereka lakukan dan memberi hormat kepada Ratu serta Raja dan tuan Matous yang juga berjalan mendekati meja makan.
Ratu duduk di sebelah Irenka, Raja di posisinya paling ujung meja, serta Tuan Matous di sebelah papanya.
Seusai mengucapkan syukur yang kali ini dipimpin oleh tuan Matous, obrolan kembali pada tujuan utama tuan Matous datang kemari sembari menikmati hidangan. Mendengar hal ini membuatku semakin ingin pergi dari tempat ini. Sewaktu aku berusaha menghindar dalam percakapan ini dengan mengobrol dengan Irenka, Ratu justru meminta kami diam. Mau tak mau aku harus mengikutinya.
"Putri Miloslava," panggil tuan Matous. "Tuan Putri tak perlu merasa enggan atau ragu akan pernikahan ini. Raja Honza adalah seorang yang bijaksana sehingga beliau mendidik seorang putra yang hebat, Pangeran Dominic. Sesungguhnya jika hamba boleh berpendapat, tuan Putri sangat cocok dengan Pangeran Dominic. Ia adalah orang yang kalem dan tuan Putri seorang yang periang. Itu adalah kombinasi yang menarik."
Aku memasang senyuman palsu di wajahku tanpa menanggapi dengan kata-kata. Bohumir yang menangkap ekspresiku tertawa diam-diam dengan menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan Klement yang menjulurkan lidah kecil padaku, membuatku lebih kesal jadinya.
Akibatnya, aku mengunyah makananku lebih cepat daripada biasanya lalu meneguk minumanku. Alhasil, aku selesai lebih cepat daripada yang lainnya.
"Mohon maaf, aku permisi untuk mencuci tanganku." Aku beranjak dari kursi, membungkuk untuk memberi hormat, lalu pergi meninggalkan meja.
"Maafkan, Milos karena ia terkadang masih kekanak-kanakan," ucapan Raja masih terdengar tepat ketika aku melangkah keluar dari pintu ruang makan.
Entah mengapa aku benar-benar merasa kesal. Satu hal yang aku tidak sukai dengan tinggal disini adalah perjodohan. Di duniaku tidak ada lagi tindakan pemaksaan semacam ini. Benar-benar kuno sekali.
Aku berjalan tanpa arah dan berakhir di suatu tempat yang aku tidak ketahui. Ini adalah sebuah taman kecil yang indah. Di dalamnya terdapat dua ayunan yang terbuat dari akar pohon. Melihatnya membuat perasaan kesalku menghilang seketika.
Kusentuh salah satu ayunan itu dan kudapati ada pahatan namaku disana. Kulayangkan pandanganku pada ayunan yang satu dan mendapati pahatan nama Garry disana.
Dalam sekejap aku melihat sosok yang sama di dalam pikiranku. Dengan kuat aku berpegangan pada ayunan itu agar tidak terjatuh.
"Apa ini?" aku bergumam pada diriku sendiri lalu duduk di atas ayunan. Kupegangi kepalaku demi menghilangkan rasa pusing yang melanda ini.
Miloslava...
Aku menegakkan kepalaku untuk melihat siapa yang memanggilku. Kupandang ke sekelilingku tapi tak menemukan siapapun.
Miloslava...
Suara itu begitu familiar di telingaku tapi aku tak mengingat suara siapa itu. "Siapa? Siapa disana?" aku bertanya kepada sosok yang tak kulihat.
Miloslava...
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Sesuatu telah menarikku
Namun aku tak dapat tinggal
Tempatku bukan disini.
-- Melody Harris
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Udara pagi terasa sejuk. Sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah tirai. Mataku menjadi terang seketika dan kantuk menghilang.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang, maka aku harus mempersiapkan diri dengan baik. Aku turun dari ranjang dan menghampiri lemari, membukanya dan memilih gaun mana yang akan kupakai. Pilihanku jatuh pada gaun berwarna kuning muda bergaris vertikal dengan pita di bagian pinggang.
Aku memasuki kamar mandi yang bagiku sungguh menakjubkan. Luasnya hampir setengah dari kamarku. Ini benar-benar tampak seperti di film-film. Semuanya tampak mewah dan mahal.
Tetapi ini bukan waktunya untuk terlarut dalam suasana. Aku harus siap lebih awal untuk menjelajahi beberapa sisi dari kastil ini sebelum waktunya sarapan pagi, karena pasti semua anggota keluarga diharuskan hadir untuk sarapan bersama dengan tuan Matous dan Bohumir.
Sekitar dua puluh menit lamanya aku selesai dan berjalan keluar dari kamarku. Beberapa pelayan tampak terkejut ketika melihatku, yang mana aku tak tahu sebabnya. Aku tidak mempedulikan mereka tetapi terus berjalan keluar dari pintu depan.
Mataku menjelajahi seluruh sisi taman. Dari pengelihatanku, tidak ada pintu gerbang lainnya kecuali dari mana aku masuk kemarin. Tentu saja bukan ide yang bagus untuk keluar dari Tahta melalui jalan itu.
Aku meneruskan perjalanan menuju ke sisi barat Tahta. Aku meneliti setiap tembok yang dipenuhi oleh tanaman merambat itu. Barangkali ada pintu tersembunyi disana, sama seperti yang pernah kulihat di film-film. Kuperhatikan dengan baik tetapi aku merasa sepanjang aku melewati sisi barat, tak kudapati pintu rahasia itu.
Sisi barat begitu lebar. Ini sungguh melelahkan. Tapi aku takkan menyerah sebelum aku mengelilingi seluruh sisi Tahta. Aku benar-benar perlu keluar dari sini.
Kini aku sampai di bagian belakang Tahta. Ada pintu yang lain disana yang jelas-jelas terlihat. Kuhampiri pintu itu dengan cepat dan kucoba untuk membukanya. Tetapi sayang sekali pintu itu terkunci dengan rapat. Aku harus mencari cara untuk dapat membukanya.
"Selamat pagi, tuan Putri Miloslava." Seseorang menyapaku dari belakang dan membuatku melompat terkejut.
Slavko, kepala rumah tangga itu berdiri dengan tegap sambil memasang senyuman. "Maafkan hamba membuat tuan Putri terkejut," ucapnya.
Aku menunjukkan telapak tangan kananku tanda aku baik-baik saja. "Tak masalah."
"Tetapi jika hamba boleh tahu, sedang apakah tuan Putri disini?" tanya Slavko.
Cepat pikirkan alasan yang tepat. Ayo otak, bekerjalah dengan benar. "Uh, mengapa pintu ini dikunci?" semoga saja ia tak mencurigaiku.
Slavko tertawa kecil. "Tuan Putri ingin bermain di padang rumput seperti saat kecil dulu?" ia menebak.
Ah. Bagus. "Benar. Aku merindukan masa-masa itu. Tidak dapatkah aku kesana lagi?" tanyaku lebih lanjut.
Slavko mengangguk. "Tentu saja, tuan Putri dapat kesana. Tetapi harus ada seseorang yang menemani," ucapnya.
Aku mengerutkan dahiku. "Mengapa begitu? Usiaku tujuh belas tahun dan kurasa tak perlu penjagaan seperti anak kecil," protesku.
Pria itu terkikik. "Mohon maafkan hamba, tuan Putri. Hamba selalu merasa terhibur jika melihat tuan Putri protes seperti ini. Hamba menjadi teringat dengan anak angkat hamba." Ia justru mengatakan sesuatu yang tidak kutanyakan.
Perasaanku menjadi tidak enak. Dari perkataannya aku dapat menyimpulkan bahwa sesuatu telah terjadi kepada anak angkat Slavko.
"Jika saja Garry masih hidup, ia akan terus bersama-sama dengan tuan Putri kemanapun. Hamba teringat betapa senangnya Garry memiliki sahabat seperti tuan Putri. Sebelum ia meninggal, ia bahkan berpesan kepada saya agar menjaga tuan Putri dengan sangat baik. Ia pergi terlalu cepat. Usianya masih tujuh tahun." Apa yang Slavko katakan membuatku ingin menangis seketika.
Saat aku meneteskan air mata, kepalaku menjadi sangat pusing dan tiba-tiba saja aku melihat sesuatu dalam pikiranku. Tetapi aku tak tahu apa itu.
"Apakah tuan Putri baik-baik saja?" Slavko menopangku.
Aku menelan ludah, bingung akan apa yang barusan terjadi. "Iya. Aku baik-baik saja," ucapku bohong. "Aku ingin kembali ke dalam."
"Mari hamba bantu," Slavko menawarkan.
Aku menggeleng. "Terima kasih, Slavko, tetapi aku baik-baik saja. Mungkin aku lapar," aku menyeringai untuk menutupi keadaanku.
Perlahan aku menegakkan tubuhku dan berjalan menuju ke sebuah pintu masuk di dekat situ. Sambil berjalan, aku berusaha mengingat-ingat apakah yang telah kulihat dalam pikiranku. Ketika ia menyebutkan nama itu, aku merasakan sesuatu yang aneh.
"Apakah matahari terbit dari barat?" Klement muncul dari balik pintu kamar -- yang aku rasa adalah kamarnya -- dengan ekspresi terkejut. "Apa yang membuatmu bangun sepagi ini? Apakah sejak kau berpetualang di luar Tahta kau berubah menjadi lebih rajin?"
Aku menjulurkan lidah padanya. "Sebetulnya aku ini sangat rajin. Aku hanya mengalah padamu saja agar kau terkesan bangun lebih pagi dariku," aku mengejeknya.
Klement memelukku erat lalu mengacak-acak rambutku. "Pintar sekali kau beralasan," ucapnya.
"Klement!" aku menggerutu karena ia telah membuat rambutku berantakan. Dengan jari-jari tanganku, kurapikan kembali rambutku.
"Ayo kita ke ruang makan. Aku merasa sangat lapar. Barangkali kita dapat mencicipi makanan lebih dulu sebelum yang lain datang." Klement mengajukan ide yang terdengar menyenangkan.
"Tapi bagaimana jika kita ketahuan dan dimarahi?"
"Tidak akan. Kalaupun sampai ketahuan, aku akan berpura-pura mengingatkanmu agar kau yang dimarahi," ucap Klement.
"Apa? Dasar kau!" Aku berusaha memukul lengan Klement tapi tak kena. Lalu aku berlari mengejarnya yang lebih dulu menghindariku dengan berlari menuju ruang makan.
Pada belokan yang tak jauh lagi dari ruang makan, aku menginjak gaunku sendiri. Aku telah merasa yakin bahwa aku pasti akan terjatuh, tetapi pada kenyataannya wajahku tidak jadi menyentuh lantai pada jarak sepuluh centimeter. Kemudian aku ditarik ke belakang dan kembali berdiri tegak di samping.. Bohumir.
"Kau baik-baik saja?" tanya pemuda itu.
Aku mengangguk-angguk. "Terima kasih banyak. Jika kau tidak menarikku, aku pasti telah melukai wajahku sendiri," ucapku.
Bohumir tertawa kecil. "Lagipula kau ini bukan anak kecil lagi yang dapat berlarian kesana kemari," ia mengingatkan.
"Ini karena Klement," cepat-cepat aku menunjuk ke arah dimana Klement pergi tetapi tentu saja ia telah menghilang. Aku mendesis karena ia tidak bertanggung jawab. "Kau menuju ke ruang makan?"
Bohumir mengiyakan. "Ayo kesana bersama-sama," ajaknya.
Kami pun berjalan berdampingan menuju ruang makan dan mendapati bukan hanya Klement tetapi juga Irenka sudah duduk manis disana. Aku kemudian duduk di sebelah Irenka, dan Bohumir di sebelah Klement.
"Kau," tunjukku pada Klement. "Mengapa kau pergi dan tidak menolongku? Untung saja ada Bohumir. Aku tidak jadi terjatuh."
Klement tertawa. "Aku tak tahu kau hampir terjatuh. Maaf ya adik kecil," ia menyeringai tanpa dosa. "Tapi, tunggu. Mengapa kau memanggil Ksatria Bohumir hanya dengan namanya saja? Apakah kalian memang sedekat itu?"
"Bukan urusanmu," aku menjulurkan lidahku pada Klement. Lalu aku berpaling pada Irenka, berusaha mendekatkannya dengan Bohumir. "Hei Irenka, kau tahu? Aku akan senang sekali memiliki kakak ipar seperti Bohumir. Mengapa kau tidak menikah saja dengan pria sebaik dia? Berilah adikmu ini sebuah hadiah yang indah."
Irenka melotot padaku, tapi aku berbuat seolah tak peduli. Karena itu, ia menginjak kakiku, dan kali ini aku mengerang.
"Ada apa?" Bohumir bertanya penuh kecemasan hingga ia harus menengok ke bawah meja.
Aku menggerak-gerakkan kedua telapak tanganku. "Ah, tidak, tidak. Kakiku tak sengaja menghantam kaki meja," dengan cepat aku beralasan.
"Berhati-hatilah lebih lagi. Kau dapat melukai dirimu sendiri jika tidak berhati-hati." Bohumir menasihati.
Klement melirik ke arah Bohumir dan aku secara bergantian lalu tersenyum menggoda. Aku mengetahuinya tetapi tidak kuhiraukan. Fokusku saat ini adalah mendekatkan Irenka dengan Bohumir.
Sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepalaku. Setali tiga uang, ini dapat menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mendekatkan Irenka dan Bohumir sekaligus melarikan diri dari Tahta.
"Bagaimana jika setelah makan kita pergi ke padang rumput dan bermain disana? Aku sangat rindu untuk pergi kesana. Ya?" aku mengusulkan, sambil memasang ekspresi penuh harapan.
"Lewati aku. Aku sibuk." Klement menanggapi.
Aku melirik padanya. "Baiklah. Tanpa kau akan tetap menyenangkan," celetukku. "Bohumir, Irenka, temani aku ya?"
Irenka mengangguk. "Baiklah," ucapnya.
"Bukan ide yang buruk. Aku rasa menikmati alam akan menyenangkan." Bohumir menyetujui.
Kukepalkan kedua tanganku dan kuangkat tinggi melebihi kepala sambil bersorak riang.
"Hmmm, ramai sekali disini," suara Ratu membuat Irenka, Klement dan Bohumir beranjak dari kursi.
Aku belum terbiasa dengan kebiasaan disini sehingga cepat-cepat aku mengikuti apa yang mereka lakukan dan memberi hormat kepada Ratu serta Raja dan tuan Matous yang juga berjalan mendekati meja makan.
Ratu duduk di sebelah Irenka, Raja di posisinya paling ujung meja, serta Tuan Matous di sebelah papanya.
Seusai mengucapkan syukur yang kali ini dipimpin oleh tuan Matous, obrolan kembali pada tujuan utama tuan Matous datang kemari sembari menikmati hidangan. Mendengar hal ini membuatku semakin ingin pergi dari tempat ini. Sewaktu aku berusaha menghindar dalam percakapan ini dengan mengobrol dengan Irenka, Ratu justru meminta kami diam. Mau tak mau aku harus mengikutinya.
"Putri Miloslava," panggil tuan Matous. "Tuan Putri tak perlu merasa enggan atau ragu akan pernikahan ini. Raja Honza adalah seorang yang bijaksana sehingga beliau mendidik seorang putra yang hebat, Pangeran Dominic. Sesungguhnya jika hamba boleh berpendapat, tuan Putri sangat cocok dengan Pangeran Dominic. Ia adalah orang yang kalem dan tuan Putri seorang yang periang. Itu adalah kombinasi yang menarik."
Aku memasang senyuman palsu di wajahku tanpa menanggapi dengan kata-kata. Bohumir yang menangkap ekspresiku tertawa diam-diam dengan menundukkan kepalanya. Begitu pula dengan Klement yang menjulurkan lidah kecil padaku, membuatku lebih kesal jadinya.
Akibatnya, aku mengunyah makananku lebih cepat daripada biasanya lalu meneguk minumanku. Alhasil, aku selesai lebih cepat daripada yang lainnya.
"Mohon maaf, aku permisi untuk mencuci tanganku." Aku beranjak dari kursi, membungkuk untuk memberi hormat, lalu pergi meninggalkan meja.
"Maafkan, Milos karena ia terkadang masih kekanak-kanakan," ucapan Raja masih terdengar tepat ketika aku melangkah keluar dari pintu ruang makan.
Entah mengapa aku benar-benar merasa kesal. Satu hal yang aku tidak sukai dengan tinggal disini adalah perjodohan. Di duniaku tidak ada lagi tindakan pemaksaan semacam ini. Benar-benar kuno sekali.
Aku berjalan tanpa arah dan berakhir di suatu tempat yang aku tidak ketahui. Ini adalah sebuah taman kecil yang indah. Di dalamnya terdapat dua ayunan yang terbuat dari akar pohon. Melihatnya membuat perasaan kesalku menghilang seketika.
Kusentuh salah satu ayunan itu dan kudapati ada pahatan namaku disana. Kulayangkan pandanganku pada ayunan yang satu dan mendapati pahatan nama Garry disana.
Dalam sekejap aku melihat sosok yang sama di dalam pikiranku. Dengan kuat aku berpegangan pada ayunan itu agar tidak terjatuh.
"Apa ini?" aku bergumam pada diriku sendiri lalu duduk di atas ayunan. Kupegangi kepalaku demi menghilangkan rasa pusing yang melanda ini.
Miloslava...
Aku menegakkan kepalaku untuk melihat siapa yang memanggilku. Kupandang ke sekelilingku tapi tak menemukan siapapun.
Miloslava...
Suara itu begitu familiar di telingaku tapi aku tak mengingat suara siapa itu. "Siapa? Siapa disana?" aku bertanya kepada sosok yang tak kulihat.
Miloslava...
○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
Diubah oleh yohanaekky 08-09-2018 12:19
0